Walisongo State Islamic University

Walisongo Institutional Repository
Not a member yet
    26964 research outputs found

    Pengaruh pola asuh permisif dan konformitas teman sebaya terhadap perilaku kesopanan pada siswa SMPN 03 Guntur

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pengujian pada pengaruh pola asuh permisif dan konformitas teman sebaya terhadap perilaku kesopanan siswa SMPN 03 Guntur. Populasi penelitian ini sebanyak 213 siswa dan sampe penelitian ini sebanyak 118 siswa. Penelitian ini menggunakan teknik sampling probability sampling yaitu cluster random sampling. Sedangkan metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif melalui pendekatan kausalitas. Alat ukur pada penelitian ini mencakup skala perilaku kesopanan, skala pola asuh permisif, dan skala konformitas teman sebaya. Pelaksanaan uji hipotesis menggunakan uji regresi linear berganda. Hasil penelitian ini menunjukan adanya pengaruh yang signifikan secara simultan antara pola asuh permisif dan konforitas teman sebaya terhadap perilaku kesopanan pada siswa SMPN 03 Guntur dengan nilai signifikansi sebanyak 0,003 dan sumbangan efektif sebanyak 8,2%, adanya pengaruh yang signifikan secara parsial pola asuh permisif terhadap perilaku kesopanan dengan nilai signifikansi 0,002 (p<0,05), serta adanya pengaruh yang signifikan secara parsial konformitas teman sebaya terhadap perilaku kesopanan dengan nilai signifikansi sebesar 0,015 (p < 0,05). Kata kunci : perilaku kesopanan, pola asuh permisif, dan konformitas teman sebaya ABSTRACT: This research aims to test the influence of permissive parenting and peer conformity on the polite behavior of students at SMPN 03 Guntur. The population of this study was 213 students and the total population for this research was 118 students. This research uses a probability sampling technique, namely cluster random sampling. Meanwhile, this research method uses quantitative research methods through a causality approach. The measuring instruments in this study include a politeness behavior scale, a permissive parenting style scale, and a peer conformity scale. The implementation of hypothesis testing uses multiple linear regression tests. The results of this study show that there is a significant simultaneous influence between permissive parenting and peer conformity on polite behavior in students at SMPN 03 Guntur with a significance value of 0.003 and an effective contribution of 8.2%, there is a partially significant influence of permissive parenting on polite behavior with a significance value of 0.002 (p < 0,05), as well as a partially significant influence of peer conformity on polite behavior with a significance value of 0.015 (p < 0,05). Key words: polite behavior, permissive parenting, and peer conformit

    Hubungan dukungan sosial dan self-efficacy dengan culture shock pada mahasiswa tahun pertama dari pulau Sumatera di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

    Get PDF
    This research was designed to examile the relationship between social support dan self-efficacy dan culture shock in first year students from Sumatera Island at the Walisongo State Islamic University, Semarang. The population in this research was 263 students and the sample was 159 students. The sampling technique used in this research is accidental sampling, which is a sampling where participants are selected based on their availability and ease of being contacted. The research method used in this research is the quantitative correlation. The measuring instrumens in this research used the culture shock scale, social support scale, and self-efficacy scale. Hypothesis testing in this research used correlation and multiple correlation tets by obtaining research results showing that there is a significance value of 0,000<0,05 between culture shock dan social support, which mean there is a significant relationship. Then obtained a significance value of 0,000<0,05 between the culture shock and self-efficacy which mean there is significant relationship. Then obtained a significance value 0,000<0,05 between the culture shock with social support and self-efficacy which means there is a significant relationship. The correlation coefficient value of 0,921 or 92,1% indicates a very strong level of relationship between social support and self-efficacy with culture shock in first year students from Sumatera Island at Waliongo State Islamic University Semarang. The higher level of social support, the lower the culture shock. The higher level of self-efficacy, the lower level of culture shock. Therefore, it is important for students to increase social support and self-efficacy so that culture shock decreases. Keyword: culture shock, social support, self-efficacy   ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan dukungan sosial dan self-efficacy dengan culture shock pada mahasiswa tahun pertama dari Pulau Sumatera di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 263 mahasiswa serta sampel sebanyak 159 mahasiswa. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan accidental sampling, yaitu pengambilan sampel di mana partisipan dipilih berdasarkan ketersediaan dan kemudahan mereka untuk dihubungi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode pendekatan kuantitatif korelasi. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala culture shock, skala dukungan sosial, dan skala self-efficacy. Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji korelasi dan korelasi berganda dengan memperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat nilai signifikansi sebesar 0,000<0,05 antara culutre shock dengan dukungan sosial yang berarti terdapat hubungan yang signifikan. Kemudian diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000<0,05 antara variabel culture shock dengan self-efficacy yang berarti terdapat hubungan yang signifikan. Kemudian diperoleh nilai signifikansi sebesar 0,000<0,05 antara variabel culture shock dengan dukungan sosial dan self-efficacy yang berarti terdapat hubungan yang signifikan. Nilai koefisien korelasi sebesar 0,921 atau 92,1% yang mengindikasikan adanya tingkat hubungan yang sangat kuat antara dukungan sosial dan self-efficacy dengan culture shock pada mahasiswa tahun pertama dari Pulau Sumatera di Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang. Semakin tinggi tingkat dukungan sosial, maka semakin rendah culture shock. Semakin tinggi tingkat self-efficacy yang dimiliki maka semakin rendah tingkat culutre shock. Oleh karenanya, penting bagi mahasiswa untuk meningkatkan dukungan sosial dan self-efficacy agar culture shock menurun. Kata kunci: dukungan sosial, self-efficacy, culture shoc

