Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Imunopatogenesis Treponema pallidum dan Pemeriksaan Serologi
AbstrakSifilis adalah penyakit menular seksual yang sangat infeksius, disebabkan oleh bakteri berbentuk spiral, Treponema pallidum subspesies pallidum. Penyebaran sifilis di dunia telah menjadi masalah kesehatan yang besar dengan jumlah kasus 12 juta pertahun. Infeksi sifilis dibagi menjadi sifilis stadium dini dan lanjut. Sifilis stadium dini terbagi menjadi sifilis primer, sekunder, dan laten dini. Sifilis stadium lanjut termasuk sifilis tersier (gumatous, sifilis kardiovaskular dan neurosifilis) serta sifilis laten lanjut. Sifilis primer didiagnosis berdasarkan gejala klinis ditemukannya satu atau lebih chancre (ulser). Sifilis sekunder ditandai dengan ditemukannya lesi mukokutaneus yang terlokalisir atau difus dengan limfadenopati. Sifilis laten tanpa gejala klinis sifilis dengan pemeriksaan nontreponemal dan treponemal reaktif, riwayat terapi sifilis dengan titer uji nontreponemal yang meningkat dibandingkan dengan hasil titer nontreponemal sebelumnya. Sifilis tersier ditemukan guma dengan pemeriksaan treponemal reaktif, sekitar 30% dengan uji nontreponemal yang tidak reaktifKata kunci: sifilis, Treponema pallidum, serologiAbstractSyphilis is a sexually transmitted disease that is highly infectious, caused by a spiral -shaped bacterium, Treponema pallidum subspecies pallidum. The spread of syphilis in the world has become a major health problem and the common, the number of 12 million cases per year. Infectious syphilis is divided into early and late-stage syphilis. Early-stage syphilis is divided into primary, secondary, and early latent. Advanced stage of syphilis include tertiary syphilis (gumatous, cardiovascular syphilis, and neurosyphilis) and late latent syphilis. Primary syphilis is diagnosed by clinical symptoms of the discovery of one or more chancre (ulcer). Secondary syphilis is characterized by the finding of localized mucocutaneous lesions or with diffuse lymphadenopathy. Latent syphilis without clinical symptoms of syphilis with a nontreponemal and treponemal reactive examination, history of syphilis therapy in nontreponemal test titer increased compared with the results of previous nontreponemal titers. Tertiary syphilis is found guma with reactive treponemal examination, approximately 30% of the non- reactive nontreponemal testKeywords: syphilis, Treponema pallidum, serolog
Development of Binocular Vision
AbstrakPenglihatan binokular secara harfiah berarti penglihatan dengan 2 mata dan dengan adanya penglihatan binokular, kita dapat melihat dunia dalam 3 dimensi meskipun bayangan yang jatuh pada kedua retina merupakan bayangan 2 dimensi. Penglihatan binokular juga memberikan beberapa keuntungan berupa ketajaman visual, kontras sensitivitas, dan lapangan pandang penglihatan yang lebih baik dibandingkan dengan penglihatan monokular. Penglihatan binokular normal memerlukan aksis visual yang jernih, fusi sensoris, dan fusi motoris. Pada manusia, periode sensitif dari perkembangan penglihatan binokular dimulai pada usia sekitar 3 bulan, mencapai puncaknya pada usia 1 hingga 3 tahun, telah berkembang sempurna pada usia 4 tahun dan secara perlahan menurun hingga berhenti pada usia 9 tahun. Berbagai hambatan, berupa hambatan sensoris, motoris,dan sentral, dalam jalur refleks sangat mungkin akan menghambat perkembangan dari penglihatan binokular terutama pada periode sensitif sewaktu 2 tahun pertama kehidupan.Kata kunci: penglihatan binokular, perkembangan, fusi, stereopsisAbstractBinocular vision literally means vision with two eyes and with binocular vision, we can see the world in three dimensions even though the images that fall on both of the retina were the 2-dimensional images. Binocular vision also provide some advantages included improved visual acuity, contrast sensitivity, and visual field compared with monocular vision. Normal binocular vision requires a clear visual axis, sensory fusion, and motoric fusion. In human, the sensitive period of binocular vision development began at around 3 months of age, reaching its peak at the age of 1 to 3 years, had developed completely at the age of 4 years and gradually declined until it stops at the age of 9 years. Various obstacles, such as sensory, motoric, and central obstacles, within the reflex pathway were very likely to inhibited the development of binocular vision, especially in sensitive period during the first 2 years of life.Keywords: binocular vision, development, fusion, stereopsi
