Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Hubungan Tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan Keberadaan Jentik Vektor Chikungunya di Kampung Taratak Paneh Kota Padang
AbstrakKampung Taratak Paneh merupakan daerah yang paling banyak terjadi kasus Chikungunya pada tahun 2012 (45 kasus). Penyebaran Chikungunya dipengaruhi faktor lingkungan dan tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Tujuan penelitian ini adalah melihat hubungan PSN terhadap keberadaan larva vektor Chikungunya. Penelitian ini adalah analitik dengan desain cross sectional study. Penelitian dilaksanakan di Kampung Taratak Paneh dengan jumlah subjek sebanyak 87 orang. Subjek diambil dengan metode proporsional simple random sampling.  Data disajikan dalam bentuk tabel distribusi dan dianalisis dengan uji chi square. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara tindakan PSN dengan keberadaan jentik (p=0,000). Terdapat hubungan yang bermakna antara menguras TPA untuk keperluan mandi (p=0,029) dan keperluan rumah tangga (p=0,038), menutup TPA setiap kali digunakan (p=0,013), mengubur barang bekas (p=0,034), menabur bubuk abate (p=0,001), dan membersihkan talang air (p=0,000) terhadap keberadaan jentik vektor Chikungunya. Tidak terdapat hubungan antara tindakan memelihara ikan pemakan jentik (p=0,760), pencahayaan dan ventilasi yang cukup (p=0,053), menggantung pakaian di dalam kamar (p=0,068), memasang kawat kasa (p=0,274), membersihkan pot/vas bunga berisi air/tempat minum burung (p=0,915), menggunakan kelambu (p=0,619), menggunakan obat anti nyamuk (p=0,209) dan menutup lubang pohon (p=0,123) terhadap keberadaan jentik vektor Chikungunya.Kata kunci: PSN, jentik, vektor chikungunya AbstractTaratak Paneh is the most common area of Chikungunya cases in 2012 (45 cases).The spreading of Chikungunya is influenced by environmental factor and practice of breading place eradication. The objective of this study was to discover the relationship between breading place eradication practice and the presence of larvae Chikungunya vektor.This was an analytic research with cross-sectional study design. The research was held in Taratak Paneh on 87 samples.The samples were taken by proportional simple random sampling methods. Data were presented in distribution table and analyzed statistically with chi-square test. This study showed that there was relationship between breading place eradication practice and the presence of larvae Chikungunya vektor (p= 0,000). There is relationship between draining landfill (p=0.029), covering landfill (p=0,013), burying the junk (p=0,034), sowing abate powder (p=0.001), cleaning the gutter (p=0,000) to the presence of larvae Chikungunya vektor. There is no relationship between maintain a larva-eating fish (p=0,760), lighting and ventilation (p=0.053) , hang clothes in the room (p=0.068) , install wire gauze (p=0.274), clean the pot/birdbath (p=0.915), use of mosquito nets (p=0.619) , use of anti-mosquito drugs (p=0.209) and cover the holes of trees (p=0.123) to the presence of larvae Chikungunya vector.Keywords: breading place eradication practice, larvae, chikungunya vecto
Hubungan Aktivitas Fisik Harian dengan Gangguan Menstruasi pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
 AbstrakGangguan menstruasi dapat menimbulkan stres dan menurunkan kualitas hidup wanita. Gambaran menstruasi seseorang dapat memperlihatkan keadaan fungsi reproduksi seseorang dan risiko mengalami berbagai penyakit. Aktivitas fisik diperkirakan sebagai salah satu cara untuk mengurangi terjadinya gangguan menstruasi tersebut. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara aktivitas fisik harian dan gangguan menstruasi. Desain penelitian menggunakan cross sectional study dengan jumlah subjek 90 mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Angkatan 2011-2013. Data didapatkan dari kuisioner yang diisi langsung oleh masing-masing responden yang kemudian dianalisis denga uji chi-square. Hasil penelitian mendapatkan gangguan menstruasi terjadi pada 73,3% mahasiswi dengan gangguan yang paling sering terjadi yaitu dysmenorrhea sebanyak 63,3%. Sebagian besar mahasiswi tersebut memiliki aktivitas fisik harian yang cukup menurut rekomendasi WHO yaitu sebanyak 60%. Berdasarkan uji chi-square, tidak ditemukan adanya hubungan antara aktivitas fisik harian dan gangguan menstruasi (p= 0,846). Kesimpulan ialah tidak terdapat hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik harian dan gangguan menstruasi pada mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.Kata kunci: aktivitas fisik, gangguan menstruasi, mahasiswi FK AbstractMenstrual disorder is often cause stress and decrease the life quality of a woman. Menstrual pattern can describe the condition of reproduction function and risk of having several disease. Physical Activity is considered as one of the way to reduce menstrual disorder. The objective of this study was to determine the association between daily physical activity and menstrual disorder.This study used cross sectional design on 90 female medical student of Andalas University Class of 2011-2013 as the sample. The data from self reported questionnaire that was given to the students is analyzed using chi-square.The results show that menstrual disorder is occured in 73,3% of the female medical student and the most frequent disorder is dysmenorrhea 63,3%. Most of the students are physically active correspond to the recommendation of WHO about 60%. It is inferred that there is no association between daily physical activity and menstrual disorder (p= 0,846). The conclusion is daily physical activity and menstrual disorder among female medical students in Andalas University have no significant association.Keywords: physical activity, menstrual disorder, female medical studen
Hubungan Kejadian Anemia dengan Penyakit Ginjal Kronik pada Pasien yang Dirawat di Bagian Ilmu Penyakit Dalam RSUP dr M Djamil Padang Tahun 2010.
AbstrakAnemia merupakan salah satu masalah utama pada pasien penyakit ginjal kronik. Tinggi rendahnya laju filtrasi glomerulus mempengaruhi kejadian anemia pada penyakit ginjal kronik. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi hubungan kejadian anemia dengan penyakit ginjal kronik pada pasien yang dirawat di Bagian Penyakit Dalam tahun 2010. Penelitian yang dilakukan merupakan survei analitik dengan menggunakan design penelitian cross sectional study. Penelitian menggunakan data sekunder yang diambil dari sub bagian Rekam Medik (Medical Record) RSUP dr. M Djamil Padang dari Juni–Desember 2012 dengan jumlah sampel adalah 67 pasien penyakit ginjal kronik. Ditemukan angka kejadian anemia pada pasien penyakit ginjal kronik sebesar 98,5% dengan rata-rata kadar Hb sebesar 7,3 g/dl dan rata-rata laju filtrasi glomerulus adalah 8,81 ml/menit/1.73m2. Dari hasil uji korelasi Pearson diperoleh hasil adanya hubungan kejadian anemia dengan penyakit ginjal kronik di RSUP dr M Djamil Padang dengan p = 0,00 (p < 0,05). Kesimpulan hasil penelitian ini adalah semakin rendah laju filtrasi glomerulus menunjukkan semakin rendah juga kadar hemoglobin pada pasien penyakit ginjal kronik.Kata kunci: anemia, penyakit ginjal kronik, laju filtrasi glomerulus AbstractAnemia is one of the major problems in patients with chronic kidney disease. High and low glomerular filtration rate affect the incidence of anemia in chronic kidney disease. The objective of this study was to identify the relationship of anemia on patients with chronic kidney disease in the Internal Medicine. The type of this research was analytic studies using a cross sectional study research design from June–December 2012 . This study used secondary data taken from Medical Record department of dr. M. Djamil hospital  with  samples of the entire medical record is 67 persons chronic kidney disease patients in 2010. The result found the incidence of anemia in chronic kidney disease patients was 98.5%, with an average hemoglobin level at 7.3 g/dl and mean glomerular filtration rate was 8.81 ml /min/1.73m2. Pearson correlation of test results obtained by the result of the relationship of anemia on patients with chronic kidney disease at dr M Djamil Padang Hospital with p = 0.00 (p <0,05). The low rate of glomerular filtration rate also showed by the low level of hemoglobin in patients with chronic kidney disease   Keywords: anemia, chronic kidney disease, glomerular filtration rat
