Walisongo State Islamic University

Walisongo Institutional Repository
Not a member yet
    26964 research outputs found

    Konstruksi maskulinitas pada pegawai laki-laki di salon kecantikan : studi di Salon Mojang Kecantikan, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat

    Get PDF
    Konsep maskulinitas sebagai konstruksi sosial budaya seringkali dilekatkan dengan karakteristik tertentu seperti kekuasaan, ketabahan, dan kemandirian, yang berujung pada fenomena toxic masculinity. Fenomena ini membatasi laki-laki dalam mengekspresikan emosi atau memilih pekerjaan yang dianggap tidak sesuai dengan citra maskulin tradisional seperti di sektor kecantikan. Toxic masculinity juga menjadi persoalan serius dalam diskursus gender karena dapat berdampak pada kesehatan mental laki-laki bahkan dalam kasus ekstrem dapat berujung pada tindakan bunuh diri. Namun seiring berkembangnya zaman, nilai-nilai terkait maskulinitas mulai mengalami perubahan tanpa menghilangkan makna yang terkandung didalamnya. Hairstylist laki-laki mencerminkan adanya perubahan dalam konstruksi maskulinitas, mengingat profesi di bidang kecantikan seringkali dianggap bertentangan dengan stereotip gender maskulin. Dengan layanan perawatan rambut yang beragam dan komposisi pegawai yang inklusif, Salon Mojang menjadi representasi keberagaman gender di tempat kerja. Penelitian ini menganalisis persepsi pekerja laki-laki terhadap profesinya serta konstruksi maskulinitas di salon kecantikan berdasarkan teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann melalui dialektika eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji fenomena konstruksi maskulinitas pada pegawai laki-laki di Salon Mojang Kecantikan yang mencerminkan toxic masculinity, Kecamatan Bungursari, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Studi ini berfokus pada bagaimana maskulinitas dipahami dan direkonstruksi dalam konteks pekerjaan di industri kecantikan yang kerap diasosiasikan dengan femininitas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif guna menjelaskan mengenai latar belakang individu melakukan suatu Tindakan. Proses pengumpulan data dilakukan dengan Teknik observasi non partisipatif, wawancara mendalam, kajian pustaka melalui buku, artikel, jurnal, atau penelitian terdahulu. Informan dalam penelitian ini berjumlah tujuh orang dengan kriteria pemilik salon, pegawai laki-laki, pegawai perempuan, dan pelanggan. Data dianalisis menggunakan Teknik induktif dari Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Pendekatan ini memungkinkan pengumpulan data yang mendalam dan naratif sesuai dengan tujuan penelitian untuk menggambarkan fenomena secara alamiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toxic masculinity di Salon Mojang muncul akibat konstruksi maskulinitas tradisional yang didominasi nilai-nilai patriarki dan menghasilkan dualitas persepsi, di mana stigma sosial seringkali memunculkan tantangan dalam membuktikan profesionalisme mereka. Namun, melalui proses interaksi sosial yang dinamis, nilai dan norma baru mulai terbentuk, menciptakan transformasi maskulinitas yang lebih inklusif. Proses ini mencerminkan tiga tahapan dalam teori konstruksi sosial: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Faktor internal seperti kepribadian dan latar belakang keluarga, serta faktor eksternal seperti teknologi dan budaya turut mempengaruhi dinamika ini. Temuan penelitian ini menegaskan bahwa konstruksi maskulinitas dapat berubah seiring waktu dan menciptakan pemahaman baru tentang maskulinitas di dunia kecantikan yang tidak hanya berbasis pada kekuatan fisik, tetapi juga keterampilan, empati, dan profesionalisme.   ABSTRACT: The concept of masculinity as a socio-cultural construct is often associated with specific characteristics such as power, resilience, and independence, which ultimately lead to the phenomenon of toxic masculinity. This phenomenon restricts men from expressing emotions or pursuing occupations deemed inconsistent with traditional masculine ideals, such as those in the beauty industry. Toxic masculinity is also a serious issue in gender discourse, as it can impact men's mental health and, in extreme cases, lead to suicide. However, as society evolves, values related to masculinity have begun to shift without erasing their inherent meaning. Male hairstylists reflect this transformation in the construction of masculinity, considering that professions in the beauty industry are often perceived as conflicting with traditional masculine stereotypes. With diverse hair care services and an inclusive workforce, Salon Mojang represents gender diversity in the workplace. This study analyzes male workers' perceptions of their profession and the construction of masculinity in beauty salons based on Berger and Luckmann's social construction theory, examined through the dialectical processes of externalization, objectivation, and internalization. This study aims to examine the phenomenon of masculinity construction among male employees at Salon Mojang Kecantikan, which reflects toxic masculinity, in Bungursari District, Purwakarta Regency, West Java. The study focuses on how masculinity is understood and reconstructed in the context of work in the beauty industry, which is often associated with femininity. This research uses a qualitative method with a descriptive approach to explain the background of individuals' actions. Data collection was carried out using non participatory observation techniques, in-depth interviews, and literature reviews through books, articles, journals, or previous studies. The informants in this study numbered seven people, including salon owners, male employees, female employees, and customers. The data were analyzed using the Miles and Huberman method, which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawing. This approach allows for in-depth and narrative data collection in line with the study's objectives to describe the phenomenon naturally. The results of the study show that toxic masculinity at Salon Mojang arises from the construction of traditional masculinity dominated by patriarchal values, leading to a duality of perception, where social stigma often presents challenges in proving their professionalism. However, through a dynamic process of social interaction, new values and norms begin to form, creating a more inclusive transformation of masculinity. This process reflects three stages in the social construction theory: externalization, objectivation, and internalization. Internal factors such as personality and family background, as well as external factors like technology and culture, also influence this dynamic. The findings of this study confirm that the construction of masculinity can change over time, creating a new understanding of masculinity in the beauty industry that is not solely based on physical strength but also on skills, empathy, and professionalism

