Walisongo State Islamic University

Walisongo Institutional Repository
Not a member yet
    26964 research outputs found

    Penyelenggaraan tradisi haul Syekh Ahmad Mutamakkin di Desa Kajen Kecamatan Margoyoso Kabupaten Pati dalam perspektif actuating dakwah

    Full text link
    Tradisi haul merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya keagamaan yang memiliki nilai dakwah yang kuat. Tradisi haul yang diselenggarakan setiap tahun ini bukan hanya bentuk penghormatan terhadap tokoh ulama lokal, tetapi juga menjadi strategi dalam menggerakkan dakwah Islam di tengah masyarakat. Tradisi haul ini menyampaikan pesan-pesan dakwah dalam berbagai bentuk kegiatan seperti tahlilan, manaqiban, pengajian umum, hingga takhtimul Qur’an. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penyelenggaraan tradisi haul Syekh Ahmad Mutamakkin di Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati, dari perspektif actuating dalam manajemen dakwah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi lapangan melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi haul Syekh Ahmad Mutamakkin dilaksanakan setiap satu tahun sekali pada tanggal 5 sampai 11 muharram. Tradisi ini tidak hanya menjadi ajang penghormatan kepada tokoh ulama karismatik, tetapi juga menjadi sarana penggerakan umat menuju nilai-nilai keislaman yang lebih baik. Dalam perspektif actuating dakwah, pelaksanaan haul berhasil menggerakkan berbagai elemen masyarakat, baik individu maupun kelompok, untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan religius dan sosial. Adanya penggerakan akan mendorong agar penyelenggaraan tradisi haul Syekh Ahmad Mutamakkindapat berjalan dengan baik. Beberapa hal yang mendukung dalam proses penyelenggaraan tradisi haul Syekh Ahmad Mutamakkin seperti motivasi atau dorongan, bimbingan dan pengaraahan. Dalam pengaraan dalam penyelenggaraan tradisi haul dilaksanakan secara berkomunikasi langsung kepada pihak-pihak yang bersangkutan. Pengorganisasian yang matang, kepemimpinan spiritual yang kuat, dan motivasi keagamaan menjadi faktor utama dalam keberhasilan pelaksanaan haul ini sebagai media dakwah yang efektif dan berkelanjutan. Tradisi ini terbukti mampu membangkitkan kesadaran kolektif, memperkuat ukhuwah Islamiyah, serta merevitalisasi semangat keagamaan masyarakat setempat. Dengan adanya nilai-nilai positif dalam pelaksanaan tradisi ini memberikan dampak terhadap masyarakat seperti dalam bidang keagamaan, sosial dan ekonom

    Strategi pemasaran halal food dalam meningkatkan pengunjung di destinasi wisata religi Sam Poo Kong Semarang

    Full text link
    Indonesia berhasil meraih posisi teratas sebagai destinasi wisata ramah Muslim terbaik menurut Global Muslim Travel Index (GMTI) selama dua tahun berturut-turut. Hal ini mencerminkan adanya upaya nyata dalam menyediakan fasilitas bagi wisatawan Muslim yang salah satunya yaitu ketersediaan makanan halal. Untuk itu, dalam penelitian ini, peneliti tertarik melakukan penelitian mendalam terhadap Sam Poo Kong yang menjadi salah satu destinasi unggulan yang menggabungkan nilai sejarah, budaya, dan religi yang membuat banyak wisatawan tertarik berkunjung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi pemasaran halal food yang diterapkan, menganalisis, dan mengevaluasi strategi pemasaran halal food dalam meningkatkan pengunjung di destinasi Sam Poo Kong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan menggunakan teknik pengum pulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi dengan informan- informan yang relevan seperti, pengelola, pedagang, dan wisawtan yang berkunjung. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa destinasi wisata religi Sam Poo Kong sudah menerapkan strategi pemasaran halal food dalam meningkatkan pengunjung secara efektif meskipun masih terdapat beberapa catatan. Strategi ini mencangkup aspek produk, harga, tempat, dan promosi yang menekankan nilai- nilai kehalalan dan thayyib, serta dapat memenuhi kebutuhan wisatawan khususnya wisatawan Muslim. Selain itu, penyelenggaraan event atau bazar kuliner menjadi salah satu srategi pemasran yang terbukti efektif menarik minat wisatawan. Dengan strategi yang sudah diterapkan, menghasilkan citra positif sebagai destinasi ramah Muslim, memberikan rasa nyaman bagi wisatawan Muslim, dan meningkatkan durasi kunjungan yang terbukti menjadi kekuatan utama dalam meningkatkan pengunjun

