Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
    1143 research outputs found

    Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Ketahanan Kardiorespirasi, Kekuatan dan Ketahanan Otot dan Fleksibilitas pada Mahasiswa Laki-Laki Jurusan Pendidikan Dokter Universitas Andalas Angkatan 2013

    Get PDF
    AbstrakKomponen kebugaran jasmani yang berhubungan dengan kesahatan adalah ketahanan kardiorespirasi, komposisi tubuh yang dinilai dengan Indek Massa Tubuh (IMT), kekuatan dan ketahanan otot dan fleksibilitas. Kebugaran jasmani bersifat individual. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan ketahanan kardiorespirasi, kekuatan dan ketahanan otot, dan fleksibilitas. Penelitian dilakukan pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang pada bulan Nopember - Desember 2013. Penelitian ini merupakan studi observasional analitik menggunakan desain cross sectional study dengan jumlah 72 orang. Ketahanan kardiorespirasi didapat dengan menghitung nilai VO2maks menggunakan tes ergometer sepeda metode Astrand 6 minute cycle test. Dilakukan pengukuran berat badan dan tinggi badan. Kekuatan otot dinilai dengan hand dynamometer dan back strength dynamometer, ketahanan otot dinilai dengan bent leg sit-up dan fleksibilitas dinilai dengan sit and reach test, trunk extension, dan shoulder lift. Hasil pengukuran rerata IMT 22,08 ± 4,55, VO2maks 35,27 ± 2,25, grip strength kanan 32,44 ± 7,04, grip strength kiri 30,31 ± 7,2, back strength 100,9 ± 19,43, bent leg sit-up 29,29 ± 8,43 dalam 1 menit, sit and reach test 4,61 ± 2,61, trunk extension 29,21 ± 10,01, dan shoulder lift 38,06 ± 9,5.Kata kunci: BMI, VO2 maks, IMT, kekuatan dan ketahanan otot, fleksibilitasAbstractThe component of physical fitness which related to health are cardiorespiratory endurance, body composition (Body Mass Index/BMI), muscle strength and endurance, and flexibility. The objective of this research was to determine the relationship between BMI with cardiorespiratory endurance, muscle strength and endurance, and flexibility. This research has been done on male students of Medical Faculty of Andalas University on November – January 2013. This was a study observational analitic using design cross sectional study by the number of 72 people. Cardiorespiratory endurance obtained by calculating the value of bycycle ergometer test using VO2maks method astrand 6 minute cycle test, conducted measurement of height and weight, muscle strength is graded with a hand dynamometer and back strength dynamometer, muscle endurance is assessed with the bent leg sit-up, and flexibility with the sit and reach test, trunk extension, and shoulder lift. Data were analyzed by using SPSS. The result showed average body mass index 22,08 ± 4,55, VO2 max 35,27 ±2,25, right grip strength 32,44 ±7,04, left grip strength 30,31 ± 7,2, back strength 100,9 ±19,43, bent leg sit-up 29,29 ±8,43 in one minute, sit and reach test 4,61 ± 2,61, trunk extension 29,21 ±10,01, and shoulder lift 38,06 ±9,5.Keywords: BMI, VO2 maks, muscle strength and endurance, flexibility

    Hubungan Lingkungan Fisik dan Tindakan Penduduk dengan Kejadian ISPA pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Lubuk

