Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Profil Karsinoma Kolorektal di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Priode Januari 2009 sampai Desember 2011
AbstrakPada stadium awal carcinoma colorectal tidak menunjukan gejala klinis yang khas, sehingga sebagian besar penderita datang pada stadium lanjut. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat profil carcinoma colorectal di laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Penelitian ini dilakukan pada periode Januari 2009 sampai Desember 2011 dengan metode deskriptif retrospektif . Data penelitian diambil dari rekam medis penderita carcinoma colorectal dalam penelitian yang telah dilakukan pada bulan Juni 2012 sampai bulan Oktober 2012. Pada penelitian ini di temukan 260 kasus carcinoma colorectal dengan histopatologi terbanyak yaitu adenokarsinoma 217 kasus (83,47%) dan grading/diferensiasi II sebanyak 93 kasus (42,85%). Insiden carcinoma colorectal ditemukan pada perempuan lebih tinggi daripada laki-laki dengan perbandingan 1,18 : 1. Kelompok umur terbanyak adalah 51-60 tahun (28,08%) dengan usia termuda 16 tahun dan tertua 86 tahun. Lokasi carcinoma colorectal tersering ditemukan di rektum 131 kasus (50,39%) disusul rektosigmoid 37 kasus (14,23%) dan sigmoid 27 kasus (10,39%) dengan gejala klinis terbanyak BAB berdarah dan berlendir. Pada saat skrining dengan melakukan rektal toucher masa carcinoma colorectal akan dapat teraba, sehingga kasus ini dapat ditemukan pada stadium dini dan angka morbiditas dan mortalitas akibat penyakit ini dapat diturunkan.Kata kunci: profil, carcinoma colorectal, patologi anatomi AbstractIn the early stages of colorectal carcinoma does not show typical clinical symptoms, so most people come at an advanced stage. The objective of this study was to determine the profile of colorectal carcinoma in the anatomic pathology laboratory Andalas University Faculty of Medicine.The research was conducted during the period January 2009 until December 2011 with retrospective descriptive method and the data were taken from the medical records of patients with colorectal carcinoma in the research that has been conducted in June 2012 until October of 2012. Found in this study in 260 cases of colorectal carcinoma with the highest histopathology adenocarcinoma 217 cases (83.47%) and grading/differentiation II as many as 93 cases (42.85%). Colorectal carcinoma incidence found in women is higher than men with a ratio of 1.18: 1. Largest age group was 51-60 years (28.08%) with the youngest aged 16 and the oldest 86 years. Most common location of colorectal carcinoma was found in the rectum 131 cases (50.39%) followed rektosigmoid 37 cases (14.23%) and sigmoid 27 cases (10.39%) with clinical symptoms defecate most bloody and slimy. The screening by rectal toucher will be seen colorectal carcinoma clearly, so this case can be found at an early stage and morbidity and mortality from this disease can be reduced.Keywords: profile,colorectal carcinoma, anatomic patholog
Gambaran Penerapan Kode Etik Kedokteran Indonesia pada Dokter Umum di Puskesmas di Kota Padang
AbstrakKode Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) merupakan kumpulan norma untuk menuntun dokter di Indonesia selaku kelompok profesi berpraktik di masyarakat. Kasus kelalaian medik atau malpraktek sejak tahun 2006-2012 tercatat ada 182 kasus yang terbukti dilakukan dokter di seluruh Indonesia. Hal ini terkait dengan industri kesehatan yang semakin berkembang dan adanya persaingan yang ketat, apalagi jika sudah masuk pasar terbuka. Persaingan yang ketat serta keluhan dari pihak masyarakat maupun kedokteran dapat menurunkan citra dan martabat profesi kedokteran. Penelitian ini bersifat kuantitatif menggunakan desain deksriptif dengan menggunakan kuisioner Refleksi Kode Etik Kedokteran Indonesia terhadap dokter umum yang tersebar di Puskesmas di Kota Padang. Hasil penelitian ini mendapatkan 21 dokter umum yang bersedia menjadi responden tergolong dalam kategori kurang dalam Kuisioner Refleksi KODEKI. Disimpulkan bahwa semua responden dalam penelitian ini memliki tingkat refleksi KODEKI yang kurang.Kata kunci: refleksi KODEKI, malpraktek, kelalaian medis AbstractThe Indonesian Medical Code of Ethics is a reference of moral values for Indonesian physician applied in their day-to-day practice. Medical negligence or malpractice had been reported 182 cases from 2006-2012 around Indonesia. This