Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Diagnosis dan Penatalaksanaan Tumor Ganas Laring
Abstrak Laring berperan dalam koordinasi fungsi saluran aerodigestif atas seperti bernafas, berbicara dan menelan.Laring terbagi tiga yaitu supraglotis, glotis dan subglotis. Laring merupakan daerah tersering kedua untuk kasuskarsinoma sel skuamosa kepala-leher, biasanya berhubungan dengan tembakau dan alkohol. Lebih dari 95% kasustumor ganas laring adalah karsinoma sel skuamosa. Pasien tumor ganas laring datang dengan berbagai keluhanseperti disfonia, obstruksi jalan napas, disfagia, odinofagi dan hemoptisis. Diagnosis tumor ganas laring ditegakkanberdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis menggunakan endoskopi kaku, serat optik dan biopsi. Penatalaksanaantumor ganas laring tergantung stadium dengan modalitas berupa operasi, kemoterapi, radiasi atau terapi kombinasi.Dilaporkan kasus laki-laki 53 tahun dengan karsinoma glotis stadium III (T3N0M0) squamous cell ca keratinized welldifferentiated. Penatalaksanaan pada pasien ini dengan melakukan laringektomi total.Kata kunci: Tumor ganas laring, karsinoma, laringektomi, tembakau Abstract Larynx plays a certain role in coordinating functions of the upper aerodigestive tract, such as respiration,speech, and swallowing. The larynx is divided into three region; supraglottic, glottic, and subglottic. Larynx is thesecond most common site for squamous cell carcinoma in the head and neck and usually related to tobacco andalcohol exposure. Primary malignant tumors of the larynx are squamous cell carcinomas can found more than 95% ofcases. Patients with laryngeal tumors usually present with complaints of hoarseness, respiratory obstruction,dysphagia, odynophagia and hemoptysis. Diagnosis of laryngeal cancer is made by medical history, clinicalexamination using a rigid or fiberoptic endoscope and biopsy. Management of laryngeal tumour depends on stadiumwith various modality included surgery, chemotheraphy, radiotheraphy or combined therapy. Reported case of 53years old male with Glottic carcinoma of the larynx stage III (T3N0M0) squamous cell ca keratinized well differentiatedis presented. The treatment undergoes with total laryngectomy.Keywords: Laryngeal cancer, carcinoma, laryngectomy, tobacc
Peran Asupan Zat Gizi Makronutrien Ibu Hamil terhadap Berat Badan Lahir Bayi di Kota Padang
Abstrak Pertumbuhan dan perkembangan anak ditentukan oleh kondisi janin saat didalam kandungan dan asupan zat gizi makanan ibu selama kehamilan. Ibu dengan asupan makanan kurang saat hamil akan mengalami gangguan pertumbuhan dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui peran asupan zat gizi makronutrien ibu hamil terhadap berat badan lahir bayi. Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan rancangan case control. Subjek kasus yaitu 19 orang ibu bersalin aterm dengan bayi BBLR, dan subjek kontrol 21 orang ibu bersalin dengan bayi berat badan lahir normal di RSUD Rasidin dan RST Reksodiwiryo Kota Padang yang memenuhi kriteria inklusi, dengan teknik consecutive sampling. Analisis menggunakan uji chi square dengan derajat kepercayaan 95% (α = 0,05). Asupan zat gizi makronutrien merupakan faktor risiko terjadinya BBLR.Asupan energi kurang memiliki 76 kali risiko untuk terjadinya BBLR (p=0,01), asupan protein kurang memiliki risiko 8 kali untuk terjadinya BBLR (p= 0,02), asupan konsumsi lemak kurang memiliki risiko 7 kali untuk terjadinya BBLR (p=0,01) dan asupan konsumsi karbohidrat kurang memiliki 12 kali risiko untuk melahirkan bayi BBLR (p=0,01). Dapatdisimpulkan bahwa asupan zat gizi makronutrien (Energi, Karbohidrat, Lemak dan Protein) yang kurang memiliki resiko untuk melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah.Kata kunci: asupan makronutrien, ibu hamil, berat badan lahir bayi, BBLR. Abstract Growth and development of children determined by the condition of the fetus in the uterus and maternal dietary intake during pregnancy. Women with low food intake during pregnancy will have babies with impaired growth and Low Birth Weight (LBW). The objective of this study was to know the role of intake macronutrient during pregnancy on birth weight. This study was an observational analytic study with case control design. The subjects were 19 full-term