Indonesian Institute of the Arts Yogyakarta
Indonesian Institute of the Art YogyakartaNot a member yet
16125 research outputs found
Sort by
Keanekaragaman Ciri Fisik Biota Laut Pantai Srau Sebagai Ide Penciptaan Motif Batik Pada Kain Panjang
Ciri fisik biota laut yang hidup pantai Srau menjadi daya tarik bagi penulis untuk mengambil tema Biota laut Pantai Srau sebagai acuan dalam pembuatan karya seni berupa kain batik. Beberapa spesies biota laut akan dieksplorasi dan dikembangkan sehingga menjadi sebuah karya batik klasik yang indah dan menarik.
Metode pendekatan penciptaan karya Tugas Akhir ini menggunakan metode pendekatan estetika dan dilengkapi dengan teori ornamen. Metode penciptaan yang digunakan pada karya ini yaitu metode penciptaan SP. Gustami, yang melalui tahap eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Dengan metode metode tersebut dapat menjadikan karya bernilai secara visual maupun konseptual. Karya kain batik berkonsep batik pedalaman dengan ciri khas warna coklat, biru, putih, hijau, merah dan hitam. Teknik yang digunakan yaitu teknik batik tulis dan teknik pewarnaan tutup celup.
Karya yang dihasilkan berjumlah enam karya yang bersumber dari bentuk biota laut yang sering dijumpai di Pantai Srau, yaitu kepiting rajungan, ubur-ubur, ikan Pajung atau kakap merah, ikan Belanak, penyu sisik, dan udang batu. Sumber ide tersebut dioalah menjadi motif batik pedalaman, ditambahkan dengan motif-motif lain dari ekosistem laut, seperti motif terumbu karang, batu karang, alga, rumput laut, batuan Pantai, Ketapang laut, dan lain sebagainya
Analisis Kostum Tokoh Badrun Sebagai Penggerak Cerita Pada Film Badrun & Loundri (2023)
Film Badrun & Loundri merupakan salah satu karya Garin Nugroho yang mengangkat isu sosial-politik dengan pendekatan kritik terhadap agama dan kekuasaan. Daya tarik film ini terletak pada penggunaan kostum tokoh utamanya, Badrun, yang tampil mencolok dan bervariasi. Kostum dalam film tidak hanya berfungsi sebagai penanda identitas karakter, tetapi juga memiliki peran sebagai penggerak cerita. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis kostum yang dikenakan oleh tokoh utama dan menganalisis bagaimana kostum tersebut memengaruhi pergerakan cerita dalam film.
Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan fokus pada adegan-adegan yang menampilkan tokoh Badrun. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan observasi langsung terhadap film. Data dianalisis menggunakan teori kostum serta plot dari David Bordwell dan Kristin Thompson, teori kostum sebagai penggerak cerita dari Himawan Pratista, teori tiga dimensi karakter dari Egri Lajos, kategori kostum dari RMA. Harymawan, teori warna dari Sadjiman Ebdi Sanyoto, serta teori atribusi dari Fritz Heider.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 12 variasi kostum yang dikenakan oleh tokoh Badrun sepanjang film. Variasi kostum tersebut diklasifikasikan ke dalam tiga tipe utama, yaitu kostum orang biasa, kostum Tuan Guru, dan kostum Polisi. Melalui pembagian segmentasi plot ke dalam lima bagian utama, ditemukan bahwa kostum yang dikenakan Badrun memiliki peran aktif dalam mendorong perkembangan cerita film secara keseluruhan
Foto Dokumenter Penggunaan Mobil Bak Terbuka Sebagai Angkutan Penumpang di Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara
Penelitian dan penciptaan karya ini membahas fenomena penggunaan mobil bak terbuka sebagai moda transportasi penumpang di Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, melalui penciptaan karya fotografi dokumenter. Mobil bak terbuka yang sebenarnya dirancang untuk mengangkut barang, menjadi transportasi utama akibat minimnya infrastruktur dan angkutan formal.Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan realitas transportasi informal yang mendukung mobilitas masyarakat pedesaan dan menghasilkan karya fotografi sebagai referensi visual tentang peran mobil bak terbuka dalam kehidupan sosial ekonomi Karangkobar. Penelitian ini menghasilkan karya foto yang menggambarkan dinamika penumpang, sopir, kondektur, dan muatan barang. Pendekatan etnografis diterapkan dalam observasi lapangan dan interaksi dengan komunitas untuk menangkap keakraban sosial dan tantangan operasional, seperti risiko keselamatan dan kerusakan kendaraan. Narasi visual melalui media foto dokumenter, membangun cerita melalui elemen visual mengenai adaptasi masyarakat terhadap keterbatasan transportasi, sekaligus menyuarakan kebutuhan akan sistem transportasi yang memadai. Temuan menunjukkan bahwa mobil bak terbuka tidak hanya menjadi alat transportasi, tetapi juga bagian integral dari kehidupan sosial ekonomi di Karangkobar dan sekitarnya. Penelitian ini berkontribusi pada kesadaran publik tentang isu transportasi umum pedesaan melalui fotografi dokumenter.
