Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
    1143 research outputs found

    Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Status Gizi Anak Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Nanggalo Padang

    Get PDF
    AbstrakStatus gizi anak balita salah satunya dipengaruhi oleh faktor kondisi sosial ekonomi, antara lain pendidikan ibu, pekerjaan ibu, jumlah anak, pengetahuan dan pola asuh ibu serta kondisi ekonomi orang tua secara keseluruhan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah ada hubungan kondisi sosial ekonomi keluarga terhadap status gizi anak balita. Penelitian ini adalah survei analitik menggunakan desain cross sectional study dengan jumlah sampel 227 orang yang terdiri dari anak balita dan ibu balita di Wilayah Kerja Puskesmas Nanggalo Padang. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang telah diisi oleh ibu balita yang kemudian di analisis secara bivariat dan multivariat. Berdasarkan analisis bivariat didapatkan pendidikan ibu (p=0,022), pekerjaan ibu (p=0,000), pendapatan keluarga (p=0,012), jumlah anak (p=0,008) dan pola asuh ibu (p=0,000). Sementara dari analisis multivariat didapatkan pendidikan ibu (p=0,004; OR=2,594; CI95%=1,356-4,963), pekerjaan ibu (p=0,000; OR=74,769; CI95%=24,141-231,577), pendapatan keluarga (p=0,013; OR=3,058; CI95%=1,246-7,4) dan pola asuh ibu (p=0,000; OR=15,862; CI95%=5,973-42,128). Analisis bivariat menunjukan bahwa terdapat hubungan antara pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pendapatan keluarga, jumlah anak dan pola asuh ibu dengan status gizi anak balita. Berdasarkan hasil analisis multivariat faktor pekerjaan ibu merupakan faktor yang paling berhubungan dengan status gizi anak balita.Kata kunci: status gizi, anak balita, faktor sosial ekonomiAbstractNutritional status of children under five years has affected by a political and socio-economic condition factors, among others, maternal education, maternal occupation, number of children, maternal knowledge and parenting also parents' economic conditions as a whole. This research is conduct to determine whether there is a relationship between the socio-economic conditions of families on the nutritional status of children under five.This research is a analytic survey using a cross sectional study design with the number of samples are 227 people consisting of children under five and the mothers in the working areas Puskesmas Nanggalo Padang. Data were collected through questionnaires which is completed by mothers whose later been analyzed in bivariate and multivariateBased on bivariate analysis we can get the maternal education (p = 0.022), maternal occupation (p = 0.000), household income (p = 0.012), number of children (p = 0.008) and maternal parenting (p = 0.000). While the multivariate analysis obtained from the maternal education (p = 0.004; OR = 2.594; CI95% = 1.356 to 4.963), maternal occupation (p = 0.000; OR = 74.769; CI95% = 24.141 to 231.577), household income (p = 0.013; OR = 3.058; CI95% = 1.246 to 7.4) and maternal parenting (p = 0.000; OR = 15.862; CI95% = 5.973 to 42.128).Bivariate analysis showed that there is a relationship between maternal education, maternal occupation, family income, number of children and parenting mothers with a nutritional status of children under five. Based on the results of the multivariate analysis, maternal occupation is the most associated factor with nutritional status of children under five.Keywords: Nutritional Status, Children Under Five, Socio-economic Facto

    Ekspresi PDGF-B dan SCUBE 1 pada Arteri Karotis Mencit yang Diligasi dan Tidak Diligasi

