Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
    1143 research outputs found

    Gambaran Kadar Trombosit, Besar Limpa dan Kadar Albumin Serum pada Pasien Sirosis Hati dengan Varises Esofagus

    Get PDF
    Gambaran Kadar Trombosit, Besar Limpa dan Kadar AlbuminSerum pada Pasien Sirosis Hati dengan Varises EsofagusVella Paraditha1, Saptino Miro2, Eti Yerizel3AbstrakVarises esofagus merupakan komplikasi sirosis hati yang didiagnosis dengan endoskopi. Pada keadaantertentu, pemeriksaan endoskopi tidak dapat dilaksanakan, sehingga diperlukan cara lain sebagai alternatif untukmenilai varises esofagus. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran kadar trombosit, besar limpa dan kadaralbumin serum pasien sirosis hati pada berbagai derajat varises esofagus. Penelitian ini berupa deskriptif retrospektifdengan instrumen data rekam medik pasien sirosis hati dengan varises esofagus yang telah menjalani pemeriksaanfisik, laboratorium dan endoskopi di RSUP dr. M. Djamil Padang dari Januari 2010 sampai Juli 2012. Sampel yangdidapatkan berjumlah 33 pasien. Sebagian besar pasien mengalami trombositopenia. Penurunan kadar trombosit tidakberhubungan dengan peningkatan derajat varises esofagus. Besar limpa pada sebagian besar pasien dengan varisesesofagus derajat 1, 2, maupun 3 adalah ≤ S1. Seluruh pasien mengalami hipoalbuminemia. Penurunan kadar albuminserum tidak berhubungan dengan peningkatan derajat varises esofagus. Penelitian ini menunjukkan bahwa penurunankadar trombosit dan kadar albumin serum tidak berhubungan dengan peningkatan derajat varises esofagus. Tidakterdapat perbedaan besar limpa yang signifikan antara pasien dengan varises esofagus derajat 1, 2, maupun 3.Direkomendasikan agar menggunakan jumlah sampel yang lebih banyak pada penelitian selanjutnya dan data yangdigunakan sebaiknya diperoleh dari pemeriksa yang sama.Kata kunci: kadar trombosit, besar limpa, kadar albumin, derajat varises esofagusAbstractEsophageal varices is a complication in liver cirrhosis which can be diagnosed by endoscopy. However, oncertain conditions, endoscopy examination can not be performed. Another method is needed as an alternative toassess the esophageal varices. The objective of this study was to recognize platelet count, spleen size and serumalbumin level of liver cirrhosis patient in each esophageal varices degree. This is a retrospective descriptive study. Theinstruments used in this study are the medical record data of liver cirrhosis patients that have esophageal varices, whohave undergone physical, laboratory and endoscopy examinations in dr. M. Djamil Hospital Padang on January 2010-July 2012. Thirty-three patients were eligible for this study. The most of patients had thrombocytopenia. The decreasein platelet count was not related to the increase in esophageal varices degree. Spleen size in most of patients with first,second, and third degree esophageal varices was ≤ S1. All of patients had hypoalbuminemia. The decrease in albuminlevel was not related to the increase in esophageal varices degree. This study showed that the decrease in plateletcount and albumin level were not related to the increase in esophageal varices degree. There was no significantdifference in spleen size between patients with first, second, or third degree esophageal varices.Keywords: platelet count, spleen size, albumin level, esophageal varices degre

    Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Diare pada Bayi di Wilayah Puskesmas Nanggalo Padang