    Kepemimpinan kepala madrasah dalam mengembangkan mutu pembelajaran studi situs di MTs NU Ungaran dan MTs Al-Uswah Bergas Kabupaten Semarang

    Get PDF
    Pada prinsipnya, kepemimpinan kepala madrasah menjadi salah satu faktor penting dalam mengembangkan mutu pembelajaran yang dilakukan. Kepemimpinan kepala madrasah akan memberikan dampak positif jika diterapkan sesuai dengan aturan. Kepala madrasah sebagai pemimpin harus mampu untuk ikut serta mengembangkan kualitas pembelajaran yang dilakukan oleh guru di madrasah. Oleh karenanya, tujuan penelitian ialah mengetahui secara mendalam kepemimpinan kepala madrasah dalam mengembangkan mutu pembelajaran di MTs NU Ungaran dan MTs Al-Uswah Bergas. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sumber penelitian ini adalah kepala madrasah, wakil kepala madrasah, guru yang mengajar dan peserta didik. Secara garis besar, pengumpulan data berupa wawancara, observasi dan dokumentasi. Uji keabsahan data menggunakan teknik triangulasi sumber dan teknik pengumpulan data. Teknik analisis data penelitian ini menggunakan reduksi data, penyajian data, dan verifikasi atau penarikan kesimpulan. Hasil temuan penelitian mengungkapkan bahwa kepemimpinan yang dilaksanakan di MTs NU Ungaran dalam mengembangkan mutu pembelajaran yaitu terdapat sebanyak lima belas strategi kepemimpinan kepala MTs NU Ungaran dalam mengembangkan mutu membelajaran. Pada MTs Al-Uswah Bergas terdapat sebanyak tiga belas strategi kepemimpinan kepala madrasah dalam mengembangkan mutu membelajaran. Terdapat perbedaan yang terjadi dalam upaya kepemimpinan kepala madrasah yaitu lima perbedaan. Ada pula persamaan yang terjadi dalam kepemimpinan kepala madrasah untuk mengembangkan mutu pembelajaran yaitu delapan persamaan

    Manajemen program penguatan pendidikan karakter berbasis kegiatan kokurikuler di SMP Islam Tugasku Jakarta Timur

