Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Hubungan antara Kadar Troponin T dengan Luas Infark Miokard yang Diukur dengan Menggunakan Metode Skoring QRS Selvester pada Pasien Infark Miokard Akut
AbstrakDalam kriteria diagnosis IMA oleh WHO salah satunya apabila ditemukan peningkatan kadar enzim jantung. Troponin T merupakan salah satu enzim jantung yang akan meningkat apabila terjadi kerusakan sel miokardium. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara kadar Troponin T dan luas infark miokard yang diukur dengan metode skoring QRS Selvester. Ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross sectional yang dilaksanakan dari Oktober 2013 sampai September 2014 di Subbagian Rekam Medis RS Khusus Jantung YJI Cabang Utama Sumatera Barat.  Analisis data menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan p ≤ 0,05 jika bermakna.  Sampel penelitian adalah data rekam medis semua pasien dengan diagnosis IMA di RS Khusus Jantung YJI Cabang Utama Sumatera Barat periode Juli 2013 – Juni 2014 yang diambil dengan teknik total sampling. Penyeleksian data menghasilkan 81 data pasien dengan diagnosis IMA dan 37 data yang memiliki hasil pemeriksaan troponin T dan EKG. EKG digunakan untuk menentukan luas infark dengan menggunakan metode skoring QRS Selvester dengan hasil luas infark rendah, sedang, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar Troponin T dengan luas infark pada pasien IMA dengan nilai p = 0,097 (p > 0,05). Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan antara kadar Troponin T dan luas infark miokard.Kata kunci: troponin T, luas infark miokard, infark miokard akut, skoring QRS Selvester AbstractThe one of WHO criteria for the diagnosis of AMI is the elevated levels of cardiac enzymes. Troponin T is one of cardiac enzyme that will increase if  there is a myocardial cells damage. The objective of this study was to determine the correlation between troponin T level and myocardial infarction size that measured by using Selvester QRS scoring method. This research was an analytic research with cross sectional design that conducted in October 2013 to September 2014 in the sub-section of Medical Record of Khusus Jantung YJI Cabang Utama Sumatera Barat hospital. Analysis of the data was using the Kolmogorov-Smirnov test to determine the correlation with p ≤ 0.05 was significant. Samples of the research were medical record data of all patients with diagnosis of AMI in the Khusus Jantung YJI Cabang Utama Sumatera Barat hospital period July 2013 - June 2014 that were selected with a total sampling technique. The result of data selection was 81 patients with diagnosis of AMI and 37 data with the results of Troponin T and ECG Examination. ECG results were used to determine infarction size by using Selvester QRS scoring method with results low, medium, and high of infarction size. The results shown that there was no significant correlation between Troponin T level and myocardial infarction size with p value was 0.097 (p> 0.05). The conclusion of this research is there is no correlation between Troponin T level and myocardial infarction size.Keywords: troponin T, myocardial infarction size, acute myocardial infarction, Selvester QRS scorin
Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Usia Menarche pada Siswi SMP Negeri 1 Padang
AbstrakBeberapa dekade terakhir ini, telah terjadi kecenderungan onset menarche dini yang dikaitkan dengan nutrisi yang lebih baik. Penelitian yang telah ada menemukan penurunan usia menarche yang diiringi oleh peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) yang terjadi dalam 25 tahun terakhir. Onset menarche yang lebih cepat juga ditemukan pada anak yang gemuk dibandingkan yang kurus. IMT rendah menunjukkan tidak terpenuhinya nutrisi yang dapat mempengaruhi kecepatan tumbuh–kembang anak. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan  IMT dengan usia menarche. Penelitian cross-sectional study ini dilakukan terhadap 77 siswi yang dipilih melalui teknik proportional random sampling dan wawancara menggunakan kuesioner. Data yang telah terkumpul lalu dianalisis dengan uji korelasi spearman. Hasil studi ini adalah rata-rata IMT 19,93 (±3,162) kg/m2dan rata-rata usia menarche adalah 11,75 tahun dengan usia termuda 9 tahun dan tertua 14 tahun. Ditemukan adanya hubungan antara IMT dengan usia menarche dengan nilai p=0,000 (p<0,05) dan r=-0,429. Kesimpulan studi ini ialah semakin tinggi IMT, maka semakin cepat terjadi menarche.Kata kunci: IMT, usia menarche, menarche AbstractThe last decades, there has been a trend of earlier onset of menarche is associated with better nutrition. Several studies have found a decrease in age of menarche is accompanied by an increase in Basal Metabolism Index (BMI). Rapid onset of menarche also found in obese children than lean. Low BMI show no fulfillment of nutrients that can affect the growth and development speed in children. The objective of this study was to determine the relationship between BMI with age at menarche. This cross sectional study was conducted on 77 female students who were selected through proportional random sampling technique. The data was collected by questionnaires and interviews, than was analyzed by Spearman correlation test. The results of this study was the average BMI 19.93 (±3.162) kg / m2, and the average age of menarche was 11.75 years with 9 years old as the youngest and the oldest 14 years. There is a correlation between BMI at the age at menarche, with p value=0.000 (p<0.01) and r=-0.429. The conclusion is a higher BMI could cause  more rapidly menarche.Keywords:  BMI, age at menarche, menarch
Identifikasi Bakteri Escherichia coli O157:H7 dalam Daging Sapi yang Berasal dari Rumah Potong Hewan Lubuk Buaya
AbstrakEscherichia coli O157:H7 adalah penyebab penting foodborne disease di banyak negara. Infeksi pada manusia oleh bakteri Escherichia coli O157:H7 sering dihubungkan dengan konsumsi daging sapi yang kurang matang dan dapat menyebabkan diare berdarah, nekrosis jaringan usus, hemorraghic colitis (HC) dan hemolytic uremic syndrome (HUS). Tujuan penelitian ini ialah mengidentifikasi bakteri Escherichia coli O157:H7 dalam daging sapi yang dipotong di RPH Lubuk Buaya. Penelitian deskriptif ini telah dilaksanakan dari  Januari 2012 sampai Juni 2012. Untuk mengidentifikasi bakteri Escherichia coli O157:H7 digunakan medium CHROMagar O157. Tujuh dari sepuluh sampel yang diteliti menunjukkan kontaminasi bakteri Escherichia coli O157:H7. Disarankan pada masyarakat untuk memakan daging yang telah dimasak sampai benar-benar matang.Kata kunci: Escherichia coli O157:H7, daging sapi, rumah potong hewan AbstractEscherichia coli O157:H7 is an important cause of foodborne disease in many countries. Human infection by Escherichia coli O157:H7 is frequently associated with consumption of undercooked beef. This infection can cause bloody diarrhea, bowel necrosis, hemorraghic colitis (HC), and hemolytic uremic syndrome (HUS). The objective of this study was to identify Escherichia coli O157:H7 in beef cattle at Lubuk Buaya slaughter house. This descriptive study was conducted at Lubuk Buaya slaughter house.  For identification of Escherichia coli O157:H7, samples were plated onto CHROMagar O157. Seven of ten samples were positively contaminated by Escherichia coli O157:H7. This research suggests to all community only to eat well-cooked meat. Keywords: Escherichia coli O157:H7, beef cattle, slaughter hous
Analisis Cakupan Antenatal Care K4 Program Kesehatan Ibu dan Anak di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Padang Pariaman
