UGM Journals, OAI Repository
Not a member yet
12430 research outputs found
Sort by
ASAS KESEIMBANGAN DALAM KONSEP RANCANGAN UNDANG- UNDANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA
Criminal law reform by replacing the old penal code is intended to ensure that the applicable criminal law is consisten with the value of Indonesian nation. Therefore. review and re-establishmelit of criminal law that is based on the central Indonesian values of socio-political, socio-philosophicai, and sociocultural must be conducted. In accordance with the Indonesian nation Socharacter who put individual and social interest in an equilibrium, a monodualistic balance must be the foundation of the concept of criminal action, criminal responsibility, and punishment.
Pembaharuan hukum pidana dengan mengganti KUHP yang lama dengan KUHP yang baru dimaksudkan agar hukum pidana yang berlaku sesuai dengan sistem nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia. Sehubungan dengan hal tersebut, pembaharuan hukum pidana dilakukan peninjauan dan pembentukan kembali hukum pidana yang sesuai dengan nilai-nilai sentral sosio-politik, sosio-filosofik, dan nilai-nilai sosio-kultural masyarakat Indonesia. Sesuai dengan karakter bangsa Indonesia yang menempatkan kepentingan inrlividu dan kepentingan sosial secara berimbang, maka keseimbangan monodualis mendasari pengaturan tentang perbuatan pidana, pertanggungjawaban, pidana dan pemidanaan
PEREMPUAN DAN BENCANA: MEMBERDAYAKAN POTENSI SOSIAL DAN EKONOMI PEREMPUAN KORBAN BANJIR LAHAR DINGIN MERAPI
This paper investigates the impacts of disaster to women in the nearby area. It specifically addresses women experience in post-Merapi eruption in Huntara (Hunian Sementara/Temporary Shelter) of Gempol Jumoyo village, lvf41gelang. The purpose of this paper is to explore women\u27s role in the disaster and to locate domains where women are mostly affected by it. It draws on a qualitative research conducted to a number of women in the Huntara. Data are collected from observation, in-depth interviews, as well as textual documents. The result of this research paper is that not only the disaster affects economic life of the victims, but also social and cultural dimension of the people. Through an investigation of three domains of women, group, work, and family, this study shows how disaster severely affects human life, as well as exposing the resilience of women in disaster area.
Paper ini menginvestigasi dampak beneana untuk wanita di daerah terdekat. Ini khusus membahas pengalaman perempuan pasea-Ietusan Merapi di huntara (Hunian Diperbaiki / Tempat Tinggal Sementara) dari Gempol Jumoyo des a di Magelang. Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengeksplorasi peran perempuan dalam bene ana dan untuk meneari domain di mana sebagian besar perempuan yang terpengaruh olehnya. Hal ini mengaeu pad a penelitian kualitatif dilakukan untuk sejumlah perempuan di huntara. Data dikumpulkan dari pengamatan, wawaneara mendalam, serta dokumen-dokumen tekstual. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa tidak hanya beneana mempengaruhi kehidupan ekonomi para korban, tetapi juga dimensi sosial dan budaya rakyat. Melalui penyelidikan dari tiga domain perempuan, kelompok, pekerjaan, dan keluarga, studi ini menunjukkan bagaimana beneana sangat mempengaruhi kehidupan manusia, serta mengekspos ketahanan perempuan di daerah benean
LINGKAR KUASA KEHIDUPAN KOMUNITAS PEMULUNG PANDESARI KOTA MALANG
Study of scavenger community of Pandesari, Malang becomes an importance research to describe deeply the social process the phenomena of scavenger is caused sometimes by local government\u27s policy neglects their condition. The urban people need residence and job, to avoid roverty many of than became scavenger. The scavengers are subordinated under the power of "boss". There are the sorter and the weigher who labored by the boss. There arefour results of the paper. The first result shows that the boss achieves power through the patron-client relationship. This relation places the scavengers as dependant to the boss. The second result shows that there has been exploitation occurred in scavenger community. The exploitation places the scavengers as the exploited faction, while the boss is the exploiting faction. The third result shows that the scavengers do resistance as the impact of the exploitation they suffer from. The fourth result is also criticism to Scott\u27s view in patron-client relationship that the sorter and the weigher are the members of community that are given a special authority from the elite power, with their role for strengthening the power of elite community. They are "the right hand" of elite coml11Jmity who should strengthen and protect power.
