UGM Journals, OAI Repository
Not a member yet
12430 research outputs found
Sort by
EVALUASI KUALITAS HIDUP PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 YANG DITERAPI RAWAT JALAN DENGAN ANTI DIABETIK ORAL DI RSUP Dr. SARDJITO
Type 2 Diabetes Mellitus is a chronic disease which can\u27t be healed totally. Therefore type 2 DM will affect the Health Related Quality of Life (HRQOL). The purpose of this study was to determinate the QOL of type 2 DM patients based on patient\u27s characteristics, drug groups, and therapy pattern (single versus combination therapy). This study was conducted in RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
This study is an analytical research with cross sectional design. Data collection was done by interview and review of patient\u27s medical records. Research\u27s subjects are ambulatory patient with type 2 DM who are threated with oral antidiabetic(s) and willing to fill the questionnaire. Total 227 total patients were included in this study. Quality of life was measured by Diabetes Quality of We Oinical Trial Questionnaire (DQLCfQ).
The analysis showed that gender, age, duration of DM, educational level. marital status and occupation affect the QOL. Patient taking metforrnin had 67.9 score, 67.7 for patient with acarbose therapy and patient taking sulfonylurea 67.6 score. Those differences were not signifIcant (ANOVA test,. P = 0.298). Patients taking single antidiabetic agent had 70.6, whereas those taking combination therapy had 67.6 score. Independent sample t-test showed that those score have significant difference (p = 0.002).Linear regressionanalysis with enter method showed that QOL\u27sdiffer-ence between single and combination therapy groups did affected by patient\u27s characteristics (p=0.049)
EVALUASI PENGGUNAAN TERAPI ANTIHIPERTENSI TERHADAP TEKANAN DARAH PRA- DIALISIS PADA PASIEN RAWAT JALAN DENGAN END STAGE RENAL DISEASE (ESRD) YANG MENJALANI HEMODIALISIS RUTIN DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
Hypertension and chronic kidney disease (CKD) are the two kinds of disease that are related each others. The prevalence of hypertension is estimated occur in 80% of the hemodialysis population. This research aims to determine the relationship between the compliance levels of patients in antihypertensive medication on blood pressure predialysis
This research is conducted by using a descriptive prospective observational study. Data analysis was performed to determine the profile of antihypertensive therapy use, antihypertensive medication therapy outcomes profile, and the influence of the patients compliance level in antihypertensive medication. The patient compliance level in taking antihypertensive drugs is assessed by questionnaire of Modified Morisky Scale (MMS).
Based on the research results the antihypertensive profile used was CCBs system (32,91%), loop diuretics (23,42%), AURA (15,82%), central a agonists (12,66%), ACEI (12,03 %), and (3 blockers (3,16%). Antihypertensive therapies applied single and combination therapy. The most used monotherapy is CCBs (3,70%), whereas the most used combination are combination of the class of CCBs, AURA, and loop diuretics (16.67%). The outcomes profile of antihypertensive medication therapy based on the measurement results of pre-dialysis blood pressure are target of pre-dialysis blood pressure
SELEKSI POHON UNTUK SARANG KUNTUL KERBAU (Bubulcus ibis) DI DUSUN WISATA KETINGAN KAB. SLEMAN DAERAH ISTIMEW A YOGYAKART A
Habitat selection of Bubulcus ibis in Ketingan Village, Sleman Regency, Yogyakarta was investigated to provide basic information for population management. Presence of Bubulcus ibis nest was surveyed along with identification available tree species. Tree height, canopy size and openness, and distance from human di.fturbance were also measured for each tree. The Chi Square test showed that bubulcus ibis selected several species as nest trees such as Gnetum gnemon L., Cassia siamea Lamk., Artocarpus heterophyllus Lamk.,Calophyllum inophyllum L., Melia azedarach L., Antidesma bun ius (L.) Spreng., and Dysoxylum gaudichaudianum (Juss.) Miq. Tree height, canopy height, canopy diameter and the distance from human disturbance showed a significant difference between used and non-used trees for the nest, however diameter breast high (DBH) and canopy openness of trees did not show significant differences. Habitat management of Bubulcus ibis should be improved by controlling its population that needed for the conservation of this bird species
DOES THE CURRENT REGIONAL AUTONOMY SUPPORT LEGAL PLURALISM IN INDONESIA?
