Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
    1143 research outputs found

    Hubungan Tingkat Pengetahuan dan Sikap terhadap Pelaksanaan SADARI pada Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Jati

    Get PDF
    AbstrakKanker payudara merupakan salah satu penyebab utama kematian yang diakibatkan oleh kanker pada kaum wanita. Upaya deteksi dini kanker payudara sangat penting dilakukan, karena apabila kanker payudara dapat dideteksi pada stadium dini dan diterapi secara tepat sehingga dapat menurunkan angka kematian. Salah satu cara deteksi dini kanker payudara adalah dengan cara Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) yang merupakan teknik paling mudah dilaksanakan dan tidak memerlukan biaya. Pelaksanaan SADARI pada seseorang dipengaruhi oleh beberapa hal, yaitu pengetahuan tentang SADARI, dan sikap serta dukungan dari lingkungan sosial. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan tingkat pengetahuan dan sikap terhadap pelaksanaan SADARI. Penelitian ini adalah survei analitik dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga di kelurahan Jati dengan sampel sebanyak 48 orang. Cara pengambilan sampel adalah dengan multistage random sampling. Data mengenai tingkat pengetahuan, sikap, data pelaksanaan SADARI didapatkan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner yang selanjutnya dianalisis. Berdasarkan penelitian ini didapatkan bahwa tingkat pelaksanaan SADARI cendrung dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan dan sikap terhadap SADARI.Kata kunci: pengetahuan, sikap, pelaksanaan SADARI.AbstractBreast cancer is one of the leading causes of cancer -related deaths in women. Early detection of breast cancer is very important, because if breast cancer can be detected at an early stage and treated appropriately so as to reduce mortality. One method of early detection of breast cancer is by Breast Self Examination (BSE). It is a technique that is most easily implemented and does not require a fee. Implementation of BSE in a person affected by the knowledge about BSE, and attituded as well as support of the social environment.The objective of this study was to determine correlation between knowledge and attitudes to implementation of BSE This research was an analytic survey with cross-sectional design. The population in this study was a housewife in Keluraha Jati with a sample of 48 people.The sampling is with multistage random sampling. Data on the level of knowledge, attitudes, and implementation of BSE obtained through interviews using questionnaires were then analyzed. Based on this research it was found that the level of implementation of the BSE tend to be influenced by the level of knowledge and attitudes toward BSE.Keywords: knowledge, attitude, implementation, BSE

    Analisis Peran Pemerintah Daerah terhadap Ketersediaan Fasilitas Kesehatan pada Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional di Provinsi Bengkulu

    Get PDF
    AbstrakProgram Jaminan Kesehatan Nasional bertujuan mempermudah masyarakat untuk mengakses pelayanan kesehatan yang bermutu. Bagaimana ketersediaan fasilitas kesehatan, maka perlu dilakukan analisis peran pemerintah daerah terhadap ketersediaan fasilitas kesehatan. Metode penelitian ini adalah analisis formatif yaitu bertujuan menilai peran pemerintah daerah terhadap kebijakan yang sedang dilaksanakan, dan bagaimana pemikiran memodifikasi untuk pengembangan sehingga membawa perbaikan. Hasil yang didapat ialah pada pertengahan tahun 2014 Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) yang bekerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan sebanyak 229 unit, masih kurang sebanyak 361 unit untuk mencapai kebutuhan tahun 2019. Akses ke pelayanan kesehatan sebagaian masyarakat masih menjadi kendala geografis, waktu paling lama dari menuju puskesmas 90 sd 120 menit, biaya Rp. 200.000,- menggunakan ojek. Rasio fasilitas pelayaan rujukan tertinggi di Kota Bengkulu 1,88 per 100.000 penduduk dan terendah Kabupaten Rejang Lebong 0,40 per 100.000. Ratio dokter spesialis tertinggi 3.61 per 100.000 penduduk dengan rerata biaya rawat inap Rp. 3.595.000,- per pasien, terendah 0,55 per 100.000 pendudukan dengan rerata biaya rawat inap Rp.1.000.000,-. Pemenuhan tenaga terutama dokter umum, dokter gigi di puskesmas sulit terwujud mengingat formasi CPNS sangat kecil. Apabila dilakukan kontrak, Pemerintah Kabupaten/kota tidak mampu.Kata Kunci: kebijakan pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, kebijakan jaminan kesehatan nasional.AbstractThe National Health Insurance Scheme aims to facilitate the public's access to quality health services. How does the availability of health facilities, it is necessary to analyze the role of local governments on the availability of health facilities. Methods: formative analysis, assessing the role of local governments on the policies that are being implemented, and how to modify the thinking for development so as to bring improvement. Results: Mid-2014 FKTP in collaboration with the Social Security Agency (BPJS) health as much as 229 units, 361 units are still lacking to achieve the requirements in 2019. Access to health care is still a society in part to geographical constraints, the longest time of the leading health centers 90 up to 120 minutes, costs IDR. 200.000, - use a motorcycle taxi. The ratio of the highest referral ministry facility in the city of Bengkulu 1.88 per 100,000 population, and the lowest Rejang Lebong 0.40 per 100,000. The highest ratio of specialists per 100,000 population is 3.61 with an average cost of hospitalization IDR. 3.595.000,- per patient, the lowest of 0.55 per 100,000 of the occupation with an average hospitalization cost IDR 1.000.000,-. Fulfillment power especially general practitioners, dentists at health centers employess difficult to achieve given the very small formations, if the contract is done district/city can not afford.Keywords: role of local government, availability of health facilities, the national health insurance polic

