Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
    1143 research outputs found

    Pengaruh Pemberian Berbagai Olahan Telur terhadap Kadar Kolesterol Total Darah Mencit

    Get PDF
    AbstrakMasyarakat menggunakan berbagai cara pengolahan sebelum mengonsumsi telur yang dapat berpengaruh terhadap kadar zat gizi yang terkandung didalamnya, termasuk kadar kolesterol dalam telur yang juga akan mempengaruhi kadar kolesterol dalam darah. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh pemberian berbagai olahan telur terhadap kadar kolesterol total darah mencit. Penelitian menggunakan 24 ekor mencit (Mus musculus) jantan albino umur 3 – 4 bulan dengan berat badan sekitar 30 – 40 gram. Jenis kandang yang digunakan adalah kandang kotak (box) sebanyak 24 unit dengan ukuran 28x30x20 cm. Metode yang digunakan ialah eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 6 unit perlakuan, yaitu unit perlakuan K (Kontrol), unit perlakuan A (telur mentah), unit perlakuan B (telur goreng), unit perlakuan C (telur rebus), unit perlakuan D (telur setengah matang) dan unit perlakuan E (telur asin). Dosis perlakuan adalah 1,56ml/20gram berat badan/mencit dan masing-masing perlakuan diulang 4 kali. Parameter yang diukur adalah kadar kolesterol total darah mencit. Hasil analisis keragaman menunjukan bahwa pemberian berbagai olahan telur memberikan pengaruh berbeda sangat nyata (P<0.01) terhadap kadar kolesterol total darah mencit. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa rerata kadar kolesterol total darah mencit setelah diberikan berbagai olahan telur adalah telur mentah 106.96 mg/dl, telur goreng 143.53 mg/dl, telur rebus 194.50 mg/dl, telur setengah matang 180.91 mg/dl, dan telur asin 158.27 mg/dl.Kata kunci: olahan telur, kadar kolesterol total darah, mencit AbstractPeople use various methods of processing before consumption eggs which can affect the levels of nutrients contained in, including cholesterol content which can also affect the levels of total cholesterol in blood. The objective of this study was to determine the effect of giving a variety of processed egg on total cholesterol levels of mice. The experiment used 24 male albino mice (Mus nusculus) age 3 – 4 months old with 30 – 40 grams of body weight. The den used was 24 units of box with size of 28x30x20 cm. The experiment used Completely Randomized Design (CRD) consist of 6 treatment units which was K (control), A (raw egg), B (fried egg), C (boiled egg), D (soft-boiled egg), and E (salted egg). The dosage was  1.56 ml/20 grams of body weight/mice and 4 replication for each treatment units. The parameter measured was total blood cholesterol level of mice.  Results of analysis of variance showed that giving of a variety of processed egg gave highly  significant  effect (P <0.01) on total blood cholesterol levels of mice. Based on the results of this study, it can be concluded that the average total blood cholesterol levels of mice after giving of various preparations of eggs is as follows: raw eggs 106.96 mg / dl, fried eggs 143.53 mg / dl, boiled eggs 194.50 mg / dl, soft-boiled eggs 180.91 mg / dl, and salted egg 158.27 mg / dl..Keywords: processed egg, total blood cholesterol level,  mic

    Prevalensi Kanker Serviks Berdasarkan Paritas di RSUP. Dr. M. Djamil Padang Periode Januari 2011- Desember 2012