    Get PDF
    AbstrakDiare merupakan salah satu penyebab mortalitas pada bayi di negara berkembang. Tingginya kejadian diare dipengaruhi berbagai faktor, salah satunya adalah tidak dilakukannya pemberian ASI. Efek proteksi ASI lebih optimal jika diberikan secara eksklusif. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Nanggalo Kota padang. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Sampel berjumlah 82 ibu dan bayi yang dipilih dengan teknik Purposive Sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara kepada responden dengan menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi kejadian diare pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Nanggalo Kota Padang adalah 19.5% dan distribusi pemberian ASI eksklusif adalah 46.3%. Hasil uji statistik t independen menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara usia kejadian diare pertama kali antara bayi dengan ASI eksklusif dan tidak ASI eksklusif (p= 0.593). Hasil uji statistik chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada bayi (p=0.014). Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara usia kejadian diare pertama kali pada bayi dengan ASI eksklusif dan tidak ASI eksklusif dan terdapat hubungan bermakna antara pemberian ASI eksklusif dengan kejadian diare pada bayi.Kata kuncl: ASI eksklusif, diare, bayi AbstractDiarrhea is one of the causes of mortality in infants at developing countries. The high incidence of diarrhea is influenced by various factors, one of them is not breastfeed infants. Protective effect of breast milk is better when it gives exclusive breastfeeding. The objective of this study was to determine whether there is a relationship between exclusive breastfeeding with diarrhea incidence in infants in region of Nanggalo Public Health Center Padang. This study used a cross sectional design. The sample in this study was 82 pairs of mothers and infants had been selected with purposive sampling technique. Data were collected by interviewing respondents with questionnaire. The results show that the distribution of diarrhea incidence in infants in region of Nanggalo Public Health Center is 19.5% and the distribution of exclusive breastfeeding is 46.3%. The result of Independent t-test shows that there’s no significant difference between the age of first time diarrhea in  exclusive breastfeeding infants and no exclusive breastfeeding infants (p=0.593). The result of chi-square statistical test shows that there’s relationship between exclusive breastfeeding and diarrhea incident (p = 0.014). There is no significant difference between the age of first time diarrhea in exclusive breastfeeding infants and no exclusive breastfeeding infants and there is a significant relationship between exclusive breastfeeding with diarrhea incidence in infants.Keywords: exclusive breastfeeding, diarrhea, infan

    Identifikasi Pertumbuhan Jamur Aspergillus Sp pada Roti Tawar yang Dijual di Kota Padang Berdasarkan Suhu dan Lama Penyimpanan

    Get PDF
    AbstrakPangan yang cukup banyak dikonsumsi masyarakat sebagai makanan kudapan di Indonesia adalah roti tawar. Jamur merupakan mikroorganisme utama yang berperan penting dalam proses pembuatan dan pembusukan roti. Aspergillus merupakan kontaminan umum pada berbagai substrat di daerah tropis maupun subtropik. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan pertumbuhan jamur Aspergillus sp yang disimpan pada suhu kamar dan suhu di kulkas. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental analitik. Hasil penelitian menunjukan bahwa pertumbuhan jamur pada suhu kamar lebih cepat dibandingkan suhu kulkas. Pada suhu kamar 25C-28C, jamur Aspergillus sp tumbuh mulai hari ke-3 (33,3%) diikuti pada hari ke-4 (66,7%), sedangkan pada suhu kulkas (10C-15C) mulai tumbuh pada hari ke-5. Temperatur  ini juga berhubungan dengan kelembaban relatif karena semakin tinggi suhu maka  kelembaban relatif semakin rendah dan sebaliknya, semakin rendah suhu maka kelembaban relatif  akan semakin tinggi. Kesimpulan studi ini ialah terdapat perbedaaan pertumbuhan jamur Aspergillus sp yang disimpan pada suhu kamar dan suhu di kulkas walaupun perbedaannya tidak terlalu besar.Kata kunci: roti tawar, aspergillus sp, suhu, lama penyimpanan AbstractThe popular foods consumed by Indonesian citizens is loaves. Fungus is the main microorganism which has the main role in the process of loaves production and decomposition. Aspergillusis the eukaryotes microorganism that has the widest spread in the nature. This worm is also spreading in various substrates in the tropical and sub-tropical areas. The objective of this study was to compare the growth of Aspergillus sp stored in the room temperature and refrigerator temperature This research is analytic experimental. The results of this research showed  that the growth of fungus in the room temperature is faster than refrigerator temperature. In the room temperature, the fungus growth starts in the day-3 (33.3%) that is followed by dy-4 (66.7%), while the refrigerator temperature (100C-150C) shows that the fungus growth starts on day-5. The temperature is also related to the Relative Humidity (RH), the higher the temperature, so RH will become lower and vice versa. The foods which store in the low RH will be damaged on the surface side since the fungus, yeast, and certain bacteria. Hence, the fungus on loaves stored in the room temperature will be faster than loaves stored in the refrigerator temperature. There is a difference on the growth of Aspergillus sp stored in the room temperature and refrigerator temperature, even if the difference is not too big.Keywords: fresh bread,  aspergillus sp, temperature, prolonged storag

