Jurnal Mahasiswa Sosiologi
Not a member yet
76 research outputs found
Sort by
STRATEGI BERTAHAN HIDUP PETANI SAAT MUSIM KEMARAU (Studi pada Petani Sayur Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu)
Penelitian ini berawal dari ketertarikan peneliti mengenai fenomena musim kemarau yang tidak sedikit membuat petani menghentikan aktifitas pertanian. Tidak terkecuali petani sayur yang ada di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Padahal, sebagian besar warga yang tinggal di Desa ini menggantungkan hidupnya di sektor pertanian. Maka dari itu, fokus dalam penelitin ini adalah ingin mengetahui bagaimana strategi yang diterapkan oleh petani sayur saat tidak ada aktifitas pertanian di musim kemarau untuk menambah pemasukan keuangan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Peneliti menggunakan teori etika subsistensi dari James Scott. Dalam teori tersebut, Scott membaginya menjadi tiga bagian, yang pertama adalah mengikat sabuk lebih kencang, alternatif subsistensi, dan pemanfaatan jaringan diluar lembaga keluarga. Menggunakan metode penelitian kualitatif, serta pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini, strategi bertahan hidup petani sayur yang tidak melakukan aktifitas pertanian di musim kemarau adalah dengan cara menerapkan strategi penghematan, dimana petani sayur biasanya setiap pagi mengkonsumsi nasi, diganti dengan jagung dan ubi. Kedua adalah dengan menerapkan srategi wirausaha dan jasa, dimana saat musim kemarau petani beralih pekerjaan menjadi pedagang bunga di sekitar jalan Desa Tulungrejo dan menjual jasa dengan cara menjadi tukang ojek. Ketiga yaitu dengan menerapkan strategi berhutang, petani memanfaatkan jaringan sosial yang mereka miliki dengan cara berhutang meminjam uang kepada teman dan tetangga di sekitar tempat tinggal mereka. Dan terakhir yaitu keempat, adalah dengan menerapkan strategi pemanfaatan lembaga Gapoktan, dimana petani yang tergabung dalam sebuah anggota kelompok tani, saling pinjam dan meminjamkan alat-alat penyedot air untuk mengairi sawah yang mereka miliki pada saat awal musim kemarau. Kata kunci : Strategi, Bertahan Hidup, Petani Sayur, Musim Kemarau
KONSTRUKSI SOSIAL PRAKTEK MENGEMIS MASYARAKAT DESA KELAMPAYAN, KABUPATEN BANJAR, KALIMANTAN SELATAN
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan mengenai kebiasaan mengemis yang ada pada masyarakat Desa Kelampayan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Mengemis pada masyarakat Desa Kelampayan sudah menjadi praktek turun-temurun dan berlangsung dari generasi ke generasi. Praktek mengemis yang sudah ada sejak lama pada akhirnya menjadi sebuah kebiasaan yang sangat sulit untuk dihilangkan. Tujuan penelitian ini adalah mencari tahu bagaimana praktek mengemis dapat terbentuk dan konstruksi sosial seperti apa yang kemudian membuat praktek mengemis dapat bertahan hingga saat ini. Penelitian ini menggunakan metode Kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Selain itu penelitian ini juga menggunakan teori Konstruksi Sosial dari Peter. L. Berger. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian mengenai Konstruksi Sosial Praktek Mengemis Masyarakat Desa Kelampayan, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan menunjukkan bahwa praktek mengemis di Desa Kelampayan terbentuk sekitar awal tahun 1900an diawali pasca dibangunnya kubah dan kompleks pemakaman untuk seorang wali kenamaan Kalimantan Selatan. Pemicu dari munculnya pengemis adalah karena tindakan dari seorang bangsawan kerajaan yang awalnya berziarah ke makam sang wali sembari membagikan uangnya kepada penduduk Desa Kelampayan, setelahnya apa yang dilakukan oleh si bangsawan kemudian diikuti pula oleh peziarah lain yang berkunjung ke makam sang wali di Desa Kelampayan. Maksud dan tujuan dari berbagi uang adalah untuk berbagi zakat dan sebagai sebuah penteladanan kepada karomah (kelebihan) sifat yang dimiliki oleh sang wali yang dimakamkan di Desa Kelampayan. Masyarakat Desa Kelampayan kemudian memanfaatkan hal ini dan memanifestasikan tindakan yang dilakukan para peziarah dengan mengemis. Dalam perkembangannya dari dulu hingga sekarang terdapat beberapa aspek yang membuat praktek mengemis dapat terus bertahan, diantaranya adalah karena adanya proses pembiasaan, legitimasi, dan proses sosialisasi pada keluarga maupun lingkungan. Kata Kunci : Mengemis, Tradisi, Habitualisasi, Legitimasi, Sosialisasi Â
Perilaku Sakral dan Profan Pada Upacara Adat Rebo Wekasan di Desa Suci Kabupaten Gresik
Penelitian ini mengkaji fenomena Rebo Wekasan di Desa Suci yang mengalami perubahan dari sakral ke profan. Pada awalnya upacara adat Rebo Kasan memiliki ritual yang sakral yaitu hadrah, Khotmil Qur’an, istighotsah, bersuci di sendang dan sholat malam. Dari tahun ke tahun Rebo Kasan semakin menonjolkan hiburannya seperti pasar Rebo Kasan, panggung hiburan dan komedi putar. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa dan mendeskripsikan perubahan dari sakral ke profan pada Rebo Kasan. Manfaat dari penelitian ini untuk memberikan kontribusi pada dunia pengetahuan khususnya sosiologi ekonomi. Teori Strukturasi oleh Anthony Giddens menjadi alat analisis untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada praktik sosial Rebo Kasan. Dilengkapi dengan konsep sakral profan dan ruang-waktu untuk melengkapi pemahaman perubahan pada Rebo Kasan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini meggunakan metode kualitatif agar dapat menggambarkan dan mendiskripsikan berbagai macam kondisi realitas sosial dalam perubahan yang terjadi pada Rebo Kasan di Desa Suci. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perubahan yang terjadi pada Rebo Kasan disebabkan adanya kepercayaan air di sendang yang dapat mengobati segala penyakit. Kepercayaan tersebut mengundang pengunjung dan pedagang datang ke Rebo Kasan. Akhirnya pemerintah Desa Suci sebagai dominasi menyadari banyak keuntungan yang didapat dari adanya Rebo Kasan. Sehingga para dominasi menambahkan acara hiburan pada satu ruang dan waktu dengan alibi melestarikan Rebo Kasan. Namun, hiburan Rebo Kasan kini justru lebih menonjol daripada ritualnya yang sakral. Kondisi tersebut memberi signifikasi pada masyarakat apabila Rebo Kasan tiba masyarakat sudah tidak ingin melaksanakan ritual namun ingin pergi bersenang-senang ke hiburan Rebo Kasan. Kata Kunci: Rebo Kasan, Perubahan Budaya, Sakral Profan
STREET ART: REPRESENTASI IDENTITAS DAN KRITIK SOSIAL (Studi Kasus pada Generasi Baru Street Art Joy O Klan Kota Malang)