    Get PDF
    AbstrakAngka kematian akibat infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di negara berkembang sebanyak 20% dimana 1/3 - 1/2 merupakan kematian pada balita. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lingkungan fisik berupa ventilasi, pencahayaan alami, kelembaban rumah, kepadatan hunian rumah dan tindakan penduduk yang meliputi kebiasaan merokok dalam rumah, kebiasaan buka jendela dan penggunaan bahan bakar rumah tangga dengan kejadian ISPA pada balita. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain cross sectional, yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Lubuk Buaya Padang pada bulan Desember 2013 dengan jumlah sampel 106 ibu yang mempunyai balita. Sampel diambil secara simple random sampling. Pengumpulan data dari responden dilakukan menggunakan kuesioner dan lembaran observasi. Analisis data menggunakan uji chi square dengan p<0.05 dan 0.0<Cc<1.00. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang lemah antara ventilasi (p=0.000, Cc=0.359), pencahayaan alami (p=0.001, Cc=0.311), kepadatan hunian (p=0.000, Cc=0.381), kebiasaan merokok di dalam rumah (p=0.002, Cc=0.302), kebiasaan buka jendela (p=0.001, Cc=0.333) dan penggunaan bahan bakar rumah tangga (p=0.027, Cc=0.210) dengan kejadian ISPA pada balita, sedangkan kelembaban rumah tidak ada hubungan dengan kejadian ISPA pada balita.Kata kunci: ISPA balita, lingkungan fisik, tindakan pendudukAbstractThe mortality rate due to Acute Respiratory Infections (ARI) in developing countries is about 20% which is 1/3-1/2 is the death of the children under five years old. The objective of this research was to determined the correlation between the physical environment which include the ventilation, the natural lighting, the house humidity, the density of residential house, and community behavior which include the habitual of smoking at house, the habitual of window open and household fuel use with the incidence of ARI on children under five years old. This research is an analytical study with cross sectional design, which done in work area of Lubuk Buaya community health centers Padang on December 2013 with 106 mothers with children under five years as the sample. Samples are taken by simple random sampling. The collection of data from respondents was conducted using questionnaires and observation sheets. Data analysis using chi square test with p<0.05 and 0.0<Cc<1.00The result showed that there was a weak correlation between ventilation (p=0.000, Cc=0.359), natural lighting (p=0.00 , Cc=0.311), the density of residential house (p=0.000, Cc=0.381), the habitual of smoking at house (p=0.002, Cc=0.302), the habitual of window open (p=0.001, Cc=0.333) and household fuels use (p=0.027, Cc=0.210) with the incidence of ARI in children under five yers old and no correlation between the house humidity with ARI in children under five years old.Keywords: ARI in children under five years old, physical environment, community behavio

    Perbandingan Efektivitas Daya Hambat Kotrimoksazol Generik dan Paten terhadap Pertumbuhan Bakteri Escherichia coli sebagai Penyebab Infeksi Saluran Kemih secara In Vitro

