Widya Mandala Surabaya Catholic University Repository
Not a member yet
20869 research outputs found
Sort by
Perencanaan kebutuhan bahan baku utama dan pendamping pada industri tempe kedelai dengan metode material requirement planning
Penelitian ini mengkaji penerapan perencanaan produksi pada UMKM Mantab Rasa, produsen tempe di Madiun, untuk mengatasi tantangan produksi tempe yang mudah rusak dan memerlukan waktu empat hari, dengan permintaan harian. Tujuannya adalah menerapkan perencanaan produksi yang efektif guna menyeimbangkan stok bahan baku dan permintaan produk serta memastikan kelancaran proses produksi. Metode Material Requirement Planning (MRP) digunakan untuk mengelola persediaan secara sistematis, dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan observasi, serta sumber data dari produksi dan permintaan periode April dan Mei. Hasil analisis menggunakan Exponential Smoothing menunjukkan rata-rata Planned Order Release (POR) bahan baku 170 kg per hari, plastik panjang 15.000 lembar atau 8 kg, dan plastik lain 10.000 lembar atau 10 kg, dengan biaya pemesanan Rp. 57.923.500
Pengaruh lokasi tumbuh terhadap aktivitas antioksidan dan jumlah fenol total dari ekstrak etanol daun lidah mertua (Sanseviera trifasciata)
Radikal bebas merupakan atom ataupun molekul yang elektron valensinya tidak berpasangan pada orbital terluarnya sehingga untuk mencapai kestabilan, maka radikal bebas memerlukan elektron di sekitarnya untuk bereaksi memperoleh pasangan elektron. Tanaman daun lidah mertua
sejak dulu dikenal sebagai tanaman yang berfungsi untuk menangkal radikal bebas. Pada penelitian ini menggunakan tanaman lidah mertua yang dikoleksi dari tiga daerah berbeda untuk dibandingkan jummlah total flavonoid, jumlah total fenol dan aktivitas antioksidannya. Uji total flavonoid dan fenol dilakukan dengan menggunakan metode kolorimetri dengan pereaksi Alcl3 dan Folin-ciocalteau karena senyawa fenolik dapat bereaksi dengan folin membentuk larutan berwarna yang dapat diukur serapannya. Pada pengujian fenol dan flavonoid digunakan konsentrasi 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm, 80 ppm, dan 100 ppm, dengan hasil uji flavonoid di
wilayah bogor sebesar 2,479 mgQE/g , 2,218 mgQE/g (Batu) dan 2,045 mgQE/g (Tawangmangu). Hasil penelitian menunjukan jumlah total fenol paling tinggi adalah daerah Tawangmangu 2,045 mgQE/g, kemudian hasil uji fenol yaitu kandungan fenol tertinggi terdapat di daerah Tawangmangu
yaitu 5,416 mgGAE/g, kemudian di daerah Batu yaitu 4,947 mgGAE/g dan Bogor, yaitu 4,693 mgGAE/g. dalam pengujian aktivitas antioksidan digunakan DPPH sebagai senyawa radikal bebas, dan vitamin C digunakan sebagai acuan untuk mengetahui aktivitas antioksidan ekstrak etanol daun lidah mertua yang mempunyai nilai IC50 pada ekstrak tersebut tergolong sangat lemah dan vitamin C tergolong sangat kuat
Peningkatan efisiensi produksi dengan pendekatan lean manufacturing pada PT. Sinergi Gula Nusantara, Pabrik Gula Kedawoeng
Perkembangan industri mendorong perusahaan manufaktur untuk terus meningkatkan hasil produksinya. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi efisiensi produksi suatu perusahaan, salah satunya adalah pemborosan selama proses produksi. Pabrik Gula Kedawoeng, yang merupakan bagian dari PT. Perkebunan Nusantara XI (Persero), bergerak di bidang manufaktur dengan produk utama berupa gula. Lean Manufacturing adalah pendekatan yang digunakan untuk meningkatkan efisiensi sistem dengan mengurangi pemborosan. Efektivitas dan efisiensi dalam proses bisnis perlu dilakukan untuk meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, dan meminimalkan segala bentuk pemborosan. Untuk meninjau keseluruhan proses bisnis di perusahaan, digunakan pemetaan dengan Big Picture Mapping (BPM). Pemborosan yang ditemukan diidentifikasi penyebabnya menggunakan Root Cause Analysis (RCA) dan fishbone diagram. Berdasarkan hasil pengolahan data, waktu yang diperlukan untuk memproduksi gula adalah 1.087
