Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Gambaran Profil Lipid pada Pasien Infark Miokard Akut di RSUP M. Djamil Padang Periode 1 Januari 2011 - 31 Desember 2012
AbstrakInfark Miokard Akut (IMA) merupakan nekrosis otot jantung akibat terganggunya kebutuhan dan suplai oksigen ke jantung secara mendadak. Faktor risikonya adalah perubahan profil lipid yaitu Kolesterol total, Kolesterol LDL. Kolesterol HDL, dan trigliserida yang dikaitkan dengan pembentukan plak aterosklerosis. Manfaat penelitian ini untuk mengetahui gambaran profil lipid pada pasien IMA. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran profil lipid pada pasien IMA di RSUP M. Djamil Padang periode 1 Januari 2011-31 Desember 2012. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif dengan desain cross sectional study di bagian Rekam Medik RSUP M. Djamil Padang. Hasil penelitian menunjukkan umur terbanyak pasien IMA 45-59 tahun, Jenis kelamin terbanyak pasien IMA adalah laki-laki, perbandingannya adalah 2,7 : 1, Pasien IMA yang memiliki kadar kolesterol total tinggi 79 orang (38,92%) dan normal 124 orang (61,08%), Pasien IMA yang memiliki kadar kolesterol LDL tinggi 76 orang (37,44%) dan normal 127 orang (62,56%), Pasien IMA yang memiliki kadar kolesterol HDL rendah 145 orang (71,43%) dan normal 58 orang (28,57%), dan Pasien IMA yang memiliki kadar trigliserida tinggi 44 orang (21,67%) dan normal 159 orang (78,33%).Kata kunci: infark miokard akut, kolesterol total, kolesterol LDL, Kolesterol HDL, trigliserida AbstractAcute Myocardial Infarction (AMI) is a muscle necrosis of the heart through disruption of demand and supply of oxygen to the heart suddenly. Risk factors of AMI is a change of lipid profile (Total Cholesterol, LDL Cholesterol, HDL Cholesterol, and Triglycerides) associated with the formation of atherosclerotic plaque. The benefit of this research is to reveal the lipid profile in patients with AMI. The objective of this study was to determine the description of lipid profile in patients with AMI at RSUP M. Djamil Padang period January 1st, 2011-December 31th, 2012. The study was conducted with descriptive methods to the design of cross sectional study at the Medical Records Department of RSUP M. Djamil Padang. The results of this study indicate that the most age of the patients of AMI 45-59 years old, the most gender of AMI are male and the ratio 2.7 : 1, AMI patients with high total cholesterol levels 79 people (38.92%) and normal 124 people (61.08%), AMI patients with high LDL cholesterol levels 76 people (37,44%) normal 127 people (62.56%), AMI patients with low HDL cholesterol levels 145 people (71.43%) and normal 58 people (28.57%), and AMI Patients with high triglyceride levels 44 people (21.67%) and normal 59 people (78.33%).Keywords: acute myocardial infarction, total cholesterol, LDL cholesterol, HDL cholesterol, triglycerid
Decription of Students’ Learning Style
AbstrakBelajar adalah perubahan mental yang terjadi sebagai repreentasi dan hubungan dari hasil pengalaman dalam jangka panjang. Vermunt mengklasifikasikan empat tipe belajar: meaning-directed, application-directed, reproduction-directed dan undirected learning. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggali secara deskriptif bagaimana tipe belajar mahasiswa di FK-UNAND. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan studi potong lintang dan mendeskripsikan tipe belajar empat orang mahasiswa. Kuesioner ILS dari Vermunt dibagikan kepada enam mahasiswa dan hanya empat kuesioner yang kembali serta bisa dianalisis. Dari hasil penelitian didapatkan: (1) mahasiswa A mempunyai tipe beajar yang tidak spesifik, mahasiswa ini lebih cenderung ke tipe undirected dan reproduction directed, (2) mahasiswa B menunjukkan lebih mahir dalam kegiatan belajar, tipe belajarnya lebih mengarah kepada reproduction dan application directed, (3) mahasiswa C mendapatkan nilai yang lebih tinggi