UGM Journals, OAI Repository
Not a member yet
12430 research outputs found
Sort by
PERAWATANORTODONTIK KANINUS KIRI MAKSILA IMPAKSI DI DAERAH PALATALDENGAN ALAT CEKATTEKNIK BEGG
Latar Belakang: Ketidakharmonisanukuran rahang dengan gigi merupakan salah satu bentuk etiologi maloklusi yang diturunkan dan akan mempengaruhi susunan dan posisi gigi di dalam rahang. Impaksi gigi seperti molar ketiga atau gigi kaninus sering kita temui akibat tidak adanya ruang untuk gigi tersebut erupsi dan menyusun diri di dalam lengkung yang baik. Gigi
kaninus memiliki peran penting di dalam mulut, selain untuk mastikasi, gigi ini juga memiliki peran menentukan dalam estetika susunan gigi. Senyum yang menarik tidak akan didapatkan tanpa adanya gigi kaninus di dalam lengkung. Kasus impaksi kaninus dapat dirawat menggunakan teknik Begg dengan proses windowing yang dilakukan oleh ahli bedah mulut. Tujuan: membantu erupsi gigi kaninus dengan bantuan alat orto cekat teknik Begg. Kasus: laki laki 19 th mengeluhkan gigi depan rahang atas
protrusif langit langit tergigit oleh gigi depan rahang bawah. Diagnosis: Maloklusi Angle kelas II dengan hubungan skeletal kelas I disertai kondisi berjejal di daerah anterior dan gigitan dalam. Perawatan: menggunakan alat cekat teknik Begg dan windowing dengan pencabutan dua premolar pertama rahang atas serta prosedur windo. Kesimpulan: Hasil menunjukkangigi kaninus kiri rahang atas dapat erupsi dengan baik dan bisa diposisikan ke dalam lengkung dalam 5 bulan. Maj Ked Gt,Desember 201118(2): 149-15
Model Tata Letak Fasilitas Multi-Floor pada Industri Jasa
Facility layout is one of the factors that affect the efficiency of production activities. It can
be defined as the grouping of equipments and operations in afactory for the greatest degree of
efficiency. Difference functions of each department of a company will provide a number of
possible locations or place positions. Each department has a wide requirement of process
activities and relationship with other departments. The problem is how to determine the
composition of inter-departmental decent considering the cost, flow, and distance. Researchers
have developed models on multi-floor facility. However, the models have been focused on
manufacturing industry and less appropriate to be applied in the service industry. This is
because the model does not consider aspects that are commonly encountered in service
industries such as the number of employees in a department that implies to the minimum space
requirement. Given the limitations of the previous models, this study aims to develop a model of
multi-floor facility in the service industry. The optimality of the layout is based on the costs
incurred in the flow of movement among departments with respect to the activity flow and
distance among departments. To examine the model a numerical example is presented. In
addition, a sensitivity analysis was done to test the robustness of the model. The result showed
that the model developed in this study is robust and feasible to solve problem of multi-floor
facility in the service industry
IMMOBiliZATION OF HUMICACID ONTO CHITOSAN USINGTOSYlATION METHOD WITH 1,4-BUTANEDIOl AS A SPACER ARM
Immobilization of humic acid (HA) onto chitosan using tosylation method with 1,4-butanediolas a spacer arm has been evaluated. Chitosan was phthaloylated selectively using phthalic anhydride in dimethylformamide as solvent with addition of 5% water (v/v) as cosolvent prior to be tosylated. N-phthaloyl-chitosan and HA were tosylated using tosyl chloride in excess and triethylamineas catalyst at temperature< 10 °C for 12h. The 6-0-tosyl- N-phthaloyl-chitosan was reacted with 1,4-butanediolin order to obtain a spacer arm attached chitosan. The 6-0- butanol-N-phthaloyl-chitosanwas activatedby reacting with tosyl chloride. For evaluation on immobilizationof HA on
chitosan with and without spacer arm, 6-0-tosylbutane-N-phthaloyl-chitosanwas reacted with HA and the 6-0-tosyl-
N-phthaloyl-chitosanwas reacted with HA. The HA immobilized onto chitosan was characterizedby XRD and FTIR spectrophotometricmethod. The result showed that HA can be immobilized covalently onto chitosan after attaching 1,4-butanediolas spacer arm onto 6-0-tosyl-N-phthaloyl-chitosanand activating the product with tosyl chloride, but HA cannot be reacted directly onto 6-0-tosyl-N-phthaloyl-chitosan
EFEK PENGUNYAHANPERMEN KARET GULA DAN XYLITOLTERHADAP PERTUMBUHAN BAKTERI STREPTOCOCCUSMUTANSPADAPLAK GIGI
Latar Belakang. Manusia memiliki flora normal yang hidup di dalam tubuhnya. Salah satu flora normal di rongga mulut
adalah bakteri Streptococcus mutans yang memiliki kaitan erat dengan insidensi karies. Sekarang banyak beredar produk permen karet di masyarakat yang mengandung gula dan xylitol.
Tujuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek mengunyah permen karet gula dan xylitol terhadap pertumbuhan
bakteri S. mutans pada plak gigi.
Metode penelitian. Subjek penelitian berjumlah 15 orang dibagi menjadi 3 kelompok masing-masing 5 orang, yaitu mengunyah
permen karet gula, xylitol dan buah ape I sebagai kontrol. Pengambilan plak dilakukan pads. hari pertama sebelum diberi
perlakuan (pre-tesQ dan hari keempat setelah diberi perlakuan (post-tesQ. Subjek diminta untuk melakukan scalling sebelum
pengambilan data pre-test agar skor plak awal semua subjek nol. Subjek mengunyah 1 butir permen karet setelah makan atau 3 kali sehari selama 10 menit. Subjek tidak diperbolehkan makan dan minum selama 1 jam sebelum pengambilan data post-test. Plak ditanam dalam media agar TYCSB (tryptone-yeast-cysteine-sucrose-bacitracin) lalu diinkubasi selama 72 jam pada kondisi anaerob dengan suhu 37°C. Penghitungan jumlah bakteri S. mutans dilakukan secara manual menggunakan counter. Analisis data dengan uji statistik Mann-Whitney.
Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan jumlah bakteri S. mutans pada plak gigi pada pengunyahan permen
karet kandungan gula, sedangkan pengunyahan permen karet kandungan xylitol dapat menurunkan bermakna jumlah bakteri S. mutans.
Kesimpulan. Pengunyahan perm en karet xylitol dapat menurunkan jumlah S. mutans pada plak gigi tetapi permen karet
gula meningkatkan jumlah S. mutans. Maj Ked GiJuni 201118(1): 30-34
Kata kunci: Permen karet gula, xylitol, plak gigi, Streptococcus mutans
GIGITIRUAN CEKAT DENGAN FIBER-REINFORCED COMPOSITES PADA KEHILANGAN GIGI ANTERIOR DENGAN SPACEMENYEMPIT
Latar belakang. Pada kasus kehilangan gigi-gigianterior tanpa penggantian secepatnya akan menyebabkan rasa malu, tidak percaya diri,gangguan berbicara dan bersuara, pergeseran gigi-gigitetangganya, tilting,hilangnyakontakantar gigi,elongasi gigi antagonisnya, traumatik oklusi, ginggival pocket serta karies pada gigi sebelahnya.
Tujuan. Penulisan laporan ini untuk memberi informasi bahwa pada kasus kehilangan gigi anterior dengan space yang telah menyempit dapat dibuatkan protesa berupa gigi tiruan cekat dengan fiber-reinforced composites. Kasus. Seorang pasien laki-Iaki berusia 26 tahun datang ke RSGM dengan kasus kehilangan gigi incisivus centralis kiri atas dengan space mesio-distal yang telah menyempit. "
Penanganan. Setelah dilakukan pemeriksaan subyektif, obyektif dan radiografi maka dilakukan perawatan dengan protesa berupa gigi tiruan cekat dengan fiber-reinforced composites. Setelah 10 hari perawatan kemudian kontrol dan pad a pemeriksaan subyektif tidak ada keluhan. Pada pemeriksaan obyektif dilakukan pemeriksaan terhadap retensi, stabilisasi, oklusi, estetis dan warnanya.