    Frugal living di kalangan sandwich generation : studi pada pekerja komuter di Bekasi

    Get PDF
    Fenomena mobilitas pekerja komuter semakin menjadi sorotan dan bagian dari cerminan kehidupan perkotaan saat ini. Salah satu kelompok yang harus menghadapi rutinitas ini adalah sandwich generation, yaitu mereka yang menanggung tanggung jawab ekonomi bagi dirinya sendiri dan keluarganya secara bersamaan. Frugal living hadir sebagai langkah yang dipilih oleh kalangan sandwich generation pekerja komuter Bekasi-Jakarta untuk mengelola dan menyeimbangkan antara memenuhi kebutuhan dan merencanakan masa depan mereka serta melaksanakan tanggung jawabnya terhadap keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik frugal living yang dilakukan oleh kalangan sandwich generation pekerja komuter Bekasi-Jakarta, memahami alasan di balik penerapan frugal living tersebut, dan mengidentifikasi dampaknya terhadap kehidupan sosial dan ekonomi mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan merupakan jenis penelitian lapangan. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi non-partisipan, dan dokumentasi. Wawancara mendalam dilakukan dengan para informan yang ditentukan melalui teknik snowball yaitu sandwich generation pekerja komuter Bekasi-Jakarta, sedangkan observasi non-partisipan dilakukan di stasiun KRL Bekasi dan Manggarai untuk mengamati pola mobilitas dan praktif frugal living yang dilakukan oleh pekerja komuter. Data yang telah diperoleh kemudian dianalisis dengan kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sementara itu, penulis menggunakan teori pilihan rasional Coleman sebagai landasan teori. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sandwich generation pekerja komuter Bekasi-Jakarta menerapkan frugal living melalui empat strategi yaitu memilih KRL sebagai moda transportasi utama dan penggunaan transportasi umum lainnya sebagai moda transportasi lanjutan karena harganya yang lebih terjangkau, memilih tempat tinggal di Bekasi untuk menekan biaya hidup, membawa bekal dari rumah guna mengurangi pengeluran konsumsi harian, serta mengatur pengeluaran dengan skala prioritas. Penerapan frugal living ini didorong oleh dua faktor, yaitu kebutuhan untuk menghemat pengeluaran, dan adanya dorongan untuk memenuhi tanggung jawab sebagai sandwich generation. Adapun dampak dari penerapan frugal living ini sendiri meliputi perubahan perilaku konsumtif menjadi lebih selektif dan bijak, dan terbentuknya kebiasaan menabung. Frugal living juga berdampak pada berubahnya pola interaksi dan gaya hidup menjadi lebih terbatas dan sederhana, serta memberikan kepuasan diri yang timbul dari keberhasilan menerapkan frugal living. Berdasarkan temuan tersebut, peneliti melihat bahwa frugal living ini bukan semata-mata persoalan efisiensi keuangan malainkan menjadi sebuah penolakan dari nilai-nilai konsumtif. Hal ini membuat kalangan sandwich generation pekerja komuter Bekasi-Jakarta kemudian berusaha mengencangkan ikat pinggang mereka agar tidak terjebak pada nilai-nilai konsumtif. ABSTRACT: The phenomenon of commuter worker mobility is increasingly in the spotlight and part of the reflection of urban life today. One of the groups that must face this routine is the sandwich generation, those who bear economic responsibility for themselves and their families simultaneously. Frugal living comes as a step chosen by the sandwich generation of Bekasi-Jakarta commuter workers to manage and balance between meeting their needs and planning for their future as well as carrying out their responsibilities towards their family. This research aims to analyze the frugal living practices of the Bekasi-Jakarta sandwich generation of commuter workers, understand the reasons behind the implementation of frugal living, and identify its impact on their social and economic lives. This research uses a qualitative method with a descriptive approach and is a type of field research. The data sources in this research consist of primary and secondary data. Data collection techniques were conducted through in-depth interviews, non-participant observation, and documentation. In-depth interviews were conducted with informants who were determined through the snowball technique, namely the sandwich generation of Bekasi-Jakarta commuter workers, while non-participant observation was carried out at Bekasi and Manggarai KRL stations to observe mobility patterns and frugal living practices carried out by commuter workers. The data that has been obtained is then analyzed by data condensation, data presentation, and conclusion drawing. Meanwhile, the author uses Coleman's rational choice theory as a theoretical basis. The results of this study show that the sandwich generation of Bekasi-Jakarta commuter workers apply frugal living through four strategies, namely choosing KRL as the main mode of transportation and using other public transportation as a further mode of transportation because the price is more affordable, choosing a place to live in Bekasi to reduce living costs, bringing lunch from home to reduce daily consumption expenditures, and managing expenses with a priority scale. The application of frugal living is driven by two factors, namely the need to save money, and the urge to fulfill the responsibility of being a sandwich generation. The impact of the application of frugal living itself includes changes in consumptive behavior to be more selective and wise, and the formation of saving habits. Frugal living also has an impact on changing interaction patterns and lifestyles to be more limited and simple, and provides self-satisfaction arising from the success of applying frugal living. Based on these findings, researchers see that frugal living is not merely a matter of financial efficiency but rather a rejection of consumptive values. This makes the sandwich generation of Bekasi-Jakarta commuter workers then try to tighten their belts so as not to be trapped in consumptive values

    Pengobatan tradisional di era modern : studi pengobatan sangkal putung di Kota Semarang

