Jurnal Sains Dirgantara
Not a member yet
    243 research outputs found

    PREDIKSI KONSENTRASI NITROGEN OKSIDA (NO, NOx) AMBIEN DENGAN MENGGUNAKAN KONSENTRASI NO2 DAN O3 DARI PASSIVE SAMPLER (Studi Kasus : Cipedes, Bandung)

    No full text
    Pemantauan konsentrasi nitrogen oksida di udara ambien sangat penting dilakukan, mengingat bahaya dan dampak yang ditimbulkan secara luas bagi kesehatan manusia serta lingkungan hidup. Passive sampler merupakan metode pemantauan udara yang murah dan mudah untuk dilakukan, terutama untuk lokasi pemantauan yang sulit dijangkau. Penelitian ini dilakukan untuk memprediksi konsentrasi nitrogen oksida (NO dan NOx) dengan menggunakan passive sampler. Data yang digunakan yaitu data konsentrasi NO2 dan O3 dari passive sampler serta data rata-rata bulanan radiasi matahari dan temperatur daerah Cipedes, tahun 2011 – 2015. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan persamaan reaksi fotokimia. Selain itu dilihat juga hubungan antara radiasi matahari dan temperatur terhadap perubahan konsentrasi NO2, NO dan O3 dengan menggunakan metode statistik korelasi Pearson. Hasil yang diperoleh yaitu NO dengan rentang konsentrasi sebesar 6,32 – 55,8 ppb, dengan nilai rata-rata sebesar 21,97 ppb. Sedangkan untuk konsentrasi NOx 37,28 – 100,83 ppb, dengan nilai rata-rata sebesar 66,43 ppb. Dari korelasi hubungan diperoleh bahwa radiasi matahari dan temperatur berpengaruh secara signifikan terhadap perubahan konsentrasi O3. Â

    ANALISIS PROBABILITAS SPREAD F IONOSFER LINTANG RENDAH SEKTOR INDONESIA

    No full text
    Tulisan ini membahas analisis kemunculan spread F dan validasi probabilitas kemunculan Spread F dari Model global ionosfer, IRI (International Reference Ionosphere)  untuk lintang rendah sektor Indonesia. Prosentase kemunculan spread F periode 2007 hingga 2013 dari dua titik pengamatan yaitu stasiun Agam (0,3o LS, 100,3o BT, Lintang geomagnet 9,8) dan Tanjungsari (6,5oLS 107.6o BT, Lintang geomagnet 16,04) dihitung untuk mendapatkan informasi klimatologi kemunculan spread F di Indonesia. Spread F adalah fenomena gangguan kerapatan elektron ionosfer yang merupakan komponen penting cuaca antariksa. Fenomena spread F di lintang ekuator kemunculannya cukup tinggi dan dikenal sebagai equatorial spread F, (ESF) yang masih terus dikaji karena efeknya pada gelombang radio yang dapat menyebabkan fading pada komunikasi pita frekuensi tinggi (band frequency  HF) dan loss of lock pada sinyal GNSS. Teori umum dalam menjabarkan mekanisme gangguan ionosfer terkait kemunculan spread F adalah perubahan non liner ketidakstabilan Rayleigh-Taylor dikombinasikan dengan laju atau drift E x B. Hasil analisis probablitias kemunculan spread F di Agam dan Tanjungsari diperoleh pola yang hampir sama, namun demikian tingkat hubungan antara kemunculan di dua tempat tersebut tidak cukup kuat dengan nilai koefisien korelasi adalah 0.58. Hal ini menunjukkan bahwa kemunculan spread F secara umum bersifat lokal. Kemunculan spread F saat aktivitas matahari minum umumnya terjadi pada Solatis Juni, didominasi tipe PM (setelah tengah malam, Post Midnight) sebaliknya saat matahari tinggi, tipe kemunculan PS (Post Sunset) lebih dominan dengan pola ekuinoks dua puncak (Maret-April dan September-Oktber). Validasi model IRI secara umum lebih tinggi (overestimate) di lintang rendah Indonesia. Tingkat hubungan antara model dengan data pengamatan sangat lemah bahkan tidak searah (koefisien bernilai negatif). Dari identifikasi periode dominan menggunakan analsis wavelet, di peroleh periode harian, yaitu muncul pada malam hari, tetapi periode tersebut tidak disemua bulan dan tahun. Ditemukan juga periode 6 hari dan 12 hari, yang terkait dengan modulasi gelombang planetari

