Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
    1143 research outputs found

    Pengaruh Lama Pemberian Diet Tinggi Kolesterol terhadap Kadar LDL dan TGF-Î’ Serum Tikus Putih (Rattus novergicus) strain Wistar

    Get PDF
    AbstrakDiet tinggi kolesterol ini akan meningkatkan kadar Low Density Lipoprotein (LDL) sebagai penanda hiperlipidemia yang berdampak pada terjadinya aterosklerosis. Transforming Growth Factor β (TGF-β) memiliki peranan dalam proses terjadinya aterosklerosis ini. Keterlibatannya dalam hiperlipidemia sebagai faktor risiko utama aterosklerosis belum banyak diketahui. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh lama permberian diet tinggi kolesterol terhadap kadar LDL dan TGF-β pada tikus putih (Rattus novergicus) strain Wistar. Penelitian ini menggunakan metode post test only control group design yang dilakukan terhadap tikus Rattus novergicus jantan umur 3-4 bulan, berat 200-250 gram. Sampel penelitian terdiri dari 24 ekor tikus yang dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu kelompok kontrol, A, B dan C. Selain kelompok kontrol, kelompok tikus diberi diet tinggi kolesterol berupa lemak kambing 10%, telur puyuh 5%, selama 10 hari untuk kelompok A, 20 hari untuk kelompok B dan 30 hari untuk kelompok C. Pada akhir percobaan darah tikus diambil dan dilakukan pemeriksaan kadar LDL dan TGF-β serum. Hasil penelitian diolah secara bivariat. Analisis yang digunakan yaitu uji oneway Anova. Hasil penelitian diketahui terdapat pengaruh lama pemberian diet tinggi kolesterol terhadap peningkatan kadar LDL serum tikus dengan p=0,01 (p<0,05). Terdapat pengaruh lama pemberian diet tinggi kolesterol terhadap penurunan kadar TGF-β dimana p=0,04 (p>0,05). Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh lama pemberian diet tinggi kolesterol terhadap kadar LDL dan tikus putih Rattus novergicus strain Wistar.Kata kunci: diet tinggi kolesterol, LDL, TGF-β AbstractHigh-cholesterol diet will increase Low Density Lipoprotein (LDL) levels which impact to atherosclerosis. Transforming Growth Factor β (TGF-β) play a role in atherosclerosis process. But its involvement in hyperlipidemia as the main risk factor of atherosclerosis still unknown. The objective of this study was to observe the effect of duration of giving  high-cholesterol diet on Low Density Lipoprotein and Transforming Growth Factor β levels white rats (Rattus novergicus) Wistar strain. This study uses  post-test only control group design, carried out on male rats Rattus novergicus 3-4 months, weight 200-250 grams. The study sample consisted of 24 rats were divided into 4 groups: control group, group A, group B and group C. Except  the control group, the group of rats given a high-cholesterol diet in the form of goat fat 10%, 5% quail eggs for 10 days to group A, group B for 20 days and 30 days for group C. At the end of the experiment blood was taken and examined LDL and TGF-β levels. Results were analyzed using bivariate. The analysis is oneway Anova test. The results of research known to have effect of duration on giving high-cholesterol diet to increase serum LDL levels of rats with p = 0.01 (p<0.05). This is the same case with TGF-β, which there was effect of duration on giving high-diet cholesterol diet to decrease serum TGF-β levels of rats where p = 0.04 (p>0.05). This study concludes that there are effect of duration on giving high-cholesterol diet to levels of LDL and TGF-β white rats Rattus novergicus Wistar strain.Keywords:  high-cholesterol diet, LDL, TGF Î