    Get PDF
    Pendidikan memiliki peranan penting dalam kemajuan sebuah negara, terutama sebagai pembentukan karater. Namun, saat ini perhatian terhadap penguatan pendidikan karakter di lembaga pendidikan terkhusus Indonesia masih kurang. Banyak peserta didik yang melanggar norma, salah satunya seperti bullying dan kekerasan fisik. Permasalahan ini merupakan hal serius yang harus ditangani. Kerjasama antar pendidik, tenaga kependidikan, warga sekolah, masyarakat, dan orang tua harus kuat dan saling koordinasi. Penelitian ini dimaksud untuk menjawab pertanyaan atas permasalahan yang terjadi, dimulai dari: (1) Bagaimana Manajemen Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kegiatan Kokurikuler di SMP Islam Tugasku Jakarta Timur? (2) Bagaimana Implikasi Manajemen Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kegiatan Kokurikuler di SMP Islam Tugasku Jakarta Timur terhadap Karakter Peserta Didik? Sedangkan, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus yang menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Pemeriksaan data pada penelitian ini menggunakan trianggulasi sumber dan trianggulasi teknik, Selanjutnya, analis data memakai model Miles Hubberman, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitann menunjukan bahwa pengelolaan Program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis Kegiatan Kokurikuler di SMP Islam Tugasku Jakarta Timur meliputi Perencanaan, Pengorganisasian, Pelaksanaan, dan Pengawasan. Dalam Implementasinya menggunakan strategi Total Quality Management dengan langkah-langkah merumuskan visi, misi dan tujuan, menetapkan standar mutu dan jaminan mutu, Menciptakan, Kultur atau Budaya Sekolah, Melakukan Perubahan Organisasi, dan Mempertahankan Hubungan dengan pelanggan. Sehingga menghasilkan nilai karakter yang dapat di internalisasikan dan di kuatkan terhadap peserta didik, yaitu Nilai Religius, Nilai Mandiri dan Nilai Tanggung Jawab

    Nilai-nilai Torang Samua Basudara dalam akulturasi budaya orang Jawa di Bitung

    Get PDF
    Orang-orang Jawa yang datang ke Bitung, sudah tentu turut membawa budayanya, yang mana budaya tersebut berbeda dengan budaya lokal di Bitung. Dengan demikia Orang Jawa, perlu untuk menyesuaikan dan beradaptasi dengan budaya dan nilai-nilai yang telah ada di Bitung. Penelitian ini bermaksud untuk menjawab pertanyaan: (1) Bagaimana nilai-nilai Torang Samua Basudara pada akulturasi budaya orang Jawa di Bitung ?. Penelitian ini dikaji melalui studi lapangan, wawancara semi terstruktur, observasi, dan dokumentasi menjadi sumber data. Data dianalisis dengan pendekatan fenomenologi, dan menggunakan metode Open Coding, Axial Coding, dan Selective Coding. Penelitian ini menunjukkan: (1) Orang Jawa melakukan akulturasi terutama pada kebiasaan keseharian untuk dapat hidup berdampingan dengan orang lokal, kemudian masih mempertahankan tradisi yang bersifat sakral namun tidak memaksa orang Jawa di Bitung untuk melaksanakannya. Selain menerapkan tata krama Jawa, orang Jawa juga turut melibatkan orang lokal dalam pelaksaan tradisi Jawa. Sehingga tercipta interaksi sosial dan orang lokal bisa lebih mengenal budaya Jawa. Dengan adanya nilai-nilai Torang Samua Basudara pada akulturasi budaya, orang Jawa dapat terlibat dalam upaya mempertahan kerukunan masyarakat di Bitung. Kata Kunci: Torang Samua Basudara, Akulturasi Budaya, Orang Jawa.   ABSTRACT: Javanese people who come to Bitung, of course, bring their culture, which is different from the local culture in Bitung. Thus, Javanese people need to adjust and adapt to the culture and values that already exist in Bitung. This study aims to answer the questions: (1) How are the values of Torang Samua Basudara in the acculturation of Javanese culture in Bitung? This study was studied through field studies, semi-structured interviews, observations, and documentation as data sources. Data were analyzed using a phenomenological approach, and using the Open Coding, Axial Coding, and Selective Coding methods. This study shows: (1) Javanese people carry out acculturation, especially in daily habits to be able to live side by side with local people, then still maintain sacred traditions but do not force Javanese people in Bitung to carry them out. In addition to implementing Javanese etiquette, Javanese people also involve local people in implementing Javanese traditions. So that social interaction is created and local people can get to know Javanese culture better. With the values of Torang Samua Basudara in cultural acculturation, Javanese people can be involved in efforts to maintain social harmony in Bitung. Key word: Cultural acculturation, Javanese, Bitung, Javanese family harmony

    Studi komparasi program asrama dan non asrama terhadap motivasi belajar Bahasa Arab siswa MAN Yogyakarta