    Get PDF
    Pengobatan tradisional Sangkal Putung, sebagai praktik perawatan kesehatan yang telah ada sejak tahun 2000an dan diwariskan secara turun-temurun, tetap menjadi bagian integral dari sistem kesehatan di Indonesia, khususnya dalam konteks masyarakat Jawa. Sangkal Putung, yang berfokus pada penyembuhan masalah tulang seperti patah atau dislokasi, menarik perhatian karena keunikannya dalam menggabungkan pemijatan, penggunaan ramuan tradisional, dan ritual atau doa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui metode pengobatan tradisional Sangkal Putung sebagai alternatif penanganan cedera tulang di tengah perkembangan pengobatan era modern di Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif untuk menggali lebih dalam fenomena pengobatan tradisional Sangkal Putung di Kota Semarang. Data dikumpulkan melalui observasi lapangan terhadap praktisi pengobatan tradisional Sangkal Putung di Kota Semarang, dokumentasi, wawancara mendalam dengan batra (praktisi pengobatan tradisional) pengobatan sangkal putung di Kota Semarang yang masih aktif menjalankan praktiknya. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, yang bertujuan untuk memberikan gambaran yang komprehensif mengenai praktik pengobatan tradisional Sangkal Putung di Kota Semarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengobatan tradisional Sangkal Putung masih eksis dan relevan di Kota Semarang karena beberapa faktor, seperti biaya yang lebih terjangkau, kemudahan akses, dan kepercayaan masyarakat terhadap efektivitas metode yang digunakan. Praktik Sangkal Putung melibatkan teknik-teknik manual seperti pemijatan pada area cedera untuk menyelaraskan kembali tulang yang tergeser, penggunaan minyak urut atau ramuan herbal untuk mempercepat penyembuhan. Pengobatan Sangkal Putung merupakan metode tradisional yang unik dan kompleks menggabungkan keterampilan teknis pengetahuan tentang bahan alami, keyakinan spiritual, dan intuisi serta doa atau ritual yang dipercaya memberikan kekuatan tambahan. Penelitian ini memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai pengobatan tradisional Sangkal Putung sebagai bagian dari kekayaan budaya dan kearifan lokal masyarakat Kota Semarang. Sangkal Putung memiliki kelebihan yakni biayanya yang sangat terjangkau. Pasien biasanya hanya membayar secara sukarela sesuai kemampuan mereka, sehingga pengobatan ini menjadi solusi bagi masyarakat dengan keterbatasan ekonomi. Namun, di balik kelebihannya, Sangkal Putung memiliki beberapa kekurangan yang perlu diperhatikan. Salah satu kelemahan utamanya adalah kurangnya pelatihan formal bagi para praktisi. Sebagian besar praktisi hanya mengandalkan ilmu yang diwariskan secara turun-temurun tanpa pendidikan medis formal ABSTRACT: Traditional medicine Sangkal Putung, as a healthcare practice that has existed since the 2000s and has been passed down through generations, remains an integral part of Indonesia's health system, particularly within the context of Javanese society. Sangkal Putung, which focuses on treating bone-related issues such as fractures or dislocations, attracts attention due to its unique combination of massage techniques, the use of traditional herbal remedies, and rituals or prayers. This study aims to explore the methods of traditional Sangkal Putung treatment as an alternative for addressing bone injuries amidst the development of modern medicine in Semarang City. This research employs a qualitative method to delve deeper into the phenomenon of Sangkal Putung traditional medicine in Semarang City. Data was collected through field observations of active Sangkal Putung practitioners in Semarang City, documentation, and in-depth interviews with *batra* (traditional medicine practitioners) who continue to practice Sangkal Putung. Data analysis was conducted using a descriptive qualitative method to provide a comprehensive overview of the traditional Sangkal Putung treatment practices in Semarang City. The results of the study indicate that Sangkal Putung traditional medicine remains relevant and prevalent in Semarang City due to several factors, such as its affordability, ease of access, and the community's trust in the effectiveness of its methods. Sangkal Putung practices involve manual techniques such as massaging the injured area to realign displaced bones, using massage oils or herbal remedies to accelerate healing. Sangkal Putung is a unique and complex traditional method that combines technical skills, knowledge of natural ingredients, spiritual beliefs, intuition, and prayers or rituals believed to provide additional strength. This research provides deeper insights into Sangkal Putung as part of the cultural heritage and local wisdom of Semarang City's community. Sangkal Putung has advantages, particularly its affordability. Patients typically pay voluntarily according to their financial capacity, making this treatment a solution for economically disadvantaged communities. However, despite its benefits, Sangkal Putung has several shortcomings that need attention. One major weakness is the lack of formal training for practitioners. Most practitioners rely solely on knowledge passed down through generations without any formal medical education

