144 research outputs found

    Pengaruh Gelombang pada Perubahan Garis Pantai di Perairan Batu Burung Singkawang, Kalimantan Barat

    Full text link
    Kawasan Batu Burung Singkawang merupakan perairan yang berhadapan langsung dengan laut Natuna yang mempunyai perbedaan kondisi geografis dan merupakan wilayah dengan topografi yang cukup datar dengan kemiringan antara 0-8% pada ketinggian antara 0-12 meter di atas permukaan laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis distribusi parameter tinggi, frekuensi dan energi gelombang yang terjadi serta menganalisis perubahan garis pantai yang terjadi di perairan Batu Burung Singkawang. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli-Agustus 2018 di peraian Batu Burung Singkawang, Kalimantan Barat. Data gelombang, arus dan pasang surut diperoleh berdasarkan observasi lapangan selama 15 hari. Selanjutnya data citra satelit yang digunakan adalah Citra Landsat 8 dengan interval dari tahun 2008-2017 dan untuk data kecepatan angin diperoleh dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts (ECMWF) dengan interval waktu yang sama. Hasil analisis menunjukkan tinggi gelombang signifikan (Hs) diperoleh nilai ketinggian maksimal hingga 0.13 meter dengan frekuensi gelombang antara 0.12 – 0.71 Hz dan energi gelombang yang didapatkan sebesar 21.87 Joule/m.  Besarnya energi gelombang yang dihasilkan mengakibatkan perubahan garis pantai di lokasi penelitian ini. Hasil ini dibuktikan dengan analisis berdasarkan data citra satelit bahwa perubahan garis pantai pada interval waktu  2008-2017 yang dibagi menjadi dua grid area (grid A dan B) dimana terjadi pergeseran garis pantai ke arah darat berkisar antara 3.8-16.4 meter dan akresi dengan jarak garis pantai ke arah laut berkisar antara 1-39.8 meter sepanjang 2.03 km garis pantai (grid A).  Kemudian pergeseran garis pantai ke arah darat berkisar antara 2.6-36.6 meter dan akresi dengan jarak garis pantai ke arah laut berkisar antara 3.2-18 meter sepanjang 2.12 km garis pantai (grid B)

    Karakterisasi Sifat Fisik Batupasir Daerah Jantho dan Krueng Raya Menggunakan Uji Gelombang Ultrasonik

    Full text link
    Penelitian sifat fisik batupasir daerah Jantho dan Krueng Raya dilakukan untuk mengetahui karakteristik batuan masing-masing daerah. Karakteristik batuan diamati melalui respon gelombang ultrasonik pada dua frekuensi berbeda untuk mengetahui nilai cepat rambat dan atenuasi gelombang. Sifat fisis yang diukur meliputi porositas, specific gravity, dan koefesien absorpsi. Hasil pengukuran menunjukkan nilai porositas batupasir daerah Jantho dan Krueng Raya memiliki nilai rata-rata 22% dan 25%. Respon cepat rambat yang dihasilkan pada sampel K16 (=2,86%) dan K33 (=8%) pada input frekuensi 1MHz bernilai 4040 m/s dan 3797 m/s, serta koefisien atenuasi bernilai 1,824. Sedangkan, respon cepat rambat yang diperoleh pada sampel Jantho tidak terdeteksi pada instrumen pengukuran. Keterbatasan penguatan sinyal dan tingginya kadar prositas tiap sampel berpengaruh besar pada tiap parameter yang diukur. Peninjauan terhadap jenis sampel yang lebih homogen dapat membantu pengamatan respon gelombang yang lebih baik

