Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
    1143 research outputs found

    Kemampuan Daya Hambat Bahan Aktif Beberapa Merek Dagang Hand sanitizer terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus

    Get PDF
    AbstrakHand sanitizer sebagai pembersih tangan antiseptik inovatif saat ini, sering menjadi alternatif pengganti cuci tangan dengan sabun dan air. Mencuci tangan dengan hand sanitizer merupakan salah satu cara memelihara kebersihan tangan agar terhindar dari penyakit  yang disebabkan oleh flora normal di kulit yang berpotensi patogenik seperti bakteri Staphylococcus aureus. Tujuan penelitian ini adalah menilai kemampuan daya hambat beberapa merek dagang hand sanitizer terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Penelitian dilakukan dengan metode rancangan acak lengkap pada empat macam hand sanitizer dengan tiga kali pengulangan. Data diolah secara manual dan menggunakan analisis varians (ANOVA) dilanjutkan dengan uji pos-hoc dengan Tukey HSD dan independent t test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan aktif hand sanitizer mampu mengurangi pertumbuhan Staphylococcus aureus secara signifikan. Perbedaan prosentase rerata pengurangan jumlah koloni pada waktu 30 detik berkisar antara 57,65%-72,45%, sedangkan pada waktu 1 menit berkisar 67,88%-82,65%. Hasil analisis menunjukkan perbedaan bermakna terhadap perlakuan, antar perlakuan dan waktu yang diujikan dengan nilai signifikasi p <0,05. Didapatkan hand sanitizer lebih efektif menghambat pertumbuhan pada waktu 1 menit daripada 30 detik. Hand sanitizer yang mengandung alkohol 70% dan triklosan 0,05% memiliki kemampuan daya hambat lebih baik terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus.Kata kunci: bahan aktif, hand sanitizer, Staphylococcus aureus AbstractHand sanitizer is one of the ways for maintaining the hand hygiene. Hand sanitizer as an innovative antiseptic product at this time, becomes an alternative hand washing with soap and water. It prevents  the disease that can be caused by normal flora that potentially pathogenic bacterium such as Staphylococcus aureus. The objective of this study was to evaluate the inhibition ability of several trademarks hand sanitizer on the growth of Staphylococcus aureus. The research method used a completely randomized design in four kinds of hand sanitizer and three repetitions. Data processed manually and using analysis of variance (ANOVA) and followed by Post-Hoc test with Tukey HSD and also Independent T-Test.The results showed that the ingredients of hand sanitizer can reduce the growth of Staphylococcus aureus significantly. The differences on the percentage reduction of colonies in 30 seconds ranged between 57,65%-72,45%, while the range in 1 minute was 67,88%-82,65%. The analysis was also showed a real difference to the experiment, the combination of the experiment and the time of the experiment with significance value of p <0.05. Based on the result, hand sanitizers can inhibit the growth of Staphylococcus aureus effectively at 1 minute instead of 30 seconds. Hand sanitizer containing alcohol 70% and triclosan 0.05% has the better ability to inhibit the growth of Staphylococcus aureus.Keywords: ingredients, hand sanitizer, Staphylococcus aureu

    Gambaran Golongan Sekretor dan Nonsekretor yang Diperiksa Melalui Saliva Mahasiswa Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Andalas

