Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Hubungan Kadar FT4 dengan Gejala Klinis yang Terkait Efek Simpatis berdasarkan Indek Wayne pada Nagari Koto Salak Kabupaten Dharmasraya
AbstrakPeningkatan aktivitas saraf simpatis dapat terjadi pada keadaan hipertiroid dan sebaliknya pada hipotiroid. Pengukuran kadar hormon tiroid dilakukan dengan mengukur kadar FT4, FT3, TSH, dll. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan kadar FT4 dengan gejala klinis yang terkait efek simpatis di Nagari Koto Salak Kabupaten Dharmasraya. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional study. Hasil penelitian didapatkan subjek dengan peningkatan kadar FT4 12,96%. Subjek dengan gejala klinis palpitasi, penurunan berat badan, nervous, berkeringat lebih dan tremor jari halus dengan persentase berturut-turut adalah 42,59%, 38,89%, 46,30%, 25,93% dan 44,44%. Analisis bivariat dengan menggunakan uji statistik chi-square diperoleh hasil tidak ada hubungan hubungan kadar FT4 dengan 5 gejala klinis yang terkait efek simpatis berdasarkan indeks Wayne (p > 0.05). Penelitian ini masih sederhana dan belum bisa menunjukkan adanya hubungan antara kadar FT4 dengan gejala klinis yang terkait efek simpatis. Sebaiknya untuk penelitian yang akan datang diharapkan dapat memiliki jumlah sampel yang banyak dan cakupan gejala klinis lain yang terlibat dalam aktivitas saraf simpatis yang lebih luas sehingga dapat lebih lengkap dan spesifik.Kata kunci: Kadar FT4, efek simpatis, gejala klinis AbstractIncreased sympathetic nerve activity may occur in the state of hyperthyroidism and conversely in hypothyroidism. Measurement of thyroid hormone levels is done by measuring the levels of FT4, FT3, TSH, etc. The objective of this study was to identify the relation between FT4 levels and the clinical symptoms of sympathetic effects in Nagari Koto Salak Kabupaten Dharmasraya. This research used cross sectional study design. According to the research found that subjects with elevated levels of FT4 12.96%. There are subjects with clinical symptoms of palpitations, weight loss, nervousness, sweating more and fine finger tremor by the following percentages is 42.59%, 38.89%, 46.30%, 25.93%, and 44.44%. From the results of the bivariate analysis using Chi-Square test is not obtained the relation between FT4 levels with 5 related clinical symptoms of sympathetic effects on wayne’s index (p> 0.05). This research was simple and could not represent the relation between FT4 levels were associated with clinical symptoms of sympathetic effects. We recommend to have more number of samples for the future research and scope of clinical symptoms that involved in the activity of the sympathetic nervous to be wider so it can be more comprehensive and specific.Keywords: FT4 levels, sympathetic effects, clinical sympto
Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Infeksi Toksoplasma pada Ibu Hamil di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Tahun 2010-2013
AbstrakToksoplasmosis pada ibu hamil dapat mengakibatkan keguguran dan kematian pada bayi yang dilahirkan, hal ini dikarenakan terjadinya infeksi pada saat bayi dalam kandungan. Berdasarkan SDKI tahun 2007, tercatat 35% ibu hamil mengalami toksoplasma. Tahun 2008 kejadian toksoplasma pada ibu hamil meningkat menjadi 47%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian Toksoplasma pada ibu hamil di RSUD Arifin Achmad Provinsi Riau tahun 2013. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang mengalami infeksi toksoplasma yaitu sebanyak 30 orang. Pada penelitian ini seluruh populasi dijadikan sebagai subjek yaitu 30 orang (kelompok kasus) dan 30 orang kelompok (kontrol). Penelitian ini menggunakan jenis penelitian analitik kuantitatif dengan desain case control. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi-square dan multivariat. Hasil penelitian diperoleh bahwa variabel yang berhubungan bermakna dengan kejadian toksoplasmosis yaitu variabel pendidikan. Hasil analisis multivariat, didapatkan OR dari variabel pendidikan adalah 4.344 (CI 95% : 1.804-16.427) artinya ibu hamil dengan pendidikan rendah beresiko 4 kali mengalami toksoplasmosis daripada ibu hamil yang berpendidikan tinggi.Kata kunci: faktor risiko, ibu hamil, toxoplasma AbstractToxoplasmosis in pregnant women, can lead to miscarriage and death in babies born due to infection by the time the baby in the womb. SDKI 2007, there were 35% of pregnant women experience toxoplasma and in 2008 the incidence of toxoplasmosis in pregnant women increased to 47%. The objective of this study was to determine the risk factors associated with the incidence of toxoplasma in pregnant women at Arifin Achmad Pekanbaru in 2013. Population in this study were all pregnant women who become infected with Toxoplasma as many as 30 people. The entire population of this study serve as a subjects in this study, in the number of samples of 30 persons (cases) and 30 person group (control). This research used quantitative analytical research with case control design. The data were analyzed using univariate, bivariate with chi-square test and multivariate. The results showed that the variables significantly associated with the incidence of toxoplasmosis is the variable of education. Multivariate analysis of variables obtained OR education is 4.344 (95% CI: 1804-16427) means that pregnant women with low education are at risk 4 times suffered from toxoplasmosis in pregnant women with high education.Keywords: risk factor, pregnant woment, toxoplasm
Transportasi Jenazah dan Aspek Medikolegal
AbstrakPada kematian seseorang, kadangkala diperlukan transportasi jenazah untuk membawa jenazah ke tempat yang diinginkan oleh ahli waris. Transportasi jenazah bisa melalui darat, laut maupun udara. Persyaratan transportasi jenazah berbeda dengan trasportasi barang lainya. Persyaratan transportasi jenazah meliputi persyaratan administrasi dan tata laksana terhadap jenazah. Administrasi yang diperlukan antara lain adalah surat keterangan kematian, sertifikat pengawetan jenazah. Tatalaksana yang diperlukan seperti pengawetan terhadap jenazah, pemetian dan lain sebagainya.Persyaratan pada masing- masing negara pada umumnya adalah sama. Jadi jika ingin melakukan transportasi jenazah, maka ahli waris haruslah mengikuti peraturan yang diterbitkan oleh tempat pemberangkatan dan tempat yang akan menerima.Kata kunci: transportasi jenazah-persyaratan administrasi-tatalaksana jenazah AbstractOn the death of a person, sometimes necessary transport the bodies to bring the bodies to the desired place by the heirs. Transport bodies can by land, sea or air. Corpse transport requirements different from other goods transportation. Terms of transport bodies include the administrative requirements and procedures for the corpse. Administration required include a death certificate, certificate wiring bodies. Procedures are needed such as preservation of the bodies, and others.Requirements in each country in general is the same. So if you want to transport the corpse, then heirs must follow the regulations published by the place of departure and the place that will accept.Keywords: transport the corpse-administrative requirements-management of bodie
Iskemia pada Jari Tangan Penderita Diabetes Melitus: Suatu Keadaan Peripheral Arterial Disease
