Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Hubungan Status Gravida dan Usia Ibu terhadap Kejadian Preeklampsia di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2012-2013
AbstrakPreeklampsia merupakan penyakit dengan angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Penyebab pasti terjadinya preeklampsia belum diketahui, namun terdapat faktor risiko yang mempengaruhi kejadian preeklampsia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan status gravida dan usia ibu terhadap kejadian preeklampsia di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2012-2013. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2014 sampai Februari 2014 di bagian Rekam Medis dengan menggunakan desain cross sectional study komparatif terhadap 81 pasien preeklampsia dan 81 ibu hamil tidak preeklampsia yang bersalin di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada tahun 2012-2013. Hasil penelitian menunjukkan proporsi primigravida yang menderita preeklampsia 1,52 kali lebih banyak daripada primigravida yang tidak preeklampsia. Proporsi ibu yang berusia dalam kategori usia risiko tinggi (< 20 tahun dan > 35 tahun) dan menderita preeklampsia 4,43 kali lebih banyak daripada yang tidak menderita preeklampsia. Setelah dilakukan analisis melalui uji chi square, disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara status gravida dan usia ibu dengan kejadian preeklampsia (p < 0,05).Kata kunci: preeklampsia, status gravida, usia ibuAbstractPreeklampsia is a disease with high morbidity and mortality. The exact cause of preeklampsia still unknown, but there are risk factors that affect the preeklampsia’s incident. The objective of this study was to determine the correlation between gravidity and maternal age with preeklampsia’s incident in RSUP Dr. M. Djamil Padang on 2012 – 2013.The research was did in January 2014 to February 2014 at Medical Records department using cross sectional study comparative’s design toward 81 preeclamptic patients and 81 pregnant women who didn’t preeklampsia, which gave birth in RSUP Dr. M. Djamil Padang on 2012 - 2013. The results showed that the proportion of primigravidae who suffer from preeklampsia is 1.52 times more than primigravidae who do not. Proportion of mother who is in the age category of high risk (< 20 years and > 35 years) and suffer from preeklampsia is 4.43 times more than who don’t .After analyzed by chi square test, it is concluded that there are significant correlation between gravidity and maternal age with preeklampsia’s incident in RSUP Dr. M. Djamil Padang on 2012 – 2013 (p < 0.05). Keywords: preeklampsia, gravidity, maternal ag
Profil Pasien Pneumonia Komunitas di Bagian Anak RSUP DR. M. Djamil Padang Sumatera Barat
AbstrakPneumonia adalah proses inflamasi pada parenkim paru dan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak berusia di bawah lima tahun, terutama di negara berkembang. Prevalensi kejadian pneumonia komunitas pada anak di Sumatera Barat cukup tinggi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui gambaran pasien pneumonia komunitas di Bagian Anak RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2010-2012. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan data rekam medik anak yang dirawat dengan diagnosis utama pneumonia periode 1 Januari 2010 sampai 31 Desember 2012 dan diperoleh jumlah sampel sebanyak 178 orang anak. Hasil penelitian yang didapatkan yaitu pneumonia komunitas pada anak banyak terdapat pada anak laki-laki 55,6%, terutama pada kelompok usia 2-<12 bulan 60% dengan status gizi anak yang kurang 62% dan status imunisasi masih belum lengkap 34,8%. Keluhan utama anak dengan pneumonia yaitu sesak napas 97,8% dan gejala klinis yang ditemukan yaitu demam 92,7% dengan suhu rata-rata 37.6 C, batuk 92,1%, takipneu rata-rata laju napas 66 kali/menit pada kelompok usia < 2bulan, takikardi rata-rata denyut nadi 124 kali/menit pada kelompok usia >48-72 bulan, disertai nafas cuping hidung 92,7%, retraksi dinding dada 86%, ronkhi 91,6% dan wheezing 14,6%. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan jumlah leukosit dalam batas normal 63% dan gambaran foto rontgen thoraks berupa infiltrat 96,6%. Penyakit yang sering menyertai pneumonia pada anak yaitu anemia 30,9% dan komplikasi yang terjadi berupa gangguan keseimbangan asam-basa 48,3%. Lama rawatan paling banyak 5-10 hari dengan outcome perbaikan 56,7%. Tingginya insiden pneumonia anak di RSUP DR. M. Djamil dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu status gizi kurang, status imunisasi yang belum lengkap, serta faktor lingkungan tempat tinggal anak.Kata kunci: profil, pneumonia komunitas, anakAbstractPneumonia is infection or inflammation of the lung and it is a major cause of morbidity and mortality in children aged under five years, especially in developing countries. Prevalence of CAP in children at West Sumatra is quite high. The objective of the study was to report the profile of CAP in pediatric ward of DR. M. Djamil Hospital Padang in 2010–2012.This research was a descriptive study using medical records of children with primary diagnosis of CAP in the period of January 1, 2010 until December 31, 2012. During the study period, 178 patients were diagnosed as CAP, 55.6% found in boys, especially in the age group 2 - <12 months 43.8% with the poor nutritional status 62% and 34.8% have incomplete immunization status. The chief complaint of children with pneumonia are shortness of breath 97.8%, and clinical symptoms such as fever found 92.7% with an average temperature of 37.6 C, cough 92.1%, takipneu average respiratory rate 66 breaths/min in the age group <2 months, tachycardia average pulse rate 124 beats/min in the age group >48-72 months, with nasal flaring 92.7%, chest wall indrawing 86%, rhonchi 91.6% and wheezing 14.6%. The laboratory test showed leucocyte 63% within normal limits and infiltrate found in 96,6% chest radiograph. Accompanying diseases that often in children with pneumonia are anemic 30.9% and complications that occur is acid-base balance disorders 48,3%. The hospital length of stay for children is 5-10 days and 56.7% children had improvement outcomes.The high incidence of CAP in children at DR. M. Djamil hospital influenced by several factors, such as malnutrition status, incomplete immunization.Keywords: profile, community-acquired pneumonia, childre
Hubungan Kecanduan Bermain Video Games Kekerasan dengan Perilaku Agresif pada Murid Laki-laki Kelas IV dan V di SD Negeri 02 Cupak Tangah Pauh Kota Padang
AbstrakPerilaku agresif adalah perilaku yang bertujuan untuk menyakiti orang lain, untuk mengekspresikan perasaan negatifnya seperti permusuhan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Terdapat 4 aspek agresivitas, yaitu kemarahan, permusuhan, agresi verbal, dan agresi fisik. Salah satu faktor yang diduga mempengaruhi perilaku agresif adalah kebiasaan bermain video games yang mengandung unsur kekerasan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan perilaku kecanduan bermain video games yang mengandung unsur kekerasan terhadap prilaku agresif pada murid laki-laki kelas IV dan V di SD Negeri 02 Cupak Tangah Pauh Kota Padang Tahun 2014. Penelitian ini menggunakan disain cross sectional study dengan jumlah sampel sebanyak 83 orang murid laki-laki dari kelas IV dan V di SD N 02 Cupak Tangah Pauh. Data dikumpulkan melalui wawancara kepada responden menggunakan kuesioner yang kemudian di analisis dengan uji statistik chi-square dengan derajat kepercayaan 95% (0,05).Hasil penelitian menunjukkan persentase responden yang memiliki perilaku agresif lebih tinggi pada responden yang mengalami kecanduan bermain video games yang mengandung unsur kekerasan jika dibandingkan dengan responden yang tidak mengalami kecanduan bermain video games yang mengandung unsur kekerasan (67,6%:20,4%) dan terdapat hubungan yang bermakna antara kecanduan bermain video games yang mengandung unsur kekerasan dengan perilaku agresif (p-value=0,000).Disarankan bagi pihak sekolah agar memiliki program konseling psikologis anak misalnya dalam bentuk UKESWA (usaha kesehatan jiwa) yang termasuk dalam program UKS (usaha kesehatan sekolah) untuk mendeteksi sejak dini perilaku kecanduan anak terhadap video games yang mengandung unsur kekerasan dan perilaku agresif anak sehingga dapat diberikan bimbingan untuk mengatasi kecanduan dan perilaku agresif