26964 research outputs found
Sort by
Coping strategies used by student with high self-efficacy in English speaking
This study aims to identify coping strategies used by students with high self-efficacy in speaking English at the English education department of Walisongo State Islamic University Semarang. This study used mixed methods. Data collection techniques used were observation, questionnaires, and interviews with 12 participants. The important finding of this study is that the majority of students have a very high level of self-efficacy and coping strategies. 75% of respondents obtained an average score above 4.5 which is categorized as Very High. The study identified some common factors faced by students with strong English proficiency in learning English. Students self-reflect before learning, use positive affirmations and strategies to overcome challenges. They also interact with peers, teachers and tutors to improve their English skills. This research shows that students with high self-efficacy use effective strategies to overcome challenges, practice, psychological understanding, and social learning strategies to develop and maintain their abilities.
Keywords : Coping Strategies, Self-Efficacy, English Speakin
Students' perception of cultural digital storytelling on their speaking skill
Speaking remains a major challenge for elementary students in English language learning, often due to limited vocabulary, low confidence, and pronunciation difficulties. While previous studies have explored digital storytelling in EFL contexts, few have examined how it can be integrated with cultural content to enhance speaking skills among young learners. This study aims to investigate how cultural digital storytelling is implemented in teaching speaking and how students perceive its use in the classroom. A descriptive qualitative approach was employed, involving 20 fifth-grade students from SDN 1 Magelung. Data were collected through observation, interviews, and documentation. During the learning process, students used digital storytelling to present traditional Indonesian games such as Congklak and Gobak Sodor using simple English. They practiced speaking through reading aloud, spelling, writing game steps, and demonstrating how to play. The findings showed that cultural digital storytelling increased students’ motivation and participation in speaking activities. Familiar content made it easier for students to express themselves, although challenges such as limited grammar mastery and uneven speaking opportunities were still present. Nevertheless, group work helped ensure inclusive participation, even for those who were less confident in speaking publicly. The study concludes that integrating cultural digital storytelling into EFL instruction provides a meaningful and enjoyable way to support speaking development and cultural content
Keywords: Digital Storytelling, Speaking Skill, Cultural Content, Students’ Perception, EFL Students
Students’ experiences of speaking anxiety in English class presentations: the description of factors and strategies
This study explores students' experiences with speaking anxiety during English class presentations. The purpose of this study is to identify the factors that contribute to students' speaking anxiety and to investigate the strategies used to overcome anxiety during English class presentations. Conducted among second-semester English Education students at UIN Walisongo Semarang in the 2024/2025 academic year, this study offers valuable insights for educators, students, and future researchers concerned with language learning anxiety. Using a qualitative descriptive method, the data were collected through questionnaires distributed to 31 students and semi-structured interviews with four participants from class 2D. Methodological triangulation and member checking were used to ensure data validity. The findings revealed that speaking anxiety is caused by three interrelated factors, communication apprehension, test anxiety, and fear of negative evaluation, with fear of negative evaluation being the most dominant. The students stated that limited vocabulary, grammar weaknesses, and fear of social judgment often triggered anxiety during presentations. In response, the students adopted five coping strategies namely, relaxation, positive thinking, peer seeking, and resignation. Among these strategies, preparation, relaxation, and positive thinking were the most frequently used. This study concludes that although anxiety remains a significant obstacle, students actively manage their fear through various coping strategies.
