Sawwa: Jurnal Studi Gender
Not a member yet
    190 research outputs found

    PERAN KELUARGA DALAM PENDIDIKAN ANAK: Studi Ayat 13-19 Surat Luqman

    Full text link
    Keluarga merupakan masyarakat terkecil yang berpotensi membentuk masyarakat Islami. Dengan pendidikan yang benar anak akan terbebas dari dekadensi moral. Dalam Surah Luqman ayat 13-19 seorang ayah yang bijak memberikan wasiat kepada anaknya untuk mengamalkan ketauhidan tanpa menyekutukan Allah, berbakti kepada orang tua terutama ibu yang telah mengandung dan melahirkan, beriman de­ngan memercayai keberadaan Allah dan tetap memujinya, berakhlaq yang baik terhadap sesama. Empat hal tersebut bila dirangkum menjadi 3 pilar wasiat yaitu pelajaran aqidah, syariah dan akhlaq. Wasiat Luqman bukan wasiat tanpa teladan, tetapi terlebih dahulu ada teladan dari orang tua. Teladan merupakan benang merah yang tidak boleh diputus karena tanpa meneladani wasiat tersebut menurunkan kepercayaan anak terhadap orang tua

    PENGGUNAAN JILBAB BAGI POLWAN PERSPEKTIF PEMBERITAAN HARIAN REPUBLIKA EDISI JUNI-DESEMBER 2013

    Full text link
    Fokus penelitian pada pemberitaan penggunaan jilbab bagi polisi wanita dalam Surat Kabar Harian Republika, dengan jenis berita straight news. Penelitian bertujuan untuk menge­tahui, mendeskripsikan, dan menganilisis konstruksi wacana Surat Kabar Harian Republika mengenai pem­beritaan peng­­­­gunaan jilbab bagi polisi wanita. Penelitian ini meng­guna­­kan jenis penelitian kualitatif dengan metode analisis wacana Teun A van Dijk. Teknik pengumpulan data pe­nelitian meng­gunak­an dokumentasi teks berita dalam Surat Kabar Harian Republika edisi Juni-Desember 2013. Penelitian menghasilkan simpulan mengenai konstruksi wacana dalam pemberitaan peng­gunaan jilbab polwan yaitu, pertama, Re­publika tidak se­tuju saat Kapolri belum mengizinkan penggunaan jilbab polwan, alasannya bertolak belakang dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan perintah agama untuk menutup aurat. Kedua, Republika mendukung sikap Kapolri saat memberi izin secara lisan kepada polwan untuk berjilbab dan menghendaki segera ada peraturan yang memperkuat kebijakan. Ketiga, Republika tidak setuju adanya peraturan penundaan penggunaan jilbab polwan, menganggap ganjil ke­bijakan tersebut, dan me­mandang terdapat kelompok anti­jilbab di tubuh kepolisian. Republika terlihat mengharap­kan polwan dapat bebas ber­jilbab saat bertugas tanpa perlu mengkhawatirkan adanya teguran. Hal tersebut terlihat dari pemilihan narasumber berita yang kebanyakan memiliki harap­an sama dengan Republika. Kutipan wawancara narasumber yang menginginkan polwan berjilbab diberi porsi lebih banyak dan ada yang diletakkan pada awal serta akhir berita. Penulis memberikan saran bagi wartawan untuk lebih berimbang dalam meyajikan berita, baik dari pemilihan narasumber, peletakan kutipan wawan­cara, maupun pengambilan sudut pandang, agar tidak terlihat berpihak dan menjadi berita provokasi. Penulis memberi rekomendasi kepada Polri untuk memasukkan jilbab dalam standard operating procedure seragam dinas kepolisian. Hal tersebut dimaksudkan agar polisi wanita tidak terlalu lama me­­nunggu Parlemen me­nye­tujui anggaran penyediaan jilbab, karena menutup aurat menjadi hak yang dilindungi konstitusi. Bagi DPR, seharusnya membuat kebijakan atau undang- undang yang menjamin penggunaan jilbab dan berlaku di ting­kat nasiona