Penatalaksanaan Tuberkulosis Laring
AbstrakTuberkulosis laring merupakan salah satu tuberkulosis ekstrapulmonal yang disebabkan oleh kuman mikobakterium tuberkulosis. Tuberkulosis masih menjadi masalah nasional di negara kita dengan prevalensi yang cukup tinggi.Anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, diperlukan dalam menegakkan diagnosis tuberkulosis laring. Pemeriksaan histopatologi laring masih menjadi standar baku emas dalam menegakkan diagnosis pasti tuberkulosis laring. Diagnosis yang benar dan penatalaksanaan yang tepat bertujuan untuk mengatasi gejala klinis dan memutus rantai penularan dari kuman mikobakterium tuberkulosis.Dilaporkan satu kasus wanita usia 34 tahun dari hasil pemeriksaan histopatologi laring didapatkan suatu gambaran tuberkulosis laring dan ditatalaksana dengan pemberian obat anti tuberkulosis.Kata kunci: Tuberkulosis ekstrapulmonal, tuberkulosis laring, mikobakterium tuberkulosis, obat anti tuberkulosisAbstractLaryngeal tuberculosis is one of extrapulmonary tuberculosis caused by the micobacterium tuberculosis. Tuberculosis remains a national problem in our country with a high prevalence rate. Anamnesis, physical examination, and other supporting examinations, are necessary to confirm a diagnosis of laryngeal tuberculosis. Histopathological examination of the larynx is still the gold standard in establishing a diagnosis of laryngeal tuberculosis. Correct diagnosis and appropriate treatment aims to overcome the clinical symptoms and break the transmission of micobacterium tuberculosis. Reported a case of 20 years old woman whom the results of histopathological examination of the larynx obtained a symptom of laryngeal tuberculosis and treated by administration of anti tuberculosis drugs.Keywords:Extrapulmonary tuberculosis, laryngeal tuberculosis, mycobacterium, tuberculosis, anti tuberculosis dru
Pola Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Anak Air Padang Tahun 2012
AbstrakInfeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting karena menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu 1 dari 4 kematian yang terjadi. Kejadian ISPA di wilayah kerja Puskesmas Anak Air Kota Padang tahun 2012. Masih menduduki peringkat pertama dari sepuluh penyakit terbanyak dan merupakan puskesmas dengan angka kejadian ISPA tertinggi di Kota Padang. Desain penelitian ini adalah cross sectional study dengan menggunakan catatan rekam medik anak yang menderita ISPA di puskemas Anak Air sebagai data sekunder. Hasil penelitian diperoleh bahwa frekuensi balita ISPA adalah 28,29% dari total penderita ISPA, dimana anak berusia 0-5 tahun yang terdiiri dari bayi sebanyak 21,5% dan balita sebanyak 78,5%. Distribusi antara balita laki-laki dan perempuan sebesar 50,04% dan 49,96%. Wilayah kerja kelurahan Batipuh Panjang memiliki frekuensi sebesar 51,71% dan kelurahan Padang Sarai sebesar 47,94 sementara luar wilayah sebesar 0,25%, distribusi dan frekuensi berdasarkan bulan didapatkan bulan November sebagai bulan dengan kejadian tertinggi atau sebesar 16,56% dan bulan September sebagai bulan dengan kejadian terendah sebesar 5,10%.Kata kunci: ISPA, bayi, pola kejadian, distribusi AbstractAcute Respiratory Infection (ARI) is still an issue regarding the importance of public health, because it cause high death rates, in a scale 1 from 4. Every child was estimated having 3 - 6 episodes of ARI every year. ARI in Puskesmas Anak Air Kota Padang 2012 is still on top of ten most common disease and a Puskesmas with the highest rate of ARI in Padang. This was a cross sectional study by using medical record as secondary data. The result of the result was infants with ARI is 28,29% from the total of all ARI patients, where it happened to 0-5 years old children divided to baby as much of 21,5% and 78,5% to infants, while the gender distribution between male and female infants was 50,04% and 49,96% in the Batipuh Panjang region which is having a frequency of 51,71% and Padang Sarai region 47,94% while other region was 0,25%. The distribution and the frequency based on months, was gathered in November as the highest rate occurrences of 16,56% and September as the lowest, 5.10%.Keywords: ARI, infants , patterns, distributio
