26964 research outputs found
Sort by
Bimbingan agama melalui kajian kitab Minhajul Abidin dalam mengembangkan adversity quotient santri
Santri Pondok Pesantren Progresif Fathimah Al-Amin Semarang, dituntut mampu menyeimbangkan pendidikan pesantren dan perguruan tinggi, menghadapi tantangan kompleks yang menuntut Adversity Quotient (AQ) atau daya tahan menghadapi kesulitan. Sebagai upaya membekali santri, pondok pesantren menyelenggarakan bimbingan agama, termasuk kajian kitab Minhajul Abidin karya Al-Ghazali yang fokus pada panduan muslim dalam mengatasi rintangan spiritual. Penelitian ini dilatarbelakangi kebutuhan memahami kondisi AQ santri dan menganalisis bagaimana pelaksanaan kajian Minhajul Abidin bisa mengembangkan AQ santri. Sehingga dirumuskan masalah sebagai berikut: (1) Bagaimana kondisi AQ santri Ponpes Progresif Fathimah Al-Amin Semarang? (2) Bagaimana pelaksanaan bimbingan agama melalui kajian kitab Minhajul Abidin dalam mengembangkan AQ santri di pondok pesantren tersebut?
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kondisi AQ santri dan menganalisis pelaksanaan bimbingan agama melalui kajian Minhajul Abidin dalam mengembangkan AQ di Ponpes Progresif Fathimah Al-Amin Semarang. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan, wawancara dengan pengasuh, pembimbing kajian, dan empat santri sebagai informan kunci, serta dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis secara deskriptif-kualitatif untuk mendapatkan pemahaman mengenai permasalahan yang diteliti.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi Adversity Quotient (AQ) santri Pondok Pesantren Progresif Fathimah Al-Amin berada dalam proses pengembangan yang dinamis. Meskipun terdapat tantangan pada aspek ownership (tanggung jawab) dan endurance (daya tahan), santri menunjukkan kapasitas yang berkembang dalam control (kendali) dan origin & ownership (asal usul & tanggung jawab), serta variasi dalam reach (jangkauan dampak masalah), dengan dukungan signifikan dari pendekatan spiritual dan lingkungan pesantren yang suportif. Pengembangan AQ juga didukung secara efektif melalui pelaksanaan bimbingan agama berupa kajian rutin Kitab Minhajul Abidin, yang diselenggarakan terjadwal dan dibimbing oleh ahlinya. Melalui internalisasi materi kajian yang relevan seperti ilmu (makrifatullah), kesabaran, taubat, serta pemahaman mengenai godaan dan penghalang ibadah, santri secara bertahap dilatih dan dibekali cara pandang serta keterampilan batiniah untuk menghadapi kesulitan hidup secara lebih efektif, yang secara komprehensif mengembangkan seluruh dimensi AQ mereka
Hubungan bimbingan agama Islam dengan Grit pada santri penghafal Al-Qur’an Pondok Pesantren Sabilurrasyad Kendal
Menghafal Al-Qur’an merupakan ibadah yang menuntut komitmen, ketekunan, serta ketahanan dalam menghadapi berbagai tantangan seperti aktivitas sekolah yang padat, tuntutan akademik sekolah, tekanan target hafalan, kejenuhan belajar, serta hambatan psikologis yang dapat mempengaruhi semangat serta konsistensi santri yang juga sebagai siswa sekolah. Bimbingan agama islam diyakini sebagai faktor eksternal yang dapat memberikan dukungan spiritual dan emosional dalam menjaga semangat dan ketahanan mental santri dalam mencapai tujuan hafalan Al-Qur’an.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara bimbingan agama islam dengan Grit pada santri penghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Sabilurrasyad Kendal. Bimbingan agama islam diduga memiliki hubungan dalam membangun Grit santri pengahafal Al-Qur’an. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan teknik pengumpulan data melalui angket yang disebarkan kepada santri SMP dan SMK penghafal Al-Qur’an dengan jumlah sebanyak 43 santri yang menjadi populasi. Sampel dalam penelitian ini diambil dari seluruh populasi. Adapun analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif dan signifikan antara bimbingan agama islam dengan Grit pada santri penghafal Al-Qur’an dengan perolehan nilai sig. (2-tailed) pada variabel bimbingan agama islam dan Grit lebih kecil dari 0,05 dengan nilai 0,038. Hasil pearson correlation dengan nilai 0,317 menunjukkan adanya korelasi yang lemah antara bimbingan agama islam dengan Grit. Dengan begitu, semakin tinggi bimbingan agama islam yang diterima, maka semakin tinggi pula tingkat Grit yang dimiliki oleh santri. Bimbingan agama islam memiliki hubungan dengan grit akan tetapi dengan tingkat yang lemah. Hal ini dikarenakan bimbingan agama islam bukan satu-satunya faktor yang dominan dalam pembentukan grit. Terdapat faktor internal dalam diri santri, seperti passion, practice, purpose, dan hope yang mempengaruhi grit. Selain itu, faktor eksternal lain diluar bimbingan agama islam seperti parenting for Grit (peran orangtua) dan the playing fields (belajar non akademis)
Model komunikasi public relations Biro Humas Kementerian Agama RI dalam pelayanan haji ramah lansia
Penelitian ini membahas model komunikasi public relations (PR) yang diterapkan oleh Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama dalam mendukung program Haji Ramah Lansia tahun 2024. Latar belakang penelitian dilandasi oleh meningkatnya jumlah jemaah lanjut usia yang mengikuti ibadah haji, sehingga menuntut adanya strategi komunikasi yang adaptif, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan kelompok rentan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis model komunikasi public relations Biro Humas dalam menyampaikan informasi, serta melibatkan publik, khususnya jemaah lansia, dalam proses komunikasi pelayanan haji.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, dan analisis dokumentasi terhadap aktivitas kehumasan Kementerian Agama selama musim haji 2024. Analisis data dilakukan dengan merujuk pada teori empat model komunikasi public relations Grunig dan Hunt (1984), yaitu press agentry, public information, two-way asymmetrical, dan two-way symmetrical.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Biro Humas menerapkan seluruh model komunikasi PR menurut teori Grunig dan Hunt (1984) secara kontekstual dan saling melengkapi. Dominasi terlihat pada model dua arah simetris yang ditunjukkan melalui forum tatap muka, penyusunan pesan dengan bahasa sederhana dan visual ramah lansia, serta penerimaan umpan balik. Temuan ini telah membantah teori tersebut mengenai penggunaan model satu arah yaitu public informations untuk sektor pemerintahan. Namun, tantangan tetap ada, seperti keterbatasan literasi digital lansia, ketimpangan pemahaman antar petugas, dan distribusi media informasi yang belum merata dan belum maksimal. Meskipun demikian, strategi komunikasi yang digunakan terbukti cukup efektif dalam meningkatkan pemahaman, kenyamanan, dan kepercayaan jemaah lansia
Implementasi dakwah bil hal pada program-program kegiatan kerja di Komunitas Omah Peduli Desa Wonosari Kecamatan Patebon Kabupaten Kendal
Persoalan yang dihadapi saat ini adalah tantangan dakwah yang semakin hebat dan kompleks. Dalam upaya menggalang potensi dakwah di kalangan umat, lahirlah berbagai organisasi, lembaga, komunitas keagamaan ataupun sosial yang tujuannya adalah untuk berdakwah. Komunitas Omah Peduli merupakan komunitas sosial yang bergerak dalam bidang kemanusiaan dan pemberdayaan masyarakat, komunitas ini dibentuk oleh sekelompok pemuda dengan kepedulian terhadap kondisi sosial di lingkungan sekitarnya. Komunitas ini menjalankan berbagai program di bidang sosial, pendidikan, lingkungan, dan ekonomi yang seluruhnya diarahkan untuk memberikan manfaat nyata kepada masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi komunitas Omah Peduli, program-program kegiatan kerja komunitas Omah Peduli, serta implementasi dakwah bil hal yang dilakukan oleh komunitas Omah Peduli melalui program-program kegiatan kerja di Desa Wonosari, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan penelaahan dokumen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas Omah Peduli memiliki potensi besar, baik dari aspek sumber daya manusia, sosial, program kerja, sarana prasarana, maupun partisipasi masyarakat. Seluruh potensi ini menjadi pondasi kuat bagi keberlanjutan komunitas Omah Peduli melalui program-program kegiatan kerja di bidang sosial, pendidikan, dan pelestarian lingkungan, maupun