Jurnal Sains Dirgantara
Not a member yet
    243 research outputs found

    EFEK MEDAN MAGNET ANTAR-PLANET ARAH UTARA-SELATAN TERHADAP MEDAN DIPOL GEOMAGNET

    No full text
    Ditinjau sebuah model analitik untuk membahas efek keberadaan medan magnet antar-planet pada daerah sekitar orbit bumi dimana medan magnet bumi ditinjau sebagai medan dengan konfigurasi dipol. Untuk memetakan medan dipol tanpa gangguan maupun dengan keberadaan medan magnet antar-planet telah diterapkan pendekatan menggunakan potensial Euler untuk merumuskan persamaan garis medan. Dalam makalah ini hanya ditinjau medan efek keberadaan komponen arah utara atau selatan medan magnet antar-planet terhadap medan dipol geomagnet. Keberadaan medan magnet antar-planet yang memiliki komponen arah utara meng-akibatkan terjadinya rekoneksi garis medan pada daerah kutub, sedangkan medan magnet antar-planet dengan komponen arah selatan mengakibatkan rekoneksi pada daerah siang dan malam di bidang ekuatorial. Peningkatan kekuatan medan magnet antar-planet secara umum mengakibatkan kompresi terhadap medan dipol geomagnet disertai oleh titik rekoneksi bergerak mendekati bumi. Hasil uji untuk kasus badai magnet yang terjadi pada bulan Juli, 2000 menunjukkan bahwa pada awal fase ekspansi badai magnet titik rekoneksi magnetik terjadi pada jarak 19.5RE. Selanjutnya selama fase ekspansi ketika kekuatan medan magnet mencapai nilai maksimum titik terdekat rekoneksi magnetik diukur dari pusat bumi pada jarak 8.05RE dan pada akhir badai magnet lokasi rekoneksi menjauhi dari bumi yaitu pada jarak 26.9RE

    Front Pages JSD Vol 15 No 1 Desember 2017

    No full text
    Front Pages JSD Vol 15 No 1 Desember 201

    Front Pages JSD Vol 14 No 2 Juni 2017

    No full text
    Front Pages JSD Vol 14 No 2 Juni 201

    RESPON TEC IONOSFER DI ATAS BANDUNG DAN MANADO TERKAIT FLARE SINAR-X MATAHARI KELAS M5.1 DAN M7.9 TAHUN 2015 (IONOSPHERIC TEC RESPONSE OVER BANDUNG DAN MANADO ASSOCIATED WITH M5.1 AND M7.9 CLASSES OF SOLAR FLARE XRAYS IN 2015)