    PENGARUSUTAMAAN GENDER DALAM KEBIJAKAN PERUBAHAN IKLIM DI INDONESIA

    Full text link
    Perubahan iklim menjadi persoalan serius yang dihadapi oleh masya­rakat global saat ini. Persoalan yang muncul tidak hanya menyangkut keberlanjutan lingkungan, tetapi juga sosial, seperti ketidakadilan gender. Penyebanya, karena perubahan iklim dirasakan berbeda dam­pak­nya antara laki-laki dan perempuan. Perempuan dan anak-anak adalah kelompok yang paling rentan pada saat terpapar dampak perubahan iklim. Pada saat yang sama, perempuan tidak memiliki kapasitas adaptasi yang cukup perempuan dalam meng­hadapi ben­cana iklim akibat minimnya akses, control, dan partisipasi dalam kebijakan perubahan iklim. Tulisan ini menyajikan pentingnya pengarusutamaan gender (PUG) dalam kebijakan perubahan iklim. Melalui PUG, dimaksudkan agar perempuan tidak mengalami ke­rentanan lebih akibat kebijakan perubahan iklim yang kurang res­ponsif gender. Pada saat yang sama, juga akan meningkatkan kualitas kebijakan perubahan iklim, baik di tingkat nasional maupun di tingkat lokal. Semakin tinggi level kesadaran gender yang dimiliki, maka semakin tinggi pula kualitas kebijakan perubahan iklim yang di­hasilkan

    AKIBAT HUKUM PERCERAIAN BAGI ANAK DAN ISTRI YANG DISEBABKAN OLEH KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA: Studi Kasus di Pengadilan Tinggi Agama Semarang

    Full text link
    This research is motivated by a thought that domestic violence is every act against a person, especially a woman, resulting in physical, sexual, psychological, and / or neglect of the suffering or suffering of the household. Seeing the fact, should not be much more domestic violence, but the reality of proving domestic violence is increasing. The purpose of the study: first, to know and analyze the violence in the household that the reason for the occurrence of divorce. Second, to know and analyze the authority of the Religious Courts in handling divorce cases caused by domestic violence. Thirdly, to know and analyze the legal conse­quences of the decision of the Religious Courts in divorce cases caused by domestic violence. Researchers use normative juridical approach method. The research specification used qualitative analytical descriptive research. Sources of data in this study are some judges of the Religious Courts. As the primary data are Law Number 1 Year 1974 About Marriage, KHI and interview guidelines in a structured manner. Against secondary data, the data collection method is done by library research. The results show that domestic violence is the reason for divorce. The reasons for divorce caused by cruelty or severe maltreatment have been set forth in the following provisions: a) provided for in Article 39 paragraph (2) of the explanation of Law Number 1 Year 1974 con­cerning Marriage; b) is regulated in Article 19 point (d) of Government Regulation Number 9 Year 1975 concerning the imple­mentation of Law Number 1 Year 1974 concerning Marriage; c) is regulated in Article 116 point (d) KHI (Compilation of Islamic Law). These reasons are included in the category of domestic violence. In other words, domestic violence is part of cruelty or severe abuse. The authority of the Religious Courts to handle divorce cases caused by domestic violence has been regulated in the Compilation of Islamic Law (KHI). The legal consequences of the decision of the Religious Courts in divorce cases caused by domestic violence are stipulated in Article 156 of KHI._________________________________________________________Penelitian ini didorong oleh pemikiran bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap tindakan terhadap seseorang, ter­utama wanita, yang mengakibatkan fisik, seksual, psikologis, dan/atau pengabaian penderitaan atau penderitaan rumah tangga. Melihat kenyataan, seharusnya tidak lebih banyak kekerasan dalam rumah tangga, namun kenyataan membuktikan kekerasan dalam rumah tangga semakin meningkat. Tujuan penelitian ini: pertama, untuk mengetahui dan menganalisa kekerasan di rumah tangga yang menjadi alasan terjadinya perceraian. Kedua, untuk menge­tahui dan menganalisis kewenangan Pengadilan Agama dalam menangani kasus perceraian akibat kekerasan dalam rumah tan­g­ga. Ketiga, untuk mengetahui dan menganalisa konsekuensi hukum dari keputusan Pengadilan Agama dalam kasus perceraian yang disebabkan oleh kekerasan dalam rumah tangga. Penelitian meng­gunakan metode pendekatan yuridis normatif. Spesifikasi pe­nelitian ini menggunakan penelitian deskriptif analitik kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah beberapa hakim Peng­adilan Agama. Sebagai data utama adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, KHI dan pedoman wawancara secara terstruktur. Terhadap data sekunder, metode pengumpulan data dilakukan dengan penelitian kepustakaan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kekerasan dalam rumah tangga adalah alasan perceraian. Alasan perceraian yang disebabkan oleh kekejaman atau penganiayaan berat telah diatur dalam ketentuan berikut: a) yang diatur dalam Pasal 39 ayat (2) penjelasan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan; b) diatur dalam Pasal 19 huruf (d) Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pe­laksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Per­kawin­an; c) diatur dalam Pasal 116 huruf d (d) KHI (Kompilasi Hukum Islam). Alasan ini termasuk dalam kategori kekerasan dalam rumah tangga. Dengan kata lain, kekerasan dalam rumah tangga adalah bagian dari kekejaman atau penganiayaan berat. Kewenangan Peng­adilan Agama untuk menangani kasus perceraian akibat ke­kerasan dalam rumah tangga telah diatur dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI). Konsekuensi hukum dari keputusan Pengadilan Agama dalam kasus perceraian yang disebabkan oleh kekerasan dalam rumah tangga diatur dalam Pasal 156 KHI