    Dampak cosplay terhadap interaksi sosial cosplayer di Kota Semarang

    Full text link
    Cosplay adalah sebuah budaya populer yang berasal dari Jepang dan kemudian menjamur di penjuru dunia termasuk Indonesia. Budaya ini begitu mudah diterima masyarakat karena sifatnya yang leluasa dan tidak mengekang memunculkan banyak komunitas penggiatnya, salah satunya adalah Komunitas Cosplay Semarang yang menjadikan cosplay simbol atau bentuk interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran cosplay sebagai bentuk interaksi dan dampaknya terhadap interaksi sosial cosplayer di Komunitas Cosplay Semarang. Penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan, menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode kualitatif. Sumber data dari penelitian ini adalah primer dan sekunder, yaitu data yang didapatkan langsung oleh peneliti melalui wawancara dengan informan dan hasil observasi. Kemudian data sekunder adalah data yang didapatkan melalui artikel, buku, berita, dan jurnal. Penelitian ini menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa cosplay berperan sebagai basis interaksi sosial, penumbuh solidaritas dan sifat kompetitif, pembentuk kelompok, pencipta relasi sosial, serta penerapan struktur sosial dan kerja sama kelompok. Ada pula dampaknya pada interaksi sosial cosplayer yaitu meningkatkan komunikasi, memperkuat rasa kolaborasi dan kerja sama, dan memperluas relasi sosial. ABSTRACT: Cosplay is a popular culture originating from Japan that has subsequently spread throughout the world, including Indonesia. This culture is readily embraced by the public due to its flexible and unrestrictive nature, leading to the emergence of numerous enthusiast communities, one of which is the Cosplay Community of Semarang, which utilizes cosplay as a symbol or form of social interaction. This research aims to understand the role of cosplay as a form of social interaction and its impact on the social skills of cosplayers within the Cosplay Community of Semarang. This research utilized field research, with descriptive approach, using a qualitative method. The data sources for this study are primary and secondary, namely data obtained directly by the researcher through informants and observation results, and secondary data obtained from articles, books, news, and journals. This research utilizes observation, interviews, and documentation as data collection techniques. The findings of this research indicate that cosplay functions as a basis for social interaction, fostering solidarity and competitiveness, facilitating group formation, creating social networks, and applying social structures and group cooperation. Furthermore, its impact on the social interaction abilities of cosplayers includes enhancing communication, strengthening collaboration and cooperation, and expanding social networks

    Fenomena penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja : kajian dalam film Big Vape: the Rise and Fall of Juul

