Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
    1143 research outputs found

    Description of Sanitation Clinic Implementation in Primary Health Care Services in Bukittinggi

    Get PDF
    AbstrakSanitasi yang buruk dapat menjadi media transmisi agen penyakit berbasis lingkungan. Salah satu program puskesmas yang menelaah penyakit berbasis lingkungan adalah klinik sanitasi. Bukittinggi sudah menjalankan klinik sanitasi sejak tahun 2009. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pelaksanaan program klinik sanitasi puskesmas di Kota Bukittinggi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Sampel diambil seluruhnya (total sampling), yaitu tujuh puskesmas di Bukittinggi dari September sampai Oktober 2013. Berdasarkan hasil kuesioner, dari tujuh puskesmas, seluruh petugas telah memiliki pendidikan yang baik, dua petugas telah mendapatkan pelatihan klinik sanitasi, satu puskesmas memiliki ruangan khusus klinik sanitasi, enam puskesmas memiliki poster dan leaflet, tiga puskesmas memiliki dana khusus, dan enam puskesmas memiliki seluruh buku pedoman. Berdasarkan data sekunder, jumlah penyakit berbasis lingkungan bervariasi dan fluktuatif dan jumlah klien yang datang masih sedikit dan jauh dari harapan. Penelitian ini menilai empat kegiatan klinik sanitasi, yaitu kunjungan ke rumah warga, kerjasama lintas program, kerjasama lintas sektor, dan evaluasi. Jumlah kunjungan ke rumah warga masih kurang dari harapan, kerjasama lintas program klinik sanitasi sudah berjalan di seluruh puskesmas, kerjasama lintas sektor sudah berjalan hampir di seluruh puskesmas, dan evaluasi sudah berjalan dengan jangka waktu yang bervariasi. Seluruh klinik sanitasi puskesmas kota Bukittinggi dinilai baik dengan nilai bervariasi antara 50-100%.Kata kunci: klinik sanitasi, puskesmas AbstractPoor sanitation could be the transmission media for environment-based diseases’ agents. The program of Primary Health Care Service (PHCS) which deals with environment-based disease is sanitation clinic. This program has been running in Bukittinggi since 2009. The objective of this study was to see how this program has been going on in PHCS in Bukittinggi. This descriptive study used total sampling, in which all seven PHCS in Bukittinggi are included. This research was done from September to October 2013. Based on quedionaire result, all sanitarians are well-educated, but only two of them had sanitation clinic training. Only one PHCS has a special room, six has posters and leaflets, two allocates special budget for sanitation clinic, and six has all kind of manual books. Based on secondary data, the accumulation of environment-based disease’s cases in all PHCS is variative and fluctuative and the accumulation of clients come to sanitation clinic is still below the expectation. House-visitting activity has not met the expectation yet, while trans-program activity has been running well, trans-sector activity has been running well in almost all PHCS, and evaluation has been running in a variative frequency. All sanitation clinic graded good in implementing sanitation clinic, within the range of 50-100%.Keywords: sanitation clinic, primary health care servic

    Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Usia Menarche Siswi SMP Adabiah