    Get PDF
    AbstrakKanker serviks menempati urutan pertama penyebab kematian akibat kanker pada wanita usia reproduktif di negara berkembang. Jumlah paritas di Sumatera Barat masih cukup tinggi, paritas merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kanker serviks yang berhubungan dengan hormon dan trauma saat persalinan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui prevalensi kanker serviks berdasarkan jumlah paritas di RSUP. DR. M. Djamil Padang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional. Data sekunder diambil dari rekam medik pasien kanker serviks di RSUP.Dr. M. Djamil Padang periode Januari 2011- Desember 2012. Penelitian ini dilakukan dari Oktober 2013 - Juni 2014. Pada penelitian ini didapatkan 63 kasus kanker serviks. Distribusi kanker serviks berdasarkan umur terbanyak pada kelompok umur >50 tahun sebanyak 27 kasus (42,9%), berdasarkan jenis pembayaran pasien kanker serviks banyak memakai jamkesmas sebanyak 21 kasus (38,1%), jenis histopatologi terbanyak ditemukan pada jenis karsinoma sel skuamosa sebanyak 46 kasus (73%) dan jumlah paritas yang terbanyak pada kelompok paritas 3-5 kali sebanyak 40 kasus (63,5%). Umur dan paritas tidak ada hubungannya dengan jenis kanker serviks.Paritas bukan merupakan faktor risiko terjadinya kanker serviks.Kata kunci: kanker serviks, paritas, histopatologi AbstractThe cervical cancer is the  first rank cause of cancer death in women of reproductive age in developing countries. The number of parity in West Sumatera is still high, parity is one of the risk factors for cervical cancer relating to hormone and birth trauma. The objective of this study was to identify the prevalence of cervical cancer based on parity in  Dr. M. Djamil Hospital Padang. This research was descriptive observational study. Secondary data was taken from medical record of cervical cancer patients in Dr. M.Djamil Hospital Padang from January 2011 until  December 2012. The study was held from October 2013 until June 2014.The research found 63 cases of cervival cancer. Distribution cervical cancer by the age of majority in the age group >50 years old were 27 cases (42,9%), based on kind of payment is mostly used jamkesmas were 21 cases (38,1%), based on histopathology of majority on squamous cell carcinoma is 46 cases (73%) and based on the highest number of parity is the parity group 3-5 were 40 cases (63,5%). People’s age and parity are not related to the type of cervical cancer. Parity is not a risk factor of having cervical cancer.Keywords: cervical cancer, parity, histopatholog

    Hubungan Pola Asuh Ibu dengan Status Gizi Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Belimbing Kota Padang

    Get PDF
    AbstrakStatus gizi merupakan salah satu indikator kesehatan anak. Masa lima tahun (masa balita) adalah periode penting dimana anak membutuhkan kecukupan gizi untuk menunjang pertumbuhan fisiknya. Anak bergantung pada ibu yang berperan dalam pengasuhan dan perawatan anak. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan pola asuh ibu dengan status gizi balita di wilayah kerja Puskesmas Belimbing. Telah dilakukan penelitian dengan desain cross-sectional dengan sampel sebanyak 163 ibu dengan 163 anak berumur 12-60 bulan. Ibu sebagai responden, diwawancarai langsung dengan menggunakan kuesioner. Status gizi balita diukur dengan indikator berat badan/tinggi badan dan diinterpretasikan berdasarkan klasifikasi status gizi WHO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 84,7% balita memiliki status gizi normal dan 15,3% balita memiliki status gizi kurang. Pola asuh berdasarkan pola asuh makan terbanyak pada kategori sedang yaitu 40,5%, berdasarkan pola asuh kesehatan terbanyak pada kategori baik sebanyak 44,8% dan pola asuh psikososial terbanyak pada kategori sedang sebanyak 78,5%. Terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh makan dan pola asuh kesehatan dengan status gizi (p=0,014; p=0,006). Pola asuh psikososial tidak terdapat adanya hubungan signifikan dengan status gizi (p=0,842). Kesimpulan studi ini menyarankan kepada ibu-ibu agar memperhatikan asupan makan serta perawatan kesehatan anak. Ibu juga seharusnya membawa anak secara rutin ke posyandu atau pelayanan kesehatan terdekat.Kata kunci: pola asuh, status gizi, balita AbstractNutritional status is one of child’s health indicator. The first five year of children life is the important period whereby child needs proper nutrition to support the growth. In order to fulfill this, as a caregiver for the children, every mother has an important role. The objective of this study was to determine the association care practices to nutritional status in children.This study was cross sectional on 163 mothers from 163 children whose age were 12-60 months old. Care practices was measured by interviewed mother by using questionnaire and nutritional status was measured by using body weight/body height according to WHO growth chart. The study showed that 84,7% children were normal nutritional status and 15,3% children were underweight. The study also found that 40,5% children with moderate care for feeding, 44,8% with good care for health and 78,5% with moderate care for psychosocial. There was significant association between care for nutrition and care for health with child nutritional status (p=0,014; p=0,006) and there was no significant association between care for psychosocial with child nutritional status (p=0,842). The conclusion suggest  the mothers have to pay attention with food intake and child health care. Mothers should take their children regularly to public health center. Keywords: care practices, nutritional status, childre