menit. Dengan menghilangkan penyebab pemborosan tersebut, perusahaan akan mampu memproduksi gula dengan waktu 907 menit dan menghemat waktu produksi yang cukup besar. Dengan melakukan peningkatan pengawasan terhadap
proses produksi, maka dapat meminimalkan kesalahan dalam proses produksi
Analyzing phase a’s english learning outcome in kurikulum merdeka using the revised bloom’s taxonomy
Based on the input received by the Ministry of Education and Culture, some
educators still have difficulty understanding Learning Outcome in their entirety. Therefore, analyzing Learning Outcome is an important activity in developing learning objectives. Considering these problems, this research, based on the Revised Bloom's Taxonomy, has three objectives: (1) to explore the domains of taxonomy (cognitive, affective, and psychomotor) of the learning outcomes of Phase A, (2) to explore the cognitive levels of the Learning Outcomes of Phase A (HOTS and LOTS), and (3) to explore the hierarchy of the cognitive levels in the learning outcomes of Phase A.
This study is a descriptive qualitative study based on the theory of the
Revised Bloom’s Taxonomy. The data for this study were the English Learning Outcomes of Phase A in Kurikulum Merdeka. A checklist based on the Revised Bloom’s Taxonomy was used to analyze the data. To ensure the trustworthiness of the analysis, the researcher collaborated with the researcher's advisor.
The findings of the study show that Phase A English Learning Outcomes
are in accordance with the definition of Learning Outcomes, where students are expected to achieve overall competency as a combination of knowledge, behavior and skills. These outcomes cover all cognitive levels, but do not logically place the thinking skills in the hierarchy of the Revised Bloom's Taxonomy, which runs from LOTS to HOTS
Proses pengolahan bakpia di PT. Pia Juwara Satoe, Yogyakarta
PT. Pia Juwara Satoe merupakan perusahaan pelopor produk bakpia kering di Yogyakarta. Perusahaan ini berdiri pada tahun 2018. PT. Pia Juwara Satoe terletak di Jalan Berbah-Kalasan, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dengan luas lahan sebesar 3.155 m2. Perusahaan ini memiliki produk berupa bakpia kering, bakpia basah, nastar roll, nastar jumbo, dan kue kacang. PT. Pia Juwara Satoe memiliki empat mesin pencetak bakpia berkapasitas 2500-3000 buah/hari. Proses pengolahan bakpia meliputi pencampuran bahan baku, pengulenan adonan kulit, pemipihan adonan kulit, pencetakan, pemanggangan, pendinginan, dan pengemasan. Pengemasan dilakukan dengan menggunakan kemasan berbahan laminated aluminium foil polypropylene. PT. Pia Juwara Satoe menerapkan GMP (Good Manufacturing Practices) dan melakukan pengawasan mutu mulai dari bahan baku hingga produk jadi. Limbah yang dihasilkan dari PT. Pia Juwara Satoe selama proses produksi berupa limbah cair yang diolah sesuai dengan standar pemerintah dan limbah padat yang dimanfaatkan kembali sebagai pakan ternak
Laporan praktek kerja profesi apoteker di Puskesmas Putat Jaya Jl. Kupang Gunung V Raya No.16, Surabaya 29 Januari 2024 - 23 Februari 2024
Perancangan dan realisasi mesin konveyor spray enzim dan extruder untuk menambah kapasitas produksi pakan ternak silase sorgum