is related to the medical industry and the growing presence of intense competition, especially if it has entered the open market. Intense competition along side complaints from the medical community can degrade the image and dignity of the medical profession. This study used quantitative descriptive design using a questionnaire of Indonesian Reflection Code of Ethics to general practitioner in community health centers in Padang. The 21 general practitioners who are willing tobe a respondent obtained classified in the less category in the Reflection of KODEKI Questionnaire. It can be concluded that all respondents in this study possess the less category of Reflection of KODEKI.Keyword: reflection of KODEKI, malpractice, medical negligence
Identifikasi Bakteri Coliform pada Air Kobokan di Rumah Makan Kelurahan Andalas Kecamatan Padang Timur
Abstrak Air kobokan merupakan media untuk cuci tangan yang banyak digunakan di rumah makan di Kota Padang. Diare adalah penyakit yang ditularkan melalui air yang terkontaminasi oleh bakteri. Angka perkiraan kasus diare di Padang Timur merupakan yang tertinggi di Kota Padang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas mikrobiologi air kobokan di rumah makan di Kelurahan Andalas Kecamatan Padang Timur. Sebanyak 21 sampel yang diambil dan dibagi sesuai dengan sumber airnya yaitu 12 sumber air PDAM dan 9 sumber air sumur bor. Penelitian ini dibagi dalam dua tahap, tahap pertama: pengambilan sampel dan observasi faktor yang mempengaruhi kontaminasi. Kedua: uji bakteriologi dengan metode Most Propable Number (MPN) yang meliputi uji penduga, uji konfirmasi dan uji lengkap.Seluruh sampel air kobokan mengandung bakteri coliform. Sebagian besar sampel tidak memenuhi syaratmikrobiologis sesuai dengan PERMENKES no 46 tahun 1990 dan hanya satu sampel yang berasal dari air PDAM memenuhi syarat mikrobiologis. Sampel yang berasal dari PDAM didapatkan 4 yang mengandung E.coli dan dari sumber sumur bor didapatkan 3 sampel mengandung E.coli dan lainnya mengandung bakteri lain seperti Klebsiella, Enterobacter dan Pseudomonas. Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kebersihan wadah, lokasi rumah makan dan lokasi sumur bor.Kata kunci: air kobokan, most propable number (MPN). Abstract Water is the common use for hand washing in restaurant in Padang city. The research was conducted at restaurant in Andalas, East Padang. Diarrhea is a disease transmitted through water contaminated by bacteria.Morbidity of diarrhea in East Padang is the highest in Padang. The objective of this study was to identify microbiological quality of water for cleaning hand at Restaurant in Andalas sub-district, East Padang district. Total 21 sampels were taken and divided according to the water source is 12 by PDAM and 9 from dug well. This research implemented in two steps: taking the water for cleaning hand sample and also observing factor affecting contamination of the water for cleaning hand, then bacteriologi inspection using Most Propable Number (MPN) methods to presumptive test, confirmation test and complementary test. All of them sampel containing coliform bacteria. Almost of the sample unqualified according PERMENKES no 46 tahun 1990 and just only one sample from PDAM sourcequalified with microbiological requirement. Four sample from PDAM source contain E.coli bacteria and three sample from dug well contain E.coli bacteria too and the others contain another bacteria like Klebsiella, Enterobacter and Pseudomonas. It can be cause many factor like hygiene of container, restaurant location and dug well location.Keywords: water for cleaning hand, most propable number (MPN
Uji Kualitas Mikrobiologis Minuman Teh Poci yang Dijual Pedagang Kaki Lima di Pasar Raya Padang
Abstrak Minuman Teh Poci merupakan produk minuman yang berkembang pesat dan banyak dijual oleh pedagang kaki lima di Padang terutama di Pasar Raya kota Padang. Penjualan Teh Poci oleh pedagang kaki lima di Pasar Raya tidak mengikuti sistem franchise yang mempunyai standar kebersihan penyajian menyebabkan proses pembuatan Teh Pociyang dijual di Pasar Raya tidak terjamin kebersihan penyajianya. Tujuan penelitian ini adalah menguji kualitas mikrobiologis minuman Teh Poci yang dijual pedagang kaki lima di Pasar Raya Padang. Minuman yang diperiksa adalah minuman Teh Poci yang dijual di sepanjang jalan Pasar Raya dengan mengambil 13 sampel. Penelitian dilakukan dari bulan November 2011- September 2012 dengan menggunakan metode Most Probable Number (MPN) yang terdiri dari tes penduga dan tes konfirmasi. Dari 13 sampel minuman yang diperiksa seluruh sampel tersebutmengandung bakteri Coliform. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi adalah kebersihan penjual minuman dalam menutup kemasan minuman, kurangnya higiene perseorangan, lokasi penjualan di tengah pasar, es batu yang tidak bersih, dan alat-alat yang digunakan. Kesimpulan penelitian ini ialah minuman Teh Poci yang dijual di Pasar Raya Padang tidak memenuhi standar kualitas mikrobiologis air minum yang sudah ditetapkan pada Peraturan Menteri Kesehatan tahun No. 492 tahun 2010.Kata kunci: pedagang kaki lima, teh Poci, higieneAbstract Teh Poci has become popular nowadays. There is a significant movement of Teh Poci street sellers in Padang especially in Pasar Raya Padang. Teh Poci street sellers in Pasar Raya do not buy the franchise system which has the appropriate standard for food serving. The Teh Poci stands are also located in the middle of traditional market which cause the serving to the society do not fulfill the sanitary standard.One of the indicators of water contamination is by measuring the amount of the coliform bacteria presents in water. The objective of this study was to do themicrobiological quality test on Teh Poci in Pasar Raya Padang. The subject of this test was thirteen Teh Poci sold around Pasar Raya Street. The research occured from November 2011 until September 2012 using the Most Probable Number method, consists of two phases presumtive and confirmative.The result of the test showed that all thirteensamples were positive which means all the samples did not fulfill the microbiological quality of drinks published by the Indonesian Health Ministry.Keywords: street sellers, Teh Poci, higien
Gambaran Diagnosis Malaria pada Dua Laboratorium Swasta di Kota Padang Periode Desember 2013 – Februari 2014
Abstrak Pengobatan malaria membutuhkan ketepatan metode pemeriksaan laboratorium yang akurat oleh tenaga laboratorium. Kemampuan tenaga laboratorium perlu dilakukan pengamatan dan pemantauan secara terus menerus untuk menjaga efektivitas pemeriksaan sediaan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas diagnosis malariadi laboratorium swasta di Kota Padang. Penelitian ini merupakan uji diagnostik dengan rancangan penelitian Cross Sectional Study terhadap laboratorium swasta di Kota Padang. Sampel yang didapatkan dalam penelitian ini berjumlah 53 slide lalu slide tersebut dibandingkan dengan Cross Checker. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa spesiesterbanyak adalah Plasmodium vivax dan Plasmodium falciparum. Hasil perhitungan nilai Kappa adalah 0,5 dan perbandingan hasil pemeriksaan parasit P. falciparum pada laboratorium swasta adalah 17,8% dan pemeriksaan Cross checker 1,88%. Untuk P. vivax pada laboratorium swasta adalah 43,01% dan pemeriksaan Cross Checker 13,2%. Kesimpulan hasil ini adalah P. faciparum dan P. vivax adalah spesies yang sering ditemukan dengan nilai perhitungan Kappa menunjukkan hasil sedang dan terdapat perbedaan hasil pembacaan sediaan antara laboratorium swasta dengan yang dilakukan Cross checker. Kata kunci: malaria, efektivitas, plasmodium falciparum, plasmodium vivaxAbstract  Treatment of malaria need the accuracy of laboratory examination method by a laboratory personnel. The ability of laboratory personnel is need to doing observation and monitoring continuously to maintain the effectiveness of examination preparation. The objective of this study was to determine the effectiveness diagnosis of malaria in a private laboratory in Padang. This was a diagnostic test with a cross sectional study research design to a private laboratories in the city of Padang. Samples obtained in this study amounted to 53 slides and the slides were comparedwith Cross Checker. In this study it was found that most species were Plasmodium vivax and Plasmodium falciparum. The result of kappa value was 0,5 and the comparison results of the parasite P. falciparum in private laboratories were 17,8% and the Checker Cross examination are 1,88%.  P. vivax in private laboratories are 43,01% and the checker cross examination are 13,2%. The conclusion is P. vivax and P. faciparum are species that is often found by calculating Kappa values showed moderate results and there is a difference between the dosage readings with aprivate laboratory that performed Cross checker.Keywords: malaria, effectiveness, plasmodium falciparum, plasmodium vivax