    Full text link
    Perilaku merokok elektrik di kalangan remaja disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya: pengaruh teman sebaya, lingkungan keluarga, iklan hingga media sosial. Selain itu, hal tersebut terjadi dikarenakan semakin populernya produk rokok elektrik dengan desain menarik dan dinilai lebih aman dari rokok tradisional. Namun kepopuleran tersebut justru mendorong fenomena kecanduan yang parah. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini membahas mengenai gambaran penggunaan rokok elektrik di kalangan remaja dan dampak penggunaan rokok elektrik terhadap remaja dalam film dokumenter “Big Vape”. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Jenis penelitian ini ialah analisis konten dengan menggunakan film dokumenter sebagai objek penelitiannya. Data diperoleh dari sumber primer dan sekunder. Sumber primer berdasarkan pada data dari film meliputi narasi dan dialog penting dari tokoh remaja yang menngunakan rokok elektrik serta beberapa tokoh tambahan. Teknik pengumpulan data melalui studi pustaka, observasi film, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan mereduksi data, menyajikan data, kemudian menarik kesimpulan. Analisis data pada penelitian ini menggunakan Teori Sirkuit Budaya Stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk penggunaan rokok elektrik meliputi: popularitas produk di kalangan remaja yang dikaitkan dengan desain produk dan varian rasa, representasi visual dan representasi remaja perokok elektrik serta pembentukan identitas sosial. Sementara itu, dampak penggunaan rokok elektrik terhadap remaja dalam film terdiri dari: dampak pemasaran dengan peningkatan rokok elektrik dan penurunan rokok tradisional, dampak kesehatan seperti kecanduan rokok elektrik dan penyakit paru-paru; serta dampak sosial yakni normalisasi perilaku merokok dan penggunaan nikotin hingga aksi demonstrasi dan penetapan regulasi terkait rokok elektrik. ABSTRACT: The behavior of e-cigarettes among adolescents is caused by several factors including: peer influence, family environment, advertising and social media. In addition, this occurs due to the increasing popularity of e-cigarette products with attractive designs and are considered safer than traditional cigarettes. However, this popularity actually encourages the phenomenon of severe addiction. Based on this background, this study discusses the description of e-cigarette use among adolescents and the impact of e-cigarette use on adolescents in the documentary film "Big Vape". This study uses a qualitative research method with a descriptive approach. This type of research is content analysis using documentary films as the object of research. Data were obtained from primary and secondary sources. Primary sources are based on data from films including important narratives and dialogues from teenage characters who use e-cigarettes and several additional characters. Data collection techniques through literature studies, film observations, and documentation. Data analysis is carried out by reducing data, presenting data, then drawing conclusions. Data analysis in this study uses Stuart Hall's Cultural Circuit Theory. The results of the study show that the forms of e-cigarette use include: product popularity among adolescents which is associated with product design and flavor variants, visual representation and representation of adolescent e-cigarette smokers and the formation of social identity. Meanwhile, the impact of e-cigarette use on teenagers in the film consists of: marketing impacts with an increase in e-cigarettes and a decrease in traditional cigarettes, health impacts such as e-cigarette addiction and lung disease; and social impacts, namely the normalization of smoking behavior and nicotine use to demonstrations and the establishment of regulations related to e-cigarettes

    Rekonstruksi sosial stigma mantan narapidana : kajian terhadap karakter ridho dalam film series “12 Hari”

    Full text link