Sorgum adalah tanaman yang dikategorikan sebagai tanaman tambahan dalam area yang terbatas, dan ketersediaan benih berkualitas yang baik (termasuk jenis, jumlah, harga, waktu, dan lokasi yang tepat) masih kurang memadai. Oleh karena itu, diperlukan strategi dan kebijakan yang mendorong pengembangan sorgum secara intensif dan luas. Teknologi berperan sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan manusia dan memastikan kelangsungan hidupnya. Penerapan teknologi di sektor pertanian dan peternakan memiliki keunggulan praktis, terutama dalam proses produksi pakan ternak silase, sambil mempercepat efisiensi waktu kerja. Pada proses produksi silase terdiri dari 3 proses, yaitu pemotongan batang sorgum, pemberian larutan enzim dan pengemasan. Dari ketiga proses tersebut masih ada proses yang dilakukan secara manual. Sebelum adanya mesin konveyor spray enzim dan extruder, waktu yang dibutuhkan saat produksi yaitu sekitar 400 menit untuk kapasitas 3 ton dan per kemasan seberat 30 kg, dan setelah adanya mesin konveyor spray enzim dan extruder, waktu berkurang menjadi 242 menit untuk kapasitas 3 ton. Karena waktu yang dibutuhkan saat produksi berkurang, maka kapasitas produksi ditambahkan menjadi 6 ton untuk sekali produksi. Dan total waktu yang dibutuhkan yaitu 462 menit atau sekitar 8 jam untuk sekali produksi
Hubungan kecanduan game online dengan keaktifan belajar anak usia sekolah
Kecanduan bermain game online adalah bermain game dalam suatu jaringan dengan aturan tertentu sehingga ada yang kalah ada yang menang dan dapat dimainkan di lokasi yang berbeda antar pemain. Bermain game online dalam waktu berlebihan yang bisa berdampak buruk bagi penggunanya terutama pada keaktifan belajar anak usia sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan hubungan kecanduan bermain game online dengan keaktifan belajar anak usia sekolah. Penelitian ini menggunakan desain penelitian korelasional dengan pendekatan cross sectional. Variabel independen adalah kecanduan game online dan variabel dependen adalah keaktifan belajar. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 45 responden di salah satu sekolah dasar di Surabaya dengan sampel berjumlah 35 responden anak usia 10-12 tahun. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner Game Addiction Scale dan kuesioner Keaktifan Belajar yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hasil penelitian terdapat 26 orang (74%) mengalami kecanduan game online kategori berat dan terdapat 25 orang (72%) mengalami keaktifan belajar rendah. Hasil uji rank spearman adalah p=0,02<α (α= 0,05) dan r= 0,514 yang artinya ada hubungan antara kecanduan game online dengan keaktifan belajar pada anak yang bersifat searah, dimana semakin berat kecanduan game online maka semakin rendah keaktifan belajar anak usia sekolah. Kecanduan game online dapat membuat keaktifan anak menjadi menurun hal ini dikarenakan ada beberapa faktor seperti keinginan sendiri dan penggunaan handphone
Analisis hubungan antara transfer pengetahuan, pengembangan mitra kerja, integrasi logistik dan berbagi informasi terhadap supply chain agility
Untuk meningkatkan daya saing bisnis dalam industri sepeda motor, ketangkaasan (agility) pada rantai pasokan menjadi suatu keharusan. Dalam menghadapi kondisi pasar yang tidak pasti dan terus berubah diperlukan supply chain agility, hal ini menjadi elemen krusial bagi bengkel resmi sepeda motor di Indonesia untuk bertahan dan berkembang. Dengan memiliki supply chain agility, bengkel resmi sepeda motor dapat dengan lebih mudah menyesuaikan diri dengan perubahan yang mungkin terjadi di masa depan. Dalam mendukung upaya peningkatan supply chain agility bengkel resmi sepeda motor dapat menggunaan Product Service System (PSS), sebagai konsep pengembangan bisnis menawarkan potensi besar untuk memberikan solusi bagi bengkel resmi sepeda motor dan memenuhi kebutuhan konsumen melalui produk dan pelayanan. Beberapa variabel yang dapat meningkatkan supply chain agility diantaranya yaitu, transfer pengetahuan, pengembangan mitra kerja, integrasi logistik, dan berbagi informasi. Data yang digunakan dalam penelitian sebanyak 400 responden dan disecara online, kemudian dilakukan perhitungan menggunakan amos, dianalisis dan dimodelkan dengan Structural Equation Modeling (SEM). Hasil analisis menunjukkan bahwa transfer pengetahuan, pengembangan mitra kerja, integrasi logistik, dan berbagi informasi memiliki pengaruh signifikan terhadap supply chain agility