    Hubungan Lesi Hiperemis di Gaster dengan Derajat Dispepsia pada Pasien Dispepsia Fungsional

    Get PDF
    AbstrakDispepsia fungsional didiagnosis jika esofagogastroduodenoskopi tidak menemukan penyebab organik yang dapat menjelaskan penyebab gejala. Patogenesis penyebab yang masih belum dipahami salah satunya dapat mempengaruhi permukaan mukosa lambung sehingga timbul lesi hiperemis di gaster yang mempengaruhi derajat dyspepsia. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan lesi hiperemis di gaster dengan derajat dispepsia pada pasien dispepsia fungsional. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. M. Djamil Padang dari Juli sampai Oktober 2014. Sejumlah 35 penderita diambil berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi secara consecutive sampling non probability. Penderita dianamnesis menggunakan skor dispepsia untuk menentukan derajat dispepsia setelah itu dilakukan tindakan esofagogastroduodenoskopi untuk melihat keadaan mukosa lambung. Hasil penelitian terhadap 33 pasien dengan  hiperemis didapatkan 57.6% pasien memiliki derajat dispepsia sedang-berat dan terdapat hubungan ang tidak bermakna antara temuan lesi hiperemis dengan derajat dyspepsia. Hasil penelitian dari 19 pasien yang memiliki hiperemis luas didapatkan 73.7% pasien memiliki derajat dispepsia sedang-berat dan ini menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara luas hiperemis dengan derajat dispepsia pada pasien dispepsia fungsional dengan nilai kemaknaan 0.031 (p<0.05). Disimpulkan bahwa penderita yang mengalami derajat dispepsia sedang – berat memiliki daerah hiperemis luas.Kata kunci: dispepsia fungsional, lesi hiperemis di gaster, skor dispepsia AbstractFunctional dyspepsia is diagnosed if esophagogastroduodenoscopy does not show structural abnormalities explaining these symptoms. Many of etiologies that still less understanding to explain the pathogenesis can influence mucosal surface of stomach and make hyperemic lesion in the stomach that influent dyspepsia level. The objective of this study was to determine the relationship between hyperemic lesion in the stomach and dyspepsia level. This study was conducted in  Dr. M. Djamil Padang hospital from Juli until Oktober 2014. From 35 subjects were taken by inclusion and exclusion criteria and using consecutive sampling non probability. The subjects were interviewed using dyspepsia score to determine the dyspepsia level. The endoscopy will remain the initial investigation of choice for seeing the mucosal surface of gaster. The result showed from 33 samples that had hyperemic lesion 57.6% had moderate-severe dyspepsia level and there is no significant correlation of hyperemic lesion finding in the gaster with dyspepsia level but from 19 samples that had wide hyperemic lesion 73.7% had moderate-severe dyspepsia level and it showed it had significant correlation between both variables and the significant score is 0.031 (p<0.05). The conclusion is the subjects with intermediate – severe dyspepsia level have wide area of hyperemic lesion.Keywords: functional dyspepsia, hyperemic lesion in the stomach, dyspepsia scor