    PRAKIRAAN FLARE SINAR-X MATAHARI BERDASARKAN EVOLUSI DAERAH AKTIF

    Full text link
    Flare Matahari diketahui berasal dari daerah aktif dan dapat melontarkan energi hingga 1023 erg. Radiasi flare Matahari dapat mengionisasi atmosfer-atas Bumi sehingga mengakibatkan terganggunya komunikasi radio. Oleh karena itu, prakiraan flare Matahari sangat penting untuk peringatan dini cuaca antariksa. Makalah ini bertujuan untuk mengembangkan sistem prakiraan flare sinar-X yang dihasilkan suatu daerah aktif untuk 24 jam ke depan berdasarkan masukan perubahan parameter dari daerah aktif selama tiga hari sebelum terjadinya flare, meliputi posisi lintang dan bujur heliografis, luas, jumlah bintik, dan kelas McIntosh dan Hale. Model prakiraan flare dikembangkan menggunakan algoritma random forest. Konfigurasi paling optimal yang digunakan dalam algoritma ini menghasilkan model prakiraan dengan akurasi sekitar 75% untukprakiraan kondisi tanpa-flare, sekitar 40-45% untuk prakiraan flare kelas C dan M, dan sekitar 80% untuk prakiraan flare kelas X. Konfigurasi 50 pohon dan 90 daun menghasilkan prakiraan flare sinar-X kelas ≥ C dengan akurasi data latih sebesar 71,9% dan F-score data uji sebesar 70,0%. Sementara itu, konfigurasi 500 pohon dan 150 daun menghasilkan prakiraan dengan akurasi data latih sebesar 71,0% dan F-score data uji sebesar 70,4%. Parameter fisis daerah aktif yang paling berkontribusi terhadap prakiraan flare adalah luas, kelas Hale, kelas McIntosh, jumlah bintik, dan posisi bujur dalam 24 dan 48 jam menjelang flare. Model prakiraan flare ini dapat digunakan untuk mendukung kegiatan SWIFtS yang telah beroperasi di LAPAN sejak tahun 2015

    Back Pages

    No full text
    Back Page

    IDENTIFIKASI SINYAL PENGARUH VARIABILITAS AKTIVITAS MATAHARI TERHADAP CURAH HUJAN DI AREA ITERA ASTRONOMICAL OBSERVATORY (IAO), LAMPUNG

    No full text
    Serangkaian dengan kajian kelayakan wilayah pembangunan observatorium serta mendukung tahap awal pengembangan sistem deteksi Sudden Ionospheric Disturbance (SID) di situs ITERA Astronomical Observatory (IAO), pada penelitian ini akan dibahas identifikasi pengaruh variabilitas aktivitas matahari menggunakan parameter Flare Index (FI) dan Total Solar Irradiance (TSI) terhadap parameter curah hujan jangka panjang di wilayah kajian. Meskipun mekanisme pengaruh aktivitas matahari terhadap sistem iklim di Bumi masih belum jelas, analisis dekomposisi sinyal dianggap dapat digunakan sebagai salah satu metode untuk mendeskripsikan korelasi antara keduanya. Dekomposisi Singular Spectrum Analysis (SSA) dari 30 tahun data curah hujan bulanan stasiun menunjukkan adanya kemiripan osilasi inter-annual dan interdecadal 22.5 tahun dengan FI dan TSI meskipun dengan magnitude yang lemah, yang mengindikasikan adanya respon curah hujan terhadap Hale cycle yang menggambarkan siklus medan magnetik matahari. Analisis korelasi rata-rata curah hujan tahunan GPCC dengan TSI, selama 110 tahun dari 1901-2010, dengan lag-time 1 tahun menunjukkan adanya korelasi positif yang signifikan antara keduanya, namun terdapat periode yang berkorelasi negatif pada 1920an hingga 1950. Lag-time antara respon hujan terhadap aktivitas matahari mengindikasikan adanya mekanisme lain yang menghubungkan kedua variabel ini, karena beberapa wilayah memberikan respon dengan waktu jeda yang berbeda-beda, sedangkan korelasi negatif pada beberapa penelitian diduga sebagai akibat respon iklim yang diakibatkan diantaranya oleh aktivitas vulkanik, instrusi partikel debu interstellar, dinamika atmosfer-laut, dan efek gas rumah kaca