    Get PDF
    AbstrakInfeksi saluran kemih merupakan salah satu infeksi yang sering ditemukan setelah infeksi saluran napas. Penyebab terbanyak infeksi saluran kemih adalah Escherichia coli. Kotrimoksazol merupakan kombinasi dari dua obat yaitu trimetoprim dan sulfametoksazol serta salah satu contoh antibiotik yang merupakan first-line therapy untuk infeksi saluran kemih. Kotrimoksazol terbagi menjadi dua jenis obat yaitu obat generik dan paten. Akan tetapi, belakangan ini penggunaan obat generik mulai menurun di masyarakat dan masyarakat cenderung meragukan kualitasnya. Padahal masyarakat yang akan diuntungkan jika mengetahui mutu obat generik tidak kalah dengan obat paten. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan efektivitas daya hambat kotrimoksazol generik dan paten terhadap pertumbuhan bakteri Escherichia coli sebagai penyebab infeksi saluran kemih secara in vitro. Penelitian ini merupakan penelitian analitik eksperimental dengan desain cross-sectional study. Penelitian ini menggunakan 19 sampel isolat bakteri dari pasien infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh Escherichia coli di RSUP Dr. M. Djamil yang ditentukan rumus minimal adequate sample size menggunakan metode difusi cakram dan dilihat perbandingan antara zona bebas kuman yang dibentuk oleh obat generik dan paten tersebut. Data yang diperoleh akan diolah secara statistik dengan uji hipotesis t-independent test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 17 sampel tidak didapatkan zona bebas kuman baik pada kotrimoksazol generik atau paten. Sedangkan pada 2 sampel lainnya didapatkan zona bebas kuman pada kedua obat kotrimoksazol generik dan paten. Setelah dilakukan analisis statistik menggunakan SPSS dengan uji t-independent test didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara sensitivitas bakteri Escherichia coli penyebab infeksi saluran kemih terhadap kotrimoksazol generik dan paten. Sedangkan resistensi yang terjadi pada 17 sampel lain diduga disebabkan penggunaan antibiotika yang meluas dan tidak tepat baik di rumah sakit maupun di kalangan masyarakat.Kata kunci: Escherichia coli, infeksi saluran kemih, sensitivitas, antibiotika, generik, patenAbstractUrinary tract infection is one of the infections that are often found after a respiratory tract infection. The major cause of urinary tract infections is Escherichia coli. Co-trimoxazole is a combination of two drugs trimethoprim and sulfamethoxazole. Co-trimoxazole is one of the examples of a first - line therapy antibiotic for urinary tract infections. As with other drugs, co-trimoxazole is divided into two types of drugs which are generic and patent drugs. However, recently the use of generic drug in the community began to decrease and people tend to doubt its quality. Whereas it is the community that will be benefited if they found out that the quality of generic drug is not inferior to the patent drug. The aim of this study was to compare the effectiveness of generic and patents co-trimoxazole inhibition on the growth of the bacteria Escherichia coli as a cause of urinary tract infection in in vitro.This study is an analytical experimental with cross-sectional study design. This study used 19 isolated-bacterial from infected-urinary tract patients which were caused by Escherichia coli in Dr. M. Djamil Hospital. These samples specified by minimal adequate sample size and using disc diffusion method. Then they were observed the comparison between germ-free zone established by the generic and the patent drugs. Data obtained will be treated statistically with t-independent hypothesis test.The resultsshowed that 17 samples didn’t have germ-free zone both in generic and patent co-trimoxazole. While two sample others which have germ-free zone were obtained both in generic or patent co-trimoxazole. According to SPSS statistical analysis with t- independent test showed that there was no significant difference between the sensitivity of Escherichia coli as a cause of urinary tract infections to generic and patent co-trimoxazole. Whereas resistance occurred in 17 other samples were suspected to be caused widespread and irrational use of antibiotics both in hospitals and in the community.Keywords: Escherichia coli, urinary tract infections, sensitivity, antibiotic, generic, paten

    Pemilihan, Penyimpanan dan Stabilitas Sampel Toksikologi pada Korban Penyalahgunaan Narkotika

    Get PDF
    AbstrakKasus penyalahgunaan narkotika semakin meningkat. Toksikologi forensik mempelajari tentang ilmu dan aplikasi toksikologi untuk kepentingan hukum. Kerja utama dari toksikologi forensik adalah melakukan analisis kualitatif maupun kuantitatif dari racun. Untuk memperoleh hasil pemeriksaan yang dapat dipertanggung jawabkan, maka syarat-syarat pengambilan, pemilihan, penyimpanan, dan pengiriman sampel toksikologi ke laboratorium harus dipenuhi dan benar-benar diperhatikan. Hal ini penting karena setiap obat memiliki stabilitas yang berbeda-beda sehingga nantinya akan mempengaruhi hasil analisis racun baik pada korban hidup maupun pada jenazah (post mortem).Kata kunci: sampel, penyalahgunaan narkotikaAbstractCases of drug abuse are increasing. Forensic toxicology learn about science and toxicology applications for legal purposes. The main work of forensic toxicology is the qualitative and quantitative analysis of toxins. To obtain the test results that can be reliable, then the terms of the retrieval, selection, storage, and shipment of samples to the toxicology laboratory must be filled and properly addressed. This is important because each drug has a different stability so that will affect the results of the analysis of toxins both in life and on the victim's body (post mortem).Keywords: sample, drug abuse

    Hubungan Infeksi Soil Transmitted Helminth dengan Status Gizi pada Murid SDN 29 Purus Padang

