26964 research outputs found
Sort by
Strategi kerja sama Dewan Pelaksana Pengelola (DPP) dan disbudpar dalam pengembangan wisata religi yang berkelanjutan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)
Hasna Azhaari. 2101036061. Strategi Kerja Sama Dewan Pelaksana Pengelola (DPP) dengan Disbudpar dalam Pengembangan Wisata Religi yang Berkelanjutan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT)
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh potensi wisata religi Masjid Agung Jawa Tengah dan adanya budaya yang ada perlu dikembangkan dengan maksimal sehingga hadirnya wisata religi MAJT merupakan salah satu solusi untuk melestarikan sosial budaya, perekonomian, dan lingkungan sehingga dapat menciptakan dampak positif untuk jangka panjang baik untuk pemerintah daerah maupun masyarakat lokal. Konsep yang ada merujuk pada gagasan pariwisata berkelanjutan melalui perencanaan penyusunan strategi yang cermat antara pengelola MAJT dengan pihak pemerintah melalui Disbudpar untuk mencapai keberlanjutan wisata religi MAJT sehingga dapat bertahan dan berkompeten dalam pengembangannya. Tujuan dari penelitian ini yaitu menganalisis strategi kerja sama Dewan Pelaksana Pengelola (DPP) dan Disbudpar dan tantangan yang dihadapi dalam memastikan pengembangan keberlanjutan wisata religi MAJT. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif, sumber data yang didapatkan ditemukan melalui sumber data primer dan skunder, melalui teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara dan dokumentasi, dianalisis dengan tahapan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan, teknik uji keabsahan data melalui triangulasi sumber, metode dan waktu.
Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa wisata religi MAJT yang berpotensi menjadi pariwisata berkelanjutan melalui penerapan dimensi keberlanjutan dari sisi lingkungan, sosial budaya dan ekonomi. Dengan meperhatikan unsur pengembangan pariwisata 6A dan juga mempertimbangkan langkah-langkah pengembangan strategis pada jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang untuk menuju keberlanjutan wisata, melalui adanya kerja sama antara pihak pengelola MAJT yaitu Dewan Pelaksana Pengelola (DPP) dan pihak pemerintah melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang dalam mengembangkan MAJT sebagai pawisata relgi yang berkelanjutan yaitu dengan mengembangkan sumber daya manusia, mengembangan infrastuktur dan fasilitas, promosi pariwisata dan pemasaran pariwisata. Namun pembenahan terhadap beberapa aspek strategi keberlanjutan masih perlu dilakukan untuk memaksimalkan pengembangan yang ada dan tentunya juga ditemukan tantangan- tantangan yang merujuk pada 4 indikator berkelanjutan yaitu sisi keberlanjutan lingkungan, ekonomi, sosial budaya, dan kelembagaan yang kompleks pada Masjid Agung Jawa Tengah yang perlu ditangani melalui strategi yang bijak
Peran keluarga dalam pencegahan penggunaan narkoba di kalangan remaja : studi masyarakat Desa Manyarejo Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen
Dalam kasus penyalahgunaan narkoba terdapat masalah yang dialami oleh remaja yang menyebabkan para remaja kecanduan dalam narkoba, seperti kurangnya peran orangtua, lingkungan pertemanan dan masalah ekonomi. Hal itu menyebabkan mereka depresi sehingga para remaja melampiaskan masalah mereka dengan mengkomsumsi narkoba.
Teori fungsionalisme struktural yang dikembangkan oleh Talcott Parsons dapat diaplikasikan dalam menganalisis peran keluarga dalam pencegahan narkoba pada remaja. Menurut teori ini, tindakan manusia, termasuk dalam konteks peran keluarga, bersifat sukarela dan didasarkan pada dorongan kemauan. Lokasi penelitian ini di Desa Manyarejo Kecamatan Plupuh Kabupaten Sragen. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian ini adalah pertama orangtua yang memiliki anak remaja kedua remaja yang sudah terkena narkoba dan yang belum terkena narkoba di Desa Manyarejo.
Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa orangtua memainkan peran dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja melalui pendekatan mandiri dan spiritual. Pengawasan dan bimbingan orangtua diperlukan meskipun anak sudah dewasa, karena tanpa dukungan tersebut, remaja yang terlibat narkoba akan sulit untuk pulih. Dalam hal ini, keterlibatan tokoh masyarakat, seperti ustad, juga berperan dalam proses pemulihan. Selain itu, perubahan situasi yang dihadapi orangtua menuntut mereka untuk beradaptasi, sesuai dengan pandangan Talcot Parsons. Upaya represif dalam penanggulangan narkoba meliputi penanaman nilai-nilai agama dan moral serta pemberantasan penyebab kejahatan. Perhatian dan kasih sayang orangtua dapat meningkatkan rasa percaya diri anak dan mendukung perkembangan optimal para remaja.
ABSTRACT:
In the case of drug abuse, there are problems experienced by adolescents that cause adolescents to become addicted to drugs, such as lack of parental role, friendship environment and economic problems. It causes them to be depressed so that teenagers vent their problems by consuming drugs.
