UGM Journals, OAI Repository
Not a member yet
12430 research outputs found
Sort by
ASYLUM SEEKERS IN JAPAN: A HARD ROAD
Japan has ratified the 1951 Convention regarding the status of Refugees and the 1967 Protocol relating to the Status of Refugees since 1981 and 1982, yet Japan only accepted an exceptionally low number of refugees in the course 30 years since it ratified the Convention. Japan needs to closely revise and align Us national policies with international agreements that it is signatory to. The main framework with which Japan s government still tackles the issue of refugees is tightly restrained by its overall controlling immigration policies in an attempt to remain a homogenous nation. Japan has a long way to go in order to fully comply with the spirit of the Convention, the Protocol, and international instruments relating to the Status of Refugees.
Jepang telah meratifikasi Konvensi Mengenai Status Pengungsi 1951 dan Protokol tentang Kedudukan Pengungsi 1967 sejak tahun 1981 dan 1982, namun Jepang hanya menerima sejumlah kecil pengungsi dalam kurun waktu 30 tahun sejak diratifikasinya konvensi tersebut. Jepang hams meninjau kembali dan memastikan bahwa kebijakan-kebijakan nasional negaranya telah sesuai dengan perjanjian intemasional yang telah ditandatangani Jepang. Kerangka kerja pemerintah Jepang dalam menangani isu pengungsi sangat dibatasi oleh berbagai pengetatan kebijakan imigrasi yang dikeluarkan dalam semangat mempertahankan homogenitas bangsa. Jepang memiliki banyak pekerjaan rnmah yang hams dilakukan agar dapat memenuhi semangat konvensi, protokol, dan berbagai instrumen intemasional terkait status pengungsi
FAKTOR RISIKO TERJADINYA KARIES BARU DENGAN PEN DEKATAN KARIOGRAM PADA PASIEN ANAK DI KLINIK KEDOKTERAN GIGI ANAK RSGMP PROF.SOEDOMO YOGYAKARTA
Latar belakang. Faktor risiko karies adalah faktor yang berhubungan dengan kejadian karies pad a individu dan populasi. Faktor risiko karies berbeda antar individu. Untuk menggambarkan interaksi antara faktor-faktor yang berhubungan dengan karies digunakan kariogram. Tujuan. Penelitian ini adalah untuk mendapatkan gambaran urutan faktor risiko karies dengan pendekatan kariogrampada pasien anak di klinikKedokteran Gigi Anak RSGMP Prof.Soedomo. Metode. Subjek terdiridari 26 anak dalam periode gigi-geligi bercampur. Dilakukan pemeriksaan tentang pengalaman karies, riwayat penyakit sistemik, frekuensi makan, skor plak, aktivitas Streptococcus mutans, volume sekresi saliva, pH saliva dan program fluoridasi. Hasil pemeriksaan dianalisis menggunakan program kariogram. Hasil. Penelitian menunjukkan bahwa rerata persentase faktor bakteri adalah 21,1%, faktor pola makan: 18,1%, faktor kerentanan gigi: 16,1% dan faktor lain-lain: 9,5%. Kesimpulan. Dapat disimpulkan bahwa urutan faktor risiko karies dengan pendekatan kariogram adalah bakteri, pola makan, kerentanan gigi dan faktor lain-lain. Maj Ked GiDesember 201219(2): 107-10
PLEOMORFIK ADENOMA PADAPALATUM
Latar belakang: Pleomorfik adenoma (mixed tumor) adalah tumor kelenjar ludah yang paling sering terjadi (65%) pada kelenjar ludah mayor dan minor. Lokasi intraoral yang paling sering ditemukan adalah palatum. Tujuan: membahas gambaran klinis dan penatalaksanaan pleomorfik adenoma pada palatum. Kasus: dilaporkan 2 buah kasus pleomorfik adenoma pada palatum. Kasus pertama seorang laki-Iaki usia 29 tahun dengan benjolan pada palatum kanan ukuran 3x2 em, konsistensi kenyal, berbatas tegas, warna seperti jaringan sekitar dan tidak nyeri. Pasien pernah menjalani operasi pada palatum kanan pada tahun 2005, dan kira-kira 3 tahun setelah operasi benjolan tersebut kambuh di tempat yang sarna. Hasil biopsi aspirasi jarum halus adalah mixed tumor. Kasus kedua seorang wan ita 22 tahun dengan benjolan pad a palatum kiri ukuran 2X1 ,5 em, timbul sejak 3 