Street art sering dilihat sebagai perilaku vandalisme, atau sekedar menunjukan eksistensi diri. Coretan dinding yang bersifat illegal dipandang sebagai perilaku menyimpang oleh masyarakat Kota dan bersinggungan dengan ranah kriminal. Seringkali mereka menggunakan bahasa asing berbentuk teks yang hanya diketahui maksudnya oleh kelompok yang sama, sehingga sulit untuk melacak siapa dibalik coretan tersebut. Pada tahun 2011, street art tersebar diseluruh dinding Kota Malang dan masih bernada sumbang. Coretan dinding ini menuliskan tentang nama kelompok Joy O Klan sebagai petanda generasi baru, yang sebelumnya di Kota Malang begitu sepi street art sejak tahun 2009. Perjuangan mereka dalam merepresentasikan identitas kelompok kepada masyarakat Kota Malang tercermin dari pergerakan tahun ke tahun. Hari ini, street art tampaknya sudah menyajikan karya artistik yang indah, dan sebagai alat kritik menanggapi permasalahaan perubahan sosial secara fisik pada Kota Malang. Kata kunci : Graffiti, Ruang Publik, Interaksi Visual dan Propaganda. Â
Hubungan Patron-Klien Dalam Pemberdayaan Mantan Anak Jalanan (Studi Kasus Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur Malang)
Penelitian ini membahas hubungan Patron-Klien yang terjadi di Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT). Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur merupakan sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam ruang kemiskinan dan kemanusiaan. Fokus advokasi yang dilakukan JKJT adalah membantu permasalahan yang dihadapi oleh anak jalanan dan orang terlantar lainnya di Kota Malang. Diluar itu, JKJT juga melakukan pemberdayaan terhadap anak jalanan. Dalam pemberdayaan itu, JKJT membangun hubungan sosial yang mengarah kepada hubungan Patron-Klien. Dari hubungan ini, anak jalanan yang diberdayakan tidak lagi turun ke jalanan dan menjadi mantan anak jalanan. Penelitian ini menggunakan konsep hubungan Patron-Klien dari James Scott. Konsep tersebut menjelaskan tentang hubungan Patron-Klien terjadi karena ketidakberdayaan Klien terhadap dirinya sendiri. Bahwa dalam memenuhi kebutuhuhan ekonomi, Klien selalu berada dalam batas minimal hidupnya. Kebutuhan subsistensi sebagai kebutuhan dasar Klien, disisi lain, dimiliki oleh seorang Patron. Di luar itu, Patron juga memiliki kepentingan secara ekonomi terhadap kebutuhan pribadinya. Sehingga, hubungan yang dibangun diantara keduanya adalah hubungan timbal balik (resiprositas). Jenis penelitian ini adalah penelitian Kualitatif dengan metode Studi Kasus. Proses pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik pemilihan informan menggunakan Purposive. Teknik analisis data dengan menggunakan Penjodohan Pola. Serta keabsahan data dengan menggunakan Teknik Triangulasi Sumber. Hasil penelitian ini menggambarkan hubungan Patron Klien dalam pemberdayaan terbangun atas pemberian Patron (JKJT) kepada Klien (mantan anak jalanan) dalam bentuk hubungan sosial, ekonomi, dan jaringan. Hubungan timbal balik (resiprositas) Klien kepada Patronnya ditunjukkan dalam perilaku atas nilai-nilai sosial (kedisiplinan, kemandirian, kepatuhan, dan kepedulian dengan sesama) yang ditanamkan Patron. Jika pertukaran dalam hubungan timbal balik itu tidak seimbang, maka berdampak pada pemberian kepercayaan dan kedekatan Patron kepada Klien. Selain itu ketidakseimbangan ini berdampak pada pemberian punishment atau hukuman kepada Kliennya. Hal ini disebabkan oleh tidak mampunya Klien memberikan keinginan Patron berupa perilaku yang didasari oleh nilai-nilai sosial itu tadi. Kata Kunci: Patron-Klien, Pemberdayaan, Mantan Anak Jalanan, Jaringan Kemanusiaan Jawa Timur (JKJT
KONSTRUKSI SOSIAL ATAS SIKAP DAN CARA HIDUP BERTOLERANSI ANTAR UMAT BERAGAMA (Studi Fenomenologi Tentang Konstruksi Sosial Atas Sikap Dan Cara Hidup Bertoleransi Antar Umat Beragama Pada Masyarakat Dusun Puhsarang, Desa Puhsarang, Kecamatan Semen, Kabupa
