1,721,009 research outputs found

    PENAMBAHAN KALSIUM HIDROKSIDA PADA SEMEN IONOMER KACA TIPE II UNTUK SEMEN SALURAN AKAR : (Kajian Eksperimental Uji Fisis Waktu Pengerasan dan Kekerasan)

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk meneliti waktu pengerasan dan kekerasan semen ionomer kaca tipe II yang ditambah puder kalsium hidroksida murni. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan secara in vitro pada semen ionomer kaca tipe II. Semen ionomer kaca tipe II merupakan bahan tumpatan yang terdiri dari puder dan cairan. Pada penggunaan untuk penumpatan kavitas gigi merupakan campuran puder dan cairan dengan perbandingan menurut petunjuk pabrik yaitu 1 sendok takaran puder dengan satu tetes cairan atau setara dengan 3,5 gram puder dengan 1 gram cairan. Pada penelitian ini jumlah puder dikurangi 0,1 gram, 0,2 gram, 0,3 gram, 0,4 gram dan 0 gram dan ditambahkan puder kalsium hidroksida sejumlah berat yang sama dengan jumlah pengurangan, sedangkan cairan tetap 1 gram. Penelitian dilakukan pada 50 sampel, yang dibagi menjadi lima kelompok masing-masing terdiri dari 10 sampel dan 10 sampel sebagai kelompok kontrol yang terdiri dari semen ionomer kaca tipe II tanpa campuran kalsium hidroksida. Menggunakan uji anava dua jalur, hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan sangat bermakna antara kelompok waktu pengerasan dan kekerasan (p< 0.05)

    RETREATMENTENDODONTIK DAN RESTORASI ULANG MENGGUNAKAN PASAK FIBER REINFORCED COMPOSITE

    Get PDF
    Laporan kasus ini bertujuan untuk menginformasikan hasil restorasi mahkota jaket porselin fusi metal yang diperkuat dengan pasak fiber reinforced composite pada gigi insisivus sentralis kanan maksila pasca perawatan saluran akar. Pasien datang dengan keluhan mahkota jaket gigi insisivus sentralis kanan maksila lepas. Diagnosis gigi insisivus sentralis kanan maksila adalah nekrosis pulpa disertai lesi periapikal. Perbaikan estetika menggunakan restorasi mahkota jaket porselin fusi metal yang diperkuat dengan pasak fiber reinforced composite. Perawatan diawali dengan analisis estetika. Pasak yang lama yaitu tapered self-threading dowel pada gigi insisivus sentralis kanan maksila diambil, kemudian dilanjutkan retreatment endodontik dengan teknik preparasi step-back. Restorasi mahkota jaket pors~lin fusi metal yang diperkuat dengan pasak fiber reinforced composite sebagai restorasi akhir. Evaluasi hasil perawatan dilakukan dua bulan pasca pemasangan mahkota jaket. Hasil evaluasi subyektif dan obyektif menunjukkan gigi dapat berfungsi dengan baik dan pasien puas dengan perbaikan estetika yang dihasilkan. Maj Ked GiJuni 201035-4

    Perawatan Satu Kunjungan Restorasi Pasak Fiber Reinforced Composite Pada Gigi Insisivus Atas

    Get PDF
    Perawatan saluran akar satu kali kunjungan memberikan keuntungan antara lain memperkecil resiko kontaminasi mikroorganisme dan menghemat waktu perawatan. Pasak fiber reinforced composite memiliki ikatan yang baik dengan dentin menggunakan semen resin dan inti dari resin. Penggunaan pasak bisa mengurangi risiko fraktur. Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk mengevaluasi hasil restorasi gigi 11 nekrosis pulpa pasca perawatan saluran akar disertai restorasi dengan pasak fiber reinforced composite. Pasien wanita, 22 tahun datang ke Klinik Konservasi RSGM FKG UGM untuk merawat gigi depan atas kanan yang berlubang. Berdasarkan pemeriksaan subjektif, objektif dan radiografis diperoleh diagnosis gigi 11 nekrosis pulpa. pasca perawatan saluran akar gigi Gigi direstorasi dengan resin komposit dan pasak fiber reinforced composite. Kesimpula dari hasil evaluasi klinis saat kontrol tidak ada keluhan rasa sakit dan pasien merasa puas. One Visit Treatment of Fiber Reinforced Compositerestoration in Maxillary Right First Incisivus. One visit root canal treatment is advantageous to minimize the risk of microorganism contamination. It saves time and more tolerable for the patients. Fiber reinforced composite post is fabricated, and it has been known to have a good bond with dentinal wall of root space, resin cement and composite resin core. The use of this post could decrease the risk of fracture. The purpose of this paper is to report the results of dental restoration 11 pulp necrosis after root canal treatment with resin composite restorations and post fiber reinforced composite. A 22 year-old female patient who came to Faculty of Dentistry UGM complained about her maxillary right incisor teeth which decayed and needed a treatment. Based on the subjective, objective and radiograph examinations, it was diagnosed that the pulp was necrotic. After one visit root canal treatment and based on clinical evaluation, it is concluded that the right upper incisor that was restored using fiber reinforced composite post and composite resin showed no pain, and patient was satisfied