tahun yang lalu, warna seperti jaringan sekitar, konsistensi kenyal, dan tidak nyeri.. Riwayat pasien menggunakan kontrasepsi hormonal. Hasil biopsi eondong pada adenoma pleomorfik dengan bagian onkositik adenoma dan clear sel adenoma. Penatalaksanaan: dilakukan eksisi luas di bawah anestesi umum pada kedua kasus tersebut, dengan batas 1 em dari tepi lesi pada jaringan sehat. Kesimpulan: Telah dilakukan eksisi luas untuk penanganan kedua kasus pleomorfik Adenoma pada palatum. Tidak ditemukan rekurensi 1 tahun setelah operasi (kasus 1) dan 2 tahun setelah operasi (kasus 2). Maj Ked Gt, Juni 201219(1): 39-4
ROOT CANAL RETREATMENT FOLLOWED BY ROOT-END RESECTION AND DIRECT VENEER RESTORATION USING RESIN COMPOSITE OF MAXILLARY RIGHT CENTRAL INCISOR
Background: The failure of root canal treatment can cause persistent pain and discolored tooth. Therefore it is recommended to conduct root canal retreatment followed by endodontic surgery and to esthetically restore tooth in order to accomplish satisfactory clinical outcome.The purpose of this case report is to describe the root canal retreatment followed by root-end resection and direct veneer restoration with resin composite of maxillary right central incisor. Case and treatment: A 17-year-old male patient was referred for endodontic treatment of his maxillary right central incisor. In the clinical examination, it was observed that the color of tooth was brownish, a defect of enamel with white line on the labial aspect, and a partial detach of resin composite restoration. The tooth was tenderness to percussion, but palpation and mobility were within normal limits. Radiographic examination revealed a lack of hermetic obturation and an apparent radiolucency around the root apex. Root canal retreatment followed by root-end resection was performed. Afterwards, direct veneering with resin composite was carried out to permanently restore the tooth. Recall evaluation was showed that the patient was asymptomatic, periapical lesion disappeared and patient was satisfactory with the restoration. Conclusion: It can be concluded that when root canal retreatment is unsuccessful, endodontic surgery is an important treatment option to improve periapical healing and increase the long term success. The choice of aesthetic permanent restoration is also crucial consideration to overcome the unaesthetic problemshence the optimal treatment outcome can be achieved. Maj Ked Gt, Juni 201219(1): 53-5
ADSORPSI ION LOGAM Pb(II), Cd(Il) dan Cr(III) OLEH POLl 5 ALLIL-KALIKS [4] ARENA TETRAESTER (Adsorption of Pb(II), Cd(II), and Cr(IIl) by Poly-5-allyl-calix{4]arene tetraester)
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemanfaatan poli-5-allilkaliks[4]arena tetraester sebagai adsorben kation logam berat. Adsorpsi dilakukan dengan metode batch pada variasi keasaman (pH), waktu kontak dan konsentrasi awal ion logam. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa pH optimum adsorpsi adalah pH 4,0 untuk ion logam Pb(II) dan Cd(II), sedangkan untuk Cr(III) pada pH 6,0. Waktu kontak optimum adsorpsi ion logam Cd(II) dan Cr(III) adalah 135 menit, sedangkan untuk ion logam Pb(II) adalah 180 menit. Kajian kinetika adsorpsi menunjukkan bahwa adsorpsi ion logam Pb(II), Cd(II) dan Cr(III) menggunakan adsorben poli-5-allilkaliks[4]arena tetraester mengikuti model kinetika Ho, pseudo orde 2, dengan konstanta laju adsorpsi berturut-turut 10ֿ³, 9x1Oֿ³dan 3,6x10ֿ² g molֿ¹ menitֿ¹. Kajian isotherm menunjukkan bahwa adsorpsi ion logam Pb(II) cenderung mengikuti isotherm Freundlich, sedangkan adsorpsi ion Cd(II) dan Cr(III) cenderung mengikuti isotherm Langmuir. Kapasitas maksimum adsorpsi ion logam Pb(II), Cd(II) dan Cr(III) masing-masing sebesar 187,6345,63 clan197,25 µmo/g, dengan energi adsorpsi berturut-turut 23,1415,18 dan27,15 KJ/mol.
