UGM Journals, OAI Repository
Not a member yet
    12430 research outputs found

    KARAKTERISTIK HABIT AT DAN MORFOLOGI SIPUT Ongcomelania hupensis lindoensis SEBAGAI HEW AN RESERVOIR DALAM PENULARAN SHISTOSOMIASIS PADA MANUSIA DAN TERNAK DI TAMAN NASIONAL LORE LINDU = Habitat Characteristics and Morph

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji habitat dan morfologi siput Oncomelania hupensis lindoensis sebagai hewan reservoir dalam penularan shistosomiasis pada manusia dan ternak. Penelitian dilakukan dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Metode yang digunakan adalah metode survei dengan mengukur dan mengambil beberapa sampel tanah pada beberapa jenis habitat. Siput dikoleksi dengan menggunakan metode gelang besi yang disebut ring method. Siput yang dikumpulkan kemudian dibawa ke laboratorium untuk pengamatan bentuk morfologi dan mirasidia baik secara langsung maupun dengan penggunaanmikroskop. Penentuantingkatprevalensidigunakanmetode Kato-Kars" yang dimodifikasi. Data\u27dianalisis secara deskriptif berdasarkan data hasil survei di lapangan dan hasil analisis dari laboratorium. Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitat siput O.hupensis Lindoensis yang terdapat dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu sebanyak 144 habitat (fokus) dan terdistribusipada empat desa yaitu Tornado (64 fokus), Anca (63 fokus), Puroo (11 fokus) dan Langko (6 fokus) dengan persebaran 44,44 % ( sawah), 29,86 % ( kebun), 18,06 % ( padang rumput), dan 11 % ( hutan). Karakteristik habitat yaitu tekstur tanah lempung berpasir dengan bahan organik tanah yang relatif rendah 2%. Pada temak didapatkan tingkat prevalensi yaitu kerbau (39,36%), sapi (39,32%), clan babi (22,5%). Kesimpulan dari hasil penelitian ini bahwa habitat siput O.Hupensis lindoensis mempunyai karakteristik clan bentuk yang spesifik. Tingkat prevalensi schistosomiasis pada manusia dan temak dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu masih cukup tinggi

    PERAN REMITAN TKI TERHADAP PENINGKATAN KUALITAS PERMUKIMAN DI DESA JANGKARAN KECAMATAN TEMON KABUPATEN KULONPROGO = (The Role of Remitances of Indonesian Labor in the Settlement Quality Increase in Jangkaran Village, Te

    Full text link
    Motif utama para TKI bekerja di luar negeri adalah untuk memperoleh penghasilan yang lebih baik dari pada di daerah asal. Penghasilan yang diperoleh ini tidak dihabiskan di daerah tujuan tetapi sebagian besar dikirimkan sebagai remitan ke daerah asal. Pemanfaatan remitan di daerah asal sangat beraneka ragam. Penelitian ini dilakukan di Desa Jangkaran yang merupakan desa yang paling banyak mengirimkan TKI ke luar negeri di Kabupaten Kulonprogo. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis peran remitan terhadap peningkatan kualitas permukiman. Penelitian ini menggunakan metode survei. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara terstruktur terhadap 72 KK yang memiliki anggota rumah tangga bekerja sebagi TKI di luar negeri serta wawancara mendalam kepada beberapa informan. Teknik pengolahan dan analisis data dilakukandenganmetodeanalisiskuantitatifdankualitati Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kualitas permukiman pada rumah tangga sebelum menjadi TKI dan setelah menjadi TKI. Penelitian ini juga menemukan adanya peningkatan jumlah rumah tangga yang mempunyai kualitas permukiman tinggi yaitu dari 31,94% sebelum menjadi TKI menjadi 55,56% setelah menjadi TKI. Peningkatan kualitas permukiman tidak lepas dari peran remitan yang dikirimkan oleh TKI. Pemanfaatan remitan yang dialokasikan untuk meningkatkan kualitas permukiman ini sangat tinggi yaitu mencapai 81,9% dari total remitan yang ada