Hubungan Nilai Hematokrit Terhadap Jumlah Trombosit pada Penderita Demam Berdarah Dengue
AbstrakDemam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia.Pemeriksaan nilai hematokrit dan jumlah trombosit menjadi indikator diagnosis DBD. Nilai hematokrit akan meningkat (hemokonsentrasi) karena penurunan volume plasma darah, sedangkan jumlah trombosit akan menurun (trombositopenia) akibat supresi sum-sum tulang dan munculnya antibodi terhadap trombosit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan nilai hematokrit terhadap jumlah trombosit pada penderita demam berdarah dengue. Telah dilakukan penelitian retrospektif terhadap 112 pasien DBD di RSUP DR. M. Djamil Padang periode Juli 2012-Juni 2013. Data yang diambil dari Instalasi Rekam Medis adalah nilai hematokrit dan jumlah trombosit yang diperiksa dengan menggunakan alat otomatis Pentra-60. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil dari penelitian ini didapatkan rata-rata jumlah trombosit saat masuk rumah sakit adalah 49.627±38.141 sel/mm3, sedangkan rata-rata nilai hematokrit saat masuk rumah sakit adalah 45,1±6,1%. Analisis data untuk mencari hubungan nilai hematokrit terhadap jumlah trombosit saat masuk rumah sakit, didapatkan nilai koefisien korelasi Spearman (r) sebesar -0,115 dan nilai signifikasi p>0,05. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah terdapat peningkatan nilai hematokrit dan penurunan jumlah trombosit.Kata kunci: demam berdarah dengue, nilai hematokrit, jumlah trombositAbstractDengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a major public health problem in Indonesia. Examination of hematocrit values and platelet counts as indicators of dengue diagnosis. Hematocrit value will increase (hemoconcentration) due to a decrease in volume of blood plasma, while the platelet count will decrease (thrombocytopenia) due to bone marrow suppression and the appearance of antibodies against platelets. The objective of this study was to determine the relationship of hematocrit value on platelet counts in patients with dengue hemorrhagic fever. A retrospective study of 112 patients of dengue in the RSUP Dr. M. Djamil Padang period July 2012-June 2013. Data was taken from the Installation of Medical Record is the value of hematocrit and platelet, then data were examined using automated tools Pentra-60. Then the data were analyzed using the Spearman correlation test. The results of this study found the average platelet count on admission was 49.627±38.141 cells/mm3, while the average hematocrit value on admission was 45,1±6,1%. Data analysis was then performed to find the relationship of hematocrit value of the platelet count on admission, obtained Spearman correlation coefficient (r) of -0,115 and a significance value of p>0,05. It can be concluded that there is an increase in hematocrit and decrease of platelet counts.Keywords: dengue hemorrhagic fever, hematocrit value, platelet count
Efek Pemberian Suntikan Subkutan Vitamin C Terhadap Luka Insisi Dermal
Abstrak Vitamin C berfungsi sebagai kofaktor enzyme prolil dan lysil hydroxilase. Enzym tersebut berfungsi dalam proses hidroksilasi yang membentuk ikatan hidroksiprolin dan hidroksilisin pada fibroblast dalam membentuk kolagen. Selain itu Vitaimin C juga berfungsi meregulasi dan menstabilkan trankripsi gen mRNA prokolagen pada proses pembentukan kolagen di dermis. Berdasarkan hal tersebut diatas, peneliti tertarik untuk membuktikan apakah pemberian vitamin C subkutan disekitar luka insisi dermal berefek pada pembentukan kolagen yang lebih padat dalam proses penyembuhan luka. Metode: Penelitian eksperimental ini menggunakan tikus Wistar sebanyak 32 ekor, yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 16 ekor sebagai kontrol dan 16 ekor lagi sebagai perlakuan. Pada kedua kelompok dilakukan insisi di punggung sepanjang 2 cm. Kelompok perlakuan diberi suntikan vitamin C subkutan disekitar luka insisi dermal