    Get PDF
    AbstrakAnak usia sekolah merupakan golongan yang sering teinfeksi cacing Soil Transmitted Helminth (STH) karena sering berkontak dengan tanah. Infeksi STH dapat menimbulkan kerugian zat gizi, kehilangan darah, serta menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara infeksi soil transmitted helminth dengan status gizi. Penelitian dengan pendekatan cross sectional ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri 29 Purus Padang yang dilaksanakan dari Oktober 2014 sampai dengan Februari 2015. Populasi adalah semua murid SDN 29 Purus dengan jumlah subjek 78 orang. Pengambilan subjek dengan multistage sampling. Instrumen penelitian yaitu pemeriksaan feses dengan metode Kato-Katz dan pengukuran berat badan serta tinggi badan. Metode analisa data adalah Chi square dengan derajat kepercayaan 90%. Hasil penelitian menunjukkan lebih dari separuh (51,3%) murid SDN 29 Purus Padang tahun 2014 menderita infeksi STH dan infeksi campuran A. lumbricoides dan T. trichiura sebanyak 23,1%. Status gizi berdasarkan BB/U sebagian besar (82,1%) memiliki gizi baik, berdasarkan TB/U sebagian besar (71,8%) memiliki tinggi normal dan berdasarkan BB/TB sebagian besar (91%) adalah normal. Murid SDN 29 Purus Padang yang positif terinfeksi STH sebagian besar (87,5%) memiliki gizi baik, sebagian besar (72,5%) memiliki tinggi normal dan sebagian besar (92,5%) memiliki gizi normal. Kesimpulan penelitian ini ialah tidak terdapat hubungan secara statistik antara infeksi STH dengan status gizi (p>0,05).Kata kunci: soil transmitted helminth, status gizi, infeksiAbstractSchool-age children are often exposed to a class of worm Soil Transmitted Helminth (STH) because of frequent contact with the ground. STH infections can lead to loss of nutrients, blood loss and decreased health, so susceptible to disease. The objective of this study was to determine the relationship between soil transmitted helminth infections and nutritional status.This cross sectional study was conducted at the SDN 29 Purus Padang from October 2014 until February 2015. The subjects were 78 students of SDN 29 Purus. Sampling by multistage sampling. The research instrument used was a stool examination with Kato-Katz method and measurements of weight and height. The method of data analysis is Chi-square with degrees of confidence of 90%.The results showed more than half (51.3%) students of SDN 29 Purus Padang 2014 got STH infections and mixed infection of A. lumbricoides and T. trichiura as much as 23.1%. Nutritional status based on W / A majority (82.1%) had good nutrition, based TB / U majority (71.8%) had a normal high and based on W / H majority (91%) were normal. Students of SDN 29 Purus positive Padang infected STH majority (87.5%) had good nutrition, the majority (72.5%) had a normal height and the majority (92.5%) had a normal nutrition. It can be concluded that there is no statistically significant relationship soil transmitted helminth infections and nutritional status (p> 0.05).Keywords: soil transmitted helminth, nutritional status, infection

    Hubungan Faktor Risiko yang dapat Dimodifikasi dengan Kejadian Penyakit Jantung Koroner di RS Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    AbstrakSumatera Barat merupakan provinsi dengan prevalensi penyakit jantung tertinggi ke-4 di Indonesia. Prevalensi penyakit ini meningkat disebabkan karena faktor risiko yang dapat dimodifikasi yaitu dislipidemia, hipertensi, diabetes melitus, merokok, dan obesitas. Faktor risiko tersebut terkait dengan peningkatan kejadian PJK. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan faktor risiko yang dapat dimodifikasi dengan kejadian PJK. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain potong lintang yang dilakukan di RS Dr. M. Djamil Padang dari Desember 2012 sampai Mei 2013. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien PJK yang dirawat inap dan telah dilakukan angiografi pada Januari 2012 sampai Desember 2012 dengan 68 orang sebagai subjek penelitian. Data pasien didapatkan dari rekam medik. Data dideskripsikan dengan tabel dan dianalisis dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan distribusi frekuensi terbanyak pasien PJK terdapat pada kadar kolesterol HDL rendah (64,6%) dan hipertensi (72,5%), namun hasil uji bivariat tidak menunjukkan hubungan yang bermakna antara kadar kolesterol HDL rendah dan hipertensi terhadap kejadian PJK. Kesimpulan hasil penelitian ini ialah kadar kolesterol HDL rendah dan hipertensi belum tentu menyebabkan PJK.Kata kunci: penyakit jantung koroner, faktor risiko, HDLAbstractWest Sumatra is a province with the highest prevalence of heart disease 4th in Indonesia. The prevalence of this disease increases due to modifiable risk factors, namely dyslipidemia, hypertension, diabetes mellitus, smoking, and obesity. The risk factors associate with an increased incidence of Coronary Heart Disease (CHD). The objective of this study was to determine the relationship of modifiable risk factors with CHD events. This study was a cross-sectional analytic design conducted at Hospital Dr. M. Djamil Padang from December 2012 until May 2013. The population in this study were all hospitalized CHD patients and angiography was performed in January 2012 - December 2012 with 68 patients as a research subject. Obtained from the patient's medical record. The data described in tables and analyzed with the chi-squared test. The result showed that the frequency distribution of most CHD patients are at low levels of HDL cholesterol (64.6%) and hypertension (72.5%). Bivariate test results showed no significant association between low HDL cholesterol and hypertension on the incidence of CHD. The conclusion is the low HDL cholesterol levels and hypertension not necessarily lead to CHD.Keywords: coronary heart disease, risk factors, HD