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan motivasi belajar bahasa Arab siswa program asrama dan non asrama pada tiga Madrasah Aliyah Negeri di Yogyakarta. Tujuan akhirnya adalah mendapatkan hasil uji perbedaan dari penerapan program asrama dan non asrama terhadap motivasi belajar bahasa Arab siswa. Jenis penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan penelitian komparatif. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas 11 dan 12 MAN 1 Yogyakarta, MAN 2 Yogyakarta dan MAN 3 Sleman Yogyakarta. Sampel penelitian ini yaitu 48 siswa dari masing-masing madrasah. Teknik pengumpulan data menggunakan angket motivasi belajar bahasa Arab siswa. teknik analisis yang digunakan yaitu uji-T dan Uji one way anova dengan sebelumnya dilakukan uji prasyarat. Hasil penelitian ini diperoleh bahwa 1) motivasi belajar bahasa Arab siswa program asrama MAN 1 dan MAN 3 tidak memiliki perbedaan yang signifikan dibuktikan dengan nilai t-hitung sig. (2-tailed) 0,595 > 0,05. 2) motivasi belajar bahasa Arab siswa MAN 1 dan MAN 2 tidak memiliki perbedaan yang signifikan dibuktikan dengan nilai t-hitung sig. (2-tailed) 0,426 > 0,05. 3) motivasi belajar bahasa Arab siswa MAN 2 dan MAN 3 tidak memiliki perbedaan yang signifikan dibuktikan dengan nilai t-hitung sig. (2-tailed) 0,732 > 0,05. 4) motivasi belajar bahasa Arab antara MAN 1, MAN 2, dan MAN 3 tidak memiliki perebedaan yang signifikan dibuktikan dengan nilai sig. Anova 0,699 > 0,05

    Manajemen program intensif Bahasa Arab di Pondok Pesantren Gedongan, Cirebon

    Get PDF
    Penelitian tesis ini membahas tentang manajemen program intensif bahasa Arab di Pondok Pesantren Gedongan tepatnya di Ma’had Al-Shighor Al-Islamy Ad-Dualy. Penelitian ini difokuskan pada manajemennya yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasinya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Penelitian ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan : (1) Bagaimanakah manajemen program intensif bahasa Arab yang diterapkan di Ma’had Al-Shighor A-Islamy Ad-Dualy, (2) Bagaimanakah hasil dari penerapan manajemen program intensif bahasa Arab yang diterapkan di Ma’had Al-Shighor Al-Islamy Ad-Dualy. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen program intensif bahasa Arab yang diterapkan di Ma’had Al-Shighor Al-Islamy Ad-Dualy sudah sesuai dengan teori manajemen dan manajemen program menurut para ahli, dimana melibatkan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Program intensif bahasa Arab di Ma'had Al-Shighor dirancang untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan berkesinambungan bagi para santri. Manajemen program ini mengutamakan pendekatan biah lughowiyah (lingkungan bahasa) yang aktif, di mana penggunaan bahasa Arab dalam kehidupan sehari-hari menjadi fokus utama. Program ini terbagi dalam beberapa tahapan, mulai dari pembelajaran dasar hingga tingkat lanjutan, dengan metode pengajaran yang interaktif dan kolaboratif. Kurikulum yang diterapkan disusun untuk mengembangkan empat keterampilan utama: mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Selain itu, penekanan pada evaluasi berkala

    Analisis tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan kematian : studi putusan Pengadilan Negeri Kepanjen Nomor 1/Pid.Sus - Anak/2020/PN Kpn