The aim research is application ofpoly-5-allyl-calix{4}arene tetraester as adsorbent of heavy metal cations. Adsorption was carried out towards Pb(II). Cd(ll) and Cr(lIl) ions in batch system. Several variables including pH, contact time and initial concentration of metal ions were determined. The optimum adsorption conditions were achieved at pH 4.0for Pb(lI) and Cd(II), while at pH 6.0for Cr(llI) ions. In addition, the optimum contact time of Cd(lI) and Cr(llI) ions adsorption were 135 minutes, while thosefor Pb(lI) ion was 180 minutes. The adsorption kinetics of Pb(II). Cd(lI) and Cr(lIl) ions using the calixarene polymer adsorbentfollowed a fseudo 2nd order kinetics model, with adsorption rate constants of 10ֿ³, 9x10ֿ³ dan 3,6x10ֿ² g moleֿ¹ minֿ¹ , respectively. Furthermore, The adsorption isotherm of Pb(lI) ion tends tofollow the Freundlich isotherm, whereas the adsorption of Cd(lI) and Cr (III) ions tends to follow the Langmuir isotherm. The adsorption capacity of Pb(II), Cd(lI) and Cr(lIl) metal ions were 87.63, 45.63 and 197.25 µmole/g, with adsorption energy of 23.14, 15.18 and 27./5 KJ / mole, respectively
DAMPAK PENGELOLAAN LABAN PERTANIAN TERHADAP HASIL SEDIMEN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI GALEH KABUPATEN SEMARANG = (The Impact (JfAgriculture Land Management to The Sediment Yield in Galeh Watershed Semarang District)
Perubahan jumlah manusia dan bentuk kegiatannya akan mengakibatkan perubahan dalam pengelolaan lahan. Sistem pengelolaan lahan pertanian pada daerah aliran sungai (DAS) Galeh umumnya masih belum memperhatikan kemampuan dan kesesuaian lahan. Masyarakat yang bermukim di DAS Galeh didominansi oleh petani. Dinamika pengelolaan lahan pada sistem DAS akan mempengaruhi kondisi aliran sungai, yang menyebabkan terjadi perubahan debit aliran sungai sebagai keluaran DAS, sehingga mengakibatkan perubahan dalam kualitas lingkungan. Dampak yang sering terlihat adalah terjadinya kerusakan lahan karena meningkatnya erosi tanah dan sedimentasi. Kajian ini dilakukan dari bulan Pebruari sampai bulan Juli tahun 2010 di DAS Galeh, Kabupaten Semarang dengan tujuan untuk mengetahui hasil sedimen yang diakibatkan oleh pengelolaan lahan pertanian yang berbeda di daerah aliran sungai Galeh. Kajian dilakukan dengan cara menganalisis sampel-sampel sedimen melayang (suspended sediment) yang diambil dari outlets ketiga sungai utama yang bermuara ke Sungai Galeh. Parameter - parameter yang diukur untuk keperluan analisis hasil sedimen ini, yaitu konsentrasi sedimen melayang Cs (mg/l), debit aliran air sungai Q (m3/detik) dan debit sedimen melayang Qs (gr/,detik).Dari hasil kajian tampak bahwa terdapat debit aliran yang berpengaruh terhadap debit suspensi, di mana semakin besar debit aliran maka semakin besar debit suspensi. Pengelolaan lahan sawah memiliki debit aliran dan debit suspensi yang lebih tinggi dibanding pengelolaan lahan kebun dan lahan tegalan. Sedimen yang dihasilkan pada pengelolaan lahan sawah sebesar 14,593 tonlharipengelolaan lahan kebun sebesar 1,308 ton/hari, pengelolaan lahan tegalan sebesar 0,718 ton/hari
KEARIFAN LINGKUNGAN DALAM PERENCANAAN DAN PENGELOLAAN HUTAN WONOSADI KECAMATAN NGAWEN KABUPATEN GUNUNG KIDUL = (Environmental Wisdom in Planning and Management of the Wonosadi Forest Ngawen District, Gunungkidul R
Penelitian ini mengkaji tentang kearifan lingkungan masyarakat dalam perencanaan dan pengelolaan Hutan Wonosadi, salah satu hutan adat yang terletak di Desa Beji, Kecarnatan Ngawen Kabupaten Gunungkidul. Kearifan Lingkungan dalam mengelola hutan adat telah mengakar kuat di tengah-tengah rnasyarakat di sekitar Hutan Wonosadi dan bersumber dari adanya rnitologi dan sejarah hutan. Proses pengelolaan Hutan Wonosadi telah berjalan sangat panjang. Pada kurun waktu Tahoo 1960 sid Tahoo 1965 Hutan Wonosadi hampir musnah akibat penjarahan liar. Pada saat itu daerah di sekitar Hutan Wonosadi mengalarni kerusakan parah akibat banjir krakal dan tanah longsor apabila musim penghujan tiba. Melalui prakarsa perangkat desa beserta tokoh rnasyarakat, pada Tahoo 1966 diadakan perencanaan kembali Hutan Wonosadi (reforestrasi). Masyarakat bahu-membahu mengimplementasikan rencana penghutanan kembali tersebut. Kegiatan ini setelah beberapa tahoo larnanya telah rnampu mengembalikan keberadaan Hutan Wonosadi.