    Get PDF
    AbstrakDiffuse Intimal Thickening (DIT)terjadi sebagai adaptasi fisologis terhadap shear stress yang dapat terbentuk melalui ligasi arteri karotis. Ligasi akan menyebabkan terbentuknya penebalan tunika intima pada pembuluh darah. Penebalan tunika intima terjadi melalui proses inflamasi yang melibatkan sitokin seperti PDGF-Bdan SCUBE 1 yang terdapat di dalam trombosit dan endotel. Tujuan penelitian adalah mengetahui ekspresi PDGF-B dan SCUBE 1 pada arteri karotis mencit yang diligasi dan tidak diligasi. Desain penelitian adalah eksperimental dengan menggunakan 5 ekor mencit yang dilakukan ligasi pada arteri karotis kiri sedangkan arteri karotis kanan tidak diligasi. Kemudian, arteri karotis tersebut dikumpulkan dan diperiksa kadar PDGF-B dan SCUBE 1 dengan menggunakan PCR. Uji hipotesis yang digunakan adalah independent t-test. Hasil penelitian adalah tidak terdapat perbedaan bermakna PDGF-B pada arteri karotis mencit yang diligasi dan tidak diligasi (p = 0,66; p>0,05) dan tidak terdapat perbedaan bermakna SCUBE 1 pada arteri karotis mencit yang diligasi dan tidak diligasi (p = 0,33; p>0,05).Kata kunci: diffuse intimal thickening, DIT, PDGF-B, SCUBE 1, PCR. AbstractDiffuse Intimal Thickening (DIT) develops as physiological adaptive process of shear stress which can be performed by carotid artery ligation in mice. Ligation will cause an intimal thickening in vessel. Intimal thickening occurs through an inflammatory process that involves cytokines such as PDGF-B and SCUBE 1 that are found in platelet and endothelial cells.The objective of this study was to determine the expression of PDGF-B and SCUBE 1 in ligated and non ligated carotid artery of mice.The design study was experimental. This study used 5 mouse that were ligated in left carotid artery and non ligated in right carotid artery. Then, those carotid arteries were collected and examined PDGF-B and SCUBE 1 levels using PCR. The hypothesis test of this study was Independent t-test.The result was no significant difference between PDGF-B in ligated and non ligated carotid artery of mice (p = 0.66; p>0.05). The same result was also found in SCUBE 1 as well (p = 0.33; p>0.05).Keywords: diffuse intimal thickening, DIT, PDGF-B, SCUBE 1, PCR

    Pengaruh Perbedaan Kadar Oksitosin Melalui Pemijatan Oksitosin Terhadap Jumlah Perdarahan pada Ibu 2 Jam Postpartum

    Get PDF
    Abstrak Upaya penanganan perdarahan postpartum adalah dengan pemberian oksitosin yang mempunyai peranan penting dalam merangsang kontraksi otot polos uterus sehingga perdarahan dapat teratasi.Hormon oksitosin dapat dihasilkan melalui rangsangan pemijatan oksitosin yang akan mempercepat kerja saraf parasimpatis untuk menyampaikan perintah ke hipotalamus untuk menghasilkan oksitosin. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh perbedaan kadar oksitosin melalui pemijatan oksitosin terhadap jumlah perdarahan pada ibu 2 jam postpartum. Penelitian menggunakan desain eksperimen. Penelitian ini dilaksanakan ± 6 bulan dengan jumlah sampel 64 orang. Pengolahan data dilakukan dengan komputerisasi. Data disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan selanjutnya dilakukan uji independen t-test, uji korelasi dan regresi untuk mengetahui pengaruh hubungan kedua variabel. Hasil penelitian perbedaan kadar oksitosin pada ibu 2 jam postpartum pada kelompok intervensi mempunyai rata-rata kadar oksitosin 47.16 pg/ml dengan standar deviasi 17.583 pg/ml,sedangkan kadar oksitosin  pada kelompokkontrol 29.86 pg/ml dengan standar deviasi 17.532 pg/ml dengan nilai p<0,05.Rata-rata jumlah perdarahan pada kelompok intervensi 175.00 ml dengan standar deviasi 48.894 ml,sedangkan jumlah perdarahan  pada kelompok kontrol 247.06 ml dengan standar deviasi 72.093 ml dengan nilai p<0,05. Hasil uji korelasi didapatkan hubungan kadaroksitosin terhadap jumlah perdarahan menunjukkan hubungan sedang (r=0,482). Hasil uji statistik didapatkan ada perbedaan kadar oksitosin terhadap jumlah perdarahan (p<0,05). Terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar oksitosin ibu 2 jam postpartum pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.Terdapat perbedaan yang bermaknaantara jumlah perdarahan ibu 2 jam postpartum pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Semakin tinggi kadar oksitosin maka jumlah perdarahan semakin sedikit.Kata kunci: Pemijatan oksitosin, oksitosin, jumlah perdarahan 2 jam postpartumAbstract Efforts to handling postpartum hemorrhage is to give oxytocin,which it is an important role in oxytocin stimulates uterine smooth muscle contraction, so that bleeding can be resolved.The hormone oxytocin can be generated through the stimulation of oxytocin massage that will accelerate parasympathetic nerves to deliver commands to the hipotalamus to produce oxytocin. The objective of this study was to determine effect of different levels of oxytocin trough massage of oxytocin on the amount of bleeding at 2 hours postpartum. This research use experimental designthat was conducted ± 6 months to 64 people. Data processing was done by computerized. The data presented in the form of a frequency distribution and performed an independen t-test and correlation test and regression to determine the effect ofthe relationship between the two variables. There is differences the levels of oxytocin at 2 hours postpartum in the intervention group had higher median levels of oxytocin 47.16pg/ml with a standard deviation of 17.583pg/ml, whereas the levels ofoxytocin at 2 hours post partum control group 29.86 pg/ml with a standard deviation of 17.532 pg/ml with p<0.05. The average of bleeding in the intervention group was 175.00 ml with a standard deviation of 48.894 ml, while the amount of bleeding at 2 hours postpartum control group 247.06 ml with a standard deviation of 72.093 ml with p<0.05. The results obtained correlation levels of oxytocin relation to 2 hours postpartum hemorrhage showed moderate relationship (r =0.482). The results of statistical tests found differences in the levels of oxytocin on the amount of bleeding at 2 hours postpartum (p<0.05). There is differences between the levels of oxytocin 2 hours pos partum in the intervention group and the group control. There are significant difference between the hemorrhage 2 hours post partum in the intervention group and the group of high levels of oxytocin control. Keywords: massage of oxytocin, oxytocin, amount of bleeding at 2 hours postpartu