pada tipe undirected, (4) mahasiswa D menunjukkan mahasiswa yang lebih mampu untuk melakukan self regulation, construction of knowledge dan mempunyai motivasi internal yang baik, namun skor yang diperoleh masih terkategori tipe undirected. Kesimpulan penelitian ini ialah terdapat tumpang tindih pola belajar pada mahasiswa, namun profile yang tepat ditunjukkan pada skor yang dominan. Rekomendasi untuk perbaikan proses belajar mengajar di FK-UNAND disampaikan berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh.Kata kunci: ILS, mahasiswa, tipe belajar AbstractDefinition of learning is as changing of mental representation or associations for long term as a result of experience. Vermunt states four learning styles: meaning-directed, application-directed, reproduction-directed and undirected learning styles. The objective of this study was to explore descriptively how is students’ learning style in the MFAU. The research approach was qualitative method and apply cross sectional studies as well as concern at the descriptive of learning style of four MFAU students. The Vermunt’s ILS questionnaire was administered to the six medical students. Four questionnaires were returned and usable for further analysis. The results of the survey that, firstly, student A adopts unspecific learning process and she is more undirected and reproduction directed type. Secondly, the student B performances more advance at learning activities. Her score is higher at reproduction and application directed type. Thirdly, student C gets higher score at undirected type. Then, student D performs an expert learner due to self-regulation, construction of knowledge and personal interested, but the student is still more undirected type.All in all, it was found some overlapping of learning styles among students surveyed, the means of profile showed the dominant type of learning of each student. The results of the survey should provide advises for students and teachers to improve the learning-teaching process in the MFAU as succinctly presented earlier.Keywords: learning style, ILS, studen
HIGH-ALTITUDE ILLNESS
AbstrakHigh-altitude illness (HAI) merupakan sekumpulan gejala paru dan otak yang terjadi pada orang yang baru pertama kali mendaki ke ketinggian. HAI terdiri dari acute mountain sickness (AMS), high-altitude cerebral edema (HACE) dan high-altitude pulmonary edema (HAPE). Tujuan tinjauan pustaka ini adalah agar dokter dan wisatawan memahami risiko, tanda, gejala, dan pengobatan high-altitude illness. Perhatian banyak diberikan terhadap penyakit ini seiring dengan meningkatnya popularitas olahraga ekstrim (mendaki gunung tinggi, ski dan snowboarding) dan adanya kemudahan serta ketersediaan perjalanan sehingga jutaan orang dapat terpapar bahaya HAI. Di Pherice, Nepal (ketinggian 4343 m), 43% pendaki mengalami gejala AMS. Pada studi yang dilakukan pada tempat wisata di resort ski Colorado, Honigman menggambarkan kejadian AMS 22% pada ketinggian 1850 m sampai 2750 m, sementara Dean menunjukkan 42% memiliki gejala pada ketinggian 3000 m. Aklimatisasi merupakan salah satu tindakan pencegahan yang dapat dilakukan sebelum pendakian, selain beberapa pengobatan seperti asetazolamid, dexamethasone, phosopodiestrase inhibitor, dan ginko biloba.Kata kunci: high-altitude illness, acute mountain sickness, edema cerebral, pulmonary edema AbstractHigh-altitude illness (HAI) is symptoms of lung and brain that occurs in people who first climb to altitude. HAI includes acute mountain sickness (AMS), high-altitude cerebral edema (HACE) and high altitude pulmonary edema (HAPE). The objective of this review was to understand the risks, signs, symptoms, and treatment of high-altitude illness. The attention was given to this disease due to the rising popularity of extreme sports (high mountain climbing, skiing and snowboarding) and the ease and availability of the current travelling, almost each