Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Ekspresi Gen Family Bcl-2 dan Ekspresi Gen Protein Kanal Ion Vdac1 pada Oligozoospermia
AbstrakSalah satu bentuk infertilitas pada pria adalah jumlah spermatozoa yang kurang dari normal (Oligozoospermia). Berbagai mekanisme diduga berperan dalam terjadinya oligozoospermia, mulai dari faktor fisik, stress, makanan dan molekuler. Penelitian ini merupakan kajian molekuler terhadap pengaruh ekspresi gen Bax, Bcl-2 dan VDAC terhadap terjadinya oligozoospermia. Penelitian dilakukan terhadap 40 sampel oligozoospermia dan sebagai kontrol adalah golongan normozoospermia dengan jumlah yang sama banyak. Sperma diisolasi menggunakan Percoll hypaque. Isolasi RNA menggunakan High Pure RNA isolation kit (Roche). Selanjutnya dilakukan pembuatan cDNA menggunakan First Strand cDNA synthetis (Roche). Tingkat ekspresi gen dinilai menggunakan mesin Light Cycler 2.0 (Roche). Primer didesain menggunakan software primer 3 plus dan spesifikasi primer dianalisis dengan Basic Local Alignment Search Tool (Blast). Tingkat ekspresi dibandingkan menggunakan Housekeeping gene (β-actin). Berdasarkan data penelitian diketahui tingkat ekspresi VDAC dan BAX lebih tinggi pada kelompok oligozoospermia dibanding normo (p < 0.05), namun tidak ditemukan perbedaan pada gen Bcl-2 (p > 0.05). Berdasarkan proporsi ekspresi ditemukan sebagian besar kelompok oligozoospermia mengalami overekspresi pada gen VDAC dan BAX (90% dan 93.3%), namun tidak ada overkekspresi pada normo (p>0.05). Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa overekspresi VDAC dan BAC berkaitan dengan kejadian oligozoospermiaKata kunci: Oligozoospermia, VDAC, Bax, Bcl-2, ekspresi genAbstractOne form of infertility in men is the number of spermatozoa which is less than normal (Oligozoospermia). Various mechanisms though have a role in the occurrence of oligozoospermia, it can be from physical factors, stress, food and molecular.This research is a molecular study of gen expression, Bax, Bcl2 and VDAC influence of the oligozoospermia’s occurrence.The research is conducted on 40 samples of oligozoospermia and as a control is normozoospermia class with a lot of number. The sperm are isolated with Percoll hypaque. RNA isolation use High Pure RNA isolation Kit (Roche). Next, conducted the cDNA making by using First Strand cDNA synthetis (Roche). Gene Expression level was rated by using Light Cycler 2.0 machine (Roche).The Primer are designed using software primer 3 plus and primer specification that analyzed with Basic Local Alignment Search Tool (Blast). The expression level was compared by using Housekeeping gene (β-actin).According to the research data known that VDAC and BAX expression level higher in oligozoospermia class than normozoospermia (p < 0.05), but did not find any differences in Bcl-2 gene (p > 0.05). Based on the proportion of expression was found some oligozoospermia class that encounter over expression in VDAC and BAX gene (90% and 93.3%), but there is no expression in normozoospermia (p > 0.05).This research can be concluded that the over expression of VDAC and BAX associated with the incidence of oligozoospermia.Keywords: Oligozoospermia, VDAC, BAX, Bcl2, and gene expressio
Prevalensi Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas pada Siswa dan Siswi Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Padang Timur Kota Padang Tahun 2013
AbstrakGangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) adalah salah satu masalah psikiatri utama yang sering ditemukan pada anak. Gangguan ini dapat dijumpai pada kehidupan sehari – hari, terutama pada anak usia prasekolah dan usia sekolah. Gangguan ini adalah alasan utama orangtua membawa anaknya berkonsultasi ke psikiater. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi GPPH pada siswa dan siswi sekolah dasar negeri Kecamatan Padang Timur Tahun 2013. Penelitian ini bersifat deskriptif dan sampel diambil secara proportional stratified random sampling di empat sekolah dasar negeri dengan jumlah sampel 80 orang dan yang memenuhi kriteria inklusi berjumlah 75 orang yang terdiri dari 38 orang laki – laki dan 37 orang perempuan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner Conner’s Abreviated Parent – Teacher Rating Scale dan hasil yang didapatkan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa prevalensi GPPH di Kecamatan Padang Timur sebesar 8%. Perbandingan GPPH pada anak laki – laki dibandingkan anak perempuan 2 : 1. Gejala GPPH terbanyak ditunjukkan pada kategori usia 11 – 13 tahun dan berada pada tingkatan kelas 5. GPPH tipe predominan hiperaktivitas – impulsivitas berjumlah lebih banyak bila dibandingkan dengan tipe predominan inatensi. Anak – anak dengan GPPH membutuhkan perhatian yang lebih dari orang tua dan guru. Hal ini agar kemampuan dan potensi anak tersebut dapat berkembang dengan optimal.Kata kunci: Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas, GPPH, prevalensiAbstractAttention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) is one of the main problem in psychiatric which is often found in children. This disorder can be found in daily life, especially in preschoolers and school-ages. This disorder is the main reason for the parents taking their children consult to a psychiatrist.The aim of this study is for knowing the prevalence of ADHD in primary school boys and girls at East District of Padang City in 2013. This is a descriptive study and samples were taken by proportional stratified random sampling at four of state primary schools with the total 80 persons. The inclusion criteria was accomplished by 75 persons consisting of 38 boys and 37 girls. Instrument of this study is Conner’s Abreviated Parent – Teacher Rating Scale questionnaire and the result is presented in frequency distribution table.The study shows that prevalence of ADHD in East District of Padang is 8%. The ratio between boys and girls is 2 : 1. ADHD’s symptomp mostly found in the range of age 11 – 13 years old and also in the 5th grade of primary school. ADHD predominant type of hyperactivity – impulsivity is more than predominant type of inattentivity.The children with ADHD need more attention from parents and also the teacher. The purpose is to maximize the existing ability and potential.Keywords:Attention Deficit Hyperactivity Disorder, ADHD, prevalenc
Gambaran Tekanan Darah pada Pasien Sindrom Koroner Akut di RS Khusus Jantung Sumatera Barat Tahun 2011-2012
AbstrakPenyakit jantung koroner merupakan penyakit degeneratif dengan permasalahan yang serius karena prevalensinya yang terus meningkat. Keadaan yang mengkhawatirkan dari penyakit jantung koroner adalah pada fase akut atau disebut dengan sindrom koroner akut. Salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya sindrom koroner akut adalah tekanan darah yang tinggi yang mengakibatkan pecahnya plak aterosklerotik. Penelitian bertujuan untuk mengetahui gambaran tekanan darah pada pasien sindrom koroner akut di RS Khusus Jantung, Sumatera Barat dan mengetahui jenis hipertensi yang terjadi. Penelitian dilakukan dengan mengambil data sekunder yaitu data tekanan darah awal masuk rumah sakit pada pasien sindrom koroner akut di RS Khusus Jantung, Sumatera Barat pada bulan Maret-April 2013. Penelitian ini merupakan studi deskriptif observasional dengan total sampling. Analisis data yang dilakukan adalah analisis univariat. Hasil penelitian dari 145 data ditemukan bahwa hipertensi (tekanan darah tinggi) sebanyak 88 pasien (61%), prehipertensi sebanyak 33 pasien (23%), dan normotensi sebanyak 24 pasien (16%), dengan jenis hipertensi yaitu hipertensi kombinasi sebanyak 53 pasien (60%), hipertensi sistolik sebanyak 20 pasien (23%) dan hipertensi diastolik sebanyak 15 pasien (17%). Kelompok usia yang terbanyak yaitu usia 46-55 tahun (30%) diikuti kelompok usia 66-75 tahun (25%), 56-65 tahun (24%), >76 tahun (10%), 36-45 tahun (0,8%), dan < 35 tahun (0,2%) dengan jenis kelamin laki-laki sebesar 74% dan perempuan sebesar 26%. Kesimpulan dari hasil penelitian adalah gambaran tekanan darah pada pasien