Kata kunci: fotografi dokumenter, narasi visual, mobil bak terbuka, angkutan pedesaan, karangkobar.
This research and artistic endeavor examines the phenomenon of open-bed vehicles serving as passenger transportation in Karangkobar Sub-district, Banjarnegara Regency, through the creation of documentary photography. Originally designed for transporting goods, these vehicles have become the primary mode of transport due to inadequate infrastructure and limited formal public transportation. The study aims to document the reality of informal transportation that facilitates rural community mobility and to produce a photographic collection that serves as a visual reference for the socio-economic role of open-bed vehicles in Karangkobar. The resulting photographs illustrate the dynamics among passengers, drivers, conductors, and cargo. Employing an ethnographic approach, the research involved field observations and community interactions to capture social bonds and operational challenges, including safety concerns and vehicle wear. Through documentary photography, the visual narrative articulates the community’s adaptation to transportation constraints while advocating for improved transport systems. The findings reveal that open-bed vehicles are not merely a mode of transport but an essential component of Karangkobar’s socio-economic fabric. This work contributes to public awareness of rural transportation issues through the medium of documentary photography.
Keywords: documentary photography, visual narrative, open-bed vehicles, rural transportation, Karangkobar
Manajemen Produksi Dua Pementasan Masquerade: A Story Behind The Mask (2023) Enervated: As A Mirror Reflects The Untold (2024) Oleh Teater Jubah Macan SMA Negeri 3 Yogyakarta
Skripsi ini memilih obyek kajian manajemen produksi Teater Jubah Macan
SMA Negeri 3 Yogyakarta dalam dua pementasan teater, yaitu "Masquerade: A Story Behind The Mask" yang dipentaskan pada tahun 2023 dan "Enervated: As The Mirror Reflects The Untold" yang dipentaskan pada tahun 2024.
Penelitian ini untuk menyoroti pentingnya manajemen produksi yang efektif, dalam sebuah pementasan. Manajemen merupakan cara untuk memperlancar jalannya pementasan, mencakup aspek artistik dan non-artistik.
Dalam teater, manajemen produksi memainkan peran krusial dalam mengatur berbagai aspek yang terlibat dalam pementasan.
Penelitian ini menggunakan teori lima fungsi manajemen dari George Terry dan Leslie Rue. Lima fungsi tersebut meliputi dari perencanaan, pengorganisasian, penentuan sumber daya manusia, pemberian motivasi, dan pengendalian. Manajemen dapat membantu mewujudkan produksi karya secara maksimal serta tersusun .Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif, yang mencakup wawancara mendalam dan observasi langsung. Hal ini untuk memahami fungsi personel kunci seperti sutradara, pimpinan produksi, dan anggota tim lainnya. Teknik wawancara digunakan untuk menggali aspek-aspek tugas para pelaku pementasan yang terlibat.
Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa praktik manajerial yang terstruktur dan sistematis, berkontribusi secara signifikan terhadap keberhasilan pementasan teater. Manajemen yang baik tidak hanya meningkatkan efisiensi dalam alokasi sumber daya, tetapi juga memperkuat komunikasi antar anggota tim, yang pada gilirannya meningkatkan keterlibatan audiens dan pengalaman para pelaku pementasan
Penggunaan Warna Hangat Pada Tata Artistik Film “Jo, Jones” Untuk Meningkatkan Dramatik Cerita
Art director atau penata artistik merupakan peranan penting yang memiliki tanggung jawab terhadap aspek penataan,pengadaan,penyusunan visual yang digunakan sebagai latar sebuah film. Tata artistik merupakan salah satu elemen dalam sebuah karya film, yang meliputi make up, kostum, properti dan setting.