    Rinosinusitis Kronis dengan Komplikasi Abses Periorbita

    Get PDF
    AbstrakAbses periorbita merupakan salah satu komplikasi dari rinosinusitis baik akut ataupun kronis. Beberapa faktor sangat berperan pada penyebab penyebaran rinosinusitis ke orbita. Diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik baik THT ataupun Mata, pemeriksaan nasoendoskopi, pemeriksaan penunjang tomografi komputer dengan gambaran perselubungan pada sinus paranasal dan orbita serta MRI. Penatalaksanaan konservatif berupa pemberian antibiotik intravena spektrum luas dan atau kombinasi, dekongestan serta kortikosteroid. Sedangkan pembedahan dapat melalui pendekatan eksternal atau pendekatan bedah sinus endoskopi fungsional (BSEF). Dilaporkan satu kasus rinosinusitis kronis dengan komplikasi abses periorbita pada laki-laki umur 16 tahun dan telah diberikan terapi konservatif selama 48 jam tetapi tidak ada perbaikan sehingga dilanjutkan dengan pembedahan melalui pendekatan BSEFKata kunci: abses periorbita, rinosinusitis kronis, bedah sinus endoskopiAbstractPeriorbital abscess is a complication of acute or chronic rhinosinusitis. There was some factors can caused the spread of rhinosinusitis into orbital region. Diagnosis can be confirmed by anamnesis, physical examination either ENT department or Opthalmic department, nasoendoscopic, computer tomographic that showed homogenous appearence on the orbital and paranasal sinuses and also MRI. Conservative management with the provision of broad-spectrum and or combination intravenous antibiotics, decongestants and corticosteroid. The surgery management can be performed with esternal approach or functional endoscopic sinus surgery (FESS). One case of chronic rhinosinusitis with complications periorbital abscess in boy aged 16 years old had presented and had given conservative therapy for 48 hours, since there is no improvement, the management then continued with FESS.Keywords: periorbital abscess, chronic rhinosinusitis, endoscopic sinus surger

    Uji Efek Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Batang Salam {Syzigium polyanthum (Wight) Walp} terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli secara Invitro

    Get PDF
    AbstrakTumbuhan salam (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) telah dikenal sejak dahulu untuk mengobati berbagai penyakit. Bagian tumbuhan yang dapat dimanfaatkan sebagai obat selain daun adalah bagian kulit batang. Beberapa penelitian yang telah dilakukan terbukti bahwa daun salam memiliki efek antibakteri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana efek antibakteri dari kulit batang salam. Penelitian ini bersifat deskriptif menggunakan metode difusi agar. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 25%, 50%, 75%, dan 100%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit batang salam memiliki efek antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dengan konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100% memberikan daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri sebesar 12 mm, 13,67 mm, 12,33 mm, dan 9 mm, sedangkan pada konsentrasi yang sama untuk Escherichia coli tidak terlihat daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri. Konsentrasi ekstrak yang paling efektif dalam menghambat S. aureus adalah konsentrasi 50%, dimana konsentrasi 75% dan 100% kurang efektif.Kata kunci: uji efek antibakteri, kulit batang salam, staphylococcus aureus, eschericia coli AbstractSalam plants (Syzygium polyanthum (Wight) Walp.) Salam plants have been known since ancient to treat various diseases. The parts of the plant that can be used as drug are bark. From the research that has been conducted has proven that Salam leaves has an antibacterial effect. The objective of this study was to determine the antibacterial effect of salam bark.This was a descriptive study by using agar diffusion method. The concentration of the extract used was 25%, 50%, 75%, and 100%. The results showed that the ethanol extract of Salam bark has antibacterial effects to Staphylococcus aureus with the concentration of 25%, 50%, 75%, and 100% gives the inhibition of the growth of bacteria on 12 mm, 13.67 mm, 12.33 mm, and the 9 mm, while at the same concentration for Escherichia coli was no bacterial inhibition area. The most effective concentration of extract in inhibiting S. aureus was concentration of 50%, while the concentration of 75% and 100% less effective.Keywords: antibacterial activity test, salam bark, staphylococcus aureus, eschericia col