tersebut agar tidak berlanjut dan menjadi conduct disorder atau perilaku anti sosialKata kunci : agresif, kecanduan, video gamesAbstractAggressive behavior is a behavior that is intended to harm others to express their negative feelings such as hostility to achieve the desired goal. There are four aspects of aggression, namely anger, hostility, verbal aggression, and physical aggression. One of the factors thought to affect aggressive behavior is a habit of playing violent video games. The objective of this study was to determine the relationship of behavioral addiction playing violent video games toward aggressive behavior in boys elementary school grade IV and V in State Elementary School 02 Cupak Tangah Pauh Padang.This study used a cross sectional study design with total sample of 83 students grade IV and V. Data were collected through interviews with respondents using a questionnaire and then analyzed by chi-square test with 95% confidence level (0.05).The results obtained the percentage of respondents who have aggressive behavior was higher in respondents who experienced addicted to playing violent video games compared to those who did not experience the addiction of playing violent video games (67.6% : 20.4%) and there is a significant relationship between addiction playing violence video games with aggressive behavior (p–value = 0.000). It is advisable for the school to have a psychological counseling program for example in the form of UKESWA (mental health efforts) are included in the program UKS (school health unit) for the early detection of children's behavioral addiction to video games and aggressive behavior so that the children can be given guidance to overcome the addiction and aggressive behavior in order not to continue and become a conduct disorder or anti-social behavior.Keywords : addiction, aggressive, video game
Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Andalas Tahun 2013
AbstrakTuberkulosis (TB) paru di wilayah kerja Puskesmas Andalas menduduki peringkat ke-2 kasus TB terbanyak di kota Padang.Belum banyak penelitian sebelumnya mengenai faktor risiko tuberkulosis paru di wilayah kerja Puskesmas Andalas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktror risiko apa yang berhubungan dengan kejadian TB paru di wilayah kerja Puskesmas Andalas tahun 2013. Adapun faktor risiko yang diteliti yakni berupa status gizi, riwayat penyakit diabetes mellitus (DM), kondisi ventilasi rumah, kepadatan hunian rumah, dan pencahayaan rumah.Penelitian ini menggunakan desain case control.Sampel pada penelitian ini berjumlah 66, yakni terdiri dari 33 kasus (didapat dari rekam medis Puskesmas Andalas) dan 33 kontrol (sesuai kriteria inklusi kontrol).Data primer diperoleh dari wawancara dan pengukuran lansung. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi square didapatkan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TB paru adalah status gizi riwayat penyakit DM, kondisi ventilasi rumah, kepadatan hunian, dan pencahayaan rumah. Status gizi dan pencahayaan rumah secara statistic memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian TB paru, sedangkan riwayat penyakit DM, ventilasi dan kepadatan hunian secara statistik tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian TB paru.Kata kunci: tuberkulosis paru, faktor risikoAbstractPulmonary Tuberculosis in Andalas Public Health Center was where the second largest number of TB cases found in 2012. There is not many study before about risk factors of pulmonary tuberculosis in the working area of Andalas Pulic Health Care. This study aims to know what are the risk factors of Pulmonary Tuberculosis in the working area of Andalas public health center in 2013. The risk factors were studied in this study are nutritional status, Diabetes mellitus, home ventilation, home occupancy density, and home lighting. This Study used a case control design. Samples in this study were 66 respondent consisting of 33 cases (obtained from medical record of Andalas public health center) and 33 controls (according to the inclusion criteria of controls). Primary data was got by interviews and direct measurement. The result of statistical test using chi square test can be concluded that risk factors that associated with pulmonary tuberculosis are nutritional status, diabetes mellitus, home ventilation, home occupancy density, and home lighting. Nutritional status and home lightting statistically are associated with pulmonary tuberculosis. In the other hand Diabetes mellitus history, home ventilation, and home occupancy density statistically are not associated with pulmonary tuberculosis.Keywords:pulmonary tuberculosis, risk factor