Abstrak Pendahuluan: Peripheral Arterial Disease (PAD) adalah penyumbatan pada arteri perifer akibat proses atherosklerosis atau proses inflamasi yang menyebabkan lumen arteri menyempit (stenosis), atau pembentukantrombus. Tempat tersering terjadinya PAD adalah daerah tungkai bawah dan jarang ditemukan pada jari tangan.Metode: Laporan kasus. Hasil: Telah dilaporkan suatu kasus iskemia jari tangan yang jarang ditemui di klinik, merupakan suatu PAD. Pembahasan: Selain adanya faktor risiko konvensional seperti diabetes melitus dan keganasan untuk terjadinya trombosis, juga didapatkan suatu kelainan herediter berupa defisiensi antikoagulan yaitu defisiensi protein S, sekalipun protein C dalam batas normal yang secara bersama-sama diduga mempermudah terjadinya trombosis pada arteri perifer. Kata kunci: Diabetes, Iskemia, Peripheral arterial disease, Protein S, Trombosis Abstract Introduction: Peripheral Arterial Disease (PAD) is occlusion in peripheral artery caused by atherosclerosis or inflammation process that make stenosis in artery, or thrombus formation. High incidence of PAD occur in lower extremity, and rarely in hand and finger. Method: Case report. Result: Has been reported hand ischaemia that rarely found in hand and finger. Discussion: Despite conventional risk factor for thrombosis like diabetes mellitus and malignancy, hereditary disorder of anticoagulant factor deficiency played the same role, like protein S deficiency,eventhough protein C in normal limit. These risk factors made thrombosis at peripheral arteri easier to occur.Keywords: Diabetes, Ischaemia, Peripheral arterial disease, Protein S, Thrombosi
Perbedaan Kadar Interferon Gamma dan Interleukin-10 pada Orang Dewasa Terinfeksi Ascaris Lumbricoides dengan Tidak Terinfeksi yang Diinduksi Vaksin Bacille Calmette-Guerin
Abstrak Kecacingan merupakan penyakit yang masih banyak di negara berkembang. Infeksi cacing dapat menimbulkan penurunan respon terhadap antigen yang terjadi akibat modified Th2 response. Vaksin BCG merupakan antigen yang dikenal sebagai penginduksi respon sel Th1. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan kadar IFN-γdan IL-10 pada orang dewasa terinfeksi Ascaris lumbricoides dengan tidak terinfeksi yang diinduksi vaksi BCG.Penelitian dilakukan di Kelurahan Muara Fajar Kecamatan Rumbai Pesisir Pekanbaru dengan menggunakan rancangan cross sectinal study. Populasi penelitian ini adalah orang dewasa kelurahan Muara Fajar KecamatanRumbai Pesisir Pekanbaru yang terinfeksi dan tidak terinfeksi Ascaris lumbricoides. Status kecacingan didapatkan dari pemeriksaan feses dengan metode kato-katz. Kadar IFN-γ dan IL-10 didapatkan dengan pemeriksaan laboratorium dengan metode ELISA. Pengolahan dan analisa data menggunakan uji t. Hasil penelitian didapatkan rerata kadar IFNγ adalah 16,55±14,13 pg/mg dan kadar IL-10 36,13±8,83 pg/ml. Pada orang dewasa yang tidak terinfeksi Ascaris lumbricoides didapatkan kadar rata-rata IFN-γ adalah 199,36±121,86 pg/ml dan kadar IL-10 10,57±9,20 pg/ml.Terdapat perbedaan bermakna kadar IFN-γ dan IL-10 antara orang dewasa yang terinfeksi Ascaris lumbricoides dengan tidak terinfeksi (p<0,05). Kesimpulan hasil penelitian ini ialah infeksi Ascaris lumbricoides dapat menekan produksi IFN-γ terhadap pemberian vaksin BCG.Kata kunci: ascaris lumbricoides, vaksin BCG, interferon gamma (IFN-γ), interleukin 10 (IL-10) Abstract Worm infestation still happened in the develop country. Worm infection can also make low respond on antigen that is caused by modified Th2 response. BCG vaccine is antigen as known as induction Th1 cell respond. The objective of this study was to know the differences IFN-γ and IL-10 an adult who infected Ascaris lumbricoides to uninfected who inducted by BCG vaccine. The research was conducted in Muara Fajar district Rumbai PesisirPekanbaru by Cross Sectinal Study. The research population were adults in Muara Fajar district Rumbai Pesisir Pekanbaru who infected and uninfected Ascaris lumbricoides. Worm infection was getting checked in fesses by katokatz method.IFN-y and IL-10 were getting laboratory checked by ELISA method.The data was analyzed by t-tes. The mean IFN-y of the adult who infected Ascaris lumbricoides were 16.55±14.13 pg/mg and IL-10 36.13±8.83 pg/ml and the adult who uninfected Ascaris lumbricoides were 199,36±121,86 pg/ml and IL-10 10.57±9.20 pg/ml. There was significant difference of IFN-y and IL-10 between adult who infected Ascaris lumbricoides with uninfected (p<0,05). It can be concluded that Ascaris lumbricoides infection can pressure IFN-y production on given BCG vaccine. Keywords: ascaris lumbricoides, BCG vaccine, interferon gamma (IFN-γ), Interleukin 10 (IL-10