    Gambaran Derajat Merokok Pada Penderita PPOK di Bagian Paru RSUP Dr. M. Djamil

    Get PDF
    AbstrakPenyakit Paru Obstuktif Kronik (PPOK) adalah penyakit dengan karakteristik keterbatasan saluran napas yang tidak sepenuhnya reversibel dan dapat dicegah. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang memiliki jumlah perokok aktif yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran derajat merokok pada penderita PPOK di Bagian Paru Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil Padang. Ini adalah penelitian deskriptif retrospektif dengan menggunakan data rekam medik penderita merokok dengan yang dirawat di Bagian Paru Rumah Sakit Umum Pusat Dr. M. Djamil. Data sekunder diambil dari rekam medik penderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) yang dirawat di Bagian Paru Rumah Sakit Umum Pusat dari  1 Januari 2013 sampai 31 Desember 2013. Data diolah secara manual dan disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Sebanyak 20 subjek didapatkan nilai indeks brinkman berat sebanyak 15 orang. Setelah dilakukan uji statistik didapatkan hubungan yang signifikan antara derajat merokok dengan derajat keparahan PPOK (p = 0,033) dan korelasi yang kuat antara keduanya (r  = 0,577). Terdapat hubungan yang signifikan dan korelasi yang kuat antara derajat merokok dengan derajat keparahan PPOK.Kata kunci: merokok. indeks Brinkman, PPOK AbstractCOPD is a disease with airway limitation characteristic. That is not fully reversible and can be prevented. Smoking is the leading cause of COPD. Indonesia is one of the developing countries that have a high number of active smokers. The increase in prevalence is also occurred in the province of West Sumatra, which increased from 30.2% in 2007 to 38.4% in 2010. The objective of this study was to describe the degree of smoking in patients with COPD in Pulmonary Section General Hospital Dr. M. Djamil. This study used a retrospective descriptive design using medical record data of smoker patients with Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) who were treated in the Pulmonary Section General Hospital Dr. M. Djamil. The data was taken from the secondary status of patients with Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) who were treated in Pulmonary Section General Hospital from January 1, 2013 to December 31, 2013 that recorded in the medical record. Data processed manually from the status of COPD patients and were presented in the form of frequency distribution table. From 20 subjects obtained that 15 samples were classified to severe Brinkman index.  Statistical tests found a significant relationship between the degree of smoking with COPD severity (p = 0.033) and a strong correlation between the two (r  = 0.577). There is a significant relationship and strong correlation between the degree of smoking with COPD severity.Keywords: smoking, Brinkman Index, COP

    Hubungan Faktor Risiko terhadap Kejadian Asma pada Anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    AbstrakPrevalensi asma  terus meningkat (5—30% dalam satu dekade terakhir) dan lebih dari 50% penderita saat ini adalah anak-anak. Fenomena ini tidak terlepas dari kompleksitas patogenesis asma yang melibatkan faktor genetik dan lingkungan  yang dimulai sejak masa fetal. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara faktor genetik, demografi, lingkungan, dan perinatal terhadap kejadian asma anak di RSUP Dr. M.. Djamil Padang. Desain penelitian ini adalah case-control study terhadap pasien rawat inap di bangsal anak. Pemilihan sampel menggunakan teknik simple randomized sampling dengan jumlah 78 pasien (39 kasus dan 39 kontrol). Data didapatkan melalui rekam medis subyek penelitian. Analisis data yang digunakan yaitu univariat dan bivariat dengan chi-square. Hasil uji chi-square menunjukkan usia < 5 tahun (p= 0,364), jenis kelamin laki-laki (p=0,255), berat badan lahir rendah (p=0,358), obesitas (p=0,382)  tidak memiliki hubungan bermakna dengan asma anak. Hanya riwayat atopi (p <0,05) yang memiliki hubungan berarti. Riwayat paparan asap rokok dan bulu binatang tidak lengkap; sedangkan  usia gestasional hanya satu kelompok saja sehingga tidak dianalisis. Disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna antara usia <5 tahun, jenis kelamin laki-laki, prematuritas dan obesitas dengan kejadian asma anak. Hubungan bermakna hanya terdapat pada riwayat atopi dengan kejadian asma anak.Kata kunci: asma anak, faktor risiko, riwayat atopi  AbstractPrevalence of asthma is  still elevating (5—30% at last decade) and more than 50% of asthmatic is children. This phenomenon is predicted correlating with the complexity of pathogenesis of asthma (included genetic, environtment and perinatal factors) that began from fetal-age. The objectives of this study was to deternine the correlation of genetic, demographic, environtment, perinatal factors to asthma in children in RSUP Dr. M. Djamil Padang. Research design was case-control study. The pediatric patients in RSUP Dr. M. Djamil Padang were the population. The 78 samples were taken by simple randomized sampling technique (39 cases and 39 controls). The chi-square test showed no correlation among age <5 years old (p=0,364), male for sex (p=0,255), low birth-weight (p=0,358), obesity (p=0,382) to children asthma. The history of atopy (p <0,05) was the only correlation to asthma in RSUP M. Djamil Padang. The data of environtment tobacco smoke and pet’s hair were not completed and prematurity history  just the only grouped in class of gestasional age, so the data were not analyzed. In conclusion, there are no correlation among age <5 years old, male for sex, low birth-weight, and obesity with children asthma. Atopic history is the  only data that has correlation with children ashtma in RSUP M. Djamil Padang. Keywords: children asthma, risk factors, atopic histor