The theory of structural functionalism developed by Talcott Parsons can be applied in analyzing the role of the family in drug prevention in adolescents. According to this theory, human actions, including in the context of family roles, are voluntary and based on volitional impulses. The location of this research is Manyarejo village, Plupuh sub-district, Sragen regency. The method used in this study is qualitative with a descriptive approach. The subjects of this research are parents with adolescent children teenagers who have been exposed to drugs and those who have not been exposed to drugs in Manyarejo Village.
The findings indicate that parents play a role in preventing drug abuse among adolescents through independent and spiritual approaches. Parental supervision and guidance are necessary even when children reach adulthood, as without such support, adolescents involved with drugs will find it difficult to recover. In this context, the involvement of community leaders, such as religious figures, also plays a role in the recovery process. Furthermore, the changing situations faced by parents require them to adapt, in line with Talcott Parsons' perspective. Repressive efforts in combating drugs include instilling religious and moral values as well as addressing the root causes of crime. Parental attention and affection can enhance children's self-confidence and support optimal development during adolescence
Manajemen dakwah pelatihan bahtsul masail santri di Pondok Pesantren Al Munawwar Ngaliyan, Semarang
Mohamad Ainul Yaqin (2101036139) dengan judul penelitian “Manajemen Dakwah Pelatihan Bahtsul Masail Santri di Pondok Pesantren Al Munawwar Ngaliyan, Semarang.” Program Studi Manajemen Dakwah, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang Tahun 2025.
Bahtsul Masail merupakan forum diskusi yang khas di lingkungan pondok pesantren, yang membahas berbagai persoalan keagamaan dengan merujuk pada kitab-kitab klasik Islam. Kegiatan ini menjadi sarana penting dalam proses pembelajaran, pembentukan sikap kritis, dan pemahaman keislaman santri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode pelatihan Bahtsul Masail dan bagaimana penerapan manajemen dakwah dalam kegiatan tersebut di Pondok Pesantren Al-Munawwar Ngaliyan, Semarang.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Sumber data terdiri dari data primer dan data sekunder. Sumber data primer diperoleh dari
pengasuh, ketua, dan pengurus pondok pesantren, sedangkan sumber data sekunder berasal dari jurnal, artikel, berita, arsip, dan buku-buku yang berkaitan dengan penelitian ini. Untuk analisis data, digunakan alur reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pelatihan Bahtsul Masail di Pondok Pesantren Al-Munawwar, Ngaliyan, Semarang, menggunakan pendekatan Qauli yang berfokus pada rujukan kitab-kitab fiqih klasik dan dilaksanakan secara sistematis untuk melatih santri berpikir kritis dan merumuskan solusi hukum Islam yang kontekstual serta argumentatif. Penerapan manajemen dakwah dalam pelatihan ini mencakup empat fungsi utama, yaitu 1) perencanaan melalui pembentukan panitia, pengelompokan santri, pembagian materi, dan pengelolaan anggaran, 2) pengorganisasian melalui struktur yang jelas dan penempatan anggota sesuai kompetensi, 3) penggerakan dengan motivasi, bimbingan, komunikasi efektif, dan harmonisasi hubungan antar elemen pesantren, 4) serta pengendalian melalui pemantauan aktif Pengasuh, koordinasi internal pengurus, dan evaluasi rutin. Namun, masih terdapat beberapa aspek dari fungsi tersebut yang belum berjalan secara maksimal. Oleh karena itu, upaya untuk memperbaiki kekurangan yang ada menjadi tanggung jawab pihak Pondok Pesantren guna meningkatkan efektivitas pelaksanaan kegiatan di masa mendatang
Manajemen konflik antar siswa di SMP Al-Hikmah Cepu Blora
Interaksi yang tinggi antar siswa di SMP Al-Hikmah Cepu Blora yang berbasis full day dan boarding school, dapat meningkatkan intensitas terjadinya konflik. Konflik seringkali muncul dari masalah kecil yang diperbesar oleh kesalahpahaman ataupun ketidakmampuan siswa dalam mengelola emosi. Manajemen konflik antar siswa diperlukan untuk meredakan atau menyelesaikan konflik secara efektif, sehingga dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara komprehensif bagaimana manajemen konflik antar siswa di SMP Al-Hikmah Cepu Blora.
Permasalahan yang diteliti mengenai, (1) Apa saja jenis konflik yang terjadi pada siswa di SMP Al-Hikmah Cepu Blora dan penyebabnya; (2) Bagaimana manajemen konflik antar siswa di SMP Al-Hikmah Cepu Blora. Dalam penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian dideskripsikan berdasarkan data dari lapangan, dengan informan yaitu kepala sekolah, waka kesiswaan, dan siswa.