    Get PDF
    Abstrak             Kasus kriminal di Indonesia setiap tahunnya cenderung mengalami peningkatan. Salah satu identifikasi yang dilakukan untuk membantu mengetahui pelaku kriminal adalah dengan memeriksa golongan darah. Golongan darah dapat diperiksa langsung bila di tempat kejadian perkara (TKP) terdapat noda atau bercak darah, tetapi dalam beberapa kasus kriminal biasanya cairan yang ditemukan adalah air ludah (saliva) dalam bentuk basah ataupun kering. Pemeriksaan golongan darah melalui saliva bisa dilakukan apabila orang tersebut termasuk golongan sekretor tetapi tidak bisa diperiksa apabila termasuk golongan nonsekretor. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui persentase golongan sekretor dan nonsekretor mahasiswa pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Ini merupakan penelitian deskriptif observasi dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Andalas sebanyak 54 orang. Cara pengambilan sampel adalah dengan simple random sampling. Data mengenai golongan sekretor dan nonsekretor didapatkan melalui pemeriksaan saliva dengan metode absorpsi inhibisi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 42 orang (78%) termasuk golongan sekretor dan 12 orang (22%) termasuk golongan nonsekretor. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa distribusi golongan sekretor lebih besar daripada golongan nonsekretor pada mahasiswa pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.Kata kunci: nonsekretor, saliva, sekretor Abstract             Criminal cases in Indonesia tends to increase each year. One of the identification is being to help find criminal is by checking the blood type. Blood type can be checked directly on the scene when there are stains or spots of blood, but in some cases the criminal is usually found saliva in wet or dry form. Blood type through saliva can be done if the person have secretor but can not be checked if including non-secretor. The objective of this study was to determine the percentage of secretors and non-secretor class on the student Medical Faculty of Andalas University. This study was an observational descriptive study with cross-sectional design. The population were 54 students Medical Faculty of Andalas University which choosen by simple random sampling. Data on group secretor and non-secretor saliva obtained through examination of the absorption inhibition method.The results showed that 42 people (78%) that are secretor and 12 people (22%) including non-secretors. Based on these results it can be concluded that the distribution of secretor groups larger than non-secretors in the student of Medical Faculty Andalas University.Keywords: non-secretor, saliva, secreto

    Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Filariasis di Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2010-2013

    Get PDF
    AbstrakFilariasis adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk Mansonia, Anopheles, Culex, Armigeres. Banyak faktor risiko yang mampu memicu timbulnya kejadian filariasis. Beberapa diantaranya adalah jenis kelamin, usia, pekerjaan, faktor lingkungan, perilaku. Kabupaten Padang Pariaman bukan salah satu 5 kabupaten daerah endemis filariasis namun merupakan kabupaten yang banyak ditemukan kasus baru filariasis di Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan metode studi case control yang merupakan penelitian epidemiologis analitik observasional yang bersifat retrospektif. Jumlah sampel sebanyak 63 responden, terdiri dari 21 kasus dan 42 kontrol. Analisis data yang digunakan yaitu analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi-square. Hasil uji statistik chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara umur dengan kejadian filariasis dengan nilai p= 0,013,tetapi tidak terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin, pekerjaan(nilai p= 0,071, OR=3,800, 95% CI=0,938-15,398), tempat perindukan, pengetahuan (nilai p= 1,000, OR=1,135, 95% CI=0,336-3,835), sikap dan tindakan. Mengingat umur sangat erat hubungannya dengan pekerjaan, maka perlu ada penyuluhan dari petugas kesehatan bagaimana melindungi diri saat bekerja seperti menggunakan baju berlengan panjang dan celana panjang, serta menggunakan obat anti nyamuk.Kata kunci: filariasis, umur, pekerjaan, tempat perindukan, perilaku AbstractFilariasis is a chronic communicable disease caused by filarial worms and transmitted by mosquitoes Mansonia, Anopheles, Culex, Armigeres. Many risk factors are able to prevalence of filariasis. Some of them are gender, age, occupation, environmental factors and behavioral. Pariaman District is not one of the 5 districts of filariasis endemic areas but a lot of new case have been identify in West Sumatra. This was a case control study which is an analytic observational epidemiological studies. The total sample of 63 respondents, consisted of 21 cases and 42 controls . The data analysis was based on univariate and bivariate analysis equipped with chi-square test.The results of chi-square statistical test shows that there is significant correlation between age and filariasis prevalence with p value = 0.013, OR= 0.167, 95% CI= 0.043 – 0.652 but there was no correlation between gender, occupation (p value= 0.071, OR=3.800, 95% CI=0.938-15.398), breeding places, knowledge (p value= 1.000, OR=1.135, 95% CI=0.336 – 3.835),attitudes and action. The age is closely related to the occupation, so it needs intervention from health care workers how to protect while working, such as using a long-sleeved shirt, long pants and mosquito repellent. Keywords: filariasis , age, gender, occupation, breeding place, behaviora

    Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Kejadian Preeklampsia di RSUP Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    AbstrakPreeklampsia merupakan penyebab utama kematian maternal selain perdarahan dan infeksi. Penyebab pasti terjadinya preeklampsia belum diketahui, namun terdapat faktor risiko yang mempengaruhi kejadian preeklampsia. Di RSUP Dr. M Djamil Padang terjadi peningkatan kasus preeklampsia setiap tahunnya dari tahun 2008-2012. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dan kejadian preeklampsia di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian dilakukan di bagian Rekam Medis dengan menggunakan desain cross sectional study komparatif terhadap 46 pasien preeklampsia dan 46 ibu hamil yang tidak preeklampsia yang bersalin di RSUP Dr. M. Djamil Padang dalam kisaran tahun 2011-2013. Hasil analisis univariat menunjukkan nilai rerata IMT sebelum hamil pada pasien preeklampsia dengan nilai 24,15 kg/m2 berada pada kategori overweight, sedangkan ibu hamil yang tidak preeklampsia berada pada kategori normal, dengan nilai rerata IMT 22,3 kg/m2. Berdasarkan analisis bivariat menggunakan Mann Whitney tes diperoleh nilai P: 0,014 (P<0,05). Kesimpulan penelitianini adalah terdapat hubungan yang bermakna antara IMT dengan kejadian preeklampsia di RSUP Dr. M. Djamil Padang.Kata kunci: preeklampsia, faktor risiko, indeks massa tubuh AbstractPreeclampsia is the leading cause of maternal death in addition to bleeding and infection. The exact cause of preeclampsia still unknown, but there are risk factors that affect the preeclampsia’s incident. There was an increase of preeclampsia’s case in RSUP Dr. M. Djamil Padang each year from 2008-2012. The objective of this study was to determine the correlation between Body Mass Indeks (BMI) and preeclampsia’s incident in RSUP Dr. M. Djamil Padang. The research was done at medical records department using cross sectional study comparative’s design toward 46 preeclamptic patients and 46 pregnant women who did not preeclampsia, which gave birth in RSUP Dr. M. Djamil Padang on the range 2011-2013. Results of univariate analysis showed that BMI average value of patients with preeclampsia before pregnant were in overweight category (24,15 kg/m2), whereas pregnant women who did not preeclampsia are in normal category (22,3 kg/m2). Based on bivariate analysis using the Mann Whitney test, p value was obtained 0,014 (P<0,05). The conclusion is there’s significant correlation between BMI with preeclampsia’s incident in RSUP Dr. M. Djamil Padang.Keywords: preeclampsia, risk factors, body mass indek

    Perbedaan Efek Antibakteri Kapsul Minyak Bawang Putih (Garlic Oil) dan Kapsul Bubuk Bawang Putih (Garlic Powder) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli Secara In Vitro