    Hubungan Grading Histopatologi dan Infiltrasi Limfovaskular dengan Subtipe Molekuler pada Kanker Payudara Invasif di Bagian Bedah RSUP. Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    AbstrakGejala kanker payudara sering tidak disadari atau dirasakan dengan jelas oleh penderita, sehingga banyak penderita yang datang dalam keadaan stadium lanjut. Banyak faktor yang mempengaruhi prognosis dari kanker payudara, antara lain grading histopatologi, reseptor estrogen dan progesteron, HER2, serta infiltrasi limfovaskular. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara grading histopatologi dan infiltrasi limfovaskular terhadap subtipe molekuler pada kanker payudara invasif. Distribusi frekuensi dari grading histopatologi, infiltrasi limfovaskular, dan subtipe molekuler pada kanker payudara invasif di bagian bedah RSUP.Dr. M. Djamil Padang selama periode 1 Januari 2010 – 31 Desember 2013. Metode penelitian ini adalah observational analitik, dengan pendekatan cross sectional. Dalam penelitian ini didapatkan 424 kasus kanker payudara invasif, dengan 66 kasus yang dapat dianalisis. Analisis data yang digunakan univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square dengan derajat kemaknaan p<0,05. Ada hubungan yang bermakna antara grading histopatologi dengan subtipe molekuler (p=0,032). Hubungan infiltrasi limfovaskular dengan subtipe molekuler pada kanker payudara invasif didapatkan bermakna (p=0,000).Kata kunci: grading histopatologi, infiltrasi limfovaskular, subtipe molekuler, kanker payudara invasif AbstractBreast cancer symptoms are often not recognized or clearly perceived by the patient, so it makes most of patients come to doctor in late stage. There are many prognosis factors in breast cancer, such as hystopathology grading, estrogen and progesteron receptors, HER2, and lymphovascular infiltration.The objective of this study was to determine the association between hystopathology grading and lymphovascular infiltration with molecular subtype in invasive breast cancer. Determine the distribution and frequency of hystopatology grading, lymphovascular infiltration, and molecular subtype in invasive breast cancer at surgery department Dr. M. Djamil Hospital Padang period January 1, 2010 – December 31, 2013. The method of this research is analitic observational with cross sectional study. In this research obtained 424 cases of invasive breast cancer, with only 66 cases that could be analyzed. The analysis system that used is univariat and bivariat with chi-square (p<0,05). There is significant correlation between hystopathology grading with molecular subtype (p=0,032). There is significant correlation between lymphovascular infiltration with molecular subtype (p=0,000).Keywords: histopathology grading, lymphovascular infiltration, molecularsubtypes, invasive breast cance

    Hubungan Konsumsi Junk Food dengan Status Gizi Lebih pada Siswa SD Pertiwi 2 Padang

    Get PDF
    AbstrakGizi lebih adalah keadaan tubuh seseorang yang mengalami berat badan berlebih karena kelebihan jumlah asupan energi yang disimpan dalam bentuk cadangan berupa lemak. Prevalensi gizi lebih pada anak di Indonesia mencapai 10,4. Salah satu faktor risiko terjadinya gizi lebih adalah kebiasaan mengonsumsi junk food. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara konsumsi junk food dengan status gizi lebih pada anak usia sekolah. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan rancangan cross sectional terhadap populasi penelitian yaitu siswa kelas 1 – 5 di SD Pertiwi 2 Padang sebanyak 250 siswa. Teknik pengambilan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner semi kuantitatif FFQ.  Status gizi ditentukan dengan pengukuran berat badan dan tinggi badan yang hasilnya dikategorikan menggunakan standar antropometri penilaian status gizi anak menurut Depkes Indonesia. Pada hasil penelitian didapatkan bahwa siswa yang memiliki status gizi lebih hanya 23,6% dengan rata – rata IMT 16,9±3,69. Rata – rata frekuensi konsumsi junk food 4,6±2,9 kali per hari dan rata – rata asupan energi junk food 1046,5±918,4 kkal per hari. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi frekuensi konsumsi junk food dengan kejadian gizi lebih (p = 0,013) dan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan energi junk food dengan kejadian gizi lebih (p = 0,120).Kata kunci: gizi lebih, junk food, FFQ AbstractOverweight is a condition of an individual who suffer from excessive weight due to an excess of energy intake stored in fat tissue. Prevalence of overweight in children in Indonesia reaches 10,4 %. One of the risk factors contributing to this condition is consuming junk food. The objective of this study was to identify the relationship of junk food consumption and overweight in students. This research is an analytic study conducted in a cross sectional design using 250  students of class 1-5 in SD Pertiwi 2 Padang as subjects. The data was obtained using semi-quantitative FFQ. Nutrition status is defined using the measurement of body weight and height. The results are categorized using anthropometric standard for nutrition status assessment developed by Depkes Indonesia. The result revealed that the students with overweight was 23,6 % with average BMI of 16,9±3,69. The average frequency of junk food consumption was 4,6±2,9 times per day and the average energy intake from junk food was 1046,5±918,4 kcal per day. The conclusion is that the frequency of junk food consumption has a significant relationship to overweight and there’s no significant relationship between energi intake from junk food and overweight.Keywords: overweight, junk food, FF