Penelitian mengenai komunitas pemulung Pandesari Kota Malang menjadi penting untuk menjelaskan secara mendalam proses sosial yang terjadi, karena pemerintah seringkali melupakan kondisi kdmunitas tersebut. Kaum urban ini membutuhkan pemukiman sekaligus pekerjaan yang membuat mereka bekerja sebagai pemulung. Dengan menjadi pemulung, mereka kemudian dijadikan faktor produksi oleh pengepul. Di samping pemulung, juga terdapat pemilah dan penimbang. Terdapat beberapa temuan dalam penelitian ini. Pertama, pengepul mendapatkan kekua~aannya melalui hubungan patron klien, yang menempatkan pemulung bergantung kepadanya. Kedua, terjadi eksploitasi dalam komunitas Pandesari, yang menempatkan pemulung sebagai golongan yang tereksploitasi, sedangkan pengepul yang mengeksploitasi. Ketiga, pemulung melancarkan perlawanan sebagai akibat dari eksploitasi yang diterimanya. Keempat, temuan penelitian sekaligus merupakan kritik terhadap pendapat ScoU, yang menunjukkan bahwa pemilah dan penimbang dengan wewenang khususnya merupakan "tangan kanan" elite komunitas. Tugas mereka adalah memperkuat dan melindungi kekuasaan
Faktor risiko obesitas pada ibu rumah tangga miskin = Obesity risk factors among poor housewives
Background: Food insecurity was associated with allocation of income for consumption of energy-dense foods that may cause obesity amongst poor family. In addition, low physical activity may lead to obesity, particularly among individual living in disadvantaged situation.
Objective: To identify the risk factors of obesity among poor housewives in Yogyakarta.
Method: This was a case control study, case group was obese housewives and the control group was non obese housewives. The locations of the study were Bumijo and Pringgokusuman which have high population density. The samples were taken purposively. Each groups consisted of 70 housewives (1:1) and were matched according to age. Mc.Nemar test and conditional logistic regression were used to identify the risk factors of obesity.
Results: There were no signifi cant differences in characteristics between the two groups. Food insecurity reached 91,43% in the control group, while the proportion of excessive energy intake in the case group was higher than in control group (37.86% Vs 24.29%). Excessive fat intake in the case group was found in 30% subjects, compared to 28.57% in the control group. Low physical activity was found in 40% of subjects in the case group, and 10% of subjects in the control group. The result of Mc.Nemar test showed that food insecurity, energy and fat intake were not signifi cantly associated with obesity (p>0.05). While physical activity was associated with obesity (p=0.0001). The result of conditional logistic regression revealed that physical activity was the dominant risk factor for obesity among poor housewives (R2 =0.1916).
Conclusion: Food security status was not a risk factor for obesity among poor housewives. Energy intake and fat intake contributed to the prevalence of obesity though the infl uence was weaker than physical activity
PENGARUH JUMLAH GIGI POSTERIOR RAHANG BAWAH DUA SISI YANGTELAH DICABUT DAN PEMAKAIAN GIGI TIRUAN SEBAGIANTERHADAP BUNYI SENDI
Latar Belakang: Sendi Temporomandibular didalam fungsinya sangat rumit dan ketika terjadi kelainan memerlukan perawatan yang sangat kompleks. Salah satu dari kelainan sendi tersebut adalah terjadinya bunyi sendi. Bunyi sendi terjadi akibat adanya perubahan pada komponen sendi.Salah satu perubahan ini dapat terjadi akibat adanya perubahan pola oklusi. Gigi yang telah dicabut khususnya gigi posterior dapat memicu perubahan pola oklusi dan berakibat terjadi kelainan pada sendi. Tujuan: Pengukuran pad a pasien dengan kasus kehilangan satu gigi atau dua gigi posterior yaitu molar satu atau molar satu dan molar dua, dua sisi rahang bawah, sebelum dan sesudah pemakaian gigi tiruan sebagian (GTS) diukur bunyi sendinya yang terdiri dari amplitudo (dB) dan frekuensinya (Hz) dengan alat ultra sonography yang telah dimodifikasi. Hasil yang didapat dianalisis dengan uji Anava dan LSD. Hasil yang didapat menunjukkan bahwa terdapat bunyi sendi yang terdiri amplitudo dan frekuensi pada sendi temporomandibular dari pasien kasus kehilangan gigi posterior rahang bawah dua sisi sebelum dan sesudah pemakaian GTS. Kesimpulan: Bunyi sendi dalam hal ini amplitudo dan frekuensi berbeda pada kasus kehilangan gigi posterior rahang bawah. Kehilangan dua molar bunyi sendi akan lebih tinggi dibandingkan dengan kehilangan satu gigi molar. Pemakaian gigi tiruan sebagian untuk mengembalikan oklusi ,dapat menurunkan bunyi sendi. Maj Ked GiJuni 201219(1): 5-