Identifikasi Bakteri Escherichia coli pada Air Minum Isi Ulang yang Diproduksi DAMIU di Kelurahan Lubuk Buaya Kota Padang
AbstrakAir merupakan komponen penting bagi tubuh.  Menurut Permenkes No.492 Tahun 2010 tentang syarat mikrobiologi air minum adalah tidak ditemukannya bakteri Coliform dan Escherichia coli dalam 100 ml air. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kualitas air minum yang diproduksi depot air minum isi ulang di Kelurahan Lubuk Buaya. Penelitian bersifat deskriptif dengan melakukan pemeriksaan bakteriologi sampel air di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dari Februari sampai Oktober 2014. Sampel adalah air dari masing-masing depot air minum isi ulang di Kelurahan Lubuk Buaya yang sudah dimasukkan ke dalam galon. Penelitian ini terdiri dari empat tes, yaitu tes presumtif, konfirmatif, lengkap dan identifikasi. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan empat dari dua belas sampel (33,3%) mengandung bakteri Coliform dan satu dari empat sampel tersebut mengandung Escherichia coli. Pengawasan terhadap depot air minum isi ulang di Kelurahan Lubuk Buaya harus lebih ditingkatkan. Kader Kesehatan setempat diharapkan dapat memberikan penyuluhan kepada pemilik atau operator depot agar memperhatikan kebersihan depot serta peralatan yang digunakan.Kata kunci: air minum isi ulang, Coliform, Escherichia coli AbstractWater is an essential component for the human body. According to Permenkes No. 492 Tahun 2010 about microbiological standards for drinking water is the absence of coliform and Escherichia coli in 100 ml of water. The objective of this study was to find the quality of drinking water produced by drinking water refill depots at Lubuk Buaya Padang based on microbiological standards of drinking water.The research was conducted using by bacteriological test on 12 water samples at the Laboratory of Microbiology, Facultyof Medicine, University of Andalas from February until Oktober 2014. This research consisted  four tests: the presumptive test, confirmative test, completetest and identification test. Based on the result of laboratory test, there were four samples (33,3%) from twelve samples contain Coliform bacteria and one of them contain Escherichia coli. Controlling of drinking water refill depots at Lubuk Buaya should have been improved. The officers of Public Health at Lubuk Buaya must give an advice to the owners or depot operators about hygiene of depot and tools that they used.Keywords: drinking water refill, Coliform, Escherichia col
Hubungan Indeks Massa Tubuh dengan Cedera Ligamen Krusiat Anterior pada Atlet Cabang Olahraga Kontak
AbstrakCedera Ligamen Krusiat Anterior (LKA) adalah trauma pada atlet yang memerlukan tindakan bedah dan berrisiko menjadi osteoartritis. Berbagai macam faktor dapat menyebabkan cedera LKA, seperti Indeks Massa Tubuh (IMT) yang merupakan salah satu faktor risiko cedera LKA. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan IMT dengan cedera LKA. Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional. Sampel adalah 271 atlet diambil dari seluruh cabang olahraga kontak di KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) Jawa Timur. Data yang diperoleh berupa IMT dan kejadian cedera LKA pada atlet dalam 1 tahun, kemudian dianalisis dengan uji kemaknaan Fisher. Peneliti menemukan 7% (19 orang) mengalami cedera LKA. Penelitian ini menemukan bahwa presentase cedera LKA pada IMT tinggi (>24,9 kg/m2) dua kali lebih banyak dibanding pada IMT tidak tinggi (≤24,9 kg/m2), yaitu 12,5% dan 6,5%. Pada uji Fisher tidak ditemukan hubungan antara IMT dan cedera LKA (p>0,05). Penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat risiko cedera LKA pada atlet dengan IMT tinggi, namun tidak signifikan secara statistik. Banyak faktor risiko cedera LKA lainnya yang tidak dapat