This article attempts to analyse Indonesias legal system. We will discuss how the dynamics of constitutional arrangement affect regional authorities. The correlation between regional autonomy and legal pluralism, for instance the unique implementation of sharia law in Aceh province, will also be discussed.
Tulisan ini membahas sistem hukum Indonesia. Dalam tulisan ini akan dianalisis bagaimana dinamika aturan konstitusi mempengaruhi kewenangan daerah. Hubungan antara otonomi daerah dengan pluralisme sistem hukum, misalnya penerapan hukum syariah di provinsi Aceh, juga akan dibahas di sini
DIAGNOSIS CEPAT VIRUS AVIAN INFLUENZA SUBTIPE HSN1 PADA AYAM PEDAGING DENGAN METODE SINGLE STEP MULTIPLEX RT-PCR
Avian Influenza (AI) merupakan penyakit viral pada unggas yang sangat menular dan bersi(at zoonosis yang disebabkan virus influenza A yang termasuk dalam famili Orthomyxoviridac. genus b?fluenzavirus. VirusAl dapat diklasifikasikan dalam bebcrapa SUblipc berdasarkan perbedaan s!(at antigenik 2 glikoprotein pada permukaan virus yaitu glikoprolein hemagglutinin (HA) dan neuraminidase (NA). Metode untuk diagnosis cepat virus Al yang berbasis molekuler sudah banyak dikembangkan, contohnya adalah dengan metode RT-PCR. Melode ini merupakan salah satu metode amplifikasi untuk mengidenlifikasi genom virus AI. Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan mctode diagnosis. ccpat virus Al sublipe H5NI dengan metode Reverse Tran.l\u27criptase Polymerase Chain Reaclion (RT-PCR) yang berbasi.l\u27 single step multiplex. Metode diagnosis cepat ini diharapkan berguna dalam upaya pengendalian dan pengontrolan penyebaran virus Al pada peternakan ayam pedaging di Indonesia. Sebanyak 13 sampel diisolasi dari ayam pedaging yang diperoleh dari peternakan ayam pedaging di Kabupaten KaranganywJawa Tengah. Sampel diperoleh dari swab trachea dan diekstraksi untuk mendapatkan RNA virus AI. Selanjutnya RNA virus tersebul digunakan sebagai template untuk amplifikasi secm\u27a single step multiplex RT-PCR. Produk RT-PCR dielektroforesi.\u27 pada gel Agarose 1.5%, diwarnai dengan ethidium bromide dan divisua/isasikan menggunakan transi/uminator UV Hasi/ penelitianmenunjukkan bahwa dari 13 sampellapangan terdapat 8 sampel yang posit!( terin(eksi virus Al tipe A. Hasi/ amplifikasi secw\u27a single step multiplex RT-PCR pada 2 sampel posit!lmenunjukkan bahwa sampel posil!lno 3 adalah virus Al tipe A subtipc H5 namun hukan suhtipe NI, dan sampel posit!(no 5 adalah virus Al tipe A suhtipe H5 dan NJ
SINTESIS DAN UJI SITOTOKSISITAS SENYAWA HASIL REAKSI ANTARA BENZALDEHIDA DAN SIKLOHEKSANA-I,3-DlON DENGAN KATALISATOR NaOH 1,0N TERHADAP CELLLINE WIDR DANVERO
Senyawa 2-benziliden-sikloheksana-1,3-dion merupakan turunan kurkumin yang disintesis pertama kali oleh Istyastono (2006) untuk memperbaiki stabilitas kurkumin. Senyawa ini masih mengandung gugus metilen a diketon dan ikatan rangkap sehingga diharapkan masih memiliki aktivitas sebagai antikankel : Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji aktivitas anti kanker 2-benziliden-sikloheksana-1.3-dion dibandingkan dengan kurkumin. khususnya mempelajari sifat sitotoksiknya terhadap cell line WiDr dan Vero. Senyawa 2-benziliden-sikloheksana-1,3-dion disintesis menggunakan metode kondensasi Knoevenagel dengan starting material sikloheksana-1,3-dion (50 mmo1) dan benzaldehida (50 mmo1) serta NaOH 1.0 N sebagai kalalisator Uji sitotoksik dilakukan pada cell line WiDr dan vero menggunakan MTT assay. Data absorbansi yang didapat dikonversikan menjadi viabilitas sel dan dihitung nilai IC50-nya dengan taraf signifikansi 95 %. Hasil penelilian menunjukkan bahwa senyawa 2-benzilidensikloheksana-1,3-dion hasil sintesis yang digunakan saat uji sitotoksik hingga jam ke-24 setelah perlakllan, tidak menunjukkan efek sitotoksik pada kedua cell line, sedangkan kukurmin menunjukkan efek silotoksik pada cell line vera dan WiDr dengan nilai IC50 103,382 JIM dan 40,0/5 11