Tata artistik pada karya film "JO,JONES" lebih menonjolkan implementasi perubahan warna netral menjadi warna hangat yang meliputi setting dan kostum. Hal ini bertujuan untuk mendukung dramatik didalam film ini sehingga penonton bisa mengikuti perasaan dan alur yang terjadi didalam film tersebut.
Penggunaan tata artistik berhasil membuat kesan dramatik pada film “JO,JONES” seperti pada adegan ketika Johanes jalan bersama Cindy mengenakan kostum berwarna merah menimbulkan kesan keberanian pada karakter. Dominasi warna hangat menimbulkan unsur dramatik berupa konflik dan surprise yang digambarkan melalui setting dan kostum pada film “JO, JONES”
Gentong Panyumpahan di Makam Tumenggung Kopek Sebagai Sumber Inspirasi Penciptaan Motif Batik Busana Modest
Makam Tumenggung Kopek yang terletak di Desa Pakuncen, Kabupaten Nganjuk, merupakan kompleks makam bersejarah yang menyimpan artefak-artefak penting dan kaya akan nilai simbolik. Salah satu artefak utama yang menjadi pusat perhatian adalah Gentong Panyumpahan, yaitu gentong batu yang dipercaya masyarakat memiliki kekuatan spiritual dan digunakan dalam tradisi menyumpah untuk menegakkan kejujuran. Artefak ini, bersama nisan R.A. Poerwodiningrat dan patung Macan Kopek, menjadi sumber inspirasi dalam penciptaan motif batik yang diaplikasikan pada busana modest fashion. Metode penciptaan karya ini menggunakan pendekatan estetika, dan ergonomi, dengan mengacu pada metode tiga tahap enam langkah dari S. P. Gustami, yaitu eksplorasi, perancangan, dan perwujudan. Tahap eksplorasi dilakukan melalui studi pustaka dan studi lapangan di kompleks Makam Tumenggung Kopek. Hasil dari proses ini diwujudkan dalam enam busana modest fashion dengan motif batik yang merepresentasikan nilai-nilai budaya dan spiritual yang terkandung dalam artefak Makam Tumenggung Kopek, khususnya Gentong Panyumpahan
Bentuk Penyajian Tari Topeng Lengger Dusun Banjaran, Kramatan Wonosobo
Tari Topeng Lengger ditarikan oleh dua orang penari yang berasal dari cerita panji dengan dua tokoh bernama Panji Asmara Bangun yaitu seorang putra mahkota yang berkelana mencari istrinya yaitu Dewi Sekartaji. Kesenian ini dilestarikan dengan baik di dua dusun yaitu Dusun Giyanti, Kecamatan Selomerto dan Dusun Sijambu, Kecamatan Kertek. Pada Dusun Banjaran terdapat kelompok seni Topeng Lengger bernama Budhi Rukun Wargo yang sudah berganti empat generasi. Dalam satu rombongan Budhi Rukun Wargo dalam satu hari pementasan terdapat banyak Topeng dengan berbagai karakter dan tidak mengulang kembali Topeng yang diperlihatkan dalam pertunjukannya. Tulisan ini membahas bentuk penyajian Tari Topeng Lengger sebagai identitas dari masyarakat Kabupaten Wonosobo.
Dengan pendekatan teks dan konteks yaitu pendekatan “teks” dari segi bentuk, yang memandang karya seni pada faktor intraestetik, yang menganalisis bentuk, teknik dan gaya secara koreografis, struktural, simbolik dari keberadaannya. Pendekatan kedua dari penjelajahan ekspresi tari dipandang “konteksnya” dengan disiplin ilmu pengetahuan yang lain atau faktor ekstraestetik atau imanent dari dinamika sosio-kultural masyarakat.