sindrom koroner akut yang terbanyak yaitu hipertensi dengan jenis hipertensi kombinasi. Kelompok usia terbanyak yaitu usia 46-55 tahun dengan jenis kelamin laki-laki.Kata kunci: tekanan darah, hipertensi, sindrom koroner akutAbstractCoronary heart disease is a degenerative disease. It becomes serious because the prevalence continues increase. The worst condition is the acute phase which is called acute coronary syndrome. The high blood pressure is one of the risk factors of acute coronary syndrome because it lead atherosclerotic plaques ruptured. This research aims is to describe the blood pressure and the type of hypertension in patients with acute coronary syndromes in The Heart Hospital, West Sumatera. This research took the secondary data of admission blood pressure in patients hospitalized with acute coronary syndrome in The Heart Hospital, West Sumatera, March - April 2013. This research is an observational descriptive study with a total sampling. Data analysis was performed univariate analysis. The results of 145 data were 88 patients (61%) had hypertension (high blood pressure), 33 patients (23%) were prehypertension, and 24 were normotensive (16%). The type of hypertension were 53 patients with combination hypertension (60%), 20 patients with systolic hypertension (23%) and 15 patients with diastolic hypertension (17%). Based on the age classification of hypertension, found that 46-55 years were 30%, 66-75 years were 25%, 56-65 years were 24%, > 76 years were 10%, 36-45 years were 0.8%, and < 35 years were 0.2%. based on gender classification of hypertension found that male gender were 74% and women were 26%. The conclusion of this research find that the largest blood pressure in patients with acute coronary syndromes is hypertension, the largest type of hypertension is combination hypertension, the largest age classification is 46-55 years, and the largest gender classification is male.Keywords:blood pressure, hypertension, acute coronary syndrom
Diagnosis dan Tatalaksana Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) Horizontal Berdasarkan Head Roll Test
AbstrakLatar belakang: Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) merupakan vertigo yang dicetuskan oleh perubahan posisi kepala atau badan terhadap gaya gravitasi. Diagnosis BPPV ditegakkan berdasarkan anamnesis dan manuver provokasi. Sering kali terjadi kesalahan dalam menegakkan diagnosis BPPV yang berakibat terhadap penatalaksanaan vertigo yang tidak adekuat. Tujuan: Untuk menjelaskan bagaimana diagnosis dan tatalaksana BPPV Kanalis Horizontal. Kasus: Seorang laki-laki berusia 56 tahun yang didiagnosis sebagai BPPV Kanalis Horizontal kiri tipe kanalolithiasis apogeotropik. Penatalaksanaan: Dilakukan barbeque maneuver terapi reposisi kanalith. Kesimpulan: Penatalaksanaan BPPV adalah berdasarkan lokasi kanal yang terlibat dengan terapi reposisi kanalith.Kata kunci: BPPV, kanalis horizontal, kanalolithiasis apogeotropik.AbstractBackground: Benign Paroxysmal Positional Vertigo (BPPV) is vertigo that provoked by a position change of the head or body to the gravitation. The diagnosis of BPPV can be established by anamnesis and provocation maneuver. However, because BPPV frequently is misdiagnosed, it will implicate to an adequate therapeutic. Purposes: Explaining how to diagnose and manage a Horizontal Canal BPPV. Case : a man, 56 ages which diagnosed as a Left Horizontal Canal BPPV apogeotropic canalolithiasis type. Management: A barbeque maneuver was performed as canalith reposition treatment. Conclution: The management of BPPV is based on the involved canal with canalith repositioning treatment.Keywords: BPPV, horizontal canal, apogeotropic canalolithiasis
Profil Penderita Penyakit Tuberkulosis Paru BTA Positif yang Ditemukan di BP4 Lubuk Alung periode Januari 2012 – Desember 2012