    Get PDF
    AbstrakMenarche (menars) adalah haid pertama dari uterus yang merupakan awal dari fungsi menstruasi dan tanda telah terjadinya pubertas pada remaja putri. Pada dekade terakhir menunjukkan kecenderungan pergeseran usia menars ke arah umur yang lebih muda. Tujuan penelitian ini adalah menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan usia menars. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dalam bentuk rancangan cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswi SMP Adabiah kelas VII dan VIII tahun ajaran 2012/2013. Jumlah sampel sebanyak 72 siswi yang diambil secara Simple Random Sampling. Data dikumpulkan dengan angket dan pengukuran tinggi dan berat badan responden. Pengolahan data dilakukan secara komputerisasi dan analisis dengan uji chi-square pada α = 0,05. Hasil penelitian didapatkan bahwa usia menars rata-rata siswi SMP Adabiah adalah 12,29 ± 0,49 tahun. Uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat pendapatan per kapita dan status gizi dengan usia menars sedangkan tingkan pendidikan orang tua dan paparan media massa tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan usia menars.Kata kunci: usia menars, pendapatan per kapita, status gizi AbstractMenarche is the first menstruation or bleeding of the uterus that is the beginning of the menstrual function and mark the occurrence of puberty in young girls. In the past decade shows a shift in the age of menarche trend toward younger age. The objective of this study was to determine the associated factors to age of menarche. This type of research is observational analytic with cross sectional study design. The population in this study were all junior high school students of class VII and VIII academic year 2012/2013. The total sample of 72 student were taken by simple random sampling. Data were collected by questionnaire and measurement of height and weight. Data was analyzed  by chi-square test at α = 0,005. The result showed that the average age of menarche Adabiah junior high school student was 12.29 ± 0.49 years. There is a significant correlation between the level of per capita income and nutritional status with age of menarche, while the level of parental education and exposure to mass media have no significant correlation with age of menarche.Keywords:  menarche age, per capita income, nutritional statu

    Perbandingan Insidensi Hipotensi Saat Induksi Intravena Propofol 2 Mg/Kg Bb Pada Posisi Supine dengan Perlakuan dan Tanpa Perlakuan Elevasi Tungkai

    Get PDF
    Abstrak          Penggunaan Propofol untuk induksi pada general anestesi dapat menyebabkan  hipotensi akibat vasodilatasi arteri dan vena terutama vena kapasitan ditungkai. Manuver elevasi tungkai dapat mempertahankan stabilitas hemodinamik dengan meningkatkan aliran balik vena ke jantung dan mengurangi penumpukan darah di vena kapasitan tungkai. Penelitian ini dirancang dengan menggunakan cara Open Randomized Control Trial. Subyek penelitian adalah 184 sampel pasien dewasa ASA I-II yang menjalani operasi elektif dengan menggunakan general anestesi dengan induksi propofol. Kelompok sampel penelitian dibagi dalam dua kelompok masing-masing berjumlah 92 orang. Setelah prabeban cairan RL 10 cc/kgbb dan pemberian fentanyl 2 mcg/kgbb dan midazolam 0,05 mg/kgbb maka kelompok A dilakukan elevasi tungkai 45º satu menit sebelum induksi propofol dan dipertahankan sampai penelitian selesai. Sedangkan kelompok B tidak dilakukan elevasi tungkai. Data yang dikumpulkan dianalisa dengan uji t tes. Untuk data proporsi dilakukan analisa dengan tes chi-square. Dari data demografi tidak didapatkan perbedaan yang bermakna secara statistik (p>0,05) antara kedua kelompok penelitian kecuali untuk BMI (p<0,05). Insidensi hipotensi  menit pertama pasca induksi propofol pada kelompok A (elevasi tungkai) secara signifikan lebih rendah (12%) dibanding kelompok kontrol B  (27,2%) (p=0,016; p < 0,05). Pada menit ketiga pasca induksi juga didapatkan insidensi hipotensi kelompok A  (15,2%) signifikan lebih rendah dibanding kelompok B (23,9%) (p= 0,014; p < 0,05). Elevasi tungkai 45 derajat efektif dalam menurunkan insidensi hipotensi pasca induksi propofol.  Kata kunci: propofol, hipotensi, elevasi tungkai AbstractThe induction of general anaesthesia with propofol may induce of considerable degree of hypotension that has been atributed to decrease in systemic vascular resistance  caused by combination of venous and arterial vasodilatation. It will produce a shifting  of blood to venous reservoir, especially capacitance venule of legs. Leg elevation can provide hemodynamic stability by increases cardiac preload and recruits blood contained in the venous reservoir. This is Open Randomized Control Trial include 184 elective surgery patients with American Society of Anaesthesiologist (ASA) physical status I and II. Anesthesia  was induced with propofol. Patients were randomly allocated into two groups with 92 patients in each. All the patients received Ringer’s Lactate (10 ml/kg) and premedicated with fentanyl (2 mcg/kg) and midazolam (0,05 mg/kg) before induction of anesthesia. Group A was performed passive leg raising 45 degree 1 minute before injection of propofol until  the end of study and group B (control) did not receive any maneuver. Parametric data were analyzed with t-test and categorical data was done by using Chi-square test. A p value of less than 0,05 was consider significant. Demografic characteristics (age, sex, body weight and height) and  baseline haemodynamic parameters of the patients were similar in two groups (p > 0.05) except for BMI (p < 0.05) . The incidence of hypotension was significantly lower in group A (12 %, ) than group  B (27,2%) at the first minute after propofol  injection, p value = 0.016 (p < 0,05). In the third minute, incidence of hypotension was also significantly lower in group A (15,2%) than group B (23,9%), p value = 0,014 (p < 0,05). Leg elevation maneuver 45º significantly decrease incidence of hypotension after propofol induction. Keywords: Propofol, hypotension, leg elevatio

