Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Hubungan Merokok dengan Kejadian Hipertensi pada Laki-Laki Usia 35-65 Tahun di Kota Padang
AbstrakHipertensi merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi pada masyarakat di dunia. Penyakit ini disebut juga the silent killer. Prevalensi hipertensi telah mencapai angka 31,7% dari semua penduduk. Peningkatan ini diakibatkan perubahan gaya hidup yang salah satunya merokok. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara kebiasaan merokok termasuk lama merokok, jumlah rokok dan jenis rokok dengan hipertensi. Desain penelitian berupa cross-sectional study. Populasi adalah laki-laki yang berusia 35-65 tahun di empat kecamatan terpilih di kota Padang. Jumlah subjek sebanyak 92 orang yang diambil secara multi stage random sampling. Instrumen dalam penelitian ini ialah kuesioner untuk data responden dan karakteristik kebiasaan merokok, serta sphygmomanometer untuk mengukur tekanan darah. Data dianalisis dengan uji chi-square dengan p < 0,05 untuk signifikansi. Hasil penelitian didapatkan ada hubungan antara kebiasaan merokok dengan hipertensi (p=0,003) yaitu dipengaruhi oleh lama merokok (p=0,017) dan jenis rokok (p=0,017), tetapi tidak terdapat hubungan antara jumlah rokok dengan kejadian hipertensi (p=0,412). Oleh karena kebiasaan merokok meningkatkan risiko hipertensi, penyuluhan kesehatan tentang risiko peningkatan tekanan darah terhadap penderita hipertensi yang memiliki kebiasaan merokok harus dilakukan. Hal ini diperlukan agar terjadi penurunan angka kejadian hipertensi.Kata Kunci: hipertensi, kebiasaan merokok, lama merokok, jumlah rokok, jenis rokok AbstractHypertension is one of the major causes of death in the world. This disease is called silent killer. The prevalence of hypertension has reached 31.7% of the population. It increases because of lifestyle changes, one of them is smoking. The objective of this study was to determine the association between smoking habits including duration of smoking, number of cigarettes, and type of cigarettes with hypertension. The research design was cross-sectional study. The population was 35-65 years old men in four selected districts in Padang. There were 92 subjects who were taken by multi-stage random sampling. The instruments of this research were questionnaire for data of respondents and smoking habit characteristics, also sphygmomanometer for blood pressure measurements. Data were analyzed by chi-square test with p value < 0.05 for significance. The result of this study showed that there is association between smoking habit and hypertension (p=0.003) which is influenced by duration of smoking (p=0.017) and type of smoking (p=0.017), but there is no association between number of cigarettes with the incidence of hypertension (p=0.412). As smoking habits increase the risk of hypertension, health promotion about the risk of blood pressure increasing in the patient who has a smoking habit should be done. It is important in order to decrease the incidence of hypertension.Keywords: hypertension, duration of smoking, number of cigarettes, type of cigarette
Hubungan Pertambahan Berat Badan Ibu Hamil terhadap Berat Bayi Lahir di Kota Pariaman
AbstrakPertumbuhan janin intrauterin sangat menentukan berat bayi lahir. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi berat bayi lahir, salah satunya adalah status gizi janin.Untuk mencapai status gizi yang diharapkan, ibu hamil harus mencapai penambahan berat badan yang ideal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pertambahan berat badan ibu hamil terhadap berat bayi lahir di kota Pariaman. Metode penelitian adalah analitik yang dilakukan di kota Pariaman dengan menggunakan data ibu melahirkan bulan Januari-Juni 2011. Ada 95 sampel yang digunakan dalam penelitian ini, didapatkan jumlah terbanyak pertambahan berat badan ibu pada range < 10 kg, yaitu sebanyak 39 orang dengan rerata 7,46 kg (± 1,274 SD) sedangkan berat badan yang >12,3 kg didapatkan 27 orang dengan rerata 17,39 kg (± 5,792 SD). Secara keseluruhan pertambahan berat badan ibu rerata dalam rentang normal, yaitu 11,29 kg (± 5,194 SD). Bayi dengan berat badan lahir rendah (≤ 2,5 kg) sebanyak 2 bayi (2,1%) dengan berat rerata 2,350 gram (± 0,2121 SD) sedangkan berat badan normal (>2,5 – 4 kg) adalah 92 bayi atau 96,8% dengan berat rerata 3,176 gram (± 0,3339 SD). Secara keseluruhan berat bayi lahir rratae yang didapatkan adalah 3,169 kg (± 0,3661 SD). Berdasarkan hasil uji korelasi, didapatkan r = 0,103 dan p = 0,323 (>0,05). Disimpulkan bahwa tidak ada hubungan signifikan antara pertambahan berat badan ibu hamil terhadap berat bayi lahirdi kota Pariaman.Kata kunci: pertambahan