women inpartu with LBW babies and 21 full-term women inpartu with normal birth weight babies in RSU Rasidin andRST Reksodiwiryo Padang, which met the inclusion criteria with a consecutive sampling technique, data were analyzed using chi-square test in 95% confidence level (α = 0.05). Intake of macronutrient is a risk factor of low birth weight. Intake of low energy consumption has 76 times risk for low birth weight (p=0.02), intake of low fat consumption has 7 times risk for low birth weight (0.01) and intake of low carbohydrate hasa 12 times risk for low birth weight (p=0.01). It can be conclude that intake of low macronutrient (energy, carbohydrate, fat and protein) is a risk factor forlow birth weight.Keywords: intake of macronutrient, pregnant, birth weight, low birth weigh
Pengaruh Pemberian Ekstrak Rosella (Hibiscus sabdariffa Linn) Terhadap Kadar Malondialdehid dan Aktivitas Katalase Tikus yang Terpapar Karbon Tetraklorida
Abstrak Pemberian rosella (Hibiscus sabdariffa Linn) diharapkan melindung hepar tikus dari kerusakkan akibat stres oksidatif pada keracunan karbon tetraklorida (CCl 4). Senyawa yang sering dijadikan petunjuk adanya kerusakan tersebut adalah malondialdehid (MDA). Rosella mengandung vitamin C, flavonoid, polifenol dan beta karoten. Tujuanpenelitian ini adalah menentukan pengaruh pemberian ekstrak rosella (Hibiscus sabdariffa Linn) terhadap MDA dan aktivitas katalase tikus yang terpapar CCl 4. Ini adalah penelitian eksperimental dengan desain Post test Only Control Group Design. Sampel 24 ekor tikus Strain Wistar berumur 2-3 bulan, berat 150-200 gr. Sampel diambil secara acakdan dibagi 4 kelompok terdiri dari kelompok kontrol negatif, kontrol positif (CCl 4), perlakuan 1 (CCl 4 dan ekstrak rosella 250 mg/kg bb) dan perlakuan 2 (CCl4 dan ekstrak rosella 500 mg/kg bb). Pemberian CCl 4secara oral dosis tunggal, setelah 24 jam kemudian diberi ekstrak rosella secara oral selama 14 hari. Data dianalisis dengan uji Anova, tingkatkepercayaan 95%.Pemberian ekstrak rosella secara statistik didapatkan perbedaan yang signifikan rerata kadar MDA dan katalase antar kelompok (p < 0,05). Disimpulkan bahwa ekstrak rosella dapat menurunkan kadar MDA dan meningkatkan aktivitas katalase tikus yang terpapar CCl 4. Kata kunci: karbon tetraklorida, MDA, katalase, rosella Abstract Administering roselle (Hibiscus sabdariffa Linn) is expected to protect rat liver from damage caused by oxidative stress in CCl4 poisoning. Rosella contains vitamin C, flavonoids, polyphenol and beta carotene. Compounds which was often used as marker of the damage caused by free radicals wa MDA. The objective of this study was to determine the effect of extracts of roselle (Hibiscus sabdariffa Linn) on MDA and catalase activity of rats exposed to CCl4. Experimental research design with Post test Only Control Group Design. Samples of 24 male Wistar Strain rats were 2-3 months old. weighing 150-200 gr. Samples were taken at random and divided into 4 groups consisting of a negative control group, positive control (CCl4), treatment 1 (CCl4 and roselle extract 250 mg / kg bw) and treatment 2 (CCl4 and roselle extract 500 mg / kg bw). CCl4 was given a single dose orally, after 24 hours, the subjects were given rosella extract orally for 14 days. Data were analyzed by ANOVA with a confidence level of 95%. Rosella extract obtained statistically significant differences of MDA and catalase levels among groups (p <0.05). It can be concluded that the rosella extract can reduce levels of MDA and increase the activity of catalase mice exposed to CCl4. From the research it can be concluded that the rosella extract can reduce levels of MDA and increas the activity of catalase mice exposed to CCl4. It is needed further research on the toxicity of extracts of rosella and organ damage caused.Keywords: carbon tetrachloride, MDA, catalase, rosell
Pengaruh Media Promosi Kesehatan tentang ASI Eksklusif terhadap Peningkatan Pengetahuan Ibu di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk Begalung Padang Tahun 2014
