Sawwa: Jurnal Studi Gender
Not a member yet
    190 research outputs found

    TELAAH BUKU ARGUMENTASI KESETARAAN GENDER PERSPEKTIF AL-QUR’AN KARYA NASARUDDIN UMAR

    Full text link
    Nasarudin Umar is an Indonesian Muslim scholar who has concerns on the issue of gender relations. He contributes many reflective thoughts, including the book entitled Argumentasi Kesetaraan Gender Perspektif al-Qur’an. This research is motivated by his intellectual anxiety toward Qur'anic texts that are often used as a tool of legitimacy and justification by patriarchalism. This notion has gender biased and misogynous thought in which puts women as the second actor in ritual and social contexts. On the other hand, Nasarudin assumes that gender inequality does not come from the character of religion itself but it refers to the understanding of religious thought that has been influenced by social construction. In addition, he argues that there is still ambiguity of the Qur'an inter­pretation on whether gender is a nature or a dynamic nurture (social construction). To understand the authenticity of Qur'anic perspectives, Nasarudin conducted a research on the Qur'an verses that discuss male and female relationships by applying thematic analysis (called Tafsir Maudlui) with various approaches such as semantic-linguistic, normative-theological and socio-historical. The result showed that the Qur'an does not expressly support the two gender paradigms of either nature or nurture. It only accommo­dates certain elements within the two theories that are in line with the universal principles of Islam. Generally, the Qur'an recognizes the distinction between men and women but the distinction does not benefit one party while marginalizes the other. The distinction is needed precisely to support the harmonious and balanced, safe, and peaceful life and full of virtue._________________________________________________________Nasarudin Umar adalah cendekiawan muslim Indonesia yang me­miliki concern terhadap persoalan relasi gender. Ia banyak mem­berikan kontribusi pemikiran-pemikiran reflektif, diantaranya Buku Argumentasi Kesetaraan Gender Perspektif Alqur’an. Penelitian ini dilatarbelakangi kegelisahan intelektualnya karena teks-teks al-Qur’an sering dipakai sebagai alat legitimasi dan justifikasi paham patriarkhism yang bias gender dan sarat misoginis yang menempat­kan perempuan sebagai the second dalam konteks ritual maupun sosial. Nasarudin berasumsi bahwa ketidakadilan gender bukanlah bersumber dari watak agama itu sendiri namun berasal dari pe­mahaman dan pemikiran keagamaan yang dipengaruhi oleh kon­struksi social. Menurutnya, masih terjadi ambiguitas penafsiran al-Qur’an tentang apakah gender itu bersifat nature (kodrati) ataukah bersifat nuture (konstruksi social) yang dinamis. Untuk memahami autentisitas perspektif al-Qur’an, Nasarudin melakukan penelitian terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang membahas tetang relasi laki-laki dan perempuan dengan menggunakan analisis tematik (tafsir maudhui) dengan berbagai pendekatan seperti semantic-linguistik, normatif-teologis maupun sosio historis. Hasil­nya, al-Qur’an tidak secara tegas menyatakan dukungan terhadap kedua paradigma gender baik nature maupun nurture. Al-Qur’an hanya meng­ako­modir unsur-unsur tertentu yang terdapat dalam dua teori yang sejalan dengan prinsip-prinsip universal Islam. Secara umum al-Qur’an mengakui adanya perbedaan (distinction) antara laki-laki dan perempuan tetapi perbedaan itu tidak meng­untungkan salah satu pihak dan memarjinalkan pihak yang lain. Per­­bedaan itu diperlukan justru untuk mendukung obsesi al-Qur’an tentang ke­hidup­an harmonis, seimbang, aman, tenteram serta penuh kebajikan