year, millions of people could be exposed to the danger of HAI. In Pherice, Nepal (altitude 4343 m), 43% of climbers have symptoms of AMS. Furthermore, in a study conducted at sites in Colorado ski resort, Honigman describe AMS incidence of 22% at an altitude of 1850 m to 2750 m, while Dean showed that 42% had symptoms at an altitude of 3000 m. Acclimatization is one of the prevention that can be done before the climbing, in the addition of several treatment such as acetazolamide, dexamethasone, phospodiestrase inhibitor and gingko biloba.Keywords: high-altitude illness, acute mountain sickness, edema cerebral, pulmonary edem
Gangguan Psikotik Akibat Stroke Iskemik
AbstrakStroke atau yang disebut juga dengan penyakit serebrovaskuler berkontribusi terhadap timbulnya delusi dan halusinasi di kemudian hari.Pengobatan yang diberikan pada kondisi medis sering menghasilkan remisi dari psikosistetapi hal tersebut tidaklah selalu terjadi. Gejala psikosis dapat bertahan lama setelah kondisi medis yangmenyebabkannya sembuh. Dilaporkan seorang pasien yang mengalami gangguan psikotik setelah mengalami strokeiskemik. Gangguan psikotik akibat stroke iskemik merupakan suatu kasus dalam Consultation Liaison Psychiatry.Kata kunci: gangguan psikotik, stroke iskemik, delusi dan halusinasiAbstract Stroke or also called cerebrovascular disease contributed to the emergence of delusions and hallucinations inthe future. Treatment given to medical conditions often produce remission of psychosis but it is not always happen.Psychotic symptoms can persist longer after recovery. Reported a patient who suffered a psychotic disorder afterischemic stroke. Psychotic disorders due to ischemic stroke is a case in Consultation Liaison PsychiatryKeywords: psychotic disorder, ischemic stroke, delusions and hallucination
Hubungan Pengetahuan dan Sikap Keluarga dengan Tingkat Kecacatan pada Penderita Kusta di Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2013
Abstrak Keluarga sebagai sistem pendukung bagi penderita kusta diharapkan mampu memberikan dukungan penuh dalam upaya penurunan tingkat kecacatan penderita kusta dengan pengetahuan yang baik dan sikap yang positif terhadap penyakit kusta. Hal ini terkait dengan jumlah penderita kusta di Kabupaten Padang Pariaman merupakan yang tertinggi di wilayah Sumatera Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan pengetahuan dan sikap keluarga dengan tingkat kecacatan penderita kusta di Kabupaten Padang Pariaman tahun 2013. Penelitiandilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Pauh Kambar dan Ulakan Kabupaten Padang Pariaman dengan desain cross sectional. Jumlah subjek 32 orang dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner dan analisis data menggunakan uji chi-square.Hasil penelitian inimenunjukkan bahwa kedua variabel yang diteliti, yakni pengetahuan (p=0,023 OR=11,0 dan 95% CI 1,19-101,98) dan sikap (p=0,035 OR=7,2 dan 95% CI 1,31-39,56) keluarga dengan tingkat kecacatan penderita kusta di Kabupaten Padang Pariaman. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antarapengetahuan dan sikap keluarga dengan tingkat kecacatan penderita kusta di Kabupaten Padang Pariaman. Kata kunci: pengetahuan, sikap, tingkat kecacatan, kusta Abstract Family is a support system for people with leprosy that are expected to provide full support in an effort to decrease the defect rate of leprosy patients with good knowledge and positive attitudes about leprosy. It is related to the number of leprosy patients in the regency of Padang Pariaman is the highest in West Sumatra. The objective of this study was to determine correlation between knowledge and attitudes of families with the grading of disabilities in leprosy patients in the regency of Padang Pariaman 2013.The experiment was conducted at Puskesmas Pauh Kambar and Puskesmas Ulakan in the regency of Padang Pariaman by using a cross-sectional design. The number