    Vol. 16 No. 2 Juni 2019

    No full text
    Vol. 16 No. 2 Juni 201

    PERBANDINGN PENGARUH BADAI GEOMAGNET TERHADAP TEC IONOSFER DI ATAS MANADO, PONTIANAK DAN BANDUNG (Studi Kasus : 17 Maret dan 23 Juni 2015) (Comparisson of Geomagnetic Storm Effect on Ionospheric TEC over Manado, Pontianak dan Bandung Case study: 17 March

    No full text
    ABSTRACT The largest geomagnetic storms of solar cycle 24 so far occurred on March 17, 2015 (Dst index reached -223 nT) and on June 23, 2015 (Dst index reached -204 nT). Geomagnetic storm is one of major space weather event sourced from Coronal mass Ejection (CME) of the Sun that affected the ionosphere layer. Total Electron Content (TEC) in the ionosphere is very vulnerable affected by changes of system electrical currents in the magnetosphere due to the geomagnetic storm. An extreme enhancement of TEC called positive ionospheric storms otherwise an extreme depression of TEC called negative ionospheric storms. The research objective of this paper was to determine the effect of the geomagnetic storms on enhancement and depression ionospheric TEC over Manado, Pontianak dan Bandung. This research also examines the solar wind plasma condition and CME as a drivers of this geomagnetic storm.  TEC data obtained from GPS Ionospheric scintillation and TEC Monitor (GISTM) in Manado (1.48o U;124.85o E) Pontianak (-0.03o S; 109.33o E) and Bandung (-6.90o S; 107.60o E). The TEC data is converted into data Vertical TEC (VTEC) then compared with the data median VTEC during geomagnetic quiet days (qVTEC). The results showed that there was a negative ionospheric storms affected by geomagnetic storm due date of March 17, 2015 with a deviation of VTEC (dVTEC) reached -71.41%. In contrast, there was a positive ionospheric storm affected by geomagnetic storm due date of June 23, 2015 with deviation VTEC (dVTEC) reached 53.82%. The mechanism of the significant enhancement and depression VTEC caused by ionospheric electrodynamics processes. Keywords: geomagnetic storm, Dst-Index, Ionosphere, TEC ABSTRAK Badai Geomagnet yang terbesar pada siklus Matahari ke-24 sampai saat ini adalah peristiwa badai geomagnet pada tanggal 17 Maret 2015 (indeks Dst mencapai -223nT) dan 23 Juni 2015 (indeks Dst mencapai -204 nT). Badai geomagnetik merupakan bagian dari cuaca antariksa yang bersumber dari Corronal Mass Ejection (CME) Matahari yang mempengaruhi lapisan ionosfer. Total Electron Content (TEC) di ionosfer sangat rentan dipengaruhi oleh perubahan sistem arus listrik di magnetosfer akibat terjadinya badai geomagnet. Peningkatan TEC yang ekstrim dinamakan badai ionosfer positif sebaliknya penurunan TEC yang ekstrim dinamakan badai ionosfer negatif. Tujuan penelitian pada makalah ini adalah mengetahui pengaruh badai geomagnet tersebut terhadap peningkatan dan penurunan TEC ionosfer diatas Manado, Pontianak dan Bandung. Penelitian ini juga meninjau kondisi plasma angin surya dan CME sebagai sumber penggerak badai geomagnetik ini. Data TEC diperoleh dari GPS Ionospheric Scintillation and TEC Monitor (GISTM) di Manado (1,48o LU; 124,85o LS); Pontianak (0,03oLS;109,33oBT) dan Bandung (-6,90o LS; 107,60o BT). Peristiwa badai Geomagnetic storm yang dianalisis adalah peristiwa badai geomagnet kategori kuat yang berlangsung pada tanggal 17 Maret 2015 (indeks Dst mencapai -223nT) dan 23 Juni 2015 (indeks Dst mencapai -204 nT). Data TEC tersebut dikonversi menjadi data Vertical TEC (VTEC) kemudian dibandingkan dengan data median VTEC pada saat hari tenang geomagnet (qVTEC). Hasil menunjukkan terjadi badai ionosfer negatif diakibatkan badai geomagnet tanggal 17 Maret 2015 dengan deviasi VTEC (dVTEC) data Pontianak mencapai -71,41%. Sebaliknya, terjadi badai ionosfer positif diakibatkan badai geomagnet tanggal 23 Juni 2015 dengan deviasi VTEC (dVTEC) mencapai 53,82%. Mekanisme terjadinya peningkatan dan penurunan VTEC yang siginifikan tersebut disebabkan oleh proses elektrodinamika di ionosfer. Kata kunci: Badai geomagnet, Indeks Dst, Ionosfer, TE

