Jurnal Mahasiswa Sosiologi
Not a member yet
    76 research outputs found

    MODAL DALAM PRAKTIK SOSIAL ARISAN SOSIALITA (Studi Fenomenologi Terhadap Dua Kelompok Arisan Sosialita di Malang dan Jakarta)

    Get PDF
    Banyaknya kelompok arisan sosialita menjadi salah satu alasan adanya penelitian ini.Tujuan dari penelitian ini adalah menjelaskan bagaimana modal yang digunakan oleh anggota kelompok arisan dalam melakukan praktik sosial mereka di arisan sosialita. Penelitian ini menggunakan teori praktik sosial dari Pierre Bourdieu dengan menggunakan teori dari Pierre Bourdieu dapat dianalisis habitus dan modal yang mereka miliki dan metode yang digunakan dalam peneltian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi serta teknik pengumpulan data melalui observasi , dokumentasi dan wawancara Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa  kelompok arisan SM dan kelompok arisan CC diketahui bahwa pada keduanya melakukan praktik sosial di arisan sesuai dengan modal yang mereka miliki serta sejarah dari habitus yang mereka bawa. Pertaruhan di dalam ranah arisan mereka wujudkan dengan pertaruhan akan modal-modal yang mereka miliki,modal ekonomi menjadi salah satu modal yang dipertaruhkan di ranah pada arisan CC di Jakarta, sedangkan di arisan SM di Malang modal simbolik dan modal budaya merupakan modal yang dipertaruhkan. Posisi mereka dalam arisan ditentukan oleh siapa yang memiliki modal terkuat dibanding dengan yang lain.   Kata Kunci    : Arisan Sosialita, Habitus, Fenomenologi, Moda

    HEGEMONI ELIT MEMBANGUN GERAKAN SOSIAL (STUDI KASUS PADA MASYARAKAT DESA SEKITAR PERTAMBANGAN GALIAN C DI DESA MANYARAN KECAMATAN BANYAKAN KABUPATEN KEDIRI)

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan kerusakan lingkungan fisik seperti polusi, sarana prasarana desa dan juga lingkungan sosial di Desa Manyaran Kecamatan Banyakan Kabupaten Kediri sebagai desa pertambangan galian C. Melihat hadirnya dampak dari aktivitas penambangan tersebut mendorong tokoh masyarakat untuk mengajak masyarakat lainnya melakukan gerakan sosial dalam menuntut, menolak dan menutup penambangan galian C. Oleh karena itu tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis inisiatif dari elit lokal dalam membangun gerakan sosial masyarakat sipil menutup tambang galian C. Penelitian ini menggunakan teori hegemoni dari Antonio Gramsci, yaitu tentang hubungan atau bentuk kekuasaan dari kelas superordinat terhadap subordinat atas nilai kehidupan seperti kultur, nilai dan norma yang pada akhirnya membentuk masyarakat sebagai kelompok terdominasi mengikuti kerangka sistem dan pemikiran dari kelas superordinat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus instrumental. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan sosial penutupan tambang berangkat dari dampak kerusakan lingkungan fisik dan sosial serta hegemoni penguasa dari PT. Kejora dan pemerintah desa terhadap masyarakat Manyaran. Hegemoni penguasa kemudian berkembang menjadi hegemoni progresif. Dalam hegemoni progresif, elit lokal sebagai pemimpin gerakan sosial melalui tiga tahapan yaitu korporat-ekonomis, penyadaran solidaritas ekonomis dan penyadaran solidaritas atas konservasi lingkungan jangka panjang. Untuk mencapai keberhasilan gerakan sosial, dalam hegemoni progresif elit lokal menerapkan beberapa strategi yaitu pertama memobilisasi sumber daya manusia (human asset) dengan melalui penguatan jaringan sosial dan komitmen warga melalui sosialisasi dalam musyawarah bersama. Sedangkan strategi memobilisasi sumber daya tangible yang meliputi fasilitas dan finansial adalah dengan mendirikan portal untuk menggalang dana dan membagi hasil retribusi portal sebagai perbaikan sarana umum seperti jalan dan jembatan, serta untuk kegiatan sosial warga Manyaran.   Kata Kunci: Tambang Galian C, Gerakan Sosial, Elit Lokal, Masyarakat Sipil, Mobilisasi Sumber Day

    Tindakan Kolektif Perlawanan Pembuat Petasan Terhadap Aturan Hukum di Kampung Petasan Kabupaten Jombang

