Jurnal Sains Dirgantara
Not a member yet
243 research outputs found
Sort by
POLA LAMA PENYINARAN MATAHARI DALAM 20 TAHUN PENGAMATAN DI SUMEDANG
Pola lama penyinaran matahari (LPM) dalam kurun waktu pengamatan 20 tahun di BPAA (Balai Pengamatan Antariksa dan Atmosfer) LAPAN Sumedang (6,91â° LS dan 107,84â° BT, 864 m dpl)telah dianalisis. Pengukuran LPM menggunakan Campbell Stokesdilakukan sejak tahun 1997. Dari pengukuran ini diperoleh jumlah hari data sebanyak 5.899. Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan metode statistika. LPM dikelompokkan menjadi 4 kelompok berdasarkan musim dan dihitung frekuensi distribusinya. Secara umum, terjadi peningkatan LPMterutama pada musim JJA dalam 20 tahun pengamatan. Fenomena El Nino berdampak pada peningkatan lama penyinaran pada bulan DJF, sedangkan La Nina berdampak pada penurunan lama penyinaran pada bulan SON. Di sisi lain, kenaikan aktivitas matahari justru berpengaruh pada penurunan lama penyinaran pada bulan DJF. Pada musim basah (DJF) dominansi LPM adalah 0-1 jam/hari, sedangkan pada musim kering (JJA) dominansi LPMmencapai 9 jam/hari
PROBABILITAS LONTARAN MASSA KORONA BERDASARKAN PARAMETER MEDAN MAGNET UNIVARIAT
Forecasting of flare occurrence and coronal mass ejection (CME) are necessary since those energetic phenomena are able to effectively influence the space weather on Earth. In this study, we analyzed four magnetic parameters of active region: (1) mean gradient of horizontal magnetic field (meangbh), (2) mean helicity (meanjzh), (3) mean photospheric magnetic free energy (meanpot) and (4) mean gradient of total field (meangbt) and their potential usage for the input in CME prediction based on linear statistics. Obtained that among those four parameters, meangbt is the best parameter for the purpose mentioned. Active regions with meanbgt ≤ 96 Gauss/Mm probably produce flare with CME and the True Skill Score from this prediction is ~20%. Eventhough this achieved score is considerably low, it is proportionally comparable with respect to the other work. Prediksi flare dan lontaran massa korona (coronal mass ejection, CME) perlu dilakukan mengingat kedua peristiwa energetik tersebut dapat mempengaruhi cuaca antariksa di Bumi secara efektif. Pada studi kali ini, kami menganalisis empat parameter magnetik daerah aktif: (1) rerata gradien medan horisontal (meangbh), (2) rerata arus puntir (meanjzh), (3) rerata gradien medan magnet total (meangbt), dan (4) rerata energi magnetik bebas fotosfer (meanpot) serta potensinya untuk sebagai input dalam prediksi CME berbasis statistik linier. Hasilnya, diantara keempat parameter tersebut, meangbt merupakan parameter terbaik untuk keperluan tersebut. Daerah aktif dengan meangbt ≤ 96 Gauss/Mm berpotensi menghasilkan flare yang disertai CME dan True Skill Score dari prediksi ini adalah ~20%. Meski masih tergolong rendah, skor yang didapatkan dapat disandingkan secara proporsional dengan pekerja oleh peneliti lain
KARAKTERISTIK KETEBALAN LAPISAN BRIGHT BAND HASIL MODEL PROFIL REFLEKTIVITAS DAN GRADIEN REFLEKTIVITAS
Bright band merupakan indikator suatu lapisan pada awan stratus yang ditandai oleh peningkatan reflektivitas radar akibat kristal es yang meleleh. Hal tersebut dapat menyebabkan galat dalam menghitung estimasi presipitasi berdasarkan data radar. Oleh karena itu, deteksi bright band merupakan langkah yang penting untuk dilakukan guna mengoreksi data radar cuaca sebagai acuan dalam pengembangan model estimasi presipitasi. Penelitian ini bertujuan menginvestigasi dua model untuk identifikasi bright band hasil observasi transportable X-band radar dari data range-height indicator (RHI). Model pertama dengan menggunakan function fit, yaitu profil vertikal reflektivitas (VPR; vertical profile of reflectivity) dan model kedua dengan menggunakan gradien reflektivitas (GR). Hasil analisis menunjukkan perbedaan galat dalam menentukan batas atas (batas bawah) untuk VPR adalah 4,51% (3,1%), sedangkan model GR 9,02% (3,9%). Identifikasi bright band dengan menggunakan model VPR lebih baik dibandingkan dengan model GR untuk penentuan batas atas dan batas bawah dari bright band. Pengetahuan mengenai karakteristik ketebalan BB dapat dimanfaatkan untuk analisis lebih lanjut terkait estimasi presipitasi kuantitatif berdasarkan observasi radar