EKSTRAK ETANOLIK HERBA LEUNCA (Solanum nigrum L.)MENINGKATKAN EFEK SITOTOKSIK DAN INDUKSI APOPTOSIS DOXORUBICIN PADA SEL KANKER PAYUDARA T47D
Resistensi dan efek samping hingga saat ini masih menjadi masalah dalam kemoterapi pada pengobatan kanker. Leunca (S. nigrum L.) telah terbukti sitotoksik pada beberapa jenis sel kanker: Oleh karena itu, diperlukan studi lebih lanjut mengenai potensi leunca sebagai agen kokemoterapi untuk mengatasi masalah resistensi yang lazim ditemui pada kemoterapi kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas. Sitotoksik ekstrak etanolik herba leunca (EHL) tunggal maupun dalam kombinasi dengan doxorubicin serta induksi apoptosisnya pada sel kanker payudara T47D. Efek sitotoksik EHL tunggal dan dalam kombinasinya dengan doxorubicin diamati pada sel T47D selama 24jam. Viabilitas sel diukur dengan MTT assay dan dianalisis untuk memperoleh nilai IC50 sehagai parameter sitotoksitas pada perlakuan tunggal dan nilai CI (Combination Index) untuk mengevaluasi perlakuan kombinasi. Uji sitotoksitas tunggal memberikan IC50 sebesar 47ig/ml, sedangkan perlakuan kombinasi menunjukkan sinergisme EHL-doxorubicill. Deteksi apoptosis dengan double staining menggunakan akridin oranye dan etidium bromida menunjukkan bahwa EHL meningkatkan induksi apoptosis sel T47D. Hasil ini menunjukkan bahwa leunca berpotensi untuk dikembangkan sebagai agen kokemoterapi doxombicin pada terapi kanker payudara
PENGARUH DISTRAKSI MUSIK PRA SELEKSI DAN FAMILIARTERHADAP TINGKAT KECEMASAN PASIEN ANAK USIA 6-7 TAHUN DALAM PERAWATAN GIGI (Kajian Pada Pasien di RSGMP Prof Soedomo)
Kecemasan pasien anak dalam perawatan gigi dapat diatasi dengan distraksi musik sedatif, yaitu jenis musik dengan tempo 60 - 72 ketukan permenit, interval nada pendek, ritme teratur dan volume rendah sampai sedang. Terdapat dua pilihan musik sedatif, yaitu praseleksi dan familiar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh distraksi musik praseleksi dan familiar terhadap tingkat kecemasan pasien anak usia 6-7 tahun dalam perawatan gigi.
Subyek penelitian adalah 32 pasien pertama kalinya merawatkan gigi, datang bersama orang tua, memiliki skor Frankl Behavior Scale (FBS) 2-3. Subyek dibagi 3 kelompok per1akuan, diperdengarkan musik praseleksi (A), musik familiar (8) dan tanpa musik (C). Parameter psikologis kecemasan diukur 2 kali, di ruang tunggu dan setelah selesai perawatan. Parameter fisiologis kecemasan, tekanan darah, nadi dan respirasi, diukur 4 kali, di ruang tunggu, sa at pemeriksaan awal, saat profilaksis, dan selesai perawatan. Musik diperdengarkan mulai
pemeriksaan awal hingga perawatan selesai. Data dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dan uji Janjut Mann- Whitney. Parameter psikologis menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok A, 8 dan C hanya pad a
pemeriksaan akhir (
KEKUATAN GESER PELEKATAN REPARASI RESTORASI RESIN KOMPOSIT AKIBAT PERLAKUAN PERMUKAAN MENGGUNAKAN APLIKASI ADHESIF, PENGASARAN, DAN ABRASI UDARA
Penggunaan resin komposit dalam restorasi di bidang konservasi gigi sudah sangat meluas. Resin komposit mempunyai beberapa kekurangan, sehingga dalam aplikasinya sering ditemukan adanya kerusakan pada restorasi, sehingga diperlukan prosedur reparasi untuk memperbaikinya. Dalam reparasi resin komposit,