dikontrol melalui metodologi penelitian ini.Kata kunci: indeks massa tubuh, cedera ligamen krusiat anterior, atlet AbstractAnterior Cruciate Ligament (ACL) injuries are common on athletes that need surgical treatment and a risk to become osteoarthritis. There are many factors contributed to ACL injury. Body Mass Index (BMI) is one of ACL injury risk factor. The objective of this study was to determine the relationship between BMI and ACL injury. This was an observasional analitic study. The sample was 271 contact sport athletes at KONI East Java. Data about BMI and ACL injury on the athlete for 1 year was collected. The data then was analysed by Fisher test. There were 7% (19 persons) of athletes suffers from ACL injury. This study found that the proportion of ACL injury on athlete with high BMI (>24,9 kg/m2) was twice compared to athlete without high BMI (≤24,9 kg/m2), 12,5% and 6,3% respectively. The conclusion is the different is not significant statitically. This study showed that high BMI on athletes was a risk factor for ACL injury but not significant statistically.Keywords: body mass index, anterior cruciate ligament, athlet
Hubungan Inisiasi Menyusu Dini dengan Kadar Oksitosin dan Involusi Uteri 2 Jam Post Partum di Klinik Bersalin Swasta Kabupaten Padang Pariaman Tahun 2014
AbstrakAngka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu masalah kesehatan dunia. Penyebab AKI terbanyak adalah perdarahan. Inisiasi Menyusu Dini (IMD) merupakan titik awal yang penting untuk menyusui dan membantu merangsang produksi hormon oksitosin yang berperan dalam kontraksi uterus setelah melahirkan, sehingga akan membantu mengurangi pendarahan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan IMD dengan kadar oksitosin dan involusi uteri 2 jam post partum. Jenis penelitian ini adalah observasional dengan pendekatan kohort. Penelitian ini dilaksanakan ± 3 bulan dengan jumlah subjek  36 orang. Pengolahan data dilakukan dengan komputerisasi. Data disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi dan selanjutnya dilakukan independent t-test untuk mengetahui hubungan kedua variabel. Hasil penelitian didapatkan rerata kadar oksitosin ibu postpartum yang berhasil IMD adalah 58.47 ± 1.19pg/ml dan rerata tinggi fundus uteri ibu 2 jam postpartum yang berhasil IMD adalah 11.80 ± 0.73 cm. Hasil uji statistik didapatkan nilai (p<0,05). Kesimpulan penelitian yaitu terdapat hubungan yang bermakna antara IMD dengan kadar oksitosin dan involusi uteri 2 jam postpartum. Keberhasilan Inisiasi menyusu dini akan sangat berdampak positif bagi ibu postpartum.Kata kunci: IMD, kadar oksitosin, involusi uteri 2 jam postpartum Abstract           Maternal Mortality Rate (MMR) is one of the world's health problems. The main cause of MMR is bleeding. Early Breastfeeding (EBF) is an important starting point for breastfeeding and also stimulate the production of the hormone oxytocin which plays a role in the contraction of the uterus after childbirth, so itt will help to reduce bleeding. The  objective of this study was to determine the relationship of EBF with levels of oxytocin and uterine involution 2 hours post partum. This research was observational cohort study. This research was conducted ± 3 months to 36 subjects. Data processing was performed with computerized. Data presented in the form of frequency distribution and then performed an independent t-test to determine the relationship between two variables. The results showed mean levels of oxytocin postpartum who successfully EBF was 58.47 ± 1.19pg / ml and the mean of height fundus 2 hours postpartum who successfully EBF was 11.80 ± 0.73 cm. Statistical test results obtained value (p< 0.05). There is a significant correlation between the EBF levels of oxytocin and uterine involution 2 hours postpartum. The success of early breastfeeding initiation will have a positive impact for postpartum mothers.Keywords: EBF, levels of oxytocin, uterine involution 2 hours postpartu
Hubungan Stresor Psikososial pada Kehamilan dengan Partus Prematurus