Perbedaan Kadar Malondialdehide dan Tromboksan B2 pada Remaja dengan Dismenore dan Tanpa Dismenore
Abstrak Penyebab dismenore belum semuanya diketahui, ada dugaan peningkatan proses peroksida lipid yang akan mengaktivasi mediator inflamasi pada endometrium yang menimbulkan rasa nyeri haid (dismenore). Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan kadar malondialdehide dan tromboksan B 2 pada dismenore dan tanpa dismenore. Studi observasional ini menggunakan desain potong lintang komparatif. Subjek penelitian terdiri dari dua kelompok yaitu 23 remaja dismenore dan 23 remaja tanpa dismenore dengan waktu penelitian dari Juni sampai Juli 2014. Analisis sampel dilakukan di Laboratorium Biomedik dan Biokimia Universitas Andalas Padang. Pemeriksaan kadartromboksan B 2 menggunakan metode ELISA dan kadar malondialdehide menggunakan metode Asam Thiobarbiturat (TBA). Hasil penelitian diperoleh bahwa rerata kadar malondialdehid pada remaja dengan dismenore yaitu 2,60±0,63 µmol/ml, rerata remaja tanpa dismenore 1,98±0,12 µmol/ml dengan probabilitas p<0,05 (0,000), sedangkan reratakadar Tromboksan B 2 pada remaja dengan dismenore 20,043±9,56 ng/ml, rerata remaja tanpa dismenore 19,222±10,79 ng/ml, dengan probabilitas p>0,05 (0,786). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan yang signifikan rerata kadar malondialdehid pada remaja dengan dismenore dan tanpa dismenore dan tidak terdapatperbedaan signifikan pada kadar tromboksan B 2 pada remaja dengan dismenore dan tanpa dismenore.Kata kunci: remaja, dismenore, malondialdehide, tromboksan B2 Abstract The precise cause of dysmenorrhea is still unclear, there may be increased lipid peroxidation process will activate the inflammatory mediators at endometrium that cause menstrual cramps (dysmenorrhea). The objective of this study was to determine the difference of malondialdehyde levels and thromboxane B 2 levels in dysmenorrhea and without dysmenorrhea. It was an observational study with comparative cross-sectional design. The subjects consisted of two groups, they are 23 adolescent with dysmenorrhea and 23 adolescents without dysmenorrhea, done in Juny -July 2014. Sample analysis was conducted in Laboratory of Biochemistry and Biomedical Laboratory of Andalas University Padang. The examination of Thromboxane B 2 levels used ELISA and the examination of malondialdehyde levels used a Thiobarbituric acid method. The results showed the mean of malondialdehyde levels in adolescents withdysmenorrhea was 2.60±0.63 µmol/ml, the mean level in adolescent without dysmenorrhea was 1.98±0.12 µmol/ml with probability p<0.05 (0.000), while the mean levels of thromboxane B 2 in adolescents with dysmenorrhea was 20.043±9.56 ng/ml, the mean level in adolescent without dysmenorrhea was 19.222±10.79 ng/ml, with probabilityp>0.05 (0.786). It can be concluded that there is a significant difference in the mean of malondialdehyde levels between adolescents with dysmenorrhea and without dysmenorrhea and there is no significant differences in thromboxane B 2 level between adolescents with dysmenorrhea and without dysmenorrheaKeywords: adolescent, dysmenorrhea, malondialdehyde, thromboxane B
Pengaruh Kebisingan Lalulintas terhadap Konsentrasi Belajar Siswa SMP N 1 Padang