AbstrakPencapaian target K4 (kunjungan ibu hamil ke tenaga kesehatan yang dilakukan paling sedikit 4 kali selama hamil) akan terlaksana jika adanya motivasi bidan di desa ditambah pembinaan dari bidan koordinator yang secara rutin dilakukan dalam bentuk supervisi. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis cakupan antenatal care K4 program kesehatan ibu dan anak di wilayah kerja dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman. Penelitian ini menggunakan metode penelitian gabungan antara kuantitatif dan kualitatif. Subjek penelitian untuk penelitian kuantitatif adalah 49 orang bidan desa, sedangkan informan untuk kualitatif adalah kepala bidang kesehatan keluarga dan Kasie kesehatan ibu dan anak dinas kesehatan kabupaten Padang Pariaman, kepala puskesmas, petugas pemegang program KIA dan bidan pengelola KIA di puskesmas Sungai Limau. Hasil penelitian ini mendapatkan lebih dari separoh (53,1%) bidan desa memiliki motivasi rendah, sedangkan lebih dari separoh (67,3%) bidan koordinator sudah melakukan supervisi ke bidan desa dan pada umumnya (91,8%) responden memiliki cakupan K4 yang rendah. Tidak terdapat hubungan antara motivasi bidan desa dan supervisi bidan koordinator dengan cakupan antenatal care K4 (p < 0.05). Cakupan antenatal care K4 di Kabupaten Padang Pariaman belum berhasil karena kurangnya peran aktif bidan desa di tengah masyarakat, monitoring dan evaluasi dari dinas kesehatan dan pimpinan puskesmas serta supervisi bidan koordinator belum optimal, serta sumber daya manusia yang belum memaksimalkan perannya dalam melaksanakan tugas ditambah masih kurangnya kelengkapan sarana dan prasarana. Perlu optimalisasi peran dan fungsi bidan di desa dan optimalisasi kemitraan dengan berbagai pihak dalam komunitas.Kata kunci: cakupan antenatal care K4, motivasi, supervisi AbstractThe achievement of K4 (four time antenatal care) target will be success with support from motivation of village midwives and routine supervision of coordinator midwives. The objective of this study was to analyze K4 antenatal care scope of maternal and child program in Padang Pariaman health department working area. This is a mixed of quantitative and qualitative study. The subject of quantitative study was 49 village midwives and informant of qualitative study was: chief of family health and chief of maternal child health of Padang Pariaman health department; chief, maternal and child program coordinator, and administrator midwife of Sungai Limau public health care. The results of this study were more than half (53.1%) of village midwives have low levels of motivation, while more than half (67.3%) of coordinator midwives have been doing supervision to village midwives. There was no significant relationship of village midwives motivation and coordinator midwives supervision with K4 antenatal care scope (p < 0.05). Analysis of the result showed K4 antenatal care scope of maternal and child program in Padang Pariaman has not succeded yet caused by lack of active role of village midwives, minimum monitoring and evaluation from health department and public health care of Padang Pariaman and coordinator midwives, lack of optimalized role of human resources and lack of infrastructure. Keywords: complete visits (K4) antenatal care scope, motivation, supervisio
Efek Lama Penyimpanan Asi Terhadap Kadar Protein dan Lemak yang Terkandung Didalam ASI
AbstrakPenyimpanan ASI di lemari pendingin yang dilakukan oleh ibu bekerja kemungkinan bisa menyebabkan terjadinya beberapa proses biokimia seperti proteolisis dan lipolisis. Proses ini bisa menyebabkan terjadinya perubahan dari zat gizi yang terkandung didalam ASI. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efek lama penyimpanan ASI terhadap penurunan kadar protein dan lemak yang terkandung didalam ASI. Ini merupakan true experiment dengan pendekatan pretest-post test control group design. Pemeriksaan kadar protein dan lemak dilakukan di Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas Andalas padang, pada bulan November 2014 dengan total 32 sampel. Sampel dibagi menjadi 4 kelompok, dengan variasi lama penyimpanan di lemari pendingin selama 0 jam (control), 24 jam, 48 jam dan 72 jam. Setelah dilakukan penyimpanan, lalu di uji kadar protein dengan metode Kjedhal dan kadar lemak dengan metode Sochlet. Hasil penelitian didapatkan kadar protein yang disimpan selama 0 jam adalah 0,99%, 24 jam 0,86%, 48 jam 0,78%, 72 jam 0,72%. Terdapat perbedaan yang signifikan rerata kadar protein berdasarkan lama penyimpanan