    Diagnosis dan Penatalaksanaan Tragus Asesorius dan Stenosis Liang Telinga pada Hemifasial Mikrosomia

    Get PDF
    Abstrak           Hemifasial mikrosomia (HFM) adalah diagnosis paling sering pada lesi wajah asimmetris dan merupakan kelainan kongenital wajah terbanyak kedua. HFM merupakan malformasi kongenital dimana terdapat defisiensi jaringan lunak dan tulang pada satu sisi wajah dan gangguan perkembangan telinga, terutama telinga luar. Diagnosis ditegakkan berdasarkan pada anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan radiologis. HFM memiliki manifestasi klinis yang beragam, dan dipertimbangkan mendapatkan penatalaksanaan komprehensif yang melibatkan rekontruksi medik luas.               .           Sebuah kasus hemifasial mikrosomia dengan tragus asesorius dan stenosis liang telinga kanan dilaporkan pada perempuan berusia 13 tahun dan telah dilakukan rekonstruksi tragus dan kanaloplasti. Kata kunci: hemifasial mikrosomia, lesi wajah asimmetris, rekontruksi tragus, kanaloplasti. AbstractHemifacial microsomia (HFM) is the most frequent diagnosis in asymmetry facial lesions and the top second facial congenital lesion. HFM is a congenital malformation in which there is a deficiency of soft tissue and bone on one side of the face and malformation of the ear, especially outer ear. The diagnosis is based on history, physical examination, and radiological finding. HFM had various clinical manifestation and considered to comprehensive management involving extensive medical reconstruction. A hemifacial microsomia case with right tragal assesoria and ear canal stenosis has been reported in girl aged 13 years old and have performed tragus reconstruction and canaloplasty. Keywords:  hemifacial microsomia, asymmetrical facial lession, tragus reconstruction, canaloplast

    Hubungan Tingkat Keteraturan Berolahraga Terhadap Komplikasi Penyakit pada Pasien DM Tipe 2 di Poliklinik Endokrin RSUP DR. M. Djamil Padang

    Get PDF
    AbstrakAda banyak faktor yang mempengaruhi komplikasi pada pasien DM tipe 2, salah satunya adalah keteraturan berolahraga. Aktivitas fisik yang kurang akan  berisiko terjadinya hiperglikemia. Kondisi ini lambat laun akan menyebabkan kerusakan mikrovaskular dan makrovaskular. Olahraga yang teratur dapat membuat normal gula darah. Tujuan penelitian ini adalah meneliti lebih lanjut tentang hubungan keteraturan berolahraga terhadap komplikasi DM tipe 2. Penelitian ini dilakukan pada masyarakat yang berkunjung ke poliklinik RSUP Dr. M. Djamil Padang. Ini merupakan studi retrospektif dengan jumlah subjek 73 orang. Pengumpulan data responden dilakukan dengan wawancara dan rekam medis. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi-square.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 65,8% responden menderita 3 atau lebih komplikasi (banyak), sedangkan 34,2% menderita kurang dari 3 komplikasi (sedikit). Kesimpulan studi ini adalah terdapat hubungan antara keteraturan berolahraga dengan komplikasi DM tipe 2.Kata kunci: keteraturan berolahraga, komplikasi DM tipe 2AbstractThere are many factors correlate to complications in  type 2 diabetes mellitus (DM) patients, one of them is exercise regularity. Lack of physical activity can lead to the hiperglycemia condition. It  could be the cause of  micovascular and macrovascular injuries. Exercise regularity can lead blood glucose toward normal. The objective of this study was to investigate the correlation of exercise regularity to the type 2 DM complications.The research was conducted to the  people who visit polyclynic of M. Djamil Hospital. It is a retrospective study with 73 subjek. Data collection was performed through interviews and using medical records. The statistical analysis was performed chi-square test.The result of this research found that 65.8% of respondent had many complication ( three or more), whereas 34.2% of had less than three complications. Analysis by chi square test, concluded that there was a significant relation between exercise regularity and complications of type 2 DM.Keywords: exercise regularity, complication of type II D

    Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Derajat Kerusakan Sendi pada Pasien Osteoartritis Lutut di RSUP Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    AbstrakOsteoartritis lutut adalah salah satu penyakit sendi degeneratif  yang sering ditemukan di Indonesia. Pada pemeriksaan radiologi sendi lutut penderita osteoartritis terdapat kelainan yang dapat dinilai berdasarkan kriteria Kellgren dan Lawrence. Salah satu faktor resiko utama yang mengakibatkan kerusakan sendi pada penderita osteoartritis lutut adalah kegemukan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan derajat kerusakan sendi pada penderita osteoatritis lutut di RSUP Dr M Djamil. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dengan jumlah sampel 24 pasien. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi  menurut American College of Rheumatology 1997 di Poli Rematik RSUP Dr M Djamil, dilakukan penghitungan IMT dan penilaian derajat kerusakan sendi berdasarkan pemeriksaan Rontgen dengan menggunakan kriteria Kellgren dan Lawrence. Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji chi-square. Pada penelitian ini didapatkan sebanyak 88,9% pasien yang bertubuh gemuk memiliki derajat osteoartritis yang lebih berat. Analisis uji chi-square terhadap  IMT dengan derajat kerusakan sendi pada pasien osteoartritis lutut memperlihatkan hubungan yang bermakna dengan nilai p = 0,003 (p<0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara Indeks Massa Tubuh dan derajat kerusakan sendi pada pasien osteoartritis lutut.Kata kunci: osteoartritis lutut, IMT, derajat kerusakan sendi AbstractKnee osteoarthritis is a common degenerative joint disease in Indonesia. The radiograph of knee osteoarthritis shows changes of knee joint which assessed based on Kellgren and Lawrence criteria. One of the major risk factor that lead joint damage in patient with knee osteoarthritis is obesity. The objective of this study was to determine association between Body Mass Index (BMI) and degree of joint damage in knee osteoarthritis patient at DR. M. Djamil hospital. This was a cross sectional study on 24 knee osteoarthritis patients that fulfilled American College of Rheumatology 1997 criteria. These patients  came to Rheumatic Poly in DR. M. Djamil hospital, then were measured the BMI and described the degree of joint demage based of Kellgren and Lawrence criteria. Statistical analysis was performed using chi-square test. The result showed 88.9% patients who were obese have a higher degree of joint damage. Chi-square test for BMI and degree of knee osteoarthritis showed significant association with p value 0.003 (p<0.05). The conclusion in this study, there is a significant association between BMI and degree of joint damage in knee osteoarthritis patients. Keywords:  knee osteoarthritis, BMI, degree of joint damag