Keyword: Speaking Anxiety, English Class Presentation, EFL Student
Pengaruh model InSTAD terhadap keterampilan proses sains materi magnet kelas V MIN Kota Semarang tahun 2024
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kurangnya keterampilan proses sains kelas V di MIN Kota Semarang, hal ini disebabkan oleh penerapan model pembelajaran yang monoton. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh model InSTAD terhadap keterampilan proses sains materi magnet kelas V di MIN Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen. Desain penelitian yang digunakan yaitu true eksperimen design tipe post-test only control group design. Teknik pengujian hipotesis dilakukan dengan bantuan program SPSS 26 for Windows menggunakan uji independent sample t-test untuk mengetahui perbedaan dua rata-rata dan uji regresi linier sederhana untuk mengetahui pengaruh antara dua variabel. Hasil yang diperoleh menunjukkan nilai sig. (2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05, maka H0 ditolak dan H1 diterima. Artinya terdapat perbedaan antara skor hasil post-test kelas eksperimen dengan hasil post-test kelas kontrol. Berdasarkan hasil uji regresi linier sederhana diperoleh nilai sebesar 0,730, artinya terdapat pengaruh variabel X terhadap variabel Y dengan kategori kuat. Untuk mengetahui besarnya persentase pengaruh variabel X terhadap variabel Y, maka dicari koefisien determinasi (r square), berdasarkan uji yang telah dilakukan diperoleh nilai r square sebesar 0,533 atau 53,3%, yang artinya model InSTAD berpengaruh terhadap keterampilan proses sains kelas V sebesar 53,3% sedangkan 46,7% dipengaruhi oleh variabel lain diluar penelitian
Strategi program full day school dalam meningkatkan hasil belajar siswa di MI Roudlotul Hikmah Demak 2024
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi efektif dalam Full Day School di MI Roudlotul Hikmah Demak serta faktor-faktor yang memberi efek pada temuan belajar murid. Rumusan problem pada kajian ini yakni 1) Bagaimana strategi yang efektif dalam program Full Day School untuk meningkatkan hasil belajar siswa di MI Roudlotul Hikmah Demak? 2) Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa di MI Roudlotul Hikmah Demak? Kajian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan metodelogi deskriptif lewat observasi, interview, dan studi dokumen. Temuan kajian menampilkan strategi pelajaran di MI Roudlotul Hikmah mengintegrasikan aspek akademik, keagamaan, dan pengembangan karakter. Pembiasaan keagamaan, seperti sholat berjamaah dan muroja’ah, membentuk disiplin dan tanggung jawab siswa. Metode aktif seperti diskusi dan media interaktif meningkatkan keterampilan berpikir kritis, sedangkan pendekatan personal dan ekstrakurikuler mendukung perkembangan holistik. Faktor pendorong mencakup profesionalisme guru, lingkungan belajar yang kondusif, dan dukungan sekolah. Namun, terdapat hambatan seperti kelelahan siswa akibat jadwal padat, keterbatasan sarana, dan kurangnya dukungan sekolah dalam beberapa aspek. Oleh karena itu, penelitian menegaskan bahwa keberhasilan Full Day School bergantung pada keseimbangan strategi pembelajaran, dukungan lingkungan, serta optimalisasi sarana dan prasarana. Evaluasi dan perbaikan berkelanjutan diperlukan untuk memastikan efektivitas program
Upaya guru mengatasi penyebab ketidaktuntasan hasil belajar siswa kelas III SD Al-Mardliyyah Kaliwungu Selatan Kendal
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya siswa yang secara konsisten tidak tuntas hasil belajarnya pada hampir semua mata pelajaran, baik pada sumatif tengah semester maupun sumatif akhir semester. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan hasil analisis faktor penyebab ketidaktuntasan hasil belajar siswa, serta upaya yang dilakukan guru untuk membantu siswa mengatasi faktor-faktor tersebut. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif lapangan dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri dari reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan verifikasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ketidaktuntasan hasil belajar siswa di kelas III SD Al-Mardliyyah Kaliwungu Selatan Kendal disebabkan oleh tiga faktor utama yaitu, faktor internal (mencakup kurangnya minat belajar, rendahnya motivasi belajar, serta kematangan emosional yang belum optimal), faktor eksternal (mencakup kurangnya perhatian orang tua serta waktu belajar yang kurang), serta faktor gangguan psikologis (adanya siswa dengan kebutuhan khusus). Beberapa upaya yang dilakukan guru kelas III untuk mengatasi faktor penyebab ketidaktuntasan hasil belajar siswa, antara lain dengan melakukan pendekatan personal, membangun motivasi dan kepercayaan diri siswa melalui afirmasi positif selama proses pembelajaran, meningkatkan minat belajar siswa melalui metode pembelajaran yang aktif dan atraktif, melakukan pemantauan yang lebih intensif terhadap siswa, memberikan bimbingan belajar khusus di luar jam pelajaran, serta melakukan evaluasi kinerja dan pengembangan profesional secara berkelanjutan
Upaya guru dalam membina keterampilan sosial siswa kelas 3 di Madrasah Ibtidaiyah 01 Semarang
Penelitian ini menyoroti pentingnya pembinaan keterampilan sosial siswa di Madrasah Ibtidaiyah Al-khoiriyyah 01 Semarang, dengan fokus pada dua pertanyaan: upaya guru dalam membina keterampilan sosial dan strategi efektif yang digunakan guru dalam membina keterampilan sosial pada siswa kelas 3 di Madrasah Ibtidaiyah 01 Semarang. Jenelitian yang digunakan yaitu penelitian lapangan (fild research) dengan pendekatan penelitian kualitatif, melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa guru melaksanakan pembinaan keterampilan sosial melalui berbagai upaya, di antaranya pembiasaan hidup disiplin, penerapan sikap modeling atau keteladanan, pemberian konsekuensi atau sanksi, pemberian penghargaan, pengajaran tanggung jawab, penerapan pembiasaan, pengajaran kolaborasi antar siswa, penerapan kegiatan spontan, pengajaran sikap saling menghargai, pengajaran komunikasi efektif, penyelenggaraan diskusi dalam pembelajaran, pemberian nasihat, serta percontohan melalui soal cerita. Selain itu guru juga menerapkan beragam strategi yang efektif digunakan dalam membina keterampilan sosial siswa, meliputi implementasi aturan pembelajaran dan non-pembelajaran, pelaksanaan kegiatan sekolah seperti kerja bakti, pembinaan sikap sosial secara konsisten, dan evaluasi pembelajaran. Strategi dan upaya tersebut berdampak signifikan terhadap peningkatan keterampilan siswa, menjadikan mereka lebih disiplin, patuh kepada guru, jera atas kesalahan, mampu mengekspresikan diri, bertanggung jawab, percaya diri di depan umum, menghargai perbedaan pendapat, berinteraksi positif dengan teman, serta memiliki empati dan kepercayaan diri
Emotional mapping: understanding the emotional geography of EFL pre-service teachers during teaching practicum
The purpose of this study is to outline the differences and similarities in the emotional geography of international and national teaching internships, specifically focusing on preservice teachers during their probationary teaching experiences in Semarang and Malaysia. Utilizing a qualitative methodology, the study involved two EFL student teachers who completed both national and international internships through purposive sampling. Data were collected using semi-structured interviews and thematically analyzed through a systematic process that included identifying data, creating initial codes, and evaluating themes. The findings reveal that the emotional experiences of these preservice teachers can be positive, negative, or mixed, significantly impacting their teaching performance, classroom interactions, and overall internship experience. Factors such as support from colleagues, student interactions, school environment, and management expectations play crucial roles in shaping these emotional experiences. The study highlights the importance of emotional support in professional development, as both national and international preservice teachers face distinct challenges influenced by their cultural contexts and education systems. Ultimately, this research contributes to a deeper understanding of the emotional dynamics that affect teachers' ability to adapt to challenges, develop professional skills, and navigate cross-cultural teaching environments, emphasizing the need for targeted emotional support during internships.