    MENILIK PEREMPUAN SEBAGAI SOCIAL CLIMBER DALAM PANDANGAN EKONOMI ISLAM

    Full text link
    Social climber is described as a person who is eager to gain a higher social status in his or her society. In the globalization era, many women show off their styles that are not in accordance with their belongings. Those who look glamorous do not pay attention to the Islamic economic value. Therefore how women restrict the future generations not to be excessive in appearing their performance to avoid undesirable social and psychological impacts. Principally, Islam does not justify social climber because in Islamic economics istishod is recognized as the balance between the world and the hereafter which is in line with the Islamic economic goal namely al-falah. It means a balanced luck between the world and the hereafter. But it does not mean showing off glamorous behaviour in the world as such so it causes jealousy among the surrounding environment and induces criminals to commit crime such as theft, robbery and others. Social climber is also regarded as isrof means extravagance. Islamic economics forbids people to live extra­vagant­ly and miserly regardless of its impact because Islamic economics advocate simple life._________________________________________________________Social climber digambarkan sebagai seseorang yang ingin men­dapatkan status sosial yang lebih tinggi di sekitarnya. Dalam kondisi zaman globalisasi banyak perempuan yang bergaya pamer tidak sesuai dengan kondisi materi yang dimilikinya. Mereka yang ber­penampilan glamor tidak memperhatikan nilai-nilai ekonomi Islam. Oleh karena itu bagaimana para perempuan membatasi agar generasi-generasi mendatang tidak berlebihan dalam berpenampil­an untuk menghindari dampak sosial dan psikologi yg tidak diingin­kan. Pada prinsipnya, Islam tidak membenarkan social climber karena di dalam ekonomi Islam dikenal istilah istishod yakni ke­seimbangan antara dunia dan akhirat yang sejalan dengan tujuan ekonomi Islam yang disebut al-falah. Artinya keberuntungan yang seimbang antara dunia dan akhirat, jangan hanya untung dunia yang justru pamer atau berperilaku glamor yang menyebabkan kecemburuan lingkungan sekitar dan mengundang penjahat me­laku­kan kejahatan misalnya pencurian, perampokan dan lain-lain. Social climber juga termasuk isrof yakni pemborosan. Ekonomi Islam melarang hidup boros berfoya-foya dan kikir tanpa memperhatikan dampaknya karena ekonomi Islam menganjurkan hidup sederhana

    PERANAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM DALAM MENINGKATKAN MORAL NARAPIDANA ANAK: Studi pada BAPAS Kelas I Semarang