    BIOAKUMULASI DAN DISTRIBUSI Cd PADA AKAR DAN PUCUK 3 JENIS TANAMAN FAMILl BRASSICACEAE: IMPLEMENTASINYA UNTUK FITOREMEDIASI = (Cadmium Bioaccumulation and Distribution in Root and Shoot of 3 Crops of Brassicaceae: Implic

    Full text link
    Effisiensi tanaman untuk fitoremediasi salah satumya ditentukan oleh.besarnya akumulasi logam dalam biomassa tanaman yang dipanen. Akumulasi kadmium pada organ berbagai jenis tanaman mennunjukkan respon yang beragam, Sebuah percobaan pot telah dilakukan pada 3 jenis tanaman famili Brassicaceae yaitu sawi hijau (Brassica rapa var. parachinensis ), sawi putih (Brassica rapa var. Pekinensis) dan kailan (Brassica oleracea var. Alboglabra) pada tanah gambut yang dikontaminasi kadmium (Cd) dengan tujuan mempelajari bioakumulasi Cd pada akar dan pucuk dari ketiga jenis tanaman tersebut dan menentukan jenis yang lebih potensial untuk titoremediasi. Kontaminan Cd dicampurkan pada tanah dengan tin~katan dosis yang berbeda yaitu tanpa kontaminan, 2 mgkg&#713¹ Cd. 4 mgkg&#713¹ Cd. 8 mgkg &#713¹ Cd, 16 mgkg&#713¹ Cd dan 32 mgkg&#713¹ Cd, dan tanah tersebut digunakan sebagai media tumbuh tanaman (Skg/poli,Pag).Hasil penelitian menunjukkankan kangan Cd pada organ akar sawi hijau, sawi putih dan kailan lebih besar dari pucuk. Ketiga tanaman termasuk tanaman akumulator Cd. Kailan mempunyai kemampuan akumulasi Cd (BCF) yang lebih besar dari sawi hijau dan sawi putih, tetapi mempWlyai kemampuan transfer Cd ke pucuk (TF) paling kecil. Sawi hijau dan sawi putih .dengan biomassa yang besar dan mempunyai kemampuan transfer Cd ke pucuk yang jauh lebih besar dari kailan, lebih potensial digunakan untuk titoremediasi tanah yang tercemar Cd. Plant efficiency for phytoremediation depend on total amount of metal content in the harvestable tissues of plant biomass. Cadmium accumulation in the organs of various plant species showed varying responses. Field experiment was carried out with 3 crops offamily Brassicaceae, i.e. Brassica rapa var. parachinensis, Brassica rapa var. Pekinensis and Brassica oleracea var. Alboglabra on Cd-contaminated peat soil. Contaminant Cd and soil were mixed in different dosages i.e. 2 mgkg&#713¹ Cd, 4 mgkg&#713¹ Cd, 8 mgkg&#713¹ Cd, 16 mgkg&#713¹ Cd and 32 mgkg&#713¹ Cd and used tofill growth pot (5kg/pot). The results showed that Cd accumulation in root of three crops tested greater than that in shoot. All of the three plants tested were characterized as Cd accumulator plant. Brassica oleracea var. Alboglabra was characterized by the highest Cd bioconcentration factor (RCF) and the lowest Cd shoot-root translocation factor (I\u27F). Brassica rapa var. Parachinensis showed highest biomass (>2 times biomass of Brassica oleracea var. Alboglabra) and highest Cd translocation factor may be suitable used for phytoremediation Cd contaminated soil

    NEW PYRAN OF AN ENDOPHYTIC FUNGUS Fusarium sp. ISOLATED FROM THE LEAVES OF BROTOWALI (Tinaspora crispa)

