UGM Journals, OAI Repository
Not a member yet
12430 research outputs found
Sort by
PENGARUH PENAMBAHAN POLYETHYLENE FIBER DAN SILANE SEBAGAI COUPLINGAGENTTERHADAP KEKUATANTRANSVERSA PADAREPARASI GIGI TIRUAN RESIN AKRILIK
Bahan yang sering digunakan pad a gigi tiruan adalah polymethyl methacrilate (resin akrilik). Bahan tersebut kurang ideal dalam memenuhi persyaratan sebuah alat secara mekanikal. Salah satu pertimbangan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan menambahkan polyethylene fiber dan silane sebagai coupling agent pada reparasi
gigi tiruan resin akrilik. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh penambahan polyethylene fiber dan silane sebagai coupling agent terhadap kekuatan transversa pada reparasi gigi tiruan resin akrilik. Subyek penelitian berupa 40 buah plat resin akrilik polimerisasi panas dengan ukuran 65x10x2,5 mm. Semua
subyek direndam dalam aquades selama 2 hari dengan suhu 3TC. Subyek kemudian direparasi dengan jarak 3 mm dan membentuk sudut 45\u27. Subyek dibagi menjadi 4 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 10 subyek. Kelompok
I tanpa perlakuan (tanpa penambahan polyethylene fiberdan silane), kelompok II dengan penambahan silane, kelompok III dengan penambahan polyethylene fiber dan kelompok IV dengan penambahan polyethylene fiber dan
silane). Pada keempat kelompok tersebut dilakukan uji kekuatan transversa. Data yang didapat dianalisis dengan analisis variansi satu jalur (ANOVA) dengan tingkat kepercayaan 95% (0=0,05). Hasil uji ANOVA menunjukkan perbedaan yang signifikan (
PERBANDINGAN KEBOCORAN APIKAL PEMAKAIAN SILER BERBAHAN DASAR KALSIUM HIDROKSIDA DAN RESIN MENGGUNAKAN ALAT PREPARASI PROTAPER MANUAL DAN ROTARI
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kebocoran apikal pada pemakaian siler berbahan dasar kalsium hidroksida dan resin menggunakan alat preparasi Protaper manual dan rotari. Penelitian ini menggunakan 16 gigi premolar satu mandibula. Gigi-gigi tersebut secara acak dibagi menjadi dua kelompok dan di preparasi menggunakan metode crown down. Kelompok pertama dilakukan preparasi saluran
akar menggunakan Protapter rotari dan kelompok kedua menggunakan Protaper manual. Kelompok I dibagi secara acak menjadi 2 kelompok yaitu IA dan IB sedangkan kelompok II juga dibagi secara acak menjadi IIA dan liB. Masing-masing kelompok terdiri dari 4 gigi, kemudian gigi-gigi tersebut diisi gutta-percha dengan teknik single cone, yang membedakan kedua kelompok tersebut adalah, kelompok IA dan IIA dilakukan pengisial) saluran akar
dengan siler berbahan dasar kalsium hidroksida Sealapex (Kerr\u27) dan kelompok IB dan liB dengan siler berbahan dasar resin TopSeal (Densply). Penetrasi bahan biru metilen 2% dilakukan dengan metode perendaman selama 48 jam. Kebocoran apikal diukur di bawah alat mikroskop stereo setelah gigi dibelah menjadi 2 bagian (mesial dan distal). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa kebocoran apikal pada pemakaian siler berbahan dasar resin dengan
menggunakan alat preparasi saluran akar Protaper rotari terlihat paling kecil. Hasil perhitungan statistik menggunakan ANOVA dua jalur yang dilanjutkan dengan uji Tukey menunjukan rerata kebocoran yang bermakna (
HUBUNGAN ANTARA KESEHATANGIGI DAN MULUT DAN UPAYAREHABILITASI PROSTODONSIA PADA LANJUT USIA