    Manajemen pusat kegiatan belajar masyarakat dalam pengembangan karakter religius anak berkebutuhan khusus di PKBM Talenta (program kesetaraan SD) Semarang

    Get PDF
    Pendidikan menjadi suatu hal yang sangat penting untuk mempersiapkan manusia menghadapi tantangan yang akan datang dari globalisasi, serta menjadi manusia yang mempunyai aturan serta moral dalam kehidupannya, dan tentunya tak terkecuali pendidikan untuk mempersiapkan karakter manusia yaitu dalam konteks karakter religius bagi anak berkebutuhan khusus. Pada lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan inklusilah menjadi media yang tepat untuk mencapai tujuan dalam mengajarkan nilai-nilai karakter religius tersebut. Akan tetapi, untuk mencapai t u j u a n tersebut dibutuhkan manajemen sekolah yang baik dan efektif dalam mengelola baik dalam penerapan dan pengembangan karakter tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang bagaimana manajemen pusat kegiatan belajar masyarakat dalam pengembangan karakter religius ABK dan faktor apa saja pendukung dalam keberhasilan pengembangan karakter religius anak berkebutuhan khusus di PKBM Talenta (Program kesetaraan SD) Semarang. Jenis penelitian ini yaitu penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif deskriptif, data yang dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunujukkan bahwa (1) PKBM Talenta dalam mengelola manajemen pusat kegiatan belajar masyarakat dari segi penerapan dan pengembangan karakter religius ABK telah berjalan dengan efektif. (2) Beberapa faktor pendukung keberhasilan dalam pengembangan karakter religius ABK yaitu kurikulum yang efektif, tenaga pendidik yang sabar, kreatif, energik dan sarana prasarana yang memadai mendukung secara maksimal pengembangan karakter anak berkebutuhan khusus

    Pendayagunaan filantropi beasiswa mahasiswa produktif : studi di BAZNAS Kota Semarang