    Full text link
    The solar flare is potential to cause sudden increase of the electron density in the ionosphere,particularly in D layer, known as Sudden Ionospheric Disturbances (SID). This increase of electron density occurs not only in the ionospheric D layer but also in the ionospheric E and F layers. Total Electron Content (TEC) measured by GPS is the total number of electrons from D to F layer. The aim of this research is to study the effect of solar flare x-rays, greater than M5 class in 2015, on ionospheric TEC over Bandung and Manado. This paper presents the preliminary result of ionospheric TEC response on solar flare occurrence over Indonesia. The ionospheric TEC data is derived from GPS Ionospheric Scintillation and TEC Monitor (GISTM) receiver at Bandung (-6.90o S;107.6o E geomagnetic latitude 16.54o S) and Manado (1.48o N; 124.85o E geomagnetic latitude 7.7o S). The solar x-rays flares classes analyzed where M5.1 on 10 March 2015 and M7.9 on 25 June 2015. Slant TEC (STEC) values where calculated to obtain Vertical TEC (VTEC) and the Differential of the VTEC (DVTEC) per PRN satellite for further analysis. The results showed that immediately after the flare, there where sudden enhancement of the VTEC and the DVTEC (over Bandung and Manado) at the same time. The time delay of ionospheric TEC response on M5.1 flare was approximately 2 minutes, then the VTEC increased by 0.5 TECU and the DVTEC rose sharply by 0.5 – 0.6 TECU/minutes. Moreover, the time delay after the M7.9 flare was approximately 11 minutes, then the VTEC increased by 1 TECU and the DVTEC rose sharply by 0.6 – 0.9 TECU/minutes. ABSTRAK Flare matahari berpotensi meningkatkan kerapatan elektron ionosfer secara mendadak, khususnya di lapisan D, yang dikenal sebagai Sudden Ionospheric Disturbances (SID). Peningkatan kerapatan elektron tersebut terjadi tidak hanya di lapisan D, tetapi juga di lapisan E dan F ionosfer. Total Electron Content (TEC) dari GPS merupakan jumlah banyaknya elektron total dari lapisan D sampai lapisan F. Penelitian ini bertujuan mengetahui efek flare, yang lebih besar dari kelas M5 tahun 2015, terhadap TEC ionosfer di atas Bandung dan Manado. Makalah ini merupakan hasil awal dari respon TEC ionosfer terhadap fenomena flare di atas Indonesia. Data TEC ionosfer diperoleh dari penerima GPS Ionospheric Scintillation and TEC Monitor (GISTM) di Bandung (-6,90o S; 107,60o E lintang geomagnet 16,54o LS) dan Manado (1,48oLU;124,85oBT lintang geomagnet 7,7o LS) dikaitkan dengan kejadian flare kelas M5.1 pada tanggal 10 Maret 2015 dan kelas M7.9 pada tanggal 25 Juni 2015. Nilai Slant TEC (STEC) dihitung untuk memperoleh nilai Vertical TEC (VTEC), kemudian nilai Differential of VTEC (DVTEC) per PRN satelit diperoleh untuk analisis selanjutnya. Hasil menunjukkan segera setelah terjadi flare, terjadi peningkatan VTEC dan DVTEC (di atas Bandung dan Manado) secara mendadak pada waktu yang sama. Waktu tunda dari respon TEC ionosfer setelah terjadi flare M5.1 adalah sekitar 2 menit, kemudian VTEC meningkat sebesar 0,5 TECU dan DVTEC meningkat secara tajam sebesar 0,5 – 0,6 TECU/menit. Sedangkan, waktu tunda setelah terjadi flare M7.9 adalah 11 menit, kemudian VTEC meningkat sebesar 1 TECU dan DVTEC meningkat secara tajam sebesar 0,6 – 0,9 TECU/menit

    RELASI APROKSIMASI ANTARA DIAMETER KAWAH TUMBUKAN DI BUMI DAN UKURAN OBJEK PENUMBUK DARI SIMULASI NUMERIK

    Full text link
    Di permukaan Bulan dan planet-planet terestrial dapat dijumpai kawah-kawah hasil tumbukan benda-benda angkasa. Studi ini mencoba memperoleh relasi aproksimasi antara diameter kawah tumbukan di Bumi terhadap ukuran objek yang diperlukan untuk membentuk kawah tersebut. Studi dilakukan menggunakan simulasi numerik terhadap ribuan sampel asteroid dekat-Bumi  nyata dalam orbit yang telah dikenal dengan baik. Menggunakan asumsi bahwa jumlah kawah yang dibentuk di permukaan Bumi sama dengan banyaknya asteroid dekat-Bumi yang menumbuk dalam kurun waktu tertentu, diperoleh bahwa diperlukan asteroid dengan diameter yang lebih kecil untuk menghasilkan kawah-kawah besar yang dikenal dibandingkan prediksi yang ada sebelumnya. Pengetahuan tentang ukuran fisik asteroid penumbuk dapat digunakan dalam mengestimasi besarnya energi tumbukan yang dihasilkan, yang berhubungan pula dengan strategi metode mitigasi yang diperlukan

    PENGARUH AKTIVITAS MATAHARI TERHADAP KERAPATAN ATMOSFER ATAS BERDASARKAN DATA POSISI GPS SATELIT LAPAN-A2 (SOLAR ACTVITY INFLUENCE ON THE UPPER ATMOSPHERIC DENSITY DERIVED FROM GPS DATA ON LAPAN-A2 SATELLITE)