berat badan ibu hamil, berat bayi lahir, pertumbuhan janin intrauterin, status gizi janin AbstractThe intrauterine fetal growth is very affect the birth weight. Many factors that can affect birth weight is one of the nutritional status of the fetus. To achieve the expected nutritional status of pregnant, women have reached the ideal weight gain. The objective of this study was to determine the relationship of maternal weight gain on infant birth weight in Pariaman. The method of this study is analytical in Pariaman. Pregnant women’s data taken from January until June 2011.There were 95 samples used in this study.Obtained the highest number of maternal weight gain, we found that the average of birth weight, range < 10 kg, as many as 39 samples with an average 7.46 kg (± 1.274 SD), whereas sample with a weight gain of more than 12.53 kg as many as 27 samples with an average 17.39 kg (± 5.792 SD). Overall maternal weight gain in the average is normal, the average is 11.29 kg (± 5.194 SD). Obtained birth weight, infant with low birth weight (≤ 2.5 kg) as many as 2 samples (2.1%) with an average 2.350 kg (± 0.2121 SD) whereas sample withnormal birth weight (> 2.5 – 4 kg) as many as 92 samples,(96.8%)with weight in the average is normal, 3.176 gram (± 0.3339 SD). Overall birth weight int the average is normal, the average is 3.169 kg (± 0.3661 SD). Based on the test result showed that the correlation, r = 0.103 and p = 0.323 (> 0.05). It can be concluded that there is no significant relationship between maternal weight gain on infant birth weight in Pariaman.Keywords: maternal weight gain, birth weight, intrauterine fetal growth, nutritional status of the fetu
Karakteristik Penderita Dispepsia Fungsional yang Mengalami Kekambuhan di Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang, Sumatera Barat Tahun 2011
AbstrakDispepsia merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering ditemui dokter dalam praktek sehari-hari. Prevalensi dispepsia fungsional di Inggris mencapai 23,8%, sedangkan di Amerika Serikat 15%. Di Indonesia belum terdapat prevalensi penyakit ini secara keseluruhan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik penderita dispepsia yang mengalami kekambuhan di RSUP Dr. M. Djamil Padang, Sumatera Barat tahun 2011. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain cross sectional. Populasi sebanyak 63 data penderita tetapi sampel yang memenuhi syarat hanya 42 penderita. Proporsi tertinggi penderita dispepsia adalah kelompok umur 46-55 tahun (38,1%), jenis kelamin perempuan (64,3%), suku minang (97,6%), agama Islam (100%), tingkat pendidikan akademik/PT (50,0%), pekerjaan ibu rumah tangga (35,7%), dan status telah kawin (71,4%). Kepada praktisi kesehatan atau dokter lini pertama agar dapat memaksimalkan usaha-usaha promosi kesehatan, sehingga masyarakat mendapat pengetahuan terutama mengenai sindrom dispepsia fungsional.Kata kunci: dispepsia fungsional, karakteristik penderita, kekambuhan AbstractDyspepsia is one of the common health problems that found by the doctors in daily practice. Prevalence rate of functional dyspepsia in the England is about 23.8% while in United Stated is about 15%. In Indonesia, there has been no overall disease prevalence. The objective of this study was to investigate the characteristics of hospitalized patients with dyspepsia who have a relapse at Dr M. Djamil Hospital Padang, West Sumatra in 2011. This study uses descriptive cross sectional design. Population data were 63 patients but only 42 samples were taken. The highest proportion of dyspeptic patients was 46-55 years age group (38.1%), female (64.3%), ethnic Minang (97.6%), Moslem (100%), education level Academic (50.0%), Housewife (35.7%), and Married (71.4%). Health practitioners or physician in order to maximize the health promotion efforts, so that people get the knowledge, especially regarding functional dyspepsia syndrome.Keywords: functional dyspepsia, patient characteristics, relapsin
Hubungan Stres dengan Kejadian Dismenore Primer pada Mahasiswi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