    Gambaran Pasien Tuli Mendadak di Bagian THT-KL RSUP Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    AbstrakTuli mendadak adalah penurunan pendengaran sensorineural yang berlangsung dalam waktu kurang dari 72 jam. Penyakit ini merupakan salah satu kegawatdaruratan neurotologi dan memerlukan penatalaksanaan dini untuk menghindari kecacatan yang dapat ditimbulkan. Tujuan penelitian ini adalah melihat gambaran kejadian tuli mendadak di Bagian THT-KL RSUP Dr. M.Djamil. Ini merupakan penelititan deskriptif retrospektif dengan menggunakan data rekam medik di RSUP Dr. M. Djamil Padang selama tahun 2010 sampai tahun 2013. Didapatkan hasil sebanyak 26 kasus yang masuk kriteria inklusi pada periode tersebut. Sebaran umur penderita dari 8 sampai 79 tahun, dengan distribusi terbanyak pada usia 40 – 60 tahun. Faktor resiko yang ditemukan berupa hipertensi dan diabetes melitus sama besar yaitu 11,54%. Gejala klinis terdiri atas tinitus (76,92%), diikuti vertigo (38,46%), dan rasa penuh di telinga (15,38%). Pasien terbanyak pada derajat ketulian sangat berat (38,46%), kemudian derajat sedang berat dan berat (23,08%), diikuti derajat ringan (11,54%) dan sedang (3,85%). Distribusi onset terapi terbanyak pada 0 – 7 hari (50,00%), kemudian onset > 14 hari (30,77%) dan onset 8 – 14 hari (19,23%). Perbaikan pendengaran ditemukan sama banyak pada kategori sangat baik dan baik sebanyak 6 kasus dan diikuti kategori sembuh satu kasus. Dari penelitian ini dapat dikatakan tidak hanya satu faktor yang menentukan perbaikan tuli mendadak.Kata kunci: tuli mendadak, retrospektif, gejala klinis1Mahasiswa FK Unand, 2Bagian Pulmonologi FK Unand, 3Bagian Patologi Anatomi FK UnandAbstractSudden deafness is a sensorineural hearing loss  in less than 72 hours. Sudden deafness is a neurotological emergency and requiring an early management to avoid the defects that can be caused. The objective of  this study was to see cases of sudden deafness in Dr. M. Djamil General Hospital. This was a descriptive research with retrospective design using medical record data in Dr. M. Djamil General Hospital in Padang during 2010 to 2013. From the research, 26 cases were obtained that can meet the inclusion criteria in the period. The age ranged from 8 to 79 years old, with most distributions at age 40-60 years old. Risk factors, hypertension and diabetes mellitus, were found equally 11,54%. Clinical symptoms consisted of tinnitus (76,92%), followed by vertigo (38,46%), and ear fullness (15,38%). Using grades of hearing impairment, most of patients were classified profound impairment (38,46%), then moderate and moderate severe impaitment (23,08%), followed by slight (11,54%) and moderate impairment (3,85%). Most therapeutic onset distribution is 0-7 days (50,00%), > 14 days onset (30,77%) and onset 8-14 days (19,23%). Hearing improvement was found equally in very good and good category (6 cases) and followed by recover category (1 case). It can be conclude that there were many factors can affect hearing improvement in sudden deafness case.Keywords: sudden deafness, retrospective, clinical symptom

    Uji Daya Hambat Ekstrak Buah Belimbing Manis (Averrhoa carambola) terhadap Pertumbuhan Bakteri Streptococcus pneumoniae secara In Vitro

