Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Aspirasi Benda Asing Paku dengan Komplikasi Atelektasis Paru dan Aspirasi Benda Asing Jarum Pentul Tanpa Komplikasi
Abstrak Aspirasi benda asing bronkus adalah masalah yang sering pada anak-anak dan merupakan masalah seriusserta bisa berakibat fatal. Sebagian besar aspirasi benda asing di bronkus pada anak-anak karena kecenderunganmemasukkan sesuatu ke mulut, pertumbuhan gigi molar yang belum lengkap, kurangnya pengawasan dari orang tuadan lain-lain. Aspirasi jarum pentul di bronkus biasanya terjadi pada wanita remaja muslim yang menggunakan jilbab.Benda asing tajam di bronkus harus segera dikeluarkan dalam kondisi dan peralatan optimal untuk mencegahkomplikasi yang timbul. Komplikasi akibat aspirasi benda asing tajam yang paling sering berupa perforasi jalan nafas,trakeitis, bronkitis, jaringan granulasi, efusi pleura dan atelektasis. Tindakan bronkoskopi merupakan pilihan untukekstraksi benda asing tajam yang teraspirasi. Dilaporkan dua kasus aspirasi benda asing tajam di bronkus yaitu padaseorang anak laki-laki, berusia 6 tahun dengan aspirasi paku dengan komplikasi atelektasis paru dan seorang anakperempuan, berusia 14 tahun dengan aspirasi jarum pentul tanpa komplikasi yang telah berhasil diekstraksimenggunakan bronkoskopi kaku.Kata kunci: benda asing tajam di bronkus, aspirasi paku, aspirasi jarum pentul, atelektasis, bronkoskopi kaku  Abstract Bronchial foreign body aspiration is a common problem in children and it is a serious problem that can befatal. Most of bronchial foreign body aspiration occur in children because of the tendency to put something into themouth, the molar growth is not yet complete, the lack of supervision from parents and others situation . Aspiration of apin in the bronchi usually occurs in adolescent Muslim women who wear headscarf. Sharp foreign bodies in thebronchi must be removed immediately and the optimal equipment to prevent complications. Complications due tosharp foreign bodies aspiration most often in the form of perforation, tracheitis, bronchitis, granulation tissue, pleuraleffusion and atelectasis. Bronchoscopy is the management for aspirated sharp foreign body extraction  Reported two cases of a sharp foreign body aspiration is a boy, aged 6 year old with nail aspiration complication withlung atelectasis and a girl, aged 14 year old with aspirations of a pin without complications that have been successfully extract using rigid bronchoscopy . Arial 9 italicKeywords: sharp foreign bodies in the bronchi, nail aspiration, pin aspiration, atelectasis, rigid bronchoscop
Spondilitis Tuberkulosa Cervical
Abstrak Spondilitis tuberkulosa servikalis adalah penyakit yang cukup jarang dijumpai, hanya berkisar 2-3% dariseluruh kasus spondilitis tuberkulosa. Gambaran klinis sangat bervariasi, mulai dari gejala ringan dan tidak spesifikhingga komplikasi neurologis yang berat. Seorang wanita berusia 29 tahun datang dengan keluhan lemah keempatanggota gerak yang semakin memberat dalam 10 hari terakhir yang didahului oleh nyeri leher yang menjalar ke bahudan lengan sejak 6 bulan sebelumnya. Nyeri awalnya dirasakan sebagai keterbatasan gerakan leher saat menolehkesamping kiri dan kanan serta menundukkan kepala. Nyeri dirasakan semakin berat dengan pergerakan danberkurang jika istirahat. Pasien mengalami penurunan berat badan sejak 2 bulan terakhir. Tidak dijumpai riwayat batukatau nyeri dada. Pemeriksaan neurologis menunjukkan kelemahan pada keempat ekstremitas. Hasil laboratoriumditemukan peningkatan Laju Endap Darah (LED). Rontgen foto toraks dalam batas normal. Roentgen foto cervicalmenunjukkan destruksi setinggi C5. MRI cervical menunjukkan destruksi pada korpus C5-6 dengan penyempitan padadiscus intervertebrae C5-6 disertai dengan massa/abses paravertebral dengan penekanan ke posterior. MRI Thorakaltampak destruksi corpus verebre T4,5 dengan diskus intervertebralis yang menyempit. Sugestif suatu spondilitistuberkulosa. Pasien dilakukan tindakan pembedahan anterior corpectomi melalui microscopic surgery dengan graftdari iliac sinistra, serta insersi anterior plate 1 level. Hasil pemeriksaan patologi anatomi menunjukkan spodilitis TBCkaseosa. Pada spondilitis vertebre T4,5 dilakukan laminectomi, debridement costotrasversektomi, dan stabilisasidengan pedicle screw T2, T3, dan T5. Pasien diterapi