    Get PDF
    Fenomena pendayagunaan filantropi beasiswa mahasiswa produktif di BAZNAS Kota Semarang menjadi salah satu fenomena yang menarik untuk dikaji dalam kaitannya dengan program beasiswa yang diberikan pada mahasiswa Kota Semarang. Pasalnya dalam fundraising (penggalangan dana) pada tahapan pengelolaannya zakat, infak, sedekah (ZIS) di BAZNAS Kota Semarang ini mempunyai komitmen di setiap program kerjanya agar bisa terlaksana secara efektif, menebarkan kebermanfaatan pada sesama, dan berusaha memberikan program pelayanan yang terbaik bagi Masyarakat Kota Semarang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan program beasiswa mahasiswa produktif, modal sosial pada program beasiswa mahasiswa produktif, dan bentuk-bentuk pendayagunaan filantropi pada program beasiswa mahasiswa produktif di BAZNAS Kota Semarang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Adapun jenis penelitian ini adalah penelitian lapangan. Sumber data dalam penelitian ini yakni data primer dan sekunder. Data dalam penelitian ini diperoleh dari observasi non-partisipan, wawancara semiterstruktur dan dokumentasi. Dalam prosesnya, peneliti melakukan wawancara dengan kepala pelaksana BAZNAS Kota Semarang, pengurus BAZNAS Kota Semarang dan dua mahasiswi penerima program beasiswa mahasiswa produktif di BAZNAS Kota Semarang angkatan ke-16 Tahun 2025. Selanjutnya, data dalam penelitian ini dianalisis dengan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah modal sosial sosial menurut Robert D. Putnam. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pelaksanaan program beasiswa mahasiswa produktif di BAZNAS Kota Semarang, melalui mekanisme pendistribusian merujuk pada pedoman pendistribusian dan pendayagunaan zakat di lingkungan BAZNAS No. 64 Tahun 2019 dan pedoman berdasarkan bentuk keputusan ketua BAZNAS No. 12 tahun 2018 pada tanggal 21 Februari 2018 yang bernama Lembaga Beasiswa BAZNAS (LBB). Modal sosial pada program beasiswa mahasiswa produktif ini meliputi norma (norm) yaitu norma tertulis pada surat komitmen yang dibangun oleh pihak penerima beasiswa. Kepercayaan (trust) prinsip mahasiswa penerima beasiswa yaitu dengan prinsip membangun kepercayaan terhadap pihak BAZNAS Kota Semarang dalam surat perjanjian/kesepakatan Memorandum of Understanding (MoU). Jaringan (network) aktivitas beasiswa mahasiswa produktif melakukan kerja sama dengan berbagai pihak yaitu masyarakat Kota Semarang, perusahaan maupun instansi lain di Kota Semarang, dan pihak yang mensponsori program beasiswa mahasiswa produktif di BAZNAS Kota Semarang. Adapun bentuk-bentuk pendayagunaan filantropi pada program beasiswa mahasiswa produktif di BAZNAS Kota Semarang yaitu karitas yang terdapat pada bantuan hibah atau pendayagunaan dari zakat, infak, sedekah (ZIS) yang manfaatnya diterima secara langsung oleh mustahik (pihak dari penerima program beasiswa mahasiswa produktif) berupa dana bantuan yang diberikan pada pihak mahasiswa penerima beasiswa mahasiswa produktif di BAZNAS Kota Semarang secara langsung berupa uang tunai. Kemudian terdapat pengembangan insani, dalam program beasiswa mahasiswa produktif di BAZNAS Kota Semarang ini berupa memberikan pada mahasiswa penerima program beasiswa dalam bentuk program terkait dengan pelatihan sebagai duta BAZNAS Kota Semarang. ABSTRACT: The phenomenon of philanthropic utilization of productive student scholarships at BAZNAS Semarang City is an interesting phenomenon to study in relation to the scholarship program provided to Semarang City students. The reason is that in fundraising (fundraising) at the stage of management of zakat, infaq, sadaqah (ZIS) in BAZNAS Semarang City has a commitment in each of its work programs to be carried out effectively, spreading benefits to others, and trying to provide the best service program for the people of Semarang City. Therefore, this study aims to describe the implementation of productive student scholarship programs, social capital in productive student scholarship programs, and forms of philanthropic utilization in productive student scholarship programs at BAZNAS Semarang City. This research uses a qualitative method with a descriptive approach. The type of research is field research. The data sources in this research are primary and secondary data. The data in this study were obtained from non-participant observation, semi-structured interviews and documentation. In the process, researchers conducted interviews with the chief executive of BAZNAS Semarang City, BAZNAS Semarang City administrators and two female students who received productive student scholarship programs at BAZNAS Semarang City Batch 16 Year 2025. Furthermore, the data in this study were analyzed by data reduction, data presentation and conclusion drawing. The theory used in this research is social social capital according to Robert D. Putnam. The results of this study indicate that the implementation of the productive student scholarship program at BAZNAS Semarang City, through the distribution mechanism, refers to the guidelines for the distribution and utilization of zakat within BAZNAS No. 64 of 2019 and guidelines based on the form of BAZNAS chairman's decision No. 12 of 2018 on February 21, 2018 called the BAZNAS Scholarship Institute (LBB). Social capital in this productive student scholarship program includes norms, namely written norms in the commitment letter built by the scholarship recipients. Trust (trust) is the principle of scholarship recipient students, namely the principle of building trust in the BAZNAS Semarang City in the Memorandum of Understanding (MoU) agreement/agreement letter. Network (network) productive student scholarship activities cooperate with various parties, namely the people of Semarang City, companies and other agencies in Semarang City, and parties who sponsor productive student scholarship programs at BAZNAS Semarang City. The forms of utilization of philanthropy in the productive student scholarship program at BAZNAS Semarang City are karitas which is found in grant assistance or utilization of zakat, infaq, sadaqah (ZIS) whose benefits are received directly by mustahik (the recipient of the productive student scholarship program) in the form of aid funds given to the recipient students of productive student scholarships at BAZNAS Semarang City directly in the form of cash. Then there is human development, in the productive student scholarship program at BAZNAS Semarang City in the form of providing scholarship program recipients in the form of programs related to training as ambassadors of BAZNAS Semarang City

