Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Hubungan Jumlah Komplikasi Kronik Dengan Derajat Gejala Depresi Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Poliklinik Rsup Dr. M. Djamil Padang
AbstrakKomplikasi akibat penyakit Diabetes Melitus (DM) dapat menyebabkan terjadinya perubahan psikologis, salah satunya adalah gejala depresi pada pasien DM. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan jumlah komplikasi kronik pada setiap derajat depresi pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional yang dilaksanakan dari Maret sampai Mei 2014 di Poliklinik RSUP Dr. M. Djamil Padang. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 76 pasien DM. Jumlah komplikasi kronik diketahui dengan melihat rekam medik pasien, sedangkan derajat gejala depresi dinilai dengan wawancara menggunakan kuesioner Beck Depression Inventory (BDI) II. Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mengalami gejala depresi sebanyak 27 orang (35,5%). Derajat gejala depresi normal atau minimal sebanyak 64,5%, derajat ringan sebanyak 27,6% dan derajat sedang sebanyak 7,9%. Gejala depresi pada responden dengan satu komplikasi sebesar 6,9%, dengan dua komplikasi 42,4%, dengan tiga komplikasi 88,8 % dan empat komplikasi sebesar 60%. Setelah dilakukan analisis dengan uji Kruskal Wallis didapatkan bahwa terdapat perbedaan rerata jumlah komplikasi kronik pada setiap derajat depresi pada pasien DM tipe 2 (p < 0,001).Kata kunci: diabetes melitus tipe 2, gejala depresi, komplikasi kronikAbstractComplications due to diabetes disease can cause psychological changes, such as depression symptom. The objective of this study was to reveal the difference of the number of chronic complications on every single degree of depression in patients with type 2 diabetes. This was an analytic study that carried out from March to May 2014 in the polyclinic of RSUP Dr. M. Djamil Padang. The subject consisted of 76 diabetic patients. The number of chronic complications was identified by looking at the medical record of patients, whereas the degree of depressive symptom assessed by interview using a questionnaire BDI II. The results showed that respondents having depression symptom are made up by 27 people (35.5%). The amount of normal or minimal depression was 64.5%, mild depression is 27.6 %, and 7.9% for moderate depression. Depression symptoms on the respondents that having one complication is 6.9%, 42.4% for two complications, 88% for three complications and 60% for four complications. Kruskal Wallis test showed that there is the difference of the mean of chronic complication on every single degree of depression.Keywords: :type 2 diabetes mellitus, depression symptoms, chronic complication
Identifikasi Bakteri Infeksi Saluran Pernafasan Bawah Non Tuberkulosis (Non TB) dan Pola Resistensinya pada Penderita Diabetes Melitus di RSUP M. Djamil
AbstrakKadar gula darah yang tinggi pada pasien diabetes mellitus (DM) menyebabkan pasien ini rentan akan terjadinya infeksi, salah satunya infeksi saluran pernafasan bawah non tuberkulosis (Non TB) yang disebabkan oleh bakteri Gram negatif dan Gram positif, maka terapi pilihannya antibiotik spektrum luas. Survei awal di Bagian Penyakit Dalam RSUP M. Djamil didapatkan bahwa terapi yang dilakukan adalah terapi empiris yang  mengakibatkan meningkatnya resistensi. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi bakteri penyebab infeksi pernafasan bawah non tuberkulosis dan pola resistensinya pada penderita DM di RSUP M. Djamil. Penelitian deskriptif ini dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi FK Unand Padang dan Bagian Penyakit Dalam RSUP M. Djamil terhadap 16 pasien dengan diagnosis DM disertai infeksi saluran pernafasan bawah dari Januari sampai Februari 2014. Hasil penelitian menunjukkan Klebsiella pneumonia (56,25%) sebagai penyebab terbanyak, diikuti Staphylococcus aureus (18,25%), Pseudomonas aeruginosa (12,50%), dan Streptococcus pneumonia (12.50%). Uji resistensi menunjukkan Klebsiella pneumonia mengalami resistensi yang besar terhadap Ceftriaxone (66,63%), Pseudomonas aeruginosa resisten terhadap Ceftriaxone dan Amoxicilin Clavulanat Acid (50%), Staphylococcus aureus resisten terhadap