dengan p<0,05. Rerata untuk kadar lemak selama penyimpanan 0 jam adalah 3,4%, 24 jam 3,2%, 48 jam 3,1% dan 72 jam 3,0%. Terdapat perbedaan yang signifikan rerata kadar lemak berdasarkan lama penyimpanan dengan nilai p<0,05. Terdapat efek lama penyimpanan ASI terhadap kadar protein dan lemak yang terkandung didalam ASI.Kata kunci: kadar protein ASI, kadar lemak ASI, lama penyimpanan AbstractKeeping breast milk in cool storage is often done by working mother, may cause biochemical process such as proteolysis and lipolysis. These processes may change nutrition component in breast milk. The objective of this study was to find the effect of duration of storage on breast milk in decreasing protein and fat level contained in breast milk. This study was a true experiment with pretest and posttest control group design. Protein and fat level examined on 32 samples in laboratory of Teknologi Hasil Ternak, Animal Science Faculty of Andalas University Padang in November 2015 . Samples were divided into four groups: 0 hour (control), 24 hours, 48 hours, and 72 hours. After that, protein level was examined by using kjedhal method and fat level was examined by using sochlet method. The result got level of protein in 0 hour storage was 0.99%, 24 hours 0.86%, 48 hours 0.78%, and 72 hours 0.72%. There was significant difference of protein mean level based on storage time, with p< 0.05. The mean level of fat in 0 hour storage was 3.4%, 24 hours 3.2%, 48 hours 3.1%, and 72 hours 3.0%. There was significant difference of fat mean level on duration of storage (p< 0.05). There is effect of time storage to protein and fat level in breast milk. Keywords: protein breast milk level, fat breast milk level, duration of storag
Karakteristik Klinis dan Patologis Karsinoma Nasofaring di Bagian THT-KL RSUP Dr.M.Djamil Padang
AbstrakKarsinoma nasofaring banyak terjadi di Cina dan Asia Tenggara, termasuk di Indonesia, sering didiagnosis pada keadaan lanjut dan memiliki prognosis yang buruk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi epidemiologi, karakteristik klinis, dan tipe histopatologi pada pasien karsinoma nasofaring di Bagian THT-KL. Metodologi penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan data rekam medik di RSUP Dr. M. Djamil Padang selama Juni 2010 sampai Juli 2013 dan data hasil pemeriksaan histopatologi sebagai konfirmasi. Didapatkan sebanyak 44 kasus yang lengkap pada periode tersebut, yang mana 52,27% penderita adalah laki-laki dan 47,22% perempuan, perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 1,2 : 1. Sebaran umur penderita dari 17 sampai 75 tahun dengan insiden puncak pada umur 41- 65 tahun. Gejala klinis terdiri atas massa di leher 93,17%, diikuti dengan obstruksi nasal 79,55%, dan gangguan pendengaran 79,55% sedangkan tanda klinis terdiri atas pembesaran kelenjar getah bening leher 90,91%, diikuti dengan tuli 79,55%, cranial nerve palsy dan perluasan kelenjar getah bening ke fossa supraklavikula masing-masing 15,8%. Sebagian besar pasien berada pada stadium IV 83,16%, dengan derajat tumor terbanyak T4N2M0 15,91%. Tipe histopatologi yang terbanyak adalah nonkeratinizing carcinoma, undifferentiated type 75%, diikuti keratinizing SCC 13,64%, dan nonkeratinizing carcinoma - differentiated type 11,36%.Kata kunci: karsinoma nasofaring, karakteristik klinis, histopatologi, padang AbstractNasopharyngeal carcinoma  is more frequent in China and Southeast Asia, including Indonesia, commonly with advance stages at diagnosis and has a poor prognosis. The objective of this study was to evaluate epidemiology, clinical characteristic and histopathology types of patients with nasopharyngeal carcinoma in the department of Otorhinolaryngology - Head and Neck Surgery.This is a descriptive study that used data from medical record of Dr. M. Djamil General Hospital in Padang during June 2010 to July 2013 and histopathology examination as confirmation. The result demonstrated 44 cases found on that period, of which 52,27% was male and 47,72% was female, hence the male and female