Abstrak  Partus prematurus merupakan suatu keadaan patologis dengan beragam penyebab, lebih kurang 50% disebabkan prematur spontan yang merupakan akselerasi sumbu HPA ibu-janin yang disebabkan stres fisik dan psikologis dalam kehamilan. Stres psikologis dapat disebabkan peristiwa kehidupan sehari-hari (stres psikososial) yang disebabkan stresor psikososial. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan beberapa stresor psikososial dengan partus prematurus. Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan rancangan case control. Kasus adalah ibu bersalin dengan usia gestasi < 37 minggu sedangkan kontrol ≥ 37 minggu di rumah sakit, klinik bersalin dan praktik bidan di Kota Sawahlunto, Kota Payakumbuh dan Kota Pariaman pada tahun 2014. Sampel terdiri 36 kasus dan 36 kontol yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis menggunakan uji chi-square dengan derajat kepercayaan 95% (α=0,05). Stresor masalah internal keluarga (p=0,009; OR=0,245; 95%CI=0,091–0,659) dan perubahan hidup lingkungan tempat tinggal (p=0,032; OR=0,253; 95%CI=0,080–0,807) ada hubungan dengan partus prematurus. Stresor kesulitan ekonomi, kehamilan sekarang serta beban pekerjaan tidak terbukti ada hubungan dengan partus prematurus. Stresor masalah internal keluarga dan perubahan hidup lingkungan tempat tinggal adalah beberapa stresor psikososial yang terbukti berhubungan dengan partus prematurusKata kunci: partus prematurus, stres, stresor psikososial AbstractPreterm labor is a pathologic state with various cases, less than 50% caused by spontaneous preterm labor which is an accelaration process of fetal–maternal hypothalamic pituitary adrenal axis that caused by physical and psychological stress during pregnancy. Psychological stresses caused by daily events (psychosocial stress) as a result from psychological stressor. The objective of this study was to determine the relationship between psychological stressor and preterm labor.This was an observational analytic study with case control design. Case group of samples were women who delivered in < 37 weeks of gestation, and control group of samples were women who delivered in > 37 weeks of gestation in hospital, maternity clinic, and private practice of midwives in Sawahlunto, Payakumbuh and Pariaman in 2014. Samples consist of 36 people for controls which met inclusion criteria. Data were analyzed by using chi-square test with 95% confidence interval (α=0.05). Internal family problems stressor (p=0.009; OR=0.245; 95%CI=0.091–0.659), and changes in life of environment (p=0.032; OR=0.253; 95% CI=0.080–0.807), that means there is relationship with preterm labor. Difficulty economic stressor, current pregnancy problem and workload were not proven relationship with preterm labor.Internal family problem and changes in life of environment are some of psychosogical stressor that had been proven has relationship with preterm labor.Keywords: preterm labor, stress, psychosocial stresso
Fetal Outcome pada Kehamilan Aterm Anemia dan Tidak Anemia di RS Achmad Mochtar Bukittinggi
AbstrakAnemia pada kehamilan merupakan faktor resiko gangguan pada fetal outcome dan memiliki komplikasi yang meningkatkan maternal dan perinatal mortality. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan fetal outcome pada kehamilan aterm dengan anemia dan tidak anemia..Penelitian ini menggunakan data sekunder dengan rancangan cross sectional. Total sampel adalah 110 yang terdiri dari 55 ibu hamil aterm dengan anemia dan 55 ibu hamil aterm tidak anemia. Tekhnik pengambilan sampel adalah consecutive sampling dan analisis data menggunakan tes Mann- Whitney. Hasil uji diperoleh rerata berat badan lahir bayi pada ibu hamil aterm anemia adalah 3097,27 gr± 366,93 gr, yang sedikit lebh rendah dibandingkan pada ibu hamil aterm tidak anemia 3200,55 gr± 343,02 gr dengan nilai p= 0,214. Rerata APGAR skor pada menit pertama pada kelompok anemia adalah 7,04± 1,39, yang sedikit lebih rendah jika dibandingkan pada ibu hamil aterm tidak anemia 7.36± 0,65 dengan nilai p= 0,480. Rerata APGAR skor pada menit kelima pada kelompok anemia 8,11± 1,20 sedikit lebih