    Get PDF
    Tindak pidana penganiayaan yang tercantum dalam Buku II Kitab Undang - Undang Hukum Pidana. Banyak kasus penganiayaan yang sudah terjadi, bahkan beberapa di antaranya menyebabkan kematian korban. Seperti pada kasus putusan putusan Nomor: l/Pid.Sus-Anak/2020/Pn Kpn. Kasus bermula saat Seoraang siswa di Kabupaten Malang menghadapi sidang di Pengadilan Negeri (PN) Kepanjen, Kabupaten Malang, karena terdakwa dengan niat dan tenang membunuh seorang begal dengan tujuan melindungi harta dan kehormatan pacamya yang berpotensi menjadi korban ruda paksa. Perbuatan terdakwa yang melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap korban untuk membela teman perempuannya dari ruda paksa yang dapat melecehkan kehormatan teman perempuannya dari korban. menurut penulis, Putusan Pengadilan Negeri Kepanjen Nomor 1/ Pid.Sus-Anak/2020/PN Kpn menjadi sesuatu hal yang menarik dikarenakan perbuatan yang dilakukan terdakwa apakah dapat dimasukan didalam pembelaan terpaksa (Noodwer) atau dikelompokkan sebagai penganiayaan yang mengakibatkan kematian. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian hukum kualitatif. Pendekatan penelitian pendekatan perturan perundang undangan (Statue Approach) Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan yang bersifat studi literatur (library research). Hasil penelitian ini memberikan informasi mengenai konsep penganiayaan yang mengakibatkan kematian Pasal 351 Ayat (3) KUHP yakni tindak pidana penganiayaan yang mengakibatkan kematian terdiri dari beberapa unsur Antara lain, terdapat unsur kesengajaan yang bersifat objektif, terdapat perbuatan merupakan unsur objektif, terdapat akibat perbuatan yang dimaksudkan dalam hal ini terdapat akibat yang ditimbulkan. Jadi konsep penganiayaan yang mengakibatkan kematian Pasal 351 Ayat (3) merupakan pasal yang memberikan sebuah kepastian hukum terhadap korban penganiayaan. Dalam putusannya, majelis hakim mempertimbangkan berbagai fakta hukum yang dihadirkan dalam persidangan seperti alat bukti, kehadiran para saksi, saksi ahli, maupun terdakwa, mempertimbangkan keadaan yang meringankan maupun keadaan yang memberatkan. Majelis Hakim mempertimbangkan bahwa perbuatan terdakwa tidak dapat dimasukan sebagai alasan pembelaan terpaksa (Noodwer) maupun Pembelaan terpaksa yang melampui batas (Noodwer Excess) Majelis hakim juga mempertimbangkan aspek yuridis dan aspek non yuridis mengenai keadaan terdakwa maupun korban

    Preservasi nilai Islam dalam budaya pencak dor di Kediri

    Get PDF
    Pencak Dor merupakan bagian tak terpisahkan dari warisan budaya Indonesia yang kaya. Budaya ini tidak hanya mempertahankan tradisi fisik dan teknik bela diri, tetapi juga menjadi cerminan dari nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam masyarakat, termasuk nilai-nilai Islam. Seiring dengan dinamika masyarakat, telah terjadi pergeseran fungsi Pencak Dor, yang semula pertarungan bebas sebagai ajang silaturahim, media dakwah bertambah fungsi sebagai pertunjukan dan hiburan. Dengan terjadinya pergeseran fungsi tersebut, praktik Pencak Dor pada gilirannya juga mengalami perubahan orientasi dengan terabaikannya nilai-nilai agama. Studi ini bertujuan untuk mendeskripsikan fenomena pergeseran tersebut dengan menjawab pertanyaan: (1) Nilai-nilai Islam apa saja yang terdapat dalam Budaya Pencak Dor?, (2) Bagaimana bentuk preservasi nilai Islam dalam Budaya Pencak Dor? Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi yang didasarkan pada tiga teori yaitu Teori Interaksionisme Simbolik Blumer, Teori Preservasi Budaya Sendjaja dan Teori Agama dan Sistem Budaya Geertz. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai Islam yang ada dan lahir bersama dengan Budaya Pencak Dor layak untuk dipertahankan. Peneliti menganalisis nilai Islam yang terdapat dalam Pencak Dor yakni nilai Aqidah yang meliputi tawakal, ingat kepada Allah dan Bersyukur. Yang kedua adalah nilai Akhlak yang meliputi nilai silaturahmi, solidaritas, saling memaafkan, sabar, menerima keputusan dengan lapang dada, adil dan sabar. Preservasi nilai Islam ini dilakukan mengggunakan dua upaya yakni Culture Knowledge dan Culture Experience, dua upaya ini dapat dilakukan dalam upaya mempertahankan nilai Islam untuk selanjutnya disebarkan dalam pelaksanaan Pencak Dor. Kata Kunci: Preservasi Nilai Islam, Pencak Dor, Interkasionisme Simbolik ABSTRACT: Pencak Dor is an inseparable part of Indonesia's rich cultural heritage. This culture not only maintains physical traditions and martial techniques but also becomes a reflection of the values that are upheld in society, including Islamic values. Along with the dynamics of society, there has been a shift in the function of Pencak Dor, which was originally a free fight as a gathering place. Da'wah media has increased its function as a performance and entertainment. With the shift in function, the practice of Pencak Dor in turn also experienced a change in orientation due to the neglect of religious values. This study aims to describe the phenomenon of the shift by answering questions: (1) What Islamic values are contained in Pencak Dor Culture?, and (2) What is the form of preservation of Islamic values in Pencak Dor Culture? This type of research is qualitative and uses a phenomenological approach based on three theories: the Blumer Symbolic Interaction Theory, the Sendjaja Culture Preservation Theory, and the Religious Relations and Geertz Cultural System. The results of this study show that the value of Islam that exists and is born together with Pencak Dor Culture deserves to be maintained. Researchers analyze the value of Islam contained in Pencak Dor, namely the value of Aqidah, which includes tawakal, remembering Allah, and being grateful. The second is the moral value, which includes the values of friendship, solidarity, forgiving each other, patience, and accepting decisions generously, fairly, and patiently. The preservation of Islamic values is carried out using two efforts, namely culture knowledge and culture experience. These two efforts can be made in an effort to maintain Islamic values to be further spread in the implementation of Pencak Dor. Keyword: Preservation of Islamic Values, Pencak Dor, Symbolic Interactionism