    Rekonstruksi sosial merupakan upaya individu atau kelompok untuk mengubah persepsi, sikap, dan perilaku masyarakat. Sedangkan stigma diartikan sebagai penilaian negatif yang diberikan kepada seseorang atau kelompok tertentu berdasarkan ciri tertentu. Stigma terhadap mantan narapidana sering kali menjadi penghalang dalam proses reintegrasi mereka ke masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk memahami dampak yang dialami setelah menjalani masa hukuman di lembaga pemasyarakatan dan cara mengatasi stigma sosial sebagai mantan narapidana. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian media (media research) dengan metode kualitatif dan menggunakan pendekatan deskriptif yang akan mendeskripsikan suatu keadaan tertentu secara sistematis dan aktual. Penelitian ini menggunakan dua jenis data yaitu data primer berupa film series Indonesia berjudul “12 Hari” dan data sekunder yang digunakan berasal dari jurnal, buku, dan website. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa observasi non partisipan dan dokumentasi. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik analisis isi (content analysis) yang meliputi beberapa prosedur berupa mengidentifikasi unit sampel, unit pencatatan, unit konteks, dan membuat kesimpulan berdasarkan hasil pembahasan. Penelitian ini menggunakan teori konstruksi sosial Peter L Berger dan Thomas Luckmann untuk menggambarkan rekonstruksi sosial stigma mantan narapidana. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dampak setelah menjalani masa hukuman yang dialami Ridho berakar dari persepsi masyarakat Kampung Bangor yang memandangnya sebagai ancaman atau tanda bahaya yang menimbulkan perlakuan diskriminatif dan penolakan. Ridho juga mengalami dampak secara emosional berupa kecemasan dan trauma yang menyebabkan Ridho merasa terasingkan dan tidak berharga. Adapun cara mengatasi stigma sebagai narapidana yaitu melalui proses rekonstruksi sosial dengan cara penerimaan diri, perubahan sikap dan perilaku, serta adanya edukasi dan kesadaran. Dalam film ini Ridho membuktikan perubahan positif seperti tidak ingin terlibat kembali di dunia kejahatan serta berani berinteraksi di lingkungannya, sehingga menghasilkan pandangan orang-orang di sekitarnya berubah. Adanya hal tersebut, masyarakat Kampung Bangor sudah memahami pentingnya dukungan sosial dan kesempatan kedua untuk seorang mantan narapidana.   ABSTRACT: Social reconstruction is an effort by individuals or groups to change the perceptions, attitudes, and behaviors of society. Whereas stigma is defined as a negative judgment given to an individual or certain group based on specific characteristict. Stigma against former prisoners often becomes an obstacle in their reintegration process into society. This research aims to understand the impact experienced after serving his sentence in a correctional facility and how copes with the social stigma as an ex-convict. This research uses the type of media research with a qualitative method and employs a descriptive approach that will systematically and accurately describe a certain condition. This research uses two types of data, namely primary data in the form of the Indonesian film series titled “12 Hari” and secondary data sourced from journals, books, and websites. The data collection techniques used in the research include non-participant observation and documentation. The data analysis technique in this study uses content analysis, which includes several procedures such as identifying the sample unit, recording unit, contect unit, and drawing conclusions based on the discussion results. This research is analyzed using the social construction theory of Peter L. Berger and Thomas Luckmann to describe the social reconstruction of the stigma of former convict. The results of this study indicate that the impact after serving his sentence experienced by Ridho is rooted in the perception of the Kampung Bangor community, which views him as a threat or danger, leading to discriminatory treatment and rejection. Ridho also experienced emotional impacts in the form of anxiety and trauma, which made him feel alienated and worthless. The way to overcome the stigma of being an inmate through a process of social reconstruction by means which of self-acceptance, attitudes and behaviors changes, as well as education and awareness. In this film, Ridho demonstrates positive changes such as not wanting to get involved in the world of crime again and being brave enough to interact in his environment, which results in a change in the perceptions of those around him. With his, the people of Kampung Bangor have understood the importance of social support and a second chance for an ex-convict