    Full text link
    This paper describes the role of Islamic guidance and counseling to improve the morality of kid prisoners in the Probation and Parole Office (BAPAS) Class I Semarang. Initially, kid prisoners have low morals. However, having conducted Islamic guidance and counseling, the moral increased to be better. It was proven that Islamic guidance and counseling could help the kid prisoners restoring their spiritual mental and optimism in changing their behavior for the better moral quality. In addition, Islamic guidance and counseling has an important role to improve the kid prisoners’ moral in the Probation and Parole Office (BAPAS) Class I Semarang. Its activities are particular­ly focused on the consciousness reversion through the faith strength, confidence, acceptance, and patience. Furthermore, patience and gentleness of the mentors make the kid prisoners have more spirit and confidence to participate in the process of Islamic guidance and counseling activities._________________________________________________________Tulisan ini mendiskripsikan tentang peranan bimbingan dan konseling Islam dalam meningkatkan moralitas narapidana anak di BAPAS Kelas I Semarang. Pada awalnya narapidana anak memiliki moral yang ren­dah, tetapi setelah dilakukan kegiatan BKI moral menjadi me­ningkat. Bimbingan Konseling Islam membantu narapidana anak mengembali­kan mental spiritual, dan sikap optimisme dalam merubah perilaku mereka menjadi lebih baik, sehingga tercipta moral yang berkualitas. Bimbingan dan konseling Islam memiliki peran penting dalam meningkatkan moral narapidana anak di BAPAS Kelas I Semarang ter­utama merubah perilaku ke arah yang lebih baik dari sebelumnya. Kegiatan bimbingan konseling Islam lebih dikhususkan pada peng­ambilan kesadaran melalui kekuatan iman, keyakinan, penerimaan, dan kesabaran. Kesabaran dan kelembutan pembimbing menjadikan narapidana anak semakin semangat dan percaya diri dalam meng­ikuti proses bimbingan dan konseling Islam

    PENDAMPINGAN KELAS IBU HAMIL MELALUI LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM UNTUK MENGURANGI KECEMASAN PROSES PERSALINAN

    Full text link
    Physical and psychological changes cause problems for pregnant women such as: lack of confidence, dependence on partner, even worried and anxious. To reduce the anxiety, women need assistance through the process of Islamic guidance and counseling services. It is an effort to help individual overcome such deviations of religious nature as well as accept his role as khalifah that create good relationship with God, man and the universe. The lack of Islamic guidance and counseling services provided by health workers from hospital or village midwives brings the enthusiasm to get Islamic counseling especially for pregnant women, their families, integrated services post (Posyandu) cadres, and society in general to be able to overcome their problems. Method of PAR (Participatory Action Research) through awarenes actions towards their condition was used in this research. Assistance through Islamic counseling services meets the needs of pregnant women to reduce anxiety in order to maintain physiological, psychological, and spiritual health. In addition, this kind of services gives an increasing knowledge and insight cognitively, affectively, and psycho­motor for pregnant women. Internal cares both medically and through Islamic guidance and counseling services to reduce anxiety for pregnant women is done by themselves, their husband and family while external assistance can be done by the cadres of integrated services post, midwives, and community leaders. An increase and decrease in anxiety were measured by Hamilton Rating Scale for Anxiety’s theory (HRS-A) in Hawari. The result analysis showed that there were 11 clients experiencing decreased anxiety after receiving the Islamic counseling services. Before services, it was found a person suffering from slight category of anxiety, in which indicated the range of 14-20. Moreover, it was found 10 people suffering from medium category of anxiety, with total criteria of assessment from range 21-27._________________________________________________________Perubahan fisik dan psikologis menyebabkan problematika bagi ibu hamil, seperti kurang percaya diri, ketergantungan kepada pasangan, bahkan sampai merasa khawatir dan cemas Untuk mengurangi kecemasan dibutuhkan pendampingan melalui pro­ses layanan bimbingan dan konseling Islam. Minimnya layan­an bimbingan dan konseling Islam yang diberikan oleh petugas ke­sehatan dari Puskesmas atau bidan desa menyebab­kan antusias warga khususnya ibu hamil menginginkan diadakannya layanan bimbingan dan konseling Islam khususnya ibu hamil, keluarga ibu hamil, kader Posyandu, dan masyarakat pada umumnya agar mampu mengatasi masalah yang mereka alami. Metode Peng­abdian yang dilakukan berbasis PAR (Participatory Action Research) melalui penyadaran tindakan menuju perbaikan kon­disi kehidupan mereka. Pendampingan melalui layanan bim­bingan dan konseling Islam memenuhi kebutuhan ibu hamil untuk mengurangi kecemasan sehingga bisa menjaga ke­sehatan fisiologis, psikologis, dan spiritual, serta ada pe­ningkat­an pe­nge­tahuan dan wawasan dari segi kognitif, afektif, dan psiko­motorik. Pendampingan secara medis dan melalui layanan bim­bingan dan konseling Islam untuk mengurangi ke­cemasan inter­nal ibu hamil dilakukan oleh diri sendiri, suami, dan keluarga sedangkan pendampingan eksternal bisa dilakukan oleh kader Posyandu, para bidan, dan tokoh masyarakat. Pe­ningkatan dan penurunan kecemasan didiagnosa mengguna­kan alat ukur teori Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) dalam Hawari yang menghasilkan analisis bahwa terdapat 11 klien yang mendapat­kan layanan bimbingan dan konseling Islam meng­alami pe­nurunan kecemasan. Sebelum mendapatkan laya­n­an, ter­dapat 1 orang mengalami kecemasan kategori ringan dengan kriteria total penilaian dari rentang 14-20 dan kategori ke­cemasan sedang ada 10 orang dengan kriteria total penilaian dari rentang 21-27