    Get PDF
    Penelitian pada pembuat petasan ini didasari pada tindakan kolektif perlawanan mereka lakukan untuk tetap berusaha mempertahankan kegiatan tersebut.Dalam melihat kronologi kemunculan perlawanannya, ada dua poin yang terpenting yaitu pertama, akibat ingatan bersama pada masa pemerintahan Orde Baru.Pada masa pemerintahan ini, kegiatan membuat petasan sempat berhenti akibat sikap represi Negara.Kedua, adanya hubungan pola resiprositas diantara pembuat petasan dan masyarakat sekitar untuk saling membantu melakukan tindakan kolektif.                                                                                                                    Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis lebih dalam tindakan kolektif perlawanan pembuat petasan terhadap aturan hukum yang dijalankan aparat Negara.Dalam melihat kasus permasalahan ini, peneliti menggunakan telaah perspektif Scott tentang perlawanan masyarakat petani kelas bawah kepada elit petani.Analogi perlawanan inilah yang digunakan peneliti untuk menganalisis permasalahanyang terjadi lokasi penelitian.                                                     Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, banyak ditemukan kesamaan bentuk perlawanan yang diteliti Scott dengan perlawanan yang dilakukan pembuat petasan.Cara-cara seperti upaya menghalang-halangi, sabotase, pemboikotan, dan upaya menghilangkan jejak, merupakan bentuk-bentuk perlawanan tersebut.                                                                                                          Akan tetapi, meskipun perlawanan ini banyak menggunakan model Scott, tidak berarti hanya sebatas perlawanan semacam ini yang dilakukan. Mereka juga melakukan upaya kolektif perlawanan terbuka terhadap kepolisian.Sehingga berangkat dari hasil penelitian ini, peneliti juga memiliki telaah kritis tersendiri terhadap perlawanan yang dinyatakan oleh Scott bersifat statis. Kondisi ini karena masyarakat yang bersifat dinamis, tentunya juga akan melakukan perlawanan secaraterbuka kalau tidak sesuai dengan tujuan bersama

    POLA ASUH ANAK PADA KELUARGA MILITER

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan menggali alasan mengapa keluarga militer memilih pola asuh yang diterapkan dalam keluarganya. Teori yang digunakan adalah teori dari Pierre Bourdieu mengenai Habitus dan Modal serta konsep dari Elizabeth B. Hurlock mengenai jenis pola asuh. Metode yang digunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Pemilihan informan dilakukan secara Purposive Sampling, yaitu dengan informan utama dan informan tambahan. Hasilnya menunjukkan bahwa jika di dalam keluarga militer di Batalyon menerapkan pola asuh demokratis ada modifikasi dengan pola asuh otoriter, pola asuh demokratis murni dan pola asuh demokratis ada modifikasi dengan pola asuh permisif. Pola asuh yang diterapkan dipengaruhi dari habitus dan modal yang dimiliki oleh orang tua. Habitus yang dimiliki dilihat dari pengalaman individu tersebut ketika masih tinggal dengan orang tuanya. Sedangkan modal yang dimiliki ada empat yang pertama yakni modal ekonomi berupa materi, kedua yakni modal budaya berupa latar belakang pendidikan, ketiga yakni modal sosial berupa teman dalam pergaulan, keempat yakni modal simbolik berupa pangkat jabatan. Dari keempat modal itu juga mempengaruhi kesempatan sosial anak. Kata Kunci: Pola Asuh, Habitus, Modal, Kesempatan Sosia