    SOLAR WIND SPEED AND ULF Pc5 POWER AT LOW-LATITUDE AS PRECURSOR OF ELECTRON FLUX ENHANCEMENT DUE TO GEOEFFECTIVE CMEs IN 2015 TO 2017

    No full text
    Electron flux is one of the space weather parameters that needs to be monitored and predicted for the purpose of mitigating the negative effects of space weather. Solar storms caused by CME which will affect electron flux can be observed using spacebased and ground-based data. The spacebased data used is solar wind speed data from ACE satellite and electron flux from GOES 13 satellite. The groundbased data are magnetometer data from Biak and Parepare stations which will be calculated on Pc5 power values. Cross correlation method is used to determine the correlation of two equations as functions that influence each other as electron flux which is affected by solar wind speed and Pc5 power. The correlation value of the speed of solar wind with electron flux is higher than Pc5 power with electron flux. However, the maximum value of r power Pc5 with electron flux occurs before the maximum value of r solar wind speed with electron flux which means that Pc5 power is more effective as a precursor to electron flux enhancement

    Front Pages

    No full text
    Front Page

    RELIABILITAS FREKUENSI KRITIS DAN KETINGGIAN LAPISAN IONOSFER HASIL SCALING OTOMATIS MENGGUNAKAN SISTEM PINTAR ESIR-CADI

    Full text link
    Scaling adalah metode untuk membaca dan menginterpretasikan nilai parameter ionosfer dari ionogram yang diperoleh melalui pengamatan menggunakan ionosonda. Metode ini mengacu kepada Report UAG-23A yang telah digunakan sebagai rujukan baku secara internasional. Pada awalnya, scaling dilakukan secara manual oleh teknisi yang terlatih. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi pemrograman, scaling dapat dilakukan secara otomatis menggunakan sistem pintar atau software. Salah satu software tersebut adalah The Expert System Ionogram Reduction (ESIR) yang telah beroperasi secara otomatis bersamaan dengan beroperasinya ionosoda CADI (Canadian Advanced Digital Ionosonde) di stasiun Kupang-Undana (10,16ºLS, 123,67ºBT) dan Manado-Tomohon (1,48ºLU,  124,85ºBT). Hasil scaling otomatis menggunakan ESIR-CADI diantaranya berupa frekuensi kritis lapisan ionosfer (foE, foF1, dan foF2) dan ketinggiannya (h’E, h’F, dan h’F2). Dalam makalah ini kami membandingkan parameter-parameter tersebut dengan parameter yang sama hasil scaling secara manual. Data yang digunakan merupakan hasil pengamatan di dua stasiun tersebut pada saat puncak siklus aktivitas matahari 2013 - 2015. Tujuannya untuk mengetahui reliabilitas frekuensi kritis dan ketinggian hasil scaling menggunakan ESIR-CADI. Hasil riset menunjukkan bahwa nilai individual dan median foE dan foF2, yang dihasilkan ESIR-CADI di stasiun Kupang-Undana dan Manado-Tomohon semuanya reliabel, sedangkan foF1 dan h’E tidak. Nilai individual dan median h’F2 yang reliabel hanya hasil scaling ESIR-CADI di stasiun Kupang-Undana, sedangkan untuk stasiun Manado-Tomohon hanya nilai mediannya saja. Parameter h’F yang reliabel hanya nilai median hasil scaling ESIR-CADI di Stasiun Kupang-Undana. Dengan demikian nilai foE dan foF2 hasil scaling ESIR-CADI dapat digunakan untuk mengevaluasi kondisi ionosfer pada sistem layanan SWIFtS, sedangkan h’F2 yang dapat digunakan hanya hasil ESIR-CADI Kupang-Undana

    172

    full texts

    243

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains Dirgantara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