    Full text link
    Endophytes are microorganisms that reside asymptomatically in the tissues of higher plants and are relatively unstudied and a promising source of novel organic natural metabolites exhibiting a variety of biological activities. As a part of our systematic search for new bioactive lead structures from endophytic, the endophytic fungus Fusarium sp. isolated from the leaves of Brotowali (Tinaspora crispa), was cultured for isolation of metabolite. The endophytic fungus was cultivated on 6 L of Potatos Dextose Broth (PDB) medium at room temperature (no shaking) for 8 weeks. The cultures were then extracted with ethyl acetate to afford 9.4 g of residue after removal of the solvent under reduced pressure. The extract was separated into the fractions by column chromatography (CC) on silica gel. The fractions were further separated by silica gel column chromatography to give one compound. The molecular structure was established on the basis of spectroscopic analysis including UV, IR, 1H-NMR, 13C-NMR, HMQC, HMBC, COSY, and MS. The compound was determined as a new pyran. Jamur endofitik merupakan mikroorganisme yang menempati jaringan tumbuhan tingkat tinggi den masih terbatas kajiannya, serta merupakan sumber metabolit baru yang menunjukkan berbagai aktivitas biologis. Sebagai bagian dari penelitian sistimatis kami untuk rneriemukan senyawa bioaktif baru, make telah diisolasi jamur endofitik Fusarium .sp. dari dawn Brotowall (Tinaspora crispa), dan telah dikultur untuk mengisolasi metabolit sekundernya. Jamur endofit dikultur dalam 6 L medium Potatos Dextose Broth (PDB) pada suhu kamar (keadaan stalls) selama 8 minggu. Kultur kemudian diekstraksi dengan etil asetat untuk mendapatkan 9,4 g ekstrak pekat setelah penguapan pelarut pada tekanan rendah. Ekstrak difraksinasi dengan kromatografi kolom (CC) pada silika gel. Fraksi selanjutnya dikromatografi kolom silika gel hingRa diperoleh satu senyawa. Struktur molekulnya ditentukan berdasarkan analisis spektroskopi UV, IR, 1H-NMR, 13C-NMR, HMQC, HMBC, COSY, dan MS. Senyawa basil isolasi merupakan senyawa baru golongan piran

    FORMULATION AND IN VITRO STUDY OF PROPRANOLOL HYDROCHLORIDE CONTROLLED RELEASE FROM CARBOXYMETHYL CHITOSAN-BASED MATRIX TABLETS