AbstrakDismenore primer merupakan nyeri menstruasi yang dijumpai tanpa kelainan yang nyata pada alat-alat genital. Lebih dari 50% wanita mengalami dismenore primer dan 15% diantaranya mengalami nyeri yang hebat.Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan tingkat stres dengan derajat dismenore primer. Penelitian dilakukan pada mahasiswi pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Andalas angkatan 2009 dan 2010. Desain penelitian ini menggunakan cross sectional study dengan jumlah subjek 165 orang. Pengumpulan data dari responden dilakukan dengan wawancara terpimpin (pengisian kuesioner). Analisa statistik yang digunakan adalah uji chi-square dan uji koefisien korelasi sederhana. Uji chi-square menunjukan ada hubungan yang bermakna antara stres dengan kejadian dismenore primer dan uji statistik koefisien korelasi sederhana menunjukkan ada hubungan yang bermakna dengan korelasi agak lemah antara tingkat stres dengan derajat dismenore primer.Kata kunci: stres, dismenore primer, mahasiswi fakultas kedokteran AbstractPrimary dysmenorrhoea is menstrual pain founded without real abnormalities in genital organs. More than 50% woman experiance it and 15% had severe pain. The objective of this study was to determine relationship between stress and primary dysmenorrhoea. Research was executed to education medical female students medical faculty of Andalas University class of 2009 and 2010. This research use cross sectional study design with 165 subjects. Data was collected by guided interview. Statistic analysis use chi-square test and simple correlation test. Chi-square test show there is significant relationship between stress and primary dysmenorrhoea and simple coefficient test show there is weak correlation between stress levels and degree of primary dysmenorrhoea.Keywords: stress, primary dysmenorrhoea, female student of medical facult
Perbedaan Daya Hambat Bakteri dari Propolis Cair yang Ada di Pasaran Terhadap Escherichia Coli dan Staphylococcus Aureus Secara In Vitro
Abstrak Propolis adalah zat yang digunakan lebah melindungi sarangnya dari berbagai ancaman. Komponen utama propolis adalah resin yang dikumpulkan lebah dan dicampur dengan air liurnya. Manusia juga menggunakan propolis sebagai obat berbagai penyakit, seperti infeksi bakteri. Propolis memiliki kemampuan antibakteri terhadap Escherichiacoli dan Staphylococcus aureus. Kualitas dan jenis propolis sesuai dengan komposisi kimia, iklim dan tempat berkembang biak. Tujuan penelitian ini adalah melihat perbedaan daya hambat bakteri Propolis cair 1 dan Propolis cair 2 yang ada di pasaran terhadap Escherichia coli dan Staphylococcus aureus secara in vitro. Propolis yang akan diuji adalah propolis cair yang ada di pasaran dipilih dua secara acak. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2013 di laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Jenis penelitian eksperimentalmenggunakan metode difusi (metode cakram) dan analitik dengan menghubungkan perbedaan kedua propolis sebagai antibakteri. Hasil penelitian ini menunjukkan propolis cair 1 dan propolis cair 2 yang ada di pasaran tidak memiliki efek antibakteri terhadap Escherichia coli dan terdapat perbedaan daya hambat bakteri dari kedua propolisterhadap Staphylococcus aureus. Propolis cair 2 (diklaim berasal dari Selandia baru) memiliki daya hambat bakteri yang lebih baik daripada propolis cair 1 (diklaim berasal dari Malaysia).Kata kunci: propolis cair, perbedaan daya hambat bakteri, Escherichia coli, Staphylococcus aureusAbstract Propolis is substance which use to protect bee hive from various threat. The main component of propolis is resin which is collected and mixed with saliva. The human also use propolis as a treatment against various illness such as bacterial infection. Propolis has an antibacterial effect to Escherichia coli and Stahpylococcus aureus. The quality and type of propolis is also in accordance with chemical composition, climate and their breeding location. The objective of this study was to find out the differentiation of the antibacterial effect of Propolis 1 and Propolis 2 in the market to Escherichia coli and Staphylococcus aureus by in vitro. Propolis to be tested for this study is random liquid propolis in the market. Research was conducted in January 2013 in the laboratory of Microbiology Faculty of Medicine, University of Andalas. This type of study was the experimental diffusion method (disc method) and the analytic distinction owned by linking two of propolis as an antibacterial effect. These results indicate that propolis 1 and propolis 2 have no ability antibacterial effect to Escherichia coli, and both of propolis have differences antibacterial effect to Staphylococcus aureus. Propolis 2 (from New Zealand claimed) has antibacterial effect better than propolis 1 (from Malaysia claimed).Keywords: propolis, differentiation of the antibacterial effect, Escherichia coli, Staphylococcus aureu
Hubungan Kejadian Perdarahan Postpartum dengan Faktor Risiko Karakteristik Ibu di RSUP Dr. M. Djamil Padang pada Januari 2012 - April 2013