ratio was 1,2 : 1. The age-range from 17 to 75 years old with incidence peak between 41 - 65 years old. Clinical symptoms were neck mass 93,17%, followed by nasal obstruction 79,55 %, and audiological complaints 79,55% while clinical sign were cervical lymphadenopathy 90,91%, followed by hearing loss 79,55%, cranial nerve palsy and lymphadenopathy metastases to fossa supraclavicular each subject 15,8%. Most of patients were classified as stage IV 83,16%, with T4N2M0 15,91%. The histopathology type were nonkeratinizing carcinoma, undifferentiated type had percentage 75%, followed by keratinizing SCC 13,64%, and nonkeratinizing carcinoma - differentiated type 11,36%. Keywords: nasopharyngeal carcinoma, clinical characteristic, histopathology types, padan
Pengaruh Perbedaan Dosis Ekstrak Biji Jarak Pagar (Jatropha curcas) terhadap Jumlah Spermatozoa, Spermatozoa Motil, Berat Testis, dan Diameter Testis pada Mencit Jantan (Mus Musculus)
AbstrakIndonesia menghadapi persoalan kependudukan dan keluarga berencana yang cukup berat, salah satu penyebabnya dikarenakan rendahnya partisipasi pria dalam penggunaan kontrasepsi. Salah satu tanaman yang bersifat antifertilitas adalah jarak pagar (Jatropha curcas). Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perbedaan dosis ekstrak biji jarak pagar terhadap jumlah spermatozoa, spermatozoa motil, berat testis dan diameter testis pada mencit jantan (Mus musculus). Penelitian ini menggunakan metode post test only control group design terhadap mencit jantan dengan berat 20–30 gram. Sampel terdiri dari 24 ekor mencit dibagi dalam 3 kelompok P1, P2, dan P3 dengan memberikan ekstrak biji jarak pagar dengan 3 tingkatan dosis selama 36 hari. Hasil penelitian semakin tinggi dosis yang diberikan semakin rendah jumlah spermatozoa, spermatozoa motil, berat testis dan diameter testis namun secara statistik tidak terdapat pengaruh yang bermakna pada jumlah spermatozoa p=0,06 dan spermatozoa motil p=0,15 (p > 0,05) dan terdapat pengaruh bermakna pada berat testis p=0,00 dan diameter testis p= 0,00 (p< 0,05).Kesimpulannya pemberian ekstrak biji jarak pagar menurunkan jumlah spermatozoa, spermatozoa motil, berat testis dan diameter testis namun secara statistik ekstrak biji jarak pagar tidak terdapat pengaruh yang bermakna terhadap jumlah spermatozoa dan spermatozoa motil dan terdapat pengaruh bermakna terhadap berat testis dan diameter testis.Kata kunci: ekstrak biji jarak pagar, jumlah spermatozoa, spermatozoa motil, berat testis, diameter testis.AbstractIndonesia faces the quite severe problem of population and family planning, one reason is because the low participation of men in the use of contraception. One antifertility plants and are found in Indonesia is jatropha (Jatropha curcas). This study aims to determine the effect of different doses of extract of Jatropha seeds on sperm count, motile of sperm, testis weight and diameter of the testis in male mice (Mus musculus). This study uses the approach post test only control group design to male mice weighing 20-30 grams. The sample consisted of 24 mice were divided into 3 groups of P1, P2, and P3 to provide jatropha seed extract with 3 levels of doses for 36 days. The results showed the effect of Jatropha curcas seed extracts against sperm count, motile of sperm, testicular weight and testicular diameter between groups P1, P2 and P3. The higher the dose given, the lower the sperm count, motile of sperm, testis weight and diameter of the testis, but no statistically significant effect on the number of spermatozoa p = 0.06 and p = 0.15 motile of sperm (p> 0.05 ), and there is a significant effect on testis weight p = 0.00 and p = 0.00 testis diameter (p <0.05). From the results of this study concluded that administration of Jatropha seed extract can reduce sperm count, motile of sperm, testis weight and diameter of the testis but statistically jatropha seed extract contained no significant effect on sperm count and motile of sperm and significant effect on testis weight and the diameter of the testes.Keywords: Jatropha seed extract, sperm numbers, motile of sperm, testis weight, testis diameter