Kesimpulan. Hasil Perawatan gigi tiruan cekat dengan fiber-reinforced composites dapat memperbaiki kondisi kehilangan gigi dengan space mesio-distal yang telah menyempit sehingga mengembalikan estetika dan percaya diri pasien. Maj Ked GiJuni 201118(1): 48-5
REMODELINGTULANG ALVEOLARUNTUK REIMPLANTASI danTRANSPLANTASI GIGI ANTERIOR PADAKEHILANGAN TULANG HEBATPASKATRAUMA
Latar Belakang. Remodeling tulang alveolar berguna untuk memperbaiki kehilangan struktur jaringan pendukung gigi yang hebat pada reimplantasi dan transplantasi gigi anterior, supaya gigi anterior yang terlepas dari soketnya paska trauma dapat di implantasi. Bahan cangkok tulang untuk remodeling tulang alveolar yang digunakan berjenis demineralized freeze-dried bone allograft (DFDBA).
Tujuan Penulisan Laporan Kasus. Melaporkan keberhasilan menanam gigi tetap ditempatnya dengan teknik remodeling
tulang dengan penambahan DFDBA agar struktur jaringan pendukung gigi yang hilang kembali normal. Penatalaksanaan. Pasien paska trauma, dalam keadaan tidak sadar selama 7 hari di ruang rawat intensif dan dirawat selama 7 hari di bangsal. Pasien mengalami trauma dan kehilangan tulang penyangga gigi yang hebat, pada gigi anterior bawah. Tiga gigi anterior mengalami kegoyahan 4° dan dua gigi hilang. Hilangnya dua gigi mengakibatkan area edentulous besar, sehingga perlu di lakukan transplantasi satu gigi. Untuk memperkecil edentulous dilakukan penambahan lebar mahkota gigi menggunakan composite light curing. Setelah pencabutan gigi, semua gigi yang akan di implant dilakukan perawatan saluran akar gigi dan disterilkan. Flap operasi dilakukan untuk menata serpihan tulang dan menilai besarnya trauma, daerah luka dibersihkan dengan lIarutan salin. Splinting semua gigi yang akan di implant menggunakan arch bar dan kawat. Penambahan bahan cangkok tulang DFDBA pada daerah operasi. Menjahit daerah operasi ke korona gigi dan ditutup pack. Setelah 6 bulan operasi dua gigi tidak men gal ami kegoyahan, dua gigi lain mengalami kegoyahan 2°,12 bulan tiga gigi tidak mengalami kegoyahan dan hanya satu gigi transplantasi yang mengalami kegoyahan 1°. Re-entry operasi dilakukan untuk remodeling tulang bertambah baik. Setelah 6 bulan paska re-entry operasi, gigi yang di transplantasi tidak mengalami kegoyahan. Sehingga splint dapat dilepas.
Kesimpulan. Remodeling tulang pada teknik reimplantasi dan transplantasi gigi gigi disertai kehilangan tulang yang hebat dapat dilakukan paska trauma dengan penambahan bahan cangkok tulang - DFDBA, sehingga gigi anterior dapat berfugsi kembali mengunyah makanan. Maj Ked GiJuni 201118(1): 77-8
GIGI TIRUAN LENGKAP DUPLIKASI DENGAN MODIFIKASI TERBATASSEBAGAI PEDOMAN PEMBUATANGIGI TIRUAN LENGKAP CADANGAN
Latar belakang. Gigi Tiruan Lengkap (GTL) duplikasi adalah GTL kedua merupakan replika atau tiruan GTL pertama. GTL cadangan disiapkan untuk lanjut usia sebagai GTL pengganti jika GTL yang telah lama dipakai dengan memuaskan patah atau hilang. Untuk memudahkan adaptasi pasien terhadap GTL cadangan diperlukan GTL cadangan identik dengan GTL lama. GTL duplikasi dibuat untuk tujuan memindahkan kontur GTL lama ke GTL cadangan.
Tujuan. Penulisan laporan kasus ini bertujuan untuk menginformasikan cara melaksanakan perawatan penggantian GTLdengan GTL duplikasi sebagai pedoman membuat GTL cadangan.