    Hubungan Obesitas dengan Hormon Testosteron pada Mahasiswa STIKes Indonesia Padang

    Get PDF
    Abstrak Obesitas menjadi epidemik seluruh dunia dan dua pertiga penduduk negara berkembang menderita obesitas. Pada pria obesitas terdapat lebih banyak sel lemak melepaskan enzim aromatase yang mengkatalisis testosteron menjadi estradiol. Bertambahnya berat badan akan mempercepat penurunan hormon testosteron. Tujuan penelitian iniadalah menentukan hubungan obesitas dengan hormon testosteron. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pendekatan cross sectional.  Total sampling berjumlah 32 orang. Penelitian ini dilaksanakan dari  Oktober 2013 sampai Januari 2015 di STIKes Indonesia dan Laboratorium Biokimia FK Unand. Analisa data diolah secara komputerisasi dengan uji statistik korelasi dan regresi linier sederhana dengan derajat penolakan 5â€%â€, p=0,05. Hasil penelitian menunjukan hubungan yang lemah dan berpola negatif lemah artinya semakin meningkat berat badan maka semakin rendah hormon testosteron. Kesimpulan penelitian ini tidak ada hubungan yang bermakna antara obesitas dengan hormon testosteron. Penelitian ini memberikan informasi dan pengetahuan tentang terjadinya infertilitas akibatterganggunya hormon testosteron pada pria yang menderita obesitas.Kata kunci: obesitas, testosteron, adiponektin, enzim aromatase Abstract Obesity is becoming a worldwide epidemic and two-thirds of people developing countries suffer obesity. Obese men have fat cells that release the enzyme aromatase which catalyse testosterone to estradiol. Weight gain, the faster decline in testosterone. The objective of this study was to determine the relationship of obesity to testosterone. The design of this study was observational, cross-sectional approach to sampling amounted 32 people. The research was conducted from October 2013 January 2015 in STIKes Indonesia and Biochemistry Laboratory Faculty of Medicine, University of Andalas. Data analysis was processed by a computerized with statistical tests correlation and simple linear regression and the degree of rejection of 5â€%â€. p=0.05. Obesity research results with testosterone showed weak correlation and weak negative patterned means increasing weight, the lower hormone testosterone. The conclusion of this study is no significant association between obesity and hormone testosterone.This research can provide information and knowledge about the occurrence of infertility due disruption of testosterone levels men who suffer from obesity.Keywords: obesity, testosterone, adiponecty, enzym aromatas