of subjectswere 32 people with a total sampling techniques. Data collected through interviews using questionnaires and data analysis using chi-square test. The results of this study indicate that both variables studied, knowledge (p = 0.023 and OR = 11.0, and 95% CI 1.19 to 101.98) and attitude (p = 0.035 OR = 7.2, and 95% CI 1 0.31 to 39.56) families with the level of disability of patients with leprosy in the regency of Padang Pariaman. Based on this study it can be concluded that there is a significant relationship between knowledge and attitudes of families with the level of disability of patients with leprosy in the regency of Padang Pariaman.Keywords: knowledge, attitudes, disability grading in lepros
Hubungan Derajat Obesitas dengan Kadar Gula Darah Puasa pada Masyarakat di Kelurahan Batung Taba dan Kelurahan Korong Gadang, Kota Padang
Abstrak Derajat obesitas sebanding dengan tingkat akumulasi lemak tubuh. Peningkatan akumulasi lemak tubuh akan meningkatkan kadar gula darah puasa. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara derajat obesitas dengan kadar gula darah puasa pada masyarakat di Kelurahan Batung Taba dan Kelurahan Korong Gadang, Kota Padang. Jenis penelitian ini ialah observasional dengan pendekatan cross sectional study terhadap 32 orang masyarakat yang berumur 35-60 tahun di Kelurahan Batung Taba dan Korong Gadang dengan teknik pengambilan sampel berupa purposive sampling. Derajat obesitas diukur dengan metode antropometrik, berupa Indeks Massa Tubuh (IMT) menurut kriteria Asia-Pasifik, yaitu obese I (IMT ≥25 kg/m2) dan obese II (IMT ≥30 kg/m2). Kadar gula darah puasa diukur secara enzimatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat obese di Kelurahan Batung Taba dan Kelurahan Korong Gadang adalah berjenis kelamin perempuan dan berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Sebagian besar masyarakat memiliki berat badan dengan kriteria obese I dan kadar gula darah puasa dengan kriteria DM ≥100 mg/dl. Hasil analisis dengan uji chi-square didapatkan nilai p = 1,000 (p>0,05), berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara derajat obesitas dengan kadar gula darah puasa. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak berbeda antara kadar gula darah puasa pada obese I dan obese II pada masyarakat diKelurahan Batung Taba dan Kelurahan Korong Gadang.Kata kunci: obesitas, kadar gula darah puasa, indeks massa tubuhAbstract The degree of obesity is equal to the rate of body fat accumulation. Accumulation of body fat increases fasting blood glucose. The objective of this study was to determine the relationship of the degree of obesity and fasting blood glucose of people who live in Kelurahan Batung Taba and Kelurahan Korong Gadang, Padang City. This was an observational cross-sectional study to 32 residents of 35 to 60 years old in Batung Taba and Korong Gadang. The subjects were taken by purposive sampling method. The degree of obesity was determined by Body Mass Index (BMI)from Asian-Pacific criteria, an anthropometric method, obese I (BMI ≥25 kg/m2) and obese II (BMI ≥30 kg/m2). Fasting blood glucose were determined enzimatically. The result of this study showed that mostly obese population in Batung Taba and Korong Gadang is female, as represented by housewifes. The majority of the population is obese I and has fasting blood glucose with DM criteria ≥100 mg/dl. As estimated by chi -square analysis, the p value = 1.000 (p>0.05) and there was no significant relationship is found between the degree of obesity and fasting blood glucose. The conclusion from this study shows there is no different between fasting blood glucose levels in obese I and obese II among the residents of Kelurahan Batung Taba and Kelurahan Korong Gadang.Keywords: obesity, fasting blood glucose, body mass inde
Perbandingan Kadar IL-5 dan Jumlah Eosinofil Antara Anak dan Orang Dewasa yang Terinfeksi Ascaris Lumbricoides