    Full text link
    Formulation and in vitro study of propranolol hydrochloride controlled release from carboxymethyl chitosanbased matrix tablets have been conducted. Formulations with various concentrations of carboxymethyl chitosan 2% (F1), 4% (F2), 6% (F3) were done by wet granulation method. Compatibility test was conducted by XRD and FTIR spectroscopy to determine interaction between propranolol hydrochloride and polymer excipients. Dissolution profiles was obtained through in vitro tests release using simulated gastric fluid (without enzymes, pH 1.2) for the first 2 h and followed by simulated intestinal fluid (phosphate buffer solution without enzyme, pH 7.2) for 2 h remaining. The dissolution profile of each formulation was fitted with five kinetics modeling of drug release (zero order, first order, Higuchi, Peppas-Korsmeyer, and Hixson-Crowell). The compatibility test results showed that formulation caused physical interactions between propranolol hydrochloride and polymer excipient but doesn\u27t make crystallinity nature of propranolol hydrochloride disturbed even after formulation. Dissolution profiles of each formulation showed that controlled release of propranolol hydrochloride from the tablet followed Peppas-Korsmeyer model. It is concluded that carboxymethyl chitosan in appropriate proportions is suitable for formulating propranolol hydrochloride controlled release tablets which exhibit Peppas-Korsmeyer release kinetics. Telah dilakukan formulasi dan kajian pelepasan terkontrol propranolol hidroklorida dari matrik tablet berbasis karboksimeti! kitosan secara in vitro. Formulasi dengan variasi konsentrasi karboksimetil kitosan sebesar 2% (F1), 4% (F2), 6% (F3) dilakukan dengan metode granulasi basah. Uji kompatibilitas dilakukan dengan XRD dan spektroskopi FTiR untuk mengetahui interaksi antara propranolol hidroklorida dan polimer eksipien. Profil disolusi diperoleh melalui uji invitro menggunakan simulasi cairan lambung (tanpa enzim, pH 1,2) untuk 2 jam pertama dan diikuti simulasi cairan intestinal (Iarutan buffer phospat tanpa enzim, pH 7,2) untuk 2 jam berikutnya. Hasil disolusi kemudian dicocokkan dengan lima model kinetika disolusi (orde nol, orde 1, Higuchi, Peppas-Korsmeyer, dan H~xson-Crowell).Hasil uji kompatibilitas menunjukkan bahwa proses formulasi menyebabkan interaksi fisika antara propranolol hidroklorida dan polimer eksipien namun tidak mengganggu kristalinitas propranolol hidroklorida setelah formulasi. Profil disolusi masing masing formulasi menunjukkan bahwa pelepasan propranolol hidroklorida secara terkontrol mengikuti model Peppas-Korsmeyer. Hal ini dapat disimpulkan bahwa karboksi meti! kitosan dalam jumlah yang tertentu dapat digunakan untuk formulasi tablet propranolol hidroklorida dengan pelepasan terkontrol denga

    PyPLIF-ASSISTED REDOCKING INDOMETHACIN-(R)-ALPHA-ETHYL-ETHANOLAMIDE INTO CYCLOOXYGENASE-1

    Full text link
    Identification of Protein-Ligand Interaction Fingerprints (PL1F) has been performed as the rescoring strategy to identify the best pose for the docked poses of indomethacin-(R)-a-ethyl-etanolamide (1MM) in the binding site of cyclooxygenase-1 (COX-1) from simulations using PLANTS molecular docking software version 1.2 (PLANTS1.2). Instead of using the scoring functions included in the docking software, the strategy presented in this article used external software called PyPLIF that could identify the interactions of the ligand to the amino acid residues in the binding pocket and presents them as binary bitstrings, which subsequently were compared to the interaction bitstrings of the co-crystal ligand pose. The results show that PyPLIF-assisted redocking strategy could select the correct pose much better compared to the pose selection without rescoring. Out of 1000 iterative attempts, PyPLIF¬assisted redocking simulations could identify 971 correct poses (more than 95%), while the redocking simulations without PyPLIF could only identify 500 correct poses (50%). These works have also provided us with the initial step of the construction of a valid Structure-Based Virtual Screening (SBVS) protocol to identify COX-1 inhibitors. Telah dilakukan identifikasi sidik jari interaksi antara ligan dan protein sebagai strategi penskoran Wang guna memilih posisi terbaik hash penambatan molekuler ulang senyawa ko-kristal indomethacin-(R)-a-ethyl-etanolamide (IMM) ke dalam binding site siklooksigenase-2 (COX-1) luaran dari penggunaan aplikasi penambatan molekuler PLANTS versi 1.2 (PLANTS1.2). Sebagai pengganti penggunaan fungsi penskoran bawaan ash dari aplikasi penambatan molekuler PLANTS1.2, digunakanlah aplikasi eksternal bemama PyPLIF yang mampu mengidentifikasi sidik jari interaksi antara ligan dengan residu-residu asam amino di binding pocket dan menyajikannya dalam bentuk binary bitstrings, yang kemudian dibandingkan dengan binary bitstrings sidik jari interaksi pose asli ligan ko-kristal. Hash penelitian menunjukkan bahwa simulasi penambatan ulang dengan berbantukan PyPLIF memiliki kemampuan jauh lebih balk dalam mereproduksi posisi ash ligan ko-kristal dibandingkan dengan simulasi penambatan ulang dengan menggunakan fungsi penskoran bawaan ash aplikasi penambatan molekul yang digunakan. Dan 1000 kali iterasi, simulasi penambatan Wang berbantukan PyPLIF mampu mereproduksi posisi asli ligan ko-kristal sebanyak 971 kali (lebih dari 95%) sementara simulasi penambatan ulang tanpa penskoran ulang dengan PyPLIF hanya mampu mereproduksi sebanyak 500 kali (50%). Penelitian ini memberikan fondasi awal untuk konstruksi protokol Penapisan Virtual Berbasis Struktur (PVBS) yang valid guna mengidentifikasi inhibitor COX-1