    Get PDF
    AbstrakBuah belimbing manis (Averrhoa carambola) merupakan salah satu tanaman Indonesia yang diyakini memiliki khasiat obat. Salah satu manfaat yang dapat diambil dari sari buah belimbing manis (Averrhoa carambola) adalah dapat mengobati radang tenggorokan. Radang tenggorokan merupakan salah satu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus pneumoniae. Tujuan penelitian ini adalah menentukan daya hambat ekstrak buah belimbing manis (Averrhoa carambola) terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus pneumoniae  secara in vitro. Metode studi ini ialah eksperimental dengan desain postest only control group design yang dilakukan di Laboratorium Biota Sumatera Universitas Andalas dan Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dari Agustus sampai Oktober 2014. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak buah belimbing manis (Averrhoa carambola) dengan konsentrasi yaitu 5%, 10%, 15% dan 20% tidak memiliki daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus pneumoniae.  Hal ini terbukti karena tidak terbentuk zona hambat pada agar darah dan tidak terdapat pengaruh lama kontak ekstrak buah belimbing manis (Averrhoa carambola)  terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus pneumoniae secara in vitro. Ekstrak buah belimbing manis tidak memiliki efek antibakteri terhadap pertumbuhan bakteri Streptococcus pneumoniae.Kata kunci: ekstrak buah belimbing manis, Streptococcus pneumoniae, daya hambat Abstract             Star fruit (Averrhoa carambola) is a Indonesian plant that is believed to have medicinal properties. One of the benefits that can be drawn from the juice of star fruit (Averrhoa carambola) is the ability to treat strep throat. Strep throat is a bacterial infection caused by Streptococcus pneumoniae. The objective of this study was to determine the inhibitory extract of star fruit (Averrhoa carambola) on the growth of the bacterium Streptococcus pneumoniae in vitro. This was an experimental  research  with design posttest only control group design that conducted in the Laboratory of Biota Sumatra Andalas University and Laboratory of Microbiology, Faculty of Medicine, Andalas University from August to October by 2014. The results showed that the extract of star fruit (Averrhoa carambola) has no inhibitory effect on the growth of the bacterium Streptococcus pneumoniae with various concentrations of 5%, 10%, 15%, and 20%. No inhibition zones formed on blood agar and there is no effect of contact time extracts of star fruit (carambola Averhhoa) on the growth of the bacterium Streptococcus pneumoniae in vitro. Star fruit extracts do not have antibacterial effects against Streptococcus pneumoniae bacteria growth.  Keywords: extract of star fruit, Streptococcus pneumoniae, Inhibitio

    Perbedaan Kadar Glukosa Darah Antara Tikus Putih (Rattus Novergicus) yang Mendapat Asupan Susu Sapi dan Susu Kambing Segar

    Get PDF
    AbstrakSusu adalah hasil ternak yang dikenal sebagai bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Sebagian masyarakat menganggap susu sapi segar dan susu kambing segar berpengaruh terhadap kadar glukosa darah. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan glukosa darah tikus putih antara yang mendapat asupan susu sapi segar dan susu kambing segar. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan rancangan pre and post test only group design. Sampel penelitian ini adalah 10 ekor tikus putih jantan (Rattus novergicus) yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok susu sapi segar dan susu kambing segar. Kedua kelompok diberikan diet susu dengan dosis setara 1 gelas susu (3,6 ml) selama 4 minggu (28 hari). Pengukuran kadar glukosa darah menggunakan blood glucose test meter. Hasil penelitian didapatkan rerata kadar glukosa kelompok susu sapi segar sebelum (151,20 + 15,28 mg/dl), setelah (97,40 + 7.16 mg/dl), sedangkan rerata kadar glukosa kelompok susu kambing segar sebelum (133,80 + 5.80 mg/dl), setelah (97,80 + 7.88 mg/dl). Uji statistik dengan t-test menyimpulkan terdapat perbedaan bermakna rerata kadar glukosa darah tikus putih sebelum dengan setelah mendapat asupan susu sapi segar dan susu kambing segar, tetapi  tidak terdapat perbedaan bermakna rerata kadar glukosa darah tikus putih antara kelompok susu sapi segar dengan susu kambing segar setelah perlakuan.Kata kunci: susu sapi segar, susu kambing segar, glukosa darah AbstractMilk is the result of cattle known as a food of high nutritional value. Some people think fresh cow's milk and  fresh goat's milk effect on blood glucose levels. The objective of this study was to determine the differences in blood glucose levels of white rat (Rattus norvegicus) between that received fresh cow's milk and fresh goat's milk. This research was an experimental design with pre and posttest only group design. The sample was 10 male white rats (Rattus novergicus) divided into 2 groups:fresh cow's milk and goat's milk fresh. Both groups were given a diet of milk to equal 1 cup milk dose (3.6 ml) for 4 weeks (28 days). Measurement of blood glucose levels using a blood glucose test meter. The results showed a mean glucose level before fresh cow's milk group (151.20 + 15.28 mg / dl), after (97.40 + 7:16 mg / dl), whereas the mean glucose levels before the fresh goat milk group (133.80 + 5.80 mg / dl), after (97.80 + 7.88 mg / dl). The t-test results concluded that there is a significant difference in mean blood glucose levels before the white rat after receiving fresh cow's milk intake and fresh goat's milk, but there was no significant difference in mean blood glucose levels between groups of white rats fresh cow's milk with fresh goat's milk after treatment.Keywords:  fresh cow milk, fresh goat's milk, blood glucos