Frekuensi HBsAg Positif pada Uji Saring Darah di Palang Merah Indonesia Cabang Padang Tahun 2012
Abstrak Infeksi virus hepatitis B dapat berkembang menjadi hepatitis kronis, sirosis hati, kanker hati dan bahkan kematian. Salah satu cara penularannya adalah melalui transfusi darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuifrekuensi HBsAg positif pada uji saring darah donor. Telah dilakukan penelitian deskriptif dengan menggunakan datasekunder di PMI Padang dengan 26.975 darah donor yang diteliti. Donor laki-laki lebih banyak dari donor perempuandengan perbandingan 11,69:1, dan pendonor sukarela lebih banyak dari pendonor pengganti, dengan perbandingan2,95:1. Pendonor terbanyak terdapat pada kelompok usia dibawah 30 tahun, yaitu sebanyak 38,09%. Hasil penelitianmenunjukan persentase darah donor dengan HBsAg positif sebesar 3,61%. Pendonor laki-laki dengan HBsAg positifsebesar 93,22%, perempuan 6,78% dan pendonor sukarela sebesar 65,09%, pendonor pengganti sebesar 34,91%.Hasil HBsAg positif terbanyak terdapat pada kelompok usia dibawah 30 tahun sebesar 39,01%. Sebagian besar darahdonor yang mengandung HBsAg positif terdapat pada kelompok umur di bawah 30 tahun. Frekuensi HBsAg positif lebih banyak pada donor laki-laki dibanding donor perempuan, dan donor sukarela dengan HBsAg positif lebih banyak dibanding donor pengganti.Kata kunci: HBsAg, donor darah, transfusi darahAbstract Hepatitis B virus infection could progress into chronic hepatitis, liver cirrhosis, liver cancer and even death. One mode of transmission is via blood transfusion. The objective of this study was to determine the frequency of positive HBsAg in the screening test of the blood donors. A descriptive studies has been conducted by using secondary datasin PMI Padang. There were 26975 blood donors studied that men donors were higher than female donors, with the number ratio of male and female were 11.69:1, and the number of voluntary donors were higher compared to the replacement donors, with ratio 2.95:1. Most of the donors were in the age group below 30 years, which is 38.09%. The result of research showed percentage of blooddonorswithpositiveHBsAgwere3.61%. HBsAg positive from male donors were 93.22%, and HBsAg positive from female donors were 6.78%. For voluntary donors, the positive HBsAg were65.09%, and HBsAg positive from replacement donors were 34.91%. Blood donors with HBsAg positive mostly were from donors in the age group below 30 years, which is 39.01%.Most of the blood donors with HBsAg positive in the age group below 30 years. The frequency of positive HBsAg in male donors is higher than female donors, and frequency of positive HBsAg in voluntary donors is higher than replacemaent donors.Keywords: HBsAg, blood donor, transfusio
Kelainan Hati akibat Penggunaan Antipiretik
Abstrak Demam menyebabkan penderitaan pada anak dan kecemasan pada orangtua. Demam terjadi pada hampir sebagian besar anak setiap tahunnya. Antipiretik yang paling sering digunakan adalah acetaminophen, ibuprofen dan aspirin. Antipiretik ini dapat menyebabkan kelainan hati pada dosis tinggi dan pada penggunaan dosis terapi yangberulang. Baru-baru ini banyak digunakan obat kombinasi acetaminophen-ibuprofen. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk menjelaskan kelainan hati akibat penggunaan antipiretik. Penggunaan pada dosis terapi secara berulang harus sesuai indikasi, mempertimbangkan efek samping dan memahami dosis maksimal. Penggunaan obat kombinasi acetaminophen-ibuprofen harus diberikan hati-hati, dosis kandungan antipiretik harus dibaca lebih teliti. Perluanamnesis yang jelas pada penegakan diagnosis dan perhitungan dosis total atau dosis rata-rata yang diterima. Klinisi harus dapat memonitor gejala kelainan hati akibat penggunaan obat-obatan antipiretik. Perlu komunikasi yang jelas, antara dokter dan keluarga pasien tentang keuntungan dan resiko pemberian antipiretik, baik itu penggunaan sekalisaja ataupun berulang.Kata kunci: antipiretik, ibuprofen, acetaminophen hepatoksik, drug induced hepatitis Abstract Fever causes misery for children and parental anxiety. It affects almost of children each year. The antipyretics most commonly used for treating fever are acetaminophen, ibuprofen and aspirin. These antipyretics can causeshepatotoxicity in high dose and in multiple