    Gambaran Klinis dan Endoskopi Saluran Cerna Bagian Atas Pasien Dispepsia di Bagian RSUP Dr. M. Djamil Padang

    Get PDF
    AbstrakDispepsia ialah suatu sindrom yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di ulu hati, kembung, mual, muntah, sendawa, rasa cepat kenyang, perut rasa penuh/begah. Salah satu alat diagnostik untuk dispepsia adalah endoskopi. Alat ini dapat menentukan jenis lesi dan lokasi lesi pada saluran cerna atas pasien dispepsia. Tujuan penelitian ini adalah mementukan frekuensi keluhan, derajat keluhan, insiden pasien dispepsia yang mengalami tanda bahaya berdasarkan jenis kelamin, faktor risiko dispepsia, diagnosis endoskopi  dan lokasi lesi saluran cerna atas pasien dispepsia. Desain penelitian ini adalah deskriptif observasional. Subjek penelitian  terdiri dari 54 orang pasien dispepsia yang dilakukan pemeriksaan esofagogastroduodenoskopi (EGD) di RSUP Dr. M. Djamil dari Mei hingga Juni 2014. Data dikumpulkan dengan cara pengisian kuisioner melalui wawancara, pencatatan hasil pemeriksaan endoskopi. Hasil penelitian didapatkan bahwa keluhan terbanyak dari pasien dispepsia adalah nyeri ulu hati (98,15%), derajat keluhan terbanyak adalah derajat sedang (38,89%), insiden tanda bahaya lebih banyak pada pria, faktor risiko terbanyak adalah konsumsi makanan berlemak (92,59%), diagnosis endoskopi dispepsia terbanyak adalah gastritis (61,11%), lokasi lesi saluran cerna atas terbanyak adalah gaster (85,19%). Kata kunci: dispepsia, gambaran klinis, endoskopi AbstractDyspepsia is a syndrome that consist of pain or discomfort in upper abdominal, bloating, nausea, vomiting, bletching, early satiation  and post-prandial fullness. One of the diagnostic tool for dyspepsia was endoscopy. It can be determined the type and the location of upper gastrointestinal’s lesions in patient with dyspepsia. The objective of this study was to determined the frequency of dyspepsia’s complaints, the degree of dyspepsia’s complaints, the incident of alarm sign based on gender, the frequency of  risk factors of dyspepsia, endoscopic diagnosis and the location of upper-gastrointestinal’s lesions in patient with dyspepsia. The design of this research was an observational descriptive study. The subject of this study are consist of 54 patients with dyspepsia who have performed esophagogastro- duodenoscopy  (EGD) examination in Integrated Diagnostics Installation of Dr. M. Djamil Hospital Padang from May to June 2014. Data were collected by filling the questionnaire through an interview, recording the results of endoscopic examination. The results showed that the majority of dyspepsia patients’ complaints were heartburn (98.15%), the degree of complains is moderate (38.89%), the incidence of alarm sign most experienced by male, the most  risk factor of dyspepsia was the consumption of fatty foods (92.59%), the most endoscopic diagnosis of dyspepsia was gastritis (61.11%), and the most upper gastrointestinal lesion of dyspepsia was located in gastric (85.19%)Keywords: dyspepsia, clinical findings, endoscop

