Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Perbedaan Rerata Kadar Soluble Fms-Like Tyrosine Kinase-1 (Sflt-1) Serum pada Penderita Early Onset, Late Onset Preeklampsia Berat / Eklampsia dan Kehamilan Normal
AbstrakPreeklampsia merupakan sumber utama morbiditas dan mortalitas ibu di seluruh dunia. Kegagalan pengaturan dan ketidakseimbangan agen vasoaktif proangiogenik dan antiangiogenik plasenta, soluble fms-like tyrosine kinase-1 (sFlt-1), vascular endothelial growth factor (VEGF) dan placental growth factor (PlGF) memainkan peran penting dalam patogenesis preeklampsia. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan rerata kadar sFlt-1 serum pada penderita early onset, late onset preeklampsia berat/ eklampsia dan kehamilan normal. Penelitian dilakukan di RSUP Dr. M. Djamil, RS TK. III dr. Reksodiwiryo dan Laboratorium Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang dari Februari sampai  Desember 2014 dengan desain cross sectional. Subjek berjumlah 84 orang, terdiri dari tiga kelompok, yaitu kelompok early onset preeklampsia berat/ eklampsia, late onset preeklampsia berat/ eklampsia, dan kehamilan normal sebagai kelompok kontrol yang diambil dengan teknik consecutive sampling. Darah dikumpulkan dari subjek penelitian dengan cara intravena kemudian diukur dengan metode ELISA. Rerata kadar sFlt-1 pada kelompok early onset, late onset preeklampsia berat/ eklampsia dan kehamilan normal secara berturut-turut adalah 4,69±0,96 ng/ml, 2,39±0,57 ng/ml, dan 1,23±0,42 ng/ml. Perbedaan ini sangat signifikan dengan uji statistik ANOVA (p<0,05) dan uji Post Hoc Test Multiple Comparisons. Kesimpulan penelitian adalah terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara kadar sFlt-1 serum pada kelompok early onset preeklampsia berat/ eklampsia, late onset preeklampsia berat/ eklampsia dan kehamilan normal.Kata kunci: sFlt-1, antiangiogenik, preeklampsia berat/ eklampsia, kehamilan normal AbstractPreeclampsia is a major cause maternal morbidity and mortality in the world. Failure regulation and imbalance of vasoactive agents and antiangiogenic proangiogenik placenta, soluble fms-like tyrosine kinase-1 (sFlt-1), vascular endothelial growth factor (VEGF) and placental growth factor (PlGF) have an important role in the pathogenesis of preeclampsia. The objective of this study was to determine the differences between the mean serum levels of sFlt-1 in patients with early onset, late onset severe preeclampsia/eclampsia and normal pregnancy. This study was conducted in Dr. M. Djamil hospital, dr. Reksodiwiryo TK. III hospital and Biology Moleculer Laboratory Medicine Faculty of Andalas University Padang from February until December 2014 with a cross sectional design. The total subjects were 84 persons, consist of three groups, there was early onset severe preeclampsia/ eclampsia, late onset severe preeclampsia/ eclampsia and normal pregnancy as control group. The subjects were selected by consecutive sampling technique. The blood was collected by intravenous, then sFlt-1 serum measured by ELISA. The mean levels of sFlt-1 in the early onset group, late onset severe preeclampsia/ eclampsia group and normal pregnancy group were 4.69±0.96 ng/ml, 2.39±0.57 ng/ml and 1.23±0.42 ng/ml. This difference very significant by ANOVA statisctical test (p<0,05) and Multiple Comparisons Post Hoc Test. The conclusion of this study is very significant differences between serum levels of sFlt-1 in early onset severe preeclampsia/ eclampsia group, late onset severe preeclampsia/ eclampsia on  normal pregnancy.Keywords: sFlt-1, antiangiogenic, severe preeclampsia/ eclampsia, normal pregnanc
Identifikasi Carrier Bakteri Streptococcus β hemolyticus Group A pada Murid SD Negeri 13 Padang Berdasarkan Perbedaan Umur dan Jenis Kelamin
AbstrakStreptococcus β hemolyticus Grup A atau yang disebut juga Streptococcus pyogenes merupakan salah satu bakteri patogen yang banyak menginfeksi manusia.Bakteri ini dapat ditemukan sebagai carrier di saluran pernafasan terutama pada anak-anak, tidak menimbulkan penyakit tetapi berisiko untuk menyebarkan penyakit. Tujuan penelitian ini adalah menentukan jumlah carrier bakteri Streptococcus β hemolyticus Grup A pada murid berdasarkan perbedaan umur dan jenis kelamin. Jenis penelitian ini adalah deskriptif cross-sectional dengan menggunakan sampel seluruh murid SD Negeri 13 Padang. Hasil penelitian adalah didapatkan 2 orang murid yang menderita carrier, yaitu pada kelompok usia>8-9 tahun dan >11 tahun. Berdasarkan jenis kelamin yang terdiri dari 54 orang laki-laki dan 50 orang perempuan, didapatkan 2 orang carrier yaitu hanya pada anak laki-laki. Hasil penelitian menunjukkan