    TINDAKAN SOSIAL ORGANISASI IKMR (IKATAN KELUARGA MINANG RIAU) DALAM PEMILUKADA PROVINSI RIAU TAHUN 2013

    Get PDF
    Peristiwa kerusakan hutan di Dusun Junggo, Kota Batu menyebabkan terjadinya banjir dan tanah longsor pada tahun 2005 sehingga menjadi perhatian umat Hindu-Dharma. Kesadaran mereka pada alam terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian pada umat Hindu-Dharma ini dilihat dari teori agama sebagai realitas sosial karya Berger. Menurutnya, agama merupakan salah satu peranan penting dalam proses pembangunan dan pemeliharaan dunia. Seperti halnya yang terjadi pada umat Hindu-Dharma dalam memelihara, dan menyelamatkan alam dirinya berpedoman pada nilai-nilai ajaran agama. Penelitian ini menyimpulkan umat Hindu-Dharma mendapatkan pengetahuan nilai-nilai ajaran agama melalui proses pembelajaran di dalam hidupnya baik dari pendidikan sekolah hingga tokoh agama. Nilai kosmologi Hindu mampu membimbing tingkah laku umat Hindu untuk melestarikan alam. Ketika bencana banjir dan tanah longsor melanda, mengajarkan mereka bahwa terjadi perubahan lingkungan fisik karena campur tangan manusia. Dengan pengalaman yang sama, umat Hindu kemudian melahirkan pula kesadaran yang sama tentang bagaimana memperlakukan alam yaitu dengan mengamalkan nilai ajaran Agama Hindu berupa kegiatan penghijauan hutan (Wana Kartika) dan menjalankan upacara keagamaan yang berhubungan dengan alam, serta menerapkan prinsip etika lingkungan dalam kehidupan yang berguna untuk menjaga dan melestarikan alam. Permasalahan yang terjadi  adalah kurang terjalinnya kerjasama umat Hindu di Dusun Junggo dengan lembaga pemerintahan yang terkait. Hal tersebut karena minimnya komunikasi antar keduanya. Jika diadakan kerja sama tiap tahunnya dalam hal pelestarian lingkungan dapat memudahkan umat Hindu dan umat lainnya untuk mengatasi kerusakan hutan dan mengantisipasi bencana yang mungkin akan terjadi. Kata Kunci : Kerusakan Hutan, Kosmologi Hindu, Pelestarian Lingkungan Alam

    DISKURSUS KAMPUNG WISATA (Studi Kasus Diskursus Pembentukan dan Pelaksanaan Program Kampung Wisata Kungkuk, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu)

    Get PDF
    Penelitian ini mengkaji tentang diskursus kampung wisata, khususnya proses awal perencanaan hingga pelaksanaan Kampung Wisata Kungkuk (KWK) di Desa Punten Kecamatan Bumiaji Kota Batu. Penelitian ini menggunakan teori Diskursus yang dikemukakan oleh Jurgen Habermas. Diskursus merupakan bentuk tindakan komunikatif-intersubjektif yang argumentatif, kritis, dan terbuka untuk mencapai sebuah konsensus dalam sebuah sistem dan lebenswelt. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus jenis perjodohan pola dan deret waktu. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, didapatkan 3 hasil penelitian, pertama, pembentukan KWK tahun 2007 tidak komunikatif kepada masyarakat Kungkuk secara utuh karena hanya melibatkan penggagas saja yaitu pihak perhotelan dan beberapa anggota masyarakat. Komunikasi di tingkat penggagas  berjalan komunikatif-diskursif  karenan ditunjang lebenswelt mereka mengenai pertanian yang tak mengetahui pariwisata sehingga mempertanyakan pembentukan KWK. Selanjutnya terjadi  permasalahan  karena lebenswelt ketua KWK adalah pembangunan itu selalu dibuktikan dengan keberadaan bukti fisik sarana prasarana, namun tertipu oleh bantuan dana parpol yang tidak terealisasi  akhirnya KWK berhenti tahun 2009-2011. Kedua, pemerintah membentuk Kelompok Sadar Wisata (POKDARWIS) tahun 2010. Pemilihan Dusun Kungkuk sebagai kampung wisata oleh Kepala Dinas Pariwisata bermakna ganda, satu sisi secara birokratis kepala dinas memiliki wewenang untuk membangun desa wisata tertentu, sisi yang lain lebenswelt beliau sebagai warga Desa Punten yang ingin memprioritaskan pembangunan wisata desanya sendiri terlebih dahulu. Ketiga, program KWK tidak melibatkan POKDARWIS, seharusnya program wisata di desa secara prosedural melalui POKDARWIS, sehingga pemerintah yang memutus tindakan komunikatif para stakeholders.     Kata Kunci: Diskursus, Tindakan Komunikatif, Kampung Wisata