    Hubungan antara Pembentukan Scar Vaksin BCG dan Kejadian Infeksi Tuberkulosis

    Get PDF
    AbstrakTuberkulosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Orang dewasa yang menderita tuberkulosis sangat mudah menularkan kuman TB kepada orang disekitarnya terutama pada anak-anak. Salah satu cara pencegahan penyakit tuberkulosis adalah pemberian imunisasi BCG pada saat bayi baru lahir. Scar vaksin BCG dapat terbentuk setelah penyuntikan, kadang Scar tidak terbentuk setelah penyuntikan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara pembentukan Scar vaksin BCG dan kejadian infeksi tuberkulosis. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan jumlah subjek sebanyak 80 orang. Pengambilan data berupa melakukan pengamatan terhadap Scar pada lengan atas serta wawancara kepada responden dengan menggunakan pedoman wawancara. Kemudian data ditabulasi dalam bentuk persentase dan dianalisis dengan uji chi-square . Hasil penelitian menunjukan bahwa responden yang terbanyak adalah perempuan dan usia yang terbanyak 35-44 tahun. Terdapat hubungan yang bermakna antara pembentukan Scar  vaksin BCG dengan kejadian infeksi tuberkulosis (p < 0,05). Disimpulkan bahwa terdapat pengaruh antara pembentukan Scar vaksin BCG terhadap kejadian infeksi tuberkulosis.Kata kunci: tuberkulosis, vaksin BCG, Scar. AbstractTuberculosis is an infectious disease caused by Mycobacterium tuberculosis with the number of sufferers tend to increase every years. Adults who suffer  tuberculosis is very easy to spread it to around, especially to children. One of the way to prevent tuberculosis is immunization of BCG vaccine which given since infant. The Scar of BCG vaccine can formed after injection or not. The objective of this study was to determine the relation of BCG vaccine Scar formation on  the incidence of tuberculosis infection.This research used a cross sectional design with 80 total subjects. The data was collected by observations of the scar on the upper arm while interviewed  respondents using interview guide. The data is tabulated  and analyzed by chi-square test. The results showed that most respondents were women and most age was 35-44 years. There is a significant relation between BCG scar formation on the incidence of tuberculosis infection (p <0.05). It can be concluded that there are significant between BCG Scar formation on the incidence of tuberculosis infection.Keywords: tuberculosis, BCG vaccine, Scar

    Hubungan Pola Makan dengan Status Gizi Anak Usia 3-5 tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Nanggalo Padang 2014

    Get PDF
    AbstrakStatus gizi yang buruk merupakan salah satu penyebab kematian pada anak. Jumlah anak dengan status gizi kurang dari tahun 2011 ke tahun 2012 di wilayah kerja Puskesmas Nanggalo mengalami peningkatan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan pola makan dengan status gizi pada anak usia 3-5 tahun di wilayah kerja Puskesmas Nanggalo. Desain penelitian ini adalah cross sectional study dengan pola makan sebagai variabel independen dan status gizi sebagai variabel dependen. Populasi penelitian ini adalah semua anak usia 3-5 tahun yang berdomisili di wilayah kerja Puskesmas Nanggalo. Pengambilan subjek menggunakan teknik simple random sampling yang dibuat secara proporsional. Analisis data menggunakan uji Fisher. Hasil penelitian yang didapatkan 68% anak dengan pola makan yang baik mempunyai status gizi normal, dan 11% anak dengan pola makan tidak baik mengalami kekurusan. Hasil uji statistik menunjukkan pola makan mempunyai hubungan dengan status gizi (p=0,000). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang antara pola makan dengan status gizi. Penerapan pola makan yang baik pada anak maka status gizi anak akan menjadi baik.Kata kunci: pola makan, status gizi, anak usia 3-5 tahun AbstractMalnutrition is one of the cause of childhood deaths. The year of 2011 until 2012, the cases of children with malnutrition in area of Nanggalo Health Center was increased. The objective of this study was to determine the correlation  diet on nutritional status in children aged 3-5 years old in area of Nanggalo Health Center. This research used cross-sectional study, the diet as the independent variable and nutritional status as the dependent variable. The population was all of children aged 3-5 years in area of Nanggalo Health Center. Subjects was taken by using simple random sampling technique with proportionally. The data analysis was Fisher test. The results of the study found 68% of children with a good diet have normal nutritional status, and 11% of children with a bad diet have a stunting. The Statistic results showed that diet has a relationship on nutritional status (p = 0.000). Keywords: diet, nutritional status, children aged 3-5 year ol