AbstrakUpaya meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif sudah banyak dilakukan, diantaranya dalam bentuk promosi kesehatan. Namun demikian hingga saat ini kegiatan tersebut belum menunjukkan hasil yang optimal terutama dalam hal penggunaan media. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh media promosi kesehatan terhadap peningkatan pengetahuan menggunakan media leaflet dan media film. Ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi-experimental) dengan rancangan pretest-posttest group design. Dilaksanakan di wilayah kerja puskesmas Lubuk Begalung Padang tahun 2014. Subjek penelitian adalah ibu hamil sebanyak 42 orang yang dipilih dengan cara simple random sampling. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, kelompok pertama menggunakan media leaflet dan kelompok kedua dengan media film. Data dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed Rank Test untuk mengetahui perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah promosi kesehatan dan uji Mann-Whitney membandingkan kedua media promosi kesehatan. Rata-rata pengetahuan responden sebelum diberikan promosi kesehatan dengan media leaflet 8,71 dan setelahnya 11,52. Pada media film sebelum diberikan promosi kesehatan 7,90 dan setelahnya 13,19. Selisih nilai pengetahuan responden dengan media leaflet 2,81 dan media film 5,29. Ada peningkatan pengetahuan ibu sebelum dan sesudah diberi promosi kesehatan dengan media leaflet dan media film. Media film lebih efektif meningkatkan pengetahuan dibanding dengan media leaflet.Kata kunci: ASI eksklusif, leaflet, filmAbstractVarious attempts have been taken to improve the granting of exclusive breastfeeding, one of them is health promotion. Nonetheless, the health promotion has not shown the optimal result especially on the use of media. The objective of this study was to determine the effect of health promotion regarding exclusive breastfeeding on the knowledge improvement of pregnant mothers either by using leaflet or film media. This was a quasi-experimental study with pretest-posttest group design. This study was conducted in the area of Lubuk Begalung health center Padang in 2014. The subjects were 42 pregnant women, choosen by using simple random sampling. The subject were divided into two categories. The first category was given a health promotion by using leaflet as the media and the second category was given by using film as the media. The data analyzed by using Wilcoxon Signed Rank Test to compare the knowledge of respondent before and after being given promotion and Mann-Whitney test to compare both of media. The average of respondent knowledge before being given health promotion by using leaflet was 8.71 and after being given health promotion was 11.52. In media film, the average of knowledge before was 7.90 and after was 13.19. The deviation of knowledge value of leaflet was 2.81 and film was 5.29. There is a significant knowledge improvement before and after being given the health promotion either by leaflet or film. Film is more effective in improving the knowledge of pregnant mothers compare than leaflet.Keywords:Exclusive Breastfeeding, leaflet, fil
Hubungan Status Gizi Bayi dengan Pemberian ASI Ekslusif, Tingkat Pendidikan Ibu dan Status Ekonomi Keluarga di Wilayah Kerja Puskesmas Padang Pasir
AbstrakStatus gizi merupakan salah satu tolak ukur untuk menilai perkembangan kesehatan bayi. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi status gizi seorang bayi, diantaranya pemberian ASI ekslusif, tingkat pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan antara status gizi bayi dengan pemberian ASI ekslusif, tingkat pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga. Telah dilakukan penelitian Cross Sectional Analytic di wilayah kerja Puskesmas Padang Pasir. Data diambil melalui pengukuran langsung berat badan/tinggi badan dan wawancara dengan kuesioner terhadap 107 responden, kemudian dianalisis dengan uji chi square. Hasil penelitian terhadap 107 bayi didapatkan sebanyak 82,2% bayi berstatus gizi normal dan hanya 18,7% bayi yang diberi ASI ekslusif, sedangkan terhadap ibu diperoleh data: 76,6% berpendidikan tinggi dan 80,4% merupakan keluarga tidak miskin. Bayi yang mendapat ASI ekslusif 80% berstatus gizi normal. Menurut tingkat pendidikan ibu, didapatkan 82,9% bayi berstatus gizi normal memiliki ibu berpendidikan tinggi. Sedangkan menurut status ekonomi keluarga, bayi yang berada pada keluarga tidak miskin sebanyak 83,7% berstatus gizi normal.Kata kunci: status