    Hubungan Kadar Albumin Serum dengan Morbiditas dan Mortalitas Maternal Pasien Preeklampsia Berat dan Eklampsia di RSUP Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    AbstrakPreeklampsia dan eklampsia merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu dan bayi di dunia, dimana terjadi penurunan albumin serum (hipoalbuminemia) sehingga tekanan hipovolemik intravaskular berkurang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kadar albumin serum dengan morbiditas dan mortalitas maternal pasien preeklampsia berat dan eklampsia. Penelitian ini bersifat analitik observasional retrospektif dilakukan dengan desain cross sectional study. Populasi penelitian adalah seluruh data rekam medis pasien preeklampsia berat dan eklampsia di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2012 – Desember 2012. Sampel ditetapkan dengan teknik total sampling sehingga didapatkan sampel sebanyak 133 kasus. Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dan analisis dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan angka kejadian morbiditas maternal adalah 33,8%, mortalitas maternal 3,8% dan 3,8% pasien dengan hipoalbuminemia. Dari hasil analisis, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kadar albumin serum dengan morbiditas dan mortalitas maternal pasien preeklampsia berat dan eklampsia, dimana nilai p=1 untuk hubungan kadar albumin serum dengan morbiditas maternal dan p=0,177 untuk hubungan kadar albumin serum dengan mortalitas maternal pasien preeklampsia berat dan eklampsia (p>0,05).Kata kunci: preeklampsia berat, eklampsia, albumin serum AbstractPreeclampsia and eclampsia are major causes of maternal and fetal morbidity and mortality in the world, in which serum albumin decreases (hypoalbuminemia) so hypovolemic intravascular pressure will be reduced. The objective of this study was to determine the relation between serum albumin levels and maternal morbidity and mortality of severe preeclampsia and eclampsia patients. A retrospective observational analytical research was conducted with a cross sectional study design. The study population was the entire medical records of severe preeclampsia and eclampsia patients in RSUP Dr. M. Djamil Padang, period January 2012 – December 2012. The sample was determined by total sampling technique which obtained a sample of 133 cases. Data processing was computerized and analyzed by chi-square test. The incidence of maternal morbidity was 33.8%, maternal mortality was 3.8%, and 3.8% patients were with hypoalbuminemia. The analysis result obtained there was no significant correlation between serum albumin levels and maternal morbidity and mortality of severe preeclampsia and eclampsia patients, in which p=1 for serum albumin levels correlation with maternal morbidity and p=0.177 for serum albumin levels correlation with maternal mortality of severe preeclampsia and eclampsia patients (p>0.05).Keywords: severe preeclampsia, eclampsia, serum albumi

    Gambaran Pola Gangguan Jiwa pada Pelaku Tindak Pidana Kekerasan yang Dimintakan Visum et Repertum Psikiatri ke RSJ Prof. HB. Saanin Padang Periode 1 Januari 2008 – 31 Desember 2012