pemberdayaan ekonomi komunitas. Adapun implementasi dakwah bil hal komunitas Omah Peduli tercermin dalam sembilan program kerja yang menyasar berbagai lapisan masyarakat. Dakwah bil hal terbagi ke dalam dua model yakni dakwah ummah yang tampak dalam program-program kolektif seperti Sedekah Rosok, Ceria Bersama SYK, Berbagi Ceria, Peduli Sosial-Kemanusiaan (Open Donasi untuk orang sakit, Tilik Banjir Rob, Wakaf Sarung), TBM Lorong Waktu, Jalan sehat santri kampung, Bersih Pantai, Tanam Mangrove, dan UMKM Cafe Peduli yang dilaksanakan secara terorganisir oleh komunitas dan melibatkan banyak pihak, serta dakwah fardiyah melalui keteladanan pengurus dan relawan dalam melayani masyarakat, seperti sopan santun relawan penjemput rosok, kemurahan hati donatur personal, dan akhlak sosial individu yang aktif di lingkungan. Dengan demikian, Omah Peduli telah berhasil menghadirkan dakwah bil hal yang aplikatif dan kontekstual sesuai kebutuhan masyarakat di wilayah Desa Wonosari, Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal
Konversi hutan menjadi lahan pertanian di pedesaan : studi di Desa Buloh, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora
Konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian merupakan fenomena sosial-ekonomi yang kerap terjadi di berbagai wilayah, terutama di daerah dengan tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap sektor pertanian. Desa Buloh, Kecamatan Kunduran, Kabupaten Blora, mengalami perubahan yang Signifikan adibat adanya konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian sejak adanya pembebasan lahan pada tahun 2021. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap tindakan yang dilakukan oleh masyarakat ketika melakukan konversi lahan hutan serta perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi setelah konversi tersebut.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang bertujuan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkandan menjelaskan sifat atau karakteristik perubahan sosial dan ekonomi yang tidak dapat dijelaskan agar mendapatkan gambaran yang jelas terkait bagaimana kondisi sosial dan ekonomi masyarakat setelah adanya konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian. Pengumpulan data dilakukan dengan metode observasi, wawancara, dokumentasi, dengan melibatkan berbagai informan kunci, termasuk petani, perangkat desa, dan mandor hutan. Analisis data menggunakan model Milles dan Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian di Desa Buloh tidak semata-mata hanya ikut-ikutan saja, melainkan berdasarkan dari proses mereka berpikir sebelum melakukan tindakan, dengan melakukan berbagai pertimbangan, adapun tindakan yang dilakukan oleh masyarakat dalam konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian yaitu: 1) analisis kondisi alam dan kondisi geografis desa yang berada disekitar kawasan hutan produksi, 2) analisis kondisi ekonomi ekonomi, 3) analisis kondisi sosial, 4) analisis lokasi lahan yang akan dikonversi, sera 5) analisis komoditas yang akan ditanam pada lahan konversi tersebut. Perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi akibat adanya konversi lahan hutan menjadi lahan pertanian meliputi 1) peningkatan pendidikan, 2) perubahan interaksi sosial, 3) kemampuan menabung, 4) kepemilikan barang, 5) penghasilan. Adanya perubahan-perubahn yang terjadi tersebut, berdampak pada kondisi kehidupan masyarakat sekitar desa tersebu, adapun dampak yang terjadi diantaranya ialah, 1) penyerapan tenaga kerja, 2) status sosial, 3) peningkatan kesejahteraan, 4) peningkatan jumlah kepemilikan barang.
ABSTRACT:
Conversion of forest land to agricultural land is a socio-economic phenomenon that often occurs in various regions, especially in areas with a high level of dependence on the agricultural sector. Buloh Village, Kunduran District, Blora Regency, has experienced significant changes due to the conversion of forest land to agricultural land since land acquisition in 2021. This study aims to reveal the actions taken by the community when converting forest land and the social and economic changes that occur after the conversion.