AbstrakMasalah kebisingan karena lalulintas yang padat di daerah perkotaan menyebabkan sulitnya untuk mendapatkan lokasi sekolah yang tenang. Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Padang merupakan sarana pendidikan yang terletak di daerah perkotaan dan berada di pinggir jalan raya yang arus lalulintasnya padat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kebisingan lalulintas terhadap konsentrasi belajar siswa SMP N 1 Padang. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional comparative, dimana tingkat kebisingan dan tingkat konsentrasi belajar siswa dikumpulkan secara bersamaan. Pengukuran tingkat kebisingan menggunakan alat ukur sound level meter yang diukur pada dua titik yang berbeda, yaitu di sekitar kelas yang dekat dengan jalan raya dan di sekitar kelas yang jauh dari jalan raya. Tingkat konsentrasi belajar siswa diukur dengan menggunakan digit symbol test dan digit span test. Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji statistik chi square dengan derajat kepercayaan 95% (p=0,05). Hasil pengukuran tingkat kebisingan di sekitar kelas yang dekat dengan jalan raya sebesar 69.62 dB dan tingkat kebisingan di sekitar kelas yang jauh dari jalan raya sebesar 72.80 dB. Tingkat konsentrasi belajar siswa yang dekat dengan jalan raya menggunakan digit symbol test didapatkan jumlah siswa yang: kurang konsentrasi = 7, cukup konsentrasi = 33, dan dengan digit span test di dapatkan yang kurang konsentrasi =7 dan cukup konsentrasi = 33. Tingkat konsentrasi belajar siswa yang jauh dari jalan raya dengan menggunakan digit symbol test didapatkan: kurang konsentrasi = 5, cukup konsentrasi = 34 dan dengan digit span test di dapatkan: kurang konsentrasi = 9 dan cukup konsentrasi = 30. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat konsentrasi yang bermakna antara kelas yang dekat dengan jalan raya dan kelas yang jauh dari jalan raya.Kata kunci: kebisingan lalulintas, siswa, konsentrasi belajarAbstractNoise problems due to heavy traffic in urban area making it is difficult to get a quiet location. SMP N 1 Padang is educational facilities that is located alongside the borderline street in the center of city that has heavy traffic. The objective of this study was to determine the effect of traffic noise upon learning concentration of students in SMP N 1 Padang. The design of the research was cross-sectional comparative study. The instrument to measure the noise level was sound level meter. The noise is measured at two different point, the classroom that was close to the highway and the classroom that is away from the highway. Learning concentration level of student was measured by using digit symbol test and digit span test. Hypothesis analysis was done by chi square test with 95% of confidence level (p = 0.05). The measurement result of noise level around the classroom that was close to the highway was 69.62 dB and the noise level around the classroom that was away from the highway was 72.80 dB. The learning concentration level of the student that was close to the highway by using digit symbol test were: less concentration= 7, moderate concentration= 33, and by digit span test were: less concentration= 7, moderate concentration= 33. The learning concentration level of the student that was away from the highway by using the digit symbol test were: less concentration= 5, moderate concentration= 34, and by using the digit span test the result were: less concentration= 9, moderate concentration= 30. The result showed that there was no significant different level of learning concentration between students in classes that were close to the highway and classes that were away from the highway.Keywords: traffic noises, students, learning concentratio
Pengaruh Mobilisasi Ibu Post Partum terhadap Pengeluaran Kolostrum