    HEGEMONI PUNGUTAN PENDIDIKAN PADA WALI MURID

    Get PDF
    Penelitian ini mengkaji tentang hegemoni pungutan pendidikan di SMPN 99 Shinobi Konoha. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik  purposive, yaitu menentukan informan dengan kategori yang ditentukan oleh peneliti. Peneliti menggunakan teknik penjodohan pola, dengan membuat perbandingan proposisi alternatif  peneliti dengan bukti-bukti ilmiah maupun dari segi teoritis. Dalam kerangka teori, peneliti menggunakan teori hegemoni Antonio Gramsci sebagai alat analisis pungutan pendidikan pada wali murid di SMPN 99 Shinobi Konoha. Hegemoni menerut Gramsci ialah hubungan persetujuan dengan kepemimpinan politik dan ideologi. Hasil penelitian ini menunjukkan pentingnya peran kaum intelektual (komite sekolah) dalam keberhasilan proses hegemoni pungutan pendidikan yang dilakukan oleh kepala sekolah. Dalam proses pembuatan kebijakan pungutan pendidikan kepala sekolah menekankan, bahwa pungutan pendidikan akan digunakan untuk kebutuhan murid. Pungutan pendidikan yang dilakukan oleh kepala sekolah bukan tanpa perlawanan dari wali murid. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan aktor wali murid yang menggunakan hegemoni baru (kontra hegemoni) untuk melawan kebijakan kepala sekolah. Kontra hegemoni yang dilakukan oleh aktor wali murid yaitu merubah cara beripikir wali murid, bahwa dalam proses belajar-mengajar murid sudah ditanggung oleh negara. Sehingga tidak dibenarkan apabila wali murid membayar pungutan yang dibebankan oleh sekolah. Selanjutnya, dalam penelitian ini menemukan tingkatan hegemoni minimum, yaitu  pelaku hegemonik (kepala sekolah) bersandar pada kesatuan ideologis dengan komite sekolah.   Kata Kunci: Pungutan Pendidikan, Hegemoni, Ideologi, Kaum Intelektual, Kontra Hegemo

    MAKNA PELATIHAN BAGI ANAK JALANAN DALAM PROGRAM PELATIHAN KETERAMPILAN OTOMOTIF DI KOTA MALANG

    Get PDF
    Penelitian ini membahas mengenai makna pelatihan bagi anak jalanan dalam program pelatihan keterampilan otomotif. Tujuan dari penelitian adalah menganalisis makna pelatihan bagi anak jalanan dalam program pelatihan keterampilan otomotif. Sehingga memberikan gambaran, mengapa program pelatihan keterampilan otomotif yang sudah berjalan belum mencapai tujuan. Penelitian ini mengunakan teori yang dikemukan Peter L. Berger dan Luckman, melalui proses tiga momen dialektika, yaitu obyektivasi, internalisasi dan eksternalisasi. Untuk menggali data, peneliti melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi serta menggunakan teknik analisis data secara horisonalisasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak jalanan memiliki pemaknaan terhadap pelatihan, bahwa pelatihan merupakan kegiatan yang bermanfaat. Karena menurut kelima anak jalanan, pelatihan bisa membuat mereka terampil dalam keterampilan otomotif. Sehingga, ketika terampil dalam keterampilan otomotif, bisa dijadikan sebagai modal untuk bekerja dan akhirnya tidak membuat anak jalanan terpaksa turun ke jalanan lagi. Namun menurut pemaknaan anak jalanan terhadap pelatihan, seharusnya pelatihan harus berjalan lebih lama, harus memberikan pembelajaran otomotif yang baik, harus memberikan perlengkapan otomotif yang lengkap dan pelatihannya harus sesuai dengan umur. Karena menurut mereka, bila tidak mencangkup empat hal tersebut, pelatihan tidak akan bisa membuat mereka bisa terampil dalam keterampilan otomotif. Proses munculnya pemaknanya anak jalanan sendiri, dimulai dari proses internalisasi (proses anak jalanan mendapatkan pengetahuan terhadap pelatihan), eksternalisasi (proses anak jalanan memberikan penyikapan terhadap pengetahuan yang mereka terima) dan objektivasi (proses anak jalanan memiliki pemaknanya sendiri terhadap pelatihan). Kata Kunci : Anak jalanan, Makna, Pelatihan, Otomoti

    PRODUKSI RUANG HIDUP MASYARAKAT PESISIR DI WILAYAH LIGKAR TAMBANG (STUDI ETNOGRAFI DI DUSUN SUKOREJO, KABUPATEN MALANG)