sebanyak 9 mg (0,09ml), sedangkan kelompokkontrol tidak diberikan.Pada hari kelima dilakukan pengambilan jaringan luka pada kedua sampel untuk pemeriksaan kepadatan kolagen secara mikroskopik. Hasil:Kepadatan kolagen pada hari kelimamenunjukkan perbedaan yang bermakna dari efek penyuntikan vitamin C subkutan terhadap kepadatan kolagen (χ2 = 5,833; P<0,05). Kesimpulan: Penyuntikan vitamin C subkutan disekitar luka insisi dermal efektif dalam meeningkatan kepadatan kolagen. Kata kunci: suntikan vitamin C subkutan, kepadatan kolagen.Abstract Vitamin C functions as enzyme co-factor for prolyl and hidroxylase lysil. The enzyme functions in hydroxylase process that builds hydroxyproline and hydroxylysine bondsin fibroblast in the synthesis of collagen. Besides that, vitamin C also functions in regulating and stabilizing procollagen mRNA gen transcription in dermal collagen synthesis. Based on the facts above, researchers are interested to prove whether subcutaneous injection of vitamin C around dermal insisional wound would result in more compact collagen synthesis in wound healing. Method:This experimental study used32 Wistar rats, divided into two group that is 16 rats as control and 16rats as experimental group. All groups underwent 2 cm long incision at the back. Experimental group were given 9mg (0.09ml) subcutaneous injection of vitamin c around the wound, while the control group were not. On the fifth day, wound tissue are taken on both sample to check the collagen density microscopically. Result:Collagen density on the fifth day showed significant difference between the two groups(χ2 = 5,833; P<0,05). Discussion:Subcutaneous vitamin C injection around the dermal incision wound is effective in increasing collagen density. Keywords: subcutaneous vitamin C injection,collagen densit
Hubungan Aktivitas Fisik terhadap Kadar Hemoglobin pada Mahasiswa Anggota UKM Pandekar Universitas Andalas
AbstrakHemoglobin memiliki peran penting pada tubuh manusia yaitu membawa oksigen ke seluruh jaringan tubuh bersama sel darah merah. Aktivitas fisik yang dilakukan manusia akan memengaruhi tingkat kesehatannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan aktivitas fisik terhadap kadar hemoglobin pada mahasiswa anggota UKM Pandekar Universitas Andalas. Penelitian ini merupakan observasional analitik dengan rancangan potong lintang atau cross-sectional. Penelitian tentang hubungan aktivitas fisik terhadap kadar hemoglobin telah dilaksanakan pada bulan April 2013 di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Andalas Padang pada mahasiswa anggota UKM Pandekar Universitas Andalas yang memiliki indeks massa tubuh normal dan tidak merokok. Penelitian dilakukan dengan mengukur kadar hemoglobin serta pengisian kuesioner aktivitas fisik berdasarkan tiga skor, yaitu skor indeks kerja, skor indeks olahraga, dan skor indeks waktu luang. Hasil penelitan didapatkan (1) kadar hemoglobin rata-rata laki-laki 15,98 g/dL dengan tertinggi 17,5 g/dL dan terendah 13,1 g/dL serta yang perempuan rata-rata 13,38 g/dL dengan tertinggi 15,8 g/dL dan terendah 12,1 g/dL, (2) tingkat aktivitas fisik anggota Pandekar dari 28 responden terdiri atas 25 responden aktif dan 3 responden kurang aktif. Kesimpulan penelitian ini tidak terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan kadar hemoglobin pada mahasiswa anggota UKM Pandekar Universitas Andalas.Kata kunci: Aktivitas Fisik, Kadar Hemoglobin, Mahasiswa Anggota UKM PandekarAbstractHaemoglobin in red blood cells in human body is very important to transport the oxygen to all of the bodycells. Physical activity is also the importance thing to conduct the human health. The purpose of this study is to determine the correlation between physical activity and hemoglobin level at students of UKM Pandekar’s members; University of Andalas. The study is an observational analytic cross-sectional study. Study of correlation between physical activity and hemoglobin level at students of UKM Pandekar’s members; University of Andalas has been conducted at April 2013 in PKM University of Andalas Padang at students of UKM Pandekar’s members University of Andalas with normal Body Mass Index and not smoking. The study did by measuring the hemoglobin