    PENANGANAN PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN SEKSUAL DI PPT SERUNI KOTA SEMARANG

    Full text link
    Tulisan ini bertujuan: 1) Untuk men­des­krip­sikan bagaimana pe­nanganan perempuan korban kekerasan seksual di PPT Seruni Kota Semarang; 2) Untuk menganalisa bagaimana pe­nanganan perempuan korban kekerasan seksual di PPT Seruni Kota Semarang ditinjau dari perspektif bimbingan konseling Islam dengan fokus penelitian pada penanganan perempuan korban kekerasan seksual. Sumber data dalam penelitian ini adalah pengurus, konselor dan klien di PPT Seruni. Hasil penelitian menunjukkan PPT Seruni dalam menangani per­empu­an korban kekerasan seksual ber­basis gender menggunakan beberapa tahapan, meliputi; konseling, pen­­dampingan hukum, pen­dampingan medis, pendampingan psiko­logis, menyediakan rumah aman (shelter), melakukan penguatan ekonomi, dan men­sosialisasi­kan hak-hak perempuan. Kedua, pe­nanganan yang diberikan PPT Seruni relevan jika ditinjau dari fungsi Bimbingan Konseling Islam, yaitu: fungsi pre­ventif (menjaga atau mencegah timbulnya masalah diri korban, contohnya dengan meng­adakan sosialisasi dan pe­nyuluhan hukum tentang hak-hak perempuan ber­basis gender), kuratif (membantu korban dalam memecahkan masalah, contohnya melakukan konseling dan pendampingan yang diperlukan korban), presentatif (korban terjaga dari masalah, contoh­nya dengan adanya rumah aman atau shelterbagi korban), dan developmental (membantu individu memelihara dan mengembangkan situasi yang lebih baik, dengan melakukan penguatan ekonomi terhadap korban)

    BIMBINGAN KONSELING BAGI PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA DI LRC-KJHAM SEMARANG

    Full text link
    Kekerasan terhadap perempuan (istri) yang terjadi di lingkungan keluarga tidak terlepas dari adanya ketimpangan gender yang menjadi salah satu sebab terjadinya KDRT. Di Jawa Tengah, salah satu lembaga yang memiliki konsen dalam penanganan kasus KDRT adalah LRC KJHAM. Pelayanan bimbingan konseling individu dan support group bagi korban KDRT yang diberikan oleh LRC-KJHAM bersifat integral dan menimbulkan perubahan yang signifikan dari perubahan sikap dan psikologis perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga. Melalui bimbingan konseling tersebut para individu (korban) mampu menyadari bahwa dapat mengatasi masalahnya sendiri dan sadar bahwa mereka secara bersama dapat berjuang untuk mengatasi masalah yang mereka alami

    KENAKALAN REMAJA DAN KEDISIPLINAN: Perspektif Psikologi dan Islam

    Full text link
    Kedisiplinan dan kenakalan remaja itu memang ada keterkaitan yang erat. Banyak yang membuktikan hal itu melalui berbagai penelitian yang telah disebutkan dalam pembahasan di atas. Dalam hal ini, kedisiplinan itu berkorelasi terbalik dengan kenakalan remaja. Artinya, jika seorang remaja itu disiplin dan menerapkan kedisiplinan tersebut di dalam berbagai aspek kehidupannya, maka remaja tersebut akan berkurang tingkat kenakalannya yang bersifat destruktif, bahkan akan tereliminasi sama sekali. Karena itulah, faktor terpenting dalam menghentikan kenakalan remaja adalah bagaimana menerapkan kedisiplinan pada diri remaja di dalam berbagai aspek kehidupannya.

    184

    full texts

    190

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Sawwa: Jurnal Studi Gender
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