Abstrak  Banyak faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya perdarahan postpartum, yaitu karakteristik ibu seperti: usia, paritas dan tingkat pendidikan ibu. Tujuan penelitian ini adalah meneliti lebih lanjut tentang hubungan perdarahan postpartum dengan faktor risiko karakteristik ibu. Penelitian dilakukan di Sub bagian Rekam Medik RSUP Dr. M. Djamil, Padang. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional study dengan jumlah sampel sebanyak 64 orang. Pengambilan sampel dilakukan mulai pada Januari 2012 hingga bulan April 2013. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi-square dengan α = 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perdarahan terbanyak adalah perdarahan postpartum primer (81,3%). Untuk etiologi terbanyak adalah sisa plasenta (35,9%). Berdasarkan segi faktor risiko karakteristik ibu, dari segi usia kejadian perdarahan postpartum banyak dialami oleh responden dengan usia reproduksi sehat (20 – 34 tahun) sebesar 76,6%, dari segi faktor risiko paritas yang tertinggi adalah multiparitas (59,4%) dan faktor risiko tingkat pendidikan ibu yang tertinggi yaitu pada ibu dengan tingkat pendidikan tinggi (SMA keatas) sebesar 70,3%. Uji statistik chi square menunjukkan tidak terdapat hubungan yangbermakna antara perdarahan postpartum dengan usia, paritas dan tingkat pendidikan (p > 0,05). Dari hasil penelitian diatas diharapkan kepada peneliti selanjutnya meneliti faktor risiko lain yang dapat meningkatkan kejadian perdarahan postpartum, dari faktor risiko karakteristik ibu misalnya jarak kehamilan yang pendek, lama partus, riwayat persalinanburuk sebelumnya, riwayat perdarahan antepartum ataupun postpartum, riwayat operasi caesar, makrosomia, kehamilan multipel dan faktor dari tenaga penolong partus serta faktor tempat partus/ fasilitas bersalinKata kunci: perdarahan postpartum, faktor risiko ibu, tingkat pendidikan ibuAbstract Many factors that increase the risk of postpartum hemorrhage, one of them is mothers characteristics risk factor. Some of which are age, parity and maternal education level. The objective of this study was to investigate the relevance postpartum hemorrhage incidence with mothers characteristics risk factors. The research was conducted at the medical records subsection in RSUP Dr. M Djamil, Padang. This research is a cross sectional design with a total samples were 64 subject . Sampling was conducted starting in January 2012 until April 2013. Statistical analysis used was the chi square test with α = 0.05. Results of this research showed that highest hemorrhage is of primary postpartum hemorrhage (81.3%). For highest etiology is retained placenta (35.9%). Based on mothers characteristics aspect of risk factors, viewed in terms of age, the incidence of postpartum hemorrhage experienced by respondents with healthy reproductive age (20-34 years) was 76.6%. In terms of the parity of the highest risk factors are multiparity (59.4%). And the highest risk factors for maternal education levels are women with a high education level (above the senior high school) was 70.3%. Chi Square statistical test showed no significant correlation between postpartum hemorrhage with age, parity and educational level (p> 0.05). Keywords: postpartum hemorrhage, mothers risk factors, maternal education levelsÂ
Hubungan Karakteristik dan Tingkat Pengetahuan Petugas Imunisasi terhadap Praktik Penyimpanan dan Transportasi Vaksin Imunisasi di Tingkat Puskesmas Kota Padang Tahun 2014
Abstrak Rantai dingin sangat penting dipertahankan selama distribusi dan penyimpanan vaksin untuk mencapai efektifitas vaksin. Petugas Imunisasi di layanan primer harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik mengenai transportasi dan penyimpanan vaksin. Penelitian dilaksanakan di seluruh puskesmas Kota Padang padaMaret 2014, dengan menggunakan desain cross sectional. Jumlah sampel adalah 21petugas imunisasi dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan observasi. Hasil penelitian didapatkan responden dengan pengetahuan yang baik tentang penyimpanan dan transportasi vaksin sebesar 61,9% dan praktik penyimpanan dan transportasi vaksin di Puskesmas yang baik sebesar 61,9%. Berdasarkan uji statistik, didapatkan tidak adanya hubungan umur, tingkat pendidikan, masa kerja dan pengalaman pelatihan petugas imunisasi dengan praktik penyimpanan dan transportasi vaksin di Puskesmas tetapi terdapat hubungan pengetahuan petugas dengan praktik. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa tidak terdapatnya hubungan karakteristik petugas imunisasi dengan praktik penyimpanan dan transportasi vaksin dan terdapatnya hubungan bermakna antarapengetahuan petugas dengan praktik penyimpanan dan transportasi vaksin di Puskesmas Kota Padang.Kata kunci: karakteristik, pengetahuan, penyimpanan, transportasi vaksinAbstract Preserving the cold chain during distribution and storage is critical to achieve the effectiveness of the vaccine. Immunization workers in primary health care should have a good knowledge and understanding about the handling and storage of the vaccine. The experiment was conducted in all health centers Padang in 2014 March, using a crosssectional design. Total samples 21 immunization workers with total sampling. The data was collected using questionnaires and observation. The results showed respondents with good knowledge about vacci ne storage and handling of 61.9% and vaccine storage and handling practices in health centers of 61.9% which is good. Based on statistical tests, found no rellation between age, education, years of working and training experience of immunizationworkers with vaccine storage and handling practices in health care but a significant correlation between knowledge with practice. Based on the results of the study concluded that the absence of the relations between characteristic immunization workers with vaccine storage and handling practices and a significant correlation between knowledge workers with practical storage and handling of vaccines at the health center of Padang.Keywords: characteristics, knowledge, storage, handling of vaccine
102 Jurnal Kesehatan Andalas. 2015; 4(1) Pola Komplikasi Kronis Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Inap di Bagian Penyakit Dalam RS. Dr. M. Djamil Padang Januari 2011 - Desember 2012
AbstrakDiabetes Melitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia. DM tipe 2 adalah yang paling sering ditemukan. Komplikasi kronis DM tipe 2 yaitu mikrovaskular dan makrovaskular yang dapat menurunkan kualitas hidup penderita. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran tentang insidensi penderita DM tipe 2 dengan komplikasi kronis. Penelitian deskriptif ini dilakukan dengan mengambil data pada rekam medik penderita DM tipe 2 dengan komplikasi kronis yang dirawat inap di bagian Penyakit Dalam RS.Dr. M. Djamil, Padang Januari 2011-Desember 2012. Penelitian dilakukan dari Februari 2013-April 2013 di bagian rekam medik RS. Dr. M. Djamil Padang. Data didapatkan sebanyak 261 pasien, dari jumlah tersebut didapatkan 197 pasien memiliki komplikasi kronis DM tipe 2. Data dikategorikan berdasarkan jenis komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penderita dengan komplikasi kronis makrovaskular (66,5%) dan mikrovaskular (81,7%). Terdapat perubahan insidensi dalam dua tahun yaitu dari tahun 2011 dengan 2012. Komplikasi kronis yang paling sering terjadi adalah nefropati diabetik (42,6%) pada perempuan <60 tahun.Kata kunci: diabetes melitus, komplikasi mikrovaskular, komplikasi makrovaskularAbstractDiabetes mellitus is a group of metabolic diseases with characterized by hyperglycemia. Type 2 diabetes is the most common disease in the world. Chronic complications of type 2 diabetes are microvascular and macrovascular complications that can reduce the quality of life of patients. The objective of this study was to obtain a picture of the incidence of type 2 diabetic chronic complications. This descriptive study was conducted by taking medical record data of hospitalized type 2 diabetic patients with chronic complications inInternal Medicine Department Dr. M. Djamil hospital, Padang on January 2011-December 2012. The study was conducted from February 2013-April 2013 at the hospital medical record Dr. M. Djamil, Padang. This study was conducted on 261 patients, from that number 197 patients have chronic complications of type 2 diabetes mellitus. Data were categorized by type of macrovascular and microvascular complications.The results showed that patients with chronic complications of macrovascular (66,5%) and microvascular (81,7%). There is a change in incidence from 2011 to 2012. The most common of chronic complications is diabetic nephropathy (42.6%). Chronic microvascular and macrovascular complications are different incidence in two years, the most common is diabetic nephropathy which often occurs in women <60 years.Keyword: diabetes mellitus, microvascular complication, macrovacular complication
Gambaran Tingkat Depresi pada Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di RSUP DR. M. Djamil Padang