PROSES SOL-GEL DALAM PEMBUATAN HIBRIDA MERKAPTO-SILIKA UNTUK ADSORPSI ION CU(II) DALAM LARUTAN = (Sol-Gel Process in Synthesis of Mercapto-Silica Hybrid for Adsorption of Cu(II) ion in Solution)
Hibrida merkapto-silika (HMS) telah disintesis melalui proses sol-gel dengan prekursor tetraetil ortosilikat (TEOS). Adsorben HMS dikarakterisasi meliputi gugus fungsional menggunakan spektrofotometer inframerah (IR) dan morfologi permukaan dengan scanning electron microscopy (SEM). Karakteristik adsorpsi HMS terhadap ion Cu(II) dalam larutan optimum pada pH 5 dan mengikuti pola isoterm adsorpsi Langmuir. Harga kapasitas adsorpsi HMS terhadap ion Cu(II) lebih besar dari silika gel (SG) tanpa modifikasi dengan 3-merkaptopropiltrimetoksisilan (3-MPTMS). Data kapasitas adsorpsi menunjukkan bahwa perbandingan komposisi jumlah volume reaktan optimal dengan perbandingan volume: TEOS, etanol, air, dan 3-MPTMS I : 1 : 1 : 0,2.
Mercapto-silica hybrid (HMS) has been synthesized through a sol gel process with a precursor of tetraethyl orthosilicate (TEOS). The HMS adsorbent was characterized using an infrared spectrophotometer (IR) to identify its functional groups and a scanning electron microscopy (SEM) to characterize its surface morfology. Adsorption characteristic of HMS upon Cu(II) ion in solution is optimum at pH 5 and it follows a Langmuir adsorption isotherm model. Adsorption capacity value of HMS upon Cu(II) ion is higher than adsorption capacity value of silica gel (SG) without modification with (3-mercaptopropyl)trimethoxysilane (3-MPTMS). The adsorption capacity data show that composition ratio of reactant volume amount is optimum with volume ratio: TEOS. ethanol. water. and 3-MPTMS: I : I : I : 0.2
DISTRIBUTION AND ABUNDANCE OF MANGROVE VEGETATION IN THE DISTURBED ECOSYSTEM OF SEGARA ANAKAN, CENTRAL JAVA = (Distribusi dan Kemelimpahan Vegetasi Bakau di Ekosistem Hutan Rusak Segara Anakan Jawa Tengah)
The Segara Anakan mangrove from 1980 up to the present has experienced heavy siltations and mangrove-tree cutting. The siltation of 4.5 million tons per year from the watershed of Citanduy River create a lot of newly formed land and shoals, which disturbed the pattern of tidal flow and tide periods. In 1997 large areas of mangroves were converted to shrimp ponds which failed and were abandon. The purpose of this research was to study the response of mangrove vegetation to the changing of the Segara Anakan ecosystem. This study compared the area which experienced only heavy siltation and tree cutting with the area experienced only tree cutting. The transect methods with quadrate plots were used in collecting data. The results showed that there were 16 species of mangrove and one aquatic macrophyte.
Almost all of the areas were colonized by the shrub, Acanthus ilicifolius, and liana-shrub, Derris heterophylla. Both of these species had r and k strategies, which had coverage almost 100%, and had consecutive 83583 and 23938 densities shrubs per ha. The dominant tree species were Sonneratia alba with 485 trees per hectare and Avicennia alba with 203 trees per hectare. However, the distribution and abundance of mangrove trees were determined by the tree cutting activities, and they were not determined by the high siltation rate and salinity. The combination between heavy siltation, mangrove tree cutting, land clearing and the climate change worsen the Segara Anakan mangrove ecosystem. Therefore, the mangrove of Segara Anakan was a critically endangered ecosystem.
Hutan bakau Segara Anakan sejak tahun J980 sampai sekarang mengalami siltasi yang sangat tinggi dan penebangan pohon bakau. Setiap tahunnya menerima 4,5 juta ton sedimen dari daerah tangkapan air Citanduy, dan mengakibatkan terbentuknya pulau-pulau baru dan dangkalan di lagunanya. Keadaan ini telah mengganggu pola arus dan pasang surut. Pada tahun J997, hutan bakau tersebut dalam skala luas telah diubahjadi tambak udang, akan tetapi tidak berhasil dan ditinggalkan sebagai tambak rusak.