levels and filling the questionnaires of physical activity levels based on three scores, that works index score, sports index score, and free time index score. The results showed (1) mean hemoglobin levels at men is 15,98 g/dL with maximum 17,5 g/dL and minimum 13,1 g/dL, mean hemoglobin levels at women is 13,38 g/dL with maximum 15,8 g/dL and minimum 12,1 g/dL, (2) physical activity levels of Pandekar’s members from 28 respondents there are 25 active respondents and 3 underactive respondents. The conclusion of this study that there is no significant correlation between physical activity and hemoglobin level at students of UKM Pandekar members University of Andalas.Keywords:Physical Activity Levels, Hemoglobin Levels, Students Of UKM Pandekar’s Member
Penggunaan Obat Antihipertensi pada Pasien Hipertensi Esensial di Poliklinik Ginjal Hipertensi RSUP DR. M. Djamil Tahun 2011
AbstrakPenyakit hipertensi tidak dapat disembuhkan dan berkaitan erat dengan penurunan usia harapan hidup. Penderita hipertensi juga sering kali disertai oleh penyakit penyerta. Umumnya, golongan obat antihipertensi yang dikenal yaitu, diuretik, ACE Inhibitor, Angiotensin Reseptor Bloker, Canal Calcium Blocker, and Beta Blocker. Terapi yang diberikan pada penderita hipertensi tanpa penyakit penyerta dan dengan penyakit penyerta tentunya berbeda. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui penggunaan obat antihipertensi antara pasien hipertensi esensial dengan penyakit penyerta dan yang tidak disertai dengan penyakit penyerta di poliklinik RSUD Dr. M. Djamil, Padang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan mengambil data dari rekam medik. Data dari 380 pasien yang dikumpulkan selama periode Januari 2011 sampai dengan Desember 2011. Jumlah subjek ditentukan dengan teknik total sampling. Dari data penelitian didapatkan bahwa 277 pasien hipertensi tanpa penyakit penyerta dan sebanyak 103 pasien hipertensi dengan penyakit penyerta. Komposisi dari 103 pasien hipertensi dengan penyakit penyerta yaitu 63 pasien dengan diabetes melitus, 13 pasien dengan PJK, 13 pasien dengan stroke, 7 pasien dengan gagal jantung, 4 pasien dengan pasca infark miokard, 3 pasien dengan gagal ginjal kronik. Berdasarkan data penelitian didapatkan penggunaan obat antihipertensi yang sering digunakan yaitu Hidroklortiazid (35,5%), Captopril (26,2%), Valsartan (20,6%), Amlodipin (15,2%), dan obat antihipertensi lain (2,5%). Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa hipertensi dengan penyakit penyerta terbanyak adalah diabetes melitus dan penggunaan obat terbanyak berasal dari golongan diuretik yaitu penggunaan Hidroklortiazid.Kata kunci: obat antihipertensi, hipertensi, diuretikAbstractHypertension can not be cured and is closely related to a decrease in life expectancy. Patients with hypertension are also often accompanied by complience indication. Generally, antihypertensive drug classes are known, namely, diuretic, ACE Inhibitor, Angiotensin Reseptor Bloker, Canal Calcium Blocker, and Beta Blocker. Therapy which given to patients with or without complience indications is certainly different. The objective of this study was to determine the usage of anti-hypertension medicine in essential hypertension patients with or without complience indications in policlinic of General Hospital Dr. M. Djamil Padang. This was a descriptive study which the data were taken from medical record. The 380 patient’s data in period January 2011 – December 2011. The number of subjects was determined by the total sampling. The data showed 277 hypertension patients without complience indications and 103 hypertension patients with complience indications. Compositions of 103 hypertension patients with complience indications are 63 patients with diabetes mellitus, 13 patients with PJK, 13 patients with stroke, 7 patients with heart failure, 4 patients with post-infarct myocardium, and 3 patients with chronic kidney failure. Concerning the usage of anti-hypertension medicines which were frequently i.e. Hidroclortiazid (35,5%), Captopril (26,2%), Valsartan (20,6%), Amilodipin (15,2%), and other anti-hypertension drugs (2,5%). Based on the results of this study are concluded that complience indications suffered by most hypertension patients is diabetes mellitus and the usage of medicine by most patients is from diuretic which is Hidroclortiazid.Keywords: antihypertension drugs, hypertension, diuretic