gizi, ASI ekslusif, tingkat pendidikan ibu, status ekonomi keluargaAbstractNutritional status is one yardstick for assessing health an infant development. There are many factors that can influence the nutritional status of infant, which are exclusive breastfeeding, mother educational status, and economic status of family. This research aimed to determine the relationship between infant nutritional status exclusive breastfeeding, mother educational status, and economic status of family. The research has been conducted about the relationship between infant nutritional status with exclusive breastfeeding, mother educational status, and economic status of family in working area of Padang Pasir Health Care. Data were taken by measurement directly for weight/height and interviewed with questionnaire to 107 respondents. Data were analyzed by using chi square. The result showed that 82,2% infant have normal status of nutrition and only 18,7% of infants who were given exclusive breastfeeding. While the result of research on the mother of respondents, then obtained a total of 76,6% highly educated and 80,4% constituting the family not be poor. Nutritional status of an infant who gets exclusive breastfeeding, 80% has normal nutrition status. According to the level of education mother, infant who possess the mother with the level of higher education, 82,9% the status is normal nutrition. And according to the economy of a family, an infant from familiy that were not poor 83,7% the status is normal nutrition.Keywords: nutritional status, exclusive breastfeeding, mother educational status, economic status of famil
Karakteristik Pasien Hipertensi di Bangsal Rawat Inap SMF Penyakit Dalam RSUP DR. M. Djamil Padang Tahun 2013
AbstrakHipertensi merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah kesehatan di Indonesia. Sekitar 95% hipertensi adalah hipertensi primer dan 5% adalah hipertensi sekunder. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pasien hipertensi di bangsal rawat inap SMF penyakit dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2013. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan observasional. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medik periode 1 Januari sampai31 Desember 2013. Pengambilan sampel dilakukan dengan total sampling dan didapatkan 143 sampel. Dari hasil penelitian, didapatkan 97.9% adalah pasien hipertensi primer dan sisanya hipertensi sekunder. Persentase kelompok usia ≥ 60 tahun didapatkan paling banyak, yaitu 37.1%. Dari jenis kelamin, wanita lebih banyak dari pria, yaitu 64.3%.59.4% hipertensi adalah derajat II dan sisanya hipertensi derajat I. Amlodipin merupakan obat antihipertensi yang sering digunakan dengan persentase 31.6%. Gagal jantung merupakan komplikasi yang paling sering didapat dengan persentase 36,1%. Kesimpulan penelitian ini adalah sebagian besar pasien hipertensi adalah hipertensi primer, kelompok terbanyak usia ≥ 60 tahun, wanitalebih banyak daripada pria, hipertensi derajat II lebih banyak, amlodipin paling banyak digunakan, dan gagal jantung merupakan komplikasi yang paling seringKata kunci: hipertensi, karakteristik hipertensi, gagal jantungAbstractHypertension is one of the non-communicable disease that grow health problems in Indonesia. Approximately 95% of hypertension is essential hypertension and 5% is secondary hypertension. The objective of this research was to investigate characteristic of hypertensive patient in hospitalization ward functional medical staff internal medicine department of RSUP Dr. M. Djamil Padang in 2013. The research methods used was descriptive with observational approach. Sample collection was conducted by using secondary data from medical records period January 1st until December 31th, 2013. Sampling was conducted with a total sampling and obtained 143 samples.From the research, obtained that 97.9%is patient with primary hypertension and the rest is secondary hypertension. The percentage of the agegroup ≥ 60 years is earned the most,that is 37.1%. By gender, women is more than men is 64.3%. 59.4% hypertension is stage II and the rest is stage I hypertension. Amlodipine is antihypertensive drugs that often used with a percentage of 31.6%. Heart failure is a complication that is the most often obtained with a percentage of 36.1%.The conclusion of this research is majority of hypertensive patients is primary hypertension, group age ≥ 60 years is the most, women is more than man, more stage II hypertension, amlodipin is the most used, and heart failure is he most often complication.Keywords: hypertension, characteristic of hypertension, heart failur