    Diagnosis dan Penatalaksanaan Karsinoma Sel Skuamosa Glotis Stadium Dini

    Get PDF
    Abstrak           Karsinoma laring merupakan tumor ganas kepala leher yang banyak dijumpai. Lebih dari 90% dari seluruh tumor ganas laring adalah karsinoma sel skuamosa, jika terdeteksi lebih dini maka angka keberhasilan pengobatan menjadi lebih baik. Radioterapi merupakan modalitas pilihan pada penatalaksanaan karsinoma laring stadium dini untuk mempreservasi organ dan suara. Diagnosis ditegakkan berdasarkan riwayat perjalanan penyakit, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan patologi anatomi. Dilaporkan satu kasus laki-laki berusia 61 tahun dengan diagnosis karsinoma sel skuamosa glotis keratin berdiferensiasi baik stadium IB (T1bN0M0) yang ditatalaksana dengan radioterapi.                                                                                                                                               Kata kunci: Karsinoma sel skuamosa glotis, stadium dini, radioterapi. AbstractLaryngeal carsinoma is the common head and neck cancer. More than 90% of laryngeal cancers are squamous cell carcinoma, if the early detected the cure rate can the better. Radiotherapy is the modality for treatment of laryngeal carcinoma in the early stages to preserve the organ and voice of the patient. The clinical diagnosis is made based on history of illness, physical examination and anatomical pathology examination. Reported One case, man 61 year old, diagnosed with laryngeal squamous cell carcinoma keratinized well differiamted stage IB (T1bN0M0) treated by radiotherapy. Keywords:  Glottic squamous cell carsinoma, early stage, radiotherapy

    Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Pola Pemberian ASI Eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Bungus Tahun 2014

    Get PDF
    AbstrakPemberian ASI eksklusif merupakan salah satu upaya untuk memperoleh tumbuh kembang bayi yang baik. Pada tahun 2013, cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi yang berumur 0-6 bulan di Indonesia sebesar 52,7%. Cakupan pemberian ASI eksklusif di Wilayah Kerja Puskesmas Bungus sangat rendah yaitu 39,7%. Tujuan penelitian ini adalah menentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan pola pemberian ASI Eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Bungus tahun 2014. Jenis Penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan desain cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah 82 orang yang diambil dengan cara multistage random sampling. Analisis data dilakukan dengan uji chi-square. Hasil menunjukkan bahwa responden yang mempunyai pendidikan rendah (66%), pengetahuan rendah (65,8%), Ibu bekerja (8%), kurang mendapat dukungan suami (63,42%). Terdapat hubungan yang bermakna antara pendidikan dengan pemberian ASI Eksklusif p=0,000 (p<0,05), pengetahuan dengan pemberian ASI eksklusif p=0,000 (p<0,05) dan dukungan Suami dengan pemberian ASI eksklusif p=0,000 (p<0,05). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara pekerjaan dengan pemberian ASI Eksklusif p=0,658 (p>0,05).Kata kunci: ASI eksklusif, faktor yang mempengaruhi, ibu AbstractExclusive breastfeeding is one of the treatment to approach a good infant progress. In 2013, coverage of exclusive breastfeeding in infants with aged 0-6 months in Indonesia is 52.7%. Converage of exclusive breastfeeding in the working area of Bungus Primary Health Care is very low (39.7%). The objective of this study was to determine  any  factors associated to exclusive breastfeeding in the Work Area Health Bungus 2014. Type of this research was descriptive analytic with cross sectional study. Total sample were 82 respondents which were taken by multistage random sampling. Data analysis was done by chi-square test. The results indicated that respondents with education low (66%), low knowledge (65.8%), working mathers (8%), less husband support (63.42%). There was a significant relationship between education and exclusive breastfeeding p=0.000 (p<0.05), knowledge and exclusive breastfeeding p=0.000 (p<0.05), support husband and exclusive breastfeeding p=0.000 (p<0.05). There was not  significant relationship between job with exclusive breastfeeding p=0.658 (p<0.05).Keywords: exclusive breastfeeding, affecting factors, mothe

    1,096

    full texts

    1,143

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