Hasil penelitian menunjukkan : (1) Jenis konflik yang terjadi antar siswa di SMP Al-Hikmah Cepu Blora, meliputi konflik bullying dan perkelahian. Konflik bullying terjadi disebabkan oleh faktor emosional, seperti rasa ketidaksukaan, perasaan marah dan bentrokan kepribadian. Adapun konflik perkelahian terjadi karena ejek-ejekan, perkataan kasar, ataupun sikap egois. Dalam konflik tersebut terdapat jenis konflik interpersonal dan konflik intra-kelompok; (2) Manajemen konflik antar siswa di SMP Al-Hikmah Cepu Blora dapat dikatakan cukup baik, hal ini ditunjukkan dengan adanya program preventif, serta manajemen konflik yang dilakukan dengan accomoding (akomodasi), compromising (kompromi), dan collaborating (kolaborasi) yang berjalan cukup efektif dalam mencegah terjadinya konflik, serta dalam menyelesaikan konflik antar siswa
Pengambilan keputusan menunda pernikahan pada perempuan : studi pada perempuan karir di Kota Semarang
Pengambilan keputusan menunda pernikahan pada perempuan merupakan keputusan yang diambil oleh seorang perempuan yang ingin menunda untuk menikah. Di era modern saat ini, perempuan merasa bahwa mengutamakan karir dan pengembangan diri menjadi prioritas utama, sehingga perempuan memilih untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi untuk mencapai posisi professional dan mengembangkan diri untuk kehidupan di masa depannya. Meskipun tidak semua, namun beberapa perempuan merasa bahwa pernikahan dapat menjadi halangan bagi mereka untuk berkarir karena terdapat ekspektasi dan tanggung jawab tambahan dari status menjadi istri atau ibu. Selain itu, perempuan juga memilih untuk mempersiapkan kehidupan di masa depan yang lebih stabil. Perempuan merasa memiliki kebebasan untuk memilih dan menentukan jalan hidupnya, adanya kebebasan ini memberikan ruang bagi perempuan untuk menunda pernikahan sampai merasa benar-benar siap. Perempuan juga merasa bahwa tidak didasarkan pada usia dan tekanan dari masyarakat, melainkan tentang menemukan seseorang yang memiliki visi hidup, nilai dan tujuan yang sejalan, jika belum menemukan lebih baik menunggu namun dengan dibarengi memperbaiki hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi proses pengambilan keputusan menunda pernikahan ada perempuan karir di Kota Semarang dan dampak dari pengambilan keputusan menunda pernikahan pada perempuan karir di Kota Semarang.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, jenis penelitian ini merupakan penelitian lapangan serta pendekatan naratif, terdapat dua sumber data dalam penelitian ini yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengambilan data yang digunakan melalui beberapa tahapan yaitu wawancara dan dokumentasi. Dalam prosesnya, penelitian melakukan wawancara dengan teknik semistruktur. Pemilihan informan dalam penelitian ini dengan teknik purposive dan yang terpilih sebagai informan dalam penelitian ini yaitu perempuan yang sedang berkarir di usia 25-30 tahun, penelitian ini menggunakan wawancara semistruktur karena ingin lebih terbuka untuk menemukan permasalahan yang terjadi, informan memiliki kebebasan untuk berpendapat dan menceritakan pengalaman hidupnya. Adapun data yang diperoleh dalam penelitian ini akan dianalisis dan dikembangkan melalui beberapa tahap yaitu reduksi data, penyajian data dan kesimpulan. Penelitian ini menganalisis temuan mengenai pengambilan Keputusan menunda pernikahan pada Perempuan karir di Kota Semarang dengan menggunakan teori pilihan rasional James Coleman. Teori pilihan rasional memiliki dua konsep kunci, aktor dan sumber daya. Perempuan merupakan individu yang berperan sebagai aktor yang mengambil keputusan menunda menikah dengan memaksimalkan keuntungan dan manfaat. Selanjutnya, sumber daya merupakan sesuatu yang menarik perhatian aktor serta dapat dikontrol oleh aktor. Sumber daya dalam penelitian ini berupa peluang yang dimiliki oleh perempuan untuk mencapai kemaksimalan dari pilihannya, hal itu berupa peluang karir, pendidikan dan pengetahuan yang dimiliki oleh Perempuan.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pengambilan keputusan menunda menikah yang dipilih oleh perempuan karir di Kota semarang yang menjadi informan melalui proses dan pertimbangan yang beragam. Pengambilan keputusan menunda pernikahan merupakan keputusan yang berat, sehingga dalam pengambilan keputusan ini perempuan melalui beberapa proses, yaitu proses konsultasi dengan orang tua, proses konsultasi dengan psikolog dan proses introspeksi diri. Selain itu, ada beberapa alasan atau faktor yang mendorong perempuan untuk menunda pernikahan yaitu karena prioritas karir dan pengembangan diri, kekhawatiran terkait komitmen pernikahan, belum menemukan pasangan yang sesuai dan ketidakstabilan ekonomi. Selain itu, keputusan menunda menikah pun memberikan dampak bagi perempuan, baik itu positif dan negatif. Dampak positif bagi perempuan memutuskan menunda menikah yaitu peningkatan karir dan pencapaian pribadi, memiliki waktu lebih banyak untuk menikmati hidup dan hubungan sosial, memiliki kesiapan mental dan emosional yang lebih matang. Kemudian, dampak negatif yang dirasakan perempuan yang menunda menikah yaitu mendapat tekanan sosial dan stigma negatif dari lingkungan masyarakat, perasaan cemas dan kesepian.