    Hubungan Faktor Risiko Terhadap Kejadian Sindroma Koroner Akut pada Pasien Dewasa Muda di RSUP Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    AbstrakSumatera Barat merupakan provinsi dengan prevalensi penyakit jantung tertinggi ke-4 di Indonesia. Sindroma Koroner Akut (SKA) merupakan suatu spektrum perjalanan aterosklerosis pada Penyakit Jantung Koroner (PJK). Prevalensi penyakit ini meningkat diperkirakan karena faktor risiko seperti; jenis kelamin, riwayat keluarga, diabetes melitus, hipertensi, dislipidemia dan merokok. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan faktor risiko dengan kejadian SKA pada dewasa muda..Ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain potong lintang yang dilakukan di RSUP.M. Djamil Padang dari Juni 2014 sampai Oktober 2014. Populasi penelitian ini adalah seluruh pasien SKA berusia < 45 tahun yang dirawat dari 1 Januari 2011 – 31 Desember 2013 sebanyak 66 orang sebagai subjek penelitian. Data  pasien didapatkan dari rekam medik. Data dideskripsikan dengan tabel dan dianalisis dengan uji chi-square dan regresi logistik.Distribusi frekuensi terbanyak pasien SKA terdapat pada laki-laki (74,2%), riwayat merokok (63,6%) dan hipertensi (37,9%). Hasil uji chi-square menunjukan terdapat hubungan antara hipertensi dan riwayat keluarga dengan kejadian SKA pada dewasa muda.Pasien dewasa muda dengan hipertensi berisiko terkena SKA 0,301 kali lebih besar.Hipertensi merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian SKA pada pasien dewasa muda.Kata kunci: sindroma koroner akut, penyakit jantung koroner, faktor risiko AbstractWest Sumatra is the 4th highest province in prevalence of heart disease in Indonesia. Acute Coronary Syndromes (ACS) is a spectrum of atherosclerosis in Cardiac Heart Disease (CHD). The prevalence of this disease has increased related to risk factors,such as; gender, family history, diabetes mellitus, hypertension  and smoking. The objective of tthis study was to determine the relationship of risk factors of ACS in young adults.This was an analytic observational cross-sectional design conducted at Dr.M. Djamil Padang Hospital from June 2014 - October 2014. The populations were ACS patients age < 45 years old which hodpitalized from January 1st  2011 - December 31st  2013 to 66 samples as research subject.The data was retrieved from medical record. Data described in tables and analyzed with the chi-square test and logistic regression.The frequency distributions of most ACS patients are males (74,2%), smoking history (63,6%), and  hypertension (37,9%). Chi-square test result shows that hypertension and family history are related to ACS events in young adults. ACS events are more likely to occur 0,301 times in young adults with hypertension. Hypertension is the most influencing factor of ACS events in young adults.Keywords: acute coronary syndromes, coronary heart disease, risk factor