    ca Val) on Cigarette Smoke Cardiotoxicity i

    Full text link
    The objective of this research was to determine the effects of turmeric (Curcuma domestica Val) extract administration toward heart histopathologic lesions of male Wi star rats ±3 months old exposed by cigarette smoke. Twenty male Wistar rats were divided randomly into four groups offive each. Group 1was given neither cigarette smoke exposure nor turmeric extract administration (control) (KI), Group II was given cigarette smoke exposure of 9 cigarettes/ day (Kll), Group III was given I ml turmeric extract 0.25% (Kill) and Group IV was given cigarette smoke exposure of 9 cigarettes/ day and I ml turmeric extract 0.25% (KlV). After 2 months of treatment, necropsy was conducted to all rats and the heart samples were collected to be processed histopatologically and stained routinely with hematoxylin-eosin. The results of the present study indicated that the cigarette smoke caused cardiomyopathy in KII marked by the histopathologic lesions, such as vacuolation, homogeneous eosinophilic cytoplasms, edema and necrosis of myocardia, also congestion and mild hemorrhages (KlI). Whereas, rats in Groups KI, KIll and KlV had normal histologic structures of myocardia. It is concluded, that turmeric extract could be a preventive herbs toward cardiotoxic effects of cigarette smoke. Further research has to be conducted to determine the anti cardiomyopathy mechanism of turmeric rhizome due to cigarette smoke exposure. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan pengaruh pemberian ekstrak rimpang kunyit (Curcuma domestica Val) terhadap gambaran histopatologis jantung tikus putih Wistar jantan berumur ±3 bulan yang diberi paparan asap rokok selama 2 bulan. Dua puluh ekor tikus putih dibagi secara acak menjadi empat kelompok, yaitu: Kelompok yang tidak diberi pengasapan dan tanpa ekstrak rimpang kunyit (Kontrol) (KI), Kelompok yang diberi pengasapan 9 batang rokok per hari (KII), Kelompok yang diberi ekstrak rimpang kunyit 0,25% I ml (Kill) dan Kelompok yang diberi pengasapan 9 batang rokok per hari dengan pemberian ekstrak rimpang kunyit 0,25% I ml (KlV). Setelah2 bulan perlakuan, semua tikus putih dinekropsi danjantung diambil, diproses histopatologis dan diwamai rutin hematoksilin-eosin. Hasil penelitian ini membuktikan, bahwa asap rokok pada KlI menyebabkan lesi histopatologis padajantung berupa kardiomiopati yang ditandai vakuolisasi, hialinisasi homogen eosinofilik sitoplasma, edema, dan nekrosis serabut ototjantung. Padajantung juga terjadi kongesti dan hemoragis ringan (KlI). Sedangkan, pada tikus putih KI, Kill dan KlV terlihat struktur histologis jantung dalam batas-batas normal. Disimpulkan, bahwa ekstrak rimpang kunyit dapat menjadi herbal preventif terhadap efek kardiotoksik asap rokok. Penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk menentukan mekanisme anti kardiomiopati ekstrak rimpangkunyit padajantung akibatpaparan asaprokok

