1,735,195 research outputs found
BRANDING 4848 TRAVEL BANDUNG
Transportasi darat telah menjadi salah satu bidang bisnis yang marak dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang. Masyarakat pada kenyataannya menghadapi kenyataan bahwa pelayanan jasa travel kini tidak senyaman dahulu. Travel, seiring dengan berjalannya waktu, mulai meninggalkan sistem pelayanan tersebut dan berganti menjadi sistem dari terminal menuju terminal. 4848 Travel hadir sebagai perusahaan travel pelopor yang hingga saat ini masih menawarkan jasa pelayanan point to point. Kendala yang dihadapi oleh 4848 Travel dalam memperkokoh kiprahnya sebagai penyedia jasa transportasi travel Jawa Barat adalah masyarakat mulai melupakan 4848 Travel menuju travel-travel moderen karena branding 4848 Travel yang dinilai masyarakat kurang efektif dan kurang up to date. Armada dan media-media promosi pihak 4848 Travel kurang efektif. 4848 Travel harus memiliki branding yang tepat untuk dapat tetap eksis sekaligus menanamkan kekuatan brandnya di mata masyarakat Jawa Barat. Branding 4848 Travel tersebut akan dibuat untuk dapat menanamkan eksistensi 4848 Travel pada benak masyarakat luas.
Perancangan visual logo mengacu pada metode pembentukan logo, dengan menggunakan pendekatan bidang desain komunikasi visual (spesifik pada ilmu desain grafis) dan fotografi. Tahapannya meliputi merancang identitas visual merek, menentukan warna, jenis huruf (typeface) sebagai pendukung pesan verbal, tata letak (layout), konsep dan strategi komunikasi, menetapkan media, gaya dan teknis pengerjaan, dan terakhir merinci aspek produksi (faktor pembiayaan atau budgeting), yang kesemuanya harus direncanakan seksama.
Pemilihan material, penentuan ukuran media aplikasi visual, penjabaran teknik, dan pembahasan biaya produksi, menjadi bagian cakupan teknis pekerjaan yang dilalui dalam pembuatan desain. Hasil akhir terpenting adalah terwujudnya visualisasi karya desain logo secara nyata dan bentuk-bentuk media berbasis komunikasi visual
PERKEMBANGAN JASA TRANSPORTASI 4848 (SUATU TINJAUAN HISTORIS TAHUN 1971-2008)
Skripsi ini berjudul “Perkembangan Jasa Tansportasi 4848 (Suatu Tinjauan Historis Tahun 1971-2008)”. Permasalahan yang dikaji adalah “Mengapa jasa transportasi 4848 tidak mampu mempertahankan prestasinya?”. Permasalahan pokok tersebut diuraikan dalam beberapa pertanyaan penelitian yaitu bagaimana latar belakang berdirinya 4848, bagaimana manajemen yang diterapkan, serta bagaimana peran 4848 selama kurun waktu 39 tahun dalam memberikan jasa pelayanan masyarakat di Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan metode historis yang meliputi empat tahapan yaitu heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Untuk mempertajam analisis, penulis menggunakan pendekatan interdisipliner melalui kajian ilmu ekonomi sebagai ilmu bantu. Melalui pendekatan ini, penulis meminjam konsep-konsep seperti manajemen, penawaran permintaan, mobilitas social dan lain sebagainya. Teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi kepustakaan, dokumentasi dan wawancara.
Jasa transportasi 4848 merupakan pelopor dari jasa transportasi di Kota Bandung yang berdiri pada tanggal 4 Agustus 1960 atas ide Irawan Sarpingi. Jasa transportasi 4848 awalnya melayani jasa antar jemput penumpang tujuan Bandung-Jakarta dengan sistem door to door yaitu sistem antar jemput dari rumah ke rumah. Pada tahun 1971, Permintaan yang semakin banyak membuat 4848 merambah usahanya dengan menciptakan rute baru ke Tasikmalaya dan kemudian berkembang hingga ke berbagai kota lainnya seperti Lampung, Jawa Tengah hingga Bali, selain itu jasa paket juga diperkenalkan sebagai bentuk pelayanan lainnya. Pada tahun 1987, taksi argo meter pertama di Kota Bandung muncul sebagai bagian dari pengembangan usaha. Tahun 1980-1990 merupakan masa kejayaan 4848 sebelum akhirnya mengalami kemunduran pada tahun 2005 setelah dioperasikannya tol Cipularang. Perkembangan Kota Bandung menjadi Kota wisata menjadikan mobilitas masyarakat meningkat dan kebutuhan akan jasa transportasi yang efektif semakin berkembang. Berbagai jasa transportasi muncul dengan menawarkan pelayanan menarik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat saat itu. Pada kenyataannya 4848 tidak mampu memenuhinya dan tidak mampu bersaing dengan jasa transportasi lain.