Ciprofloxacin (33,33), sedangkan Streptococcus pneumonia  sensitif terhadap Azitromicin (100%). Dapat disimpulkan bakteri yang ditemukan mengalami resistensi yang cukup besar terhadap beberapa antibiotik yang digunakan.Kata kunci: diabetes melitus, infeksi saluran pernafasan bawah no TB, bakteri, resistensi AbstractHigh concentration of blood glucose in patients with diabetes mellitus cause susceptible to be infected, including lower respiratory infections non tuberculosis caused by Gram negatif and Gram positif. Treatment of these infections are broad spectrum antibiotics. The objective of this study was to indentify the causal bacteria of lower respiratory infection non tuberculous infection and the bacterial resistance patterns in patients with diabetes mellitus in RSUP M. Djamil. From the primary survey in RSUP M. Djamil Internal Medicine Department, the treatment that usually used is empirical therapy that could increase risk of bacterial resistance. This descriptive study was conducted in Microbiology laboratory Medical Faculty of Andalas University and Inpatient Care of Internal Medicine Department of RSUP M. Djamil to 16 patients with Diabetes Mellitus and lower respiratory infection from January until February 2014. Culture result showed that Klebsiella pneumonia (56,25%) was the main cause, followed by Staphylococcus aureus (18,25%), Pseudomonas aeruginosa (12,50%), and Streptococcus pneumonia(12,50%). Sensitivity test result shows that Klebsiella pneumonia has great resistance to Ceftriaxone (66,63%), Pseudomonas aeruginosa is resistant to Ceftriaxone and Amoxicilin Clavulanat Acid (50%), Staphylococcus aureus is resistant to Ciprofloxacin (33,33), while Streptococcus pneumonia is sensitive to Azitromicin (100%). It can be concluded that the bacteria found had a appreciable resistance to some antibiotics used.Keywords: diabetes mellitus, lower respiratory infection non TB, bacteria, resistanc
Gambaran Faktor yang Berhubungan dengan Timbulnya Kejang Demam Berulang pada Pasien yang Berobat di Poliklinik Anak RS. DR. M. Djamil Padang Periode Januari 2010 – Desember 2012
 AbstrakKejang demam merupakan kejang paling sering pada anak yang kemungkinan berulang. Pengetahuan tentang faktor yang berhubungan dengan kejang demam berulang perlu diketahui demi ketepatan tatalaksana. Tujuan penelitian ini adalah melihat gambaran faktor yang berhubungan dengan kejang demam berulang. Penelitian ini merupakan deskriptif dengan desain cross sectional. Jumlah sampel ditentukan dengan total sampling yaitu 40 pasien. Penelitian dilakukan dari Desember 2013 hingga Mei 2014. Data diambil dari berkas rekam medis pasien kejang demam berulang dari Januari 2010 sampai Desember 2012 di Poliklinik Anak RS. Dr. M. Djamil Padang. Variabel dependen adalah kejang demam berulang sedangkan variabel independen terdiri dari usia kejang demam pertama, jenis kelamin, riwayat kejang demam keluarga, riwayat epilepsi keluarga, dan tipe kejang demam pertama. Data yang diperoleh diolah dengan program komputer. Kejang demam berulang lebih banyak terjadi pada pasien yang kejang demam pertama pada usia 11 – 20 bulan (47,5%), pasien perempuan (62,5%), pasien dengan riwayat kejang demam keluarga (72,5%), pasien tanpa riwayat epilepsi keluarga (97,5%), dan kejang demam sederhana pada bangkitan kejang demam pertama (60%). Sebagian besar kejang demam berulang terjadi pada pasien yang berusia 11 – 20 bulan ketika kejang demam pertama, berjenis kelamin perempuan, memiliki riwayat kejang demam keluarga, tidak memiliki riwayat epilepsi keluarga, atau kejang demam sederhana pada bangkitan kejang demam pertama.Kata kunci: faktor yang berhubungan, kejang demam berulang AbstractRecurrent  febrile seizure is the most common seizure in young children. Although having good prognosis, it is very frightening for parents. Knowledge about recurrent febrile seizure is important to determine accuracy of treatment. The objective of this study was to describe knowledge about recurrent febrile seizures related to descriptive features. This descriptive cross sectional study was done in M. Djamil General Hospital by using medical record of recurrent febrile seizure from January 2010 to December 