    Korelasi Kadar Hemoglobin dengan Kadar Nitric Oxide pada Preeklamsia dan Kehamilan Normal

    Get PDF
    Abstrak Aktivasi sel endotel atau disfungsi endotel menjadi faktor utama patogenesis preeklamsia. Mekanisme ini ditandai dengan penurunan ketersedian Nitric Oxide (NO). Disfungsi endotel pada hipertensi diperkirakan berkaitan dengan konsentrasi hemoglobin. Tujuan penelitian ini adalah menentukan korelasi kadar hemoglobin dengan kadarNO pada preeklamsia dan kehamilan normal. Desain penelitian ini adalah analitik cross sectional, dilaksanakan di RSUP Dr. M. Djamil Padang dan RST Reksodiwiryo Padang dari 13 Mei sampai13 Juli 2014. Pemeriksaan kadar hemoglobin dilakukan di laboratorium Patologi Klinik RSUP Dr. M. Djamil Padang dan kadar NO di laboratorium Biomedik Fakultas Kedokteran UNAND Padang. Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang datang ke RSUP Dr. M. Djamil Padang dan RST Reksodiwiryo Padang. Sampel dipilih secara consecutive sampling jumlah sampel 17 orang kehamilan preeklamsia dan 18 kehamilan normal. Hasil penelitian menunjukkan pada preeklamsia kadar hemoglobin 12,39 ± 2,10gr/dl dan NO 29,88 ± 9,47µmol, sedangkan pada kehamilan normal 11,18 ± 0,98gr/dl dan NO 84,22 ± 54,26 µmol. Uji statistik menunjukkan ada korelasi positif yang bermakna (p = 0,02) antara kadar hemoglobin dan kadar NO pada preeklamsia. Tidah ada korelasi antara kadar hemoglobin dengan kadar NO pada kehamilan normal (p = 0,52). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah peningkatan kadar hemoglobin cenderung meningkatkan kadar NO pada preeklamsia dan peningkatan kadar hemoglobin tidak mempengaruhi kadar NO pada kehamilan normal.Kata kunci:  hemoglobin, nitric oxide, preeklamsia, kehamilan normal Abstract Endothelial cell activation or dysfunction becomes a major factor pathogenesis of preeclampsia. This mechanism is characterized by the decrease of Nitric Oxide (NO) level. Endothelial dysfunction in hypertension is related to haemoglobin concentration, especially its role in vascular function. The objective of this study was to determine the correlation between haemoglobin level and NO level in preeclampsia and normal pregnancy. In this study, cross-sectional analytic design was used to determine relationship between haemoglobin and NO levels. Thisresearch was conducted in the clinic, emergency room, and delivery room of Dr. M. Djamil Hospital Padang and Reksodiwiryo Hospital in Padang from 13 th  May to 13 th  July 2014.  Haemoglobin levels were tested in clinical pathology laboratory of Dr. M. Djamil Padang Hospital and NO levels were tested in biomedical laboratory of Medicine faculty ofAndalas University. In this study, 17 preeclampsia pregnancies and 18 normal pregnancies were taken into samples in the hospitals, where the sample numbers were determined by using consecutive sampling method. The results show that in preeclampsia haemoglobin level is 12.39 ± 2.10g/dl and NO level is 29.88 ± 9.47 µmol, while in normalpregnancy, haemoglobin level is 11.18 ± 0.98g/dl and NO is 84.22 ± 54.26µmol respectively. Statistically there is positive significant correlation between haemoglobin level to NO level in preeclampsia (p = 0.02). There is no correlation between haemoglobin level to NO level in normal pregnancy (p = 0.52).  It can be concluded that haemoglobin level is inversely related to nitric oxide level in preeclampsia group. In normal pregnancy group, haemoglobin level is not associated to nitric oxide level.Keywords:  haemoglobin, nitric oxide, preeclampsia, normal pregnanc

    Slide Malaria Positif pada Murid SDN 45 Pulau Karam Kecamatan Koto XI Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan

    Get PDF
    Abstrak Penyakit malaria hingga saat ini masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia. Secara epidemiologi Indonesia merupakan daerah endemis mayor malaria di Asia tenggara. Kabupaten Pesisir Selatan adalah salah satu daerah endemis malaria di Sumatera Barat.  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui frekuensi parasit malaria berdasarkan umur, kenis kelamin dan angka hitung parasitnya (Parasite Count). Telah dilakukan penelitian pada murid SD 45 Pulau Karam dengan jenis penelitian deskriptif. Data diperoleh dengan pemeriksaan mikroskopis sediaan darah tebal dan tipis yang dipulas dengan pewarnaan Giemsa. Hasil penelitian terhadap 97 murid SDN 45 Pulau Karam didapatkan angka parasit sebanyak 28% dan spesies Plasmodium yang ditemukan seluruhnya merupakan Plasmodium falsiparum. Bedasarkan golongan umur, distribusi frekuensi parasit malaria tertinggi ditemukan pada umur < 10 tahun yaitu 59% dan berdasarkan jenis kelamin, di dapatkan persentase terbesar pada anak laki -laki yaitu sebesar 78%. Parasite Count pada slide darah yang positif parasit malaria yang tertinggi persenan adalah yang < 250/mm³ yaitu sebanyak 96%.Kata kunci: slide darah tebal dan tipis, Parasite Rate, Plasmodium falsiparum, Parasite Count.Abstract Malaria is still a health problem in Indonesia. Indonesia is a major malaria endemic areas in Southeast Asia. District Pesisir Selatan is one of the endemic areas in West Sumatera. The objective of this study was to find the frequency of malaria parasite based on species of malaria parasite, age, gendre and Parasite Count, a study was done on elementary student in SDN 45 Pulau Karam. This research was descriptive. Data obtained by microscopic examination of thick and thin blood preparations were daubed with Giemsa staining. The study of 97 students of SDN 45 Pulau Karam in getting the numbers as much as 28% and the Plasmodium species is found throughout Plasmodium falciparum. Based on the age group, the highest frequency distribution of the malaria parasite was found at age <10 years is 59% and base on gendre, in getting the largest percentage of boys is equal to 78%. Parasite Count on positive blood preparations of the highest malaria parasite gratuities are <250/mm³ as many as 96%.Keywords: thick and thin blood preparations, Parasite Rate, Plasmodium falciparum, Parasite Count

    Profil Kasus Tuberkulosis Paru di Instalasi Rawat Inap Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 1 Januari 2010 - 31 Desember 2011