bahwa carrier bakteri Streptococcus β hemolyticus Group  A terdapat pada anak usia tersebut karena masih kurangnya pengetahuan tentang kebersihan. Carrier yang ditemukan hanya pada anak laki-laki kemungkinan disebabkan mereka lebih sering bermain di luar rumah dan terpapar dengan berbagai bakteri patogen dan kurang memperhatikan kebersihan diri.Kata kunci: carrier, streptococcus β hemolyticus grup A, umur, jenis kelamin AbstractGroup A Streptococcus β hemolyticus or also called Streptococcus pyogenes is one of many pathogenic bacteria that infect humans. These bacteria can be found as a carrier in the respiratory tract especially in children, do not cause disease but can be a risk for spreading the disease. This objective of this study was to determine the amount of the carrier of bacteria group A Streptococcus β hemolyticus based on age and gender differences. This research is a descriptive cross - sectional study using a sample of all students of SD Negeri 13 Padang. Based on the age of 104 students found that students who suffer 2 carrier, which is in the age group>8-9 years and>11 years. Based on gender which consisted of 54 boys and 50 girls, found that only 2 people carrier on boys. The results of this study indicate that the carrier of bacteria Group A Streptococcus β hemolyticus in the childhood because of the lack of knowledge about hygiene. Carrier found only in boys probably becaused of often play outdoors and were exposed to a wide variety of pathogenic bacteria and usually pay less attention to his personal hygiene.Keywords: carrier, group A streptococcus β hemolyticus, ages, gende
Efek Antibakteri dari Rebusan Daun Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) dan Produk Herbal Sambiloto Terhadap Staphylococcus Aureus
AbstrakSambiloto (Andrographis paniculata Nees) merupakan tanaman obat yang memiliki berbagai khasiat, salah satunya sebagai antibakteri.  Staphylococcus aureus merupakan penyebab utama infeksi. Penggunaan Sambiloto di masyarakat saat ini mempunyai beberapa pilihan diantaranya dengan membuat rebusan langsung dari daun sambiloto ataupun dengan membeli produk herbal sambiloto yang dijual di pasaran. Tujuan penelitian ini adalah menentukan efek antibakteri dari rebusan daun sambiloto (Andrographis paniculata Nees) dan produk herbal sambiloto terhadap Staphylococcus aureus. Jenis penelitian adalah eksperimental dengan sembilan kali pengulangan menggunakan metode difusi. Penelitian dilakukan di laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang dari Maret sampai Desember 2014. Sambiloto diekstrak dengan metode infusum. Kontrol yang digunakan adalah amoksisilin. Hasil penelitian memperlihatkan tidak ada daerah bebas kuman di sekitar cakram disk yang telah mengandung sambiloto. Kesimpulan hasil ini ialah rebusan daun sambiloto (Andrographis paniculata Nees) dan produk herbal sambiloto tidak mempunyai efek antibakteri terhadap Staphylococcus aureus.Kata kunci: sambiloto, staphylococcus aureus, infusum AbstractBitter (Andrographis paniculata Nees) is a medicinal plant that have various benefits, such as an antibacterial. Staphylococcus aureus is a major cause of infection. The use of bitter in today's society has several options such as by making direct decoction of the leaves of bitter or by buying herbal products of bitter sold in the market. The objective of this study was to determine the antibacterial effect of decocted leaf of bitter (Andrographis paniculata Nees) and herbal products of bitter against Staphylococcus aureus.This type of research was experimental with nine repetitions using diffusion method. This research was conducted in the laboratory of Microbiology Faculty of Medicine Andalas University Padang in March to December 2014. Bitter was extracted by infusum method. Controls used was amoxicillin.The results showed the absence of germ-free area around the disc containing bitter. It could be concluded that the bitter leaf decoction (Andrographis paniculata Nees) and bitter herbal product had no antibacterial effect against Staphylococcus aureus.Keywords: bitter, staphylococcus aureus, infusu
Hubungan Tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Keberadaan Larva Vektor DBD di Kelurahan Lubuk Buaya