dengan obat antituberkulosis. Keadaan pasien saat ini, pasiensudah bisa beraktifitas normal dengan motorik dan sensorik baik. Spondilitis tuberkulosa merupakan bentuktuberkulosa tulang yang paling sering dijumpai. Spondilitis tuberkulosa cervical berkisar 2-3% kasus spondilitistuberkulosa. Keterlibatan spinal biasanya merupakan akibat dari penyebaran hemaKata kunci: spondilitis TB, cervical, pembedahan Abstract Cervical tuberculous spondylitis is a fairly rare disease, only about 2-3% of all cases of tuberculousspondylitis. The clinical features vary widely, ranging from mild and non-specific symptoms until the fatal neurologicalcomplications. A 29-year-old woman came with a complaint weakness of the four limbs become heavy in the last 10days, were preceded by neck pain that radiates to the shoulders and arms since 6 months earlier. Pain was initiallyperceived as a limitation of neck movement when turned to the left and right side, and bowed his head. Perceived painexacerbated by movement and reduced if the rest. Patients lost weight since the last 2 months. Found no history ofcough or chest pain. Neurologic examination showed weakness in four extremities. Laboratory results found increasedErythrocyte Sedimentation Rate (ESR). X-ray radiographic normal. Cervical x-ray photograph shows destruction ashigh as C5. MRI shows destruction in the corpus C5-6 with narrowing at C5-6 intervertebre disc accompanied byparavertebral abscess with emphasis to the posterior. Found destruction corpus verebre T 4.5 with intervertebral discnarrowing. Suggestive of a tuberculous spondylitis. At 5.6 C spondylitis vertebre anterior corpectomi following surgery,microsurgery with iliac graft, and insertion one level anterior plate. Anatomical Pathology examination showedcaseating tuberculosis spodilitis. At T 4.5 vertebre spondylitis done laminectomi, costotrasversektomi debridement, andstabilization with pedicle screw T2, T3, and T5. Patients also treated with anti-tuberculosis drugs. Present status,patient is able to perform daily activity with sensoric and motoric good. Tuberculous Spondylitis is the most common form of tuberculosis that affect the bone. Cervical Tuberculous spondylitis ranges from 2-3% of cases of tuberculousspondylitis. Spinal involvement is usually the result of hematogenous spread ekstraspinal lesions. Diagnosis is basedon history, clinical and radiological feature. Treatment consists of antituberculosis drug with or without surgicalintervention. The patient treat surgical intervention and anti-tuberculosis drug. Present status, patient is able to performdaily activity with sensoric and motoric good.Keywords:spondilitis TB, cervical, Surger
Perbedaan Kadar C-Reactive Protein Serum Ibu pada Kehamilan Aterm Ketuban Pecah Dini dan Kehamilan Normal
Abstrak Kehamilan dengan Ketuban Pecah Dini (KPD) masih merupakan masalah penting dalam bidang obstetri, karena berkaitan dengan penyulit atau komplikasi yang dapat meningkatkan morbiditas serta mortalitas maternal dan perinatal. Salah satu faktor risiko KPD yaitu infeksi. C-reactive protein (CRP) merupakan salah satu protein yang meningkat pada saat terjadi infeksi. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan kadar CRP serum ibu pada kehamilan aterm KPD dan normal. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan crosssectional. Dilaksanakan di Ruang Kebidanan RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi tahun 2014. Sampel penelitian ini adalah ibu hamil aterm dengan jumlah 60 orang yang diambil dengan Consecutive Sampling, sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu ibu hamil ketuban pecah dini dan ibu hamil normal. Pemeriksaan kadar CRP dengan menggunakanmetode ELISA. Data dianalisa menggunakan t-test independent, dan nilai p<0.05 dianggap bermakna secara statistik. Rerata kadar CRP serum pada kelompok KPD adalah 12,40±0,70 dan pada kelompok hamil normal adalah 6,44+2,36. Hasil uji independen t-test menunjukan terdapat perbedaan bermakna rerata kadar CRP serum antara kelompok KPDdengan kelompok kehamilan normal (p<0,05). Kata Kunci: C-reactive protein, ketuban pecah dini, kehamilan normalAbstract Pregnancy with prematur rupture of membrane (PROM) still become an important matter in obstetric, as it relates to complication which can increase maternal and perinatal morbidity and mortality. Infection