The research method used in this study is a qualitative method with a descriptive approach that aims to investigate, find, describe and explain the nature or characteristics of social and economic changes that cannot be explained in order to get a clear picture of the social and economic conditions of the community after the conversion of forest land into agricultural land. Data collection was carried out using observation, interview, documentation methods, involving various key informants, including farmers, village officials, and forest foremen. Data analysis used the Milles and Huberman model, which includes data reduction, data presentation, and drawing conclusions.
The results of the study showed that the conversion of forest land into agricultural land in Buloh Village was not merely following suit, but based on their thinking process before taking action, by considering various things, the actions taken by the community in converting forest land into agricultural land are: 1) analysis of natural conditions and geographical conditions of the village located around the production forest area, 2) analysis of economic conditions, 3) analysis of social conditions, 4) analysis of the location of the land to be converted, and 5) analysis of commodities to be planted on the converted land. Social and economic changes that occur due to the conversion of forest land into agricultural land include 1) increased education, 2) changes in social interaction, 3) ability to save, 4) ownership of goods, 5) income. The changes that occur have an impact on the living conditions of the community around the village, the impacts that occur include, 1) absorption of labor, 2) social status, 3) increased welfare, 4) increased number of ownership of goods
Manajemen ekstrakulikuler khitobah dalam mengembangkan public speaking siswa di MTs Al-Hikmah Pasir Mijen Demak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis manajemen ekstrakurikuler khitobah dalam mengembangkan kemampuan public speaking siswa. Fokus penelitian ini adalah manajemen yang diterapkan oleh MTs Al-Hikmah Pasir Mijen Demak dalam mengelola kegiatan ekstrakurikuler khitobah sebagai sarana bagi para siswa untuk dapat mengembangkan kemampuan berbicaranya didepan publik sebagai bekal menghadapi tuntutan zaman. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi dari kepala madrasah, waka kesiswaan, guru pembina ekstrakulikuler, dan siswa. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) dalam kegiatan ekstrakurikuler khitobah menerapkan fungsi fungsi manajemen yaitu: Perencanaan yang meliputi pemberian polling kepada siswa dan rapat guru pada awal tahun. Pengorganisasian meliputi pembagian tugas dan koordinasi antar pihak. Pelaksanaan, kegiatan khitobah dijadikan sebagai ekstrakurikuler wajib yang pelaksanaannya setiap hari sabtu secara bergantian setiap angkatan. Pengawasan meliputi evaluasi seusai kegiatan berlangsung dan evaluasi program setiap akhir semester. 2) Implikasi manajemen dalam kemampuan public speaking siswa yaitu siswa merasa lebih percaya diri, mengetahui teknik-teknik berbicara dan perhatian terhadap audiens saat berbicara didepan umum, akan tetapi perlu adanya pengembangan dalam penggunaan media yang digunakan saat menyampaikan pesan saat kegiatan khitobah agar audiens lebih mudah menerima pesan atau informasi yang disampaikan
Pengaruh pemahaman nasabah, teknologi informasi dan keamanan terhadap keputusan penggunaan platform Byond Bank Syariah Indonesia : studi kasus nasabah BSI Kecamatan Purwodadi Kabupaten Grobogan
Tingkat pemahaman nasabah terhadap penggunaan dan fitur aplikasi Byond masih menjadi tantangan, ditambah dengan berbagai keluhan teknis serta isu keamanan akibat serangan siber dan gangguan sistem.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemahaman nasabah,teknologi informasi dan keamanan terhadap keputusan penggunaan platform Byond BSI dengan studi pada kecamatan purwodadi kabupaten grobogan.
Metode pnelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan berasal dari dua sumber, yaitu data primer dan data sekunder. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner dan dokumentasi. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan berbagai metode, meliputi Uji Validitas, Uji Reliabilitas, Uji Normalitas, Uji Multikolinearitas, Uji Heteroskedastisitas, Analisis Regresi Linier Berganda, Uji Koefisien Determinasi (R²), Uji F, dan Uji t. Subjek penelitian ini adalah nasabah yang berdomisili di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Grobogan, dengan total populasi sebanyak 1.050 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan kriteria tertentu. Jumlah responden yang digunakan dalam penelitian ini ditentukan dengan menggunakan rumus Slovin, sehingga diperoleh sebanyak 100 responden.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemahaman nasabah, teknologi informasi dan keamanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan nasabah kecamatan purwodadi kabupaten grobogan menggunakan platform Byond BSI. Hasil ini dibuktikan dengan hasil uji t pada variabel pemahaman nasabah yang berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan nasabah kecamatan purwodadi kabupaten grobogan menggunakan platform Byond BSI,Selanjutnya hasil uji t pada variabel teknologi informasi yang juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan nasabah kecamatan purwodadi kabupaten grobogan menggunakan platform Byond BSI dan diikuti juga hasil uji t pada variabel keamanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan nasabah kecamatan purwodadi kabupaten grobogan menggunakan platform Byond BSI.
