Jurnal Sains Dirgantara
Not a member yet
243 research outputs found
Sort by
DATA OPTIMIZATION OF RAIN RADAR AND ITS COVERAGE EXPANSION USING RADAR NETWORK
This research developed network of two Santanu rain radars of the Center for Atmospheric Science and Technology LAPAN installed in Bandung (SANTANU 1) and Sumedang (SANTANU 2). The objective is to get larger coverage area which also comply data each other. The first step is data optimation to each radar detection results, particularly due to rain attenuation, and then validation with the transportable radar image. The shape analysis on a rain object detected in the slice of both radar images indicates 0.8672 of R2 which show the width of both objectcs has a good similarity. Data optimation due to rain attenuation using attenuation correction for regional weather radar (KA) and path-integrated attenuation (PIA) indicate that the reflectivity improvement by KA is 10 times better than PIA. The object detected by Santanu rain radar is similar to the transportable radar for reflectivity larger than 30 dBZ.  The next step is integration of both rain radar images to create mosaic image and then validation using the transportable radar data. The production of the mosaic image is tried out using three methods: image stitching, averaging, and Cressman scheme. The best result is presented by Cressman scheme which show more integrated slice area and maintain the features of the object. However, the processing time of this scheme is 17 minutes which is longer than image stitching method. The processing time depend on the number of grid data and the hardware memory. Validation on the mosaic result by using transportable radar data by implementing structural similarity index (SSIM) method yields 0,32 of average value. The improvement on SSIM value is obtained if speckle removal is applied by recording 59% of enhancemen
DETEKSI OTOMATIS DAERAH TERANG DI SISI JAUH MATAHARI UNTUK PREDIKSI KEMUNCULAN BINTIK
Active regions that responsible to flare occurrences often appear at east limb as mature active regions. Therefore, we use EUVI instrument onboard STEREO-A spacecraft to observe far-side extreme ultra violet (EUV) for the automatic detection system. The procedure running on the system is by combining the latest STEREO/EUVI and the SDO/AIA data into a single composite heliographic coordinate system map. Active regions are detected based on their intensities on the heliographic map and their duration after they are detected. The program has successfully detected far-side bright-regions in an automatically  near real-time system. 85 % of active regions that have been detected for more than 4 days appear in the east limb as sunspots. On the other hand, bright-regions that have detected between 2-3 days develop to be plagues or decay before reaching the east limb. We find that the different between the mean intensities of the bright-regions that develop to sunspot and no-sunspot regions is about 200 DN//s, which is insignificant to determine the threshold.Â
PEMANTAUAN KONSENTRASI GAS (CO2, NO2) DAN PARTIKULAT (PM2.5) PADA STRUKTUR HORIZONTAL DI KAWASAN DAYEUHKOLOT, CEKUNGAN UDARA BANDUNG RAYA
