UGM Journals, OAI Repository
Not a member yet
12430 research outputs found
Sort by
RELASI DAN NEGOSIASIIDEOLOGIS DALAMNAGA SASRA DAN SABUK INTEN KARYAS.H. MINTARDJA
ABSTRACT
Naga Sasra dan Sabuk Inten-the silat story-is built based on various ideological confrontations.
It is assumed that this text has a close relation with extra text situation because in outside the text.
the political and social situation was facing similar ideological confrontations. The problems are how
ideology play in the arstistic structure of the text and how are the relation and negotiation pattern of
the ideologies. An artistic space is constructed by semantic fields and a place for seedbed of various
ideologies. The dominant ideology is feodalism in a text. Negotiation an~ relation for ideology can be a
ways to grashep hegemonic ideology. The myth is the medium to relate caPitalistic ideology. In extratextual.
capitalism is hegemonic ideology. The genetics \u27of the text originates from capitalism class.
Keywords: ideology. hegemony. negosiatio
Pemberian jus belimbing Demak (Averrhoe carambola l) berpengaruh terhadap penurunan tekanan darah sistolik dan diastolik pada penderita hipertensi
ABSTRACT
Backgrounds: Hypertension is the main risk factor for cardiovascular disease that is the primer cause of death in the world. Hypertension is associated with food pattern that is high in sodium and low in potassium. Demaks starfruit is a high potassium food that has negative effect on high blood pressure.
Objective: To find out the effect of Demaks starfruit juice for decreasing of systolic and diastolic blood pressure in patient with hypertension.
Method: This study was randomized control trial (RCT) design in two groups. The first group was treated with 500 ml Demaks starfruit juice derived from 280 grams Demaks starfruit containing 425 mg of potassium, 11 mg of calcium and 2,8 mg of magnesium for 7 days and the second group was a control with starfruit essence. The subjects in this study were 34 people. The subject had systolic blood pressure 140 160 mmHg and diastolic 90 100 mmHg. Intake of sodium, potassium, calcium and magnesium during research was observed with 2 x 24 hour food recall. Statistical analysis used here was Kolmogorov-Smirnov, paired t-test, independent t-test and anakova.
Results: There was significant decreases in systolic and diastolic blood pressure of 19,71±7,39 and 14,41 ± 8,08 in treatment group with Demaks starfruit juice, and decrease of 4,41 ± 8,64 and 0,88± 6,67 in control group.
Conclusion: Demaks starfruit juice (Averrhoe carambola l) had significant effect on the decrease of systolic and diastolic blood pressure.
KEY WORDS hypertension, Demaks starfruit, pottasiu
Kebiasaan minum dan asupan cairan remaja di perkotaan
ABSTRACT
Background: Human body requires water for the active and healthy life. Water is actually a nutrient, and there is a tendency that some people neglect its important roles for health. Water requirements can vary depends on physical activity, age groups, body weight, climate, and diet (energy intake).
Objective: The study aimed to identify drinking habits and to assess water intake and its adequacy of teenagers in urban.
Method: Cross-sectional study was conducted from May to June 2009 in high school SMAN 2 Bogor. The samples were healthy student at grade X and XI. The number of sample were 83 students which calculated based on mean estimation. Food and beverages consumption was assessed with 2 x 24 hours recall during a week-day and a week-end. Meanwhile, the last week drinking habits was collected by interviewed. Statistical analysis used here was independent t-test.
Results: The average of water intake was 2582 ± 834 ml, whereas 2939 ± 922 ml for boys and 2250 ± 581 ml for girls. The total water intake was from solid foods (656 ± 265 ml) and beverages (1927 ± 704 ml). The contribution of drinking water to the total water intake was 51% for boys (1495 ml) and 58% for girls (1311 ml). The average water adequacy was 132% for boys and 111% for girls.
Conclusion: The average of water intake was considerly adequate in teenagers, however there was still 24.1% of them consumed less than 90% of water adequacy.
KEY WORDS teenagers, water intake, drinking habits, urba
ANALYZING RUNOFF DYNAMICS THROUGH PARAMETERIZING A HYDROLOGICAL MODEL IN A WATERSHED: A CASE STUDY IN UPPER SERAYU BASIN, CENTRAL JAVA PROVINCE, INDONESIA
This research constructed a hydrological model by means of available data, hydrological equations, and GIS program to fmd out the runoff dynamic on the study area. The runoff dynamic was analyzed by describing runoff on different land
cover types, figuring the correlation between hydrological component and runoff, calculating the sensitivities of the hydrological components to runoff, and identifying the response of runoff to possible land cover change. The model resulted that the highest runoff occurred on built up area and the lowest occurred on cultivation area. Infiltration was also the hydrological component that mostly influenced runoff. Replacing forest, shrub, and plantation by cultivation greatly
reduced runoff up to 49 %. Enlarging forest area increased runoff about 12 %. Based on those findings, the hydrological component having the strongest correlation with runoff gave the most influence to runoff change, and enlarging
forest area does not always decrease runoff.