ABSTRACT:
The level of customer understanding of the use and features of the Byond application is still a challenge, coupled with various technical complaints and security issues due to cyber attacks and system disruptions. The purpose of this study is to determine the influence of customer understanding, information technology and security on the decision to use the Byond BSI platform with a study in Purwodadi sub-district, Grobogan district.
This research method uses a quantitative approach. The data used comes from two sources, namely primary data and secondary data. Data collection techniques are carried out through the distribution of questionnaires and documentation. The collected data are then analyzed using various methods, including Validity Test, Reliability Test, Normality Test, Multicollinearity Test, Heteroscedasticity Test, Multiple Linear Regression Analysis, Determination Coefficient Test (R²), F Test, and t Test. The subjects of this study were customers domiciled in Purwodadi District, Grobogan Regency, with a total population of 1,050 people. The sampling technique used the purposive sampling method, namely the selection of samples based on certain criteria. The number of respondents used in this study was determined using the Slovin formula, so that 100 respondents were obtained.
The results of this study indicate that customer understanding, information technology and security have a positive and significant effect on the decision of Purwodadi sub-district customers in Grobogan Regency to use the Byond BSI platform. This result is proven by the results of the t-test on the customer understanding variable which has a positive and significant effect on the decision of Purwodadi sub-district customers in Grobogan Regency to use the Byond BSI platform. Furthermore, the results of the t-test on the information technology variable which also has a positive and significant effect on the decision of Purwodadi sub-district customers in Grobogan Regency to use the Byond BSI platform and is also followed by the results of the t-test on the security variable which has a positive and significant effect on the decision of Purwodadi sub-district customers in Grobogan Regency to use the Byond BSI platform
Pengaruh e-service quality, e-satisfaction, dan perceived risk terhadap e-loyalty nasabah pengguna layanan mobile banking Bank Syariah Indonesia (BSI) : studi pada nasabah pengguna BSI mobile di Kota Semarang
Perkembangan teknologi digital telah mendorong inovasi dalam layanan perbankan, termasuk mobile banking. Bank Syariah Indonesia (BSI) menghadirkan BSI Mobile untuk meningkatkan kemudahan transaksi bagi nasabah. Namun, di balik berbagai keunggulan yang dimiliki, masih terdapat kendala seperti gangguan teknis, kesulitan penggunaan, serta kekhawatiran terkait keamanan transaksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh e-service quality, e-satisfaction, dan perceived risk terhadap e-loyalty nasabah pengguna BSI Mobile di kota Semarang. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif serta pengolahan data menggunakan bantuan program software SPSS versi 26. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah nasabah Bank Syariah Indonesia (BSI) di kota Semarang yang menggunakan BSI mobile. Sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode nonprobability sampling sehingga diperoleh sebanyak 100 responden. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari hasil kuesioner serta data sekunder yang berasal dari pihak lain, tinjauan pustaka buku, jurnal, dan penelitian lainnya. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel e-serivice quality (X1) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap e-loyalty dibuktikan dengan hasil nilai signifikansi sebesar (0,001 ttabel (3,381 > 1,984). Pada variabel e-satisfaction (X2) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap e-loyalty dibuktikan dengan nilai signifikansi sebesar (0,005 ttabel (2,875 > 1,984). Sedangkan pada variabel perceived risk (X3) memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap e-loyalty dibuktikan dengan nilai signifikansi sebesar 0,035 ttabel (-3,563 > 1,984). Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan kualitas layanan dan keamanan untuk memperkuat loyalitas nasabah terhadap BSI Mobile.