Salah satu sumber polusi lokal yang terjadi di Bandung Raya berasal dari kendaraan bermotor. Dari penelitian sebelumnya terindikasi bahwa konsentrasi organic carbon (OC) lebih tinggi dari elemental carbon (EC), konsentrasi OC primer lebih tinggi dari OC sekunder, dan konsentrasi char-EC lebih tinggi dari soot-EC. Penelitian tersebut menggunakan metode dry sampling dengan perangkat cascade impactor dan teridentifikasi bahwa OC, OC primer, dan char-EC berasal dari kendaraan bermotor khususnya mesin diesel, asap pabrik, dan debu jalan. Penelitian ini bertujuan untuk memantau dan menganalisis persebaran polusi lokal secara horizontal di daerah Dayeuhkolot, cekungan udara Bandung Raya. Pemantauan kualitas udara (CO2, NO2 , dan PM2.5 ) dengan menggunakan sepeda dilakukan pada tiga tipe lintasan: (1) jalur hijau, (2) lalu lintas rendah, dan (3) jalan raya. Ketiga lintasan memiliki karakteristik yang unik sesuai dengan estimasi sumber pencemar dan faktor lingkungan seperti pepohonan. Alat ukur yang digunakan berbasis low-cost sensors (CO2, NO2, dan PM2.5 ), serta dilengkapi dengan sensor temperatur (T), kelembapan relatif (RH), dan data logger. Pengukuran dilakukan selama 15 kali pada Februari-Maret 2019. Rata-rata pengamatan dilakukan setiap ~2 jam dengan kecepatan rata-rata sepeda ~10 km jam -1 . Hasil pengukuran menunjukkan bahwa alat dapat mendeteksi fluktuasi konsentrasi emisi gas/partikulat, yang dipengaruhi oleh konsentrasi polutan di udara sesaat yaitu dari kendaraan bermotor, pembakaran sampah, aktivitas pasar minggu, dan pengaruh hujan. Pada saat lampu merah di persimpangan jalan, tampak bahwa emisi langsung dari kendaraan bermotor dapat meningkatkan konsentrasi PM 2.5 dan NO2 menjadi 110 μg m-3 dan ~0,15 ppm pada selang waktu pengukuran ~10 menit. Faktor lainnya yang dapat meningkatkan nilai konsentrasi PM 2.5 sebesar ~163 μg m-3 dari kondisi udara ambien (77-86 μg m-3) adalah pembakaran sampah (~4 menit). Sedangkan kegiatan rutin di pasar minggu pagi dapat meningkatkan konsentrasi CO2 dan NO2 menjadi ~931 ppm dan ~0,13 ppm (~8 menit). Air hujan yang biasa terjadi pada sore hari dapat menurunkan konsentrasi gas dan PM 2.5 . Tingkat pembilasan partikulat (r) akibat hujan adalah ~30%
ESTIMASI KELIMPAHAN KEADAAN TUNAK POPULASI ASTEROID DEKAT-MATAHARI
Telah dilakukan simulasi numerik terhadap ribuan sampel asteroid dekat-Bumi nyata (ADB, dari kelas Amor, Apollo, Aten, dan Atira) yang orbitnya telah dikenal dengan sangat baik (U = 0). Komputasi orbit dilakukan hingga 5x106 tahun ke depan memanfaatkan paket integrator SWIFT-RMVS (Regularized Mixed-Variable Symplectic) yang tersedia. Dari keluaran komputasi telah dihitung parameter q’ (nilai terkecil q) yang mendefinisikan orbit populasi asteroid dekat-Matahari (ADM). Berdasarkan model populasi keadaan tunak ADB, diperoleh fluks-masuk asteroid menuju kawasan dekat-Matahari dari kawasan dekat-Bumi sebesar 19 ± 0,21 objek per juta tahun (untuk model Tata Surya di bawah pengaruh gravitasi dan efek Yarkovsky) dan 13 ± 0,14 objek per juta tahun (untuk model Tata Surya di bawah pengaruh gravitasi), keduanya untuk H < 17,75. Kedua nilai fluks-masuk memberikan estimasi keadaan tunak populasi ADM yang setara, yaitu ~3 objek untuk H < 17,75 pada setiap saat bagi kedua model Tata Surya yang digunakan
SIKLUS DIURNAL CURAH HUJAN DI PULAU SULAWESI: DISTRIBUSI SPASIAL DAN MUSIMAN