    Get PDF
    Penelitian ini membahas mengenai kondisi masyarakat pesisir Pantai Wonogoro Dusun Sukorejo yang mengalami sebuah produksi ruang hidup dengan adanya eksploitasi pertambangan pasir besi yang dilakukan oleh Koperasi Tambang Indonesia III (KTI III) di wilayah hidup mereka. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana ruang hidup masyarakat pesisir Pantai Wonogoro diproduksi dengan adanya perubahan kewilayahanyang terjadi di Dusun Sukorejo sebagai daerah lingkar tambang Koperasi Tambang Indonesia III. Tujuan dari penelitian ini adalah memahami produksi ruang hidup masyarakat pesisir di masa lalu dan saat ini di wilayah lingkar tambang KTI III. Penelitian ini menggunakan kajian tentang produksi ruang Henri Lefebvre. Kajian Lefebvre tentang penciptaan ruang mutlak, abstrak dan diferensial digunakkan untuk mendeskripsikan kondisi masyarakat pesisir. Kajian tersebut digunakan dalam analisis produksi ruang antara representasional ruang dari pengetahuan lokal masyarakat pesisir dan representasi ruang lingkar tambang dari KTI III dengan adanya ekploitasi pertambangan pasir besi yang ada di wilayah pesisir Pantai Wonogoro. Metode Penelitian ini adalah etnografi. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, pengamatan dan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa kekuatan ekonomi yang dimiliki  KTI III mampu memberikkan representasi ruang baru di dalam ruang hidup masyarakat pesisir dengan berbagai representasi ruang. Hal ini memunculkan berbagai kesepakatan ekonomi antara masyarakat dan pihak KTI III. Namun representasi ruang baru yang dilakukan oleh KTI III dengan adanya wilayah lingkar tambang, tidak sepenuhnya dapat merubah representasional ruang yang dihasilkan dari warisan pengetahuan lokal nenek moyang masyarakat pesisir.   Kata Kunci : masyarakat pesisir, lingkar tambang, produksi ruan

    NAHDLATUL ULAMA DAN NILAI AJARAN AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH (ASWAJA) SEBAGAI PEMBENTUK PILIHAN PENDIDIKAN MASYARAKAT (Studi Fenomenologi pada Masyarakat Dusun Arjosari, Desa Andonosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan)

    Get PDF
    Masyarakat Dusun Arjosari yang mengaku menjadi pengikut Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan penganut ajaran Ahlissunnah Wal Jama’ah (Aswaja) secara turun-temurun memilih pendidikan berbasis Islam. Pendidikan berbasis Islam yang dipilih berupa lembaga pendidikan Islam Formal maupun Non-formal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan bagaimana Organisasi NU dan nilai ajaran Aswaja  dalam membentuk pilihan pendidikan masyarakat Dusun Arjosari. Menggunakan metode fenomenologi dengan pemilihan informan menggunakan purpossive sampling, peneliti menetapkan orang tua yang menyekolahkan anaknya di lembaga pendidikan Islam, pendidik dari lembaga pendidikan Islam, serta anak yang bersekolah di lembaga pendidikan Islam sebagai informan. Teori Konstruksi Sosial dari Peter L. Berger, digunakan peneliti dalam menganalisa hasil penelitian dengan hasil melalui proses Objektivasi masyarakat mengetahui nilai-nilai ajaran Aswaja yang disampaikan secara terstruktur melalui lembaga pendidikan Islam formal dan nonformal yang dimiliki oleh Organisasi NU, kegiatan keagamaan juga menjadi media dalam penyampaian nilai-nilai Aswaja. Melalui proses Internaliasi masyarakat memberikan pemaknaan yang berbedamengenai organisasi NU dan nilai-nilai Aswaja. Hasil dari proses internalisasi membuat masyarakat Dusun Arjosari melakukan tindakan eksternalisasi yang berbeda dalam memilih lembaga pendidikan. Salah satu informan memilih lembaga pendidikan Islam yang berbeda dengan organisasi NUdannilai-nilaiAswaja yang selama ini diyakini. Akan tetapi, meskipun memiliki pemaknaan dan tindakan yang berbeda, masyarakat Dusun Arjosari memiliki kesamaan di dalam tujuannya dalam melakukan tindakan memilih lembaga pendidikan Islam, yaitu agar tercapainya kehidupan dunia dan akhiratseperti yang selama ini diajarkan oleh organisasi NU dan nilai-nilai Aswaja yang mereka anut. Kata Kunci : Agama, Organisasi NU, lembagapendidikan Islam, Konstruksi Sosia

    73

    full texts

    76

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Mahasiswa Sosiologi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