AbstrakTuberkulosis masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia karena prevalensi yang masih tinggi,i terutama di negara berkembang. Karena penyebarannya yang tinggi, maka perlu diketahui bagaimana profil penderita penyakit ini agar penularannya bisa diminimalkan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penderita tuberculosis paru BTA positif yang berobat di Balai Pengobatan Penyakit Paru (BP4) Lubuk Alung periode 1 Januari 2012 – 31 Desember 2012. Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif. Instrumen yang digunakan adalah data dari rekam medik di Balai Pengobatan Penyakit Paru (BP4) Lubuk Alung sejak 1 Januari 2012 – 31 Desember 2012. Populasi yang ada seluruhnya dijadikan subjek penelitian. Kemudian dilakukan pencatatan dari beberapa variabel yang diteliti. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam periode tersebut jumlah penderita yang berobat ke BP4 Lubuk Alung adalah 19.440 orang, sebanyak 3.224 orang diantaranya suspek. Penderita BTA (+) 1.109 orang. Jenis kelamin laki-laki (70,8%) lebih banyak dari perempuan. Usia terbanyak adalah 21-30 tahun (23,2%). Daerah asal terbanyak adalah Kab. Padang Pariaman (29,4%). Derajat kepositifan BTA sputum terbanyak berupa positif tiga (+3) adalah (44,2%). Tipe penderita terbanyak merupakan penderita kasus baru sebanyak (91,7%). Keluhan terbanyak yang dirasakan ketika berobat adalah batuk (99%). Sebanyak (13,4%) memiliki penyakit penyerta selain tuberkulosis. Riwayat penggunaan obat sebelumnya sebanyak (11,3%). Sebanyak (99%) dirujuk ke puskesmas dan unit pelayanan kesehatan terdekat. Berdasarkan pendataan profil penderita TB Paru BTA Positif bisa dilihat paling banyak adalah derajat (+3) dan dirujuk ke unit pelayanan terdekat.Kata kunci: profil, tuberkulosis paruAbstractTuberculosis is still a health problem in Indonesia because the prevalence is still high, especially in developing countries. Due to the speed of spread, it is necessary to know the profile of people who suffer from this disease, so the transmission can be minimized. The purpose of this study was to determine the profile of positive acid-fast-bacilli (BTA) in pulmonary tuberculosis patients who seek treatment at Medical Center for Pulmonary Diseases (BP4) Lubuk Alung during the period 1 January 2012-31 December 2012.This is a descriptive retrospective study by taking the data from medical records in BP4 Lubuk Alung. Using the enterety of the population. The results of this study indicate that in this period the number of people who went to BP4 Lubuk Alung were 19.440 people, 3.224 of them suspected tuberculosis. Patients with BTA (+) was 1.109 people. We found male 70.78%. Most are 21-30 years of age 23.2%. The area of origin mostly from Kab. Padang Pariaman 29.4%. The degree of sputum smear positivity mostly positive three (+3) was 44.2%. Type of most patients are people with new cases 91.7%. Most complaints was cough 99%. A total of 13.44% had concomitant diseases other than tuberculosis. History of previous anti tuberculosis drugs (OAT) we found in 11.3%. And 99% are referred to hospitals and health care units nearby. Based on the data collection, profile of positif pulmonary TB patients is (+3) and mostly referred to the nearest health center and service unit.Keywords:profile, pulmonary tuberculosi
Gambaran Penyakit Malaria di Puskesmas Tarusan dan Puskesmas Balai Selasa Kabupaten Pesisir Selatan periode Januari - Maret 2013
AbstrakMalaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh Plasmodium Sp ditularkan oleh nyamuk Anopheles. Penyakit ini masih menjadi masalah utama kesehatan di Indonesia karena menyebabkan kesakitan dan kematian. Provinsi sumatera barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang angka malarianya tinggi. Kabupaten Pesisir selatan merupakan salah satu daerah di sumatera barat yang angka kejadian malarianya juga tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi malaria berdasarkan jumlah kasus, karakteristik pasien, dan jenis Plasmodium. Penelitian ini dibuat dalam cross sectional study dilakukan di Puskesmas Tarusan dan Puskesmas Balai Selasa pada bulan Januari s/d Maret tahun 2013. Data didapat dari salinan buku rekam medik laboratorium masing – masing puskesmas. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa, Puskesmas Tarusan dan Balai Selasa ditemukan 18 kasus malaria, terbanyak pada kelompok umur ≥ 15 (83,3%). Berdasarkan jenis kelamin, penduduk perempuan lebih banyak terinfeksi malaria, yaitu 16 orang (88,89%). Berdasarkan jenis Plasmodium yang ditemukan, jenis Plasmodium falcifarum lebih banyak menginfeksi penduduk, yaitu 11 orang (88,89%).Kata kunci: malaria, Plasmodium falcifarum, Plasmodium vivaxAbstractMalaria is a disease caused by Plasmodium sp. which is transmitted by the Anopheles mosquito. The disease is still being a major health problem in Indonesia because it can cause morbidity and mortality. West Sumatra province is one of the provinces in Indonesia that has high malaria rate. In west sumatera, Pesisir Selatan district has high incidence of malaria. The aims this reseach to determine the distribution of malaria based on its number of cases, patient characteristics, and types of Plasmodium. This research was made in a cross sectional study at the Tarusan Public Health Center and Balai Selasa Public Health Center in January–March, 2013. Data obtained from the medical record copies clinic laboratory. The result shows that, Tarusan public health center and Balai Selasa public health, found 18 cases of malaria, mostly in the age group ≥ 15 (83.3%). By gender, more female population are infected by malaria, which is 16 people (88.89%). Based on the Plasmodium species are found, falcifarum Plasmodium species infecting more people, that is 11 people (88.89).Keywords: malaria, Plasmodium falcifarum, Plasmodium viva
Pengaruh Pelvic Floor Muscle Training terhadap Pengembalian Fungsi Miksi dan Defekasi pada Ibu Postpartum Spontan
AbstrakPersalinan membawa dampak terhadap fungsi miksi dan defekasi pada ibu postpartum. Stimulasi dini yang dapat dilakukan guna memulihkan fungsi miksi dan defekasi, antara lain dengan Pelvic Floor Muscle Training (PFMT) atau latihan yang dilakukan khusus untuk otot dasar panggul. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh PFMT terhadap pengembalian fungsi miksi dan defekasi pada ibu postpartum spontan (tanpa bantuan alat penolong persalinan). Penelitian ini merupakan studi kuasi eksperimen dengan post test only control group design. PFMT dilakukan setelah 2 jam persalinan sebanyak 3 sesi selama 3 hari postpartum. Selanjutnya mewawancarai kelompok yang melakukan PFMT maupun kelompok yang tidak melakukan PFMT untuk mengetahui miksi dan defekasi pertama kali dimasa postpartum. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji chi-square dan nilai p < 0.05 dianggap bermakna secara statistik. Hasil penelitian didapatkan persentase miksi spontan lebih tinggi pada ibu yang melakukan PFMT dari pada ibu yang tidak melakukan PFMT (83.3% : 58.3%), Secara statistik perbedaan tersebut tidak signifikan (p > 0.05), maka dapat dinyatakan tidak terdapat pengaruh PFMT terhadap miksi pada ibu postpatum spontan. Persentase defekasi normal lebih tinggi pada ibu yang melakukan PFMT dari pada ibu yang tidak melakukan PFMT (87.5% : 16.7%). Secara statistik perbedaan tersebut signifikan (p < 0.05), maka dapat dinyatakan ada pengaruh PFMT terhadap defekasi pada ibu postpartum spontan. Dari hasil penelitian disimpulkan tidak terdapat pengaruh PFMT terhadap miksi pada ibu postpartum spontan dan terdapat pengaruh PFMT terhadap defekasi pada ibu postpartum.Kata Kunci: PFMT, miksi, defekasi, postpartum spontanAbstractLabour have an impact on the function of micturition and defecation in postpartum. Early stimulation that can be done to restore the function of micturition and defecation, among others, with Pelvic Floor Muscle Training (PFMT). The purpose of this study was to determine the effect of PFMT on restoring the function of micturition and defecation in spontaneous postpartum. This study was a quasi-experimental study with a post test only control group design. PFMT in women post partum in the intervention group after 2 hours of labor, further interviewing intervention