    ASPEK HUKUM PERLINDUNGAN PEREMPUAN DAN ANAK DALAM NIKAH SIRI

    Full text link
    Marriage that is not registered to the office of religious affairs (KUA) is considered as Siri marriage. It often occurs in the society while invites pros and cons among them.  The perpetrators usually have different motivations to commit this kind of marriage. Un­fortunately, marriage law does not set unequivocally about the legal status of Siri marriage. But it emphasizes the importance of registered marriage as a legal event. The registration of marriage has significance to the various events that are resulted from the marriage: the administration of population and the guarantee of civil rights for the concerned parties. The occurrence of Siri marriage will cause problems for the perpetrators and their families, both legal and social problems. Nevertheless there are positive and negative values in this marriage. So, the aspects of maslahat and madlarat should be considered in order to realize the legitimate purpose of marriage._________________________________________________________Perkawinan yang tidak dicatatkan di Kantor Urusan Agama (KUA) dikenal sebagai kawin siri. Perkawinan ini sering terjadi dalam masyarakat dan mengundang pro dan kontra diantara mereka. Pe­laku kawin siri mempunyai berbagai ragam motivasi yang ber­beda satu dengan lainnya. Sayangnya, hukum perkawinan tidak meng­atur secara tegas tentang status hukum kawin siri. Hukum per­kawin­an hanya menekankan arti pentingnya pencatatan per­kawinan sebagai sebuah peristiwa hukum. Pencatatan perkawinan ini mempunyai arti penting terhadap berbagai peristiwa yang di­timbulkan sebagai akibat adanya perkawinan baik administrasi kependudukan maupun jaminan hak-hak keperdataan bagi para pihak yang berkepentingan. Terjadinya kawin siri akan menimbul­kan problematika bagi para pelakunya dan keluarganya, baik pro­blematika hukum maupun problematika sosial. Meskipun demikian terdapat nilai positif dan negatif pada kawin siri tersebut. Oleh karena itu harus dipertimbangkan aspek maslahat dan madlarat agar perkawinan siri tersebut sesuai dengan tujuan di­syari’at­kan­nya perkawinan

    ANALISIS SEMIOTIKA PENDIDIKAN MORAL ANAK USIA DINI DALAM KITAB TARBIYAT AL-AULAD FI AL-ISLAM

    Full text link
    Pendidikan moral harus dilakukan sejak dini. Sehingga saat dewasa, seorang anak akan menjadi pribadi yang berakhlaqul karimah. Banyak masalah yang muncul di wilayah anak. Yaitu tidak memanfaatkan waktu senggang untuk membentuk psikis ataupun psikis, dan pe­ngaruh menonton film sadis-porno baik dilakukan secara langsung maupun tidak. Salah satu pemikir pendidikan Islam yang pernah membahas tersebut adalah Abdullah Nasih Ulwan. Ia selain membahas masalah tersebut juga membuat solusi untuk menangani bahkan mencegah. Tulisan ini menganalis kitab Tarbiyat al-Aulad fi al-Islam dalam kacamata semiotik. Adapun teori yang dipakai adalah tingkatan dua tahap; denotasi dan konotasi oleh Roland Barthes. Dua teks permasalahan yang dianalisis adalah kurangnya pemanfaatan waktu dan penanggulanganya, dan dampak negatif menonton film sadis dan porno.Hasil analisis teks kurangnya pemanfaatan waktu dan penanggulanganya dalam tingkat denotasi adalah waktu senggang anak harus dimanfaat orangtua untuk membentuk moral anak. Dalam tingat konotasi, pendidikan moral anak tidak hanya dibangun dalam ranah psikis atau jasmani. Maka dalam ranah operasionalnya yang harus dilakukan adalah melatih anak berlari-lari, melompat-lompat, menulis, dan sholat. Dimana semua aktifitas tersebut dapat me­me­ngaruhi kondisi psikis maupun jasmani anak. Selanjutnya, dalam ana­lisis teks pengaruh menonton film sadis-porno dan penanggul­angan­nya dalam tingkat denotasi adalah Ulwan hendak menegaskan bahwa pengaruh dari tontonan sangat mempengaruhi karakter dan moral anak. Pengaruh ini karena indra pengelihatan disuguhi gambar-gambar yang dapat merangsang pikiranya. Sehingga mendorong anak mencontoh apa yang ditonton oleh anak. Dalam tingkat konotasi, film yang baik akan mempengaruhi karakter penonton