    Identifikasi Bakteri Escherichia Coli pada Air Minum Isi Ulang yang Diproduksi Depot Air Minum Isi Ulang di Kecamatan Padang Selatan

    Get PDF
    AbstrakMenurut Permenkes No. 492 tahun 2010, air minum berkualitas dinilai dari parameter mikrobiologi adalah tidak ditemukannya bakteri total coliform dan Escherichia coli dalam 100 ml sampel. Menurut beberapa penelitian sebelumnya, banyak depot air minum isi ulang yang memproduksi air tidak sesuai dengan persyaratan secara mikrobiologi tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kehadiran bakteri Escherichia coli pada air minum yang diproduksi depot air minum isi ulang di Kecamatan Padang Selatan. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas pada sampel air yang didapat dari 13 depot yang tidak melakukan uji kualitas. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Data diperoleh dengan cara observasi dan wawancara langsung. Penelitian mikrobiologi air menggunakan metode Most Probable Number (MPN) yang terdiri dari presumptive test dengan menggunakan media Lactose Broth (LB) dengan metode 3 tabung, confirmative test dengan menggunakan media Brillian Green Lactose Broth (BGLB), complete test dengan menggunakan media endo agar, dan tes identifikasi dengan menggunakan media uji biokimia. Hasil penelitian didapatkan bahwa 10 dari 13 sampel tercemar oleh bakteri coliform dan 2 sampel memenuhi syarat untuk penelitian selanjutnya secara kualitatif. Pada penelitian lanjutan, tidak ditemukan bakteri Escherichia coli namun ditemukan bakteri Pseudomonas aeruginosa.Kata kunci: escherichia coli, depot air minum isi ulang, MPN AbstractAccording to the Minister Regulation. 492 in 2010, assessed quality of drinking water in microbiological parameters is by the discovery of total coliform bacteria and Escherichia coli in a 100ml sample. According to some previous studies, many drinking water that produced by the depot does not conform to the microbiological requirements The objective of this study was to identify the presence of the Escherichia coli in drinking water produced by refill drinking water depot in the District of South Padang. Research had been carried out in the Laboratory of Microbiology, Faculty of Medicine, University of Andalas in water samples obtained from 13 depots that don’t test the quality. This research was a descriptive. Data obtained by direct observation and interviews. This research used Most Probable Number (MPN) test for the microbiological of the water that consist of presumptive test using Lactose Broth (LB), confirmative test using Brilliant Green Lactose Broth (BGLB), complete test using endo jelly media, and identification test using biochemistry test. The results showed that 10 of 13 samples contaminated by coliform bacteria and 2 samples eligible for further research that show there is a Pseudomonas aeruginosa.Keywords: escherichia coli, refill water depot, MP

    Gambaran Kejadian Persalinan Disfungsional pada Pasien Anemia dalam Kehamilan di RSUP Dr. M. Djamil Periode 2010–2012