    Get PDF
    AbstrakBeberapa jenis gangguan jiwa seperti disebutkan dalam berbagai literatur yang disokong oleh hasil penelitian, memiliki resiko untuk melakukan tindakan kekerasan. Hal ini merupakan masalah yang harus segera diatasi, mengingat besarnya kemungkinan bahwa peningkatan angka tindak kekerasan yang semakin bertambah dari hari ke hari. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pola gangguan jiwa pada pelaku tindak pidana kekerasan yang dimintakan Visum et Repertum Psikiatri ke RSJ Prof. HB. Saanin Padang selama periode tahun 2008 – 2012. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif retrospektif dan data yang diperoleh diolah secara manual dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 41 pelaku tindak pidana kekerasan yang dimintakan Visum et Repertum Psikiatri ke RSJ Prof. HB. Saanin Padang dengan jumlah bervariasi setiap tahunnya antara 4 sampai dengan 12 kasus. Sebagian besar pelaku dinilai menderita gangguan jiwa (75,6%) dengan diagnosis gangguan jiwa paling banyak ditemukan adalah skizofrenia (34,15%) khususnya skizofrenia paranoid (24,39%). Sebanyak 49% pelaku dinilai tidak mampu menyadari tujuan dari perbuatan dan mengarahkan kemauan, terutama pada penderita skizofrenia (29,27%).Kata kunci: pola gangguan jiwa, tindak pidana kekerasan, visum et repertum psikiatri. AbstractSome specific types of mental disorders announced in the literature that supported by research data, show a risk to commit violent acts. This is a problem that must be overcome because the numbers of violence increase from day to day. The objective of this study was to describe the pattern of mental disorders in the violence criminal with Visum et Repertum Psychiatry requested to RSJ Prof. HB. Saanin Padang during the period 2008 - 2012. The research method used was a descriptive retrospective and the data obtained were processed manually and presented in the form of frequency distribution table. The results showed that during the period 2008 - 2012 there were 41 violent offenders who requested Visum et Repertum Psychiatry to RSJ Prof. HB. Saanin Padang with varying amounts each year between 4 to 12 cases. Most of the offenders assessed mental disorder (75.6%) with a diagnosis of mental disorder most commonly found is schizophrenia (34.15%), especially paranoid schizophrenia (24.39%). 49% of offenders were considered not able to realize the objectives of the action and directing the will, especially in patients with schizophrenia (29.27%).Keywords: patterns of mental disorders, violence criminal, visum et repertum psychiatr

    In Vitro Maturation (IVM) of Human Oocytes: Promising Potential, Challenges and Chances for Improvement

    Get PDF
    AbstractIn Vitro Maturation (IVM) of human oocytes is an innovation in Assisted Reproductive Technology (ART). It is believed more patient-friendly than conventional In Vitro Fertilization (IVF) method. It is a simple protocol that needs only less injection of ovarian stimulation for the patients and fewer blood sample and ultrasound scans, so this technique may become more favorable. Patients are also prevented from higher cost treatments and quite long control in the hospital. However, there are some problems to be addressed, such as how to improve the success rate, how to assure the safety and to avoid the health risk for the offsprings. Modification in IVM medium and optimizing the IVM protocols have increased the results in some studies. However, further investigation related to all aspects influencing the human oocyte maturation in vitro is still needed to make it enable to be a routine practice in ART centers for a defined group.Kata kunci: in vitro maturation, human oocyte, in vitro fertilization, assisted reproductive technology AbstrakMaturasi oosit in vitro atau In Vitro Maturation (IVM) terhadap oosit manusia merupakan suatu inovasi dalam Teknologi Reproduksi Berbantu (TRB). Teknik ini dianggap lebih nyaman bagi pasien dibandingkan dengan metode Fertilisasi In Vitro (FIV) konvensional. Metode IVM ini sederhana dan hanya membutuhkan lebih sedikit penyuntikan obat stimulasi ovarium ke pasien serta lebih sedikit pemeriksaan darah dan ultrasonografi, sehingga memungkinkan untuk menjadi suatu pilihan yang disukai oleh pasien. Pasien juga bisa terhindar dari biaya terapi yang lebih mahal serta waktu kontrol yang lama di rumah sakit. Namun demikian, terdapat beberapa masalah yang perlu ditangani terkait metode ini, seperti bagaimana meningkatkan angka keberhasilan serta memastikan keamanan dan mencegah resiko kesehatan pada anak yang akan dilahirkan. Modifikasi pada medium IVM serta pengoptimalan protokol IVM telah meningkatkan hasil pada beberapa penelitian. Penelitian yang lebih mendalam terkait semua aspek yang mempengaruhi maturasi in vitro oosit manusia masih diperlukan menuju penerapan rutin prosedur IVM untuk kelompok pasien tertentu di pusat-pusat pelayanan TRB.Keywords: maturasi in vitro, oosit manusia, fertilisasi in vitro, teknologi reproduksi berbant

    Hubungan Tingkat Pengetahuan Dokter dengan Kualitas Visum et Repertum Perlukaan di Rumah Sakit Wilayah Sumatera Barat Periode Januari 2011 sampai Desember 2012