    Get PDF
    Abstrak Tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi menular yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis yang masih merupakan masalah kesehatan di dunia dan Indonesia sampai sekarang ini.Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan menggunakan data sekunder, yaitu rekam medik penderita TB paru. Populasi adalah semuakasus TB paru di Instalasi Rawat Inap Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang selama 1 Januari 2010-31 Desember 2011 yang mempunyai data rekam medik lengkap. Perhitungan analitik menggunakan Chi Square dengan α= 0,05. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kasus tuberkulosis paru di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. M. Djamil Padang dari 1 Januari 2010 sampai 31 Desember 2011, yaitu karakteristik, temuan klinis dan laboratorium klinis, komorbid, dan farmakologi TB paru. Jumlah kasus TB paru dari penelitian ini adalah 65 buah. TB paru dengan BTA sputum negatif (60%) adalah klasifikasi TB  paru terbanyak. Laki - laki (72%), usia 20- 29 tahun (27%), pendidikan tamat sekolah lanjut tingkat atas (SLTA)(47%), pekerjaan rumah tangga (33%) merupakan karakteristik terbanyak diikuti merokok pada laki- laki (64%) dan status gizi kurus dengan kekurangan berat badan tingkat berat (53%). Hasil data analisis berdasarkan Chi Square, didapatkan X 2= 2,5 dengan α= 0,05, sehingga tidak ada hubungan bermakna antara jenis kelamin dengan hasil pemeriksaan BTA sputum. Terdapat hubungan bermakna antara merokok dengan jenis kelamin (X 2 = 41,6; p ≤ 0,05). Sesak nafas (56%) merupakan klinis terbanyak dan anemia (66%), laju endap darah (LED) meningkat (95%),  kadar gula darah sewaktu (GDS) normal (89%), serum glutamic oxsaloasetic transaminase (SGOT) normal (72%), dan serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) normal (84%)merupakan temuan laboratorium klinis terbanyak. Sebanyak 32% dari 65 buah kasus tidak mempunyai komorbid. Enam komorbid terbanyak adalah efusi pleura (22%), pneumonia (18%), diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) (12%), pneumotoraks (10%), hiponatremia (9%), dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK)(7%) dan spondilitis (1%) dan peritonitis TB (1%) merupakan TB ekstraparu yang ditemukan dari penelitian ini. RHZE (86%) dan RH (6%) merupakan regimen obat antituberkulosis (OAT) yang digunakan pada kategori 1 dan RHZES (7%) pada kategori  2 sehingga kategori 1 (92%) merupakan klasifikasi kasus TB paru berdasarkan definisi klinis terbanyak. Kata kunci: mycobacterium tuberkulosis, tuberkulosis, tuberkulosis paruAbstract Pulmonary tuberculosis (PTB) is an infection transmitted diseases caused by Mycobaterium tuberculosis which is still be one of the health problems in the world and Indonesia until now. This research is a analytic descriptive that use secondary datas, which is medical records of PTB patients. The populations are all cases of pulmonary TB in Pulmonary Instalations Dr. M. Djamil Padang from 1 January 2010- 31 Desember 2011 which have complete medical record datas. Analytic using Chi Square with α= 0,05. The aim of this research is to know the profile of pulmonarytuberculosis cases in Pulmonary Instalations Dr. M. Djamil Padang from 1 January 2010 until 31 December 2011, which are characteristic, clinical findings, clinical laboratorium findings, comorbid, and pharmacology of PTB. The amount of cases from this research is 65 cases. PTB with negatif acid-fast bacilii (AFB) (60%) is the most calassification of PTB. Male (72%), age 20- 29 years old (27%), senior high school graduated (47%), unemployed (33%) are the most characteristic followed by smoke on male (64%) and severe low body weigh of nutritional status (53%). Data analyzed resultswith Chi Square results on X 2  is 2,5  and suggested that statistically there is no relationship between gender and acid- fast bacilii examination (p > 0,05). There is significant relationship betweensmoking history and gender (X 2 = 41,6; p ≤ 0,05). Shortbreathness (56%) is the most clinical finding and anemia (66%), high eritrocytes sedimen rate (ESR) (95%), normal random blood glucose (89%), normal serum glutamic oxsaloasetic transaminase (SGOT) (72%), and normal serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) (84%) are the most clinicallaboratorium findings. A 32% of 65 cases dont have comorbid. The six most of comorbid are pleural effusion (22%), pneumonia (18%), diabetes melitus type 2 (12%), pneumothorax (10%), hyponatremia (9%), and chronic obstructive pulmonary disease (7%) and spondilits (1%) and peritonitis TB (1%) are the extrapulmonary TB found on this research.RHZE (86%) and RH (6%) are the regiment of antiTB drugs which is given on 1st category and RHZES (7%) is given on 2nd category and then 1st category is the most classification of PTB based on clinical definitions.  Keywords: Mycobacterium tuberculosis, tuberculosis, pulmonary tuberculosi

    Karakteristik Penderita Penyakit Jantung Bawaan pada Anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode Januari 2010 – Mei 2012