ABSTRACT:
The decision to postpone marriage among women is a choice made by a woman who wants to delay getting married. In the modern era, women feel that prioritizing career and self-development is of utmost importance, so they choose to pursue higher education to achieve professional positions and develop themselves for their future lives. Although not all, some women feel that marriage can be an obstacle for them to pursue a career because of the additional expectations and responsibilities that come with the status of being a wife or mother. In addition, women also choose to prepare for a more stable future. Women feel they have the freedom to choose and determine their own life paths, and this freedom provides space for women to postpone marriage until they truly feel ready. Women also feel that it is not based on age and societal pressure, but rather about finding someone who shares the same life vision, values, and goals. If they haven't found that person yet, it is better to wait while also improving their own lives. This research aims to identify the decision-making process of delaying marriage among career women in Semarang City and the impact of the decision to delay marriage on career women in Semarang City.
This research uses qualitative research methods, which are field research and narrative approaches. There are two data sources in this research, namely primary data and secondary data. The data collection techniques used involved several stages, namely interviews and documentation. In the process, the research conducted interviews using a semi-structured technique. The selection of informants in this study was done using purposive sampling, and the chosen informants were women who are pursuing careers at the ages of 25-30. This study used semi-structured interviews to be more open to discovering the issues that arise, allowing informants the freedom to express their opinions and share their life experiences. The data obtained in this study will be analyzed and developed through several stages, namely data reduction, data presentation, and conclusion. This research analyzes findings regarding the decision-making to postpone marriage among career women in Semarang City using James Coleman's rational choice theory. The rational choice theory has two key concepts, actors and resources. Women are individuals who act as actors making the decision to postpone marriage by maximizing benefits and advantages. Next, resources are something that attract the attention of the actor and can be controlled by the actor. Resources in this study are in the form of opportunities that women have to maximize their choices, which include career opportunities, education, and knowledge possessed by women.
The results of this study indicate that the decision to postpone marriage chosen by career women in Semarang City, who served as informants, was made through various processes and considerations. The decision to postpone marriage is a heavy one, so in making this decision, women go through several processes, namely the process of consulting with parents, the process of consulting with a psychologist, and the process of self-introspection. In addition, there are several reasons or factors that encourage women to postpone marriage, such as career and self-development priorities, concerns about marriage commitment, not having found the right partner, and economic instability. Furthermore, the decision to postpone marriage also has an impact on women, both positive and negative. The positive impact for women deciding to postpone marriage includes career advancement and personal achievements, having more time to enjoy life and social relationships, and having more mature mental and emotional readiness. Then, the negative impacts felt by women who delay marriage include social pressure and negative stigma from the community, feelings of anxiety and loneliness
Pemberdayaan perempuan melalui program PKK : studi di Dasawisma RT 01 RW 01, Desa Sarwodadi, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang
Pemberdayaan perempuan ialah suatu upaya yang terstruktur dan terarah yang bertujuan untuk memperkuat status, kedudukan dan keadaan perempuan agar dapat memperoleh kesejahteraan yang setara dengan kaum laki-laki dalam kehidupan berkeluarga dan masyarakat (Zainuddin, dkk, 2023). PKK Desa Sarwodadi menjadi salah satu pelaksana program pemberdayaan ini dengan mengembangkan kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan melalui program HATINYA PKK (Halaman Asri Teratur Indah dan Nyaman) serta pengelolaan sampah yang diterapkan di Dasawisma RT 01 RW 01. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses pemberdayaan perempuan, dampak yang ditimbulkan, serta faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan program PKK di Dasawisma RT 01 RW 01 Desa Sarwodadi, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang.
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan metode kualitatif deskriptif. Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Observasi dilakukan terhadap program pemberdayaan perempuan oleh PKK Desa Sarwodadi di Dasawisma RT 01 RW 01, sementara wawancara melibatkan ketua PKK, empat anggota dasawisma, dan dua anggota keluarga mereka. Sementara itu, analisis datanya menggunakan model Miles dkk (2014), yakni kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemberdayaan dilakukan melalui berbagai kegiatan seperti penyuluhan dan pelatihan, yang mencerminkan strategi education and consciousness raising karena meningkatkan pengetahuan dan kesadaran kritis perempuan terhadap isu lingkungan rumah tangga. Penyuluhan sebagai proses enabling membuka ruang dialog partisipatif. Pelatihan sebagai proses empowering yang memberi keterampilan praktis yang memperkuat kapasitas perempuan dalam mengelola lingkungan secara mandiri. Sementara itu, kegiatan selapanan dan konseling mencerminkan strategi protecting, karena keduanya menjadi ruang perlindungan sosial dan emosional, memperkuat solidaritas antaranggota, serta menjaga keberlangsungan dukungan dalam komunitas dasawisma. Dampak dari pemberdayaan ini meliputi meningkatnya pengetahuan perempuan, penguatan solidaritas sosial, bertambahnya kontrol terhadap pengelolaan lingkungan serta perubahan lingkungan fisik. Adapun Faktor pendukung program mencakup kepemimpinan PKK yang aktif, solidaritas pengurus dan antusiasme anggota dasawisma. Hambatannya ialah kurangnya dukungan keluarga, keterbatasan dana, dan fasilitas yang belum memadai.