    MERANGSANG PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK DENGAN PEMBELAJARAN TEMATIK TERPADU

    Full text link
    Pertumbuhan dan perkembangan memiliki pengertian yang sama yakni keduanya mengalami perubahan, tetapi secara khusus istilah per­tumbuhan berbeda dengan perkembangan. Pertumbuhan (growth) adalah perubahan-perubahan biologis, anatomis dan fisiologis manusia, sedangkan perkembangan(development)adalah perubahan-perubahan psikis dan motorik manusia. Pembelajaran tematik terpadu merupakan pembelajaran yang mengintegrasikan beberapa materi pembelajaran yang dipadukan dalam satu tema dimana tema tersebut sebagai wadah yang me­ngandung konsep sehingga pembelajaran tersebut menjadi bersifat holistik, bermakna, dan otentik. Pembelajaran tematik terpadu berfungsi untuk memberikan kemudahan bagi peserta didik dalam memahami dan mendalami konsep materi yang tergabung dalam tema serta dapat menambah semangat belajar, karena materi yang dipelajari me­rupakan materi yang nyata (kontekstual) dan ber­makna bagi anak. Pada anak usia sekolah perkembangannya berada pada tahap operasi konkret, mulai menunjukkan perilaku yang mulai memandang dunia secara objektif, reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, mulai berpikir secara operasionaluntuk mengklasifikasikan benda-benda, membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubung­­­an sebab akibat. Oleh karena itu pembelajaran yang tepat adalah dengan mengaitkan konsep materi dalam satu kesatuan yang berpusat pada tema. Kegiatan pembelajaran akan bermakna jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman, memberikan rasa aman, bersifat kontekstual, anak mengalami langsung sesuatu yang di­pelajarinya, hal ini akan diperoleh melalui pembelajaran tematik terpadu.Pembelajaran ini relevan dengan tingkat perkembangan anak sehingga dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan anak

    STRATEGI PENDIDIKAN AKHLAK PADA ANAK

    Full text link
    Moral education for children should be done as early as possible. So when they grow into adult, they have good personality. Parents especially mother has the most important role to educate their children because she is the first madrasah for her children. A child is like a clean white paper with no stain, while parents have freedom to paint any colors as they want. Good and bad morality depends on the education provided by their parents. Therefore, parents and teachers should have such methods to educate their children at home and school in order to become a shalih-shalihah children. The moral education methods include habituation, exem­plary method, advice and attention. Further­more, moral education strategy is divided into two namely direct and indirect educations. Direct education includes exemplary, suggestion, and practice. While in­direct education includes prohibition, punish­ment, reward and supervision._________________________________________________________Pendidikan akhlak pada anak-anak harus dilakukan sedini mungkin. Sehingga ketika dewasa anak tersebut mempunyai akhlak yang mulia. Orang tua terutama ibu mempunyai peran paling penting dalam mendidik anaknya, karena ia merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Seorang anak ibarat kertas putih bersih tanpa noda, sedangkan orang tua mempunyai kebebasan untuk mem­beri­kan warna apapun sesuai dengan apa yang mereka inginkan. Baik dan buruknya akhlak anak tergantung pada pendidikan yang diberi­kan oleh orang tuanya. Oleh karena itu, orang tua maupun guru yang akan mendidik anak di rumah maupun disekolahan harus mem­­­­punyai metode, agar nantiya bisa mendidik anak dengan baik dan menjadi anak yang shalih-shalihah. Metode pendidikan akhlak diantaranya adalah metode pembiasaan, metode keteladanan, metode nasihat dan metode perhatian. Kemudian untuk strategi pendidikan akhlak­nya ini dibagi menjadi dua yaitu pendidikan langsung dan pendidikan tidak langsung. Pendidikan langsung di­antaranya adalah keteladan­an, anjuran, latihan. Pendidikan tidak langsung diantara­nya adalah larangan, hukuman, hadiah dan peng­awasan