Keywords : emotional geography; EFL pre-service teacher; teaching practicu
Pengaruh brand image, kualitas produk, dan consumer engagement terhadap keputusan pembelian produk Marina hand and body lotion : studi kasus pada perempuan Gen Z di Kabupaten Kendal
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya persaingan dalam industri skincare di Indonesia, khususnya pada produk hand and body lotion, yang memunculkan tantangan bagi pelaku usaha dalam mempertahankan loyalitas konsumen. Keputusan konsumen dalam melakukan pembelian dipengaruhi oleh sejumlah aspek, seperti citra merek, mutu produk, serta keterlibatan konsumen dalam interaksi dengan merek tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana citra merek, kualitas produk, dan keterlibatan konsumen memengaruhi keputusan pembelian Marina Hand and Body Lotion di kalangan perempuan Generasi Z yang berdomisili di Kabupaten Kendal. Pendekatan yang digunakan bersifat kuantitatif dengan metode survei sebagai instrumen utama. Pengumpulan data dilakukan melalui distribusi kuesioner kepada 100 responden yang termasuk dalam segmentasi konsumen Marina dari kelompok Gen Z. Analisis dalam penelitian ini menggunakan metode regresi linier berganda. Temuan yang diperoleh menunjukkan bahwa brand image serta keterlibatan konsumen memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian. Sementara itu, kualitas produk tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan dalam memengaruhi keputusan pembelian konsumen. Temuan ini memberikan implikasi bagi pelaku industri skincare untuk lebih menekankan pada penguatan Brand image dan peningkatan interaksi konsumen sebagai strategi dalam mendorong keputusan pembelian, khususnya pada segmen Gen Z.
Kata Kunci: Brand image, Kualitas Produk, Consumer engagement, Keputusan Pembelian, Marina, Gen Z.
ABSTRACT
This research is motivated by the intense competition in Indonesia's skincare industry, particularly in hand and body lotion products, which presents challenges for businesses in maintaining consumer loyalty. Consumer purchase decisions are influenced by several factors, including Brand image, Product Quality, and Consumer engagement. The aim of this study is to analyze the effect of Brand image, Product Quality, and Consumer engagement on purchase decisions of Marina Hand and Body Lotion among Generation Z women in Kendal Regency. This study adopts a quantitative approach utilizing a survey method. Data were gathered through the distribution of questionnaires to 100 respondents who belong to Generation Z and are users of Marina products. The analytical technique used is multiple linear regression. The method of analysis applied in this study is multiple linear regression. The findings reveal that brand image and consumer engagement significantly and positively impact purchasing decisions, whereas product quality does not exhibit a notable influence. These findings imply that skincare companies should focus more on strengthening Brand image and enhancing consumer interaction as strategies to encourage purchase decisions, especially among the Gen Z segment
Tata kelola pengembangan Desa anti politik uang Bawaslu Kabupaten Semarang
Pemilihan umum (Pemilu) merupakan instrumen utama dalam sistem demokrasi yang mencerminkan partisipasi politik masyarakat. Namun, praktik politik uang menjadi ancaman serius yang merusak integritas demokrasi di Indonesia. Dalam konteks ini, Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kabupaten Semarang meluncurkan program Desa Anti Politik Uang (DAPU) sebagai strategi untuk mencegah praktik politik uang dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya yang ditimbulkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tata kelola pengembangan program DAPU, dengan fokus pada peran aktor strategis dan efektivitas implementasi kebijakan tersebut. Rumusan masalah yang diangkat meliputi siapa saja aktor yang memiliki peran strategis dalam program DAPU dan bagaimana pengelolaannya.
Penelitian ini menggunakan teori tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) sebagai kerangka analisis. Good governance menekankan prinsip partisipasi, transparansi, akuntabilitas, efektivitas dan efisien dalam pengelolaan pemerintahan. Relevansi teori ini dalam konteks penelitian adalah untuk mengevaluasi sejauh mana prinsip-prinsip tata kelola yang baik diterapkan dalam program DAPU, serta bagaimana kolaborasi antara negara, masyarakat, dan sektor swasta dapat meningkatkan efektivitas program ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa program DAPU berhasil meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya politik uang dan mendorong partisipasi aktif dalam proses pemilihan umum. Kolaborasi yang melibatkan pemerintah desa, tokoh masyarakat, dan organisasi sipil menjadi faktor kunci keberhasilan program ini. Selain itu, program ini juga memberikan pelatihan dan pendidikan politik kepada masyarakat, yang membantu mereka untuk lebih kritis terhadap kandidat yang menggunakan politik uang sebagai strategi kampanye. Namun, tantangan seperti keterbatasan sumber daya manusia, infrastruktur, dan anggaran tetap menjadi kendala dalam implementasi