is one of many risk factors of PROM. C-reactive protein is a protein which elevated when there is an infection. The objective of this study was to determine the difference of maternal C - reactive protein serum levels in term pregnancy with prematur rupture of membrane and normal pregnancy. This is an observational study with cross-sectional design. This study takes place in maternity room of RSUD Dr. Achmad Mochtar Bukittinggi in 2014. Samples in this study are 60 aterm pregnant women which have been chosen by consecutive sampling, samples divided with pregnant women with PROM and normal pregnant women. CRP levels measured with ELISA method. Data were analyzed using analysis ofindependent t-test, and p<0.05 was considered to be significantly different. CRP serum levels mean in term pregnancy with PROM group is 12.40±0.70 and in normal pregnancy group is 6.44+2.36. Independent t-test analysis showed that there was significant difference of maternal C - reactive protein serum levels between in term pregnancy with PROMand normal pregnancy with p value < 0.05. Keywords: C – reactive protein, preterm rupture of membrane, normal pregnanc
Perbandingan Efektivitas Obat Kumur yang Mengandung Chlorhexidine dengan Povidone Iodine terhadap Streptococcus
AbstrakPenyakit gigi menempati urutan ke-6 dari keluhan masyarakat atau 5.21% dari 25.13% masyarakat yang mengeluh sakit gigi. Hasil Survei Kesehatan Nasional 1995, mendapatkan 90% rumah tangga memiliki sikat gigi sehingga dapat diasumsikan bahwa masyarakat sadar akan pentingnya kesehatan gigi, tetapi tidak diimbangi dengan pengetahuan yang cukup dalam pemeliharaanya, sehingga perlu cara lain untuk mengontrol plak yaitu dengan obat kumur. Streptococcus mutans adalah bakteri yang banyak ditemukan dalam rongga mulut. Sifat anti bakteri obat kumur terutama ditentukan oleh bahan aktif yang terkandung di dalamnya seperti Chlorhexidine dan Povidone iodine. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan efektivitas obat kumur Chlorhexidine dan Povidone iodine terhadap Streptococcus mutans. Penelitian ini berjenis eksperimental dengan rancangan penelitian true experiment dengan post test only with control group design dengan jumlah sampel 16 kali pengulangan. Pengumpulan data dilakukan dengan pengukuran diameter zona hambat (halo) sekitar cakram. Hasil penelitian ini menunjukan rerata zona hambat sediaan chlorhexidine adalah 19,4 mm, dan povidone iodine adalah 7,6 mm. Dari hasil pengukuran zona hambat, sediaan yang membentuk zona hambat rata-rata paling besar adalah sediaan obat kumur yang mengandung clorhexidine.Kata kunci: chlorhexidine, povidone iodine, streptococcus mutansAbstractDental disease ranks 6th of public complaints or 5.21% from 25.13% of the people who complained of a toothache. National Health Survey, 1995, get 90% of households have a toothbrush so that it can be assumed that the public are aware of the importance of dental health, but not balanced with sufficient knowledge in caretaker, therefore it needs another way to control plaque mouthwash. Mouthwash is a solution or liquid used to help provide freshness in the oral cavity and clean the mouth of plaque and organisms that cause disease in the oral cavity. Streptococcus mutans is one of the microorganisms that are found in the oral cavity is a major cause of oral diseases. Antibacterial mouthwash is mainly determined by the active ingredients contained in them such as Chlorhexidine and Povidone iodine.The objective of this study was to compare the effectiveness of Chlorhexidine mouthwash and Povidone iodine against Streptococcus mutans. Experimental research of this type with the study design True Experiment with Posttest Only Control Group Design with a sample of 16 repetitions. Data collection is done by measuring the diameter of inhibition zone ( halo ) around the discs. The results of this study showed an average inhibition zone Chlorhexidine preparation is 19.4 mm, and povidone iodine was 7.6 mm. Judging from the results of inhibition zone measurement, stocks that make up the average zone of inhibition is greatest mouthwash preparations containing clorhexidine.Keywords:Chlorhexidine, Povidone iodine, Streptococcus mutan
Hubungan Kadar Gula Darah saat Masuk Rumah Sakit dengan Jenis Sindroma Koroner Akut di RS Dr. M. Djamil Padang