    Potensi Nanokomposit Fe3O4@C dari Bijih Besi Sebagai Pendeteksi Kadar Glukosa

    Full text link
    Sintesis nanokomposit Fe3O4@C dari bijih besi Tanah Laut dan sumber karbon dari gula pasir telah dilakukan dengan menggunakan metode kopresipitasi dan metode hidrotermal. Penelitian dilakukan untuk mengetahui karakteristik Fe3O4@C berbahan bijih besi. Sebanyak 6 g bijih besi digunakan sebagai bahan baku pembuatan Fe3O4. FeSO4.7H2O digunakan sebagai sumber ion Fe2+. Sampel diaduk dengan menggunakan temperatur 70oC dengan kecepatan adukan 450 rpm. Karbon (C) disintesis menggunakan metode hidrotermal pada temperatur 300oC dengan menambahkan etilon glikol sebagai surfaktan. Sampel Fe3O4 dan C digabung pada suhu 250oC selama 30 menit dengan kecepatan 500 rpm. Sampel  Nanokomposit Fe3O4@C dikarakterisasi menggunakan Vibrating Sample Magnetometer, Fourier Transform Infrared, Transmission Electron Microscopy, serta elektrokimia. Dari penelitian, diperoleh nilai magnetisasi saturasi sebesar 24,82 emu/g, jenis ikatan yang terdapat dalam nanokomposit Fe3O4@C adalah ikatan Fe-O, C=O, C=N dan O-H, distribusi ukuran partikel dalam rentang 5 nm – 20 nm, dengan rata-rata ukuran partikel 12 nm, serta nilai sensitivitas 0,285 mA/ppm

    Fotodegradasi Air Sungai Landak dengan Polimer Polipropilena Berfotokatalis Semikonduktor TiO2

    Full text link
    Penelitian ini mempelajari fotodegradasi air Sungai Landak dengan material penyangga polimer polipropilena (PP) berfotokatalis semikonduktor TiO2. Disamping itu, dilakukan pula analisis untuk mengetahui hubungan antara jumlah TiO2 yang terdeposisi di permukaan PP dengan variasi suhu saat proses pabrikasi. Pabrikasi PP/TiO2 dilakukan dengan teknik deposisi thermal milling. Dari hasil pabrikasi yang dilakukan, diketahui bahwa TiO2 paling banyak terikat pada permukaan PP pada suhu milling  dengan massa TiO2 sebesar 1,7 gram. Sedangkan, hasil degradasi yang paling optimum (absorbansi maksimum = 1,446) diperoleh PP/TiO2 dengan suhu milling  setelah fotodegradasi selama 40 jam. Walaupun suhu milling  menghasilkan massa TiO2 terdeposisi pada permukaan PP yang paling tinggi, namun tidak diiringi dengan hasil degradasi terbaik. Hal ini dikarenakan adanya indikasi overlapping antar TiO2 sehingga menyebabkan luas permukaannya menjadi lebih kecil dan membuat proses fotodegradasi menjadi tidak optimal. Akhirnya untuk parameter pH, semua sampel yang diberikan PP/TiO2 mengalami kenaikan nilai pH dari 4,9 menjadi 6,6 (suhu milling 100 ), menjadi 6 (suhu milling 150  dan 200 ), menjadi 5,7 (suhu milling 125 ), dan menjadi 5,3 (suhu milling 175 ). Nilai pH air sungai setelah ditambahkan PP/TiO2 pada suhu milling 175  tergolong pH<pzc sehingga mendukung terjadinya degradasi sampel air yang lebih cepat daripada variasi suhu milling yang lain

    Analisis Pengaruh Kuat Arus dan Tegangan Terhadap Kualitas Citra Computed Tomography (CT) Scan Siemens Perspective di RSUP Dr. M. Djamil Padang

    Full text link
    Telah dilakukan analisis pengaruh kuat arus dan tegangan terhadap kualitas citra Computed Tomography (CT) Scan menggunakan phantom Siemens berbentuk silinder dengan metode pengambilan citra secara pemindaian axial.  Variasi tegangan tabung yang digunakan adalah 80 kV, 110 kV dan 130 kV, untuk kuat arus 240 mA, 260 mA, 280 mA, 300 mA, 320 mA dan 340 mA dengan waktu pemindaian 1 detik.  Setiap metode pemindaian untuk satu tegangan dilakukan dengan enam kali penyinaran.  Penyinaran dilakukan pada dua keadaan yaitu pada tegangan tetap, nilai kuat arus yang divariasikan dan untuk variasi tegangan dilakukan pada nilai kuat arus yang tetap, dengan menggunakan ketebalan irisan 8 mm dengan kernel J30s.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa kenaikan tegangan tabung diikuti oleh dan penurunan nilai noise dan kenaikan nilai uniformity . Selain itu, variasi penambahan arus tabung akan menurunkan nilai  noise dan menurunkan nilai uniformity.  Nilai noise yang paling optimal berada pada tegangan 110 kVp dan 130 kVp, sedangkan nilai uniformity yang paling optimal berada pada tegangan 80 kVp dengan kuat arus 300 mAs dan 340 mAs