ABSTRACT:
Women's empowerment is a structured and targeted effort that aims to strengthen the status, position and condition of women so that they can obtain welfare that is equal to that of men in family and community life (Zainuddin, et al., 2023). PKK Sarwodadi Village is one of the implementers of this empowerment program by developing yard utilization activities through the HATINYA PKK (Organized, Beautiful and Comfortable Yard) program as well as waste management implemented in Dasawisma RT 01 RW 01.
This study aims to analyze the process of women's empowerment, the impacts caused, and supporting and inhibiting factors in the implementation of the PKK program in Dasawisma RT 01 RW 01 Sarwodadi Village, Comal District, Pemalang Regency.
This research is a field research with descriptive qualitative methods. The data collected consists of primary and secondary data through observation, in-depth interviews, and documentation. Observations were made on the women's empowerment program by the PKK of Sarwodadi Village in Dasawisma RT 01 RW 01, while interviews involved the PKK chair, four members of the dasawisma, and two of their family members. Meanwhile, the data analysis uses the Miles et al (2014) model, namely data condensation, data presentation, and drawing conclusions.
The results of the study show that the empowerment process is carried out through various activities such as counseling and training, which reflect the education and consciousness raising strategy because it increases women's knowledge and critical awareness of household environmental issues. Counseling as an enabling process opens up space for participatory dialogue. Training as an empowering process that provides practical skills that strengthen women's capacity to manage the environment independently. Meanwhile, the selapanan and counseling activities reflect the protecting strategy, because both are spaces for social and emotional protection, strengthening solidarity between members, and maintaining the continuity of support within the dasawisma community. The impacts of this empowerment include increasing women's knowledge, strengthening social solidarity, increasing control over environmental management and changes in the physical environment. The supporting factors for the program include active PKK leadership, the solidarity of the management and the enthusiasm of the dasawisma members. The obstacles are lack of family support, limited funds, and inadequate facilities
Strategi bertahan hidup masyarakat pedesaan : studi perilaku bertahan hidup masyarakat Desa Balapulang Kulon, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal
Masyarakat pedesaan menghadapi berbagai tantangan ekonomi yang mendorong mereka untuk mengembangkan strategi bertahan hidup. Salah satu fenomena yang muncul di Desa Balapulang Kulon, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal adalah keberadaan Bank Utuk sebagai sebuah lembaga keuangan informal yang beroperasi dengan skema peminjaman berbunga. Praktik ini menjadi pilihan bagi masyarakat karena aksesnya yang mudah dan cepat dibandingkan dengan lembaga keuangan formal. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana operasionalisasi Bank Utuk serta alasan masyarakat memilihnya sebagai sebuah strategi bertahan hidup.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini yakni data primer dan sekunder. Data primer sendiri merupakan data yang dikumpulkan secara langsung melalui observasi dan wawancara yang dilakukan dengan petugas Bank Utuk, nasabah, serta keluarga dari nasabah Bank Utuk. Sedangkan, data sekunder dalam penelitian ini bersumber dari buku, artikel jurnal, serta dokumen-dokumen. Teknik penentuan informan sendiri dilakukan dengan menggunakan teknik purposive dengan jumlah informan sebanyak enam orang. Analisis dilakukan dengan menggunakan teknik analisis Miles dan Huberman dengan mereduksi datam menyajikan data, dan menarik kesimpulan. Analisis dalam penelitian ini menggunakan teori pilihan rasional James S. Coleman yang digunakan untuk menganalisis keputusan masyarakat dalam menggunakan jasa Bank Utuk.
Hasil penelitian menunjukkan bahwasannya masyarakat memanfaatkan dua jenis Bank Utuk, yaitu Bank BJ dengan sistem pinjaman individual dan Bank MBK dengan sistem pinjaman kelompok atau tanggung renteng. Kedua bank tersebut menerapkan sistem pinjaman mingguan dan persyaratan yang relatif mudah. Pemanfaatan Bank Utuk ini menjadi sebuah strategi bertahan hidup bagi masyrakat yang mayoritas pekerjaannya bekerja sebagai buruh harian lepas, hal tersebut dikarenakan adanya fleksibilitas layanan, kemudahan akses, serta adanya dukungan sosial dan normalisasi praktik tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
ABSTRACT:
Rural communities face various economic challenges that encourage them to develop survival strategies. One phenomenon that has emerged in Balapulang Kulon Village, Balapulang Sub-district, Tegal Regency is the existence of Bank Utuk, an informal financial institution that operates with an interest-bearing lending scheme. This practice became an option for the community because of its easy and quick access compared to formal financial institutions. Based on this background, this research aims to understand how Utuk Bank operates and the reasons why people choose it as a survival strategy.
This research uses a qualitative method with a descriptive approach. The data sources in this research are primary and secondary data. Primary data itself is data collected directly through observations and interviews conducted with Bank Utuk officers, customers, and families of Bank Utuk customers. Meanwhile, secondary data in this study comes from books, journal articles, and documents. The technique of determining the informants themselves was carried out using purposive techniques with a total of six informants. Analysis was carried out using the Miles and Huberman analysis technique by reducing data, presenting data, and drawing conclusions. The analysis in this study uses James S. Coleman's rational choice theory which is used to analyze the community's decision and to analyze the community's decision.