Keywords: Flood, hydrological model, runoff, Serayu Hulu, Meraw
PELANGGARAN DAN PERLINDUNGAN HUKUM TENAGA KERJA PEREMPUAN DI KABUPATEN MALANG.
Jumlah TKI yang mengalami masalah secara kuantitas dan kua/itas meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah tenaga kerja yang bekerja di luar negeri. Bentuk pelanggarannya adalah kekerasan ekonomi, psikologi dan fisilc. Mayoritas
tenaga kerja perempuan yang mengalami masaldh menyelesaikannya sendiri dengan berbagai cara
PENGATURANHUKUM DAERAH KEPULAUAN
Daerah kepulauan (provinsi dan kabupaten/ kota) merupakan daerah yang karakteristiknya terdiri dari lautan yang luas dengan pulau-pulau kecil yang membentuk gugusan pulau. Daerah kepul auan menjadi faktor dominan dalam pengakuan Indonesia
sebagai negara kepulauan. Akan tetapi belum mendapat pengaturan dalam peraturan perundang-undangan nasional
SARI RIMPANG KUNYIT (Curcuma domestica)PENGGANTI FORMALIN SEBAGAI PENGAWETDAN PENGUSIR LALATPADAPRODUKSI IKAN ASIN
Banyaknya fenomena yang melaporkan adanya pencemaran formalin pada ikan laut dan hasil olahannya termasuk ikan asin menyebabkan adanya keresahan pada masyarakat.Kurkumin dan minyak atsiri yang terdapat pada sari rimpang kunyit (Curcuma domestica) menjadi solusi untuk mengganti formalin. Uji angka lempeng total (ALT) dengan metode pourplate digunakan untuk membandingkan jumlah mikroba pada ikan dengan penamhahan sari kunyit dan tanpa penambahan sari kunyit. Pada ikan dengan penambahan sari kunyit, 24 jam pertama terdapat 1,6.105 CFU/g sampel, ikan tanpa penambahan sari kunyit terdapat lebih dari 10.9 CFU/g sampel, Inkubasi dilakukan selama 1 bulan angka mikroba mencapai 31.1O.6 CFU/g sampel. Ejektifas pcngawet dari sari rimpang kunyit telah dibuktikan dengan metode pembusukan pada produk ikan asin. Pada ikan dengan penamhahan sari rimpang kunyi tterdapat 5 ekor belatung per potong ikan, Ikan tanpa penambahan sari kunyit jum/ah belatung 106 ekor per potong ikan. Uji penolak lalat memberikan hasil 55, 17% lebih efektif pada ikan asin dengan sari kunyit dibandingkan tanpa sari kunyit. Uji organoleptis dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan sari kunyit pada rasa ikan asin. Hasil uji statistik dengan metode chi kuadrat terhadap 50 responden menyatakan bahwa penamhahan sari rimpang kunyit tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap rasa ikan asin
PERBEDAAN KETAHANAN FRAKTUR ANTARA PENGGUNAANPASAK FIBER REINFORCED COMPOSITE PREFABRICATED DAN FABRICATED PADA LEBAR SALURAN PASAK YANG BERBEDA
Gigi pasca perawatan saluran akar lebih rentan mengalami fraktur. Restorasi gigi yang tepat dapat
mengurangi resiko terjadinya fraktur antara lain restorasi mahkota jaket dengan inti pasak. Lebar saluran pasak harus diperhatikan pada saat preparasi saluran pasak. Semakin lebar saluran pasak maka semakin sedikit dentin yang tersisa. Berdasarkan pembuatannya, pasak fiber reinforced composite (FRC) dibagi dua yaitu prefabricated dan fabricated. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan ketahanan fraktur gigi antara penggunaan
pasak FRC prefabricated dan fabricated pad a lebar saluran pasak yang berbeda.