AbstrakSindrom Koroner Akut (SKA) merupakan spektrum dari penyakit arteri koroner yang tidak stabil, mulai dari angina pektoris tidak stabil sampai infark miokardium. SKA terbagi atas Unstable Angina Pectoris (UAP), ST elevation myocardial infarction (STEMI), Non-ST elevation myocardial infarction (NSTEMI). Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan antara kadar gula darah saat masuk rumah sakit dan jenis SKA. Metode penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Penelitian dilakukan di Instalasi Rekam Medik RS Dr. M. Djamil Padang dengan mengambil data pasien SKA dari Januari 2012 sampai Desember 2012. Hasil penelitian ini didapatkan jenis SKA dengan gula darah yang tidak normal dari 60 sampel, yaitu: UAP 25%, NSTEMI 35%, STEMI 40%. Hasil pengolahan data dapat dilihat bahwa nilai p = 0,592 yang artinya tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar gula darah saat masuk rumah sakit dengan jenis SKA. Hal ini terjadi mungkin karena terlalu sedikitnya sampel dan banyak sampel kriteria ekslusi dalam pencarian data. Sebaiknya dalam penelitian yang akan datang dapat memperbanyak sampel.Kata kunci: sindrom koroner akut, kadar gula darah, hubungan kadar gula darah dengan SKAÂ AbstractAcute Coronary Syndrome (ACS) is a spectrum of coronary artery disease that is not stable, ranging from unstable angina to myocardial infarction. Acute Coronary Syndrome is divided into Unstable Angina Pectoris (UAP), ST elevation myocardial infarction (STEMI), non-ST elevation myocardial infarction (NSTEMI). The objective of this study was to determine the relationship between blood sugar levels when admitted to hospital and Acute Coronary Syndrome type by using cross sectional study. The study was conducted at the Medical Records RS Dr. M. Djamil Padang. The ACS data collected from January 2012 until December 2012. The results of this study was found the SKA with abnormal blood sugar of 60 samples, i.e. UAP25%, NSTEMI35%, 40% STEMI. On the results of data processing can be seen that the value of p=0.592, which means there is no significant correlation between blood sugar levels upon hospital admission and the type of SKA. No relationship because of little samples and exclusion criteria. The further study has to used more samples.Keywords: acute coronary syndrome, blood sugar levels, blood sugar relationship with acute coronary syndrom
A Rare Case of Arteriovenous Hemangioma Clinically Mimicking Pigmented Nevus
Abstrak  Arteriovenous hemangioma (AH) adalah lesi jinak pembuluh darah kulit yang jarang, biasanya muncul pada kulit wajah berupa lesi tunggal, meninggi, papul merah, atau keunguan; kadang-kadang papul coklat. Dilaporkan satu kasus AH dengan gambaran klinis menyerupai nevus pada pasien perempuan yang berusia 19 tahun. Ini adalahkasus pertama di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RS. Dr. M. Djamil Padang. Pasien datang dengan keluhan bintik hitam di lengan kanan bawah sejak satu bulan lalu. Pada pemeriksaan fisik, terdapat papul hitam soliter, dengan ukuran 0,3 x 0, 4 mm, bentuk bulat, skuama halus, berbatas tegas, pinggir reguler dengan permukaan tidak rata.Berdasarkan pemeriksaan histopatologi, lesi terdiri dari pembuluh darah yang berdinding tebal dan berdinding tipis yang sangat melebar, penuh dengan eritrosit dan dilapisi oleh selapis endotel yang sesuai untuk AH. Arteriovenous hemangioma adalah tumor yang dijumpai pada usia pertengahan hingga dewasa lanjut dengan puncak insiden pada dekade keempat dan kelima kehidupan. Pada kasus ini, umur pasien tergolong dewasa muda dengan gambaran klinis lesi menyerupai nevus pigmentosus. Kata kunci: arteriovenous hemangioma, kasus jarang, nevus pigmentosus Abstract Arteriovenous hemangioma (AH) is a rare benign vascular skin lesion, which typically appears in the skin of the face and extremities and most commonly occurring on the head and neck region with appearances as single, raised, red, or violaceous papules; sometime tan papule. A case of AH clinically mimicking pigmented nevus in 19year-old womanwas reported. This is the first case in Dermatology Department of Dr.M. Djamil Padang Hospital. She complained about a black pimple on the right lower arm since one month. Physical examination: there is a solitare black papule, with 0,3x0,4 mm, round shape, fine scales, well defined, regular border with irreguler surface.Histopathology findings: the lesions consist of thicked-walled and very dilated thin-walled vessels that full-filled with erythrocytes and are lined by an endothelial layer that suitable for AH. Arteriovenous hemangioma is a tumor of middle-age to elderly adults with a peak incidence in the fourth and fifth decades of life. In this case, the patient was young adult and clinically the lesion mimicking pigmented nevus.Keywords: arteriovenous hemangioma, rare case, pigmented nevu