    Identifikasi Bakteri Coliform pada Kontak Permukaan Galon Air Minum Isi Ulang Distribusi Akhir di Kecamatan Bungus

    Get PDF
    AbstrakGalon air minum merupakan wadah untuk menyimpan persediaan air minum yang banyak digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air minum sehari hari di Kota Padang. Jika wadah tidak dibersihkan sesuai standar yang telah ditetapkan, maka akan terdapat bakteri kontaminan di permukaan dalam galon yang akan menyebabkan berbagai penyakit. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kualitas mikrobiologi kontak permukaan dalam galon pada distribusi akhir di Kecamatan Bungus. Penelitian dilakukan di depot air minum isi ulang di Kecamatan Bungus Padang dari April 2014 sampai Oktober 2014. Metode penelitian  menggunakan cross sectional study yang dilakukan pada 18 sampel dari 9 depot air minum isi ulang yang dibagi menjadi masing-masing 2 galon per depot air minum isi ulang. Penelitian ini terdiri dari pengambilan sampel lalu uji bakteriologi dengan metode Most Probably Number (MPN) yang meliputi uji penduga dan uji konfirmasi. Hasil uji konfirmasi dari 18 sampel didapatkan 3 sampel yang tidak memenuhi syarat mikrobiologis sesuai dengan PERMENKES No. 46 tahun 1990.Kata kunci: uji presumptive, uji confirmative, most probably number AbstractGallons of drinking water is a container for storing drinking water supplies are widely used by the community to meet the daily drinking water needs in Padang city. If the container is not cleaned according of standards that have been set, there will be bacterial contaminants on the surface in gallons that will cause various diseases. The objective of this study was to determine the microbiological quality of the contact surface in gallons at the end of the distribution in the Bungus District. The study was conducted at the depot refill drinking water in the Bungus District  Padang in April 2014 to October 2014. Cross-sectional study was performed on 18 samples from 9 depot refill drinking water which is divided into each of 2 gallons per refill drinking water depot. This study consisted of sampling and bacteriological test  Most Probably Number (MPN), which includes test and confirmative test estimators. Confirmative test results of 18 samples are obtained three samples that do not qualify according to the microbiological that has been set by PERMENKES No. 46 in 1990.Keywords: presumptive test, confirmative test, most probably numbe

    Hubungan Anemia dengan Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah pada Kehamilan Aterm di RSUD Achmad Darwis Suliki

    Get PDF
    AbstrakAnemia pada ibu hamil adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah <11,0 g%. Masalah yang dihadapi oleh pemerintah Indonesia adalah tingginya prevalensi anemia pada ibu hamil yang merupakan masalah kesehatan utama yang berhubungan dengan kejadian bayi berat lahir rendah (BBLR). Bayi berat lahir rendah memiliki efek jangka pendek maupun panjang terhadap bayi tersebut dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi. Penelitian ini menggunakan desain retrospektif observasional dengan mengumpulkan data rekam medis ibu hamil aterm yang melahirkan di RSUD Achmad Darwis Suliki Kabupaten Lima Puluh Kota periode Januari – Desember 2013. Dari 73 sampel ibu hamil aterm anemia dan tidak anemia didapatkan nilai rerata berat bayi pada ibu hamil aterm anemia adalah 2722 gram dan rerata berat badan bayi pada ibu hamil aterm tanpa anemia adalah 2967 gram. Hasil analisis bivariat dengan uji Chi Square didapatkan  nilai p:0,047 (p<0,05) dengan rasio prevalensi sebesar 1,7. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara anemia pada ibu hamil aterm dengan berat bayi lahir rendah di RSUD Suliki Kabupaten Lima Puluh KotaKata kunci: Anemia, hamil aterm, BBLR. AbstractAnaemia in pregnancy is a condition where hemoglobin concentration in blood <11.0 gr%. Indonesia government has an  issue about the high prevalence of anaemia in pregnancy which is the main issue correlates to the low birth baby weight. Low birth baby weight has a short and long term effects with high risk of morbidity and mortality. This analytic research with observational retrospective design obtaining datas from medical records of aterm pregnant mother who gave a birth in RSUD Achmad Darwis Suliki Kabupaten Lima Puluh Kota in a period from January – Desember 2013. From 73 samples of aterm pregnant mother who had anaemia and non anaemia, known mean of baby weight in normal aterm pregnant mothers who had anaemia is 2722 gram and mean of baby weight from aterm pregnant mothers without anaemia is 2967 gram. The result of bivariate analysis by Chi-Square test with p-value : 0.047 (<0.05) and prevalence ratio is 1.7. It can concluded that there is a significant correlation between anaemia in aterm pregnancy and low birth baby weight in RSUD Achmad Darwis Suliki Kabupaten Lima Puluh Kota.Keyword: Anaemia, Aterm Pregnancy, Low Birth Baby Weigh