    SUNAT PADA ANAK PEREMPUAN (KHIFADZ) DAN PERLINDUNGAN ANAK PEREMPUAN DI INDONESIA: Studi Kasus di Kabupaten Demak

    Full text link
    Female circumcision is one of the continuing practices in some countries of Africa, Europe, Latin America, and Asia, including Indonesia. In Arab, tradition of female circumcision has been widely known before the Islamic period. While in Indonesia, some areas practicing female circumcision include Java, Madura, Sumatra, and Kalimantan. This research used qualitative-ethno­graphic method. Data were collected through in-depth interviews to the traditional birth attendants who performed circumcision and to the baby's parents who sent their children for circumcision. In addition, Focus Group Discussion (FGD) involving medical personnel (doctors and midwives), traditional birth attendants, the parents, community leaders, religious leaders, academics, and government, was also conducted to explore the data. Then, the obtained data were analyzed by using descriptive analytical technique. The result shows that the practice of female circumcision in Demak Regency was done in 2 ways, namely symbolically and truly. Symbolically means that the practice of female circumcision was done by not cutting a female genital part, ie clitoris, but using substitute media, namely turmeric. On the other hand, the real meaning means that female circumcision was actually done by cutting little tip of the clitoris of a daughter. The time for practicing female circumcision in Demak regency was generally coincided with Javanese traditional ceremonies for infants / young children. The purpose for the daughters was in order to become sholihah and be able to control their lusts (not become "ngintil kakung" or hypersexual). Indeed, the motivation to practice this tradition is to preserve the ancestral tradition and to implement the religious command._________________________________________________________Sunat perempuan merupakan salah satu praktik yang saat ini masih dilakukan di beberapa negara di Afrika, Eropa, Amerika Latin, dan juga di Asia, termasuk Indonesia. Pada masyarakat Arab, tradisi sunat perempuan sudah dikenal luas sebelum periode Islam. Sementara Indonesia, beberapa wilayah yang mempraktikan sunat perempuan meliputi Jawa, Madura, Sumatera, dan Kalimantan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-etnografis. Teknik pengumpulan data: Wawancara mendalam dengan dukun bayi yang melakukan sunat dan juga orang tua bayi yang mensunatkan anaknya. Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan tenaga medis (dokter dan bidan), dukun bayi yang melakukan sunat per­empuan, orang tua anak yang disunat, tokoh masyarakat, tokoh agama, akademisi, dan pemerintah.Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis Pada masyarakat di Kabupaten Demak. Praktik sunat perempuan pada Kabupaten Demak dilakukan de­ngan 2 cara, yakni secara sim­bolik dan secara sesungguhnya. Yang dimaksud secara simbolik adalah praktik sunat perempuan dilaku­kan tidak dengan memotong se­bagain anggota kelamin per­empuan, yakni klitoris, melainkan menggunakan media peng­ganti, yakni kunyit. Sedangkan yang di­maksud secara sesungguhnya ada­lah bahwa sunat perempuan benar-benar dilakukan dengan cara memotong sebagian kecil ujung klitoris anak perempuan. Waktu pelaksanaan sunat perempuan di masya­rakat Kabupaten Demak pada umumnya bersamaan dengan upacara-upacara adat Jawa untuk bayi/anak kecil. Tujuan dilakukan sunat perempuan bagi masyarakat di Kabupaten Demak adalah agar anak perempuan tersebut menjadi anak shalihah dan dapat mengendali­kan nafsu syahwatnya agar tidak “ngintil kakung” (hyperseks). Motivasi men­jalankan tradisi sunat perempuan bagi masyarakat di Kabupaten Demak menjalankan tradisi leluhur dan menjalankan perintah agama