Pengaruh Pemberian Glutamin pada Kemampuan Fagositosis Makrofag terhadap Pseudomonas Aeruginosa
Abstrak Pseudomonas aeruginosa adalah bakteri penyebab infeksi terbanyak yang resisten terhadap antibiotik. Glutamin adalah asam amino yang terdapat dalam tubuh yang salah satu fungsinya dapat memodulasi imunitas tubuh. Tujuan penelitian ini adalah menentukan potensi glutamin dalam meningkatkan kemampuan sistem imun terhadap infeksi P. aeruginosa. Penelitian eksperimental dengan post test only control group design telah dilakukan terhadap 24 ekor mencit usia 6-8 minggu dengan berat 30 gr. Mencit dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu kontrol (K) danperlakuan (P) yang diberi glutamin dengan dosis 30 mg/kg/hari selama 14 hari. Isolasi makrofag peritoneum mencit dilakukan pada hari ke-15 dan dilakukan uji fagositosis menggunakan latex dan bakteri P. aeruginosa. Pengamatan dilakukan terhadap persentase makrofag aktif terhadap latex dan P. aeruginosa. Hasil pengamatan dan analisisstatistik menggunakan metode t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara kontrol dan perlakuan (p<0.05). Persentase makrofag aktif terhadap latex adalah 0,63 ± 0,058 (K) dan 0,84 ± 0,04 (P), sedangkan terhadap P. aeruginosa adalah 0,56± 0,07 (K) dan 0,80± 0,03 (P). Terlihat bahwa angka persentase fagositosis terhadap P.aeruginosa lebih kecil karena adanya kemampuan bakteri untuk menghadapi makrofag dibandingkan latex. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah bahwa asam amino non-esensial glutamin memiliki pengaruh untuk meningkatkan kemampuan sistem imun tubuh. Kata kunci: glutamin, fagositosis makrofag, Pseudomonas aeruginosa Abstract Pseudomonas aeruginosa is the most common cause of bacterial infections that are resistant to antibiotics. Glutamine is an amino acid in the body that able to modulate the body's immune function. The objective of this study was to determine the potential of glutamine in enhancing the ability of the immune system against infection of P.aeruginosa. Experimental research with post test only control group design was conducted on 24 male minutes 6-8 weeks of age weighing 30 grams. Mice were divided into two groups: control (K) and treatment (P) are given glutamine at a dose of 30 mg / kg / day for 14 days. Isolation of peritoneal macrophages of mice performed on day-15 and testedusing latex and bacterial phagocytosis of P. aeruginosa. Observations were made of the percentage of activated macrophages toward latex and P. aeruginosa. The observation result and statistical analysis using t -test showed a significant difference between the control and treatment (p <0.05). The percentage of active macrophages to latex was0.63 ± 0.058 (K) and 0.84 ± 0.04 (P), while to P. aeruginosa is 0.56 ± 0.07 (K) and 0.80 ± 0.03 (P). That seein it percentage of phagocytosis against P. aeruginosa smaller than compared to latex. Because of the ability of bacteria to confront macrophages. The conclusion from this study is a non-essensial amino acid glutamine has the effect to increase the ability of the body's immune system. Keywords: glutamin, immunity phagocytosis macrophage, Pseudomonas aeruginosaÂ
Hubungan Sanitasi Lingkungan Rumah dengan Kejadian Askariasis dan Trikuriasis pada Siswa SD N 29 Purus Padang