Adanya rnitologi dan sejarah Hutan Wonosadi telah menciptakan banyak rnitos yang dipercaya oleh rnasyarakat sekitar secara turun temurun. Kejadian empiris yang dialarni oleh rnasyarakat terkait dengan rnitos tersebut telah menjadikan rnasyarakat mempunyai keterkaitan secara batiniah ootuk tetap menjaga kelestarian Hutan Wonosadi. Di samping itu, rnasyarakat juga menerapkan konsep kesadaran realitas dengan idiom tekun (soogguh-soogguh), teken (petunjuk), tekan (sampai pada hal yang dicita-citakan) serta konsep kesadaran rnitologi sangkan paraning dumadi. Hutan Wonosadi telah memberikan rnanfaat yang sangat besar bagi penduduk di sekitamya karena rnasyarakat mempunyai kesadaran dalam kerangka rnitologi dan realitas ootuk mengelola hutan dan tetap ingin merasakan rnanfaat yang positif dari keberadaan hutan tersebut
BUDAYA NASIONAL DI TENGAH PASAR: KONSTRUKSI, DEKONSTRUKSI, DAN REKONSTRUKSI
In the Refonnation period, the state regime still mobilizes traditional-ideal values as national culture without giving conceptual and operational explanations. In this article, I combine two approaches, cultural studies and postcolonial studies, for reading national culture as represented in some President Soesilo Bambang Yudhoyono\u27s presidential speeches. I will analyze ideal-but-ambivalent constructions of national culture in regime\u27s perspective as represented in those speeches, particularly, in the context of continuous mobilization of traditional meanings as the invisible power for Indonesian people, while, at the same time, they always emphasize economic progress. Instead as strategic cultural construction, national culture produces its own deconstruction and fails to be discursive fonnation. Further, I argue that the regime operates their governmentality by reconstructing newer national culture based on market economics as discursive constructions, which ideally can provide conceptual and material basis for state regime in conducting governance andfor citizens in achieving welfare in neoliberalfonnation. I
Keywords: national culture, regime\u27s perspective, construction, deconstruction, reconstruction, neoliberalism.
Pada masa Reformasi, rezim negara masih memobilisasi nilai-nilai tradisional-ideal sebagai budaya nasional tanpa memberikan penjelasan konseptual dan operasional. Dalam artikel ini, saya menggabungkan dua pendekatan, kajian budaya dan poskolonial, untuk membaca budaya nasional sebagaimana direpresentasikan dalam beberapa pidato Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Saya akan menganalisis konstruksi ideal-tetapi-ambivalendari budaya nasional dalam perspektif rezim seperti direpresentasikan dalam beberapa pidato tersebut, khususnya, dalam konteks mobilisasi terus-menerus makna tradisional sebagai kekuatan tidak kelihatanbagi rakyat Indonesia, sedangkan pada saat bersamaan, mereka selalu menekankan kemajuan ekonomi: AIih-alih sebagai konstruksi kultural strategis, budaya nasional memproduksi dekonstruksinya sendiri dan gagal menjadi formasi diskursif. Lebih jauh, saya berargumen bahwa rezim menjalankan kepemerintahan mereka dengan merekonstruksi budaya nasional baru berbasis ekonomi pasar sebagai konstruksi diskursif yang secara ideal bisa menyediakan basis konseptual dan material bagi rezim untuk menjalankan pemerintahan dan bagi warga negara untuk memperoleh kesejahteraan dalam formasi neoliberal.