Latar belakang. Peningkatan populasi lanjut usia berdampak pada status kesehatan gigi dan mulut dan pelayanannya termasuk pelayanan rehabilitasi prostodonsia. TuJuan. Untuk mengetahui hubungan antara kesehatan gigi dan mulut dan upaya rehabilitasi prostodonsia pada lanjut usia. Metode penelltlan. Seratus duapuluh sampel lanjut usia dipilih dengan ciri: umur > 60 tahun, tahapan keluarga sejahtera II dan III, gigi kurang 20, pendidikan minimal SD atau SR, dilakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut dan diberi angket. Pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut untuk mengetahui: jumlah gigi tinggal dengan cara menghitung berdasarkan 32 - gigi missing, kebersihan mulut dengan Oral Hygiene Indek-S, kesehatan jaringan periodontal dengan indeks Russel, pemakaian gigi tiruan dan kebutuhan gigi tiruan dengan observasi. Angket merupakan skala sikap dibuat berdasakan skala Likert yang dimodifikasi untuk mengetahui tingkat upaya rehabilitasi prostodonsia pada lanjut usia. Angket berisi 5 aspek rehabilitasi yaitu aspek pengunyahan, estetis, bicara, kenyamanan, dan pelestarian jaringan. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis regresi berganda. Hasll. Terdapat hubungan positif sangat bermakna antara kesehatan gigi dan mulut dan upaya rehabilitasi prostodonsia pada lanjut usia (R=O,497,F=7,492,
PERAWATAN MALOKLUSI KLAS II DIVISI 2 MENGGUNAKAN ALAT ORTODONTIK CEKATTEKNIK BEGG
Latar belakang: MaloklusiAngle Klas IIdivisi2 sering disertai coverbitedan merupakan kasus yang sulit dirawat dan mudah relaps. Keberhasilan perawatan kasus maloklusi Angle klas II divisi 2 bergantung pada variasi yang menyertai baik pada jaringan keras atau jaringan lunak. Bila variasi ringan, keberhasilan perawatan baik, tetapi bila terdapat kelainan skeletal parah, keberhasilan perawatan akan sulit dicapai. Tujuan: Tujuan dari artikel ini adalah untuk menyajikan hasil perawatan ortodontik teknik Begg pada kasus maloklusi Angle klas II divisi 2 yang disertai coverbite.Laporan Kasus: Pasien wanita dengan usia 19 tahun mengeluhkan gigi depan atas masuk dan tidak rapi. Diagnosis: Maloklusi Angle klas lI\u27divisi 2 dengan retrognatik mandibula disertai coverbite, palatal bite, cup to cup bite dan pergeseran garis t~ngah rahang bawah. Penanganan: Pasien dirawat menggunakan alat cekat teknik Begg. Sebelum perawatan dilakukan pencabutan premolar dua kiri atas, dan molar pertama dan kedua kiri bawah yang nonvital untuk mengatasi crowding. Kesimpulan: Setelah 2 tahun perawatan, tampak sudut interinsisal berkurang, overbite berkurang, overjet bertambah, dan cup to cup bite di regio posterior terkoreksi. Maj Ked GiDesember 201118(2): 156-15
PERAWATANAMELOBLASTOMA REKUREN DENGAN METODE DREDGING
Latar belakang. Ameloblastoma dapat menyebabkan kerusakan pada tulang wajah baik pada maksila maupun mandibula. Tumor ini dapat mengalami rekurensi apabila perawatan tidak sempurna. Reseksi pad a tulang yang terkena adalah tindakan yang biasa dilakukan untuk perawatan tumor ini. Tindakan ini dapat menyebabkan gangguan maloklusi, gangguan pertumbuhan dan perkembangan gigi dan tulang rahang bila dilakukan pada anak-anak dan remaja, gangguan estetika, dan berdampak psikologis. Oleh karena itu tindakan alternatil dalam perawatan ameloblastoma adalah dengan metode dredging. Tujuan laporan kasus ini menjelaskan perawatan metode dredging pada rekuren ameloblastoma pada penderita laki-Iaki usia dua puluh tujuh tahun sehingga dapat menghilangkan dampak psikologis dari penderita. Kasus. Penderita laki-Iaki usia dua puluh tujuh tahun dengan keluhan benjolan dalam mulut, tidak terasa sakit, dan merasa bertambah besar. Terdapat asimetri wajah di sebelah kanan, tidak ada perubahan warna kulit. Penderita mengaku pernah dioperasi tujuh tahun yang lalu Pada pemeriksaan intra oral didapatkan
benjolan pada mandibula di daerah bukal dari daerah gigi 42 sampai 46. Pada palpasi terasa. ada fluktuasi, rasa sa kit ring an dan warna mukosa normal. Pada gambaran toto panoramic terlihat area radiolusen dengan batas jelas dari daerah 42 sampai 46 dengan melibatkan aspek dari gigi 42 dan 43. Dari hasil biopsi dan pemeriksaan patologi anatomi dinyatakan sebagai ameloblastoma unikistik tipe lolikuler. Penatalaksanaan. Dredging dikerjakan dengan melakukan delleksi pada lesi enukleasi dan kuretase. Pada bulan kedua perawatan tindakan tersebut diulangi dan dilakukan pemeriksaan histopatologis. Tindakan tersebut diulang