ANALISIS ARUS LISTRIK DAN MEDAN MAGNET PADA DAERAH AKTIF PENGHASIL FLARE AR NOAA 12017
Flare Matahari terjadi akibat adanya pelepasan energi magnetik di suatu daerah aktif. Energi tersebut dihasilkan akibat adanya arus listrik yang mengalir di struktur korona daerah aktif. Pada daerah aktif penghasil flare, sistem arus listrik dan medan magnetnya terbentuk sedemikian rupa sehingga energi magnetiknya terakumulasi di daerah tertentu. Oleh karena itu, pemahaman akan karakteristik sistem kelistrikan dan kemagnetan daerah aktif penghasil flare sangat penting dikuasai agar prakiraan flare dapat dilakukan. Dengan menggunakan data medan magnet fotosfer dari Spaceweather HMI AR Patch (SHARP), kami melakukan analisis terhadap daerah aktif NOAA 12017 (AR 12017) yang menghasilkan banyak flare, termasuk flare kelas M dan X pada bulan Maret 2014. Kami menunjukkan bagaimana cara menurunkan parameter-parameter kelistrikan dan kemagnetan pada daerah aktif ini sepanjang periode flare tanggal 27-29 Maret 2014. Kami menemukan bahwa arus listrik vertikal pada daerah aktif ini menjadi semakin tidak netral menjelang terjadinya flare. Kami juga menemukan bahwa flare-flare terjadi pada awalnya di daerah dengan akumulasi energi yang tinggi, yakni di daerah dengan medan magnet yang tergeser dengan kuat akibat kemunculan fluks baru. Hasil ini menunjukkan bahwa daerah aktif AR 12017 dapat diidentifikasi sebagai penghasil flare, bahkan sebelum flare terjadi berdasarkan karaketeristik sistem arus dan konfigurasi medan magnetnya
ANALYSIS OF WEST NUSA TENGGARA RAINFALL TO ENSO PHENOMENON BASED ON TRMM 3B43 DATA
West Nusa Tenggara is part of the Indonesian Maritime Continent region whose weather conditions are heavily influenced by the dynamics of the Pacific Ocean and Indian Ocean. One of the dynamics that influenced the rainfall condition was the ENSO phenomenon (El Nino and La Nina). This study analyzes rainfall response in West Nusa Tenggara to ENSO phenomenon. The research data was taken from TRMM 3B43 with a monthly temporal resolution and 0.25o spatial resolution. Based on the analysis, it was found that El Nino phenomenon characterized by the heating of Sea Surface Temperature (SST) in Nino 3.4 had an impact on decreasing rainfall in NTB. In contrast, the La Nina phenomenon characterized by the cooling of SST in Nino 3.4 tends to have an impact on increasing rainfall in NTB. Nevertheless, the value of the increase and decrease of Nino 3.4 SST anomaly and rainfall in NTB itself is not linear. This is probably due to the magnitude of the ENSO phenomenon only regulating rainfall changes only, not regulating how far, how strong, or how much rainfall is reduced or increased due to the influence of the ENSO phenomenon. This is evidenced by the small correlation coefficient between Nino 3.4 SST anomaly and rainfall in NTB where the strongest value only reached -0.4 in the JJA season. In the JJA season, the correlation coefficient of Nino 3.4 SST Anomaly and rainfall in NTB tend to be negative and strongest when compared to other seasons. This is probably due to the spatial coherence of NTB rainfall in the JJA season better than the other season. Spatially, almost all areas in NTB in El Nino month experience a decrease in rainfall. In contrast, almost all areas in NTB in the month of La Nina experience an increase in rainfall. The smallest decrease or increase in rainfall during El Nino or La Nina takes place in the southwestern of Sumbawa Island. That means, the influence of the ENSO phenomenon in this region tends to be weak