Pengaruh Hiperglikemia terhadap Gambaran Histopatologis Glomerulus Mencit (Mus musculus Linn) yang Diinduksi Aloksan
AbstrakHiperglikemia menjadi ancaman serius karena berdampak buruk terhadap keluaran klinis karena dapat menyebabkan gangguan fungsi imun serta lebih rentan terkena infeksi, perburukan sistem kardiovaskuler, trombosis, peningkatan inflamasi, disfungsi endotel dan kerusakan otak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh hiperglikemia terhadap gambaran histopatologis glomerulus ginjal pada mencit yang diinduksi aloksan. Ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan posttest only with control group. Subjek penelitian adalah 12 mencit yang dibagi dalam dua kelompok: kontrol (K) dan perlakuan (P). Kelompok perlakuan diinduksi menjadi hiperglikemia melalui pemberian aloksan intraperitoneal dengan dosis 150 mg/Kg BB. Pada hari ke-14 dilakukan terminasi. Diameter, keliling dan luas glomerulus pada kelompok perlakuan (P1) meningkat dibanding kelompok kontrol K (p< 0,05). Kesimpulan hasil penelitian ini adalah induksi hiperglikemia yang dilakukan lewat pemberian aloksan secara intraperitoneal dengan dosis 150 mg/kg BB selama 14 hari menyebabkan perubahan yang signifikan pada gambaran histopatologis glomerulus mencit.Kata kunci: hiperglikemia, glomerulus, gambaran histopatologisAbstractHyperglycemia become a serious health threat because have the bad impact to clinical output because immune functin disruption and more susceptible get infection, decay of cardiovascular systim, thrombosis, increase of inflamation, endotel disfunction dan decay of brain. The objective of this study was to determine the effect of hyperglycemia on histopathological features of glomerulus of mice induced by alloxan. Twelve (12) male mice divided into two groups: control group (K) and treated group (P). The treated groups received 150 mg/ kg BB doses of alloxan. After 14 days of induction, mice kidney were excised and fixed in Formalin solution. The tissues were processed by paraffin embedding to obtain histopathological sections and stained with haematoxylin-eosine. Morphometric analysis of glomerulus showed that the glomerulus area, circumference and diameter were increased in group P (p<0.05).The result suggest that hyperglycemia induced by alloxan for 14 days caused significant changes in histopathological features of mice glomerulus.Keywords: hyperglycemia, glomerulus, histopathologic feature
Hubungan Hiperglikemia dengan Prothrombin Time pada Mencit (Mus musculus) yang Diinduksi Aloksan
AbstrakDiabetes mellitus mempunyai dua macam komplikasi yaitu komplikasi akut dan kronik. Komplikasi kronik DM (mikroangiopati dan makroangiopati) terjadi akibat disfungsi endotel yang disebabkan oleh berbagai proses pathogenesis yaitu hiperglikemia, stres oksidatif, peningkatan jumlah asam lemak bebas, Protein Kinase C β dan defek sekresi insulin. Kerusakan pembuluh darah (disfungsi endotel) tersebut dapat dideteksi melalui pemeriksaan activated partial prothrombin time (APTT) dan prothrombin time (PT) yang berperan dalam mekanisme homeostasis padatubuh.Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat hubungan hiperglikemia dengan prothrombin time pada mencit putih (Musmusculus) yang diinduksi aloksan. Desain penelitian ini adalah post test only control group design yang dilaksanakan dari Oktober 2013 hingga Februari 2014 di Laboratorium Sentral RS. Dr. M. Djamil Padang. Subjek penelitian adalah mencit putih (Musmusculus) yang telah memenuhi criteria inklusi dan eksklusi, kemudian dibagi menjadi kelompok hiperglikemia (diinjeksikan aloksan) dan kelompok kontrol. Setelah adaptasi selama tujuh hari, dilakukan injeksi aloksan serta pemeriksaan glukosa darah dan berat badan tiap empat hari sekali. Pada hari ke 30 dilakukan terminasi untuk mengukur PT mencit. Hasil menunjukkan terdapat pemendekan PT pada kedua kelompok penelitian dengan rerata PT kelompok control adalah 7,96 detik