The results showed that the community utilizes two types of Bank Utuk, namely Bank BJ with an individual loan system and Bank MBK with a group or responsibility loan system. Both banks have a weekly loan system and relatively easy requirements. The utilization of Bank Utuk has become survival strategy for people whose majority of jobs are working as casual laborers, due to the flexibility of as casual daily laborers, this is due to the flexibility of services, ease of access, as well as social support and normalization of the practice in daily life practice in everyday life
Tradisi pemakaman tionghoa : studi kasus tentang prosesi perawatan dan pemulasaraan jenazah pada Yayasan Pemulasaraan Kematian Mitra Sedjati Kota Semarang
Tradisi pemakaman Tionghoa merupakan warisan budaya yang kaya akan nilai spiritual, sosial, dan simbolik, yang mencerminkan penghormatan kepada leluhur serta keyakinan akan kehidupan setelah kematian. Prosesi pemakaman melibatkan berbagai ritual sakral yang memerlukan ketelitian dan pemahaman mendalam terhadap adat istiadat. Namun, dalam era modern, banyak keluarga mengalami keterbatasan dalam menjalankan prosesi ini secara mandiri, baik karena kurangnya pengetahuan maupun keterbatasan waktu dan tenaga. Oleh karena itu, keberadaan Yayasan Pemulasaraan Kematian (YPK) Mitra Sedjati menjadi solusi bagi keluarga yang ingin menjalankan pemakaman sesuai tradisi dengan tetap mempertimbangkan aspek efisiensi dan kenyamanan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan pemulasaraan yang dilakukan oleh YPK Mitra Sedjati pada pemakaman etnis Tionghoa dan alasan pihak keluarga Tionghoa memulasarakan keluarganya di YPK Mitra Sedjati Kota Semarang.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan. Sumber data dalam penelitian yaitu data primer dan data sekunder. Data diperoleh melalui observasi langsung, wawancara semi-terstruktur dengan pengurus YPK Mitra Sedjati dan beberapa keluarga Tionghoa. Orang yang dipilih berdasarkan pandangan bahwa informan memiliki keterkaitan dengan informasi yang sedang diteliti yakni tradisi pemakaman Tionghoa. Sementara itu, data dalam penelitian ini dianalisis dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Nantinya, teori rasionalitas Max Weber digunakan untuk memperkuat hasil analisis penelitian ini.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga Tionghoa memilih YPK Mitra Sedjati karena pertimbangan ekonomi, pemahaman terhadap adat, faktor agama, serta kepercayaan terhadap profesionalitas yayasan. Keputusan ini dapat dianalisis melalui empat rasionalitas Weber, yakni instrumental dalam efisiensi waktu dan biaya, nilai dalam pelestarian tradisi leluhur, tradisional sebagai warisan budaya turun-temurun, serta afektif karena kebutuhan emosional saat berduka. Selain itu, prosesi pemakaman di YPK Mitra Sedjati memiliki struktur sistematis, dengan tahapan Jib Bok, Mai Song, Sang Cong, dan Jib Gong bagi jenazah non-Islam. Serta tata cara pemakaman Islam mulai dari memandikan, mengkafani, menshalatkan, hingga menguburkan dan mendoakan jenazah bagi Tionghoa Muslim.
ABSTRACT:
The Chinese funeral tradition is a cultural heritage rich in spiritual, social, and symbolic values, reflecting respect for ancestors and belief in the afterlife. The funeral process involves various sacred rituals that require meticulous attention and a deep understanding of customs. However, in the modern era, many families face limitations in carrying out these rituals independently due to a lack of knowledge, time, and resources. Therefore, the presence of the Mitra Sedjati Funeral Care Foundation (YPK Mitra Sedjati) serves as a solution for families seeking to conduct funerals according to tradition while ensuring efficiency and convenience. This study aims to describe the funeral procedures performed by YPK Mitra Sedjati for the Chinese ethnic community and examine the reasons why Chinese families in Semarang choose this foundation for their funeral arrangements.
This research employs a qualitative method with a case study approach. The type of research conducted is field research. The data sources include both primary and secondary data. Data collection was carried out through direct observation and semi-structured interviews with the administrators of YPK Mitra Sedjati and several Chinese families. Informants were selected based on their relevance to the research topic, specifically their involvement in Chinese funeral traditions. Meanwhile, the data analysis process includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. Max Weber’s theory of rationality is used to support the research findings.