    Karakteristik Ibu pada Penderita Abortus dan Tidak Abortus di RS Dr. M. Djamil Padang Tahun 2011-2012

    Get PDF
    AbstrakAbortus adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup di luar kandungan dengan batasan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan hubungan usia ibu, usia kehamilan, pekerjaan dan pendidikan terhadap kejadian abortus dan tidak abortus.  Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Populasi adalah rekam medik seluruh ibu hamil yang menjalani rawat inap di bagian Obstetri dan Ginekologi RS Dr. M. Djamil Padang sejak Januari 2011 sampai Desember 2012. Jumlah sampel sebanyak 272 orang yang diambil dengan teknik simple random sampling. Data diambil dengan cara melihat data sekunder dari rekam medis pasien dan dianalisis menggunakan analisis univariat dan bivariat uji chi-square pada nilai p < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian abortus tahun 2011-2012 adalah 5,83%. Ibu yang mengalami abortus lebih banyak berada di kelompok usia dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun, paritas lebih dari 3, pernah mengalami abortus sebelumnya, usia kehamilan kurang dari 12 minggu, tidak bekerja dan pendidikan terakhir SD, SLTP dan SLTA dibandingkan dengan ibu yang tidak mengalami abortus. Uji statistik menunjukkan bahwa usia ibu, usia kehamilan, pekerjaan dan pendidikan memengaruhi terjadinya abortus (p=0,035; p=0,000; p=0,002 dan p=0,043), sedangkan paritas dan riwayat abortus sebelumnya tidak memengaruhi terjadinya abortus (p=0,919 dan p=0,205).Kata kunci: usia ibu, paritas, riwayat abortus, usia kehamilan, pekerjaan ibu, pendidikan ibu, abortus AbstractAbortion is a pregnancy termination before the 20th completed week or weighing less than 500 gram. The objective of this study was to determine the relationship of the age, parity, history of previous abortion, gestational age, mother's occupation and education on abortion and without abortion. The design was comparative study with the cross sectional approach. The population was taken from the medical records of all pregnant women who is hospitalized at the Obstetric and Gynaecology Department in Dr. M. Djamil Hospital during during the period January 2011 to December 2012. The total samples of 272 people were taken by multi-stage random sampling. The data were collected from medical records and analyzed using univariate and bivariate analysis with Chi-Square test at p-value < 0,05. The results are the incidence of abortion at Dr. M. Djamil Hospital during the periode January 2011 to December 2012 is 5.83%. Pregnant women with abortion were mostly at the age 20 years and above 35 years, parity more than 3,  had previous abortions, gestational age less than 12 weeks, does not work and elementary school, junior and senior high as their latest education compared to pregnant women without abortion. Statistical test results showed that  maternal age, gestational age, occupation and education can affect the insidence of abortion (p=0.035; p=0.000; p=0.002 dan p=0.043). Parity and history of previous abortion don’t affect the incidence of abortion (p=0.919 dan p=0.205).Keywords:  maternal age, parity, history of previous abortion, gestational age, occupation, education, abortio

    Hubungan antara Higiene Perorangan dengan Infeksi Cacing Usus (Soil Transmitted Helminths) pada Siswa SDN 25 dan 28 Kelurahan Purus, Kota Padang, Sumatera Barat Tahun 2013