Abstrak Ascaris lumbricoides pada umumnya menginfeksi anak, tetapi juga dapat terjadi pada orang dewasa. Respon imun hospes terhadap infeksi cacing dimulai dengan teraktifasinya Th2 dengan peningkatan yang signifikan dari IL-4, IL-5, IL-9, IL-10 dan IL-13. IL-5 yang terbentuk merangsang perkembangan dan aktivasi eosinofil. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbandingan kadar IL-5 dan jumlah eosinofil antara anak dan orang dewasa yang terinfeksi oleh Ascaris lumbricoides. Telah dilakukan penelitian secara cross sectional terhadap 16 orang anak dan 16 orang dewasa yang terinfeksi Ascaris lumbricoides. Spesimen darah dan serum anak dan orang dewasa diperiksa IL-5 metode ELISA dan jumlah eosinofil metode mikroskopis. Data dianalisis dengan uji t independent dengan hasil statistik bermakna bila p<0,05. Didapatkan rerata kadar IL-5 anak 5,90±3,61 pg/ml dan 4,10±1,98 pg/ml rerata kadar IL-5 pada orang dewasa dengan nilai p=0,092 (p>0,05), sedangkan rerata jumlah eosinofil anak 14,56±7,77% dan 8,81±4,65% rerata jumlah eosinofil orang dewasa dengan nilai p=0,018 (p<0,05). Kadar IL-5 tidak berbeda signifikan antara anak dan orang dewasa, sebaliknya jumlah eosinofil terdapat perbedaan yang signifikan antara anak dan orang dewasa. Kesimpulan hasil penelitian ini ialah jumlah eosinofil anak lebih tinggi dari pada jumlah eosinofil orang dewasa yang terinfeksi Ascaris lumbricoides. Kata kunci: IL-5, jumlah eosinofil, anak, orang dewasa, infeksi Ascaris lumbricoides Abstract The infection of Ascaris lumbricides common infect children, but it also can be occurred to adult. The immune’s host respond to the worm infection begin from the activation of Th2 by the significant increasing from IL-4, IL-5, IL-9 and IL-13. IL-5 which formed stimulate the development and eosinofil’s activation. The objective of this study was to know the comparison IL-5 degree with the total of eosinofil between the child and adult who is infected by Ascaris lumbricides. The research has been done based on the cross sectional to the 16 chidlren ascarisis and 16 adultascarisis. The ascarisis’ sample serum and blood of the child and adult have taken to check IL-5 by ELISA method and the total eosinofil by mikroskopis method. The data was analyzed by t independent test, and the statistic’s result has meaning if can be reached p<0 05. The result’s f inding is the average degree of IL-5 to the child is 5.90±3,61 pg/mL and for adult is 4.10±1.98 pg/mL, with the p score is 0.092 (p>0.05) mean while the total of eosinofil in child is 14. 56±7.77% and for adult is 8.81± 4.65% mean while the total of eosinofil for adult with the p score is 0.018 (p<0.05). Based on the checked IL-5 degree is not available the differences between child and adult. On the contrary based on the totalof eosinofil is available the differences is meaningful between child and adult. It can be concluded that there are the total increasing eosinofil to the child who infected Ascaris lumbricides than in the adult.  Keywords: IL-5, the total of eosinofil, child, adult, Ascaris infectio
Hubungan Umur, Jenis Kelamin dan Perlakuan Penatalaksanaan dengan Ukuran Tonsil pada Penderita Tonsilitis Kronis di Bagian THT-KL RSUP DR. M. Djamil Padang Tahun 2013
Abstrak Tonsilitis kronis adalah infeksi berulang yang paling sering terjadi pada tenggorok terutama pada usia anak anak dan remaja. Ukuran tonsil dan adenoid cenderung kecil pada usia <7 tahun, bertambah besar pada usia 7-15 tahun dan cenderung mengecil pada usia tua. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan umur, jenis kelamin dan perlakuan penatalaksanaan dengan ukuran tonsil pada penderita tonsilitis kronis di bagian THT-KL RSUP DR. M. Djamil Padang tahun 2013. Penelitian bersifat analitik dengan menggunakan teknik non probability sampling yaknipurposive sampling sehingga didapatkan 149 penderita tonsilitis kronis dari data rekam medis RSUP Dr. M. Djamil Padang tahun 2013. Data yang diperoleh diolah secara komputerisasi. Hasil penelitian ini didapatkan distribusi frekuensi penderita tonsilitis kronis terbanyak berdasarkan umur pada kelompok umur 11-20 tahun 70 penderita (47,0%), jenis kelamin perempuan 84 penderita (56,4%), ukuran tonsil T3-T3 82 penderita (55%) dan penatalaksanaan operatif 93 penderita (62,4%). Ada hubungan yang bermakna antara umur dengan ukuran tonsil (p=0,000), tidak adahubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan ukuran tonsil (p=0,806) dan ada hubungan yang bermakna antara perlakuan penatalaksanaan dengan ukuran tonsil (p=0,010) pada penderita tonsilitis kronis di bagian THT-KL RSUP DR. M. Djamil Padang tahun 2013.Kata kunci: tonsilitis kronis, ukuran tonsil, tatalaksana Abstract Chronic tonsillitis is recurrent infections in the throat, especially in the age of children and adolescents. The size of the tonsils and adenoids tend to be small at age <7 years, large increases in the age of 7-15 years and tends to shrink in old age. The objective of this study was to determine the relationship of age, gender and management treatment with tonsil size in patients with chronic tonsillitis in departement of ENT-HN at the DR. M. Djamil Padang General Hospital in 2013. Analytic research using non probability sampling technique that is purposive sampling to obtain 149 patients with chronic tonsillitis from data taken in the medical records department of DR. M. Djamil Padang General Hospital in 2013. Data were processed with computer. Results of this study showed that the distribution of most patients with chronic tonsillitis based on age in the age group 11-20 years 70 patients (47.0%), female gender 84 patients (56.4%), tonsil size T3-T3 82 patients (55%) and operative management of 93 patients (62.4%), There is significant relationship between age with tonsil size (p = 0.000), there is no significant relationship between gender withtonsil size (p = 0.806) and there is significant relationship between management treatment with tonsil size (p = 0.010) in patients with chronic tonsillitis in departement of ENT-HN at the DR. M. Djamil Padang General Hospital in 2013. Keywords: chronic tonsillitis, tonsil size, treatmen
Profil Pasien Rinosinusitis Kronik di Poliklinik THT-KL RSUP DR.M.Djamil Padang
Abstrak Rinosinusitis kronik adalah inflamasi kronik pada mukosa hidung dan sinus paranasal yang sering terjadi, tetapi belum ada data mengenai profil pasien rinosinusitis kronik di RSUP Dr.M.Djamil Padang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan mengambil data rekam medis THT-KL RSUP Dr.M.Djamil periode 1 Januari – 31 Desember 2012 dengan metode total sampling. Terdapat 63 kasus rinosinusitis kronik di poliklinik THT-KL RSUP Dr.M.Djamil Padang periode 1 Januari – 31 Desember 2012. Kasus rinosinusitis kronik paling banyak terjadi pada kelompok usia 46 – 55 tahun (22,22%) dan banyak terjadi pada perempuan (60,32%). Berdasarkan tanda dan gejala yang ditemukan paling banyak adalah deviasi septum (41,27%). Gejala klinik paling banyak adalah hidung tersumbat (88,89%). Berdasarkan pemeriksaan rinoskopi anterior dan nasoendoskopi ditemukan kelainan pada kavum nasi, konka inferior, konka media, dan sekret. Disimpulkan bahwa rinosinusitis kronik banyak terjadi pada usia dewasa, jenis kelamin perempuan, tanda dan gejala yang ditemukan deviasi septum, gejala berupa hidung tersumbat, sertaditemukan kelainan berdasarkan pemeriksaan rinoskopi anterior dan nasoendoskopi.Kata kunci: rinosinusitis kronik, pemeriksaan rinoskopi anterior, pemeriksaan nasoendoskopi AbstractChronic rhinosinusitis is a common chronic inflammation of the nose and paranasal sinuses mucosa, but there is no data about profile of chronic rhinosinusitis patients at ENT clinic Dr.M.Djamil general hospital Padang. This research uses descriptive method by taking the data from the medical records at ENT