    Preparation of C4-silica Gels from Waste Glass and Tributylamine

    Full text link
    Waste glass materials coming from municipal and industrial processes have become a serious problem for the environment in the near future. Silica gels have been long attracting attention since it is widely used for many applications. It had also been studied by several fields because of its surface properties. In this study, semi-polar silica gels have been synthesized. C4-silica gels have been prepared by reaction between tributylamine (TBA) and silica gels produced from waste glass. The waste glass was powdered, soaked in NaOH, then heated at 400 oC to obtain sodium silicate. Silica gels were produced by neutralized the sodium silicate using HCl, dissolved in H2O, and dried in an oven at 80 oC. Silica gels were solubilized in TBA, stirred, and dried in the oven to obtain C4-silica gels. Silica gels were characterized by X-ray Diffraction (XRD), while Infra Red (IR) and Scanning Electron Microscopy (SEM) analyses were conducted to obtained C4-silica gels. XRD analysis of silica gels showed that the highest peak intensity was observed at 2θ = 22.655°. The band at 1381.03 cm-1 in the IR spectrum was attributed to the nitro-oxygen bond (N-O). SEM images showed that the surface of C4-silica gels was smoother and more flat than the previous silica gels

    Analisis Karakteristik Kekeringan DAS Kapuas Kalimantan Barat Berdasarkan Luaran Global Climate Model

    Full text link
    Daerah aliran sungai (DAS) Kapuas, walaupun berada di wilayah benua maritim Indonesia dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun, namun sering mengalami kebakaran lahan dan hutan. Bencana kebakaran lahan dan hutan tersebut merupakan dampak dari kekeringan yang berkepanjangan. Informasi tentang karakteristik kekeringan di wilayah DAS Kapuas masih kurang diungkap terutama terkait dengan penggunaan data iklim global. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik kekeringan meteorologis dan kekeringan hidrologis DAS Kapuas. Analisis kekeringan meteorologis digunakan pendekatan Standardize Precipitation Index (SPI) dan kekeringan hidrologis digunakan Standarized Runoff Index (SRI). Data curah hujan dan runoff dari Global Climate Model (GCM) yang telah di-downscaling menjadi 20 km x 20 km digunakan sebagai input data. Berdasarkan indeks kekeringan skala satu bulanan selama 30 tahun (1981-2010), diperoleh bahwa DAS Kapuas telah mengalami kekeringan meteorologis sebanyak 45 kali dan 48 kali kekeringan hidrologis dengan kategori moderat kering sampai dengan ekstrim kering. Luas wilayah yang mengalami kekeringan meteorologis maksimum terjadi pada tahun 1986 yakni 11,01% dari total wilayah DAS, kekeringan hidrologis maksimum terjadi pada tahun 1991 yakni 13,9% dari total wilayah DAS. Durasi kejadian kedua jenis kekeringan tersebut dominan berdurasi satu bulan. Luas wilayah kekeringan, tingkat keparahan, frekuensi, dan durasi kekeringan cenderung meningkat saat kejadian El-Niño. Hasil analisis karakteristik kekeringan menunjukkan bahwa data GCM dapat digunakan untuk analisis kekeringan di DAS Kapuas

    Identifikasi Keberadaan Gas Hidrat Menggunakan Bottom Simulating Reflector pada Penampang Seismic 2D di Cekungan Aru, Papua Barat