Gambaran Pengetahuan Remaja Puteri Terhadap Nyeri Haid (Dismenore) dan Cara Penanggulangannya
AbstrakDismenore merupakan gangguan menstruasi yang sering terjadi pada remaja putri. Untuk mengobatinya penderita cendrung menggunakan tindakan Farmakologi dan non Farmakologi. Telah dilakukan penelitian tentang gambaran pengetahuan dan cara menanggulangi dismenore pada remaja putri mahasiswi STIFARM Padang angkatan 2013 dengan jumlah responden 56 orang. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan disajikan dalam bentuk tabel. Parameter yang digunakan adalah pengetahuan tentang menstruasi, dismenore dan tindakan yang dilakukan ketika mengalami dismenore. Dari penelitian didapat hasil yang tinggi dari pengetahuan remaja putri mengenai pengertian, lama dan penyebab menstruasi, pengetahuan yang rendah tentang siklus dan hormon yang berperan dalam menstruasi. Mempunyai pengetahuan yang tinggi terhadap dismenore seperti pengertian dismenore, usia yang sering mengalami dismenore, derajat dan penyebab dismenore. Tindakan yang dilakukan untuk mengatasi dismenore adalah tindakan non farmakologi (17,86%). Secara Farmakologi remaja putri menggunakan obat tradisional daun sirih (67,00%), Sedangkan yang memilih obat jadi adalah OJ-2 (40,00%). Efek samping obat yang dirasakan adalah mengantuk (56,52%). Alasan pemilihan obat adalah karena cepat menghilangkan nyeri (97,83%). Disarankan untuk melakukan penyuluhan tentang cara pengobatan dismenore baik secara Farmakologi maupun nonfarmakologi.Kata kunci: Dismenore, pengetahuan, pengobatanAbstractDysmenorrhea is the most common gynecologic health problem presented among female adolescents. To treat this condition, patients tend to either use pharmacologic or non farmacologic treatments available. A research had been done on the description of knowledge and how to over come a dysmenorrhea in female students of STIFARM Padang with sample 56 students. This is a descriptive study with data collection is done by using a questionnaire and presented in tabular form. The parameters used are knowledge about menstruation, dysmenorrhea and action taken when having dysmenorrhea. From the research concludet knowledge of the understanding, the time and the cause of menstruation, low knowledge about the cycle and hormones involved in menstruation. Have a good knowledge of the dysmenorrhea like deffenition of dysmenorrhea, the age who often get dysmenorrhea, the degree and cause of dysmenorrhea. The main action taken is non-pharmacological measures (17.86%). In Pharmacology female adolescents using traditional medicine is a betel leaf (67.00%). While choosing a drug is OJ-2 (40.00%). Side effects are felt sleepy (56.52%). The reason is because the choosen drugs can relief pain faster (97.83%). It is suggested that educating people on the proper way to treat dysmenorrhea by Pharmacologic or nonpharmacologic treatment.Keywords: Dysmenorrhea, knowledge,therap
Infeksi Cacing dan Alergi
AbstrakInfeksi cacing masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia dan negara berkembang lainnya. Penyakit ini sering terjadi di daerah dengan higienisitas dan sanitasi yang masih kurang. Respon imun tubuh host terhadap cacing ini mirip dengan respon tubuh terhadap penyakit alergi. Respon pada penyakit kecacingan dan alergi ini merupakan respon Thelper2 yaitu diferensiasi dan polariasasi sel limfosit T lebih dominan pada Th2. Pada kenyataannya, ditinjau dari segi epidemiologi, penyakit kecacingan dan penyakit alergi terdapat pada daerah yang sangat berbeda. Prevalensi penyakit alergi cenderung lebih banyak terjadi di daerah maju dengan higiene dan sanitasi yang baik. Keadaan ini menimbulkan pertanyaan apakah kecacingan