daily doses. Recently, the use of combination acetaminophen-ibuprofen was widely use in child. The objective of this artikel was to learn more about how about antipyretics induced hepatotoxicity. The use of multiple daily doses must be in the right indication, considering the side effect and clear in maximal doses.The use of combination acetaminophen-ibuprofen must be with caution, composition of dose must be read cerefully. Its need good anamnesis and calculation of total dose or mean doses per day that received to make the right diagnosis. The better communication between physicians and families about the risks and benefits of use of antipyretic to prevent hepatotoxicity. Keywords: antipyretic, acetaminophen hepatotoxicity, ibuprofen, drug induced hepatiti
Gambaran Glukosa Darah Setelah Latihan Fisik pada Tikus Wistar Diabetes Melitus yang Diinduksi Aloksan
AbstrakDiabetes Melitus telah dikategorikan sebagai penyakit global yang prevalensinya terus meningkat dan penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Latihan fisik merupakan salah satu tatalaksana untuk mengontrol glukosa darah secara nonfarmakologis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kadar glukosa darah pada tikus Wistar diabetes melitus yang diinduksi aloksan setelah pemberian latihan fisik. Penelitian eksperimental ini menggunakan 18 ekor tikus Wistar dengan berat badan 150-200 gram yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu 6 ekor kelompok kontrol negatif (K-), 6 ekor kelompok kontrol positif (K+) dengan induksi aloksan tanpa pemberian latihan fisik dan 6 ekor kelompok perlakuan (P) dengan induksi aloksan dan diberi latihan fisik selama 4 minggu. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan dengan glucometer merek Accu-Check. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan rata-rata kadar glukosa darah puasa secara bermakna pada kelompok kontrol positif (K+) dan perlakuan (P) setelah periode induksi yaitu, pada kelompok kontrol negatif 84,83±6,88 mg/dl, kelompok kontrol positif 220,80±12,29 mg/dl, dan kelompok perlakuan 248,50±94,55 mg/dl (p<0,05). Setelah periode latihan fisik, terdapat penurunan rata-rata glukosa darah puasa secara bermakna pada kelompok kontrol positif (K+) dan Perlakuan (P), namun penurunan pada kelompok perlakuan (P) lebih besar secara bermakna dibandingkan dengan kelompok kontrol positif (K+), yaitu rata-rata glukosa darah puasa kelompok kontrol positif 192,00±12,00 mg/dl dan kelompok perlakuan 163,00±20,26 mg/dl (p<0,05). Kesimpulan hasil penelitian ini adalah terdapat penurunan kadar glukosa darah puasa setelah latihan fisik.Kata kunci: latihan fisik, glukosa darah, diabetes melitusAbstractDiabetes Melitus has been categorized as a global disease which have increasing prevalence and the mine cause of morbidity and mortality. Phyisical exercise is one of the nonpharmacological treatment to control blood glucose. The objective of this research was to determine the blood gucose levels of aloksan induced’s wistar rat after physical exercise.The research used 18 wistar rats 150-200 gram weight, divided into three groups, as six negative control group (K-), six positive control group inducing aloksan without physical exercise (K+) and six treated group inducing aloksan with physical exercise for four weeks (P). Blood glucose was measured by Accu Check’s glucometer.The result showed an increase in fasting blood glucose level significantly on positive control group (K-) and treated group (P) after induced period, which was 84,83±6,88 mg/dl on negative control group, 220,80±12,29 mg/dl on positive control group, and 248,50±94,55 mg/dl on treated group (p<0,05). After physical exercise period, there was a decrease in fasting blood significantly on K+ and P, but in P group have more greater than K+ group, 192,00±12,00 mg/dl on positive control group (K+) and 163,00±20,26 mg/dl on treated group (P).Conclusion of this research is a decrease in fasting blood glucose levels after phyisical exercise.Keywords: physical exercise, blood glucose, diabetes melitu
Pengaruh Kurang Tidur terhadap Berat Badan pada Tikus Wistar Jantan