The findings indicate that Chinese families choose YPK Mitra Sedjati based on economic considerations, adherence to customs, religious factors, and trust in the professionalism of the foundation. This decision can be analyzed through Weber's four types of rationality: instrumental rationality, which considers time and cost efficiency; value rationality, which emphasizes the preservation of ancestral traditions; traditional rationality, which continues cultural practices passed down through generations; and affective rationality, which reflects the emotional needs of grieving families. Additionally, the funeral process at YPK Mitra Sedjati follows a systematic structure, including the stages of Jib Bok, Mai Song, Sang Cong, and Jib Gong for non-Islamic Chinese funerals, as well as Islamic funeral rites—washing, shrouding, funeral prayers, burial, and post-burial prayers—for Chinese Muslims
Dukun bayi sebagai simbol keselamatan ibu dan anak di Desa Kenongo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang : studi pijat hamil dan pijat bayi
Dukun bayi adalah salah satu tokoh penting yang ada di masyarakat.di Desa Kenongo, masyarakat masih masih menggunakan jasa dukun bayi meskipun perkembangan teknologi kesehatan sudah modern. Masyarakat Desa kenongo masih menggunakan jasa dukun bayi karena masyarakat masih percaya terhadap jasa pijat yang dianggap bisa membantu merawat ibu hamil, merawat bayi, dan menyembuhkan anak kecil yang sakit. Hal ini menjadikan masyarakat Desa Kenongo masih menggunakan jasa dukun bayi sampai sekarang karena dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat dan lingkungan keluarga. Penelitian ini berfokus pada layanan yang disediakan oleh dukun bayi pada saat hamil, melahirkan, dan ketika mempunyai bayi. Penelitian ini menjelaskan mengenai proses pijat yang dilakukan oleh dukun bayi dengan lokus daerah di Desa Kenongo. Fokus penelitian ini terletak pada faktor praktik dukun bayi yang masih bertahan dan dilakukan di Desa Kenongo. Penelitian ini juga berfokus pada faktor masyarakat masih menggunakan jasa dukun bayi, serta dampak yang ditimbulkan dengan keberadaan dukun bayi di Desa Kenongo.
Penelitian merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian lapangan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sumber data primer dan sekunder dengan teknik pengumpulan data melalui observasi non partisipasi dan wawancara terstruktur menggunakan 7 informan dan dokumentasi. Adapun analisis data dalam penelitian ini yaitu menggunakan model Milles dan Huberman dengan cara reduksi data, penyajian data, dan penarika kesimpulan. Secara substansif dan analisis penelitian ini menggunakan interaksionisme simbolik George Herbert Mead (1934) untuk menganalisis masyarakat yang percaya dengan praktik dukun bayi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Kenongo masih menggunakan jasa dari dukun bayi dalam pijat hamil dan pijat bayi sampai sekarang. Dukun bayi dianggap sebagai simbol keselamatan bagi ibu dan anak di Desa Kenongo. Hal ini dikarenakan masyarakat masih percaya bahwa kalau ada kendala pada saat hamil maka dibawa ke dukun bayi untuk ditata dengan pijat hamil dan masyarakat Desa Kenongo masih belum berani menangani bayi nya sendiri. Masyarakat Desa Kenongo yang menggunakan jasa dukun bayi dipengaruhi oleh cara berpikir lingkungan masyarakat serta lingkungan keluarga. Faktor yang membuat masyarakat Desa Kenongo masih menggunakan jasa dari dukun bayi yaitu faktor kondisi ekonomi, sosial, dan pendidikan. Praktik ini menjadi resiko dan tantangan dari bidan dan pemerintah desa untuk memberikan edukasi untuk masyarakat Desa Kenongo. Praktik ini juga memiliki resiko kepada kesehatan ibu dan bayi.
ABSTRACT:
Baby shamans are one of the important figures in the community.in Kenongo Village, the community still uses the services of baby shamans even though the development of health technology has become modern. The people of Kenongo Village still use the services of baby shamans because the community still believes in massage services that are considered to be able to help take care of pregnant women, take care of babies, and heal sick children. This makes the people of Kenongo Village still use the services of baby shamans until now because they are influenced by the community environment and the family environment. This study focuses on the services provided by baby quacks during pregnancy, childbirth, and when having a baby. This study explains the massage process carried out by baby shamans with regional loci in Kenongo Village. This research also focuses on the factor that people still use the services of baby shamans, as well as the impact caused by the existence of baby shamans in Kenongo Village.
The research is a qualitative research with a descriptive approach. This research uses a type of field research. The data sources used in this study are primary and secondary data sources with data collection techniques through non-participatory observation and structured interviews using 7 informants and documentation. The data analysis in this study is using the Milles and Huberman model by means of data reduction, data presentation, and conclusion drawn. Substantively and analytically, this study uses the symbolic interactionism of George Herbert Mead (1934) to analyze the society that believes in the practice of baby shamans.