pada bulan kelima dan diulang kembali setiap tiga bulan sampai dinyatakan terbebas dari sel tumor. Kesimpulan. Telah dilakukan dredging pada penderita rekuren ameloblastoma dengan hasil cukup memuaskan dan dilakukan pengamatan yang berlanjut. Maj Ked GiDesember 201118(2): 160-16
PERAWATAN KANDIDIASIS PSEUDOMEMBRAN AKUT DAN MUKOSITIS ORAL PADAPENDERITA KANKER NASOFARING YANG MENERIMA KHEMOTERAPI DAN RADIOTERAPI
Latar belakang: Terapi radiasi merupakan metode primer perawatan pasien kanker leher dan kepala. Perubahan fungsional dan kerusakan jaringan oral menyebabkan timbulnya mukositiaoral yang diikutidengan kandidiasis oral. Tujuan: Melaporkan efek samping perawatan khemoterapi dan radioterapipada pasien kanker nasofaring yang terjadi di rongga mulut berupa kandidiasis pseudomembran akut dan mukositis oral serta penatalaksanaannya. Kasus: Seorang laki-Iaki, 69 tahun, datang ke Bagian Gigi dan Mulut RSUP Dr. Sardjito, atas rujukan dari Instalasi Penyakit Dala!Tl,RSUP Dr. Sardjito, dengan keluhan sakit untuk menelan makanan dan mulutnya banyak bercak-bercak putih. Keluhan dirasakan satu minggu setelah dilakukan kemoterapi ke-3 dan radioterapi ke-9. Pasien didiagnosis kanker nasofaring (NPC) deng-an klasifikasi T2N3Mo\u27Pemeriksaan klinik menunjukkan adanya lapisan putih pada mukosa lidah, pipi, palatum, dan mukosa bibir.Seluruh mukosa mulut berwarna merah tua dan terdapat anguler cheilitis di kedua sudut bibir. Pasien diklasifikasikan menderita mukositis oral derajat 1. Penatalaksanaan: Menghilangkan jaringan nekrotik dan debris dengan berkumur larutan perhidrol 3% dan pemberian medikasi termasuk tablet nistatin 500.000 IU, betadin kumur, dan larutan perhidrol 3% selama 1 minggu. Saat reevaluasi, pasien sudah dapat menelan dan makan yang sedikit keras tanpa ada rasa sakit lagi. Pemeriksaan klinis didapatkan bercak putih di lidah, palatum, pipi dan bibir sudah tidak ada. Warna mukosa oral telah normal, OHI dan kondisi umum baik dalam 1 minggu pasca perawatan. Kesimpulan: Perawatan kandidiasis dan mukositis oral akibat kemo-radioterapi pada pasien kanker nasofaring telah berhasil dan kondisi oral membaik. Pasien dapat mengunyah dan menelan makanan tanpa ada rasa sakit, dan hasil pengobatan yang diberikan pada pasien sesuai dengan harapan operator. Maj Ked Gt, Desember 201118(2): 182-18
TERAPI KOMBINASI ROOT DEBRIDEMENT DAN ANTIBIOTIK TERHADAP PERIODONTITIS AGRESIF
Latar Belakang. Kerusakan periodontal yang signifikan secara klinis selama dewasa tau awal masa dewasa dikenal sebagai periodontitis agresif. Perawatan standar scaling dan root planing sering kurang memuaskan hasilnya sehingga perlu mempelajari periodontits agresif secara tuntas dan terapi yang harus diberikan sehingga perawatan bisa memberikan hasil yang optimal. Tujuan. Untuk mengupas tentang periodontitis agresif agar bisa menegakkan diagnosis, serta mendapatkan hasil yang optimal dalam perawatannya. Ringkasan Pembahasan. Gigi goyah disebabkan oleh sedikit atau rapuhnya tulang alveoler pendukung gigi sehingga gigi tidak bisa menjalanKan fungsinya. Periodontitis agresif menyerang seseorang, diketahui oleh dokter gigi sering tidak dari awal, akan tetapi setelph penyakit tersebut berlanjut. Skrening melalui foto Rontgen pada penderita periodontitis usia awal dewasa berg una untuk mengetahui secara dini periodontitis agresif. Pada perawatan regeneratif dengan mengganti tulang alveoler yang hilang, terlebih dahulu menghentikan aktivitas periodontitis agresif, yaitu dengan memberikan antibiotik dikombinasi dengan root debridement baik secara bedah maupun non bedah. Kesimpulan. 1. Mengenali dan merawat periodontitis agresif secara dini dapat mencegah kerusakan jaringan periodontal yang berat. 2. Perawatan periodontitis agresif terutama mengeliminir bakteri dengan kombinasi tindakan mekanis root debridement dan pemberian antibiotik yang tepat dalam jangka waktu yang cukup secara konsisten. 3.Pemberian antibiotik sebaiknya berdasarkan tes laboratorium bakteri resisten. Maj Ked GiDesember 201018(2): 200-20