rendah dibandingkan ibu hamil aterm tidak anemia 8,40± 0,62 dengan nilai p= 0,483. Rerata panjang badan lahir pada kelompok anemia adalah 48,58 cm± 1,52 cm hampir tidak memiliki perbedaan dibandingkan ibu hamil aterm tidak anemia 48,89 cm± 1,56 cm dengan nilai p=0,310. Disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan berat badan lahir, APGAR skor menit pertama dan kelima, dan panjang badan lahir pada kehamilan aterm dengan anemia dan tidak anemia.Kata kunci: berat badan lahir, APGAR skor, panjang badan lahir, wanita hamil aterm dengan anemia AbstractAnemia in pregnancy is a risk factor of fetal outcome disorder and it have complication that increase of matenal and perinatal mortality. The objective of this study was to determine the differences of fetal outcome between aterm pregnant women with anemia and non anemia.This research uses secondary data by using cross sectional study design. Total sample is 110 patient consisting of 55 aterm pregnant women with anemia and 55 are non anemia. Sampling techniques used a consecutive sampling and for analysis used Mann Whitney test.The analysis test result obtained mean birth weight babies in aterm pregnant women with anemia was 3097.27 gr± 366.93 gr abit lower compared to non anemia aterm pregnant women 3200.55 gr± 343.02 gr with p value= 0.214. The mean of APGAR score in the first minute in pregnant women with anemia was 7.04± 1.39 abit lower compared to non anemia aterm pregnant women 7.36± 0.65 with p value= 0.480 and the mean of APGAR score in the fifth minute in pregnant women with anemia was 8.11± 1.20 a bit lower compared to non anemia aterm pregnant women 8.40± 0.62 with p value= 0.483. The mean of birth lenght in aterm pregnant women with anemia was 48,58 cm± 1.52 cm almost not have differences compared to non anemia aterm pregnant women 48.89 cm± 1.56 cm with p value= 0.310. The values of p value indicated there are no significantly diferences of birth weight, APGAR score in the first and fifth minute, and birth lenght betwen pregnant women with anemia compared to non anemia aterm pregnant women.Keywords: birth weigh, APGAR score, birth lenght, aterm  pregnant women with anemi
Hubungan Tingkat Kemandirian dalam Melakukan Aktivitas Kehidupan Sehari-Hari dan Status Gizi pada Usia Lanjut di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin
AbstrakPeningkatan Usia Harapan Hidup (UHH) penduduk Indonesia mengakibatkan peningkatan populasi usia lanjut (usila). Peningkatan usila berdampak terutama pada peningkatan angka ketergantungan dalam melakukan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS). Penurunan tingkat kemandirian dalam melakukan AKS adalah salah satu faktor yang mempengaruhi status gizi usila. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan tingkat kemandirian dalam melakukan AKS dan status gizi usia lanjut. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan rancangan cross-sectional study dan menggunakan kuisioner ADL Barthel dan Mini Nutritional Assessment (MNA) sebagai instrumen. Sebanyak 66 sampel diambil dari seluruh penghuni Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin yang memenuhi kriteria inklusi. Data berupa hasil tingkat kemandirian dan status gizi dianalisis menggunakan uji chi-square, dengan derajat kepercayaan 95%. Dari 66 subjek penelitian terdapat 36 usila (54,5%) tidak mandiri dalam melakukan AKS dan 39 usila (59,1%) memiliki status gizi berisiko malnutrisi. Uji chi-square menunjukkan nilai p adalah 0,015 (p<0,05). Kesimpulan penelitian adalah terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat kemandirian dalam melakukan AKS dan status gizi pada usia lanjut di Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin.Kata kunci: tingkat kemandirian, aktivitas kehidupan sehari-hari, status gizi, usia lanjut AbstractThe increasing of life expectancy at Indonesia's population may lead to an increase in the elderly population. The main impact of this condition is the increasing of elderly dependency in performing Activity of Daily Living (ADL). Decreased level of independence in performing ADL is one of the factors that affect the nutritional status of elderly. The objective of this study was to determine the relationship between the level of independence in performing ADL and nutritional status of elderly.This research was an observational analytical study which designed as cross-sectional study. The instruments of this research were Barthel ADL and Mini Nutritional Assessment (MNA). 