    Retreatment Endodontik dan Restorasi Ulang Menggunakan Pasak Fiber Reinforced Composite

    No full text
    Laporan kasus ini bertujuan untuk menginformasikan hasil restorasi mahkota jaket porselin fusi metal yang diperkuat dengan pasak fiber reinforced composite pada gigi insisivus sentralis kanan maksila pasca perawatan saluran akar. Pasien datang dengan keluhan mahkota jaket gigi insisivus sentralis kanan maksila lepas. Diagnosis gigi insisivus sentralis kanan maksila adalah nekrosis pulpa disertai lesi periapikal. Perbaikan estetika menggunakan restorasi mahkota jaket porselin fusi metal yang diperkuat dengan pasak fiber reinforced composite. Perawatan diawali dengan analisis estetika. Pasak yang lama yaitu tapered self-threading dowel pada gigi insisivus sentralis kanan maksila diambil, kemudian dilanjutkan retreatment endodontik dengan teknik preparasi step-back. Restorasi mahkota jaket pors~lin fusi metal yang diperkuat dengan pasak fiber reinforced composite sebagai restorasi akhir. Evaluasi hasil perawatan dilakukan dua bulan pasca pemasangan mahkota jaket. Hasil evaluasi subyektif dan obyektif menunjukkan gigi dapat berfungsi dengan baik dan pasien puas dengan perbaikan estetika yang dihasilkan

    Perbedaan Penggunaan Bahan Desensitizing Dan Tanpa Desensitizing Pasca Bleaching Ekstra-Koronal Terhadap Kekerasan Email

    Get PDF
    Latar Belakang. Pada bleaching ekstrakoronal diketahui terjadi proses demineralisasi sehingga terjadi hiersensitivitas dentin. UltraEZ salah satu bahan desensitizing yang dapat mengurangi hipersensitivitas akibat demineralisasi email pasca bleaching ekstrakoronal terkini. Tujuan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kekerasan email pasca pemutihan gigi ekstra-koronal dengan aplikasi bahan desensitizing dan tanpa aplikasi bahan desensitizing. Metode penelitian ini menggunakan 20 gigi premolar permanen pasca pencabutanyang masih utuh dan direndam dalam saliva buatan, kemudian dilakukan pemolesan pada bagian bukal dengan menggunakan pasta profilaksis kemudian gigi dicuci dan dikeringkan. Bahan pemutih Opalescence Xtra Boost diaplikasikan pada semua permukaan bukal gigi premolar kemudian dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok I, II, masing-masing kelompok sebanyak 10 gigi. Kelompok I sebagai kelompok control setelah dilakukan pemutihan, tidak dilakukan aplikasi Ultra-EZ, dimasukkan dalam wadah botol dan direndam dalam saliva buatan kemudian disimpan dalam incubator. Mahkota dan akar gigi,kemudian ditanam dalam resin akrilik sesuai kelompok sebelumnya dengan permukaan bukal menghadap ke atas. Semua sampel diuji kekerasannya dengan uji kekerasan Vickers menggunakan beban 100 g selama 15 detik. Permukaan bukal menghadap ke atas, kemudian dijepit dengan alat penjepit pada meja alat Micro Vickers Hardness Tester. Sampel diatur sedemikian rupa sehingga akan terlihat gambar yang dapat diukur panjang diagonalnya langsung dengan micrometer yang ada pada lensa okuler. Nilai kekerasan email dalam Vickers hardness number (VHN) juga dapat diperoleh dari table setelah mengetahui rata-rata panjang diagonal, berat badan yang digunakan dan waktu yang digunakan untuk uji kekerasan. Pengujian ini dilakukan pada setiap kelompok. Selanjutnya diuji dengan uji-t. hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan yang bermakna antara aplikasi ultraEZ lima menit dibandingkan tanpa aplikasi ultraEZ terhadap kekerasan email pada p>0,05. Background. One of the side effect of bleaching agent is a dentine hypersensitive and ultraEZ is an agent can diminish this process. The purpose of this study was to evaluate difference of enamel microhardness post external bleaching with or without ultra-eze application. Method. Twenty extracted permanent bicuspid used in this study were divided into two group, each group contains 10 bicupids. Group I was treated external bleaching without ultra-eze application and group II was treated external bleaching with application ultraEZ for five minutes. After that all of the subject were seaked the artificial saliva and kept in the incubator 24 hours. Teeth were embedded into acrylic resin with the buccal sirface facing up. Further all of the subject was evaluated by Vickers using 100 g load for 15 seconds. Teeth were stapled on the Micro Hardness Tester table diagonal of emage was measure using micrometer attach on ocular lesnse. Email hardness can be known after calculating, the everage diagonal length, the load used and the duration of hardness test. Further the data was analize using t-test. The result shows there is significant difference between bleaching with and without the application of ultra-eze