    Get PDF
    Abstrak   Bawang putih  telah diekstrak berupa kapsul garlic oil dan kapsul garlic powder sehingga dapat digunakan sebagai alternatif terapi dalam pengobatan penyakit akibat infeksi bakteri. Kandungan kapsul bawang putih yang memiliki efek anti bakteri adalah allicin. Bawang putih mempunyai efek anti mikroba dalam melawan bakteri Gram positif dan Gram negatif, diantaranya Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Di pasaran terdapat dua jenis kapsul bawang putih, yaitu kapsul bubuk bawang putih dan kapsul minyak bawang putih.  Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan efek antara antibakteri kapsul minyak bawang putih dan kapsul bubuk bawang putih terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.  Penelitian ini dilakukan di laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang dari Mei sampai Juni 2014. Jenis penelitian adalah eksperimental dengan menggunakan metode difusi cakram. Hasil penelitian didapatkan kapsul minyak bawang putih dan kapsul bubuk bawang putih tidak memiliki kemampuan untuk menghasilkan zona hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Walaupun tiga kali pengulangan,  tidak terdapat efek antibakteri pada kapsul minyak bawang putih dan kapsul bubuk bawang putih.Kesimpulan penelitian ini adalah kapsul minyak bawang putih dan kapsul bubuk bawang putih tidak memiliki efek antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.Kata kunci: minyak bawang putih, kapsul bubuk bawang putih, Staphylococcus aureus, Escherichia coli AbstractGarlic extract in garlic oil capsules and garlic powder capsules can be used as alternative therapy in the treatment of diseases caused by bacterial infection. The content of garlic capsules which have anti-bacterial effect is allicin. Garlic has anti-microbial effect against Gram positive and Gram negative, including Staphylococcus aureus and Escherichia coli. In the market there are two types of garlic capsules, the capsules of garlic powder and garlic oil capsules. The objective of this study was to determine the differences of antibacterial effect between garlic oil capsules and garlic powder capsules on the growth of Staphylococcus aureus and Escherichia coli. This research was done in the laboratory of Microbiology, Faculty of Medicine, Andalas University, Padang in Mei to Juny 2014. The type of research is experimental by using the disc diffusion method. The results of this study, garlic oil capsules and garlic powder capsules do not have the ability to produce a zone of inhibition against Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Although 3 (three) time  repetitions, there were no antibacterial effect from garlic oil capsules and garlic powder capsules. The conclusion of this study is garlic oil capsules and garlic powder capsules do not have antibacterial effects against Staphylococcus aureus and Escherichia coli.         Keywords: garlic oil capsule, garlic powder capsule, Staphylococcus aureus, Escherichia col

    Hubungan Paparan Asap Rokok Lingkungan dengan Kejadian Dismenorea Primer

    Get PDF
    AbstrakDismenorea primer lebih sering terjadi dibanding dismenorea sekunder dengan insiden tersering pada remaja dan usia 20-an. Penyebab tersering dismenorea primer adalah karena tingginya prostaglandin yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah akibat dari nikotin yang terkandung dalam paparan asap rokok lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara paparan asap rokok lingkungan dengan kejadian dismenorea primer pada mahasiswi pendidikan dokter  Fakultas Kedokteran Universitas Andalas. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Sebanyak 95 mahasiswi yang dipilih dengan teknik propotional random sampling. Data dikumpulkan melalui pengisian kuesioner oleh responden yang kemudian dianalisis melalui uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi kejadian dismenorea primer pada mahasiswi pendidikan dokter  Fakultas Kedokteran Universitas Andalas adalah 71.6%. Mahasiswi yang terpapar asap rokok lingkungan adalah 32.6%. Hasil uji  chi-square menunjukkan bahwa paparan asap rokok lingkungan (p=0.020) memiliki hubungan dengan kejadian dismenorea primer. Disimpulkan bahwa sebagian besar mahasiswi mengalami dismenore primer dan sepertiganya terpapar asap rokok lingkungan, serta terdapat hubungan bermakna antara paparan asap rokok lingkungan dengan kejadian dismenorea primer.Kata kunci: dismenorea primer, asap rokok lingkungan, mahasiswi AbstractPrimary dysmenorrhoea is more common than the incidence of the most common secondary dysmenorrhoea in adolescents and 20s. The most common cause of primary dysmenorrhoea is due to the high prostaglandin which can be caused by several factors, one of which is a result of the nicotine contained in cigarette smoke exposure environment. The objective of this study was to determine there relationship between environmental tobacco smoke exposure on the incidence of primary dysmenorrhoea Student Medical Education Faculty of Medicine, University of Andalas.This study used a cross sectional design. The 95 students were selected by Proportional random sampling technique. Data were collected through questionnaires, then analyzed by Chi-square test .The results showed that the distribution of the incidence of primary dysmenorrhoea in physician education student of the Faculty of Medicine, University of Andalas was 71.6% . While the student is exposed to environmental smoke is 32.6 %. The results of chi-square statistical test showed that environmental tobacco smoke exposure ( p = 0.020 ) had a relationship with the incidence of primary dysmenorrhoea .From the results, it can be concluded that the Student Pre-clinic Medical Education Program Faculty of Medicine, University of Andalas 2013-2014 school year are subjected to one-third of primary dysmenorrhea and environmental exposure to cigarette smoke, and there is a significant relationship between environmental tobacco smoke exposure with the incidence of primary dysmenorrhoea. Keywords:  primary dysmenorrhoea, environmental tobacco smoke exposure, student