Ketidakmampuan 4848 tersebut didasarkan atas berbagai faktor yaitu manajemen, armada yang dimiliki dan jenis pelayanan yang diberikan oleh 4848 yang dinilai tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Perjalanan panjang selama 39 tahun telah memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi masyarakat Kota Bandung khususnya. Sudah seharusnya 4848 mampu kembali ke masa kejayaannya dan dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi seluruh pengguna setianya
Going Beyond Counting First Authors in Author Co-citation Analysis
The present study examines one of the fundamental aspects of author co-citation analysis (ACA) - the way co-citation
counts are defined. Co-citation counting provides the data on which all subsequent statistical analyses and mappings
are based, and we compare ACA results based on two different types of co-citation counting - the traditional type that
only counts the first one among a cited work's authors on the one hand and a non-traditional type that takes into
account the first 5 authors of a cited work on the other hand. Results indicate that the picture produced through this non-traditional author co-citation counting contains more coherent author groups and is therefore considerably clearer. However, this picture represents fewer specialties in the research field being studied than that produced through the traditional first-author co-citation counting when the same number of top-ranked authors is selected and analyzed. Reasons for these effects are discussed
Block Card 4848 Elm Place
This image was produced by the Auditor's Office in Lucas County, Ohio for tax assessment purposes. Associated dates are approximate. Descriptive terms related to this photograph include: Ranch houses | 4848 Elm Place (Toledo, Ohio) | Dwelling | Deveaux Area (Toledo, Ohio
Block Card 4848 Vogel Drive
This image was produced by the Auditor's Office in Lucas County, Ohio for tax assessment purposes. Associated dates are approximate. Descriptive terms related to this photograph include: split-level | Dwelling | Tall Oaks Addition (Toledo, Ohio) | Deveaux Area (Toledo, Ohio) | West Toledo (Toledo, Ohio) | 4848 Vogel Drive (Toledo, Ohio
Block Card 4848 Talmadge Road
This image was produced by the Auditor's Office in Lucas County, Ohio for tax assessment purposes. Associated dates are approximate. Descriptive terms related to this photograph include: Ranch Style | 4848 Talmadge Road (Toledo, Ohio) | Dwelling | Estero Place (Toledo, Ohio) | Trilby Area (Toledo, Ohio)
RoMEO Studies 6: Rights metadata for open-archiving
This is the final study in a series of six emanating from the UK JISC-funded RoMEO Project (Rights Metadata for Open-archiving) which investigated the Intellectual Property Rights (IPR) issues relating to academic author self-archiving of research papers. It reports the results of a survey of 542 academic authors showing the level of protection required for their open-access research papers. It then describes the selection of an appropriate means of expressing those rights through metadata and the resulting choice of Creative Commons licences. Finally it outlines proposals for communicating rights metadata via the Open Archives Initiative’s Protocol for Metadata Harvesting (OAI-PMH)
Variations on the Author
“Variations on the Author” discusses two of Eduardo Coutinho’s recent films (Um Dia na Vida, from 2010, and Últimas Conversas, posthumously released in 2015) and their contribution to the general question of documentary authorship. The director’s filmography is characterized by a consistent yet self-effacing form of authorial self-inscription: Coutinho often features as an interviewer that rather than express opinions propels discourses; an interviewer that is good at listening. This mode of self-inscription characterizes him as an author who is not expressive but who is nonetheless markedly present on the screen. In Um Dia na Vida, however, Coutinho is completely absent form the image, while Últimas Conversas, on the contrary, includes a confessional prologue that moves the director from the margins to the center of his films. This article examines the ways in which these works stand out in the filmography of a director who offers new insights into the notion of cinematic authorship
- …