    Full text link
    Gas hidrat merupakan senyawa dengan molekul gas terperangkap di dalam sel-sel kristal yang terbentuk dari molekul air dan dipertahankan dalam bentuk hidrat oleh ikatan hidrogen. Gas hidrat diharapkan dapat menjadi sumber energi alternatif. Penelitian ini dilakukan di Cekungan Aru, Papua Barat. Cekungan Aru memiliki kondisi terisi oleh sedimen berupa fraksi halus setelah proses deformasi pada masa pliosen hingga resen yang diidentifikasi sebagai sedimen terigenus atau pelagik karena terdiri dari sisa-sisa cangkang mikroorganisme sehingga memungkinkan terbentuknya zona stabilitas gas hidrat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan gas hidrat menggunakan bottom simulating reflector (BSR) pada penampang seismik 2D. Kenampakan BSR menjadi indikator utama keberadaan gas hidrat pada saat proses interpretasi. Penelitian ini menggunakan tiga lintasan seismik hasil brute stack, yaitu L01.6, L26, dan L27. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, BSR terindikasi pada L01.6 dengan rentang CDP 8321 hingga CDP 8481 pada TWT 4000 ms hingga TWT 5500 ms, kemudian CDP 16300 hingga CDP 23600 pada TWT 4500 ms hingga TWT 7900 ms dan L27 dengan rentang CDP 1281 hingga CDP 4641 pada TWT 5250 ms hingga TWT 6500 ms. Kenampakan BSR pada penampang seismik menyerupai garis putus-putus, memotong stratigrafi, sejajar dengan lapisan sedimen, dan ada yang membentuk lensa-lensa. Karakteristik BSR juga didukung dengan anomali interval velocity pada semblance saat proses analisis kecepatan

    Karakterisasi Sensor Kekentalan Oli Berbasis Serat Optik Plastik Menggunakan Metode Back Scattering

    Full text link
    Telah dilakukan penelitian tentang penentuan karakterisasi sensor kekentalan oli berbasis serat optik plastik. Sensor ini dibuat dengan cara memposisikan dua buah serat optik (transmitter dan receiver) tercelup ke dalam sampel oli yang diposisikan sejajar dan tegak lurus terhadap permukaan oli menggunakan metode hamburan balik (back scattering) pada sistem sensor serat optik intrinsik. Cahaya LED ditransmisikan melalui serat optik transmitter dan akan mengalami back scattering di dalam sampel oli kemudian diteruskan oleh serat optik receiver menuju fotodetektor dan akan terbaca pada OPM dan komputer. Penentuan karakteristik sensor kekentalan oli menggunakan variasi jarak dan panjang kupasan sensor serat optik dengan cladding dan tanpa cladding. Pengukuran terbaik diperoleh pada panjang kupasan 3 cm tanpa cladding menghasilkan nilai range16,427 nWatt, sensitivitas 0,205 nWatt/mPa.s, dan resolusi 4,870 mPa.s. Metode ini efektif dan efisien digunakan sebagai sensor kekentalan oli dengan sensitivitas dan resolusi yang baik

    Fabrikasi dan Analisis Kualitas Papan Komposit Semen Berbobot Ringan Berbasis Ijuk

    Full text link
    Penelitian untuk fabrikasi dan analisis kualitas papan komposit semen berbobot ringan berbasis ijuk telah dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk fabrikasi papan komposit semen berbobot ringan dan analisis komposisi ijuk dan semen yang optimum ditinjau dari bobot, densitas, daya serap air (DSA) dan sifat mekanis. Komposisi papan komposit yang difabrikasi terdiri atas semen sebagai filler, ijuk sebagai matriks, aditif CaCl2 sebagai katalis dan air. Papan komposit dibuat dalam 6 variasi dengan perbandingan fraksi massa antara ijuk dan semen, yaitu 1:1, 1,5:1, 2:1, 2,5:1, 3:1, 3,5:1. Aditif CaCl2 yang digunakan sebanyak 15% dari massa total semen. Hasil dan metode pengujian papan komposit mengacu pada standarisasi ASTM C 1185. Nilai optimum diperoleh pada papan komposit semen komposisi 1,5:1 dengan densitas  sebesar 1,89 g/cm3, DSA sebesar 7,34%, modulus of rupture (MOR) sebesar 10,03 MPa dan modulus of elasticity (MOE) sebesar 3,2 GPa. Semakin tinggi densitas semakin rendah DSA papan komposit semen. Bobot papan komposit semen berbasis ijuk yang optimum lebih ringan 20% dari papan komposit semen komersil. Nilai densitas, DSA, dan MOR semuanya memenuhi standarisasi ASTM C 1186

    139

    full texts

    144

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    POSITRON
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