    Reflective learning in developing language teaching skills among EFL pre-service teachers: challenges and benefits

    Get PDF
    Reflective learning helps EFL pre-service teachers analyze their teaching experiences and develop professional skills. This study examines its challenges and benefits using a qualitative narrative inquiry. Data were collected from two pre-service teachers at UIN Walisongo Semarang through structured reflections and semi-structured interviews, then analyzed using narrative analysis. The findings reveal two main challenges in using reflective learning. First, time constraints made it difficult for participants to engage in deep self-analysis. One participant struggled to allocate time for reflection due to a busy teaching practice, while the other found it hard to balance teaching responsibilities and reflection, leading to inconsistent reflective practices. Second, difficulty in structuring words for reflection. One participant struggled to organize thoughts clearly, making reflections repetitive and lacking depth, while the other wrote unstructured reflections that were difficult to analyze. Despite these challenges, reflective learning provided three major benefits. It helped participants understand their strengths and weaknesses, such as recognizing overreliance on technology and improving classroom management. It also boosted their confidence, allowing them to try new teaching strategies and make more informed instructional decisions. Lastly, it helped them recognize and solve teaching challenges, such as addressing students' diverse learning needs by adapting lesson plans and instructional approaches. These findings highlight the need to integrate structured reflection into teacher training programs to better prepare pre- service teachers for real classroom situations. Keywords : Reflective learning, EFL pre-service teachers, Language teaching skill

    Pengaruh model pembelajaran active learning tipe game based learning berbantuan media monopoli matematika (monotika) terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa kelas 2 MI Darul Ulum Datinawong

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Active Learning tipe Game-Based Learning berbantuan media Monopoli Matematika (Monotika) terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa kelas 2 MI Darul Ulum Datinawong. Latar belakang dari penelitian ini adalah rendahnya minat belajar dan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal matematika, khususnya pada materi penjumlahan dan pengurangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen semu (quasi experimental design) dan desain nonequivalent control group design. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas IIA sebagai kelas eksperimen sebanyak 20 siswa dan IIB sebagai kelas kontrol sebanyak 13 siswa. Instrumen yang digunakan berupa tes essay pretest dan posttest yang mengukur kemampuan pemecahan masalah. Data dianalisis menggunakan bantuan software SPSS versi 25. Hasil uji independent sample t-test menunjukkan nilai signifikansi (2-tailed) sebesar 0,001 < 0,05, sehingga H₀ ditolak dan Hₐ diterima. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan dari penggunaan model pembelajaran tersebut terhadap kemampuan pemecahan masalah siswa. Dengan demikian, penerapan model pembelajaran Active Learning tipe Game-Based Learning berbantuan media Monotika terbukti efektif dalam meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa kelas 2 MI Darul Ulum Datinawong