Kasus &penanganan. Pasien laki-Iaki berumur 72 tahun telah memakai GTL 7 tahun dengan memuaskan membutuhkan GTL cadangan. Pada pemeriksaan subjektif dan objektif, GTL mempunyai retensi dan stabilisasi kurang serta traumatik oklusi. GTL diduplikasi untuk dibuat GTL duplikasi sebagai pedoman. GTL duplikasi pedoman dimodifikasi terbatas yaitu dilakukan sedikit perubahan meliputi perbaikan perluasan tepi dan relining, selanjutnya dipakai sebagai pedoman pembuatan GTL cadangan. DuplikasiGTL dengan teknik 2 sendok cetak dengan bahan tanam silikon. GTLduplikasi pedoman dengan bahan resin akrilik polimerisasi dingin warna gusi dan malam.
Kesimpulan. GTL cadangan mempunyai retensi dan stabilisasi baik, oklusi seimbang. GTL cadangan langsung berhasil dipakai pasien. GTL duplikasi dengan modifikasi terbatas adalah desain yang memudahkan adaptasi pasien dan sebagai pedoman pembuatan GTL cadangan. Maj Ked GiJuni 201118(1): 88-9
PERAN KALSIUM INTRASELULER PADARESPON SELULERTERHADAP INTERMEDILVSINBAKTERI KOMENSALORALSTREPTOCOCCUS INTERMEDIUS
Latar Belakang. Bakteri komensal oral Streptococcus intermedius mampu memproduksi intermedilysin (ILY), toksin yang berpotensi menyebabkan terbentuknya pori pada membran, yang termasuk dalam golongan cholesterol-dependent cytolysin. Toksin ini dikenal sebagai sitolisin yang unik karena sifatnya yang spesifik hanya menimbulkan respon pad a sel-sel manusia. Tujuan dari studi literatur ini adalah untuk memahami mekanisme sel-sel tubuh manusia dalam merespon paparan ILY. Ringkasan Pembahasan. Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan keterlibatan S. intermedius dalam infeksi purulen oral maupun nonoral karena kemampuannya memproduksi ILY. Intermedilysin diketahui meny.ebabkan ketidakseimbangan metabolisme sel dan kematian sel pada beberapa sel tubuh manusia seperti hepatosit, sel polimorfonuklear, bile duct cell, dan eritrosit. Spesifisitas ILY pada sel-sel tubuh manusia ditentukan oleh ikatan yang eksklusif hanya dengan reseptor membran human CD59. Pada beberapa kasus, ILY menimbulkan respon seluler melalui perubahan konsentrasi kalsium intraseluler ([Ca2+] i). Peningkatan konsentrasi [Ca2+]i mengakibatkan degranulasi sitoplasma pada sel PMN serta aktivasi kalsineurin yang diikuti
dengan aktivasi faktor transkripsi NFAT1 pad a sel HuCCT1 dan NF-KB pada sel HepG2.
Kesimpulan. Studi literatur ini dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi [Ca2+]i berperan penting dalam mekanisme respon seluler sel-sel tubuh manusia terhadap ILY yang diproduksi oleh S. intermedius. Maj Ked GiJuni 201118(1): 128-13
QUO-VADIS MULTIKULTURALISME DALAM HISTORIS DAN HISTORIOGRAFI SENI RUPA INDONESIA
Multicultural paradigm has been becoming the topic of discussions, as its valuable values concerning the spirit of respecting difference. The fact that differences commonly considered as threat in the Modernism philosophy, has led to the decrease or even loss of the particularity space. In the Indonesian context, multiculturalism has a long historical basis in line with its absolute constructed by plural complexity. Hence, the multiculturalism deserves to get involved in every cultural activity, no matter when, and in whatever context, not to mention in Fine Art Discipline. Within this, multiculturalism has even been the main concern considering that this discipline deals with creativity and aesthetic terminologies which cannot be separated from the discussion of differences as one of the main topics. What becoming the main concern is the fact that, this multiculturalism aspect within this discipline uncounsciously has also been a quo-vadis reality as other cultural mainstream.