2012. Sample was  40 patients. Data was taken from 2013 December to 2014 May. Recurrent febrile seizures are dependent variable meanwhile age of initial seizure, sex, family febrile seizure history, family epilepsy history, and type of initial febrile seizure are independent variables. Collected data was proceed by using computer program. It was found that most patients who develop recurrent febrile seizures had their first attack in age of 11 – 20 months old (47.5%), female sex (62.5%), had febrile seizure family history (72.5%), had no epilepsy family history (97.5%), and had simple febrile seizure on their first attack (60%). Most recurrent febrile seizure occur in 11 – 20 months old in age, female in gender, having family febrile seizure history, having no family epilepsy history, or had simple febrile seizure as the first attack.             Keywords: descriptive features, recurrent febrile seizur
Gambaran Perilaku Remaja Terhadap Penggunaan Earphone Pada Siswa SMA Negeri Kota Padang
AbstrakEarphone adalah alat yang digunakan untukmendengarkan musik dari telepon genggam dan perangkat audio lainnya.Sebuah survey yang dilakukan oleh American Speech Languageand Hearing Association (2006) menemukan bahwa remaja lebih banyak menggunakan perangkat dengar pribadidengan volume keras dan dalam waktu yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku remaja terhadap pengunaan earphone pada siswa SMA Negeri Kota PadangPenelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif pada siswa SMAN Negeri Kota Padang yang berjumlah 13.105 orang.Didapatkan sampel berjumlah 427 orang, pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Cluster Sampling.Data diambil dengan menggunakan kuesioner.Analisis data menggunakan analisis univarat dengan menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution) 21.00 for Windows.               Hasil didapatkan proporsi pengguna earphone pada siswa SMA Negeri Kota Padangberjumlah 83,6%. Perilaku siswa dibagi menjadi 3 kategori yaitu pengetahuan, sikap dan tindakan. Hasilnya didapatkan siswa tersebut memiliki pengetahuan dan sikap yang baik terhadap penggunaan earphone dengan persentase 93,4% dan 80,9%. Tindakan siswa ketika menggunakan earphone cukup baik dengan persentasi 66,3%.               Kesimpulan penelitian ini adalah sebagian besar siswa SMA Negeri Kota Padang menggunakan earphone.Siswa tersebut memiliki pengetahuan yang baik mengenai dampak penggunaan earphone dan cara pencegahannya. Siswa juga memiliki sikap yang baik terhadap penggunaan earphone dan bertindak cukup baik ketika menggunakan earphone.Kata Kunci :Earphone, remaja, perilaku AbstractEarphone is a device that used for listening music from their mobile phone and other devices. A survey conducted by American Speech Languageand Hearing Association (2006) found that many teenagers use their personal audio device with maximum volume within a long time. This research aims to describe the teenager behavior in using earphone by taking case in high school student in Padang city.                This research uses descriptive method by studying 13.105 high school students in Padang, with 427 students as a sample. The researcher uses Cluster Sampling method. The data obtained by spreading questionnaire. Data analysis used in this research is univariat analysis by using SPSS program(Statistical Product and Service Solution) 21.00 for Windows.               The result of this reasearch shows that the propotion of earphone user of high school student in Padang is 83,6%. Student behavior is divided into 3 categories namely knowledge, attitude, and action. The result shows that the students are having knowledge and good attitude on the use of earphone with the percentage 93,4 % and 80,9%. The students action when using earphone is quite good with pecentage 66,3 %.                In conclusion, most of high school students in Padang city use earphone. The students have good knowledge about the impact of using earphone and prevention’s. Students also have good behavior toward the use of earphone and act well when using it. Keywords : Earphone, teenager, behavio
Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Waist to Hip Ratio (WHR) pada Nelayan di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang
AbstrakNikotin pada rokok mempunyai efek anti estrogenik dan meningkatkan hormon kortisol yang mengakibatkan deposisi lemak ke abdomen maupun pengurangan massa otot panggul yang menyebabkan peningkatan Waist to Hip Ratio (WHR). Setiap kenaikan WHR sebesar 0,01 berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kebiasaan merokok dengan waist to hip ratio. Kebiasaan merokok dilihat dari status merokok, derajat merokok, jenis rokok, dan kadar nikotin dalam rokok. Data nama nelayan didapat dari Kelompok Usaha Bersama (KUB) nelayan di Kecamatan Koto Tangah. Dipilih 103 nelayan dengan metode simple random sampling. Data sekunder diperoleh dari wawancara dan pengukuran WHR. Data dianalisis menggunakan chi-square dan one way analysis of variance (ANOVA). Hasil uji statistik chi-square menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara status merokok (p= 0,156), derajat merokok (p=0,261), dan jenis rokok (p=1,000) dengan WHR. Kadar nikotin pada rokok (p= 0,013) memiliki hubungan bermakna dengan WHR. Hasil uji statistik One Way ANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna WHR berdasarkan status merokok (p=0,472) dan derajat merokok (p=0,189). Berdasarkan jenis rokok yang dihisap (p= 0,025) menunjukkan perbedaan WHR yang bermakna. Disimpulkan kadar nikotin pada rokok dapat mempengaruhi WHR.Kata kunci: status merokok, derajat merokok, jenis rokok, kadar nikotin, waist to hip ratio AbstractNicotine in cigarette have anti estrogenic effect and increase the level of cortisol hormone that make smokers tend to have larger Waist to Hip Ratio (WHR) because of the deposition fat to abdomen and decrease muscle mass on the hip. Every 0,01 increase of WHR will increase cardiovascular risk. The objective of this study was to know the correlation between smoking behaviour with WHR. Smoking behaviour are smoking status, smoking degree, cigarette variance, and nicotine level in cigarette. Fisherman’s name data get from Kelompok Usaha Bersama (KUB) of fisherman in Koto Tangah. From that data are choosed 103 fisherman with simple random sampling method. Secondary data get from quetionnaire and WHR measurement. Data analyze with chi-square and one way analysis of variance (ANOVA). Statistic result with chi-square showed that there are no significant correlation between smoking status (p=0,156), smoking degree (p=0,261), and cigarette variances (p=1,000) with WHR. Otherwise nicotine level in cigarette (p=0,013) has significant correlation with WHR. Statistic results with ANOVA showed that there are no significant differentiation of WHR by smoking status (p=0,472) and smoking degree (p=0,189). Otherwise cigarette variances (p=0,025) have significant differentiation of WHR.Keywords: smoking status, smoking degree, cigarette variances, nicotine level, waist to hip rati
Hubungan Asupan Asam Folat, Zink, dan Vitamin A Ibu Hamil Trimester III terhadap Berat Badan Lahir di Kabupaten Padang Pariaman
Abstrak            Berat badan lahir merupakan salah satu indikator kesehatan bayi baru lahir. Berat badan lahir dipengaruhi oleh berbagai faktor yang salah satunya adalah mikronutrien seperti: asam folat, zink dan vitamin A yang disinyalir memiliki hubungan dengan berat badan lahir.Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara asupan asam folat, seng, dan vitamin A terhadap berat badan lahir. Penelitian ini merupakan cross sectional study pada 59 ibu hamil di Kabupaten Padang Pariaman. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan pengukuran berat badan lahir. Analisis statistik yang digunakan adalah uji korelasi Spearman. Hasil penelitian ini yaitu rata-rata umur ibu hamil sebesar 26,5424 tahun. Rata-rata berat badan lahir 3181,36 gram dan rata-rata tinggi badan ibu adalah 153,8305 cm. Rata-rata konsumsi asam folat subjek penelitian adalah 341,9525 ug, zink 5,0727 mg dan vitamin A 688,9300 RE. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan asam folat dan berat badan lahir (p>0,05),asupan zink dan berat badan (p>0,05) dan asupan vitamin A dan berat badan lahir (p>0,05).bKesimpulan penelitian ini adalah bahwa tidak ada hubungan antara asupan asam folat, zink dan vitamin A ibu hamil trimester III terhadap berat badan lahir.Kata kunci: asam folat, zink, vitamin A, berat badan lahir, Ibu hamil trimester III AbstractBirth weight is an indicator of the health of the newborn. Birth weight is influenced by various factors like micronutrients such as: folic acid, zinc and vitamin A which allegedly had a relationship with birth weight. The objective of this study was to determine the relationship between the intake of folic acid, zinc, and vitamin A on birth weight. This study was a cross sectional study to 59 pregnant women in the district of Padang Pariaman. Data collection with interviews and birth weight measurements. Statistical analysis used the Spearman correlation test. The results of this study showed that the average maternal age of 26.5424 years and the average maternal height was 153.8305 cm. Average birth weight 3181.36 g. The average consumption of folic acid is 341.9525 ug, 5.0727 mg zinc and vitamin A 688.9300 RE. Analysis result showed no significant association between the intake of folic acid and birth weight (p > 0.05), zinc intake and birth weight (p > 0.05) and intake of vitamin A and birth weight (p > 0,05).The conclusion of this study is no relationship between the intake of folic acid, zinc and vitamin A of third trimester pregnant women toward birth weight.Keywords: folic acid, zinc, vitamin A , birth weight, third trimester pregnant wome
Hubungan Tingkat Kecemasan dalam Menghadapi Objective Structured Clinical Examination (OSCE) dengan Kelulusan OSCE pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Andalas
AbstrakKecemasan adalah normal terjadi dalam kehidupan, namun kecemasan dapat menjadi abnormal jika respons terhadap stimulus berlebihan. Pada mahasiswa, kecemasan berpengaruh terhadap proses pendidikan. OSCE merupakan salah satu bagian dari ujian komprehensif yang menguji keterampilan medis mahasiswa yang akan memasuki kepaniteraan klinik. Ujian ini hampir sama dengan ujian skills lab, tapi materi ujian lebih banyak dan setting ujian juga berbeda sehingga situasi tersebut menimbulkan kecemasan pada mahasiswa menjelang OSCE. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan tingkat kecemasan dalam menghadapi OSCE dengan kelulusan OSCE pada mahasiwa FK Unand. Jenis penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan sampel sebanyak 34 orang. Data diperoleh melalui wawancara kepada peserta OSCE menggunakan kuesioner Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) dan Bagian Akademik FK Unand yang selanjutnya dianalisis melalui uji korelasi Gamma dan Somers’d. Hasil penelitian ini didapatkan nilai koefisien korelasi (r) sebesar -0,106 dan nilai signifikansi p>0,05. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara tingkat kecemasan dalam menghadapi OSCE dengan kelulusan OSCE pada mahasiwa FK Unand.Kata kunci: kecemasan, ujian, OSCE, HRS-A AbstractAnxiety normally occurs in life, but anxiety can become abnormal if the response to the stimulus is excessive. In student, anxiety affects the educational process. OSCE is a part of comprehensive exam that examine medical skills of the students who will enter their clinical stage. Although this exam is similiar like skills lab exam but the matters of exam is more complex and the setting of exam is different too, so these situations cause anxiety in students toward OSCE. The objective of this study was to determine the correlation between anxiety level in facing OSCE to students’ graduation of OSCE in Faculty of Medicine Andalas University. This study was a descriptive analytical and total sample of 34 people. Data were collected through interviewing the students use the questionnaire of Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) and Academic Department of Faculty of Medicine Andalas University. It was analyzed by Gamma and Somerd’s correlation test. The result of this study found a correlation coefficient (r) is -0,106 and level of significance (p) >0,05. Based on the result, it can be concluded that there is no correlation between anxiety level in facing OSCE with students’ graduation of OSCE in Faculty of Medicine Andalas University.Keywords: anxiety, exam, OSCE, HRS-
