Jurnal Sains Dirgantara
Not a member yet
    243 research outputs found

    IDENTIFIKASI DAN KARAKTERISTIK CO-ROTATING INTERACTION REGION GEOEFEKTIF

    Full text link
    Co-rotating Interaction Region (CIR) dipicu oleh interaksi angin matahari berkecepatan tinggi dengan angin Matahari yang lebih lambat. Diketahui bahwa CIR merupakan salah satu penyebab terjadinya badai geomagnet. Pada studi ini diidentifikasi dan dianalisis badai geomagnet yang dipicu CIR pada periode tahun 2008 – 2019 (Solar Cycle, SC 24). Diperoleh distribusi statistik badai geomagnet CIR dan parameter-parameter CIR pada angin Matahari. Analisis korelasi dilakukan untuk melihat hubungan antarparameter. Hasil studi yang telah dilakukan menunjukkan bahwa dari 176 kejadian badai geomagnet pada SC ke-24, sebanyak 48 (sekitar 27%) badai geomagnet diakibatkan oleh CIR. Kebanyakan badai geomagnet yang dipicu CIR ini berada pada level badai lemah. Meskipun plasma cepat (high speed streamer, HSS) adalah pemicu utama CIR, parameter komponen selatan medan magnet antarplanet dan medan listrik memegang peranan yang lebih krusial dibandingkan kecepatan angin Matahari pada tingkat gangguan badai geomagnet CIR

    PERUBAHAN KARAKTERISTIK CURAH HUJAN JANGKA PANJANG DI PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 1921-2010

    Full text link
    Fenomena perubahan iklim berdampak besar pada sistem iklim di Bumi yang salah satunya ditunjukkan pada perubahan karakteristik curah hujan. Berbeda dengan respons temperatur yang cenderung homogen, respons curah hujan terhadap perubahan iklim lebih kompleks karena presipitasi sangat dipengaruhi oleh karakter sirkulasi dan topografi regional. Di sisi lain, variabilitas iklim jangka panjang seperti Interdecadal Pacific Oscillation (IPO) juga dapat menyebabkan perubahan karakteristik curah hujan global. Namun, dampak perubahan iklim dan IPO terhadap hujan di Indonesia, khususnya Jawa Barat, belum terdokumentasi dengan baik. Penelitian ini menganalisis perubahan karakteristik curah hujan jangka panjang di Provinsi Jawa Barat pada periode 1921-2010 dengan mempertimbangkan faktor perubahan iklim dan variabilitas interdecadal. Berdasarkan tren linier, curah hujan di Provinsi Jawa Barat meningkat sebesar 1,61 mm/dekade. Semua periode baik DJF, MAM, JJA, maupun SON, menunjukkan peningkatan curah hujan, namun peningkatan yang signifikan secara statistik hanya terjadi pada musim pra-monsun (SON) yaitu sebesar 3,70 mm/dekade. Penyebab lemahnya tren tersebut adalah curah hujan di Jawa Barat bervariasi kuat secara interdecadal (standar deviasi 10,38 mm). Variabilitas ini berkorelasi positif secara signifikan dengan indeks IPO; menunjukkan bahwa telekoneksi akibat variabilitas internal dari Samudra Pasifik berpengaruh besar terhadap tren hujan di Jawa Barat. Anomali suhu muka laut dan pola sirkulasi angin permukaan terlihat menyebabkan perubahan hujan tersebut sebagai akibat dari sinyal-sinyal IPO yang bervariasi secara spasial. Dalam studi perubahan iklim terhadap curah hujan di Indonesia, diperlukan perhatian khusus pada variabilitas-variabilitas interdecadal agar tren dan proyeksi iklim yang muncul dapat dijelaskan dengan baik

    Back Pages

    No full text

    Back Pages

    No full text

    Front Pages

    No full text

    DETEKSI MANEUVER ORBIT BERDASARKAN METODE MOVING WINDOWS CURVE FITTING (MWCF)

    No full text
    Manuver orbit merupakan anomali atau perubahan drastis pada parameter orbit tertentu dalam waktu yang singkat untuk mempertahankan orbit satelit. Untuk mendeteksi hal tersebut, digunakan metode moving windows curve fitting (MWCF). Metode ini menggunakan analisis statistik parameter orbital tertentu dari data two-line element (TLE) satelit untuk mendeteksi pencilan dalam segmen “jendela yang bergeserâ€. Hasil deteksi manuver dari beberapa satelit menunjukkan bahwa selain konfigurasi parameter algoritma MWCF, pemilihan parameter orbit yang menjadi data landasan deteksi dan jenis satelit mempengaruhi performa deteksi. Karakteristik parameter orbit saat terjadi manuver juga diperoleh, tetapi akurasinya bergantung pada performa deteksi. Dari 567 variasi uji coba deteksi manuver, ternyata efek konfigurasi parameter algoritma MWCF terhadap performa deteksi dapat dikonfirmasi dengan adanya hubungan-hubungan linear di antaranya.Â