AbstrakKelurahan Lubuk Buaya merupakan daerah endemik Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan korban meninggal terbanyak pada tahun 2012. Penyebaran DBD dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan tindakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan tindakan pemberantasan sarang nyamuk dan keberadaan larva vektor DBD di Kelurahan Lubuk Buaya Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Jenis penelitian adalah analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Lubuk Buaya dengan 110 sampel pada bulan Desember 2014. Sampel diambil dengan metode Multistage Random Sampling. Pengambilan data menggunakan kuesioner dan survei larva terhadap kontainer yang berada di dalam dan di luar rumah responden. Data disajikan dalam bentuk tabel ditribusi dan dianalisis statistik dengan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan lebih dari separuh responden melakukan tindakan PSN yang baik. Keberadaan larva vektor DBD tergolong tinggi dengan HI 35,45%, CI 13,41%, BI 50% dan Density figure/Df= 5. Terdapat hubungan yang bermakna antara tindakan pemberantasan sarang nyamuk dengan keberadaan larva vektor DBD di kelurahan Lubuk Buaya (p=0,001). Pelaksanaan PSN di Kelurahan Lubuk Buaya secara umum belum terlaksana secara optimal.Kata kunci: PSN, larva, vektor DBD AbstractKelurahan Lubuk Buaya is a Dengue Hemorhagic Fever (DHF) endemic area with the highest death case in 2012. The spreading of DHF influenced by environmental factor and practice of mosquito breading place eradication. The objective of this study was to determine the relationship between mosquito breading place eradication practice and the presence of larvae DHF’s vector. The research was an analitic observational with cross-sectional study design. The research was held in Lubuk Buaya with 110 samples in December 2014. The samples were taken with the Multistage Random Sampling methods. Data’s were collected by using a questionnare and survey of the larvae. Data were presented in distribution table and analyzed statistically with Chi Square method. The result showed more than half of the respondents have a good mosquito breading place eradication practice and the presence of larvae DHF’s vector in lubuk buaya is high with HI 35.45%, CI 13.41%, BI 50%, and density figure 5. There is a relationship between breading place eradication practice and the presence of larvae DHF’s vector (p=0.001). The implementation of breading place eradication practice in Lubuk Buaya isn’t implemented optimally.Keywords: breading place eradication, larvae, dengue hemorhagic fever vekto
Gambaran Status Gizi Pasien Tuberkulosis Anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang
AbstrakPrevalensi kejadian tuberkulosis pada anak di Sumatera Barat cukup tinggi, salah satu faktor risikonya adalah status gizi. Anak dengan gizi buruk akan mengakibatkan kekurusan, lemah, dan rentan terserang infeksi tuberkulosis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran status gizi pasien tuberkulosis anak di RSUP Dr. M. Djamil Padang.Telah dilakukan penelitian deskriptif dengan menggunakan data rekam medik pasien tuberkulosis anak yang terdaftar di RSUP Dr. M. Djamil Padang periode 1 Januari 2013 – 31 Desember 2013 dengan menggunakan metode total sampling, sehingga diperoleh 187 sampel.Hasil penelitian yang didapatkan yaitu tuberkulosis pada anak mayoritas berada di poliklinik anak 64% dengan perbandingan 1,8 : 1. Pasien tuberkulosis pada anak laki – laki dan anak perempuan berjumlah sama di instalasi rawat inap anak 50% dan tidak begitu jauh berbeda di poliklinik anak dengan jumlah pada anak perempuan sedikit lebih banyak 53%. Pasien tuberkulosis anak lebih banyak pada kelompok usia 5 -<14 tahun 44,1% di instalasi rawat inap anak dan 56,3% di poliklinik anak. Status gizi kurang 57,4% di instalasi rawat inap anak dan 52,1% di poliklinik anak. Kasus tuberkulosis anak masih banyak ditemukan,oleh karena itu diperlukan sosialisasi dan informasi kepada masyarakat akan bahaya tuberkulosis agar dapat menghindarkan diri dari faktor risiko khususnya tentang status gizi.Kata Kunci:tuberkulosis pada anak, status gizi, umur, jenis kelamin AbstractThe prevalence of tuberculosis in children on West Sumatra are quite high, the most of the risk factors is nutritional status. Children with severe malnutrition will lead to emaciation, weak and susceptible infectious tuberculosis. The objective of this study was to identify the nutritional status on children of tuberculosis patients in Dr. M. Djamil Padang hospital. This research is descriptive study using medical records of children with tuberculosis enrolled in Dr. M. Djamil Padang hospital period of January 1st 2013 – December 31th 2013 by using the total sampling method to obtained 187 sampel. The results showed that the majority of tuberculosis in children are in polyclinic 64% with a ratio of 1,8:1. Tuberculosis patients in boys and girls the same number in hospitalization 50% and not so much different in polyclinic with the number of the girls a little more 53%. Patients with tuberculosiswere  more children in the age groups 5-<14 years 44,1% in hospitalizations and 56,3% in polyclinic with malnutrition 57,4% in hospitalizations and 52,1% in polyclinic. In Indonesia, there are still many cases of tuberculosis of children. It need socialization and information to the public about the dangers of tuberculosis in order to avoid the risk factors, especially on nutritional status.Keywords: tuberculosis of children, nutritional status, age, gende