Subjek penelitian ini adalah dua puluh delapan gigi premolar bawah dipotong bagian koronalnya sehingga panjang apikokoronalnya 15 mm, setelah itu dilakukan perawatan saluran akar teknik konvensional menggunakan bahan pengisi gutaperca dan siler resin. Subjek penelitian dibagi menjadi dua berdasarkan lebar
saluran pasak yaitu kelompok I (1,4 mm) dan kelompok II (2,1 mm). Masing-masing kelompok dibagi menjadi dua yaitu A. dipasang pasak FRC prefabricated, B. dipasang pasak fabricated. Dilakukan uji ketahanan fraktur menggunakan universal testing mechine. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat ketahanan fraktur pada lebar saluran pasak yang berbeda,
tidak terdapat perbedaan ketahanan fraktur antara penggunaan pasak FRC prefabricated dan fabricated, serta tidak terdapat interaksi antara jenis pasak dan lebar saluran pasak terhadap ketahanan fraktur
PENGARUH LETAK MARGIN PREPARASI DAN TEKNIK PENYINARAN TERHADAP KEBOCORAN MIKRO PADA DINDING GINGIVAL RESTORASI RESIN KOMPOSIT KAVITAS KELAS II (Eksperimental Laboratoris)
Kebocoran mikro menentukan keberhasilan restorasi secara klinis. Faktor-faktor yang mempengaruhi adalah letak margin preparasi, teknik penyinaran dan bahan restorasi itu sendiri. Tujuan untuk mengetahui pengaruh letak margin preparasi dan teknik penyinaran terhadap kebocoran mikro pada dinding gingival restorasi
resin komposit kavitas kelas II. Subjek penelitian 20 gigi premolar maksila dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing 10 gigi. Kelompok I dan II dibagi dua kelompok. masing-masing 5 gigi. Seluruh kelompok I dipreparasi margin di koronal CEJ. dan kelompok II di apikal CEJ. Kelompok IA dan IIA disinar teknik fast curing, kelompok IB dan liB dengan teknik soft start. Seluruh kavitas diaplikasikan bonding all-in-one diaktivasi sinar 10 detik. Pada dinding gingival
ditumpat dengan resin komposit fIowable dan resin komposit packable. Subjek direndam dalarT)saliva buatan pH 6,8, dalam inkubator 37°C 24 jam, thermocycling, direndam di larutan biru metilen 2% 24 jam, disentrifus 5 menit,
3000 rpm. Hasil ANAVA dua jalur perbedaan pengaruh teknik penyinaran terhadap kebocoran mikro pada dinding gingival restorasi resin komposit kavitas kelas II bermakna. Uji LSD menunjukkan perbedaan rerata antar
kelompok yang bermakna (
PENGARUH BAHANBLEACHINGIN-OFFICETERHADAP KEBOCORANMIKRO KAVITASKELASV RESTORASI RESIN KOMPOSIT DAN SEMEN IONOMER KACA MODIFIKASI RESIN (Penelitian Eksperimental Laboratoris)
Perawatan bleaching in-office menggunakan hidrogen peroksida sering dilakukan. Restorasi kavitas kelas V menggunakan resin komposit dan semen ionomer kaca modifikasi resin (SIKMR) sering ditemukan pad a pasien yang akan dilakukan bleaching. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kebocoran mikro kavitas kelas V restorasi resin komposit dan semen ionomer kaca modifikasi resin (SIKMR) pasca bleaching.
Penelitian ini menggunakan 32 gigi premolar rahang atas yang dipreparasi kelas V berbentuk bulat, diameter 5 mm dan kedalaman 2 mm, pada bagian bukal1 mm dari cementoenamel junction ke arah koronal. Subjek penelitian dibagi secara random menjadi 4 kelompok. Kelompok I resin komposit tanpa perlakuan bleaching, kelompok II semen ion orner kaca modifikasi resin (SIKMR) tanpa perlakuan bleaching, kelompok III resin komposit dengan perlakuan bleaching dan kelompok IV semen ionomer kaca modifikasi resin (SIKMR) dengan perlakuan
bleaching. Subjek penelitian direndam dalam saliva buatan selama 24 jam dalam inkubator 37°C. Selanjutnya dilakukan thennocycling sebanyak 500 kali pada semua subjek penelitian kemudian direndam dalam larutan biru
metilen 2% selama 24 jam. Subjek penelitian dipotong longitudinal pada pertengahan restorasi secara longitudinal bukopalatal dari koronal ke apikal. Kebocoran mikro diamati dengan melihat panjang penetrasi biru metilen 2% menggunakan stereomicroscope perbesaran 30 kali. Data panjang kebocoran mikro menggunakan scoring
system, skor 0: tidak ada kebocoran, skor 1: kebocoran sampai Y3kedalaman kavitas, skor 2: kebocoran sampai % kedalaman kavitas dan skor 3: kebocoran lebih dari % kedalaman kavitas. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Kruskal-Wallis dengan taraf signifikansi 95% (0 = 5%). Hasil uji statistik dengan Kruskal-Wallis menunjukan bahwa tidak ada pengaruh bahan bleaching terhadap kebocoran mikro kavitas kelas V restorasi resin komposit maupun semen ionomer kaca modifikasi resin (SIKMR)