and control groups to determine micturition and defecation first days of postpartum. Data were analyzed using chi-square test and p value <0.05 was considered statistically significant. The percentage of spontaneous micturition was higher in mothers who did PFMT than mothers who did not PFMT (83.3% : 58.3%), the difference was not significant (p > 0.05). The percentage of normal defecation was higher in mothers who did PFMT than mothers who did not PFMT (87.5%: 16.7%), the difference was statistically significant (p < 0.05). The results showed that of PFMT did affect micturition, although there is a tendency to spontaneous micturition in the intervention group than the control group, but not statistically significant. PFMT affect defecation in spontaneous postpartum.Keyword: PFMT, micturition, defecation, spontaneous postpartu
Pengaruh Senam Nifas terhadap Penurunan Tinggi Fundus Uteri pada Ibu Post Partum di RSUP DR. M. Djamil Padang
AbstrakPerdarahan merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian ibu pada masa nifas, dimana 50%-60% karena kegagalan miometrium berkontraksi secara sempurna. Salah satu asuhan untuk memaksimalkan kontraksi uterus pada masa nifas adalah dengan melaksanakan senam nifas, guna mempercepat proses involusi uteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh senam nifas terhadap penurunan tinggi fundus uteri (TFU) pada ibu post partum. Penelitian ini merupakan studi eksperimental dengan Post Test Only Control Group Design. Alat yang digunakan dalam penelitian berupa kaliper pelvimetri. Diberikan perlakuan senam nifas pada kelompok intervensi dan tidak senam nifas pada kelompok kontrol, kemudian dilakukan pengukuran tinggi fundus uteri hari ke-1, hari ke-3 dan hari ke-6. Data dianalisa menggunakan Uji General Linier Model (GLM). Rerata TFU hari ke-1 pada kelompok intervensi 12,37±0,72 dan 12,42±0,54 pada kelompok kontrol. Rerata TFU hari ke-3 pada kelompok intervensi 9,00±0,94 dan 9,87±0,75 pada kelompok kontrol. Sedangkan rerata TFU hari ke-6 pada kelompok intervensi 5,72±0,88 dan 7,37±0,68 pada kelompok kontrol. Terdapat perbedaan yang signifikan penurunan tinggi fundus uteri antara kedua kelompok pada hari ke-3 (p=0,00) dan hari ke 6 (p=0,00). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa senam nifas berpengaruh terhadap penurunan tinggi fundus uteri. Penurunan tinggi fundus uteri pada kelompok intervensi lebih turun dibanding kelompok kontrol.Kata kunci: senam nifas, tinggi fundus uteri, post partumAbstractHemorrhage is a major cause of maternal morbidity and mortality in the puerperium, about 50%-60% of hemorrhage occurs due to failure of myometrium to contract completely. One care to maximaze uterine contraction during the puerperium is by implementing parturition gymnastics in order to accelarate the process of uterine involution. The purpose of this study was to determine the effect of parturition gymnastics on a decreasing of fundal height of maternal postpartum.This was experimental study with Post Test Only Control Group Design. The tool used in this study was pelvimetry caliper. Parturition gymnastics was given to intervention group but the control group did not treated with parturition gymnastics, then fundal height was measured on the first day, third day, and sixth day. Data were analyzed by using General Linear Model (GLM) test. Mean of fundal height on the first day on the intervention group was 12.37±0.72 and 12.42±0.54 on the control group. Mean of fundal height on the third day was 9.00±0.94 on the intervention group and 9.87±0.75 on the control group. Meanwhile, mean of fundal height on the sixth day on the intervention group was 5.72±0.88 and 7.37±0.68 on the control group. There was significant decrease of fundal height between the two groups on the third day 3 at (p=0.00) and the sixth day at (p=0.00). From the research results, it can be concluded that parturition gymnastic has an effect on the decreasing of fundal height. The decline of fundal height on the intervention group is more decreasing than that of on the contro