    Get PDF
    Abstrak Visum et Repertum (VeR) perlukaan ialah salah satu bentuk VeR untuk korban hidup yang berguna sebagai alat bukti pengganti tubuh korban yang dibuat oleh seorang dokter sesuai permintaan tertulis dari penyidik. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kualitas VeR perlukaan salah satu nya tingkat pengetahuan dokter. Tujuan penelitian ini adalah menyelidiki hubungan antara tingkat pengetahuan dokter dengan kualitas VeR perlukaan. Metode penelitian menggunakan desain cross sectional study di delapan rumah sakit di wilayah Sumatera Barat yangmemenuhi kriteri inklusi. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner yang dikembangkan sendiri dan teknik skoring kualitas VeR dari FKUI. Hasil penelitian ini ditemukan bahwa rerata tingkat pengetahuan dokter sebesar 57.05% (cukup) dan rerata kualitas VeR perlukaan sebesar 19.67% (buruk). Hasil analisis bivariat denganmenggunakan uji korelasi produk moment diperoleh hasil tidak ditemukan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan dokter dengan kualitas VeR perlukaan p = 0.485 (p > 0,05). Tidak terdapatnya hubungan dikarenakan setiap rumah sakit memiliki suatu format untuk membuat VeR perlukaan. Penelitian yang akan datang dapat menganalisis faktor lain yang mempengaruhi kualitas VeR dan instansi terkait diharapkan dapat memperbaiki pengarsipan, meningkatkan pengetahuan dokter terkait VeR dan menyediakan buku pedoman penulisan VeR. Kata kunci: tingkat pengetahuan, kualitas VeR, VeR perlukaanAbstract Visum et Repertum (VeR) of injury is a form of VeR for living victim used as the evidence to represent the victim’s body which is made by a doctor according to the written request from investigating officer. There are several factors influencing the quality of Ver of injury, one of which is the doctor’s knowledge level. The objective of this study was to investigate the relation between doctor’s knowledge level and the quality of VeR of injury by using Cross Sectional Study method. This study was conducted at eight hospitals in West Sumatera region that met the inclusion criteria. The research instruments used were the questionnaire developed by the reseacher and the quality scoring technique from Faculty of Medicine University of Indonesia. The results of this research showed that the average of doctor’s knowledge level was 57.05% (fair) and the average of VeR of injury quality was 19.67% (bad). The result of bivariat analysis by using product moment correlation test showed that there is no any relation between doctor’s knowledge level and the quality of VeR of injury p = 0.485 (p> 0,05). The relation was absent because every hospital has its own form in making the VeR of injury. It is recommended for the future study to analyse other factors influencing the quality of VeR of injury dan hopefully this study can be useful for improve archiving, increase doctor’s knowledge level and provide VeR manuals book. Keywords: knowledge level, quality of VeR, VeR of injur