clinic of Dr.M.Djamil general hospital during 1 January – 31 December 2012 with the method is total sampling. There are 63 chronic rhinosinusitis cases at ENT clinic Dr.M.Djamil Padang general hospital during 1 January – 31 December 2012. Most cases of chronic rhinosinusitis occurred in the age group 46 – 55 years old (22.22%) and higher in female (60.32%). The most sign and symptom finding is septal deviation (41.27%). The most clinical symptom is nasal obstruction (88.89%). Fromanterior rhinoscopy and nasoendoscopy examination, there are founded abnormalility of nasal cavity, inferior turbinate, middle turbinate, and nasal discharge. The conclusion is chronic rhinosinusitis often happened at adult ages, female, septal deviation as the most sign and symptom finding, nasal obstruction as the clinical symptom, and abnormal findings from anterior rhinoscopy and nasal endoscopy examination.Keywords: chronic rhinosinusitis, anterior rhinoscopy examination, nasal endoscopy examinatio
Hubungan Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Gizi dengan Kejadian Obesitas Anak di SD Islam Al-Azhar 32 Padang
AbstrakObesitas adalah kelainan yang ditandai oleh penimbunan berlebihan jaringan lemak dalam tubuh. Salah satu kelompok usia yang berisiko mengalami obesitas adalah kelompok usia 6-12 tahun. Pengetahuan gizi ibu berhubungan dengan kejadian obesitas pada anak.Hal tersebut mempengaruhi pemilihan nutrisi yang dikonsumsi anak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan ibu tentang gizi dengan kejadian obesitas pada anak usia sekolah dasar. Penelitian ini bersifat analitik dengan rancangan studi cross sectional. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas 1-3 di SD Islam Al-Azhar 32 Padang dengan subyek penelitian sebanyak 102 orang. Pengambilan data dilakukan dengan pembagian angket kepada ibu yang berisi pertanyaan seputar gizi. Status gizi anak ditentukan dengan pengukuran berat dan tinggi badan. Hasil pengukuran dikategorikan berdasarkan standar antropometri penilaian status gizi anak menurut Departemen Kesehatan Indonesia. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat fisher’s exact test. Hasil penelitian didapatkan subyek obesitas sebanyak 17,6% dengan rerata IMT adalah 16,6 ± 3,20. Tingkat pengetahuan gizi ibu ditemukan hampir seluruhnya dalam kriteria cukup baik, yaitu sebesar 98%. Hasil uji statitik didapatkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan gizi ibu dengan kejadian obesitas (p = 0.323)Kata kunci: obesitas anak, pengetahuan ibu, giziAbstractObesity is a disorder that is marked by excessive accumulation of body fat. Age group 6-12 years is one group that is at risk of childhood obesity. Mother’s nutritional knowledge is related to childhood obesity. The knowledge influence mother’s decision on child’s daily consumption. The objective of this research was to investigate the relationship between mother’s knowledge of nutrition and childhood obesity among elementary school students.This research was analytic research with cross sectional study. The research population was class 1-3 in Al-Azhar 32 elementary school with 102 subjects. Sample collection was conducted by distributing questionnaire upon child’s mother. Nutrition status was determined by measuring weight and height of children. The result was categorized by using children’s nutritional status assessment of standard anthropometry according to Indonesian Health Department. The data was analyzed by univariate and bivariate analysis by using fisher’s exact test. From the research, obtained obesity rate for about 17,6% with average BMI 16,6 ± 3,20. Mother’s nutritional knowledge levels is good criteria (98%). From Fisher’s exact test statistic, obtained that there is no significant relationship between mother’s nutritional knowledge with incidence of childhood obesity (p = 0,323).Keywords: childhood obesity, mother’s knowledge, nutritio