    Hubungan Antara Lamanya Ketuban Pecah Dini dengan Keberhasilan Induksi Persalinan pada Pasien Aterm di RSUP Dr. M. Djamil Padang

    No full text
    AbstrakKetuban pecah dini (KPD) adalah pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan dimulai. Semakin lama ketuban pecah semakin besar risiko terjadinya infeksi yang menyebabkan terjadinya pelepasan prostaglandin dan IL (interleukin). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara lamanya ketuban pecah dini (KPD) dengan keberhasilan induksi persalinan pada pasien aterm di RSUP Dr. M.Djamil Padang. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional restropektif dengan rancangan cross sectional. Total sampel sebanyak 94 pasien yang dipilih dengan teknik total sampling. Data diambil dari  Instalasi Rekam Medis RSUP Dr.M.Djamil Padang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 16 pasien (34,04%) yang mengalami KPD   ≥ 6 jam menunjukkan induksi persalinan yang berhasil dan sebanyak 31 pasien (65,96%) mengalami kegagalan. Sebanyak 35 pasien (74,47%) yang mengalami KPD < 6 jam menunjukkan induksi persalinan yang gagal dan sebanyak 12 pasien (25,53%) mengalami keberhasilan. Berdasarkan uji chi-square didapatkan nilai p=0,241 (p>0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara lamanya KPD dengan keberhasilan induksi persalinan pada pasien aterm di RSUP Dr. M.Djamil Padang.Kata kunci: ketuban pecah dini, aterm, induksi persalinan AbstractPremature rupture of membranes (PROM) is a rupture of the amniotic membranes before labor begins. The longer the rupture of the greater risk of infection that causes the release of prostaglandins and IL (interleukin) Increased contraction will affect the success of an especially labor at term pregnancy with normal labor. The objective of this study was to determine the relationship between duration of premature rupture of membranes (PROM) and the successful induction of labor at term in patients at Dr. M. Djamil Padang.This study used a retrospective observational analytic methods with cross sectional design. The total samples of 94 patients were selected with a total sampling technique. Data was taken from the Installation Medical Record  at Dr. M. Djamil Padang. The results showed that  16 patients (34.04%) who experienced PROM ≥ 6 hours showed successful induction of labor and 31 patients (65.96%) failed. In addition, 35 patients (74.47%) who experienced PROM < 6 hours showed a failed labor induction and as many as 12 patients (25.53%) experienced success. Based on chi-square test p value = 0,241 (p>0,05 ).This study concluded that there was no relationship between the duration of the PROM and the successful induction of labor at term in patients at Dr. M. Djamil Padang.Keywords: premature rupture of membranes, at term, induction of labor             Â

    Hubungan Konsumsi Makanan Fungsional Sumber Antioksidan dengan Fungsi Kognitif dan Kadar 4-Hydroxynonenal (4-HNE) Plasma Lansia