Kata kunci: budaya nasional, perspektif rezim, konstruksi, dekonstruksi, rekonstruksi, neoliberalisme
LANJUT USIA: ANTARA TUNTUTAN JAMINAN SOSIAL DAN PENGEMBANGAN PEMBERDAYAAN
Social service and social security for elderly in 2010 only covered143.131 person (Direktorat PSLU, 2010) from expectation to serve2,4 million elderly, whether it is poor and neglectedelderly (BPS, 2010). Government capacity to servesocial serviceand social security is limited, soit needsa new strategy to keepthe sustainability of elderly\u27s life. We must have alternative way to assist them to solve their psychosocial and physical vulnerability through empowerment scheme. The psychosocial vulnerability of elderly is vulnerability that comprisefrom economic,social and psychological aspectssothat it needs comprehensive under standing to makeaprogram for them. Empowering the elderly will create activity that will be advantageousfor them to use the leisure, create social relationship, decreasefelt of loneliness, keepreciprocity relationship with their social environment, increase income, keepself existenceand build theelderly capacity. Developing empowermenthasto consider some aspects suchas environment characteristic, social-demographicstructure and multi generation.Alternative for empowermentprogram to through productive activity (carehousing and non-care housing) and social activity (volunteer).
Keyword: elderly, social security, empowerment, psychosocial vulnerability
Pelayanan sosial dan jaminan sosial bagi lansia (PSJSLU)hingga tahun 2010 hanya mampu menjangkau 143.1311ansia (Direktorat PSLU,2010) dari ekspektasi melayani 2,4 juta jiwa lansia miskin dan terlantar (BPS, 2010). Keterbatasan kemampuan pemerintah dalam menyediakan PSJSLU bagi seluruh lansia, maka diperlukan terobosan baru untuk menjaga keberlanjutan kehidupan lansia. Salah satu alternatif untuk membantu lansia mengatasi kerentanan psikososial dan fisiknya melalui skema pemberdayaan. Kerentanan psikososiallansia meliputi aspek ekonomi, sosial dan psikologis sehingga perlu pemahaman komprehensif dalam merencanakan skema program bagi lansia. Pemberdayaan lansia membentuk pola aktivitas lansia yang bermanfaat mengisi waktu luang, menciptakan hubungan sosial, mengurangi perasaan kesendirian, menjaga hubungan timbal-balik antara lansia dengan lingkungannya, menambah pendapatan, menjaga eksistensi diri dan meningkatkan kapa~tas terkait kesehatan maupun ketrampilan lansia. Pola pemberdayaan yang dikembangkan harus mempertimbangkan beberapa aspek, seperti potensi karakter wilayah, struktur sosial demografi dan pelaku lintas generasi. Alternatif program pemberdayaan lansia melalui us aha produktif (panti dan non-panti) dan aktivitas sosial (sukarelawan).
Kata kunci: lansia, jaminan sosial, pemberday~an, kerentanan psikososia
PENGUATAN INDUSTRI BIBIT UNGGAS NASIONAL MELALUI PRODUKSIINDUKAN GAMA AYAM LOKAL UNGGUL
Chicks production in Indonesia is dominated by broiler. However Indonesia has many kind of local chicks, and one of them is pelung\u27s. Low local chicks productivity make local chicks meat supply is lower than broiler in Indonesia ♂chicks market. One way to increase local chicks productivity is to cross breeding between pelung\u27s and broiler. Previous breeding produce DOC that has increased weigth but has fenotipe like broiler. Hence backcross breeding was needed to obtain a chicks generation that has uniform fenotipe and good growth performance. The method was to backcrossed beetwen. ♀. BC, brownishx ♂F,redand ♀BC,old brown x ♂F, red. DOC thatproduce fromthis breeding was maintaincedfor 7weeks.Theresult of DOC average weigth from ♀BC,brownishx ♂F, red is 1129,6 gram and DOC average weigth from ♀BC, old brown x ♂F, red is 901,3gram. Entirety from ♀BC, brownish x ♂F,red birthchickshas 100%brown feathers with various colour like blackish brown, old brown and brownish black, while ♀BC,old brown x ♂F, red birth chicks has 50% brown and 50% black with various colour like brownish, old black and brownish black. ♀BC, brownish x ♂F, red DOC has various feet colour is 60% white and 40% yellow. While ♀BC, old brown x ♂F, red DOC has various feet colour is 40% white, 40% grey dan 20% yellow. It could be revealed that the breeding result increased a DOC weight with fenotipe like local chicks