AbstrakPengurangan durasi tidur menurunkan kadar leptin dan meningkatkan kadar ghrelin sehingga merangsang nafsu makan dan meningkatkan kemungkinan terjadinya obesitas pada manusia. Pada tikus akan menyebabkan peningkatan asupan makanan tetapi terjadi penurunan berat badan yang disebabkan karena aktivitas yang tinggi pada tikus. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh kurang tidur 24 jam, 48 jam dan 72 jam terhadap berat badan pada tikus Wistar jantan. Jenis penelitian adalah true experimental research dengan rancangan randomized post control group terhadap 14 ekor tikus Wistar yang dibagi atas kelompok kontrol, kelompok perlakuan 24 jam, 48 jam dan 72 jam. Tikus dikondisikan mengalami paradoxycal sleep deprivation dengan metode modified multiple platform. Asupan makanan diberikan ad libitum dan berat badan diukur setelah pengurangan durasi tidur selama 24 jam, 48 jam, dan 72 jam.Analisis data menggunakan uji Saphiro-Wilk Test dan One-Way ANOVA. Rerata berat badan setelah pengurangan durasi tidur 24 jam adalah 193,6±17,9 gram; setelah 48 jam 179,6±17,3 gram; dan setelah 72 jam 176,7±15,9 gram dibandingkan dengan kontrol 219.6±11,3 gram. Pengurangan durasi tidur 48 jam dan 72 jam dibandingkan dengan kontrol bermakna (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan berat badan pada pengurangan durasi tidur selama 48 jam dan 72 jam.Kata kunci: kurang tidur, berat badan, tikus wistarAbstractSleep deprivation lowers level of leptin and increases level of ghrelin which stimulates appetite and increases the likelihood of obesity in humans. In mice will increases food intake, but decreases the body weight due to high activity in mice. The objective of this study was to examine the effect of sleep deprivation 24 hours, 48 hours and 72 hours on body weight in male Wistar rats. This type of research was a true experimental design research with post randomized control group on 14 Wistar rats were divided into control group, treatment group 24 hours, 48 hours, and 72 hours. Rats conditioned paradoxycal sleep deprivation experienced by the modified multiple platform method. Given ad libitum food intake and body weight were measured after sleep deprivation for 24 hours, 48 hours, and 72 hours. Analysis of the data using the Shapiro-Wilk Test and One-Way ANOVA. The mean of body weight after 24 hour sleep deprivation was 193.6±17.9 g, after 48 hours was 179.6±17.3 g, and after 72 hours was 176.7±15.9 g compared with control was 219.6±11.3 g. Sleep deprivation 48 hours and 72 hours compared with controls was significant (p<0.05). It can be concluded there was reduction of body weight on sleep deprivation for 48 hours and 72 hours.Keywords: sleep deprivation, weight, rat
Analisis Upaya Pelayanan Kesehatan di Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Propinsi Sumatera Barat
AbstrakPrestasi Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Sumatera Barat menunjukan ketidakstabilan di tingkat nasional. Siswa yang berobat ke fasilitas kesehatan rata – rata perbulan 50 orang dari 137 orang (36,5%). Tujuan penelitian adalah menganalisis upaya pelayanan kesehatan olahraga di PPLP Sumatera Barat. Desain penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam dan Focus Group Discussion (FGD). Hasil penelitian didapatkan bahwa upaya pelayanan kesehatan di PPLP Sumatera Barat telah memiliki kebijakan untuk pemeriksaan kesehatan awal calon siswa dan belum terlaksana secara terpusat. Pemantauan kesehatan hanya dilakukan bagi siswa yang mengalami keluhan. Pengobatan dilakukan oleh tenaga tenaga paramedis yang telah ditunjuk. Evaluasi dilakukan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia dan hasil evaluasi kesehatan dapat dilihat website sentra keolahragaan.Kata kunci: pelayanan kesehatan olahraga, PPLPAbstractEducation and Sport Training Student Centre (ETSC) of West Sumatra performance show instability at the national level. Students of ETSC visited health facility average of 50 of 137 people (36,5%) monthly. The objective of this study was to analyze the health care effort ETSC sport in West Sumatra. The study design used a qualititave approach with in-depth interviews and a Focus Group Discussion (FGD). The results showed that the health care efforts in ETSC of West Sumatra has had a policy for initial medical examinations of prospective students and have not done centrally. Health monitoring is done only for students who have complaints. Treatment is done by skilled paramedics who have been appointed. Evaluation conducted by the Ministry of Youth and Sports of the Republic of Indonesia and the health evaluation results can be seen websites sports centres.Keywords: health services sports, education and sport training student centr