    Get PDF
    AbstrakMakanan fungsional sumber antioksidan memiliki efek perlindungan terhadap gangguan kognitif. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan antara fungsional makanan sumber antioksidan dan fungsi kognitif serta kadar 4-HNE plasma pada lanjut usia. Penelitian ini dilakukan dari Februari sampai  Oktober 2014 dengan desain cross sectional. Pengambilan sampel secara systematic random sampling pada daerah terpilih di kabupaten Limapuluh Kota. Populasi  adalah lanjut usia yang berumur ≥60 tahun dengan sampel terpilih sebanyak 134 orang. Konsumsi makanan fungsional sumber antioksidan diperoleh melalui Food Frequency Questionnaires dan fungsi kognitif diukur dengan metode MoCA-INA, sedangkan kadar 4-HNE plasma diperiksa di laboratorium Biomedik Universitas Andalas.  Uji statistik  yang digunakan adalah uji Mann-Whitney, uji korelasi spearman dan uji krusal-wallis dengan tingkat kemaknaan 95% (p<0,05).  Konsumsi  makanan fungsional sumber antioksidan  berhubungan yang bermakna terhadap gangguan fungsi kognitif pada asupan sayuran, buah, bumbu,  minuman teh dan coklat. Konsumsi makanan fungsional sumber antioksidan  dengan 4-HNE plasma pada lanjut usia tidak menunjukan hubungan yang bermakna, demikian juga dengan hubungan gangguan fungsi kognitif dengan kadar 4-HNE plasma pada lanjut usia.  Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan  konsumsi sayuran, buah, bumbu, minuman teh dan coklat merupakan makanan fungsional sumber antioksidan yang dapat melindungi lanjut usia dari gangguan fungsi kognitif.Kata Kunci: antioksidan, fungsi kognitif,  4-HNE , lansia AbstractThe functional foods with antioxidant have the effect  that able to prevent from cognitive impairment. The objective of this study was to know the relationship between functional food sources of antioxidant consumption on cognitive function and  4-HNE plasma level in elderly. This research was conduted from February to October 2014 using a croos-sectional design, the research was done in the Limapuluh Kota. The samples were choosen systematically and randomly in the population of elderly aged over 60 years with a sample of 134 peoples. Functional foods sources of antioxidant consumption were obtained by Foos Frequency Questionnaires and cognitive function was measured by Moca-INA method,  where as the levels of 4-HNE plasma checked in Biomedic laboratory  of Unversitas Andalas.   Statistical  test used  Mann-Whitney test, correlation spearman test, and Krusal-Wallis test with 95% significance level (p<0,05). Functional Food sources of antioxidant consumption  had a stronger relation with cognitive impairment at intake  of vegetables, fruits, herbs, tea and chocolate.  The relationship  in sources of antioxidant functional  foods with 4-HNE plasma showed not significand  statisticlly as well as cognitive function with 4-HNE plasma on elderly. Based on the result of the research,  the intake of vegatables, fruits, herbs, tea and chocolate are functional food sources of antioxidant which can protect elderly from impairment cognitive function.Keywords: antioxidant, cognitive function, 4-HNE, elderl

    Perbedaan Kadar Superokside Dismutase pada Remaja dengan Dismenore Primer dan Tanpa Dismenore Primer

    Get PDF
    Abstrak             Dismenore didefinisikan sebagai rasa kram saat menstruasi yang menyakitkan tanpa patologi yang jelas. Kram berlangsung selama satu hari atau lebih dan disertai rasa mual, diare, sakit kepala. Masalah yang ditimbulkan oleh dismenore adalah  peningkatan ketidakhadiran di sekolah pada remaja sehingga menyebabkan rendahnya nilai akademik pada pelajar. Superokside dismutase (SOD) adalah bahan bioaktif yang diketahui bersifat antioksidan. SOD melindungi sel terhadap gangguan oksidan (radikal bebas). SOD mengubah anion superoksida menjadi hidrogen peroksida dan oksigen, sering disebut juga sebagai pertahanan primer terhadap stress oksidatif. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui  perbedaan kadar superokside dismutase pada remaja dengan dismenore dan tanpa dismenore. Penelitian ini adalah observasional desain cross sectional comparative. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Withney  dengan nilai p<0.05 dianggap bermakna secara statistik. Rerata kadar SOD pada remaja yang mengalami dismenore yaitu 36,76 u/ml dan rerata kadar SOD pada remaja tanpa dismenore yaitu 32,24 u/ml. Dengan nilai p>0,005 (0,345). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna  kadar SOD pada remaja dengan dismenore dan tanpa dismenore. Kata kunci: remaja, dismenore, antioksidan, superokside dismutase AbstractPrimary dysmenorrhoe is  a painful menstrual cramps without obvious pathology. Cramps is lasting for one day or more, accaompanied by nausea, diarrhea and headache. Problems cause by dysmenorrhea are an increase in school attendance in adolescents resulting in low academic grades of students. Superokside Dismeutase (SOD) is a bioactive ingredient that is known as antioxidants, protecting cells against harmful SOD oxidants (free radicals) SOD convert superoxide anion into hydrogen perokxide and oxygen, often call  as primary defense agains oxidative stress. Primary dysmenorrhoe increased uterine activity or increased uterine contractions cause arteriolar vasospasm resulting in ischemia and lower abdominal  cramping and increased a lots of oxygen produced. The objective of this study was to determine the differences in the levels of superoxide dismutase between adolencents with and without dysmenorrhoe. This study is a comparative observasional cross-sectional design, the study conducted at Biomedical Laboratory Medical Faculty of Andalas University in May-Juli 2014. The samples consisted two groups with 34 samples each. The level of SOD using Elisa method. Data were analyzed by Mann-whitney with p<0,05 considered statistically significant. The result obtained by the average levels of SOD adolescents who experienced dysmenorrea is 36,76u/ml, with a value of p>0,05 (0,345). The conclusion of this study is no significant difference SOD levels between adolescents with and without dysmenorrea.Keywords: adolescent, dysmenorrea, antioxidant, superoxide dismutas