    Get PDF
    AbstrakPersalinan disfungsional (distosia akibat kelainan tenaga) merupakan masalah persalinan dunia dan merupakan salah satu indikasi dilakukannya intervensi selama persalinan dengan tingkat kekerapan kejadian sebesar 4-40%. Persalinan disfungsional dapat disebabkan oleh anemia dalam kehamilan. Kekuatan kontraksi uterus atau his ibu hamil dengan anemia kurang dari normal, lemah dan dalam durasi yang pendek sehingga tidak cukup kuat untuk melahirkan janin dan ibu hamil akan cepat lelah, akibatnya persalinan dapat mengalami perlambatan atau terhenti. Semakin berat anemia, semakin berat manifestasi klinis yang muncul. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kejadian persalinan disfungsional pada pasien anemia dalam kehamilan berdasarkan derajat anemia di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan data retrospektif bagian rekam medik RSUP. Dr. M. Djamil Padang periode 2010-2012. Data yang digunakan sebanyak 61 sampel. Hasil penelitian menunjukkan distribusi kejadian persalinan disfungsional paling tinggi pada anemia derajat ringan yaitu sebanyak 4 orang (8,7%), anemia derajat sedang sebanyak 1 orang (8,3%) dan anemia derajat berat 0%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat anemia dalam kehamilan tidak mempengaruhi angka kejadian persalinan disfungsional.Kata kunci: anemia dalam kehamilan, persalinan disfungsional, distosia, ibu hamil AbstractDysfunctional labor (dystocia due to abnormal labor) is a worldwide labor problem and one of the indications for intervention during labor with prevalence rate 4-40%. Dysfunctional labor can be caused by anemia in pregnancy. The strength of uterine contractions or his in pregnant women with anemia is less than normal, weak and short in duration so it is not strong enough to bear the fetus and the pregnant women will get tired, causing a slow or stopped. The more severe anemia, the more severe clinical manifestations appear. The objective of this study was to know the incidence of dysfunctional labor in patients with anemia on pregnancy based on the degree of anemia in Dr. M. Djamil Hospital Padang. This research was a descriptive study using retrospective data from medical record of Dr M. Djamil Hospital Padang on period 2010-2012. The samples used were 61 samples. The results showed the distribution of the high incidence of dysfunctional labor is mild anemia as many as 4 people (8.7%), on moderate anemia is 1 person (8.3%) and there is none on the severe degree (0%). The study shows that the degree of anemia in preganacy doesn’t affect the incidence of dysfunctional labor.Keywords: anemia in pregnancy, dysfunctional labor, dystocia, pregnant woma

    Hubungan Derajat Nyeri Dismenorea terhadap Penggunaan Obat Anti Inflamasi Non Steroid

    Get PDF
    AbstrakDismenorea merupakan penyebab tersering masalah ginekologi pada wanita muda. Nyeri dismenorea membutuhkan penjabaran derajat nyeri yang cermat guna pemilihan terapi yang sesuai. Terapi yang paling banyak dipilih untuk mengatasi dismenorea adalah Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS). Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai hubungan antara derajat nyeri dismenorea dan penggunaan OAINS. Desain penelitian menggunakan cross-sectional study dengan populasi adalah mahasiswi preklinik pendidikan dokter Universitas Andalas angkatan 2010-2012 sejumlah 555 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling sehingga subjek merupakan seluruh populasi yang sudah memenuhi kriteria inklusi. Instrument dalam penelitian ini ialah kuisioner. Data dianalisis dengan uji korelasi spearman rank dengan r < 0,05 untuk signifikansi. Hasil analisis univariat menunjukkan derajat intensistas nyeri yaitu 84 responden (27,3%) nyeri ringan, 189 responden (61,4%) nyeri sedang dan 35 responden (11,4%) nyeri berat. 70 responden (22,7%) memilih terapi OAINS. Hasil analisis bivariat menunjukkan nilai korelasi spearman rank 0,280 yang berarti adanya korelasi yang cukup antara derajat nyeri dismenorea dengan penggunaan OAINS.Kata kunci: dismenorea, derajat nyeri dismenorea, OAINS. AbstractDysmenorrhea is the common cause of gynecological problems in young women. The pain caused by dysmenorrhea requires a careful elaboration of the pain intensity level in order to choose the appropriate therapy. The most chosen therapy is Non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs). The objective of this study was to assess the correlation between the pain intensity level of dysmenorrhea with the use of NSAIDs. This was a cross-sectional study with the population of 555 preclinical medical students in Medical Faculty of Andalas University class 2010-2012. The sampling technique was total population sampling with fulfilled inclusion criteria. The instrument in this study was a questionnaire. Data were analyzed with Spearman rank correlation test with r < 0.05 for significance. The result of univariate analysis showed that the pain intensity level of dysmenorrhea was mild in 84 respondents (27.3%), moderate in 189 respondents (61.4%) and severe in 35 respondents (11.4%). 70 respondents (22.7%) chose NSAIDs as the therapy. The result of bivariate analysis showed that the value of spearman correlation was 0.280 meaning that there was a quite correlation between pain intensity level of dysmenorrhea and the use of NSAIDs.Keywords: dysmenorrhea, the pain intensity level of dysmenorrhea, NSAID