    Full text link
    Studies on atmospheric density were very important to obtain a correction factor for the atmospheric density model. Thus, improvement of atmospheric models accuracy, i.e. CIRA, JASCHIA, NRLMSISE, became important in its application for re-entry prediction, satellite tracking and mitigation of the collisions probability between active satellites with space debris. GPS equipment installed in LAPAN-A2 indirectly measured the upper atmospheric density variation in-situ from the satellite orbit path. Notwithstanding the measurement had a lower temporal resolution than using accelerometer, but still gives better resolution than using Two-Line Element (TLE) data. This study had successfully determined upper atmospheric density variation with a 10 second resolution using LAPAN-A2 GPS data. The LAPAN-A2 GPS data validated using In-track Radial Cross-track (RIC) had ± 2 km error compared to the TLE data. It was also found that there was influence of solar activity on atmospheric density changes obtained from the LAPAN-A2 GPS data. AbstrakStudi kerapatan atmosfer atas sangat penting untuk memperoleh faktor koreksi dari suatu model kerapatan atmosfer. Peningkatan akurasi dari model atmosfer yang telah ada (CIRA, JASCHIA, NRLMSISE) sangat penting dalam penerapannya untuk prediksi re-entry, penjejakan satelit dan prakiraan kemungkinan terjadinya tabrakan antara satelit aktif dengan sampah antariksa. Peralatan GPS yang terpasang di satelit LAPAN-A2 secara tidak langsung dapat melakukan pengukuran in-situ perubahan kerapatan atmosfer atas dari orbit yang dilaluinya, meskipun tingkat resolusi temporalnya masih lebih rendah dibandingkan menggunakan instrumen akselerometer tetapi masih jauh lebih baik dibandingkan menggunakan data Two-Line Element (TLE). Studi ini telah berhasil memperoleh variasi kerapatan atmosfer atas dengan resolusi 10 detik menggunakan data posisi GPS LAPAN-A2. Selain itu, diperoleh pula tingkat kesalahan dalam koordinat satelit (Radial Intrack Crosstrack - RIC) data TLE terhadap data posisi GPS LAPAN-A2 sebesar ± 2 km. Selain itu terlihat pula pengaruh aktivitas matahari terhadap perubahan kerapatan atmosfer atas yang diperoleh dari data posisi GPS LAPAN-A

    VARIASI TRACE GASES SELAMA 10 TAHUN DAN PENCAMPURAN DI SEKITAR LAPISAN TROPOPAUSE DI INDONESIA BERBASIS SATELIT (TRACE GASES VARIATION FOR 10 YEARS AND MIXING AROUND THE TROPOPAUSE LAYERS IN INDONESIA BASED ON SATELLITE)