    Hubungan Kadar Trigliserida dan Kolesterol-HDL Terhadap Kadar Alanine Aminotransferase pada Pasien Non Alcoholic Fatty Liver Disease

    Get PDF
    AbstrakTrigliserida dan Kolesterol HDL (c-HDL) merupakan beberapa dari komponen Sindroma Metabolik (SM). SM dipercaya merupakan faktor utama penyebab Non Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD). NAFLD merupakan penyakit hati kronik yang nantinya dapat menyebabkan fibrosis sel-sel hepar dan juga keganasan. NAFLD tidak menunjukkan manifestasi klinis yang khas, sehingga diperlukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan enzim hati untuk menegakkan diagnosis. Alanine Aminotransferase (ALT) menjadi pilihan sebagai marker pada penyakit NAFLD. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara trigliserida dan c-HDL dengan ALT pada penderita NAFLD. Ini merupakan penelitian analitik deskriptif dengan desain retrospektif menggunakan data pasien NAFLD di instalasi rekam medik RSUP dr.M.Djamil Padang. Sampel penelitian ini adalah 51 pasien NAFLD. Hasil penelitian didapatkan dari uji korelasi pearson terdapat derajat hubungan yang kuat (r=0,512) dan hubungan yang bermakna (p<0,001) antara kadar trigliserida dengan kadar ALT serum dan derajat hubungan yang sedang (r=0,26) dan hubungan yang tidak bermakna (p=0,065) antara c-HDL dengan ALT serum. Kesimpulan penelitian ini adalah kadar ALT berhubungan dengan kadar trigliserida pada penderita NAFLD, namun tidak dengan c-HDLKata kunci: NAFLD, trigliserida, HDL, ALT, sindroma metabolik AbstractTriglyceride and HDL Cholesterol (HDL-C) are some of the Metabolic Syndrome (MS) components. MS is believed as the main factor for the Non Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD). NAFLD is a chronic liver disease, which later can cause hepatocyte fibrosis and also malignancy. NAFLD does not show a typical clinical appearance, so it is important to do workups such as liver enzyme test to make the diagnosis. Alanine Aminotransferase (ALT) is considered as the marker of NAFLD.The objective of this study was to determine the relationship between triglycerides and HDL-C to ALT level in NAFLD patients.This  was a descriptive analytical study with retrospective design using data of NAFLD patients in the hospital medical record installation of RSUP Dr. M. Djamil Padang. The sample in this study were 51 NAFLD patients. The results obtained from Pearson correlation test was  a strong correlation (r=0,512) and significant (p<0,001) between triglyceride and ALT level, and a moderate correlation (r=0,26) and insignificant (p=0,065) between HDL-C and ALT level. The conclusion is triglyceride level correlated with ALT level in patient with NAFLD.Keywords: NAFLD, triglyceride, HDL, ALT, metabolic syndrome

    1,096

    full texts

    1,143

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