    Hubungan Faktor Risiko dengan Kejadian Pre-Eklampsia Berat di RSUP Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    AbstrakPre-eklampsia Berat (PEB) masih merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas ibu apabila tidak ditangani secara adekuat. Ada banyak hal yang mempengaruhi terjadinya PEB, beberapa diantaranya adalah usia ibu, paritas, usia kehamilan, jumlah janin, jumlah kunjungan ANC, dan riwayat hipertensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara faktor risiko dengan pre-eklampsia berat di RSUP Dr. M. Djamil Padang.Penelitian ini menggunakan rancangan case-control study dengan metode analitik observasional. Pengumpulan data dilakukan pada Januari 2013 dengan menggunakan data sekunder, yakni data rekam medik ibu melahirkan dengan pre-eklampsia berat dan tanpa pre-eklampsia di bagian obstetrik dan ginekologi RSUP Dr. M. Djamil, periode 1 Januari 2010 – 31 Desember 2011. Dari 148 data sampel didapatkan angka distribusi pada variabel riwayat hipertensi yang hanya didapatkan pada ibu dengan PEB. Hasil analisis bivariat dengan menggunakan uji chi-square diperoleh hasil tidak terdapat hubungan signifikan antara faktor risiko (usia ibu, paritas, usia kehamilan, jumlah janin, jumlah kunjungan ANC) dengan masing-masing nilai p > 0,05. Analisis multivariat dengan menggunakan uji regresi logistik didapatkan bahwa usia ibu > 35 tahun merupakan faktor risiko terhadap kejadian PEB dengan nilai p = 0,034. Jadi, usia ibu > 35 tahun dan riwayat hipertensi memiliki hubungan terhadap kejadian pre-eklampsia berat.Kata kunci: pre-eklampsia berat, faktor risiko, hipertensi AbstractSevere Pre-eclampsia is one of the contributors of maternal morbidity and mortality if not getting an adequate treatment. There are many things that affect it, such as maternal age, parity, gestational age, number of fetuses, the number of ANC visits, and history of hypertension. The objective of this study was to determine relationship between the risk factors and the incidence of severe pre-eclampsia The design of this research is case-control study with observational analytic methods. The data was collected in January 2013 by using secondary data, maternal medical record data with severe pre-eclampsia and without pre-eclampsia of the obstetrics and gynecology department Dr. M. Djamil, period 1 January 2010-31 December 2011. From 148 samples obtained figures the variable history of hypertension which is only found in women with severe pre-eclampsia. The results of the bivariate analysis using chi square test results obtained there was no significant relationship between risk factors (maternal age, parity, gestational age, number of fetuses, the number of ANC visits) with each p value > 0.05. While the results of the multivariate analysis using logistic regression found that maternal age> 35 years was a risk factor for the incidence of severe pre-eclampsia with p = 0.034. Maternal age > 35 years and history of hypertension had a relationship to the incidence of severe pre-eclampsia. Keywords: severe pre-eclampsia, risk factor, hypertensio

    1,096

    full texts

    1,143

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