ESTIMASI TINGKAT KEASAMAN AIR HUJAN (PH) AKIBAT ABSORPSI GAS NO_2 DAN SO_2
Telah dilakukan perkiraan tingkat keasaman (pH) air hujan akibat pengaruh absorpsi gas \ce{NO2} dan \ce{SO2}. Hukum Henry digunakan untuk menghitung besarnya gas yang terlarut dalam air hujan. Nilai koefisien korelasi Pearson () digunakan untuk membandingkan nilai estimasi (hasil perhitungan) tingkat keasaman dengan nilai observasi (hasil pengukuran). Hasil analisa menunjukkan bahwa nilai estimasi tingkat keasaman (pH) air hujan akibat pengaruh absorpsi gas \ce{NO2} dan \ce{SO2} tidak sesuai dengan nilai tingkat keasaman (pH) air hujan hasil pengukuran. Selama 24 bulan periode perbandingan, nilai korelasi Pearson yang kuat hanya terdapat pada bulan Juli 2011, dimana R_{[\ce{SO2}]}=0,85 dan R_{[\ce{SO2 + NO2}]}=-0,85
ANALYSIS ON THE PULSE STORM EVENT IN THE SOUTH BANDUNG WEST JAVA BASED ON THE TRANSPORTABLE X-BAND DOPLLER RADAR CAMPAIGN, (CASE STUDY : MARCH 16, 2017)
Pulse storm is a term to mention the occurrence of storms that have a short duration with the nature of its weak updraft. The results of the Transportable X-band radar campaign were able to capture a pulse storm at a location 25 km southwest from a radar position. Convective core with echo value > 50 dbz is detected at 4 km altitude but has a weak updraft so that it dissipated in the next 40 minutes. This convective activity is also showed by convective index value as well as Tbb value from Himawari Satellite data in those area. The microburst effect showed from the surface wind shear that expand along + 6.6 km with the edge of the area experiencing high wind with maximum speed from combine shear showed up to 14.5 m/s. The microburst category is dry microburst based on the increase in precipitation value from AWS surface dat
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TERHADAP KETERSEDIAAN AIR DI NUSA TENGGARA BARAT (NTB)
Wilayah NTB yang terdiri dari Pulau Lombok dan Sumbawa, terletak di bagian Indonesia Timur dan tergolong wilayah gersang dan rawan kekurangan air. Hal ini terjadi akibat curah hujan rendah setiap tahunnya dan tidak menutup kemungkinan karena adanya hal tersebut, akan terjadi kekurangan sumber air. Kondisi saat ini ditemukan bahwa jumlah DAS di Pulau Lombok dan Sumbawa mengalami kerusakan sangat tinggi. Perubahan iklim sendiri diprediksi akan memperparah dan turut berdampak pada berkurangnya sumber daya air di NTB. Dalam penelitian kali ini dilakukan analisis terhadap pengaruh perubahan iklim terhadap ketersediaan air di NTB berdasarkan proyeksi model CCAM dengan skenario RCP 4.5. Dampak perubahan iklim saat ini dan akan datang dianalisis untuk mendukung pertumbuhan perekonomian wilayah NTB. Analisis ini dilakukan berbasis data observasi, re-analisis, model CCAM (histori dan RCP), dan model hidrologi. Data yang digunakan adalah data observasi (1990-2017), data curah hujan dan data temperatur, data hasil luaran model CCAM 1990-2014 (histori/RCP) resolusi 14 km. Hasil model divalidasi terlebih dahulu dengan menggunakan data observasi. Dengan menggunakan metode komposit, downscaling, regriding, komposit, dan perhitungan neraca air, serta analisis terhadap ketersediaan air maka diperoleh bahwa bias antara model dan data observasi di Mataram adalah mencapai 95 mm/bln, dan Bima: 85 mm/bln. Dengan nilai korelasi di masing-masing tempat tersebut adalah 0.69 dan 0.63. Dari hasil analisis diketahui akan terjadi defisit air pada Bulan Januari tahun 2040 jika dibandingkan dengan tahun 2018 masing-masing sebesar 80 mm di Mataram dan 120 mm di Bima. Sedangkan pada Bulan Agustus 2040 akan terjadi defisit air jika dibandingkan dengan tahun 2018 yaitu sebesar 40 mm di Mataram dan cenderung tetap di Bima. Â Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya optimasi pola operasi Waduk akibat Dampak Perubahan Iklim di masa yang akan datang