    Komunikasi antar komunitas agama dan budaya: studi hubungan antara umat muslim dan Buddha di Pattani, Thailand

    Get PDF
    Komunikasi antara umat Islam dan umat Buddha di Provinsi Pattani, Thailand memegang peranan penting dalam membangun komunikasi dan hubungan baik, yakni agar saling pengertian dan kepercayaan satu sama lain. Komunikasi dapat dilakukan melalui banyak sarana, misalnya komunikasi tatap muka, kegiatan bersama maupun media. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dan mendalami hubungan umat Buddha dan Muslim di Pattani, Thailand dari sudut pandang komunikasi antar komunitas agama dan budaya. Selain itu, penelitian ini mengeksplorasi faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi antara komunitas Muslim dan umat Buddha di Provinsi Pattani. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan caara mengumpulkan data melalui wawancara mendalam dengan informan Buddha dan Muslim Thailand di Provinsi Pattani, Thailand serta observasi secara langsung dan virtual. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi lintas budaya yang dikemukakan Andi Faisal Bakti sebagai alat analisis. Teori tersebut menekankan pentingnya menghormati perbedaan budaya, menciptakan saling pengertian dan menghindari kesalahpahaman antara kelompok budaya yang berbeda. Hal ini seperti halnya komunikasi antar umat beragama dan budaya di Pattani, Thailand. Penelitian ini dapat disimpulkan: Pertama, bentuk-bentuk komunikasi antara agama dan budaya pada masyarakat Muslim dan Buddha di Pattani, Thailand meliputi: 1. Menyelenggarakan kegiatan bersama Komunitas agama dan budaya yang berbeda di Pattani, seperti kompetisi olahraga, Pertunjukan budaya dan diskusi. Kegiatan tersebut dapat membantu mendorong pengenalan satu sama lain, saling pengertian dan membangun hubungan baik antar komunitas; 2. Penggunaan media: Media memainkan peran penting dalam meningkatkan komunikasi antara komunitas agama dan budaya. Media dapat membantu menciptakan pemahaman tentang budaya, keyakinan, dan cara hidup yang berbeda. Media juga dapat membantu mendorong koreksi kesalahpahaman. dan menciptakan citra positif tentang komunitas yang berbeda; 3. Pendidikan. Pendidikan merupakan alat penting untuk meningkatkan pemahaman antara komunitas agama dan budaya. Pendidikan dapat membantu orang belajar tentang budaya, kepercayaan, dan sejarah yang berbeda. Selain itu, endidikan dapat membantu mendorong pengembangan rasa hormat, simpati dan saling pengertian. Kedua, komunikasi antar umat beragama dan budaya sangat penting dalam membangun hubungan baik, saling pengertian dan kepercayaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan antara umat Muslim dan Buddha di Pattani, Thailand menemukan bahwa komunikasi antar komunitas agama dan budaya di Pattani berperan penting dalam mendorong perkenalan antar umat agama dan budaya, saling pengertian dan hubungan yang baik. Hal ini didorong oleh adanya pendidikan dan pelatihan komunikasi lintas budaya sangat penting dalam membangun pemahaman dan rasa hormat antara komunitas agama maupun budaya yang berbeda di Pattani, Thailand

    26,949

    full texts

    26,964

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Walisongo Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