    Gambaran Esofagogastroduodenoskopi Pasien Hematemesis dan atau Melena di RSUP M Djamil Padang Periode Januari 2010 - Desember 2013

    Get PDF
    AbstrakPerdarahan saluran cerna bagian atas adalah kehilangan darah dalam lumen saluran cerna yang bermula dari esofagus sampai duodenum. Manifestasi kinis berupa hematemesis (muntah darah) dan atau melena (tinja hitam). Kasus ini masih banyak dilaporkan dari berbagai rumah sakit. Etiologi yang sering dilaporkan adalah varises esofagus, ulkus peptikum, gastritis erosif dan lain-lain. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui frekuensi diagnosis esofagogastroduodenoskopi (EGD) pasien hematemesis dan atau melena di RSUP M Djamil Padang. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif retrospektif. Data diambil secara total sampling dari rekam medik pasien hematemesis dan atau melena yang dilakukan pemeriksaan EGD di Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT) RSUP M Djamil Padang periode.Januari.2010.–.Desember.2013. Hasil penelitian menunjukkan 162 pasien kasus terbanyak adalah ulkus gaster (27,8%). Menurut jenis kelamin, pria lebih banyak dibanding wanita yaitu pria (64,8%) dan wanita (35,2%) rasio 1,8 : 1. Kelompok umur terbanyak adalah 51-60 tahun yaitu (20,0%). Lokasi lesi yang paling banyak ditemukan adalah gaster (48,8%).Kata kunci: esofagogastroduodenoskopi, perdarahan saluran cerna bagian atas, hematemesis, melena AbstractUpper gastrointestinal bleeding is a loss of blood in lumen of the gastrointestinal tract from esophagus to duodenum. Clinical manifestations are hematemesis (vomiting of blood) and/or melena (black stools). Many cases were widely reported from various hospitals. The most common etiology that often being reported are esophageal varices, peptic ulcer, erosive gastritis, etc. The objective of this study was to determine the frequency of esophagogastroduodenoscopy(EGD) findings in patients with hematemesis and/or melena in M Djamil Hospital Padang. The design of this research was retrospective descriptive. Data was taken from the result of patient's EGD examination(medical records) that having hematemesis and/or melena in Integrated Diagnostics Installation of M Djamil Hospital Padang from January 2010 to December 2013. The results showed that the highest cases of 162 patients were gastric ulcer (27.8%). According to gender, more men cases than women cases.  Men (64.8%) and women (35.2%) with ratio 1.8 : 1. Most cases occurred on 51-60 years old (20.0%). Location of lesions were most commonly found in gaster (48.8%).Keywords: esophagogastroduodenoscopy, upper gastrointestinal bleeding, hematemesis, melen

    Perbedaan Rerata Kadar Profil Lipid pada Preeklampsia dengan Kehamilan Normal pada Etnik Minangkabau