The results of the study show that the people of Kenongo Village still use the services of baby shamans in pregnancy massage and baby massage until now. Baby shamans are considered a symbol of safety for mothers and children in Kenongo Village. This is because the community still believes that if there are obstacles during pregnancy, they are taken to a baby shaman to be groomed with a pregnancy massage and the people of Kenongo Village still do not dare to handle their own babies. The people of Kenongo Village who use the services of baby shamans are influenced by the way of thinking about the community environment and the family environment. The factors that make the people of Kenongo Village still use the services of baby shamans are economic, social, and educational conditions. This practice is a risk and challenge for midwives and the village government to provide education for the people of Kenongo Village. This practice also poses a risk to the health of the mother and baby
Toxic relationship dalam hubungan romantis : studi pada mahasiswa UIN Walisongo Semarang
Toxic relationship adalah fenomena hubungan interpersonal yang ditandai oleh ketidakseimbangan kekuasaan, kontrol, serta perilaku merugikan baik secara psikologis maupun fisik, yang sering kali berakar dari pola interaksi tidak sehat di lingkungan keluarga dan terbawa ke hubungan romantis dewasa, sehingga memunculkan siklus perilaku beracun yang berulang. Fenomena ini juga ditemukan secara nyata di UIN Walisongo Semarang, sebagaimana hasil riset dengan PSGA dan WHPDC, yang menunjukkan bahwa toxic relationship di lingkungan kampus kerap dipicu oleh dominasi gender dan ketimpangan kekuasaan dalam relasi, sehingga berdampak negatif pada kesehatan mental, kesejahteraan psikologis, dan kualitas hidup mahasiswa, baik laki-laki maupun perempuan. Adapun tujuan dalam penelitian ini untuk mengetahui bentuk-bentuk kekerasan toxic relationship yang telah dialami korban di kalangan mahasiswa UIN Walisongo Semarang, dan dampak yang timbul akibat toxic relationship yang dialami korban di kalangan mahasiswa UIN Walisongo Semarang.
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian (field research) dan metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deksriptif untuk mendalami bentuk, pola dan dampak toxic relationship yang dialami oleh para korban. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan non partisipatoris, wawancara semi struktur yang termasuk dalam wawancara mendalam dan dokumentasi. Dalam prosesnya, peneliti melakukan wawancara dengan 5 informan korban toxic relationship yang mengalami bentuk kekerasan verbal atau emosional, ekonomi dan fisik. Teori yang digunakan adalah teori gender Mansour Fakih dengan asumsi pola pembentukan gender menjadi masalah utama dalam tubuh masyarakat, karena konsep-konsep yang terkandung di dalamnya sering kali menimbulkan ketidaksetaraan dan perlakuan tidak adil antara laki-laki dan perempuan.
Hasil penelitian menunjukan bahwa toxic relationship adalah hubungan yang didominasi pola interaksi negatif seperti kontrol berlebihan, komunikasi tidak sehat, manipulasi, gaslighting, dan kekerasan dalam berbagai bentuk, yang menyebabkan salah satu pihak merasa dirugikan, kehilangan kebebasan, privasi, serta kepercayaan diri. Berdasarkan penelitian terhadap mahasiswa UIN Walisongo Semarang, pola ini berkembang melalui siklus perilaku seperti dominasi, posesif, isolasi sosial, komunikasi satu arah, dan kurangnya dukungan emosional, sehingga korban mengalami tekanan psikologis dan kehilangan rasa percaya diri. Dampak dari toxic relationship tidak hanya merusak kualitas hubungan, tetapi juga menimbulkan kerusakan mendalam pada aspek psikis (stres, kecemasan, trauma), sosial (isolasi, kehilangan dukungan), perilaku (menarik diri, abai terhadap diri sendiri), dan fisik (cedera, gangguan tidur), sehingga diperlukan upaya pemulihan yang komprehensif serta dukungan lingkungan agar korban dapat bangkit dan membangun kembali kualitas hidupnya.
ABSTRACT:
Toxic relationships are interpersonal relationship phenomena characterized by an imbalance of power, control, and detrimental behavior both psychologically and physically, which are often rooted in unhealthy interaction patterns in the family environment and carried over into adult romantic relationships, giving rise to a cycle of repeated toxic behavior. This phenomenon was also found in real terms at UIN Walisongo Semarang, as research results with PSGA and WHPDC showed that toxic relationships on campus are often triggered by gender dominance and power imbalances in relationships, thus negatively impacting mental health, psychological well-being, and quality of life of students, both male and female. The purpose of this study was to determine the forms of toxic relationship violence experienced by victims among UIN Walisongo Semarang students, and the impacts arising from toxic relationships experienced by victims among UIN Walisongo Semarang students.
This study uses a type of research (field research) and the method used is a qualitative method with a descriptive approach to explore the forms, patterns and impacts of toxic relationships experienced by victims. Data were collected through non-participatory field observations, semi-structured interviews included in in-depth interviews and documentation. In the process, researchers conducted interviews with 5 informants who were victims of toxic relationships who experienced verbal or emotional, economic and physical violence. The theory used is Mansour Fakih's gender theory with the assumption that gender formation patterns are a major problem in society, because the concepts contained therein often cause inequality and unfair treatment between men and women.
The results of the study show that a toxic relationship is a relationship dominated by negative interaction patterns such as excessive control, unhealthy communication, manipulation, gaslighting, and violence in various forms, which causes one party to feel disadvantaged, lose freedom, privacy, and self-confidence. Based on research on UIN Walisongo Semarang students, this pattern develops through a cycle of behavior such as dominance, possessiveness, social isolation, one-way communication, and lack of emotional support, so that victims experience psychological pressure and lose self-confidence. The impact of a toxic relationship not only damages the quality of the relationship, but also causes deep damage to the psychological (stress, anxiety, trauma), social (isolation, loss of support), behavioral (withdrawal, self-neglect), and physical (injury, sleep disturbance) aspects, so that comprehensive recovery efforts and environmental support are needed so that victims can recover and rebuild their quality of life