    Mobilisasi sumber daya komunitas dalam pendidikan anak : studi pada Komunitas Senyum Anak Nusantara Chapter Semarang

    Full text link
    Mobilisasi sumber daya komunitas dalam pendidikan anak menjadi strategi penting dalam mendukung anak-anak yang kurang mendapatkan pendidikan dari sektor formal. Dalam hal ini, kontribusi komunitas memiliki peran dalam memperluas akses pendidikan alternatif yang berkualitas. Upaya Komunitas Senyum Anak Nusantara sejalan dengan salah satu poin Sustainable Development Goals (SDG’s) yaitu menjamin kualitas pendidikan yang inklusif dan merata. Penelitian ini mengkaji bagaimana Komunitas Senyum Anak Nusantara Chapter Semarang memobilisasi sumber daya untuk mendukung pendidikan anak. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi bentuk sumber daya yang dimiliki komunitas dan menganalisis pengelolaan sumber daya yang dimilikinya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data yang diperoleh terdiri dari data primer yang didapatkan oleh peneliti secara langsung tanpa pihak ketiga. Kemudian, menggunakan data sekunder yang bersumber melalui pihak ketiga seperti melalui penelitian terdahulu atau literatur mengenai mobilisasi sumber daya. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara tidak terstruktur, serta dokumentasi. Lebih lanjut, analisis data dilakukan dengan menggunakan model Miles dan Huberman meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Peneliti menyajikan data yang bersumber dari lapangan dengan menggunakan analisis teori Mobilisasi Sumber Daya milik Oberschall. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Komunitas Senyum Anak Nusantara Chapter Semarang memiliki empat bentuk sumber daya utama yang dimobilisasi, yaitu sumber daya manusia, sumber daya moral, sumber daya organisasi-sosial dan sumber daya material. Sumber daya manusia meliputi eksistensi relawan sebagai modal komunitas, sementara sumber daya moral berakar pada nilai sosial yang dimiliki. Kemudian, sumber daya organisasi-sosial terwujud dalam bentuk jaringan serta struktur sosial, sedangkan sumber daya material berupa modal fisik dan fasilitas belajar. Lebih lanjut, pengelolaan sumber daya dilakukan melalui berbagai strategi. Pengelolaan sumber daya manusia utamanya dengan melaksanakan rekrutmen agar sumber daya manusia tercukupi, sedangkan penguatan sumber daya material dilaksanakan dengan internalisasi nilai-nilai kepada relawan. Kemudian, pemanfaatan dan pengembangan sumber daya organisasi-sosial dilaksanakan dengan memanfaatkan media sosial sebagai alat mobilisasi, sementara optimalisasi sumber daya material dilaksanakan dengan memaksimalkan pemanfaatan sarana prasarana serta sumber dana yang ada. ABSTRACT: Mobilization of community resources in children's education is an important strategy in supporting children who do not receive education from the formal sector. This is because community contributions can expand access to quality alternative education. The efforts of the Senyum Anak Nusantara Community are in line with one of the points of the Sustainable Development Goals, namely ensuring inclusive and equitable quality education. This study examines how the Senyum Anak Nusantara Community, Semarang Chapter, mobilizes resources to support children's education. The purpose of this study is to identify the form of resources owned by the community and analyze the management of the resources it has. This study uses a qualitative method with a descriptive approach. The data obtained consists of primary data obtained by researchers directly without third parties. Then, using secondary data sourced through third parties such as through previous research or literature on resource mobilization. Data collection techniques are carried out through observation, unstructured interviews, and documentation. Furthermore, data analysis is carried out using the Miles and Huberman model including data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Researchers present data sourced from the field using Oberschall's Resource Mobilization theory analysis. The results of the study show that the Senyum Anak Nusantara Community, Semarang Chapter, has four main forms of resources that are mobilized, namely human resources, moral resources, organizational-social resources and material resources. Human resources include the existence of volunteers as community capital, while moral resources are rooted in the social values they have. Then, organizational-social resources are manifested in the form of social networks and structures, while material resources are in the form of physical capital and learning facilities. Furthermore, resource management is carried out through various strategies. Human resource management is mainly carried out by carrying out recruitment so that human resources are sufficient, while strengthening material resources is carried out by internalizing values to volunteers. Then, the utilization and development of organizational-social resources is carried out by utilizing social media as a mobilization tool, while optimization of material resources is carried out by maximizing the utilization of existing infrastructure and funding sources