dan kelompok hiperglikemia adalah 8,12 detik. Hasil pengukuran tersebut menunjukkan tidak terdapat hubungan antara hiperglikemia dan prothrombin time (p > 0,05).Kata kunci: hiperglikemia, diabetes mellitus, prothrombin time, aloksan.AbstractDiabetes mellitus have two complication, they are acute and chronic complication. Chronic complication of DM (microangiopathy and macroangiopathy) accured because endotel dysfunction which caused by various pathogenesis, such as hyperglycemia, oxydative stress, upregulation of free fatty acid, Protein Kinase C β and insulin secretion defect. Endothelial disfungtion can be detected by activated partial thromboplastin time (APTT) and prothrombin time (PT). The objective of this studi was to determine the correlation between hyperglycemia and prothrombin time in mice (Mus musculus) induced with aloxan. The design of this research was a post test only control group design conducted in October 2013 until February 2014 in Central Laboratory RS Dr. M. Djamil Padang. The subject were white mice (Mus musculus) who have met the inclusion and exclusion criteria. The subject were divided as hyperglycemia group (induced with aloxan) and control group. After seven days of adaptation, the aloxan was injected and measurenment of blood glucose and body weight had been done, one time in every four days. Then in day 30th the termination of mice had been done to meassure the prothrombin time. The result showed the prothrombin time between group was shortened with the average prothrombin time of the control group was 7,96 second and the hiperglicemia group was 8,12 second. The result showing no correlation between hyperglycemia and prothrombin time with the degree of signification is (p) 0,7 (p > 0,05).Keywords: hyperglycemia, diabetes mellitus, prothrombin time
Efek Suplemen Bawang Putih terhadap Kadar Kolesterol dan Trigliserida pada Tikus Wistar yang Diberi Diet Tinggi Minyak Sawit
AbstrakMinyak kelapa sawit banyak mengandung asam lemak jenuh yang diduga dapat menyebabkan kolesterol dan trigliserida meningkat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efek suplemen bawang putih terhadap kadar kolesterol dan trigliserida tikus galur wistar yang diberi diet tinggi minyak sawit. Ini merupakan penelitian eksperimental dengan randomized post test control group design. Subjek penelitian adalah 15 ekor tikus Wistar jantan yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu kelompok diet standar ad libitum, kelompok diet tinggi minyak sawit dan kelompok perlakuan (diet tinggi minyak sawit+suplemen bawang putih). Masing-masing kelompok terdiri dari lima ekor tikus. Pemberian minyak sawit dengan kadar 3 ml/15 gram pakan standar diberikan kepada kelompok diet tinggi minyak sawit dan kelompok perlakuan selama empat minggu. Pemberian suplemen bawang putih (dosis 3,6 mg/200 mgBB tikus) diberikan kepada kelompok perlakuan selama empat minggu. Kadar kolesterol pada kelompok diet tinggi minyak sawit adalah 109 ± 2,76 mg/dl dan pada kelompok perlakuan adalah 107 ± 3,09 mg/dl. Kadar trigliserida pada kelompok diet tinggi minyak sawit adalah 84 ± 4,27 mg/dl, pada kelompok perlakuan adalah 83 ± 6,02 mg/dl. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna kadar kolesterol dan trigliserida antara kelompok diet tinggi minyak sawit dengan kelompok perlakuan. Pada kelompok diet standar ad libitum dengan kelompok diet tinggi minyak sawit maupun antara kelompok diet standar ad libitum dengan kelompok perlakuan terdapat perbedaan yang bermakna pada kadar kolesterol dan trigliserida.Kata kunci: minyak sawit, suplemen bawang putih, kolesterol, trigliseridaAbstractPalm oil contains a lot of saturated fatty acids and it is supposed to cause increased cholesterol and triglyceride levels. The objective of this study was to determine the effect of garlic supplements on cholesterol levels and triglyceride at wistar strain rats which were fed in high diet palm oil. This study is a randomized experimental study with post-test control group design. The subjects were 15 male wistar rats were divided into three groups, standard ad libitum diet group, high diet palm oil group and the treatment group (high diet palm oil+ garlic supplement). Each group consists of five rats. Provision of palm oil with high levels of