Tujuan penelitian ini mempelajari respon vegetasi hutan bakau terhadap perubahan ekosistem Segara Anakan, dengan membandingkan lokasi hutan bakau yang megalami silatasi berat dan penebangan pohon bakau dengan lokasi yang hanya ditebang pohon bakaunya saja. Metode yang digunakan adalah kuadrat plot dengan bantuan garis transek. Hasil menunjukkan bahwa ada 16 jenis mangrove dan satu akuatik makrophyta. Hampir seluruh hutan bakau dikoloni oleh semak dan liana bakau, Acanthus ilicifolius, dan Derris heterophylla dengan penutup hampir J00%. Densitasnya berurutan adalah 83583 and 23938 per ha. Ke dua spesies tersebut bersifat r dan K strategi. Pohon dominan Sonneratia alba adalah 485 per ha, dan Avicennia alba with 203. Distribusi spesies pohon bakau ditentukan oleh aktivitas penebangan pohon, bukan oleh sedimentasi dan salinitas. Kombinasi antara silatasi yang tinggi, penebangan pohon bakau, dan perubahan iklim telah memperburuk kondisi hutan bakau, sehingga hutan bakau Segara Anakan dapat dikate~orikan sebagai ekosistem terancam kritis
HUBUNGAN ANTARA ROTASI MANDIBULA DENGAN PERUBAHAN TINGGI MUKA ANTERIOR DAN POSTERIOR (Pendekatan Sefalometri Sebelum dan Sesudah Perawatan Maloklusi Kelas II Skeletal dengan Teknik Begg)
Pola morfogenik muka dan prosedur perawatan ortodontik sangat berpengaruh pada kedudukan
mandibula. Faktor yang mendukung keberhasilan perawatanmaloklusi kelas II selain gerakan gigi adalah adanyadukungan reaksi mandibulayang akan mempengaruhi perubahan dimensi. vertikal muka. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara rotasi mandibula dengan perubahan tinggi muka anterior dan posterior pada pasien yang dirawat ortodontik dengan teknik Begg. Penelitian ini dilakukan pada sefalogram lateral dari 30 subyek perempuan dan 5 subyek laki-Iaki dengan rentang usia 17-25 tahun dengan maloklusi kelas II skeletal. Seluruh subyek dirawat dengan teknik Begg disertai
pencabutan 4 gigi premolar pertama. Pengambilan dan pengukuran sefalogram lateral dilakukan sebelum dan sesudah perawatan. Pengukuran anguler dilakukan untuk evaluasi sudut Y-axis dan pengukuran linear untuk evaluasi tinggi muka ant~rior dan posterior. Data yang diperoleh dianalisis dengan statistik regresi dan korelasi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan positip antara rotasi mandibula dengan perubahan tinggi muka anterior (
ISOLASI DAN KARAKTERISASI LESITIN KELAPA DAN WIJEN
Lesitin merupakan senyawa ampifil alam yang mempunyai struktur unik. Molekul-molekullesitin dapat beragregasi membentuk suatu struktur sistem pembawa yang disebut liposom dan berguna pada penghantaran bahan-bahan aktif pada obat, makanan dan kosmetika. Lesitin yang selama ini digunakan pada umumnya berasal dari kedelai dan telur. Upaya penelitian telah dilakukan untuk mencari altematif sumber lesitin baru yang berasal dari kelapa dan wijen.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakter lesitin tumbuhan yang berasal dari kelapa dan wijen. Isolasi lesitin dilakukan dengan cara ekstraksi solven menggunakan campuran kloroform-metanol (2:1). Sedangkan karakterisasi meliputi pengujian dengan TLC, FTIR dan GCMS. Hasil menunjukkan bahwa lesitin kelapa dan wijen adalah lesitin dari golongan sefalin dengan gugus hidrofilnya berupa etanolamin. Bagian lipofil untuk lesitin kelapa adalah Cl2 dan C8, dan untuk lesitin wijen bagian lipofilnya adalah C18:1 dan CI8:0
LEMBAGA DAN FUNGSI PENGAWASAN PERBANKAN DI INDONESIA
Currently banking supervision in Indonesia is still considered weak. One of the causes that lead to the weak supervision in the banking sector is closely related with the institution and the function of banking supervision itself. This article discusses the present and future state of the institution and the function of banking supervision. This article concludes that Bank Indonesia in its function of banking supervision is not fully independent, whereas there is no conflict of interest among its functions. Moreover, in the future, the Financial Services Authority (FSA) will become the institution taking over this function of banking supervision, even though the reason behind the formation of FSA in banking supervision is
still weak.
Keywords: rights management, state of land