    Get PDF
    Abstrak Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan defek lahir yang sering ditemukan dan merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua jenis kelainan bawaan. Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa adanya variasi secara geografik yang penting pada insiden PJB. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi karakteristik dari penderita PJB anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan melihat karakteristik penderita anak dengan PJB pada data rekam medik. Sampel penelitian ini adalah 55pasien anak yang menderita penyakit jantung bawaan di RSUP Dr. M. Djamil Padang dari Januari 2010 sampai Mei 2012. Mayoritas penderita adalah perempuan (61,8%), dan mayoritas umur sampel terdapat pada kelompok umur kurang dari 1 tahun (56.4%). Jenis PJB terbanyak adalah TF (21,8%) dan gejala yang paling sering dijumpai adalah sesak nafas (50,9%). Sebanyak (34,5%) penderita memiliki penyakit kongenital lain, dengan penyakit nonsindroma terbanyak adalah atresia ani dan omfalokel dengan masing-masing (22,2%) dan penyakit sindroma terbanyak adalahsindroma Down (40%). Gagal tumbuh terdapat pada (49,1%) penderita. Nilai Hb PJB sianotik lebih tinggi berbanding asianotik. Tingkat tindakan operatif kasus PJB anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang adalah 1,8%. Terdapat variasi karakteristik dari penderita PJB yang ada di RSUP Dr. M. Djamil Padang.Kata kunci: penyakit jantung bawaan, anak, variasi karakteristik Abstract Congenital heart disease (CHD) is a common birth defect, and a leading cause of deaths linked to birth defects. Many studies show that the presence of significant geographic variation in the incidence of CHD. The objective of this study was to determine the variation of the characteristics of patients with CHD in Dr. M. Djamil Hospital Padang. This research is a descriptive research by observing at the characteristics of children with CHD using the medical record data. The total sample of this study was 55 children, which are suffering from CHD in Dr. M. Djamil Hospital Padang from January 2010 - May 2012. The results of this study showed that majority of the patients were female (61.8%), and the majority of samples are at the age group of less than 1 year (56.4%). The most common of CHD was Tetralogy of Fallot (21.8%), and shortness of breath was the highest (50.9%) symptom that had been found. A total of (34.5%)patients had another congenital diseases, the most common nonsyndromic disease are anus atresia and omfalocele (22.2%) respectively, and the most common syndromic disease is Down Syndrome (40%). Failure to thrive presents in 49.1% patients. The level of Hb in patient with cyanotic CHD is higher than the acyanotic CHD. The number of the surgery of CHD cases in children at Dr. M. Djamil Hospital Padang is 1.8%. There are variations in the characteristic of children with CHD in Dr. M. Djamil Hospital Padang. Keywords:  congenital heart disease, children, variation of characteristic

    Hubungan Umur dan Lamanya Hemodialisis dengan Status Gizi pada Penderita Penyakit Ginjal Kronik yang menjalani Hemodialisis di RS. Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    AbstrakPenyakit Ginjal Kronik (PGK) masih merupakan masalah kesehatan dunia karena prevalensinya yang meningkat, “ireversible†dan progresif. Malnutrisi lebih banyak ditemukan pada PGK. Sebanyak 40% malnutrisi ditemukan pada penderita pada awal hemodialisis. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan umur dan lamanya hemodialisis dengan status gizi pada penderita penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis. Ini adalah suatu penelitian Cross Sectional Study yang dilakukan pada bulan Oktober 2013 di Unit Hemodialisis RS Dr. M. Djamil Padang. Telah Diteliti sebanyak 59 orang penderita PGK. Penilaian gizi diukur dengan Lingkaran Lengan Atas (LILA) dan Tebal Lipat Kulit (Skin Fold). Data dianalisa dengan program SPSS. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa umur penderita berkisar 22-75 tahun dengan rata-rata 52,39 ±10,39 tahun dan terbanyak umur 50-59 tahun yaitu sebesar 50,86%. Lamanya menjalani hemodialisis berkisar 1-97 bulan dengan rata-rata 24,54 ± 24,69 bulan. Malnutrisi pada penderita PGK berdasarkan LILA dan Skin Fold, didapatkan berturut-turut 33 orang (55,93%) dan32 orang (54,24%). Tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara gambaran gizi dengan umur dan lamanya menjalani hemodialisis (p>0,05, r<1). Kesimpulan dari studi ini adalah malnutrisi pada PGK yang menjalani hemodialisis berkisar antara 54,24% – 55,93%. Tidak terdapat hubungan antara status gizi dengan umur dan lamanya menjalani hemodialisisKata kunci: PGK, malnutrisi, umurAbstractChronic Kidney Disease (CKD) is still a global health problem due to its increasing prevalence Its irreversible and progressive state. Malnutrition is more common in CKD patients. A total of 40% malnutrition case is found in patients at the beginning of their hemodialysis. The objective of this study was to observe the relationships of age and duration of hemodialysis with regard to nutritional status in chronic kidney disease patient on hemodialysis. This was a cross sectional study conducted in October 2013 at Hemodialysis Unit of Dr. M. Djamil General Hospital, Padang. A total of 59 patients with CKD were analyzed. Nutritional assessment was measured by Upper Arm Circles (UAC) and Skin Fold’s thickness (Skin Fold). Data were analyzed using SPSS. Results: Ages of patients were ranged from 22-75 years with an average of 52.39 ± 10.39 years, and most patients were aged 50-59 years that was equal to 50.86%. The long of hemodialysis was ranged 1-97 months with an average of 24.54 ± 24.69 months. Malnutrition in patients with CKD based on UAC and Skin Fold were obtained successively in 33 people (55.93%) and 32 people (54.24%). There was no significant association between nutritional figure with age and duration of hemodialysis (p>0.05, r<1). Conclusion from ths study is malnutrition in CKD patients that undergo hemodialysis is ranged from 54.24% to 55.93%. There is no relationship between nutritional status with age and duration of undergoing hemodialysis.Keyword: CKD, Malnutrition, ag