Gambaran Slide Malaria Berdasarkan Sediaan Darah dari Kepulauan Siberut Mentawai Periode Oktober 2011 – Januari 2012
AbstrakMalaria adalah penyakit penting yang saat ini telah menjadi masalah kesehatan dunia dan endemik di 105 negara salah satunya Indonesia. Indonesia memiliki banyak kepulauan yang tersebar salah satunya yaitu Kepulauan Mentawai. Kepulauan Mentawai merupakan daerah endemi malaria yang terdiri atas 4 pulau salah satunya yaitu Kepulauan Siberut Mentawai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Insiden kejadian malaria di Kepulauan Siberut Mentawai periode Oktober 2012 – Januari 2012. Desain penelitian yaitu deskriptif dan observational. Sediaan darah yang berasal dari Puskesmas Muara Siberut Kepulauan Siberut Mentawai dikirim ke Laboratorium Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas untuk diperiksa. Penelitian dilakukan dengan cara pemeriksaan secara mikroskopik sediaan darah tebal dan tipis dari sampel darah tepi yang telah dipulas dengan pewarnaan Giemsa untuk mengetahui berapa insiden kejadian malaria, distribusi malaria menurut jenis kelamin, distribusi malaria menurut jenis plasmodium dan Parasite Count. Seluruh Sediaan darah berjumlah 106 sediaan darah dan 32 diantaranya positif malaria. Berdasarkan jenis kelamin ditemukan pada perempuan 17 sediaan darah dan laki-laki sebanyak 15 sediaan darah. jenis Plasmodium yang ditemukan adalah Plasmodium falciparum sebanyak 20 sediaan darah dan Plasmodium vivax sebanyak 12 sediaan darah. Menurut parasite count 14 sediaan darah diantaranya merupakan infeksi ringan dan 6 sediaan darah lainnya merupakan infeksi berat. Kesimpulan penelitian ini adalah (1) kejadian positif malaria ditemukan sebanyak 30,2%, (2) Insiden kejadian malaria lebih tinggi pada perempuan dibandingkan laki-laki, (3) Hanya ditemukan jenis Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax pada penelitian, (4) Derajat infeksi ringan kejadiannya lebih tinggi dibandingkan infeksi berat.Kata kunci: Malaria, Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Parasit countAbstractMalaria is an important disease that has become a global health problem endemic in 105 countries and one of them is Indonesia. Indonesia has many islands scattered one of which is the Mentawai Islands. Mentawai Islands is a malaria endemic area consisting of 4 islands, one of which is Siberut Mentawai Islands. The purpose of this study was to determine the incidence of malaria in Siberut Mentawai Islands, the period is between October 2012 - January 2012. The research design is descriptif and observational. Blood clots from Puskesmas Muara Siberut in Mentawai Islands are sent to the Laboratory of Parasitology, Faculty of Medicine Andalas University to be checked. Research done by microscopic examination of thick and thin blood preparations from peripheral blood samples that had been daubed with Giemsa staining to determine how the incidence, distribution of malaria by sex, distribution of malaria by species and Parasite Count. Whole blood preparations amounted to 106 blood and 32 of them are positive malaria. By sex found blood clots in women 17 and men as much as 15 blood clots. There are 2 plasmodium pieces that founded, 20 blood clots for Plasmodium falciparum and 12 blood clots for Plasmodium vivax. According parasite count, 14 blood clots are low infection and 6 other are severe infection. The conclusion of this study are (1) Positive malaria incidence is 30,2%, (2) The incidence of malaria is more in women than men, (3) There are only 2 species, Plasmodium falciparum and Plasmodium vivax on research, (4) low infection has higher incidence rates than severe infection.Keywords:Malaria, Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Parasit coun
Gambaran Profil Lipid pada Pasien Sindrom Koroner Akut di Rumah Sakit Khusus Jantung Sumatera Barat Tahun 2011-2012