SYNTHESISOF FLAVANONE-6-CARBOXYLICACID DERIVATIVES FROMSALICYLIC ACID DERIVATIVE
Synthesis of fIavanone-6-carboxylic acid derivatives had been conducted via the route of chalcone. The synthesis was carried out from salicylic acid derivative, i.e. 4-hydroxybenzoic acid, via esterification, Fries rearrangement, Claisen-Schmidt condensation and 1,4-nucleophilic addition reactions. Structure elucidation of
products was performed using FT-IR, 1H-NMR, GC-MS and UV-Vis spectrometers. Reaction of 4-hydroxybenzoic acid with methanol catalyzed with sulfuric acid produced methyl 4-hydroxybenzoate in 87% yield. The acidcatalyzed- acetylation of the product using acetic anhydride gave methyl 4-acetoxybenzoate in 75% yield. Furthermore, solvent-free Fries rearrangement of methyl 4-acetoxybenzoate in the presence of AIC/3produced 3- acetyl-4-hydroxybenzoicacid as the acetophenonederivatives in 67%yield. Then, Claisen-Schmidtcondensation of
the acetophenone and benzaldehyde derivatives of p-anisaldehyde and veratraldehydein basic condition gave 2\u27- hydroxychalcone- 5\u27-carboxylicacid derivatives in 81 and 71 %yield, respectively. Finally, the ring closure reaction of
the chalconeyielded the co"esponding fIavanone-6-carboxylicacids in 67 and 59%yield, respectively
DISASTER AND RESILIENCE FOR THE 2007 FLOOD EVENT IN PART OF SUKOHARJO REGENCY
Community resilience has become an important factor in a disaster mitigation plan. Resilience is related to the ability to recover from a disaster and is for every person different. This research intends to assess community resilience for flood disaster. Factors for quantifying community resilience were asked to respondents by giving questionnaire and interviewing them, and FGD was also done in order to generate flood map based on the community knowledge. The FGD result shows that the flood depth in the study area varies from 0 until 300 cm, and the duration of inundation variesfrom 1-7 days. Flood also caused losses, and the distribution of the losses was Rp. 0 - 100,000,000,- although, in general, the losses was merely below Rp. 2,000,000,-. Based on the weighting result, the resilience value of the respondent is distributed from 0.113 until 0.700. The average resilience value of Laban village is 0.403, and 0.368 for Kadokan village. The resilience value was mostly influenced by human capital. In order to increase the community resilience, government has establishedflood control devices and rehabilitated the dike along the river
ENVIRONMENTAL CARRYING CAPACITY BASED ON SPATIAL PLANNING
The aims of this research were to examine environmental carrying capacity analyzed based on aspects of spatial planning and eco-region. The result showed that Kulonprogo Regency has low value of environmental carrying capacity and can only support as much as 79.81% of its total population. Analysis of variance showed significant difference of environmental carrying capacity of protected and cultivated area.
The mainfactor among 12 variables determining the degree of environmental carrying capacity is man-land ratio (contributed 39.72%). Priority should be given to 28 villages or 31.81% of the area with low environmental carrying capacity. Eco-region and spatial plan approaches in environmental management practice are also strongly recommended