    Hubungan Konsumsi Serat dengan Pola Defekasi pada Mahasiswi Fakultas Kedokteran Unand Angkatan 2012

    Get PDF
    Abstrak   Setiap individu memiliki pola defekasi berbeda-beda yang dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah asupan serat. Secara fisiologis serat makanan didefenisikan sebagai karbohidrat yang resisten terhadap enzim hidrolisis saluran pencernaan manusia. Berdasarkan data RISKESDAS 2013, Sumatera Barat menempati urutan ketiga terendah konsumsi serat di seluruh provinsi Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara konsumsi serat dan pola defekasi pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Unand angkatan 2012. Ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan cross sectional yang dilakukan pada 114 responden. Data primer dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan food recall 2x24 jam dan diolah dengan menggunakan Nutrisurvey untuk food recall dan uji statistik chi-square. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar mahasiswi Fakultas Kedokteran Unand angkatan 2012 mengkonsumsi serat rendah dan mengalami resiko terjadinya konstipasi. Hasil analisis bivariat menunjukkan tidak adanya hubungan yang bermakna antara konsumsi serat terhadap pola defekasi dengan nilai p > α (0,408 > 0,05).Kata kunci: konsumsi serat, pola defekasi, kuesioner, food recall AbstractEach individual has a different pattern of defecation which is influenced by several factors such as intake of fiber. Dietary fiber is defined as carbohydrates that are resistant to hydrolysis enzymes in human digestive. Based on data RISKESDAS 2013, West Sumatra ranks third lowest fiber intake across Indonesian provinces. The objective of this study was to determine the relationship between fiber intake and defecation pattern in the student of the Faculty of Medicine Unand 2012. This was a cross sectional study that conducted on 114 respondents. Primary data was collected by interviews using questionnaires and food recall 2x24 hours and processed using Nutrisurvey for food recall and  chi-square statistic test. Results of univariate analysis showed that most of the student of the Faculty of Medicine Unand 2012 consume low fiber and the risk of experiencing constipation. Results of bivariate analysis showed no significant association between fiber intake and defecation patterns with p-value > α (0.408> 0.05). Keywords: fiber consumption, defecation pattern, questionnaires, food recal

    Hubungan Derajat Merokok Berdasarkan Indeks Brinkman dengan Kadar Hemoglobin

    Get PDF
    AbstrakSalah satu zat yang terdapat dalam asap rokok adalah karbon monoksida yang sangat mudah berikatan dengan hemoglobin, sehingga tubuh mengalami hipoksia dan berusaha meningkatkan kadar hemoglobin. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan derajat merokok berdasarkan Indeks Brinkman dengan kadar hemoglobin. Desain penelitian ini adalah cross-sectional study yang dilakukan terhadap pendonor darah di Palang Merah Indonesia cabang Padang. Jumlah subjek sebanyak 65 orang yang diambil secara accidental sampling dengan kriteria inklusi adalah perokok dan berjenis kelamin laki-laki. Data derajat merokok diperoleh melalui wawancara dan kadar hemoglobin diperiksa dengan menggunakan metode sianomethemoglobin. Hubungan antara derajat merokok dengan kadar hemoglobin digunakan uji statistik Anova, dengan nilai p<0,05. Hasil penelitian diperoleh rerata lama merokok responden 19,65 ± 10,95 tahun dan jumlah rokok yang dihisap perhari 19,28 ± 11,88 batang. Derajat perokok terbanyak adalah perokok ringan sebanyak 27 orang (41,5%). Rerata kadar hemoglobin responden adalah 15,47±1,41 gr/dl. Kesimpulan hasil studi ini ialah tidak didapatkan hubungan antara derajat merokok berdasarkan Indeks Brinkman dengan kadar hemoglobin.Kata kunci: derajat merokok, indeks Brinkman, kadar hemoglobin AbstractOne of the substances contained in cigarette smoke is carbon monoxide which is very easy to bind on hemoglobin, so the body gets hypoxia and strive to increase the levels hemoglobin. The objetive of this study was to determine the relationship between the degree of smoking based of Brinkman Index and hemoglobin levels.The design of this research was cross sectional study. Population were blood donors in Indonesian Red Cross Padang. The total samples of 65 people taken by accidental sampling with inclusion criteria was smoker and a male. The data degree of smoking got by interview and hemoglobin levels checked by using cyanmethemoglobin method. The relationship between the degree of smoking and hemoglobin levels used Anova statistical test, with p value <0.05.The result show that average smoking duration is 19.65 ± 10.95 years and the average of cigarrete that they smoke in a day was 19.28 ± 11.88 stems. Highest degree was mild smokers by 27 people (41.5%). The mean hemoglobin level was 15.47±1.41 gr/dl. The conclusion is no relationship between the degree of smoking by Brinkman Index and hemoglobin levels.Keywords:  degree of smoking, Brinkman index, hemoglobin level