    Get PDF
    AbstrakPreeklampsia-eklampsia sampai saat ini masih merupakan disease of theory. Kelainan yang terjadi pada penyakit ini adalah disfungsi endotel yang dapat disebabkan oleh perubahan kadar profil lipid. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui perbedaan rerata kadar profil lipid pada preeklampsia dengan kehamilan normal pada etnik Minangkabau. Penelitian observasional dengan rancangan cross sectional ini dilakukan di RSUP dr. M. Djamil Padang, RS Reksodiwiryo Padang dan UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah Sumatera Barat. Subjek terdiri dari 2 kelompok yang diambil secara consecutive sampling dengan jumlah masing-masing 27 orang. Pemeriksaan profil lipid dilakukan dengan metode kalorimetri. Analisis data dilakukan secara uji statistik independent t-test. Hasil penelitian diperoleh rerata kadar total kolesterol pada kelompok preeklampsia dan kehamilan normal adalah 270,19+68,955 mg/dL dan 247,56+44,415 mg/dL dengan nilai p=0,158, rerata kadar trigliserida pada kelompok preeklampsia dan kehamilan normal adalah 296,07±157,993 mg/dL dan 272,89±84,608 mg/dL dengan nilai p=0,504, rerata kadar HDL pada kelompok preeklampsia dan kehamilan normal adalah 51,93±19,882 mg/dL dan 63,33±11,222 mg/dL dengan nilai p=0,012, rerata kadar LDL pada kelompok preeklampsia dan kehamilan normal adalah 159±52,038 mg/dL dan 129,67±38,692 mg/dL dengan nilai p=0,023, rasio perbandingan LDL/HDL pada kelompok preeklampsia dan kehamilan normal adalah 3,86 dan 2,04. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan pada kedua kelompok tidak ada perbedaan kadar kolesterol total dan trigliserida, tetapi ada perbedaan kadar HDL dan LDL , rasio perbandingan LDL/HDL lebih tinggi pada preeklampsia daripada kehamilan normal.Kata kunci: preeklampsia, total kolesterol, trigliserida, HDL, LDL, etnik Minangkabau AbstractPreeclampsia-eklampsia still being a disease of theory. One of abnormality accured in preeclampsia is endothelial disfunction that is caused by changes in lipid profile. The objective of this study was to find out the difference of lipid profile mean level in preeclampsia and normal pregnancy at Minangkabau Ethnic. This was an observational study with cross-sectional design at  dr. M.djamil Padang Hospital, dr Reksodiwiryo Hospital and UPTD regional health laboratory of West Sumatera. The subjects consist of two groups, choosen by consecutiteve sampling. Each group consist of 27 subjects. Lipid profile was examined by using independent calorimetric methode. The data analyzed statistically by independent t-test. The result of this study showed mean level of total cholesterol in preeclamsia and normal pregnancy were 270.19±68.955 mg/dL and 247.56±44.415 mg/dL with p-value 0.158. The mean levels of triglyceride in preeclampsia and normal pregnancy were 296.07±157.993 and 272.89±44.415 mg/dL with p-value 0.504. The mean level of HDL in preeclampsia and normal pregnancy were 51.93±19.882 mg/dL and 63.33 mg/dL p-value 0.012. The mean level of LDL in two groups were 159±52.038 mg/dL and 129.67±38.692 mg/dL with p-value 0.023 and the mean levels of LDL/HDL ratio were 3.86±3,09 mg/dLin  preeclampsia and 2,08±0,64 in normal pregnancy. It can be concluded that there is no significant difference in total cholesterol and triglyseride between preeclampsia and normal in HDL and LDL and there is significant difference in LDL/HDL ratio between preeclampsia and normal pregnancy at Minangkabau Ethnic.Keywords: preeclampsia, total cholesterol, triglyceride, HDL, LDL, Minangkabau Ethni

    Survei Larva Nyamuk Aedes Vektor Demam Berdarah Dengue di Kelurahan Kuranji Kecamatan Kuranji Kotamadya Padang Provinsi Sumatera Barat