    Get PDF
    AbstrakInfeksi cacing usus (helminthiasis) masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang prevalensinya lebih tinggi pada anak usia sekolah dasar (SD). Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Padang, jumlah kasus infeksi cacing usus di Kota Padang tahun 2010 dilaporkan terbanyak kelima dari penyakit yang menyerang balita, yaitu sekitar 2.64%. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara higiene perorangan siswa yaitu kebiasaan mencuci tangan, kebersihan kuku, penggunaan alas kaki dan kebiasaan mandi dengan infeksi cacing usus. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan metode cross sectional  pada 122 murid kelas 1 sampai kelas 6 SDN 25 dan 28 Purus Kota Padang pada bulan Desember 2013. Hubungan antara variabel dianalisis dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka infeksi kecacingan di Purus 38.5%, yang terinfeksi A.lumbricoides 33.6%, T.trichiura 7.4% dan cacing tambang 0.8%. Didapatkan nilai probabilitas untuk hubungan variabel kebiasaan mencuci tangan 0.235, kebersihan kuku 0.564, penggunaan alas kaki 0.133, dan kebiasaan mandi dengan infeksi cacing usus 0.753.  Kesimpulan studi ini ialah tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan mencuci tangan, kebersihan kuku, penggunaan alas kaki dan kebiasaan mandi dengan infeksi cacing usus pada murid SDN 25 dan 28 Purus, Kota Padang tahun 2013. Kata kunci: higiene perorangan, infeksi cacing usus, siswa sekolah dasar, perilaku siswa AbstractIntestinal worm infection (helminthiasis) is a public health problems in  Indonesia. Its prevalence is found higher on children. Based on data of Padang District Health Office, the prevalence of helminthiasis in Padang City at 2010 was reported the most 5th highest of disease that attacks toddler, it is about 2.64%. The objective of this study was to determine the relation between the student’s personal hygiene habits, such as washing hands, nail cleanliness, using footwear and bathing to the intestinal worm infection. This study used an observational analytic design method of cross -sectional study on 122 students in grade 1 to grade 6 in 25 and 28 primary school Purus, Padang in December 2013. Bivariat analysis was done using chi–square test with the confidence interval  95% at the significance level 5% (α=0.05). The result of this study showed that the rate of intestinal worm infection was 38.5%. The infection rate of each worm types were roundworms 33.6%, whipworms 7.4% and hookworms 0.8%. The statistical test indicated the probability for the relation between the variable of hand washing, nail cleanliness, using footwear and bathing with helminthiasis were 0.235 (p>0.05), 0.564(p>0.05), 0.133(p>0.05) and 0.753(p>0.05) respectively. It can be concluded that there’s no significant relation between personal hygiene and intestinal worm infection of the 25 and 28 primary school students in Purus, Padang. Keywords:  personal hygiene, intestinal worm infection, primary school students, student’s behaviourÂ

    Hubungan Usia dan Paritas dengan Kejadian Preeklampsia Berat di Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi Tahun 2012 - 2013