    Leveraging drama to develop secondary school students’ English speaking skills

    Get PDF
    The problem faced by EFL students in secondary schools relates to students' lack of confidence in speaking English. This study aims to explore the integration of drama in ECY (English Conversation for Youngsters) classes. The research used a qualitative case study approach and employed observation instruments, and semi-structured interviews with 2 teachers and 10 students of grade 7 C ECY. Thematic analysis was used to analyze the data. The research findings show that drama integration goes through 4 stages, namely drama introduction, drama preparation, drama development, and final performance. Various challenges have been faced by ECY teachers and strategies have also been applied by ECY teachers in their implementation. One of them is overcoming students' language barriers with scaffolded learning. This research provides practical points that in honing students' speaking skills, a supportive and safe environment is needed to express them without fear of being wrong. Keywords: Developing Speaking, Drama, EFL Students, Role Pla

    Promoting multilingualism in the EFL classroom : benefits and challenges

    Get PDF
    The implementation of multilingual strategies in an English as a Foreign Language (EFL) classroom can serve as a bridge between students’ linguistic backgrounds and target language acquisition. This study explores the application of translanguaging and code-switching in an EFL setting, focusing on their benefits and the challenges they present in classroom implementation. The findings show that translanguaging was implemented through activities such as understanding students’ language backgrounds, discussions in multiple languages, presentations in English, reflection and feedback, as well as contrastive analysis and the use of multilingual glossaries. Meanwhile, code-switching was selectively applied through the use of the mother tongue to explain difficult concepts, mixed language use in small tasks, and spoken assessments. These strategies were adapted to students’ language backgrounds and English proficiency. The results indicate that translanguaging improved comprehension, intercultural sensitivity, and peer learning and support. Code-switching, on the other hand, helped clarify cultural concepts, increased speaking confidence, and facilitated smoother transitions into English. Despite these benefits, several challenges emerged. In translanguaging, students tended to overuse Bahasa Indonesia as a default lingua franca, which led to unequal participation and difficulty transitioning to academic English. Challenges in code-switching included inconsistent classroom practices, delayed fluency development, and reduced English input. The study concludes that while multilingual approaches can enhance inclusivity and support EFL learning, their effectiveness depends on structured implementation, clear language policies, and sensitivity to students’ diverse linguistic profiles. Keywords: Multilingual strategies, translanguaging, code-switching, EFL teaching, language learning

    Pengaruh penggunaan media pembelajaran kartu kuartet terhadap keterampilan sosial siswa pada mata pelajaran pendidikan Pancasila kelas IV MI Baitul Huda Semarang

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media pembelajaran kartu kuartet terhadap keterampilan sosial siswa mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas IV MI Baitul Huda Semarang. Metode penelitian ini yaitu Pre-Experimental Design dengan menggunakan One-Group Pretest-Posttest Design. Sampel dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling yang terdiri dari 28 peserta didik dari kelas IV A. Teknik pengumpulan data penelitian ini yaitu observasi, dokumentasi dan angket. Berdasarkan hasil perhitungan dengan uji analisis data yang dilakukan menggunakan SPPS versi 25, yang mana hasil uji-t yaitu t_hitung = 31,526 dan nilai t_(tabel )= 2,052. t_(hitung ) > t_(tabel )dengan ɑ = 5% dengan df = N-1 (khusus untuk paired sample t-Test) df = 28-1 = 27, maka H_o ditolak dan H_a diterima. Sementara itu dari data diatas dapat diperoleh nilai signifikasi (2-tailed) sebesar 0,000 < 0,05 yang artinya menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang signifikasi antara keterampilan sosial pada data pretest dan posttest. Hal ini membuktikan bahwa penerapan media pembelajaran kartu kuartet memberikan pengaruh terhadap keterampilan sosial siswa pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas IV MI Baitul Huda Semarang

    26,949

    full texts

    26,964

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Walisongo Institutional Repository
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