    PENGUATAN HAK ASASI PEREMPUAN DAN KESETARAAN GENDER MELALUI DIALOG WARGA

    Full text link
    Tulisan ini menjelaskan penguatan hak asasi perempuan dan ke­setaraan gender melalui dialog warga di kelurahan Gisikdrono Kec. Semarang Barat Kota Semarang. Tulisan ini merupakan hasil program peng­abdian yang diarahkan pada munculnya kesadaran warga mengenai hak asasi perempuan dan kesetaraan gender. Hasil kegiatan pendampingan menunjukkan bahwa masih terdapat problem pe­mahaman dan kesadaran hak asasi perempuan dan kesetaraan gender di masyarakat. Ini dibuktikan dengan masih banyaknya ketidak­adilan gender berupa diskriminasi, subordinasi, beban ganda yang dibeba­n­kan kepada perempuan. Upaya yang digunakan untuk mningkatkan kapasistas kesadaran hak asasi perempuan dan kesetaraan gender melalui dialog warga. Metode pengabdian menggunakan prinsip dialog warga. Model dialog warga bertujuan untuk mengembangkan kompetensi komunitas dalam menangani isu hak asasi perempuan dan kesetaraan laki-laki dan perempuan yang mereka anggap paling penting. Salah satu pinsip dasar dialog warga selalu berbasis kepada hak asasi, kesetaraan, apresiatif, berbasis asset masyarakat, mem­berdayakan, berkelanjutan, berorientasi perubahan, mengguna­kan bahasa istilah lokal, dan bukan merupakan proyek. Peningkatan kapasitas hak asasi perempuan dan kesetaraan gender dilakukan mendasarkan pada siklus dialog warga. Hasil akhir program menunjuk­kan bahwa telah terbentuk kesadaran dan pemahaman mengenai hak asasi perempuan, dan kesetaraan gender di masyarakat.

    LAKI-LAKI SEBAGAI SEKUTU GERAKAN PEREMPUAN

    Full text link
    Paper ini mengkaji tentang laki-laki yang menjadi sekutu bagi gerakan perempuan. Melalui proses sensitisasi atau penyadaran, laki-laki se­bagai kelompok dominan dalam penindasan atas dasar jenis kelamin dapat memiliki kesadaran feminis atau menjadi bagian dari per­juangan perempuan dalam menghapus ketidakadilan berbasis gender. Namun demikian, posisi laki-laki dalam gerakan perempuan problematis karena privilese dan kekuasaan yang melekat kepada laki-laki sementara keterlibatan mereka dalam gerakan perempuan adalah untuk mendorong laki-laki berhenti menikmati privilese dan kekuasaan sendiri dan selanjutnya mendorong laki-laki untuk mau berbagi privilese dan kekuasaan dengan perempuan. Paper ini meng­upas arah gerakan laki-laki sebagai sekutu gerakan perempuan untuk memastikan bahwa gerakan laki-laki pro-feminis ini benar-benar untuk pencapaian keadilan yang hakiki yakni untuk pencapaian ke­adilan bagi laki-laki dan perempuan dan bukan untuk menciptakan dominasi baru laki-laki dalam ruang-ruang politik perempuan.