Keywords: Quo-vadis, Multiculturalism, Historical, Historiography, Fine Art
Paradigma multikultural akhir-akhir ini banyak mendapatkan perhatian karena di dalamnya sarat dengan nilai-nilai yang menjanjikan berkembangnya peradaban yang dijiwai spirit penghargaan atas perbedaan. Hal ini mengingat, persoalan perbedaan kerap ditempatkan sebagai ancaman dalam filsafat Modernisme, yang mengakibatkan ruang keniscayaan partikularitas menjadi semakin ternegasikan. Dalam konteks keindonesiaan, multikulturalisme mempunyai akar historis yang panjang, sejalan dengan absolutitas negeri ini yang historisitasnya memang juga dikonstruksi dengan kompleksitas yang plural. Oleh karena itu, eksistensi multikulturalisme layak untuk terus disemaikan dalam setiap kerja kebudayaan, termasuk dalam hal ini adalah dalam disiplin Seni Rupa. Dalam disiplin Seni Rupa, multikulturalisme bahkan sejak lama telah menjadi salah satu roh terpenting, karena memang disiplin ini eksistensiya berkutat pada terminologi kreativitas dan estetika, yang salah satu esensinya adalah menyoal teks perbedaan sebagai jangkar aras kesadarannya. Yang menjadi persoalan kemudian adalah potensi multikulturalisme dalam disiplin Seni Rupa ini, juga menjadi realitas quo-vadis sebagaimana mainstream kebudayaan lain pada umumnya.
Kata Kunci: Quo-vadis, Multikulturalisme, Historis, Historiografi, Seni Rup
TINJAUAN KOGN.ISI DESAIN PRODUK KEMASAN SEBAGAI UNSUR IDENTITAS BUDAYA POPULER ATAS PRODUK KEMASAN MAKANAN INDUSTRI KECIL MENENGAH (IKM)
Packaging is a mediafor producer and costomer to communicate the messagethrough informative communication. The problem of packaging design will appear by the time of delivering the messagein theform of sign, that car be consideredas thegame of cognition aspect.The expression of packaging sign is not only in theform of visual (text, image, color and other graphic aspects)but also in, material up to thefunction of packaging as symbolization of cultural development of the packaging design. This paper is a preliminary research result trying to identify, describe and prove the phenomena of design relationship betweencustomer and packaging its and its effect to packaging production by Medium - Small Scale Industry (lKM), at the sametime as the conceptual idea to improve the design object offood packaging of Medium Small ScaleIndustry (lKM) in EastJavabasedonMedia-Cultural Study.ThepositionofMedium - Small Scale Industry (IKM) becomesinteresting becauseof the typical value of production consumption processof Medium Small Scale Industry (IKM) compared to thefabrication scale is becoming the leader of packaging in the market.
Keywords: Packaging Design, Cognition, Popular Culture
Kemasan (packaging) merupakan media komunikasi produsen dan konsumen, sehingga harus mampu menyampaikan pesan lewat komunikasi informatif, seperti hainya komunikasi penjual dengan pembeli. Permasalahan desain kemasan terjadi ketika penyampaian pes an berupa tanda simbolik (sign) yang sesungguhnya merupakan permainan aspek kognisi. Ekspresi simbolik kemasan, tidak hanya visual (teks, image, wama, dan aspek grafis lain) tetapi juga bentuk,.material, hingga fungsi kemasan menjadi simbolisasi perkembangan budaya desain kemasan tersebut. Makalah ini merupakan hasil penelitian awal yang mencoba mengidentifikasi, mendiskripsikan, dan membuktikan fenomena relasi desain antara pengkonsumsi (konsumen) dengan produk kemasan, yakni respon kognisi objek kemasan serta pengaruhnya terhadap produksi kemasan oleh IKM. Sekaligus sebagai gagasan konspetual mengangkat objek desain kemasan makanan Industri Kecil Menengah (IKM) di Jawa Timur dalam tinjauan Kajian Budaya-Media. Posisi IKM menajdi menarik karena pada tataran IKM proses produksi-konsumsi memiliki nilai kekhasan dibanding skala pabrikasi yang menjadi penguasa kemasan di pasar.
Kata Kunci : Desain Kemasan, Kognisi, Budaya Popule