ABSTRACT:
The development of digital technology has encouraged innovation in banking services, including mobile banking. Bank Syariah Indonesia (BSI) presents BSI Mobile to improve the ease of transactions for customers. However, behind the various advantages it has, there are still obstacles such as technical glitches, difficulties in use, and concerns related to transaction security. This study aims to determine the influence of E-Service Quality, E-Satisfaction, and Perceived Risk on E-Loyalty of BSI Mobile users in Semarang City. This study uses a quantitative approach method and data processing using the help of the SPSS software program version 26. The population used in this study is Bank Syariah Indonesia (BSI) customers in the city of Semarang who use BSI mobile. Meanwhile, the sample used in this study uses a nonprobability sampling method so that as many as 100 respondents were obtained. The data used in this study are primary data obtained from questionnaire results and secondary data from other parties, book literature reviews, journals, and other research. The results of this study show that the e-service quality (X1) variable has a positive and significant influence on e-loyalty as evidenced by the results of the significance value of (0.001 calculation (3.381 > 1.984). The e-satisfaction variable (X2) has a positive and significant influence on e-loyalty as evidenced by a significance value of (0.005 calculation (2.875 > 1.984). Meanwhile, the perceived risk variable (X3) has a positive and significant influence on e-loyalty as evidenced by a significance value of 0.035 count (-3,563 > 1,984). This finding emphasizes the importance of improving service quality and security to strengthen customer loyalty to BSI Mobile
Uncovering EFL learners’ listening skill through aural vocabulary acquisition
This study examines the impact of aural vocabulary acquisition on EFL learners' listening skills at SMK Islamic Centre Baiturrahman, specifically focusing on Grade XI TJAT students. Using a qualitative case study design, the research investigates students' perceives, vocabulary acquisition strategies, and teachers' facilitation through semi-structured interviews, classroom observations, and lesson plan of 15 students; 11 males and 4 females, and their English teacher. The findings indicate students' positive perceive of aural vocabulary acquisition's role in listening skill. Active participation in various learning activities, including collaborative discussions and multimedia integration, enhances their vocabulary retention and listening skills. Students employ diverse learning strategies and utilize digital platforms for self-directed learning. Teachers facilitate vocabulary development through structured instruction, resource management, and continuous assessment while creating a supportive learning environment. The study emphasizes the importance of a comprehensive approach to aural vocabulary acquisition in EFL contexts, highlighting the need for technology-integrated instructional strategies that address individual learner needs. These findings provide valuable insights for language education practitioners and researchers, suggesting directions for future research in auditory vocabulary learning and listening skills development.
Keywords: aural vocabulary acquisition, EFL learners, listening skill
Dealing with technological tools in Randall’s ESL cyber listening lab: the description of teacher’s strategies and students’ view
The integration of technology in language learning is essential in modern education. Randall’s ESL Cyber Listening Lab is widely used for improving listening skills, yet research on teachers’ strategies and students’ perceptions remains limited. This study is to first examine the physical affordances of technological tools in Randall’s ESL Cyber Listening Lab, second explore teachers’ strategies in utilizing these tools, and third analyze students’ perspectives on their effectiveness. Using a qualitative approach, data were collected through documentation, classroom observation, and interview. The study was conducted in a Listening and Speaking class at Walisongo State Islamic University, Semarang, involving one teacher and 28 students. The findings reveal that Randall’s ESL Cyber Listening Lab provides key affordances, including visual cues, interactive navigation, and customizable learning activities, which enhance engagement. The teacher implemented strategies such as oral instruction, listening repetition, group discussions, and problem-solving exercises. The students responded positively to collaborative learning and structured listening activities, but challenges such as unclear instructions, limited vocabulary support, and lack of autonomy were noted. This study highlights the importance of teacher creativity in optimizing technological affordances for student engagement. While competence and relatedness motivated students, autonomy was underdeveloped. Refining instructional clarity, enhancing vocabulary support, and incorporating student-centered learning can further improve ESL listening instruction. The findings of this research assist teachers in designing more effective listening strategies and encourage the innovative integration of technology in language learning. Additionally, by understanding students’ perceptions, the study supports the creation of more engaging and motivating learning experiences to improve listening skills. This can lead to enhanced academic performance and greater student motivation in English listening.
Keywords: ESL listening, student engagement, teacher strategies, technological affordances