Penelitian ini membahas mengenai proses konstruksi sosial atas sikap dan cara hidup bertoleransi antar umat beragama pada masyarakat Dusun Puhsarang. Sikap dan cara hidup bertoleransi antar umat beragama ini dikonstruksi secara sosial dengan tujuan untuk menunjang kehidupan sosial mereka dan melanggengkan realitas sosial dalam bentuk kemampuan masyarakat Dusun Puhsarang untuk hidup berdampingan di Dusun Pusharang yang multiagama. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses konstruksi sosial atas sikap dan cara hidup bertoleransi antar umat beragama yang dilakukan oleh masyarakat Dusun Puhsarang tidak terlepas dari: Pertama, penanaman sisi subyektif keagamaan, penanaman paham pluralisme serta penanaman sikap dan cara hidup bertoleransi antar umat beragama. Kedua, penerapan paham pluralisme, penerapan sikap dan cara hidup bertoleransi antar umat beragama, serta pengakuan identitas keberagaman agama. Ketiga, nilai Budaya Jawa, pengalaman masa lalu atas ketegangan dan pertentangan sosial dan nilai agama yang mengajarkan toleransi. Sehingga dengan adanya proses konstruksi sosial ini, realitas sosial dalam bentuk kemampuan masyarakat Dusun Puhsarang untuk hidup berdampingan di sebuah lingkungan sosial yang multiagama masih bisa ditemukan hingga saat ini. Â Kata Kunci : Pluralisme, Toleransi, Konstruksi sosial, Realitas sosia
Upaya Keluarga BMPI (Buruh Migran Perempuan Indonesia) dalam Menjaga Integrasi Keluarga di Desa Watulimo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek
Desa Watulimo merupakan salah satu kantong BMPI di Kabupaten Trenggalek.  Secara umum keluarga BMPI berisiko mengalami perceraian. Bersamaan dengan hal itu Desa Watulimo memiliki kontrol sosial untuk menjaga integrasi keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui upaya keluarga BMPI dalam menjaga integrasi keluarga. Metode penelitian yang digunakan kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data kemudian dianalisis menggunakan voluntaristic theory of action dan teori sistem Parsons. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fungsi keluarga BMPI yang berisiko disfungsi dapat diminimalisir oleh upaya ayah. Misalnya upaya dalam menggantikan peran domestik ibu. Ketika ibu menjadi BMPI, ayah adalah bagian inti dalam keluarga. Keluarga BMPI dalam menjaga integrasi keluarga diatur seperangkat nilai dan norma, khususnya yang menyangkut keluarga dan perceraian. Hal itu merupakan manifestasi bekerjanya syarat fungsi sistem keluarga latent pattern-maintenance, kemudian mempengaruhi syarat fungsi sistem yang lain yakni: goal, integration dan adaptation. Bekerjanya syarat fungsi sistem secara interdependensi, menopang sub sistem keluarga dalam menjaga integrasi keluarga.  Kata Kunci: keluarga, sistem keluarga, risiko perceraian, integras
CARDING DAN MAHASISWA (Studi Kasus tentang Fenomena Carding di Kalangan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang)
Penelitian ini membahas tentang pola jaringan sosial mahasiswa pelaku carding di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Malang. Para carder tersebut bekerja sama dalam melakukan carding yang kemudian membentuk modal sosial diantara mereka. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui modal sosial yang ada pada para carder, serta untuk mengetahui pola jaringan sosial mahasiswa sebagai pelaku carding. Penelitian ini menggunakan teori modal sosial dari Robert D. Putnam yang terbagi menjadi 3 unsur, yaitu norma, kepercayaan dan jaringan. Teori tersebut akan menjelaskan norma, kepercayaan dan jaringan yang ada pada para carder yang kemudian membentuk sebuah pola jaringan sosial. Metode dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengambilan data dalam penelitian ini adalah dengan observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Penelitian ini mengambil empat narasumber penelitian. Kata Kunci: Mahasiswa, Carding, Pola Jaringan Sosial, FISIP U