    Laki-laki dalam keluarga pekerja migran perempuan : studi kasus Desa Banyuurip, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal

    Full text link
    Laki-laki dalam keluarga pekerja migran perempuan di Desa Banyuurip, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, mengalami pergeseran peran gender. Kebutuhan ekonomi mendorong perempuan bekerja sebagai tenaga migran, sedangkan laki-laki yang ditinggalkan harus mengambil alih tanggung jawab domestik dan pengasuhan anak. Dalam masyarakat yang masih memegang kuat norma patriarki, perubahan ini sering kali menimbulkan tekanan sosial bagi laki-laki yang menjalankan tugas rumah tangga, seperti memasak, mencuci, dan mendidik anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami tantangan yang dihadapi laki-laki dalam peran domestik, serta upaya yang mereka lakukan untuk beradaptasi dan dampak dari upaya adaptasi yang dilakukan. Adapun permasalahan ini dikaji melalui perspektif sosiologi dengan teori gender Mansour Fakih. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan. Sumber data dalam penelitian terdapat dua sumber antara lain sumber data primer dan sekunder. Teknik pengambilan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dalam prosesnya, peneliti melakukan wawancara mendalam dengan lima informan yang terdiri dari laki-laki sebagai pekerja domestik rumah tangga keluarga pekerja migran perempuan. Adapun data yang telah diperoleh dari penelitian ini dianalisis dengan analisis data induktif melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa laki-laki dalam keluarga pekerja migran perempuan mengalami perubahan akibat migrasi ekonomi istri mereka. Laki-laki yang ditinggalkan harus mengambil alih tanggung jawab domestik dan pengasuhan anak, meskipun norma patriarki masih membatasi penerimaan sosial terhadap peran tersebut. Mereka menghadapi tantangan dalam menjalankan tugas rumah tangga seperti memasak, mencuci, dan mendidik anak, serta mengalami tekanan sosial akibat stigma terhadap laki-laki yang mengerjakan pekerjaan domestik. Selain itu, ketergantungan finansial pada remitansi istri memunculkan dilema psikologis terkait peran sebagai kepala keluarga. Untuk mengatasi tantangan ini, laki-laki menerapkan strategi adaptasi seperti belajar keterampilan domestik secara mandiri, membangun dukungan sosial dengan keluarga atau komunitas, mengelola keuangan secara bijak, dan mencari pekerjaan tambahan guna mengurangi ketergantungan pada penghasilan istri. Upaya adaptasi ini berdampak pada perubahan dinamika rumah tangga, di mana laki-laki mulai lebih aktif dalam pengasuhan anak dan pengelolaan domestik, menciptakan fleksibilitas peran gender dalam keluarga. Namun, mereka tetap menghadapi stigma sosial yang menganggap keterlibatan laki-laki dalam tugas domestik sebagai penyimpangan dari norma maskulinitas serta tantangan ekonomi yang memerlukan ketahanan dan adaptasi berkelanjutan. ABSTRACT: Men in families of female migrant workers in Banyuurip Village, Ngampel District, Kendal Regency, experience a shift in gender roles. Economic demands drive women to work as migrant laborers, while the men left behind must take on domestic responsibilities and childcare. In a society that still strongly upholds patriarchal norms, this change often creates social pressure on men who take on household tasks such as cooking, washing, and educating children. The purpose of this study is to understand the challenges faced by men in domestic roles, as well as the efforts they make to adapt and the impact of these adaptation efforts. This issue is examined through a sociological perspective using Mansour Fakih’s gender theory. This research uses a qualitative method with a descriptive approach. The type of research conducted is field research. There are two sources of data in this study: primary and secondary data sources. The data collection techniques used include observation, interviews, and documentation. In the process, the researcher conducted in-depth interviews with five informants, consisting of men as domestic workers in the households of female migrant workers. The data obtained from this research were analyzed using an inductive data analysis approach through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawing. The results of this study indicate that men in families of female migrant workers experience changes due to their wives’ economic migration. The men left behind must take over domestic responsibilities and child-rearing, despite patriarchal norms still limiting social acceptance of these roles. They face challenges in performing household tasks such as cooking, washing, and educating children, as well as social pressure due to the stigma against men engaging in domestic work. Additionally, financial dependence on their wives' remittances creates a psychological dilemma regarding their role as the head of the family. To overcome these challenges, men adopt adaptation strategies such as independently learning domestic skills, building social support with family or the community, managing finances wisely, and seeking additional employment to reduce reliance on their wives’ income. These adaptation efforts impact household dynamics, where men become more actively involved in childcare and domestic management, creating greater gender role flexibility within the family. However, they still face social stigma that perceives male involvement in domestic tasks as a deviation from masculinity norms, as well as economic challenges that require resilience and continuous adaptation

    Pengaruh pemahaman, lokasi dan biaya administrasi terhadap keputusan masyarakat untuk menjadi nasabah bank syariah : studi kasus masyarakat Kecamatan Ngaliyan Kota Semarang

    Full text link
    Pemahaman masyarakat Indonesia mengenai perbankan syariah masih terbatas, sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan literasi keuangan syariah agar bisa bersaing dengan bank konvensional. Salah satu strategi kunci adalah dengan memperbanyak jaringan cabang perbankan syariah. Faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan bank syariah dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu faktor internal seperti usia, pekerjaan, gaya hidup, dan tingkat pemahaman individu, serta faktor eksternal seperti pengaruh keluarga dan norma budaya. Dalam penelitian ini, data dikumpulkan melalui kuesioner yang diisi oleh 100 responden dari masyarakat Kecamatan Ngaliyan menggunakan teknik non-probability sampling. Metode analisis data meliputi uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik (uji normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas), analisis regresi linier berganda, serta uji hipotesis (uji t, uji F, dan koefisien determinasi) dengan bantuan SPSS versi 22. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat mereka menjadi nasabah bank syariah. Demikian pula, lokasi dan biaya administrasi juga memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat masyarakat. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 58% menunjukkan bahwa variabel independen dalam penelitian ini mampu menjelaskan 58% variasi minat masyarakat, sementara sisanya 42% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam studi ini. ABSTRACT: Indonesian people's understanding of sharia banking is still limited, so efforts are needed to increase sharia financial literacy so they can compete with conventional banks. One of the key strategies is to expand the sharia banking branch network. Factors that influence the use of Islamic banks can be divided into two categories, namely internal factors such as age, work, lifestyle and individual level of understanding, as well as external factors such as family influence and cultural norms. In this research, data was collected through questionnaires filled out by 100 respondents from the Ngaliyan District community using non-probability sampling techniques. Data analysis methods include validity tests, reliability tests, classic assumption tests (normality, multicollinearity, and heteroscedasticity tests), multiple linear regression analysis, and hypothesis tests (t test, F test, and coefficient of determination) with the help of SPSS version 22. The research results show that public understanding has a positive and significant effect on their interest in becoming sharia bank customers. Likewise, location and administrative costs also have a positive and significant influence on public interest. The coefficient of determination (R²) value of 58% indicates that the independent variables in this study are able to explain 58% of variations in people's interests, while the remaining 42% is influenced by other factors not examined in this study