    Hubungan Indeks Masa Tubuh dan Lingkar Perut dengan Low Density Lipoprotein pada Pasien Penyakit Jantung Koroner di Poliklinik Jantung RSUP Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    Abstrak Berat badan dengan Indeks Masa Tubuh (IMT) lebih dari 30 kg/m2  pada laki-laki dan wanita akan meningkatkan risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK) 4 kali lipat. Tingginya proporsi penyakit kardiovaskuler pada etnikMinangkabau/Padang diperkirakan berkaitan dengan tingginya prevalensi dislipidemia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan IMT dan Lingkar perut (LP) dengan kadar Low density Lipoprotein (LDL) pada pasien penyakit Jantung Koroner di Poliklinik Jantung RSUP Dr M Djamil Padang. Penelitian ini mengunakan rancangan analitik dengan pendekatan cross sectional study dengan mengumpulkan data primer berupa tinggi badan, berat badan, dan lingkar perut dan data sekunder berupa kadar LDL dari rekam medik pasien. Populasi studi adalah semua penderita jantung koroner dengan LDL diatas normal yang berusia 20 tahun sampai 64 tahun lebih yang berasal dari Kabupaten/Kota Propinsi Sumatera Barat  telah  berobat di Poliklinik Jantung Rumah Sakit Dr M. Djamil pada bulan Mei tahun 2012 serta bersedia berpartisipasi dalam penelitian.  LP yang tidak normal 20 orang (54,1%) yang kadar LDL tinggi. Hasil statistik diperoleh nilai p=0,02 yang berarti ada perbedaan proporsi kadar LDL tinggi antara responden LP  tidak normal  dengan kadar LDL tinggi. Dari hasil analisis diperoleh pula nilai OR = 2,64, artinya LPresponden yang tidak normal mempunyai peluang 2,64 kali untuk kadar LDL tinggi  dibandingkan responden yang LP normal. Kesimpulan penelitian ini adalah tidak ada hubungan yang signifikan IMT dengan kadar LDL. Yang menunjukan adanya hubungan adalah antara LP dengan kadar LDL tinggi.Kata kunci: IMT, LP, penyakit jantung koroner Abstract Weight gain by Body Mass Index (BMI) over 30 kg/m2 both in men and women will increase 4-fold risk of Coronary Heart Disease (CHD). The high proportion of cardiovascular disease in ethnic Minangkabau/Padangassociated to higher prevalence of dyslipidemia.  The objective of this study was to determine the relationship of BMI (body mass index) and abdominal circumference (LP) to high levels of low-density lipoproteins (LDL) in patients with CHD in the Heart Clinic Dr M Djamil Padang in May in 2012. The design of this study was a cross-sectional study tocollect primary data such as height, weight, and abdominal circumference, but LDL data got from medical records. The study population was all patients with coronary heart disease with normal LDL above 20 years old to 64 years who came from County/City of West Sumatra had been treated at the clinic Dr M. Djamil Heart Hospital in May of 2012, and are willing to participate in the study. Abnormal LP 20 people (54.1%) were high LDL levels. The statistical results obtained by  p=0.02, it can be concluded that there is a difference between the proportion of high LDL levels to highLDL levels. From the results obtained by the analysis of the value of OR = 2.64, meaning the LP respondents who do not normally have the opportunity to LDL levels of 2.64 times higher than the normal LP respondents. In this study there was no significant association with BMI levels of LDL.  that there is a relationship between the LP with high LDL. Keywords: BMI, LP, Coronary Heart Diseas

    Gambaran Status Gizi Anak Talasemia β Mayor di RSUP Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    Abstrak  Talasemia merupakan penyakit kronik yang membutuhkan transfusi setiap bulan, karena eritrosit lebih cepat lisis dibandingkan eritrosit normal. Komplikasi dan efek penyakit ini banyak, antara lain pertumbuhan, perkembangan, dan status gizinya. Penelitian ini bertujuan  mengetahui gambaran  status gizi anak talasemia β mayor Penelitian iniadalah penelitian deskriptif yang  dilakukan pada bulan Februari 2012 - Maret 2013 di RSUP Dr. M. Djamil Padang dengan sampel anak talasemia β mayor. Pemeriksaan yang dilakukan adalah mengukur tinggi badan, berat badan, dan lingkar lengan. Hasil pemeriksaan dimasukkan dalam tabel persentil NCHS dan penilaian status gizi berdasarkanDepartemen Kesehatan Repubik Indonesia.Hasil penelitian ini terdapat 15 anak talasemia β mayor, dengan rata-rata umur kelompok 5-10 tahun. Frekuensi terbanyak indeks tinggi badan per umur yaitu 70%-90% (60%.). Frekuensi terbanyak indeks berat badan per umur adalah 60%-80% (66.7%). Frekuensi terbanyak indeks lingkar lengang atas per umur adalah 70%-85% (80%). Simpulan dari hasil penelitian status gizi anak talasemia β mayor adalah gizi kurang.Kata kunci: Status gizi, talasemia β mayorAbstract Thalassemia is a chronic disease who needs blood tranfusion every month because the abnormal erythrocyte has short life time compared with the normal erythrocyte. There are so many complications and effects of this disease, such as growth and nutritional status. The aim of this research is to describe chlidren's nutritional status with thalassemia beta major. This research is a descriptive research. It has been done since February 2012 - March 2013 at RSUP Dr.  M. Djamil Padang. The sampling is children with thalassemia beta major. The examination are stature, weight, and upper arm circumference and the result is entered into NHCS percentil and assessment of Nutritional based on health department of Indonesia. From this research, there are 15 children who are suffering thalassemia betamajor, and most of them is about 5-10 years old. The highest insident of stature per age index is 70-90% (60%). The highest insident of weight per age index is 60%-80% (66,7%). The highest insident of upper arm circumference per age is 70%-85% (80%).The conclusion of this research that the nutritional status children with thalassemia beta major is low nutrional.Keywords: nutritional status, thalassemia beta majo

    1,096

    full texts

    1,143

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