    Penggunaan Pasak Fiber Peerless Sebagai Faktor Retensi dan Resistensi Pad Gigi Pasca Perawatan Saluran Akar

    No full text
    Merestorasi gigi premolar dua kanan mandibula yang telah mengalami perawatan saluran akar (PSA), m~merlukan pasak fiber peerless sebagai faktor retensi dan resistensinya untuk dapat mengembalikan fungsi gigi. Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah untuk menginformasikan penggunaan pasak fiber peerless sebagai faktor retensi dan resistensi gigi premolar dua kanan mandibula dengan restorasi komposit klas II agar dapat mengembalikan fungsi gigi tersebut. Pasien wanita berusia 471ahun dalang ke Klinik Konservasi Gigi FKG UGM untuk melanjutkan perawatan gigi yang telah dilakukan perawatan saluran akar sebulan sebelumnya. Saat datang gigi tidak ada keluhan sakit pada pemeriksaan subjektif, objektif dan radiograf gigi didiagnosis non vital pasca PSA. Rencana perawatan yang akan dilakukan adalah restorasi komposit klas II dengan retensi pasak fiber peerless. Tindakan yang dilakukan adalah preparasi saluran pasak, pemasangan pasak dan tumpatan restorasi komposil klas II. Hasil evaluasi klinis pada saat kontrol menunjukkan pasak fiber peerless yang memiliki konfigurasi permukaan yang serrated dan tapered lebih retentif, tidak ada kondisi traumatik, tidak ada respon pada perkusi dan palpasi, warna gingival normal, jika tidak menggunakan pasak fiber peerless pada gigi pasca perawatan saluran akar akan berisiko kondisi traumatik. Maj Ked GiJuni 200815(1): 41-44 Kata kunci: pasak fiber peerless, retensi dan resistensi, gigi pasca perawatan saluran aka

    Perawatan Ulang Saluran Akar Insisivus Lateralis Kiri Maksila dengan Medikamen Kalsium Hidroksida-Chlorhexidine