66 samples were taken from all the inhabitants of Panti Sosial Tresna Werdha Sabai Nan Aluih Sicincin who fulfill the inclusion criteria. The results of the level of independence and nutritional status were analyzed using chi-square test, with a degree of confidence of 95%. Of the 66 subjects there were 36 elderly (54.5%) not independent in performing ADL and 39 elderly (59.1%) were at risk of malnutrition. Chi-square test showed p value 0,015 (p<0.05).The conclusion is the significant relationship between the level of independence in performing ADL and nutritional status of the elderly in Social House Tresna Werdha Sabai Nan Aluih. Keywords: level of independence, performing Activity of Daily Living , nutritional status, elderl
Hubungan Status Gizi dengan Derajat Pneumonia pada Balita di RS. Dr. M. Djamil Padang
Abstrak               Pneumonia merupakan infeksi saluran pernapasan akut yang menjadi penyebab kematian utama pada balita di dunia, terutama di negara berkembang. Salah satu faktor risiko dari pneumonia adalah status gizi yang kurang. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan status gizi dan derajat pneumonia pada balita di RS. Dr. M. Djamil Padang. Desain penelitian adalah retrospektif analitik dengan pendekatan cross-sectional dan menggunakan uji statistik Chi-square.  Pengambilan data dilakukan dari Agustus hingga September 2014 di pusat rekam medis RS. Dr. M. Djamil Padang.  Subjek penelitian adalah 105 balita yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Indikator status gizi yang digunakan adalah indkator BB/U kurva CDC rujukan WHO-NCHS. Subjek penelitian diklasifikasikan menurut derajat ringan-berat pneumonia. Sebanyak 51 balita (91,1%) dengan status gizi baik menderita pneumonia (ringan-sedang) dan 18 balita (8,9%) status gizi kurang-buruk menderita pneumonia berat. Hasil penelitian p < 0,05 menunjukkan adanya hubungan bermakna antara status gizi dengan balita penderita pneumonia. Kesimpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara status gizi dan derajat pneumonia pada balita di RS. Dr. M. Djamil Padang. Sebagian besar balita dengan pneumonia derajat berat memiliki status gizi kurang dan buruk.Kata kunci: status gizi, derajat pneumonia, balita AbstractPneumonia is an acute respiratory infection which is the leading cause of children mortality in aged less than 5 years in the world, especially in developing countries. One of pneumonia risk factors is undernutrition. The objective of this study was to determine the relationship between nutritional status and pneumonia severity of children aged less than 5 years in RS. Dr. M. Djamil Padang. Type of this research is analytics retrospective with cross-sectional design and chi-square statistic test. The research was held from Agustus until September 2014 in medical record centre of. Dr. M. Djamil Padang Hospital. Subjects of this research were 105 children aged less than 5 years which are selected by inclusion and exclusion criterias. The indicator used for nutritional status was based on weight per age with CDH chart referred by WHO-NCHS. Fifty one subjects (91,1%) with pneumonia (mil to moderate) had good nutritional status and 18 subjects (8,9%) with severe pneumonia were lack in their nutritional status. The result showed a significant relationship between nutritional status and pneumonia with p < 0,05. The conclusion is that a nutritional status has significant relationship to pneumonia severity of children aged less than 5 years in Dr. M. Djamil Padang Hospital. Most of those children suffered from severe pneumonia are in undernutrition.Key words: nutritional status, pneumonia severity, children aged less than 5 year