    Get PDF
    AbstrakDemam berdarah dengue merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang masih ditemukan di Indonesia. Penyakit ini disebabkan oleh virus Dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes. Kelurahan Kuranji merupakan kelurahan dengan kasus demam berdarah dengue terbanyak di Kota Padang. Tujuan penelitian ini adalah menentukan density figure (kepadatan) larva nyamuk Aedes di Kelurahan Kuranji Padang. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Kuranji pada bulan April 2014. Desain penelitian adalah survei deskriptif dengan jumlah sampel 50 buah rumah yang diambil dengan cara multistage sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aedes aegypti ditemukan lebih banyak dibandingkan aedes albopictus, yaitu  97,74%. house index yaitu 52,50%, container index yaitu 34,72%,  breteau index yaitu 66,50% dan density figure yaitu 7.  Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aedes aegypti lebih banyak ditemukan di dalam rumah dan aedes albopictus hanya ditemukan di luar rumah. Bak mandi dari semen merupakan kontainer yang paling banyak ditemukan larva Aedes dibandingkan jenis kontainer lain.Kata kunci: dengue, aedes, density figure AbstractDengue haemorraghic fever is one of  important public health problem in Indonesia. This disease is caused by the dengue virus which is transmitted by  Aedes bytes. Kuranji is the most prevalent dengue haemorraghic fever in Padang.The objective of this study was to determine density figure in Kuranji district. This research had been held in Kuranji district in April 2014. The design was descriptive survey research method. The number of sampel was 50 that was taken by multi stage sampling method. The result showed that aedes aegypti found more than aedes albopictus, about 97.74%. house index 52.50%, container index 34.72%,  breteau index 66.50% and density figure 7. The research showed that Aedes aegypti is mostly found at house and aedes albopictus only found outdoor. The bath tank which are made from cement is the most comfortable breeding place for Aedes Aegypti rather than other containers.Keywords: dengue, aedes, density figur

    Hubungan Keteraturan Penggunaan Kortikosteroid Inhalasi dengan Tingkat Kontrol Asma Pasien Berdasarkan ACT di Poliklinik Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    AbstrakAsma merupakan penyakit yang didasari oleh reaksi inflamasi pada saluran napas yang dapat dicegah dengan kortikosteroid inhalasi. Asma sukar disembuhkan, sehingga tujuan penatalaksanaan asma adalah asma terkontrol. Penilaian tingkat kontrol asma dapat dilakukan dengan menggunakan kuesioner Asthma Control Test  (ACT) yang bersifat subjektif tetapi validitasnya telah diuji. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan keteraturan penggunaan kortikosteroid inhalasi dengan tingkat kontrol asma pasien berdasarkan ACT di Poliklinik Paru RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian cross sectional analytic ini telah dilakukan dari September hingga Desember 2013. Populasi adalah pasien berusia ≥14 tahun yang didiagnosis asma oleh dokter. Jumlah subjek penelitian sebanyak 96 orang. Data yang diperoleh diolah dan dianalisis menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Insiden terbanyak asma berada pada kelompok usia lanjut (60,4%). Sebagian besar pasien tidak teratur menggunakan kortikosteroid inhalasi (63,5%) dan pasien dengan asma tidak terkontrol memiliki proporsi tertinggi (59,4%) . Analisis statistik menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara keteraturan penggunaan kortikosteroid inhalasi dengan tingkat kontrol asma pasien berdasarkan ACT di Poliklinik Paru RSUP Dr. M. Djamil (p=0,002).Kata kunci: kortikosteroid inhalasi, ACT, tingkat control asma AbstractAsthma is a disease caused by an inflammatory reaction in the patient airways that can be prevented with inhaled corticosteroids. It is known that there is no cure for asthma, so the goal of asthma management is to obtain controlled asthma. The level of asthma control can be assessed by  using Asthma Control Test  (ACT) questionnaire, this method is subjective but its validity has been tested. The objective of this study  was to determine the association between regularity of inhaled corticosteroids application and patient’s level of asthma control based on ACT in the Lung Clinic of Dr. M. Djamil Padang Hospital. A cross sectional analitic was conducted from September to December 2013. The population is patient aged ≥14 years old who were diagnosed with asthma by a doctor. The number of samples is 96 people. The data were processed and analyzed using the Kolmogorov-Smirnov test. The incidence of asthma was highest in the elderly (60,4%). Most patients do not regularly use inhaled corticosteroids (63.5%) and patients with uncontrolled asthma had the highest proportion (59.4%) in this research. Based on statistic analisys, there was significant association between regularity of inhaled corticosteroids application and patient’s level of asthma control based on ACT in the lung clinic of Dr. M. Djamil Padang Hospital (p=0,002).Keywords: inhaled corticosteroids,  ACT, level of asthma contro

    1,096

    full texts

    1,143

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