Pola Kasus dan Penatalaksanaan Peritonitis Akut di Bangsal Bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang
AbstrakPeritonitis menjadi salah satu penyebab tersering akut abdomen yang merupakan suatu kegawatan abdomen. Peritonitis biasanya disertai dengan bakterisemia atau sepsis yang dapat menimbulkan kematian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan peritonitis agar dapat mencegah dan melakukan penanganan secepatnya terhadap kasus ini. Penelitian deskriptif retrospektif ini telah dilakukan dari September 2014 sampai Oktober 2014 dengan teknik total sampling. Data yang diambil merupakan kasus pasien peritonitis yang dirawat inap di Bagian Bedah RSUP Dr. M. Djamil Padang, kemudian dilakukan seleksi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi sehingga didapatkan 98 data rekam medik periode 01 Januari 2013 sampai 31 Desember 2013.  Prevalensi peritonitis pada laki-laki (68,4%) lebih tinggi dibandingkan perempuan (31,6%). Kelompok usia terbanyak adalah 10-19 tahun (24,5%). Peritonitis sekunder umum akibat perforasi apendiks merupakan jenis peritonitis yang terbanyak (53,1%). Sebagian besar pasien peritonitis mendapatkan tatalaksana bedah berupa laparatomi eksplorasi dan apendektomi (64,3%). Lama rawatan terbanyak pada 4-7 hari (45,9%). Frekuensi pasien peritonitis menurut kondisi keluar sebagian besar dalam keadaan hidup (85,7%). Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah bahwa peritonitis dapat dipengaruhi oleh faktor usia, jenis kelamin, penyebab peritonitis, tatalaksana, lama rawatan dan kondisi saat keluar dari rumah sakit.Kata kunci: peritonitis, bedah, pola AbstractPeritonitis is one of the most common cause of acute abdomen, which is an abdominal emergency. Peritonitis is usually accompanied by bacteremia or sepsis that can cause mortality. The objective of this study was to know something that associated with peritonitis in order to prevent and to respond immediately to this case. This retrospective descriptive study was conducted from September 2014 to October 2014 using a total sampling technique. Data was taken from cases of hospitalized patients with peritonitis in Surgery Ward of RSUP Dr. M. Djamil Padang, selected by on inclusion and exclusion criteria. There were 98 medical records by the period from 1st of January 2013 to 31th of December 2013. Peritonitis prevalence in men (68,4%) was higher than women (31,6%). Most common age group is 10-19 years old (24,5%). Secondary peritonitis due to perforation of the appendix is the most common type of peritonitis (53,1%). Most patients with peritonitis get a surgical procedure of exploratory laparotomy and appendectomy (64,3%). Most hospitalization length was 4-7 days (45,9%). The frequency of peritonitis patients based on conditions when discharged from hospital is mostly alive (85,7%).Conclusion from this study is that peritonitis may be influenced by age, sex, cause of peritonitis, the surgical procedure, hospitalization, and condition when discharged from hospital.Keywords: peritonitis, surgical, patter
Hubungan Perilaku Merokok dengan Ketahanan Kardiorespirasi (Ketahanan Jantung-Paru) Siswa SMKN I Padang
AbstrakAda banyak faktor yang dapat mempengaruhi ketahanan kardiorespirasi pada remaja, salah satunya adalah perilaku merokok. Merokok pada masa remaja akan mengganggu kebugaran, khususnya ketahanan kardiorespirasi karena efek dari zat yang terkandung didalamnya. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan perilaku merokok dengan ketahanan kardiorespirasi pada remaja. Ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross-sectional study yang dilakukan pada siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 1 Padang (SMK N 1 Padang) dengan jumlah subjek sebanyak 111 orang. Pengumpulan data melalui kuesioner dan tes ketahanan kardiorespirasi. Analisis statistik yang digunakan adalah uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa SMK N 1 Padang yang merokok memiliki ketahanan kardiorespirasi yang kurang baik yaitu sebanyak 55,1% siswa, sedangkan sebanyak 40,5% pada siswa yang tidak merokok memiliki ketahanan kardiorespirasi yang cukup baik. Setelah dilakukan analisis melalui uji chi-square, disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara perilaku merokok dengan ketahanan kardiorespirasi (p<0,05).Kata kunci: perilaku merokok, ketahanan kardiorespirasi, remaja AbstractThere are many factors correlate to cardiorespiratory endurance of the teenagers, one of them is smoking behavior. Smoking behavior in teenagers will affect the physical fitness, especially for the cardiorespiratory endurance because of the effect from the substances in cigarette. The objective of this study was to determine the correlation between smoking behavior and the cardiorespiratory endurance of the teenagers. This was an analytical research with cross-sectional study design. This study was done for the students of Vocational Senior High School 1 Padang with the total subjects were 111 peoples. The data was collected by questionnaire and cardiorespiratory endurance’s test. This study used chi-square test for the statistical analyze. The result of this research found that most of the smoker students of SMK N 1 Padang have a low cardiorespiratory endurance, the percentage was 55,1% and 40,5% of the non-smoker students had a good enough cardiorespiratory endurance. The chi-square test result conclude that there is a significant relation between smoking behavior and the cardiorespiratory endurance (p<0,05).Keywords: smoking behavior, cardiorespiratory endurance, teenager
Karakteristik Pasien Tonsilitis Kronis pada Anak di Bagian THT-KL RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2013
AbstrakTonsilitis Kronis merupakan penyakit yang paling sering terjadi diantara semua penyakit tenggorok terutama pada anak. Penyakit ini terjadi karena adanya serangan lanjutan pada tonsil yang telah mengalami peradangan sebelumnya yang disebabkan oleh virus atau bakteri.Tonsilitis Kronis menempati urutan kedua tertinggi penyakit THT di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui karakteristik tonsilitis kronis pada anak di Bagian THT-KL RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan Case Series yang dilakukan di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Populasi adalah data pasien tonsilitis kronis dengan usia <18 tahun yang datang ke bagian poliklinik THT RSUP Dr. M. Djamil Padang sejak Januari sampai Desember 2013. Sampel diambil dari semua data rekam medis yang termasuk dalam populasi yakni sebanyak 50 sampel. Berdasarkan data rekam medis didapatkan pasien tonsilitis kronis pada anak paling banyak terdapat pada kelompok umur 10-14 tahun sebanyak 50%, jenis kelamin perempuan sebanyak 56%, keluhan utama nyeri menelan berulang sebanyak 56%, ukuran tonsil T3-T3 sebanyak 68%, penatalaksanaan secara operatif sebanyak 88%. Kesimpulan studi ini ialah karakteristik pasien tonsilitis kronis pada anak paling banyak ditemukan pada perempuan dengan usia 10-14 tahun, memiliki keluhan utama nyeri menelan berulang dengan ukuran tonsil t3-t3, dan ditatalaksana dengan cara operatif.Kata kunci: tonsilitis kronis, anak, keluhan Abstract  Chronic tonsillitis  is  the most common disease among throats disease specially in children. Chronic tonsillitis happened because of recurrent inflammation in tonsil that caused by bacteria or virus. This disease is the second most common ENT disease in Indonesia.The objective of this study was to investigate the characteristic of chronic tonsillitis in children in Dr. M. Djamil Hospital in Padang. This was a descriptive study with case series design on medical records of tonsillitis chronic’s patients from January until December 2013. The population of this study were tonsillitis chronic’s patients with age <18 years old that came to ENT clinics in Dr. M Djamil Hospital. The 50 samples were taken from medical records. Based on medical records data, 50% case happened in age 10-14 and female is the most common with 56%, most of patients complains about recurrent pain in swallowing  56%,  tonsil size T3-T3 68%  and 88% operative treatment. The conclusions is  the characteristics of the patients of chronic tonsillitis in children are mostly female with age between 10 to 14 years old, had a major complain about pain in swallowing, tonsil size T3-T3 and treated by operative treatment.Keywords: chronic tonsillitis, children, complai