    Gambaran Hasil Uji Widal Berdasarkan Lama Demam pada Pasien Suspek Demam Tifoid

    Get PDF
    AbstrakDiagnosis definitif demam tifoid adalah dengan biakan, tetapi pada beberapa daerah sering tidak tersedia fasilitas untuk biakan, maka cara lain untuk membantu menegakkan diagnosis yang praktis dan tersedia di rumah sakit yaitu uji Widal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran hasil uji Widal pada pasien suspek demam tifoid. Penelitian ini dilakukan di Bagian Rekam Medik  RS Dr. M. Djamil Padang. Jenis penelitian ini adalah retrospektif deskriptif yang telah dilaksanakan dari Juli 2013 sampai Februari 2014. Jumlah sampel yang didapatkan adalah sebanyak 46 orang. Dari 46 sampel didapatkan hasil uji Widal dengan titer antibodi terhadap antigen O 1:80 sebanyak 6,51%, 1:160 sebanyak 73,89%, 1:320 sebanyak 19,54%, dan 1:640 sebanyak 0%. Titer antibodi terhadap antigen H 1:80 sebanyak 4,34%, 1:160 sebanyak 47,80%, 1:320 sebanyak 45,63%, dan 1:640 sebanyak 2,17%. Kesimpulan hasil studi ini ialah 1:160 adalah titer yang tersering ditemukan dengan titer antibodi terhadap antigen O tertinggi yakni 1:320 lebih sering ditemukan pada lama demam dengan rentang 6 – 8 hari sedangkan titer antibodi terhadap antigen H tertinggi yakni 1:640 ditemukan pada lama demam dengan rentang 6 – 8 hari.Kata kunci: demam tifoid, uji Widal, Salmonella typhi AbstractThe definitive diagnosis of typhoid fever is  proven by culture, but in some areas is often no way of culture. There is another examination that has been found to help the diagnosis that is practical and available in hospital which is called Widal test. The objective of this study was to describe the results of Widal test in patients with suspected typhoid fever. This research was conducted at the medical record of Dr. M. Djamil Padang Hospital. This is a descriptive research which was held in July 2013 – February 2014. The number of samples obtained are as many as 46 people.  The 46 samples obtained Widal test, the results was made with titres of antibodies against O antigens 1:80 as much as 6,51%, 1:160 as much as 73,89%, 1:320 as much as 19,54%, and 1:640 as much as  0%. Titers of antibodies against H antigens 1:80 as much as 4,34%, 1:160 as much as 47,80%, 1:320 as much as 45,63%, and 1:640 as much as 2,17%. The conclusion is 1:160 is the most often titres found in patients with suspected typhoid fever with the highest value of antibody titers against the O antigens that is 1:320, is more common in duration of fever with a range of 6-8 days and the highest value of antibody titers against H antigens that is 1:640 has found in duration of fever with range 6-8 days.Keywords: typhoid fever, Widal test, Salmonella typh

    1,096

    full texts

    1,143

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