Benua Maritim Indonesia memiliki siklus diurnal curah hujan yang kompleks, baik dipengaruhi oleh kondisi lokal seperti topografi dan bentuk garis pantai, maupun interaksinya dengan fenomena baik musiman, antar-musiman, tahunan dan antar-tahunan. Pulau Sulawesi merupakan salah satu pulau besar di Indonesia yang mempunyai bentuk dan ukuran pulau yang unik serta pola curah hujannya yang terdiri dari pola monsunal, equatorial, dan lokal. Untuk mengetahui variabilitas musiman dan spasial siklus diurnal curah hujan di Pulau Sulawesi, dilakukan analisis komposit data curah hujan perjam dari Global Satellite Mapping of Precipitation (GSMaP) sepanjang tahun 2004–2018 pada bulan Desember–Januari–Februari (DJF), Maret–April–Mei (MAM), Juni–Juli–Agustus (JJA) dan September–Oktober–November (SON). Hasil analisis klimatologi menunjukkan adanya variasi spasial curah hujan diurnal setiap musimnya. Curah hujan di darat diidentifikasi sebagai hujan sore hingga malam hari (pukul 14:00–21:00 WITA) dengan intensitas paling tinggi sebesar 1 mm/jam pada bulan MAM, sedangkan curah hujan di sekitar pantai terjadi pada pukul 22:00–06:00 WITA dengan intensitas paling tinggi mencapai 1,7 mm/jam pada pukul 03:00 WITA di Teluk Tolo pada bulan MAM. Hasil analisis komposit rata-rata curah hujan perjam menunjukkan bahwa bentuk garis pantai dan kondisi topografi berpengaruh terhadap siklus diurnal curah hujan di Pulau Sulawesi dengan arah propagasi curah hujan dari darat menuju laut yang berbeda di setiap musimnya. Pada bulan DJF, curah hujan di daratan bagian tengah pulau bergerak menuju Teluk Tolo dan Bone, pada bulan MAM hujan bergerak menuju Teluk Tolo, Tomini dan Bone. Adapun pada periode musim JJA, hujan dari pegunungan bagian tengah pulau bergerak menuju Teluk Tolo dan Tomini, sedangkan pada bulan SON curah hujan terkonsentrasi di daratan bagian utara pulau dan bergerak menuju perairan bagian utara
RELATIONSHIP AND PERIODICITY OF SOLAR CORONAL HOLE AREA WITH THE SOLAR WIND SPEED AND GEOMAGNETIC ACTIVITY
Space weather disturbances during solar minimum are more dominantly caused by the appearance of the coronal hole in the sun. In this paper, we developed tools called DeLuNa to detect and calculate the geo-effective corona hole area based on 19.3nm images from the Atmospheric Imaging Assembly instrument on Solar Dynamics Observatory (SDO/AIA193). The results from geoeffective coronal hole detection and measurement from 2016 - 2018 then used to conduct cross-correlation (cc) analysis and wavelet analysis with the solar wind speed and Dst index. We found that an increase in the area of the coronal hole will cause solar wind speed to increase at 3.17 days later (cc = 0.65). Increasing the area of the coronal hole will also cause Dst index to decrease at 3.58 days later (cc = -0.35). While the decrease in the Dst index will only take 2 hours since the increased of the solar wind speed (cc = -0.59). Wavelet analysis short-term periodicities, i.e. 27, 13.5 and 7-9 days. The observed periodicities show that changes in solar wind speed and geomagnetic storm during minimum solar activity are more dominant caused by the geoeffective coronal hole total area
ASTIGMATISMA TELESKOP 50 CM F/3,8 UNTUK OBSERVATORIUM NASIONAL TIMAU
Observatorium Nasional Timau akan menjadi fasilitas observatorium di bagian tenggara Indonesia, dilengkapi dengan teleskop optik kelas sub-meter dan meter. Sebuah teleskop tipe Ritchey-Chretien dengan bukaan 50 cm dan panjang fokus 150 cm diharapkan menjadi kuda kerja dari program survei. Dalam makalah ini, tingkatan astigmatisma dari teleskop dievaluasi dengan menggunakan pendekatan geometris. Hasilnya menunjukkan bahwa astigmatisma cukup kecil dan tidak signifikan dalam mempengaruhi kinerja sistem keseluruhan. Besarnya direpresentasikan oleh koefisien Zernike Z22 yang nilainya 200 nm, jauh lebih kecil dari panjang gelombang operasional dan ukuran pixel kamera