    Validasi Metode Spektrofotometri pada Uji Kadar Sediaan Injeksi Obat Hewan Enrofloksasin = Validation of the Spectrophotometry method on the concentration assessment of Enrofloxacine as the animal drug

    Full text link
    Validation for analysis of enrofloxacin injection method using spectrophotometry has been conducted. Enrofloksasin in a solution ofNaOH (sodium hydroxide) 0.1 N, measured at the maximum wavelength (&#955) 271 nm. The parameters of validation that were carried out are precision, accuracy, linearity, limit of detection and limit of quantitation. Precision showed good results with coefficien variation (CV) results smaller than that of CV Horwitz. Accuracy parameters calculated by the method of analysis to determine levels of analyte in a known active ingredient purity and yielded 0.449%. Linearity parameters showed good results with r = 0.9996. Limit of detection value was obtained for 0.757 µg / mL and limit of quantification of 2.522 µg / mL. The results of validation test of enrofloxacin injection analysis using spectrophotometric method can be used as a good method to provide a valid test of quality assurance veterinary drugs. Telah dilakukanvalidasi terhadap metode uji kadar obat hewan enrofloksasin dalam bentuk sediaan injeksi, digunakan metode spektrofotometri. Enrofloksasin dalam larutan NaOH (natrium hidroksida) 0, 1 N, diukur pada panjang gelombang maksimum (&#955)271nm. Parameter validasiyang digunakan antara lain: presisi, akurasi, linearitas, batas deteksi dan batas kuantitasi. Parameter presisi menunjukkan hasil yang baik, dengan nilai koefisien variasi (CV) hasil uji lebih kecil daripada CV Horwitz. Parameter akurasi dihitung dengan metode analisis untuk menetapkan kadar analit dalam bahan aktifyang diketahui kemumiannya dan memberikan hasil 0,449 %. Parameter linearitas menunjukkanhasil yang baik dengan nilai r = 0,9996.Nilai batas deteksi diperoleh sebesar 0,757µ/mL dan nilai batas kuantitasi sebesar 2,522 µ/mL. Hasil validasi uji kadar enrofloksasin bentuk sediaan injeksi dengan metode spektrofotometri memberikan hasi1 yang dapat diterima dan dapat digunakan sebagai metodeyang valid untuk menjamin mutu hasiluji obat hewan

    PERSEPSI DAN KEPEDULIAN SISWA TERHADAP PENGELOLAAN LINGKUNGAN SEKOLAH MELALUI PROGRAM ADIWIYATA

    Full text link
    Program Adiwiyata dapat menciptakan kondisi sekolah sebagai tempat pembelajaran siswa untuk penyelamatan lingkungan masa depan. Pengelolaan lingkungan sekolah melalui program Adiwiyata memerlukan tanggungjawab siswa yang dibangun dari persepsi dan kepeduliannya. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengkaji persepsi siswa, (2) menganalisis faktor yang mempengaruhi persepsi siswa dan (3) mengkaji tingkat kepedulian siswa terhadap pengelolaan lingkungan sekolah melalui program Adiwiyata. Berdasarkan karakteristik rona lingkungan sekolah dipilih SMPN 2 Kendari (sekolah yang terletak di kota lama) dan SMPN 17 Kendari (sekolahyang terletak di kota baru) sebagai tempat penelitian, dengan sampel sebanyak 94 orang. Hasil penelitian meriunjukkan persepsi siswa pada sekolah yang terletak di kota lama dikategorikan sedang sedangkan di kota baru dikategorikan tinggi. Pengetahuan dan sosial ekonomi mempengaruhi persepsi siswa tersebut. Tingkat kepedulian siswa pada sekolah di kota lama dikategorikan sedang, sementara di kota baru dikategorikan tinggi. Hal ini berkorelasi dengan persepsi siswa, untuk itu peran guru untuk menginternalisasikan nilai kepedulian lingkungan pada siswa amat dibutuhkan. Adiwiyata program can create school conditions as a student learning to save environmental for future. School environmental management trough Adiwiyata program requires student responsible built concern and perceptions. The research aims: asses perception the student, analyzing thefactor that influencesperception and asses awarness level of the students to the school environment management trought Adiwiyata program. Based on the environmental hue selected school in the urban area (SMPN 2 Kendari) and the sub urban area (SMPN 17 Kendari) as a research location and as a sampling obtained 94 "SMP students. Analysis showed perception of student in the urban area were medium category and student in the sub urban area were high category. Knowledge of student toward Adiwiyata program and sosioeconomic infuence the student perception. The awareness level of students in urban area were medium category and the student in sub urban area were high category. This correlates with the perception of students, to the role of teacher to internalize the value of environmental awareness in students is required