    Get PDF
    Banyak faktor yang menyebabkan kegagalan terapi endodontik antara lain pembersihan dan membentuk saluran akar yang tidak sempurna dan obturasi tidak hermetis sehingga menyebabkan kurangnya kemampuan untuk menghilangkan mikroorganisme yang ada. Saluran akar yang terinfeksi membutuhkan suatu medikamen untuk menunjang keberhasilan dalam perawatan saluran akar.Kalsium hidroksida merupakan salah satu bahan medikamen yang efektif karena memiliki sifat antibakteri dengan spektrum luas, pH tinggi, biokompatibilitas baik, mampu menetralkan endotoksin bakteri, memiliki sifat toksik yang paling rendah, serta menstimulasi pembentukan jaringan keras. Tujuan laporan kasus untuk menunjukan keberhasilan perawatan ulang saluran akar gigi insisivus lateralis kiri maksila dengan lesi periapikal menggunakan medikamen kalsium hidroksida- chlorhexidine. Pasien wanita umur 53 tahun, gigi insisivus lateralis kiri maksila dengan lesi periapikal.Radiografi tampak obturasi kurang hermetis dan radiolusen daerah periapikal. Perawatan ulang saluran akar,diikuti pemasangan pasak fiber frefabricated dan restorasi porselin fuse metal.Keseimpulan setelah evaluasi setelah enam bulan pasca perawatan ulang saluran akar, radiografi menunjukan radiolusen mengecil dan gigi dapat berfungsi dengan normal. Re-Treatment of Root Canal of Maxillary Left Lateral Incisor with Calcium Hydroxide-Chlorhexidine Medicament. There are many factors that cause failure of endodontic therapy. For instances, incomplete cleaning and shaping of root canal and inadequate obturation that results in difficulty to remove the microorganisms. Infected root canal requires a medicament for the success of the root canal treatment. Calcium hydroxide is one of the effective ingredients as medicament because it has broad spectrum antibacterial properties, high pH, good biocompatibility, and it is able to neutralize bacterial endotoxins, decrease tissue toxicity, and stimulate the formation of hard tissue. The purpose of this case report is to show the success of root canal treatment of the left maxillary lateral incisor with periapical lesions using calcium hydroxide-chlorhexidine medicaments. The patient was a woman aged 53, complaining about her left maxillary lateral incisor with periapical lesion. Based on the radiographic evaluation, there was less hermetic obturation and a radiolucent in the periapical. Root canal re-treatment was continued with fiber prefabricated post and porcelain fused to metal crown. After six months of evaluation and endodontic retreatment, it is found that there is a decrease of radiolucency periapical lesion, and her teeth are able to function normally

    PERBEDAANKEKUATANGESER PERLEKATANRESTORASI SANDWICH RESIN KOMPOSIT DENGAN SEMEN IONOMER KACA KONVENSIONALDAN MODIFIKASI RESIN

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan besarnya kekuatan geser pad a perlekatan restorasi sandwich resin komposit dengan semen ionomer kaca konvensional dan modifikasi resin. Subyek penelitian ini menggunakan 20 buah spesimen dari semen ionomer kaca. Spesimen ini dibagi menjadi 4 kelompok, yang terdiri dari 2 kelompok semen ionomer kaca konvensional (Fuji II dan Riva) dan 2 kelompok semen ionomer kaca modifikasi resin(Fuji II LC dan Riva LC). Setiap kelompok terdiri dari 5 spesimen,yang dicetak menggunakan mold dari bahan Teflon dengan diameter 6,5 mm dengan tinggi 2,5 mm, berbentuk silinder. Penumpatan spesimen resin komposit menggunakan mold Teflon dengan diameter 6,5 mm dengan tinggi 3 mm yang disatukan dengan ring. Spesimen disimpan dalam inkubator selama 24 jam dengan suhu 36°C. Selanjutnya semua spesimen penelitian diuji perlekatannya dengan cara geser menggunakan alat universal testing machine dengan kecepatan 0,5 mm per menit. Hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata besarnya gaya geser yang dibutuhkan untuk melepas spesimen semen ionomer kaca konvensional terhadap resin komposit sebesar 3,908 MPa(Fuji II) dan 3.124 MPa(Riva). Besarnya gaya geser untuk melepas semen ionomer kaca modifikasi resin terhadap resin komposit sebesar 9,424 MPa( Fuji II LC) dan 8,896 MPa(Riva LC). Hasil ini menunjukkan perbedaan yang signifikan berdasarkan uji ANOYA 1 arah (p < 0,05) dan untuk mengetahui perbedaan antar kelompok dan dalam kelompok digunakan uji Post Hoc Tukey. Hasil dari penelitian ini mendapatkan perlekatan yang signifikan antara penggunaan semen ionomer kaca konvensional dan modifikasi resin pad a tumpatan sandwich resin komposit. Kekuatan perlekatan antara semen ionomer kaca modifikasi resin lebih besar daripada semen ionomer kaca konvensional, terhadap resin komposit
    corecore