Tari Topeng Lengger dalam Budhi Rukun Wargo dipentaskan sebanyak dua sesi dengan enam rangkaian pertunjukan salah satunya pada bagian Topeng Lengger dapat menyajikan 20 parikan dengan gerak setiap parikan berbeda, serta busana disesuaikan dengan karakter Topeng seperti alusan, gagahan, gecul atau lucu, dan kasar. Fungsi Tari Topeng Lengger yaitu sebagai ritual, hiburan dan pendidikan tetapi dalam Dusun Banjaran fungsinya berubah, hanya sebagai hiburan atau tontonan dan pendidikan. Relasi kesenian tersebut terhadap masyarakat digabungkan dengan sebuah bentuk pertunjukan gagrak Sijambunan karena terdapat proses persebaran Tari Topeng Lengger menuju ke Dusun Banjaran
Perancangan Concept Art Game Bergenre Adventure Mengenai Kemerdekaan Indonesia
Masa proklamasi adalah salah satu masa sejarah yang krusial bagi Indonesia. Tertanda, masa itu adalah masa dimana Indonesia berhasil merdeka. Sehingga, sudah sepatutnya sejarah ini terus diingat. Salah satu cara untuk menyampaikan kembali semangat sejarah tersebut adalah melalui narasi visual, seperti dalam bentuk video game bertema sejarah. Dalam konteks ini, genre adventure atau petualangan memungkinkan pemain untuk menjelajahi alur cerita secara interaktif dan mendalam. Genre ini dapat menggabungkan unsur eksplorasi dan teka-teki yang menantang, dengan tetap menyisipkan elemen mengenai sejarah Indonesia, dimana pemain diajak untuk memahami berbagai peristiwa penting secara emosional dan imersif. Dalam proses pembuatan game seperti ini, dibutuhkannya sebuah concept art yang berfungsi sebagai acuan visual untuk keseluruhan elemen dalam game. Oleh karenanya dibuatnya concept art game bergenre adventure ini.
Tahap perancangan concept art diawali dengan penyusunan konsep naskah game, setelah melakukan riset mengenai sejarah terkait. Setelah itu, dilakukan brainstorming visual atau sketsa guna menggali ide-ide kreatif yang untuk elemen game nanti. Dimana proses ini berlanjut hingga ke finalisasi terhadap pembuatan konsep karakter, desain lingkungan, objek-objek, dan GUI game. Semua hasil pemikiran dan perancangan ini kemudian dirangkum dan disatukan dalam sebuah concept artbook, yang menjadi pedoman visual utama dalam pengembangan game secara keseluruhan
Tiktok Dalam Pembentukan Tren Musik: Studi Kasus Sang Dewi Dipopulerkan Oleh Lyodra
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran platform TikTok dalam membentuk ulang popularitas lagu “Sang Dewi” versi Lyodra Ginting. Lagu yang semula dirilis oleh Titi DJ pada tahun 2001 ini mengalami regenerasi audiens melalui mekanisme distribusi digital berbasis algoritma dan partisipasi pengguna. Dengan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus netnografi, data dikumpulkan melalui observasi konten TikTok, dokumentasi statistik video, serta wawancara dengan pengguna aktif dan pelaku industri musik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fitur-fitur TikTok seperti For You Page, reuse audio, dan metrik interaksi (likes, shares, saves) memainkan peran sentral dalam memperluas jangkauan lagu. Tiga bentuk partisipasi utama, dance cover, narrative content, dan song cover, menunjukkan bahwa viralitas dipicu oleh keterlibatan emosional dan fleksibilitas musikal yang sesuai dengan logika teknis algoritma. Temuan ini menguatkan konsep platformisasi musik, di mana distribusi tidak lagi dikendalikan oleh lembaga industri, tetapi oleh komunitas pengguna dan sistem rekomendasi digital. TikTok bukan hanya alat promosi musik, tetapi juga arena kurasi ulang memori kolektif terhadap lagu-lagu lama
Perjalanan Spiritual Sebagai Ide Penciptaan Seni Lukis
Perjalanan spiritual menjadi dasar ide dalam penciptaan karya seni lukis ini. Pengalaman batin melalui meditasi, dzikir sirri (suatu kalimat atau doa yang tidak diucapkan secara keras), dan ritual lainnya diterjemahkan ke dalam bentuk visual untuk menggambarkan hubungan manusia dengan alam, semesta, dan Tuhan. Gaya surealis dipilih karena mampu mewakili simbol-simbol bawah sadar serta menghadirkan makna yang tidak literal. Proses penciptaan dilakukan dengan pendekatan seni lukis, menggunakan media seperti kopi, tinta cina, dan cat akrilik. Eksperimen bahan ini menghasilkan tekstur alami dan simbolik, terutama melalui eksplorasi goresan hitam putih yang merepresentasikan keseimbangan antara terang dan gelap, hidup dan mati. Objek visual berfokus pada sosok manusia dan alam dengan pendekatan simbolik spiritual. Karya-karya yang dihasilkan bertujuan menyampaikan pesan tersurat maupun tersirat tentang kesadaran diri dan nilai spiritual. Sebagai hasil akhir, diciptakan sebanyak 15 karya seni lukis dua dimensi yang merefleksikan proses dan pemaknaan dari perjalanan spiritual tersebut