Abstrak Prevalensi infeksi kecacingan masih tinggi terutama pada anak usia sekolah dasar. Cacing yang sering menginfeksi yaitu Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura. Infeksi ini erat kaitannya dengan masalah lingkungan, perilaku manusia dan manipulasi terhadap lingkungan. Tujuan penelitian adalah menentukan hubungan sanitasi lingkungan rumah yaitu kepemilikan jamban keluarga yang sehat, ketersediaan sumber air bersih, sarana pembuangan sampah dan jenis lantai rumah dengan kejadian askariasis dan trikuriasis. Ini adalah penelitian analitikdengan desain cross-sectional study. Jumlah populasi sebanyak 71 orang dengan jumlah subjek sebanyak 55 orang.Pengumpulan data dilakukan dengan pemeriksaan tinja dan kuesioner. Metode analisis data menggunakan uji chisquare.Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase infeksi kecacinganpada siswa SD Negeri 29 Purus Padang adalah 38%, terdiri dari; infeksi Ascaris lumbricoides (33%), Trichuris trichiura (9,1%) dan infeksi kedua spesies (3,6%). Hasil uji chi-square menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara kepemilikan jamban keluarga, ketersediaan sumber air bersih, kepemilikan sarana pembuangan sampah dan jenis lantai rumah dengan angka kejadian askariasis dan trikuriasis (p > 0,05). Masih tingginya infeksi kecacingan pada siswa sekolah dasar perluperhatian yang lebih baik misalnya diadakannya program pemberantasan kecacingan baik oleh sekolah maupun petugas kesehatan setempat.Kata kunci: infeksi kecacingan, sanitasi lingkungan, askariasis, trikuriasis Abstract Prevalence of worms infestation is still high, especially found among children at the elementary school age. Type of worms that often infect are Ascaris lumbricoides and Trichuris trichiura. The infection is related to envi ronment issues, human behavior and manipulation of the environment. The objective of this study was to determine the relationship between environmental sanitation of home, consist of latrine ownership, availability of clean water source, garbage disposal facilities and the type of floor home to ascariasis and trichuriasis incidences . This was an analyticwith cross sectional study design. The population were 71 students of State Elementery School 29 Purus Padang, but the subjecs were 55 students. Research instruments were stool examination and questionnaire. Bi variate analysis was chi-square test. The results showed that the worm infection rate in student of Elementary School 29 Purus Padangwas 38 %, consist of Ascaris lumbricoides infection (33%), Trichuris trichiura infection (9.1%) and infection of both species (3.6%). The statistical test indicated no significant relationship between latrine ownership, availability of clean water source, garbage disposal facilities, and the type of floor home to the incidence of ascariasis and trichuriasis (p > 0.05). The high worm infection in elementary school students need better attention, like worm eradication program by the school and local health authorities.Keywords: worm infestations, environmental sanitation, ascariasis, trichuriasisÂ
Efek Electro Convulsive Therapy (ECT) terhadap Daya Ingat Pasien Skizofrenia di RSJ Prof. HB. Sa’anin Padang
Abstrak  ECT merupakan terapi kejang listrik dengan menghantarkan arus listrik pada elektroda dan dipasang pada kepala sehingga menyebabkan konvulsi. ECT terbukti dapat memperbaiki gejala skizofrenia, namun ECT juga memiliki efek samping terutama pada daya ingat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efek ECT terhadap daya ingat pasien skizofrenia. Metode : Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan jumlah sampel 15 orang penderita skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Prof. HB. Sa’anin Padang dengan teknik pengambilan consecutive sampling.Pemeriksaan daya ingat menggunakan Tes Memori Indonesia, dilakukan sehari sebelum ECT dan 2 jam sesudah ECT. Analisis data dengan uji T berpasangan. Gangguan daya ingat sebelum ECT terjadi pada 90% sampel dengan terganggu sedang pada kemampuan immediate memory, terganggu ringan pada kemampuan recent memory, dan terganggu berat pada remote memory. Gangguan daya ingat sesudah ECT terjadi pada seluruh sampel (100%) dengan terganggu sedang pada immediate memory, terganggu berat pada recent memory, dan terganggu berat padaremote memory. Uji hipotesis pada nilai kemampuan immediate dan recent memory menghasilkan nilai p 0,018 dan 0,031 (p < 0,05), berarti Ho ditolak, sedangkan nilai p remote memory 0,678 (p > 0,05), berarti Ho diterima. Kesimpulan adalah perbedaan daya ingat immediate dan recent memory pada pasien skizofrenia sebelum dan sesudah ECT, sedangkan kemampuan remote memory tidak mengalami perubahan.Kata kunci: skizofrenia, ECT, daya ingat Abstract ECT is an electric convulsive therapy by delivering electrical current to electrodes and mounted on the head causing convulsions. ECT shown to improve schizophrenia symptoms, but ECT also has side effects especially on