AbstrakPenyakit kardiovaskuler merupakan penyebab kematian nomor satu secara global. Salah satu penyakit kardiovaskuler itu adalah Sindrom Koroner Akut (SKA) yang merupakan keadaan gawat darurat dari Penyakit Jantung Koroner (PJK). Salah satu faktor risiko SKA adalah perubahan dari kadar fraksi lipid yaitu kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, dan trigliserida yang dikaitkan dengan pembentukan plak aterosklerosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran profil lipid pada pasien SKA di rumah sakit khusus jantung Sumatera Barat tahun 2011-2012. Telah dilakukan penelitian deskriptif dengan bentuk cross sectional study dan pendekatan retrospective menggunakan data rekam medik mengenai hasil pemeriksaan profil lipid (kolesterol total, HDL, LDL, dan trigliserida) di rumah sakit khusus jantung Sumatera Barat untuk mengetahui gambaran profil lipid pada pasien SKA tahun 2011-2012. Hasil penelitian ini menemukan 98 kasus SKA. hasil ini menunjukkan bahwa pasien SKA dengan kadar kolesterol total tinggi adalah 44 orang (44,9%) dan normal sebanyak 54 orang (55,1%), pasien SKA dengan kadar kolesterol HDL rendah adalah 63 orang (64,3%) dan normal sebanyak 35 orang (35,6%), pasien SKA dengan kadar kolesterol LDL tinggi adalah 44 orang (44,9%) dan normal sebanyak 54 orang (55,1%), dan pasien SKA dengan kadar trigliserida tinggi adalah 21 orang (21,4%) dan normal sebanyak 77 orang (78,6%). Kejadian SKA terbanyak adalah STEMI sebanyak 51 kasus (52%), kemudian NSTEMI sebanyak 24 kasus (24,5%) dan yang paling sedikit adalah angina pektoris tak stabil sebanyak 23 kasus (23,5%) frekuensi umur terbanyak dari pasien SKA adalah 40-59 tahun, jenis kelamin terbanyak dari pasien SKA adalah laki-laki sekitar 74,5%. Penelitian menunjukkan jumlah bahwa pasien SKA yang memiliki kadar kolesterol total yang tinggi lebih sedikit daripada yang normal, kadar kolesterol HDL yang rendah lebih banyak daripada yang normal, kadar kolesterol LDL yang tinggi lebih sedikit daripada yang normal, kadar trigliserida yang tinggi lebih sedikit daripada yang normal, kasus SKA terbanyaKata kunci: Sindrom Koroner Akut, kolesterol total, kolesterol LDL, kolesterol HDL, trigliseridaAbstractCardiovascular diseases are the number one cause of death globally. One of the cardiovascular disease is Acute Coronary Syndrome (ACS) which is a state of emergency from Coronary Heart Disease (CHD). One of the risk factors for ACS is a change in the levels of lipid fractions such as total cholesterol, LDL Cholesterol, HDL Cholesterol and triglycerides which are associated with the formation of atherosclerotic plaque. This study aims to determine description of lipid profile in patients with acute coronary syndrome at the heart hospital of west sumatera 2011-2012. Descriptive research has been conducted with a a cross-sectional study and a retrospective approach using medical record about the result of lipid profile test (total cholesterol, HDL, LDL, and triglycerides) at the heart hospital of West Sumatera to describe the lipid profile in patients with ACS in 2011-2012. The results of this study found 98 cases of ACS. It showed that ACS patients with high total cholesterol levels are 44 people (44,9%) and normal are 54 people (55,1%), acute coronary syndrome patients with low levels of HDL cholesterol are 63 people (64,3%) and normal are 35 people (35,6%), acute coronary syndrome patients with high levels of LDL cholesterol are 44 people (44,9%) and normal are 54 people (55,1%), acute coronary syndrome patients with high levels of triglyceride are 21 people (21,4%) and normal are 77 people (78,6%), the highest incidence of SKA is STEMI with 51 cases (52%), then NSTEMI with 24 cases (24,5%) and the lowest incidence is unstable angina pectoris with 23 cases (23,5%), most age of the patients of ACS are 40-59 years old, the most gender of ACS are male about 74,5%. Research shows that the number of ACS patients who have a high level of total cholesterol are less than normal, low levels of HDL cholesterol are more than normal, high level of LDL cholesterol are less than normal, high level of triglyceride are less than normal, most incidens of ACS is STEMI then NSTEMI and the lowest is unstable angina pectoris, most age of ACS patients are 40-59 years, and most of gender are men.Keywords:acute myocardial infarction, total cholesterol, LDL cholesterol, HDL cholesterol, triglycerid