    Pengaruh Papain Getah Pepaya Terhadap Pembentukan Jaringan Granulasi pada Penyembuhan Luka Bakar Tikus Percobaan

    Get PDF
    AbstrakLuka bakar merupakan masalah yang serius dalam kesehatan dunia, khususnya di negara berkembang. Di Indonesia belum ada laporan tertulis mengenai jumlah penderita luka bakar dan jumlah angka kematian yang diakibatkannya. Di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2010 ditemukan 84 kasus luka bakar dengan penyebab sengatan listrik, siraman air panas, kompor, dan minyak panas. Sejumlah studi menunjukkan bahwa tanaman tradisional potensial sebagai agen penyembuhan luka, salah satunya papain getah pepaya (Carica papaya). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pembentukan jaringan granulasi pada penyembuhan luka bakar tikus percobaan. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan posttest only control group design. Subjek penelitian adalah 10 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol (K) dan kelompok perlakuan (P). Masing-masing kelompok terdiri dari lima (5) ekor tikus. Plat logam (1,5 cm x 1,5 cm) yang dipanaskan digunakan untuk menghasilkan luka bakar full thickness pada bagian dorsal tikus. Papain getah pepaya diberikan pada kelompok P selama 7 hari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian papain getah pepaya tidak memberikan pengaruh yang signifikan (p > 0,05) terhadap pembentukan jaringan granulasi pada penyembuhan luka bakar tikus percobaan. Pada kelompok P didapatkan hasil pembuluh darah 29,26 ± 12,34, fibroblas 26,40 ± 21,94, neutrofil 1,4 ± 0,44, limfosit 1,06 ± 0,13, dan makrofag 1,00 ± 0,00. Kesimpulan penelitian ini adalah papain getah pepaya tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pembentukan jaringan granulasi pada penyembuhan luka bakar tikus percobaanKata kunci: papain, jaringan granulasi, luka bakar, penyembuhan lukaAbstractBurn wounds is the serious problem in world health specifically for developing contries. In Indonesia, there is no written report about burn wounds patient and mortality account yet. In 2010, M. Djamil Padang Government Public Hospital found 84 cases of burn wounds with some causes as burn effect from sting of electric, hot water, stove flame and hot oil. Some researches indicate that traditional plant able to be wound healing agent as papaya sap. The purposed of this studi was to find out the effect of papain from papaya sap to granulation tissue formation on burn wounds healing in rat models. This was experimental research with posttest only control group design. The subjects were ten male Wistar rats divided in to two group (control group K and experimental group P). Every group consist of five rats. Heated metal plat (1,5 cm x 1,5 cm) used to get full thickness burn wound on dorsal rat part. Then, papain of papaya sap was given to group P for seven days. The results showed that papain of papaya sap didn’t have significant effect (p > 0,05) to granulation tissue formation in burn wound healing of rat models. In group P, the research found the vascular 29,26 ± 12,24, fibroblast 26,40 ± 21,94, neutrophil 1,4 ± 0,44, lymphocyte 1,06 ± 0,13, and macrophag 1,00 ± 0,00. The conclusion of this research is that papain of papaya sap didn’t have the significant effect to granulation tissue formation in burn wound healing of rat models.Keywords:papain, granulation tissue, burn, wound healin

    1,096

    full texts

    1,143

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