metode yang sering dipilih adalah dengan reparasi sebagian dari resin komposit. Untuk meningkatkan pelekatan antara resin komposit lama dengan resin komposit baru diperlukan suatu prosedur perlakuan permukaan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan aplikasi bahan adhesif, pengasaran permukaan dengan bur iotan, dan abrasi udara terhadap kekuatan geser pelekatan reparasi resin komposit lama dengan resin komposit baru. Metode penelitian ini menggunakan subjek penelitian 30 resin komposit yang telah disimpan dalam saliva
buatan dalam inkubator dengan suhu 37° C selama 1 minggu dilanjutkan dengan thermocycling pada suhu 5°C dan 600C. Kemudian subjek penelitian dibagi menjadi 3 kelompok secara acak. Pada kelompok pertama hanya dilakukan aplikasi etsa asam 37% dan bahan adhesif, kelompok kedua dilakukan aplikasi pengasaran permukaan dengan bur intan dilanjutkan dengan etsa asam fosfat 37% dan bahan adhesif. dan kelompok terakhir
mendapatkan perlakuan abrasi udara dilanjutkan dengan etsa asam fosfat 37% dan bahan adhesif. Kemudian pada tiap-tiap kelompok dilakukan penumpatan resin komposit dan diJanjutkan dengan pengujian Shear Bond
Strength Test. Data dianalisis dengan uji Anova satu jalur dengan tingkat kepercayaan 95%.
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan pada ketiga kelompok yang diuji (
PENGARUH TEKNIK OBTURASI SALURAN AKAR DENGAN KONDENSASI LATERAL, WARM GUTTA-PERCHA DAN CARRIER-BASED GUTTA-PERCHATERHADAP KEBOCORAN APIKAL
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik obturasi saluran akar dengan kondensasi lateral, warm gutta-percha, dan carrier-based gutta-percha terhadap kebocoran apikal. Subyek penelitian menggunakan 30 gigi premolar mandibula. Semua subyek dilakukan preparasi saluran akar dengan teknik crown down menggunakan Protaper hand use. Selanjutnya secara acak, subyek dibagi
menjadi 3 kelompok masing-masing 10 gigi. Kelompok pertama diobturasi dengan kondensasi lateral, kelompok kedua dengan warm gutta-percha (Sistem B), dan kelompok ketiga dengan carrier-based gutta-percha
(Thermafil). Semua subyek diletakkan dalam tempat yang diberi kapas basah, kemudian disimpan dalam inkubator pada suhu 37°C selama 14 hari. Pada hari ke-15 dilakukan pelapisan dengan cat kuku bening 2 lapis
dan sticky wax 1 lapis kecuali 2 mm dari foramen apikal. Subyek dimasukkan ke tabung centrifuge 12 ml yang berisi larutan biru metilen 2%, kemudian dilakukan centrifuge selama 3 menit dengan kecepatan 800 rpm. Selanjutnya subyek dipotong longitudinal. Penetrasi warna biru metilen merupakan indikator terjadinya kebocoran
apikal, diamati menggunakan mikroskop stereo dengan perbesaran 60 kali dalam satuan mikrometer (um). Penetrasi warna yang diukur ialah penetrasi terpanjang dari apeks ke korona.
Hasil penelitian menunjukkan terjadinya kebocoran apikal pada ketiga teknik obturasi saluran akar. Kelompok kondensasi lateral mempunyai rerata kebocoran apikal paling tinggi (8976 :!:550,78 um), diikuti Sistem B (6336 :!:430,07 ~m) dan Thermafil yang mempunyai rerata kebocoran apikal paling rendah (3420 :!:460,43 um). Hasil uji ANOVA satu jalur menunjukkan bahwa teknik obturasi saluran akar dengan kondensasi lateral, Sistem B dan Thermafil berpengaruh terhadap kebocoran apikal (p < 0,05). Hasil uji LSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antar seluruh kelompok perlakuan (p < 0,05).
Kesimpulan penelitian ini adalah teknik obturasi saluran akar berpengaruh terhadap kebocoran apikal. Kebocoran apikal yang paling rendah terdapat pada teknik obturasi saluran akar dengan carrier-based guttapercha (Thermafil)