mempunyai efek proteksi terhadap manifestasi klinis berbagai macam penyakit alergi. Hygiene hypothesis merupakan teori yang relevan dalam menjawab pertanyaan ini. Mekanisme yang dapat menerangkan fenomena ada adalah saturasi sel mast, penghambatan oleh IgG4 dan modified Th2 response.Kata kunci: infeksi cacing, alergi, respon Th2AbstractHelminthiasis is still unsolved problem in Indonesia and other developing countries. This disease is frequently occurred in poor personal hygiene and environmental sanitation. The human immune response to helminth infections is similar with response to allergic disease. These disease present T helper2 (Th2) response which characterized dominant differentiation and proliferation of Th2. In fact, epidemiology study shows that they are occurred in different type of region. High prevalence of allergic disease is found in modern country which is well established sanitation and good personal hygiene. This condition raises fundamental question whether helminthiasis is associated with protection against allergic disease. Hygiene hypothesis is a theory that can explain this phenomen. The mechanisms are mast cell saturation, IgG4 blocking and modified Th2.Keywords: helminthiasis, allergy, Th2 respons
Gambaran Fungsi Ginjal pada Pasien Gagal Jantung yang Dirawat di RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 1 Januari 2010-31 Desember 2012
AbstrakHubungan hemodinamik antara jantung dan yang disebut sebagai cardiorenal connector bertanggung jawab dalam perburukkan fungsi ginjal. Gagal jantung yang menyebabkan penurunan fungsi ginjal termasuk dalam kategori sindrom kardiorenal. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat gambaran fungsi ginjal pada pasien gagal jantung. Desain penelitian menggunakan study retrospektif dengan populasi adalah pasien gagal jantung yang dirawat di RSUP Dr. M. Djamil periode 2010-2012. Lebih dari setengah pasien gagal jantung (63,63%) mengalami penurunan fungsi ginjal sedang, 18,18% penurunan fungsi ginjal ringan dan 18,18% penurunan fungsi ginjal berat. Pada pasien dengan CHF I, 40% mengalami penurunan fungsi ginjal ringan dan 20% mengalami penurunan fungsi ginjal sedang. Pada pasien dengan CHF II, 18,92% mengalami penurunan fungsi ginjal ringan, 59,56% mengalami penurunan fungsi ginjal sedang, 2,7% mengalami penurunan fungsi ginjal berat. Pada pasien CHF III terdapat 35,85% penurunan fungsi ginjal ringan, 50,94% penurunan fungsi ginjal sedang dan 3,77% penurunan fungsi ginjal berat. Pada pasien CHF IV 14,81% mengalami penurunan fungsi ginjal ringan, 62,97% sedang dan 7,41% mengalami penurunan fungsi ginjal berat. Nilai rerata LFG pasien CHF semakin menurun sesuai dengan peningkatan derajat klasifikasi fungsional gagal jantung.Kata kunci : gagal jantung, sindroma kardiorenal, fungsi ginjal AbstractHemodinamic relation between heart and kidney called cardiorenal connector is responsible for worsening kidney function. The objective of this study was to description kidney function among heart failure patients, more than half (about 63.63%) had moderate worsening kidney function, 18.18% mild worsening kidney function and 18.18% severe worsening kidney function. Patients who were diagnosed with CHF I, 40% mild worsening kidney function and 20% moderate worsening kidney function. In CHF II patients, 18.92% mild worsening kidney function, 59.56% moderate worsening kidney function and 2.7% severe worsening kidney function. In CHF III patients, about 35.85% had mild worsening kidney function, 50.94% moderate worsening kidney function and 3.77% severe worsening kidney function. Mild worsening kidney function occurs in 14.81% patients with CHF IV, moderate worsening kidney function occurs in 62.97% patients with CHF IV and severe worsening kidney function occurs in 7.41% patients with CHF IV. Mean of GFR level in CHF patient is desreasing consistent to its enhancement functional class of HF.Keywords: heart failure, cardiorenal syndrome, kidney functio
Hubungan OAINS pada Pengobatan Dismenorea dengan Kejadian Dispepsia pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