Pola Resistensi Bakteri pada Sputum Pasien PPOK Terhadap Beberapa Antibiotika di Laboratorium Mikrobiologi RSUP Dr.M.Djamil Periode 2010 − 2012
AbstrakPeningkatan resistensi bakteri penyebab PPOK terhadap beberapa antibiotika yang lazim digunakan oleh klinisi dalam pemberian terapi empirik akan menyebabkan berkurangnya keefektifan terhadap terapi PPOK. Hal ini akan berdampak semakin tingginya morbiditas dan mortalitas yang disebabkan oleh PPOK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola resistensi bakteri penyebab PPOK terhadap beberapa antibiotika di Laboratorium Mikrobiologi RSUP.Dr.M.Djamil periode 2010 – 2012. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan November 2013 sampai dengan Desember 2013 di Laboratotium Mikrobiologi RSUP Dr.M.Djamil Padang. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif retrospektif. Hasil penelitian mendapatkan bakteri penyebab PPOK adalah Klebsiella spp (42,44%), Streptococcus α hemolyticus (38,37%), Pseudomonas aeruginosa (12,21%), Staphylococcus aureus (4,65%), Proteus mirabilis (1,16%), Staphylococcus epidermidis (0,58%) dan Streptococcus pneumoniae (0,58%). Disimpulkan bahwa bakteri tersering pada sputum pasien PPOK adalah Klebsiella spp. Tingkat resistensi tertinggi adalah Ampicillin, sedangkan tingkat kepekaan tertinggi adalah terhadap Netilmycin.Kata kunci: antibiotika, bakteri, resistensiAbstractIncreased resistance of bacteria that cause COPD to some antibiotics that are commonly used by clicicians in the provision of empiric therapy, it will cause a reduction in the effectiveness of the tratment of COPD. This study aimed to determine the resistance pattern of Bacteria in sputum of patients COPD to some antibiotics in Microbiology Laboratory Dr.M.Djamil Hospital Peroid 2010 – 2012. The research method was a descriptive and retrospective. According to the result, the bacteria that causes COPD is Klebsiella spp (42.44%), Streptococcus α hemolyticus (38.37%), Pseudomonas aeruginosa (12.21%), Staphylococcus aureus (4.65%), Proteus mirabilis (1.16%), Staphylococcus epidermidis (0.58%), and Streptococcus pneumoniae (0.58%). It can be concluded that the bacteria which cause the highest number of COPD is Klebsiella sp. The highest level of resistance is ampicillin while the highest level of sensitivity Is netilmycin.Keywords: antibiotics, bacteria, resistanc
Strabismus A-V Pattern
AbstrakStrabismus A-V pattern merupakan bagian dari bentuk strabismus horizontal inkomitan yang menggambarkan adanya perbedaan signifikan pada deviasi horizontal antara upgaze dan downgaze dari posisi midline.Terdapat berbagai teori yang menjelaskan etiologi strabismus AV pattern, yaitu disfungsi otot obliq, overaksi dan underaksi otot rektus horizontal, kelemahan otot rektus vertikal, dan sagitalisasi otot obliq. Terapi bedah diperuntukkan bagi A-V pattern yang signifikan secara klinis, atau terdapat head posture chin up dan chin down yang signifikan untuk mendapatkan fusi. Terdapat berbagai pilihan terapi strabismus A-V pattern yaitu pelemahan otot obliq, transposisi otot rektus horizontal atau rektus vertikal.Kata kunci: A-V pattern, strabismus, otot obliq, tenektomi, transposisiAbstractA-V pattern strabismus was a part of horizontal form of incomitant strabismus which described a significantly different in horizontal deviation between upgaze and downgaze from midline position. There were several theories which explained the etiology of A-V pattern strabismus include oblique muscles dysfunction, Ooveraction and underaction of horizontal rectus muscles, weakness of vertical rectus muscles, dan oblique muscles sagitalizaton. Surgical treatment was indicated for clinically significant A-V pattern, or if there were significantly chin up and chin down of head posture to obtain fusion. There were several surgical procedure include oblique muscles weakening, horizontal rectus or vertical rectus muscles transpotition.Keywords: A-V pattern, strabismus, oblique muscle, tenectomy, transpotitio