AbstrakDepresi merupakan salah satu dari gangguan mood yang utama. Tanda dan gejala lain gangguan mood adalah perubahan tingkat aktivitas, kemampuan kognitif, pembicaraan dan fungsi vegetatif seperti tidur, nafsu makan, aktivitas seksual dan irama biologis lainnya. Perubahan tersebut hampir selalu menyebabkan gangguan fungsi interpersonal, social, dan pekerjaan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat depresi pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUP Dr. M. Djamil. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional study. Subjek diambil dari seluruh populasi yang memenuhi kriteria inklusi menggunakan teknik total sampling, Subjek yang memenuhi kriteria inklusi diwawancarai menggunakan The Hamilton Rating Scale For Depression dari seluruh populasi didapatkan 16 subjek yang memenuhi kriteria. Hasil yang didapatkan ialah 9 responden (56,25%) tidak mengalami depresi, depresi ringan 6 responden (37,50%) dan depresi sedang 1 responden (6,25%). Dapat disimpulkan tingkat depresi terbanyak pada pasien penyakit ginjal kronik yang menjalani hemodialisis di RSUP DR. M. Djamil tahun 2013 adalah tingkat depresi ringan. Karakteristik responden terbanyak yang mengalami depresi adalah sebagai berikut: umur 40-49 tahun, perempuan, menikah, berpendidikan terakhir SMA, pekerjaan ibu rumah tangga dan tidak bekerja.Kata kunci: depresi, penyakit ginjal kronik, hemodialisisAbstractDepression is one of the major of mood disorders. Other signs and symptoms of mood disorders are changes in the level of activity, cognitive ability, speech and vegetative functions such as sleep, appetite, sexual activity and other biological rhythms. Such changes always lead to malfunction of interpersonal, social and employment. The objective of this study was to describe the level of depression in patients with chronic kidney disease who undergoing hemodialysis at RSUP Dr. M. Djamil Padang. This was a descriptive study using a cross sectional design. Subject were taken from the entire population who met the inclusion criteria using total sampling technique, subject who met the inclusion criteria were interviewed using the Hamilton Rating Scale for Depression, of the entire population obtained 16 subjects that meet the criteria. From this study, a 9 respondents (56.25%) did not experience depression, 6 respondents (37.50%) mild depression and 1 respondent (6.25%) moderate depression. It can be concluded highest rates of depression in patients with chronic kidney disease undergoing hemodialysis at RSUP DR. M. Djamil Padang in 2013 in the level of mild depression. Most characteristics of the respondents who were depressed were as follows : age 40-49 years, female, married, educated, past high school, housewives work and do not work, 13-18 months undergoing hemodialysis.Keywords: depression, chronic kidney disease, hemodialysi
Hubungan Anxietas dengan Kejadian Amenore Sekunder pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
AbstrakAmenore sekunder merupakan salah satu gangguan siklus menstruasi yang berkaitan dengan penurunan fertilitas dan gangguan kesehatan organ reproduksi. Anxietas merupakan faktor yang dapat menyebabkan amenore sekunder. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan anxietas dengan kejadian amenore sekunder pada mahasiswi pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Andalas angkatan 2009 dan 2010 yang dipilih sebagai subjek. Penelitian ini menggunakan cross sectional study dengan jumlah subjek 193 orang. Pengumpulan data dari responden dilakukan dengan wawancara terpimpin (pengisian kuesioner). Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi square. Hasil penelitian menemukan bahwa kejadian amenore sekunder lebih banyak terjadi pada responden yang mengalami anxietas (36,3%), jika dibandingkan dengan responden yang tidak mengalami anxietas (2,1%). Uji statistik chi square menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara anxietas dengan kejadian amenore sekunder (p<0,05) dan ada hubungan yang bermakna antara tingkat anxietas dengan kejadian amenore sekunder berdasarkan uji statistik chi square (p<0,05).Kata kunci: anxietas, amenore sekunder, mahasiswiAbstractSecondary amenorrhea is one a menstrual cycle disturbances have been associated with decreased fertility and various health disorderson reproductive systems. Anxiety have been found at risk of disturbances of the secondary amenorrhea.The objective of this study was to determine the association of anxiety with secondary amenorrhea in female medical faculty of Andalas University.This study used cross sectional study design with 193 samples. Data was collected by guided interview. Statistic analysis used chi square test. Result of this study found that incidence of secondary amenorrhea is more common in women who experience anxiety (36,3%), when compared with who did not has anxiety (2,1%). Chi square test statistic showthere was significant relationship between anxiety and secondary amenorrhea (p<0,05) and also there is significant relationship between anxiety levels and secondary amenorrhea base on statistic square test (p<0,05).Keywords:anxiety,secondary amenorrhea,female medical facult