AbstrakDismenorea merupakan salah satu keluhan ginekologi tersering yang membawa pasien datang ke dokter. Dismenorea terjadi 40-80% dan 5-10% nya membutuhkan pengobatan. Obat anti inflamasi non steroid (OAINS) paling sering digunakan untuk pengobatan dismenorea primer. Namun efek samping sering terjadi terutama pada saluran cerna. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan OAINS sebagai pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Rancangan penelitian adalah analitik cross-sectional. Subjek penelitian berjumlah 62 orang yang diambil dengan menggunakan metode total sampling. Dari penelitian ini diperoleh jumlah responden yang mengalami dispepsia sebanyak 14 orang (22,6%). Penelitian ini menilai OAINS (jenis,jumlah, dan kombinasi) pada pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia. Derajat dispepsia yang dikeluhkan umumnya ringan. Hasil uji chi-square antara jenis OAINS pada pengobatan dismenorea dan kejadian dispepsia didapatkan p = 0,120. Hasil uji chi-square antara jumlah OAINS pada pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia didapatkan p = 1,00. Hasil uji chi-square antara kombinasi OAINS pada pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia didapatkan p = 0,125. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan antara jenis, jumlah, dan kombinasi OAINS pada pengobatan dismenorea dengan kejadian dispepsia.Kata kunci: dismenorea, OAINS, dispepsia AbstractDysmenorrhea is one of most common gynecological complaint that bring the patients come to see doctor. Dysmenorrhea occurs 40-80% and 5-10% need treatment. Non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) are the most common treatment for primary dysmenorrhea. The side effects of NSAIDs often occur, especially in gastointestinal. The objective of this study was to determine the relationship of NSAIDs in the treatment of dysmenorrhea and dyspepsia incident in female students of Faculty of Medicine of Andalas University. The design study is cross sectional analytic. The subject of this research were 62 students that taken by using total sampling method. This study found that the respondents who suffered dyspepsia were 14 (22.6%). This study assessed NSAIDs (types, amounts, and combinations) in dysmenorrhea treatment that caused dyspepsia. Chi-square test resulted between types of NSAIDs in dysmenorrhea treatment and the incident of dyspepsia obtained p = 0.120. The p value in the relation between amounts of NSAIDs and the incident of dyspepsia is p = 1.00. The resulted between the combinations of NSAIDs with the incident of dyspepsia is p = 0.125. Based on the result, there is no relationship between the types, amounts and combinations of NSAIDs in the treatment of dysmenorrhea with the incident of dyspepsia.Keywords: dysmenorrhea, NSAIDs, dyspepsi
Gambaran Morfologi Spermatozoa pada Perokok Sedang di Lingkungan PE Group yang Datang ke Bagian Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
AbstrakTingginya angka pria perokok di seluruh dunia dan fakta bahwa asap rokok mengandung lebih dari 4000 bahan berbahaya yang dapat mengganggu sistem reproduksi. Gangguan yang terjadi dapat berupa penurunan kualitas spermatozoa yang dapat dilihat melalui analisis sperma. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat gambaran morfologi spermatozoa pada Perokok sedang di Lingkungan PE Group. Ini merupakan penelitian deskriptif dari September 2012 hingga 2013, menggunakan metode total sampling sebanyak 33 pria perokok yang mendatangi Laboratorium Biologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang. Parameter kelainan morfologi spermatozoa (teratozoospermia) diukur menurut kriteria WHO yaitu apabila jumlah sperma dengan bentuk normal yang dicacah ≥ 30%. Semua sampel menunjukkan hasil yang normal. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah perokok sedang yang diteliti memiliki gambaran morfologi spermatozoa yang normal, dengan abnormalitas kepala sebagai abnormalitas terbanyak dan bentuk kelainan kepala besar sebagai bentuk kelainan yang paling banyak ditemukan.Kata kunci: rokok sigaret, analisis sperma, morfologi sperma, teratozoospermia AbstractThe large number of men worldwide smoke and the fact that cigarette smoke contains detriment substances that can affect the health holistically and especially fertility it self is the main reason. It contains more than four thousands of detrimental substances for instance oxidants, carcinogenic and mutagenic agents. The objective of this study was to evaluate sperm parameters especially it’s morphology among medium smokers in PE Group, ltd. In this descriptive study, started from September 2012 until 2013. A total of thirty three males who were classified as medium smokers were enrolled to Biology Laboratory Medical Faculty of Andalas University Padang. Teratozoospermia parameters were measured according to the World Health Organization criteria and Biology Infertility Division’s in which the normal Sperm morphology counts ≥30%. All of samples showed normal results, with the sperm-head abnormality as the major abnormality. The conclusions is all participants showed normal spermatozoa morphology counts and the head abnormality is the major detriments.Keywords: cigarette smoking, sperm analyzing, sperm morphology, teratozoospermi
Hubungan Usia dengan Gambaran Klinikopatologi Kanker Hubungan Usia dengan Gambaran Klinikopatologi Kanker Hubungan Usia dengan Gambaran Klinikopatologi Kanker Hubungan Usia dengan Gambaran Klinikopatologi Kanker Hubungan Usia dengan Gambaran Klinikopatolo
AbstrakKanker payudara merupakan kanker yang paling sering mengenai perempuan dan menjadi penyebab kematian terbanyak akibat kanker pada perempuan. Angka kejadian kanker payudara bervariasi secara global dimana terjadi peningkatan insiden di negara berkembang tetapi cenderung menurun di negara maju. Gambaran klinikopatologi kanker payudara dapat bervariasi sesuai kelompok usia dan memiliki peran penting dalam faktor prognostik penyakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan usia dengan gambaran klinikopatologi kanker payudara. Gambaran klinikopatologi meliputi stadium klinis, subtipe histologi, dan gradasi histologi. Penelitian ini adalah penelitian analitik menggunakan metode cross sectional dengan teknik total sampling. Sampel penelitian yaitu data pasien kanker payudara primer di bagian bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2012 – Desember 2012. Dari 112 penderita kanker payudara primer hanya 46 yang memenuhi kriteria. Sampel penelitian dianalisis dengan uji chi square (p ≤ 0,05). Hasil penelitian ditemukan bahwa sebagian besar penderita berusia ≥ 40 tahun (78,3%) dan <50 tahun (67,4%), datang pada stadium lanjut (69,6%) dengan tipe invasive ductal carcinoma (87%) dan bergradasi rendah (78,3%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan gambaran klinikopatologi kanker payudara.Kata kunci: kanker payudara, gambaran klinikopatologi, stadium klinis, subtipe histologi, gradasi histologi AbstractBreast cancer is now become the most common cancer diagnosed in women and the leading cause of deaths from cancer among women. The incidences of the disease vary globally, it has been reported to be increasing in developing countries while slightly down in developed countries. The clinicopathologic features of breast cancer may vary from each age groups and it has an important role as a prognostic factors. The objective of this study was to determine the relationship between age of the breast cancer patients and their clinicopathologic features. The clinicopathologic features i.e. staging, histologic subtypes, and histologic grades. This was an analythical study by using cross sectional method with total sampling technique. Samples were patients with primary breast cancer in Dr. M. Djamil General Hospital period January 2012 – December 2012. From 112 patients with primary breast cancer there were only 46 who fulfilled the criteria. The samples were analyzed by chi square test (p ≤ 0.05). The result of this study has revealed that most of the patients ≥ 40 years of age (78.3%) and < 50 years of age (67.4%), diagnosed in late stage (69.6%) with invasive ductal carcinoma (87%) and low histologic grade (78.3%). Bivariat analyze found that there is no significant relation between age and clinicopathologic features of breast cancer.Keywords: breast cancer, clinicopathologic features, staging, histologic subtypes, histologic grade