    Full text link
    Measurement of trace gases (CO, O3, CH3Cl, HCl, H2O, and HNO3) and temperatures around upper troposphere/lower stratosphere (UT/LS) or rather around Tropical Tropopause Layer (TTL) in Indonesia by using Microwave Limb Sounder (MLS) instrument board on Satellite AURA for 2005-2014 period to make variations of these gases over the 10 years around TTL allows to be studied more deeply. TTL becomes the main route entry of chemical compounds and aerosols originating in the troposphere into the stratosphere. The composition of minor gases in the TTL is very important because it affects the global radiation budget. Analysis of vertical profiles of these gases in the TTL was done to determine the suitability of the concept of TTL which starts from the upper troposphere to the lower stratosphere. Other method are the time series diagram of the altitude (height versus time series cross section) which shows the annual and interannual variations in vertical profiles of these gases in the TTL and the possible influence of the dynamics of the atmosphere. The results showed correlation of these gases with ozone showed most of the air in the stratosphere is experiencing mixing in the TTL. In addition, changes in concentration and temperature values in the TTL have been calculated using the trends of each parameter and it is known that the parameters of HCl, CH3Cl, and temperature show respective decreases of -0.036 ppmv, -0.024 ppmv, and -0.456 K. As for other parameters such as ozone, CO, H2O, and HNO3 showed an increase of respectively 0.0036 ppmv, 0.0096 ppmv, 0.108 ppmv, and 0.06 ppmv. AbstrakPengukuran trace gases (CO, O3, CH3Cl, HCl, H2O, HNO3) dan temperatur di sekitar lapisan troposfer atas/stratosfer bawah (UT/LS) atau tepatnya di sekitar Tropical Tropopause Layer (TTL) di Indonesia menggunakan instrumen Microwave Limb Sounder (MLS) pada Satelit AURA periode 2005-2014 menjadikan variasi gas-gas tersebut selama 10 tahun di sekitar TTL memungkinkan untuk dikaji lebih dalam. TTL menjadi jalur utama masuknya senyawa-senyawa kimia dan aerosol yang bersumber di troposfer ke stratosfer. Komposisi gas-gas minor di TTL sangat penting karena mempengaruhi budget radiasi global. Analisis profil vertikal gas-gas tersebut di TTL dilakukan untuk mengetahui kesesuaian konsep TTL yang dimulai dari lapisan troposfer atas hingga ke stratosfer bawah. Metode lainnya adalah dengan diagram time series terhadap ketinggian (time series versus height cross section) yang menunjukkan variasi tahunan maupun antar tahunan profil vertikal gas-gas tersebut di TTL serta kemungkinan adanya pengaruh dari proses dinamika atmosfer. Hasil penelitian menunjukkan korelasi gas-gas tersebut dengan ozon menunjukkan adanya sebagian udara di stratosfer yang mengalami pencampuran di wilayah TTL. Selain itu, perubahan nilai konsentrasi dan temperatur di TTL telah dihitung menggunakan trend masing-masing parameter dan diketahui bahwa parameter HCl, CH3Cl, dan temperatur menunjukkan penurunan masing-masing sebesar  -0,036 ppmv, -0,024 ppmv, dan -0,456 K. Adapun parameter lain seperti ozon, CO, H2O, dan HNO3 menunjukkan adanya peningkatan masing-masing sebesar 0,0036 ppmv, 0,0096 ppmv, 0,108 ppmv, dan 0,06 ppmv. Â

    Vol. 16 No. 1 Desember 2018

    Full text link

    Full Draft JSD Vol 15 No 1 Desember 2017

    No full text
    Full Draft JSD Vol 15 No 1 Desember 201

    EVALUASI PEMETAAN POTENSI ENERGI SURYA BERBASIS MODEL WRF DI DESA PALIHAN DAN DESA AIKANGKUNG

    Full text link
    Penggunaan model numerik Weather Research and Forecasting (WRF) untuk memprediksi potensi energi surya dapat digunakan sebagai langkah awal pemetaan. Peta hasil prediksi WRF perlu diverifikasi guna meningkatkan kualitas data. Dalam penelitian ini, digunakan data WRF dengan rentang tahun 2001 hingga 2010. Untuk verifikasi digunakan data observasi radiasi matahari selama 12 bulan pada 2 lokasi yaitu desa Palihan (Provinsi Yogjakarta) dan desa Aikangkung (Provinsi Nusa Tenggara Barat). Metoda yang digunakan adalah penurunan skala (downscaling), prediksi, verifikasi dan koreksi. Hasil verifikasi memperlihatkan lokasi 1 (desa Palihan) memiliki deviasi yang lebih besar (Mape=22.59%) dibanding pada lokasi 2 (desa Aikangkung) dengan nilai Mape=12.95%. Perbedaan nilai antara model WRF dan data observasi dimanfaatkan untuk mengkoreksi peta potensi energi surya. Hasil peta yang telah terkoreksi, memiliki nilai Mape = 0.0007% untuk desa Palihan dan 7% untuk desa Aikangkung. Â

    172

    full texts

    243

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains Dirgantara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