    A PROTOTYPE OF TRUE DAWN OBSERVATION AUTOMATION SYSTEM

    Full text link
    It requires adequate true dawn observation data both in quality and quantity to correct or verify the accuracy of the early true dawn criteria set by the Ministry of Religion of Republic of Indonesia, which in the last decade had been doubted by several parties. However, temperature and unfavorable field conditions present challenges in observing the true dawn. This paper describes the development of the True Dawn Observation Automation System which includes hardware and software requirements, system installation and performance testing in three locations: Karimunjawa (-5.78S, 110.48E, 1 m above sea level), Banyuwangi (-7.97S, 114.42E, 1 m above sea level) and Semarang (-6.97S, 110.29E, 15 m above sea level). An analysis of the data is also presented in this paper which includes the variability due to moonlight and light pollution on true dawn detection. The test results show that the system is running well but it needs upgraded GPS and Real Time Clock module so the system can work better. Meanwhile, analysis of the data recorded by the system shows that moonlight has a strong effect on true dawn detection in locations with low light pollution (Banyuwangi and Karimunjawa), an average difference of around 3.4° (13.6 minutes) compared to when moonlight was absent. Meanwhile, in areas with high light pollution (Semarang) it does not have a significant effect, an average difference of around 0.25° (1 minute). This study also proposes that true dawn is detected when the Sun's position averages -20 ± 0.2 degrees below the horizon

    DETEKSI OTOMATIS DAERAH AKTIF CITRA SDO/HMI MAGNETOGRAM MATAHARI MENGGUNAKAN ADAPTIVE CENTROID CLUSTERING

    Full text link
    Peristiwa flare terjadi pada daerah aktif di Matahari dapat teramati melalui citra yang dihasilkan oleh satelit Solar Dynamics Observatory (SDO). Citra Helioseismic and Magnetic Imager(HMI)-Magnetogram SDO menampilkan informasi area medan magnet pada permukaan matahari yang direpresentasikan oleh area putih (polaritas positif) dan area hitam (polaritas negatif). Daerah aktif yang muncul dalam citra magnetogram merupakan struktur berpasangan antara polaritas positif dan negatif. Teknik pengolahan citra digital digunakan untuk mendeteksi dan mengelompokan daerah aktif citra HMI-Magnetogram dari fase preprocessing, pengelompokan kluster lokal kontur hitam/putih, pengelompokan daerah aktif, dan ekstraksi parameter luas daerah aktif. Algoritma Adaptive Centroid Clustering telah dikembangkan untuk mengelompokan daerah aktif menggunakan titik data dipusat cluster (centroid) yang terdeteksi dan mengelompokannya berdasarkan jarak serta perpotongan garis batas area. Pengujian pengelompokan daerah aktif menggunakan 12 data historis peristiwa flare kelas X dan M yang terekam dan diuji menggunakan metriks evaluasi area-based accuracy. Metriks evaluasi  menunjukan bahwa algoritma ACC dapat mendeteksi daerah aktif pada citra HMI-Magnetogram. Selain itu, setiap daerah aktif yang terdeteksi pada 12 citra dapat diekstraksi parameter luasnya dan diperoleh bahwa luas daerah aktif terbesar memiliki korelasi dengan daerah aktif penghasil flare

    EVALUASI SKEMA PARAMETERISASI MODEL WRF UNTUK PENGAMATAN KEMUNCULAN AWAN DARI SATELIT HIMAWARI-8 DI ATAS INDONESIA

    Full text link
    Berbagai kombinasi skema parameterisasi kumulus dan mikrofisika telah diimplementasikan pada model WRF untuk menemukan skema terbaik kemunculan awan saat siang hari di atas Indonesia. Parameterisasi dilakukan dengan melakukan simulasi model ensemble resolusi tinggi selama sebulan menggunakan delapan skema kumulus dan empat skema mikrofisika. Selanjutnya hasil simulasi dibandingkan dengan data awan yang diturunkan satelit Himawari-8 pada tiga level ketinggian. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa kombinasi skema kumulus Kain-Fritsch dan skema tanpa kumulus/eksplisit, serta skema mikrofisika WSM3 menghasilkan korelasi yang cukup tinggi untuk kemunculan awan berdasarkan perhitungan nilai skill (score skill) dan analisa spasial. Secara umum, korelasi kemunculan awan luaran WRF dan Himawari-8 lebih baik pada awan tinggi daripada awan menengah atau rendah, dan hasil model cenderung overestimate di semua level ketinggian

    PERHITUNGAN ELEMEN ORBIT BINTANG GANDA WDS 03264+3520 MENGGUNAKAN METODE SEMI-DEFINITE PROGRAMMING

    Full text link
    Banyak metode yang digunakan untuk menentukan elemen orbit elips bintang ganda. Salah satu metode yang relatif baru digunakan dalam penentuan elemen orbit adalah Semi-Definite Programming (SDP). Metode ini digunakan untuk menyelesaikan persamaan umum elips dari data pengamatan dengan batasan tertentu, yang memberikan solusi tunggal melalui konsep optimisasi konveks. Salah satu keunggulan metode SDP adalah mampu mendapatkan elips terbaik dari jumlah titik data yang terbatas dengan persebaran yang sempit (mengelompok). Tujuan penelitian ini adalah menentukan elemen orbit bintang ganda WDS 03264+3520 atau HDS 430 dengan terlebih dahulu mendapatkan koefisien persamaan elips orbit proyeksinya melalui SDP. Kemudian dengan menggunakan metode Kowalsky, didapatkan nilai elemen orbit elips sejati dari bintang ganda ini. Implementasi skema paralaks dinamika menghasilkan massa masing-masing bintang melalui proses iteratif dengan melibatkan nilai magnitudo mutlak bolometrik bintang. Hasil perhitungan elemen orbit dan massa bintang ganda ini menunjukkan bentuk orbit yang lebih lonjong (eksentrik) dengan massa bintang yang sedikit lebih rendah daripada hasil studi sebelumnya

    172

    full texts

    243

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Sains Dirgantara
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