DISKRIMINASI DAN ETIKA SUBSISTENSI ORANG DENGAN HIV/AIDS (ODHA) (Studi Fenomenologi ODHA Kelas Menengah ke Bawah di Kota Malang)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh stigma dan diskriminasi yang dilakukan oleh masyarakat terhadap ODHA. Salah satu lingkungan terjadinya stigma dan diskriminasi adalah lingkungan pekerjaan. Teori yang digunakan adalah teori habitus dari Pierre Bourdieu dan teori Etika Subsistensi dari James C. Scott. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasilnya menunjukkan bahwa stigma yang diterima oleh ODHA di lingkungan pekerjaannya adalah stigma berbahaya, lemah, dan buruk, sedangkan diskriminasi yang diterima yaitu berupa pemecatan. Setelah ODHA mendapatkan stigma dan diskriminasi tersebut, mereka melakukan improvisasi dengan mempertimbangkan modal-modal yang dimiliki (modal ekonomi, modal sosial, modal budaya, dan modal simbolik) untuk dapat mempertahankan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan cara etika subsistensi, yaitu ODHA kelas menengah ke bawah melakukan penghematan pengeluaran untuk makan dan memaksimalkan kemampuannya untuk mendapatkan penghasilan sendiri tanpa harus bergantung kepada orang lain. Selain itu, ODHA juga memaksimalkan jaringannya dengan cara meminta bantuan kepada keluarga, teman, dan juga pemerintah. Â Kata Kunci: Stigma, Diskriminasi, Habitus, Modal, Etika Subsistensi
REPRODUKSI PENGETAHUAN FOTOGRAFI DASAR PADA KOMUNITAS FOTOGRAFI “WARKOP MALANGâ€
Komunitas Fotografi WARKOP Malang memiliki kegiatan mempelajari keilmuan fotografi secara mendalam. Komunitas ini mencoba membangun konsep fotografi dasar dengan lebih memperdalam pengetahuan fotografi dasar yang sudah ada di luar komunitas. Tulisan ini menitikberatkan pada pengetahuan yang dimiliki dalam membuat sebuah karya foto. Setiap foto hasil karya seseorang, selalu ada pengalaman pengetahuan yang melatarbelakangi si pembuat foto tersebut. Fotografer yang berjejaring atau berkumpul dengan sesama penghobi foto akan dapat memperbaharui pengetahuannya tentang fotografi di mana seorang atau sekelompok fotografer mampu mengembangkan pemikiran dan pengetahuannya dalam sebuah komunitas. Proses berdarnya pengetahuan dapat dilihat dengan trialektika Berger dan Luckmann. Mulai dari realitas obyektif yakni kurikulum WARKOP sebagai acuan belajar dasar fotografi dan sebagai sebuah nilai dalam komunitas. Sebuah pengetahuan yang disebarkan kepada para anggotanya dan penerapan pengetahuan dalam diri para anggota ini masuk pada tahap internalisasi. Kemudian para anggota ini membuat sebuah karya fotografi yang beracuan pada kurikulum sebagai bentuk eksternalisasi mereka yang nantinya dijadikan bahan diskusi pada komunitas tersebut. Foto tersebut kemudian dikoreksi sebagai bahan pembelajaran. Kesepakatan-kesepakatan pengetahuan dalam diskusi tersebut merupakan bentuk dari obyektivasi. Proses reproduksi ini terjadi karena produksi pengetahuan yang telah ada belum cukup mampu memperdalam teknik fotografi. Maka dari itu penting untuk mereproduksi pengetahuan fotografi yang sudah ada sehingga fotografer layak untuk menjadi fotografer profesional yang menguasai teknik fotografi secara menyeluruh.  Kata kunci: Pengetahuan, Fotografi Dasar, Kurikulum, WARKOP Malang Â