    PERSEPSI DAN MOTIVASI IBU TERHADAP PEMILIHAN PONPES SEBAGAI TEMPAT PENDIDIKAN BAGI ANAK

    Full text link
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena menarik yang terjadi di Pondok Ngruki Surakarta. Maraknya pemberitaan berbagai media massa tentang Pondok Ngruki yang dikaitkan oleh berbagai aksi teror di Indonesia dan berujung pada terbentuknya asumsi negatif publik bahwa Pondok Ngruki merupakan sarang teroris, tidak menyurutkan para orang tua untuk tetap menyekolahkan anaknya di pondok ini. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis persepsi dan motivasi para orang tua terhadap pemilihan Pondok Ngruki sebagai tempat pen­didikan anak di tengah asumsi publik tentang Pondok Ngruki dan Issu terorisme. Penelitian kuali­tatif ini menggunakan teknik analisis des­kriptif, dan teknik pemerolehan data dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil analisis menyebutkan bahwa persepsi para orang tua terhadap asumsi dan pemberitaan berbagai media umum tentang Pondok Ngruki dan Issu terorisme yang terjadi di Indonesia adalah negatif, hal itu disebabkan oleh hasil persepsional mereka yang dibentuk media berbanding terbalik dengan hasil persepsional atau penginderaan mereka secara langsung. Proses Belajar Mengajar (KBM) dan kegiatan-kegiatan di asrama berjalan normal dan wajar, sebagaimana yang terjadi di pesantren-pesantren lain. Motivasi terkuat para orang tua untuk menyekolahkan anak mereka di Pondok Ngruki adalah motivasi internal yang bersifat mental, yaitu dorongan untuk mendapatkan kebaikan dan kebenaran pada anak. Kebaikan supaya anak mereka menjadi anak salih yang mempunyai bekal ilmu agama dan umum, serta kebenaran- supaya anak mereka memahami kebenaran ajaran agama Islam dan mampu mengamalkan dalam kehidupan. Simpulan dari penelitian ini adalah bahwa persepsi para orang tua terhadap asumsi dan pemberitaan media tentang Pondok Ngruki dan Issu terorisme; negatif dan persepsi mereka tentang KBM; positif, sehingga mereka mempunyai motivasi internal yang kuat untuk menyekolahkan anak di Pondok Ngruki

    DINAMIKA PENGARUSUTAMAAN GENDER PADA PENDIDIKAN TINGGI ISLAM

    Full text link
    Gender equality has not been realized in practical terms in public life. Factors that influence it; socio-cultural, political, economic, religious, and others. State policy to overcome them on gender mainstreaming in the form of Presidential Decree 9 of 2000. Praxis has lasted 14 years, socialization and implementation is mostly done, but it needs evaluation. The reality of interesting research in higher education institutions of Islam, because the discourse and praxis which is still being debated, as well as the strategic position for the development and application of knowledge about gender relations. Interesting problem include; outlook leaders Islamic State University Walisongo on gender mainstreaming, the imple­men­tation of gender mainstreaming and its implications in the campus environment. This research is a qualitative descriptive case study with a gender perspective, which identifies the gender gap in multi aspect. The study's findings indicate that the views of leaders there Walisongo UIN integral and partially on gender main­streaming, Implementation PUG; there is a policy that opens the academic community to gain an important position in the hierarchy structure at UIN Walisongo. Research take gender issues openly and freely. Many women researchers examined a variety of themes, education and training to strengthen the capacity of women, and quantitative mapping of gender. PUG strengthen the struggle gender equality, achieving gender equality and equity at a certain level, Islamic lectures Gender Equality and the proportion of women increased structural served._________________________________________________________Keadilan gender secara praksis belum terwujud dalam kehidupan masyarakat. Faktor yang mempengaruhinya; sosial budaya, politik, ekonomi, agama, dan lain-lainnya. Kebijakan negara untuk meng­atasi­nya diantaranya tentang gender mainstreaming (peng­arusutamaan gender), berupa Inpres No.9 Tahun 2000. Praksisnya telah berlangsung 14 tahun, sosialisasi dan implementasi banyak dilakukan, tetapi perlu evaluasi. Realitas tersebut menarik pe­nelitian pada lembaga pendidikan tinggi Islam, karena wacana dan praksis yang masih menjadi perdebatan, serta posisinya strategis bagi pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan tentang  relasi berkeadilan gender. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pandangan pimpinan UIN Walisongo ada yang integral dan parsial tentang pengarusutamaan gender, Implementasi PUG; ada kebijak­an yang terbuka civitas akademika untuk meraih posisi penting dalam struktur hierarkhi di UIN Walisongo. Penelitian mengambil isu gender terbuka dan bebas. Banyak peneliti per­empuan meneliti beragam tema, pendidikan dan pelatihan penguatan kapasitas per­empuan, dan pemetaan kuantitatif tentang gender. PUG mem­perkuat perjuangaan kesetaraan dan keadilan gender, ter­capai­nya kesetaraan dan keadilan gender pada tingkatan tertentu, per­kuliahan Islam Kesetaraan Gender dan proporsi perempuan menjabat struktural meningkat

    184

    full texts

    190

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Sawwa: Jurnal Studi Gender
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