AbstrakSasaran Making Pregnancy Safer (MPS) menurunkan Angka Kematian Bayi (AKB) hingga 28 per 1000 kelahiran hidup dengan salah satu upaya yang dapat dilakukan melalui pemberian kolostrum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh mobilisasi ibu post partum terhadap pengeluaran kolostrum. Penelitian ini merupakan quasi eksperimen dengan post test only group design. Data dianalisis menggunakan uji Chi-Square dan Fisher’s Exact Test. Hasil analisis data menunjukkan persentase pengeluaran kolostrum early pada kelompok intervensi 72,2% dan kelompok kontrol 50,0%. Persentase pengeluaran kolostrum late pada kelompok intervensi 27,8% dan kelompok kontrol 50,0%. Tidak terdapat pengaruh bermakna mobilisasi ibu post partum terhadap pengeluaran kolostrum dengan nilai p value 0,305 (>0,05). Tidak terdapat pengaruh bermakna tingkat stres dan IMT ibu terhadap pengeluaran kolostrum dengan nilai p value 1,000 (>0,05). Terdapat pengaruh bermakna daya hisap bayi terhadap pengeluaran kolostrum dengan nilai p value 0,047 (<0,05).Dari hasil penelitian disimpulkan persentase pengeluaran kolostrum early kelompok intervensi lebih besar dibandingkan kelompok kontrol, namun secara statistik tidak terdapat pengaruh bermakna mobilisasi ibu post partum terhadap pengeluaran kolostrum pada kedua kelompok tersebut. Tidak terdapat pengaruh bermakna tingkat stres dan IMT ibu terhadap pengeluaran kolostrum, terdapat pengaruh bermakna daya hisap bayi terhadap pengeluaran kolostrum.Kata kunci: post partum, mobilisasi, kolostrum,AbstractTarget of Making Pregnancy Safer (MPS) to improve Infant Mortality Rate (IMR) to 28 per 1000 live births. One of effort to do is giving colostrum. The objective of this study was to determine the effect of maternal postpartum mobilization against eject of colostrum. This study was a quasi experiment with post-test only group design. Data were analyzed using Chi-square and Fisher’s Exact test. Result of this study showed that early colostrums in the intervention group was 72.2% while in control group only 50%. Late colostrums in intervention group was 27.8% compared 50% in the control group. There was no significant effect between maternal postpartum mobilization against eject of colostrum with p value 0.305 (> 0.05). No significant effect on stress level and Body Mass Index (BMI) and eject of colostrum with p value was 1.000 (> 0.05) but significant effect occurred between infant suction power against colostrums spending with p value was 0.047 (< 0.05). It can be concluded that percentage of early eject of colostrum was greater in intervention group than in control group, but statistically there was no significant effect among maternal postpartum mobilization, stress level and BMI against colostrums spending in both group. Significant effect only showed between infant suction power against colostrums spending.Keywords: postpartum, mobilization, colostrum
Hubungan Jenis Organ dan Jumlah Organ yang Mengalami Gangguan dengan Prognosis dan Outcome pada Pasien Malaria Falciparum Berat di RSUP Dr. M. Djamil Padang
AbstrakMalaria merupakan penyakit tropik infeksi yang dapat menyebabkan kematian. Angka kematian malaria meningkat terutama pada malaria berat karena progresifitas penyakit sangat cepat menyebabkan kematian antara 18-72 jam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan jenis organ dan jumlah organ yang mengalami gangguan dengan prognosis dan out come pada pasien malaria falciparum berat. Jenis penelitian ini menggunakan observasional analitik dengan desain cross sectional yang dilaksanakan pada bulan Januari 2014 sampai Maret 2014 di bagian Rekam Medik RSUP Dr. M. Djamil Padang. Populasi penelitian ini adalah pasien malaria falciparum sebanyak sebanyak 37 orang dengan sampel sebanyak 13 orang dari populasi yang memenuhi kriteria sampel malaria falciparum berat. Analisis data menggunakan uji chi square dengan p<0,05. Hasil penelitian didapatkan sebagian besar (92,3%) pasien malaria falciparum berat mengalami gangguan organ, dimana jenis organ yang mengalami gangguan paling banyak (68,75%) adalah hati dan masih terdapat pasien yang mengalami gangguan tiga organ sebanyak 8,3%. Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara adanya gangguan organ dengan prognosis (p = 0,03), pasien malaria falciparum berat dengan gangguan organ otak, hati, limpa dan ginjal, dengan satu jenis organ atau lebih akan mengalami prognosis buruk. Tidak terdapat hubungan antara adanya gangguan organ dengan outcome (p = 1,00), pasien yang mengalami malaria falciparum berat dengan gangguan organ otak dan hati keluar dalam keadaan sembuh (outcome sembuh), dan terdapat hubungan yang bermakna antara jumlah organ dengan outcome (p = 0,02). Sedikitnya jumlah sampel, diharapkan ada penelitian selanjutnya dengan populasi dan jumlah sampel yang lebih banyak.Kata kunci: malaria falciparum berat, jenis organ, jumlah organ, prognosis, outcome.AbstractMalaria is tropic infection disease able to cause death. Mortality increases in severe malaria because progress of disease very quickly cause death in 18-72 hour. Target of this research is to know relation disfunction type organ and amount organ with prognosis and outcomes at severe malaria falciparum patient. This research was did use observational analytic with cross sectional design in January 2014 until March 2014 at the medical records RSUP M. Djamil Padang. Population in this research is malaria falcifarum patient there are 37 people with sampel is 13 one who represent population fulfilling criterion of sampel. Analysis by chi square with p<0.05. Result of research showed that most (92.3%) severe malaria falciparum patient experience disfunction of organ, where disfunction type organ at most (68.75%) is liver and still there are patient have three organ disfunction is 8.3%. Inferential that there are relation/ having a meaning of between existence of organ disfunction with prognosis (p = 0.03), severe malaria falciparum patient with disfunction brain, liver, kidney and spleen, with one organ type or more will experience of ugly prognosis. There are was no relation between existence of disfunction organ with outcome (p = 1.00), severe malaria falciparum patient with disfunction brain and liver, go out in a state of recovering (outcome recover), and there are having relation between amount of disfunction organ with outcome (p = 0.02). At least the amount of sampel, expected by there is research hereinafter with amount and population of sampel which is more and RSUP M. Djamil Padang shoud completing medical records.Keywords: severe malaria falciparum, type organ, amount of organ, prognosis, outcom
Removal of Foreign Body (Glass of Mirror) in Esophagus with Direct Laryngoscope
AbstractLiterature contains fewer reports discussing the use of direct laryngoscope in esophageal foreign body extraction. Foreign bodies in esophagus was diagnosed based on anamnesis, physical examination, radiological finding. The choice of treatment influenced by many factors, such as the patient’s age and clinical condition, the size and shape of the ingested foreign body, the anatomic location and the skills of the physician. A case of impacted glass of mirror in esophagus and mental disorder in a 38 years old male was reported, which had been perfomed direct laryngoscope and an extraction with Magill forcep.Keywords: Foreign body, glass of mirror, direct laryngoscope, Magill forcepAbstrakSedikit sekali kepustakaan yang membahas mengenai penggunaan laringoskopi langsung pada pengangkatan benda asing esofagus. Benda asing esofagus didiagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, radiologi. Pilihan penatalaksanaan dipengaruhi oleh usia pasien dan kondisi klinis, ukuran dan bentuk benda asing, lokasi anatomi dan kemampuan dokter.Dilaporkan satu kasus kaca cermin di esofagus pada laki-laki usia 38 tahun dengan gangguan mental, yang telah dilakukan laringoskopi langsung dan ekstraksi dengan forsep Magill.Kata kunci: Benda asing, kaca cermin, laringoskopi langsung, Forsep Magil