memory. The objective of this study was to determine the effects of ECT on memory schizophrenic patients. Current study was conducted with analytic design with sample size was 15 schizophrenia people at RSJ Prof. HB. Sa'anin Padang using consecutive sampling technique. Examination of memory using Memory Tests Indonesia is made the day before and 2 hours after ECT then the results are presented descriptively and analyzed by paired T test. Our results showed an impaired memory before ECT occurs in 90% samples with moderate impaired in the ability ofimmediate memory, mild impaired in the ability of recent memory, and severe impaired in the ability of remote memory. Impaired memory after ECT occurs in all samples (100%) with moderate impaired in the ability of immediate memory, severe impaired in the ability of recent memory, and severe impaired in the ability of remote memory. We concluded,there are differences in immediate and recent memory in schizophrenic patients before and after ECT, while the ability of remote memory has not changed.Keywords: schizophrenia, ECT, memor
Faktor-faktor yang Memengaruhi Insiden Miopia Pada Siswa Sekolah Menengah Atas di Kota Padang
Abstrak Miopia merupakan kelainan refraktif yang paling banyak ditemukan di dunia. Hampir 90% miopia terjadi di negara berkembang. Berbagai faktor diduga berhubungan dengan insiden miopia seperti jenis kelamin, indeks masa tubuh (IMT), aktivitas dekat (dengan atau tanpa layar), aktivitas jauh (dengan atau tanpa layar), sosioekonomi, orangtua menderita miopia, serta riwayat kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah (BBLR). Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara faktor-faktor tersebut dan insiden miopia pada siswa Sekolah Menengah Atas(SMA) di Kota Padang. Penelitian dilakukan pada siswa SMA di Kota Padang yang berusia 15-17 tahun, dengan desain case-control study, population based dengan jumlah sampel 140 orang, yang terdiri dari 70 orang untuk kelompok kontrol dan 70 orang untuk kelompok kasus. Dikelompokkan setelah menguji ketajaman visus. Kemudian dilanjutkan dengan pengukuran tinggi badan, berat badan, serta pengisian kuesioner. Selanjutnya, data diolah dengan uji statistik chi-square. Aktivitas dekat dengan layar, IMT dan aktivitas jauh dengan layar merupakan faktor dominan yang memengaruhi insiden miopia pada siswa SMA di Kota Padang. Dibuktikan juga bahwa jenis kelamin, sosioekonomi, orangtua menderita miopia, riwayat lahir prematur ataupun BBLR tidak memengaruhi insiden miopia. Kesimpulan penelitian ini adalah ada hubungan positif antara faktor risiko dengan insiden miopia.Kata kunci: miopia, faktor risiko, pelajar SMAAbstract Myopia is the most common refractive error in the world. Almost 90% of myopia patients are found in the developing countries. There are several factors suspected to be related to the incidence of myopia, such as gender, body mass index, close-range activities (with or without screen), distance activities (with or without screen), socioeconomic state, history of myopia in parents, and history of prematurity or low birth weight. The objective of this study was to determine the relation of those factors and the incidence of myopia on senior high school students in Padang city.This study was conducted on senior high school students in Padang city aged 15-17 years old. This study used population based case control design with 140 samples, consisted of 70 students for the control group and 70students for the case group. The process of data collection was conducted by initially classifying the respondents into case or control group using visual acuity test. It was followed by measuring body height and weight and filling the questionnaire. Finally, those data were analyzed by using the chi square statistic test.The result of this study proved that the close-range activities with screen, were the dominant variable influencing myopia in senior high school students in Padang city, followed by BMI and distance activities with screen. It was also proved that none of thegender, socioeconomic state, history of myopia in parents, and history of prematurity or low birth weight have any influence toward myopia incidence. Conclusion of this study is that a positive correlation between suspected factors with myopia incidence. Keywords: myopia, risk factors, high school student