    Get PDF
    AbstrakPreeklampsia dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang membahayakan bagi ibu dan janin, sehingga dapat menimbulkan kematian.  Beberapa faktor risiko seperti usia yang ekstrem (<20 &>35 tahun) dan nuliparitas. Keduanya merupakan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi. Tujuan  penelitian ini adalah menentukan hubungan usia dan paritas dengan kejadian preeklampsia berat. Telah dilakukan penelitian di Bagian Rekam Medis Rumah Sakit Achmad Mochtar Bukittinggi terhadap data semua pasien rawat inap obstetri dan ginekologi tahun 2012 – 2013.  Penelitian menggunakan metode analitik dengan desain cross sectional study. Analisis penelitian menggunakan ratio prevalence dan chi-square test dengan derajat kepercayaan 95%. Penelitian ini menemukan 162 kasus (4,99%) preeklampsia berat. Proporsi kasus terbesar ditemukan pada kelompok usia ekstrem (9,90%) dan kelompok multiparitas (8,68%). Analisis ratio prevalence menyimpulkan bahwa usia ekstrem merupakan faktor risiko preeklampsia berat (RP= 1,476; CI= 1,094 – 1,922), dan nuliparitas belum dapat ditentukan apakah merupakan faktor risiko atau faktor protektif (RP= 0,765; CI= 0,565 – 1,034). Berdasarkan analisis dengan chi-square test, disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara usia dengan preeklampsia berat (p= 0,014<0,05) dan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara paritas dengan preeklampsia berat (p= 0,096>0,05).Kata kunci: preeklampsia, faktor risiko, usia, paritas AbstractPreeclampsia can cause the complication that endanger maternal and fetal, until death. There are many risk factors like extreme age (<20 & >35 years) and nuliparity that can not modify. The objective of this study was to  determine the relationship of maternal age and parity to the incidence of severe preeclampsia.  The research conducted at Medical Record Division of Achmad Mochtar Hospital Bukittinggi about data of all hospitalized patients of obstetrics and gynecology on 2012 – 2013. This research used the analytical method with cross sectional study. Analysis of this research used ratio prevalence and chi-square test with degree of confidence 95%. This research  found 162 case (4.99%) severe preeclampsia. The highest proportion of this case was the extreme age groups (9.90%) and multiparity group (8.68%). Analysis with the ratio prevalence concluded that extreme age is a risk factor for severe preeclampsia (RP=1.476; CI= 1.094 – 1.922) and nuliparity can not determined wheather a risk factor or protective factor (RP= 0.765; CI= 0.565 – 1.034). Analysis with chi-square test concluded that there is a significant relationship between age with severe preeclampsia (p= 0.014<0.05) and there is no significant relationship between parity with severe preeclampsia (p= 0.096>0.05).Keywords: preeclampsia, risk factors, age, parit

    Identifikasi dan Penentuan Kadar Klorin pada Beras yang Dijual di Pasar Raya Padang

    Get PDF
    AbstrakKeamanan makanan merupakan salah satu masalah yang harus mendapatkan perhatian terutama di negara berkembang seperti Indonesia, karena bisa berdampak buruk terhadap kesehatan. Penyebabnya adalah masih rendahnya pengetahuan, keterampilan serta tanggung jawab daripada produsen dan distributor pangan terhadap mutu serta keamanan makanan. Hal ini menyebabkan produsen dan distributor sering menambahkan bahan kimia ke dalam produk makanan, salah satunya penambahan klorin pada beras. Konsumsi klorin terus-menerus dapat menyebabkan gangguan pada saluran cerna, seperti gastritis. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi dan penentuan kadar klorin pada beras yang dijual di Pasar Raya Padang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilakukan di Laboratorium Kimia Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang dari Januari sampai April 2014. Identifikasi dan penentuan kadar klorin dilakukan terhadap 34 sampel beras yang diambil secara random. Metoda yang digunakan adalah metoda iodometri dan menggunakan larutan titrasi Na2S2O3 0,01 N. Hasil penelitian yang dilakukan terhadap 34 sampel, didapatkan 2 sampel beras yang mengandung klorin dengan kadar 0,35gr% dan 0,53gr%.Kata kunci: klorin, beras, titrasi AbstractThe food safety is one of problems that should get attention, especially in developing countries like Indonesia, because it can gives a negative impact for health. The cause is  the producer’s and the distributor’s lack of knowledge, skill, and responsibility for the quality and safety of food.  It causes producers and distributors often add chemicals to food products, one of which chlorine in the rice. Cotinuous consumption of chlorine can cause gastrointestinal tract disease like gastritis. The objective of this study was to identify and determination chlorine in the rice that sold at Pasar Raya Padang. This research is a descriptive study at The Chemistry Laboratory, Medical Faculty Andalas University Padang from January to April 2014. The identification and determination of chlorine on 34 samples of rice taken by random. The method used is iodometri method using a titration solution of Na2S2O3 0,01 N. The results of the research showed that 2 of 34 samples of rice contain chlorine, the contents are 0,35gr% and 0,53gr%.Keywords:  chlorine, rice, titratio

    1,096

    full texts

    1,143

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Kesehatan Andalas
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