Perbedaan Hasil Pemeriksaan Sputum Basil Tahan Asam Antara PasienTuberkulosis Yang Perokok Dan Bukan Perokok Di Balai Pengobatan Penyakit Paru Lubuk Alung
 AbstrakMerokok dan Tuberkulosis (TB) merupakan dua masalah kesehatan di dunia walaupun TB lebih banyak ditemukan di negara berkembang. Kebiasaan merokok dan tuberkulosis memiliki hubungan yang erat. Tujuan penelitian ini adalah mmenentukan perbedaan hasil pemeriksaan sputum basil tahan asam antara pasien yang perokok dan bukan perokok di Balai Pengobatan Penyakit Paru (BP4) Lubuk Alung. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional komparatif terhadap 44 penderita TB perokok dan 44 penderita TB non perokok yang dipilih secara consecutive sampling. Data dikumpulkan dari hasil pemeriksaan di Laboratorium dan wawancara. Hasilnya dianalisis dengan uji chi-square. Berdasarkan uji statistik didapatkan perbedaan yang bermakna antara penderita TB paru perokok dan non perokok berdasarkan hasil pemeriksaan BTA (p = 0,023). Kesimpulan studu ini ialah  pasien TB banyak ditemukan pada usia produktif dan pada jenis kelamin laki-laki. Pada perokok lebih banyak ditemukan BTA positif daripada bukan perokok.Kata kunci: tuberkulosis paru, BTA, perokok AbstractSmoking and Tuberculosis (TB) are two major health problems in the world even though TB is more common in developing countries. Smoking habit and tuberculosis have a close relationship.The objective of this study was to determine the differences in the results of Sputum Basil Tahan Asam examination between smokers and nonsmokers tuberculosis patients in the Lubuk Alung Pulmonary Disease Treatment Center. The desain of this study was a comparative cross-sectional on 44 TB smoker patients and 44 TB non-smoker patients by consecutive sampling. Data were collected through checkup in the laboratory and the interviews with new patients. The results were analyzed with the chi-square test.The statistic result showed significant differences between patients with pulmonary tuberculosis smokers and non-smokers based on the results of BTA checks (p value: 0.023). The conclusions was TB patients are found in the productive age and the male gender. Acid fast bacilli positive in smoker is higher than non-smokers.Keywords: pulmonary tuberculosis, acid fast bacilli, smoke
Kualitas Air Sumur Gali Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah Kota Padang Berdasarkan Indeks Most Probable Number (MPN)
AbstrakDiare merupakan salah satu penyakit yang ditularkan melalui air terkontaminasi oleh agen penyebab seperti bakteri Coliform.  Menurut data Dinas Kesehatan Kota (DKK) Padang pada tahun 2011, kejadian diare di Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang merupakan kasus tertinggi di Kota Padang. Tujuan penelitian ini adalah menentukan kualitas air sumur gali di Kelurahan Lubuk Buaya berdasarkan Indeks Most Probable Number (MPN) menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) No. 416 tahun 1990. Sampel penelitian ini adalah  air sumur gali yang digunakan di beberapa Rukun Tetangga (RT), yang diambil secara acak dari beberapa Rukun Warga (RW) yang telah dipilih sebelumnya, sehingga didapatkan 15 sampel. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 tahap yaitu pengambilan sampel air sumur gali sekaligus observasi faktor yang mempengaruhi kualitas air dan pemeriksaan mikrobiologi dengan metode Most Probable Number (MPN) Test. Tes ini terdiri dari tes presumtif dan tes konfirmatif yang disesuaikan dengan Permenkes RI. Hasil penelitian ialah 73,33% dari jumlah sumur yang diperiksa tidak memenuhi standar Permenkes R.I. karena mengandung Coliform > 50 pada setiap 100 ml air. Hanya 26,6% sumur yang memenuhi standar yang telah ditetapkan. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi yaitu lokasi sumber pencemaran, dinding parapet, drainase, tutup sumur dan sarana pengambilan air.Kata kunci: kualitas air sumur gali, MPN, coliform AbstractDiarrhea is one of the diseases that  transmitted through contaminated water by causative agent, one of which is coliform bacteria. According to data from City Health Department Padang in 2011, the incidence of diarrhea in Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah – Padang is the highest case in the city of Padang. The objective of this study was to determine the water quality of wells dug in Kelurahan Lubuk Buaya by Most Probable Number Index (MPN) according regulation of Indonesian health minister. The 15 samples was water of dug well in some of the RT households from several neighborhoods that was selected. The research was conducted in two stages, dug well water samples as well as observation of the factors that affect water quality and microbiological examination of the Most Probable Number method (MPN) Test. This test consists of presumptive tests and confirmative tests that were tailored to regulation of Indonesian health minister. The result were 73.33% of the wells tested did not meet the standards of Indonesian health minister regulation, because it contains >50 coliform in every 100 ml of water. Only 26.6% of the wells were inspected to meet the standards set. Several factors can affect the location of sources of pollution, parapet walls, drainage or sewer water, cover the wells, and water collection facilities.Keywords: dug well water quality, MPN, colifor
Hubungan Kejadian Pneumonia Neonatus dengan Beberapa Faktor Risiko di RSUP Dr. M. Djamil Padang Periode 2010-2012
AbstrakPneumonia merupakan salah satu penyebab mortalitas utama pada neonatus. Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR), kelahiran preterm, ketuban pecah dini (KPD), dan demam intrapartum merupakan faktor risiko yang dapat berpengaruh terhadap kejadian pneumonia neonatus. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara faktor risiko tersebut dengan kejadian pneumonia neonatus di RSUP M. Djamil. Penelitian ini bersifat analitik dengan desain cross-sectional dengan mengumpulkan data rekam medis pneumonia neonatus di RSUP M. Djamil Padang periode 2010 – 2012. Kontrol diambil data neonatus yang dirawat dengan diagnosis selain pneumonia pada periode yang sama. Neonatus dengan diagnosis sindrom gawat nafas, sepsis, meningitis, asfiksia, dan aspirasi telah dieksklusi terlebih dahulu. Sejumlah 49 sampel yang memenuhi kriteria terdapat temuan; KPD sebanyak 22,4%, demam intrapartum 20,4%, BBLR 18,4%, dan kelahiran preterm 10,2%. Sebanyak 24 sampel tidak memiliki faktor risiko. Analisis bivariat chi-square menunjukkan bahwa BBLR (p=0,46), kelahiran preterm (p=0,372), KPD (p=0,616), dan demam intrapartum (p=0,083) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian pneumonia neonatus di RSUP M. Djamil periode 2010-2012.Kata kunci: pneumonia neonatus, BBLR, kelahiran preterm, KPD, demam intrapartum.  AbstractPneumonia is one of leading mortality causes among neonates. Low Birth Weight (LBW), preterm birth, Premature Rupture Of Membranes (PROM) and intrapartum maternal fever are known as risk factors that might contribute to neonatal pneumonia occurence. The objective of this study was to determine relationship the risk factors to  neonatal pneumonia in M. Djamil hospital. This analytic research with cross-sectional design compiled neonatal pneumonia data from 2010-2012 medical record M. Djamil hospital. Controls were taken from neonates hospitalized in M. Djamil within the same period. Neonates with respiratory distress syndrome, sepsis, meningitis, asphyxia, and aspiration were excluded. The 49 subjects that meet research criteria, PROM were found in 22,4% of neonates,intrapartum fever 20,4%, LBW 18,4%, and preterm birth 10,2%. Twenty four of them do not have any of those risk factors. Bivariate analysis with chi-square shows that none of those risk factors are significantly related to neonatal pneumonia in M. Djamil hospital period 2010-2012 (LBW p=0,46; preterm birth p=0,372; PROM p=0,616; intrapartum fever p=0,083).Keywords: neonatal pneumonia, LBW, preterm birth, PROM, intrapartum feve