    Pengaruh sharia financial literacy, product knowledge, dan disposable income terhadap minat menabung pada bank syariah : studi kasus pada pelaku UMKM di Kabupaten Jepara

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sharia financial literacy, product knowledge, dan disposable income terhadap minat menabung pada bank syariah, dengan studi kasus pada pelaku UMKM di Kabupaten Jepara. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dengan metode purposive sampling. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 100 responden dari total populasi 81.909 pelaku UMKM yang ada di Kabupaten Jepara. Teknik analisis data dilakukan dengan menggunakan uji regresi linier berganda melalui bantuan perangkat lunak SPSS versi 21. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ketiga variabel independen, yaitu sharia financial literacy, product knowledge, dan disposable income, berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap minat menabung. Hal ini dibuktikan dari nilai t hitung masing-masing variabel yang lebih besar dari t tabel (1,984), yaitu 4,283 untuk sharia financial literacy, 2,455 untuk product knowledge, dan 3,274 untuk disposable income. Selain itu, hasil uji simultan (uji F) menunjukkan bahwa nilai F hitung sebesar 45,812 lebih besar dari F tabel sebesar 2,70, yang berarti seluruh variabel secara bersama-sama berpengaruh signifikan. Nilai Adjusted R² sebesar 0,576 menunjukkan bahwa 57,6% variabel minat menabung dapat dijelaskan oleh ketiga variabel tersebut. ABSTRACT: This study aims to determine the influence of sharia financial literacy, product knowledge, and disposable income on the intention to save in Islamic banks, with a case study of MSME actors in Jepara Regency. The research uses a quantitative approach with purposive sampling as the sampling method. The sample consists of 100 respondents selected from a total population of 81,909 MSME actors in Jepara Regency. Data analysis was conducted using multiple linear regression tests with the assistance of SPSS version 21. The results of the study indicate that the three independent variables sharia financial literacy, product knowledge, and disposable income—have a positive and significant influence on the intention to save. This is evidenced by the t-count values of each variable, which are greater than the t-table value (1.984), namely 4.283 for sharia financial literacy, 2.455 for product knowledge, and 3.274 for disposable income. In addition, the simultaneous test (F-test) shows that the F-count value of 45.812 is greater than the F-table value of 2.70, indicating that all variables collectively have a significant effect. The Adjusted R² value of 0.576 indicates that 57.6% of the variation in saving intention can be explained by these three variables

    Harnessing critical cultural competence as a pedagogical strategy through ICT-based learning in sociopragmatic class

    Full text link
    This study explores students' awareness of sociopragmatic elements namelypoliteness strategies, speech acts, andinference in ICT-basedlearningthatcontribute to the development of critical cultural competence. Employing Interpretative Phenomenological Analysis. Data were gathered through observation and semi-structured interviews with six sixth semester EFL students who taken sociopragmatic class. The findings reveal three major themes emerged: sensitivity to inference and miscommunication in digital contexts, reflective understanding of speech acts, and awareness of cross cultural politeness strategies. These insights demonstrate that ICT, when integrated with sociopragmatic instruction, fosters not only linguistic competence but also critical reflection, empathy, and intercultural awareness key components of 21st-century global education. Keywords: critical cultural competence, ICT-based learning, sociopragmatics, EFL, intercultural communicatio

    26,949

    full texts

    26,964

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Walisongo Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