standard 3 ml/15 grams of feeding given to the high diet palm oil group and the treatment group during the four weeks. Garlic supplement (dose 3.6 mg/200 mgweight rat) was given to the treatment group for four weeks. Cholesterol levels in the high diet palm oil group was 109 ± 2,76 mg/dl in the treatment group was 107 ± 3,09 mg/dl. The levels of triglycerides in the high diet palm oil group was 84 ± 4,27 mg/dl and in the treatment group was 83 ± 6,02 mg/dl. There was no significant difference the levels of cholesterol and triglycerides between the high diet palm oil group with the treatment group. Between the standard ad libitum diet group with the high diet palm oil group and between the standard ad libitum diet group with the treatment group show there were significant differences in the levels of cholesterol and triglycerides.Keywords: palm oil, garlic supplement, cholesterol, triglycerid
Faktor Risiko Terjadinya Ulkus Diabetikum pada Pasien Diabetes Mellitus yang Dirawat Jalan dan Inap di RSUP Dr. M. Djamil dan RSI Ibnu Sina Padang
AbstrakUlkus diabetikum adalah keadaan ditemukannya infeksi, tukak dan atau destruksi ke jaringan kulit yang paling dalam di kaki pada pasien Diabetes Mellitus (DM) akibat abnormalitas saraf dan gangguan pembuluh darah arteri perifer. Ulkus diabetikum dapat dicegah dengan melakukan intervensi sederhana sehingga kejadian angka amputasi dapat diturunkan hingga 80%. Amputasi memberikan pengaruh besar terhadap seorang individu, tidak hanya dari segi kosmetik tapi juga kehilangan produktivitas, meningkatkan ketergantungan terhadap orang lain serta biaya mahal yang dikeluarkan untuk penyembuhan. Penelitian ini memberikan pengetahuan tentang faktor risiko terjadinya ulkus diabetikum agar angka mortalitas dan morbiditas dapat di kurangi. Jenis penelitian ini adalah retrospektif observasional dengan mengumpulkan data menggunakan wawancara, kuisoner, dan pemeriksaan fisik pada pasien diabetes mellitus yang di rawat jalan dan inap di RSUP DR. M. Djamil dan RSI Ibnu Sina Padang periode Januari-Maret 2014. Analisis data terhadap 6 variabel di dapatkan Jenis kelamin (p =0,595; OR=0,654) lama DM (p=1,000; OR = 1,158), neuropati (p=0,411; OR=1,833), PAD (p=0,004; OR), trauma (p=0, 02; OR= 4), dan perawatan kaki (p=1,000; OR=1,158). Berdasarkan uji statistik Chi-Square didapatkan 2 variabel yang memiliki hubungan bermakna dengan kejadian ulkus diabetikum yaitu PAD dan trauma. Sedangkan, hasil uji statistik regresi logistik ganda menyatakan bahwa lama DM, neuropati, PAD, riwayat trauma, dan perawatn kaki merupakan faktor risiko terjadinya ulkus diabetikum. PAD dan trauma adalah faktor yang paling berpengaruh.Kata kunci: faktor risiko, DM, ulkus diabetikumAbstractDiabetic foot ulcer is defined as the presence of infection, ulceration and/or destruction of deep tissues associated with neurologic abnormalities and various degrees of peripheral arterial disease (PAD) in the lower limb on patients with diabetes. Foot ulceration is preventable, and relatively simple interventions can reduce amputations by up to 80%. Amputation has a major impact on individual, not only in distorting body image, but also loss of productivity, increasing dependency, and expensive cost of treating foot ulcer. This study provides knowledge about risk factors for diabetic ulcers that mortality and morbidity can be reduced. This research is an observational retrospective by collecting data using interviews, questionnaires, and physical examination in patients with diabetes mellitus in outpatient and inpatient department of DR. M. Djamil and RSI Ibnu Sina Padang from January until March 2014. The result from the analyze data from 6 variable known gender (p =0,595; OR=0,654), duration of DM (p=1,000; OR = 1,158), neuropathy (p=0,411; OR=1,833), PAD (p=0,004; OR= 5,5), trauma (p=0,02; OR= 4), and foot care (p=1,000; OR=1,158). Based on Chi-Square test statistic obtained two variables that have a significant relationship with the occurrence of diabetic ulcers is PAD and trauma. Meanwhile, the results of multiple logistic regression statistical tests that the old DM, neuropathy, PAD, history of trauma, and foot care a risk factor for diabetic ulcers. PAD and trauma are the most influential.Keywords: risk factor, DM, diabetic foot ulce