    RISK MINIMIZATION FOR MEDICAL WASTE MANAGEMENT SYSTEM IN BANDUNG CITY, INDONESIA: A LINEAR PROGRAMMING APPROACH = (Minimasi Resiko dalam Sistem Pengelolaan Limbah Medis di Kota Bandung, Indonesia dengan Pendekatan Linear

    Full text link
    A broad range of healthcare services provided by hospital may generate medical waste. Although a large percentage of hospital waste is classified as generel waste, which has similar nature as that of municipal solid waste and, therefore, could be disposed in municipal landfill, a small portion of medical waste has to be managed in a proper manner to minimize risk to public health. A medical waste management model is proposed in order to minimize a risk to the public and commercial utilities such as religious facility, bank, office, restaurant, hotel, gasoline station, education facility, mall and shopping center, and park & sport center due to transportation of medical waste and ash and operational of medical waste treatment facility as well. The risk level of each public utility above is determined using Analytical Hierarchy Process (AijP) method. The problem is solved by applying linear programming using optimization software of LINGO®. The model finds optimal medical waste allocation nom each hospital to the treatment facility and ash allocation nom the treatment to the final disposal site. The result shows that the shortest route may not meet minimum total risk as it is affected also by number and risk level of each public utility passed by medical waste and ash vehicles. Different utilities located surrounding the waste treatment will also generate different total risk. Berbagai macam pelayanan perawatan kesehatan yang disediakan oleh rulmah sakit akan berpotensi menghasilkan limbah medis. Walaupun sebagian besar limbah rumah sakit dapat dikelompokkan sebagai limbah yang tidak berbahaya yang memiliki sifat yang sama dengan sampah rumah tangga dan dapat dibuang ke tempat penimbunan sampah, sebagian kecil dari limbah medis harus dikelola dengan tepat untuk meminimasi resiko terhadap kesehatan masyarakat. Model pengelolaan limbah medis yang dikembangkan ditujukan untuk meminimasi resiko terhadap fasilitas umum dan komersial sepertifasilitas ibadah, bank, perkantoran, restoran, hotel, stasiun pengisian bahan bakar, fasilitas pendidikan, mall dan pusat perbelanjaan, taman dan pusat olahraga/kebugaran, akibat pengangkutan limbah medis dan abu hasilpengolahannya. Tingkat resiko dari setiapfasilitas di atas ditentukan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Permasalahan diselesalkan dengan mengaplikasikan linear programming menggunakan software optimimasi [email protected] model berupa optimasi alokasi limbah medis dari setiap rumah sakit ke fasilitas pengolahan dan alokasi abu darifasilitas pengolahan ke tempat penimbunan akhir. Hasil model memperlihatkan bahwa rute terpendek tidak menghasilkan total resiko terkecil karena dipengaruhi oleh jumlah dan tingkat resiko dari setiapfasilitas yang dilalui oleh kemdaraan pengangkut limbah medis dan abu. Perbedaan fasilitas yang berada di sekitar pengolahan limbah medis juga akan menghasilkan total resiko yang berbeda

    10,382

    full texts

    12,430

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    UGM Journals, OAI Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