Perbandingan Nilai Apgar antara Persalinan Normal dengan Seksio Sesarea Elektif
AbstrakPada masa sekarang ini telah terjadi perubahan tren dalam persalinan, yaitu berupa peningkatan angka seksio sesarea. Peningkatan ini dipengaruhi berbagai faktor seperti: adanya kekhawatiran akan terjadinya cedera janin, peningkatan permintaan ibu untuk melakukan persalinan seksio sesarea, serta faktor sosioekonomi. Beberapa penelitian justru menunjukkan seksio sesarea dapat menimbulkan morbiditas pada bayi. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan kondisi bayi antara persalinan normal dan seksio sesarea elektif dilihat dari nilai Apgar Penelitian dilaksanakan dari Mei 2014 sampai Januari 2014 di bagian rekam medis RSUP Dr. M. Djamil Padang.. Jenis penelitian yang digunakan adalah analitik dengan desain cross-sectional study. Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 179  pasien dengan persalinan normal dan 56 pasien dengan seksio sesarea. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada menit pertama nilai Apgar 4-6 adalah 3,4% pada persalinan normal. Nilai Apgar 7-10 sebanyak 96,6% pada persalinan normal dan 100% pada seksio sesarea pada menit pertama. Pada menit kelima, nilai Apgar 4-6 adalah 1,1% pada persalinan normal, sedangkan nilai Apgar 7-10 sebanyak 98,9% pada persalinan normal dan 100% pada seksio sesarea pada menit kelima. Setelah dilakukan analisis dengan mann-whitney test didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan nilai Apgar pada menit-1 (p=0,777) dan menit-5 (p=0,887) antara persalinan normal dengan seksio sesarea.Kata kunci: persalinan normal, seksio sesarea elektif, nilai Apgar AbstractIn recent years, cesarean section have increased. Several factor are contributing, such as fears of injury to the fetus, increased women's request to do a cesarean section deliveries and socioeconomic factors. Some studies have also shown that cesarean section can lead to morbidity in infants. The objective of this study was to compare between Apgar scores of infant born by elective cesarean section and normal vaginal deliveries. The research was done from May 2013 to January 2014 at the medical records department of general hospital center Dr. M. Djamil Padang. This was an analytic study with cross-sectional study design. This study used 179 samples with normal vaginal delivery and 56 samples with cesarean section. The result showed that 1st minute Apgar score of 4-6 in normal vaginal delivery was 3.4%, and Apgar score 7-10 was 96.6% in normal vaginal delivery while in cesarean section was 100%. The 5th minute Apgar score of 4-6 in normal vaginal delivery was 1.1%, and Apgar score 7-10 was 98.9% in normal vaginal delivery while in cesarean section was 100%. After being analyzed using Mann-Whitney test, the study showed that there was no significant different in Apgar score of neonates born through normal vaginal delivery and neonates born trough cesarean section at first minute (p=0.777) and fifth minute (p=0.887).Keywords: normal vaginal delivery, elective cesarean section, Apgar scor
Hubungan Risiko Tsunami terhadap Tingkat Ansietas pada Anak-anak di SDN 02 Ulak Karang Selatan (Zona Merah) dan SDN 33 Kalumbuk (Zona Hijau)
 AbstrakPadang adalah salah satu kota di Indonesia yang rawan terhadap kejadian gempa dan Tsunami. Orang yang selamat dari peristiwa Tsunami bukan hanya menderita bencana yang sifatnya fisik dan harta benda saja, tetapi lebih pada trauma mental yang tidak mudah dilupakan. Trauma mental itu sendiri bila tidak ditangani dengan sungguh-sungguh dan profesional dapat berlanjut pada gangguan jiwa salah satunya adalah ansietas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan risiko tsunami terhadap tingkat ansietas pada anak sekolah dasar di zona merah dan hijau Kota Padang. Penelitian analitik observasional ini menggunakan desain cross-sectional dengan jumlah subjek sebanyak 117 responden yang dipilih secara stratified random sampling di SDN 02 Ulak Karang Selatan (zona merah) dan SDN 33 Kalumbuk (zona hijau). Data dikumpulkan melalui wawancara responden menggunakan kuesioner HRS-A yang kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan tingkat ansietas pada anak-anak yang bersekolah di zona merah yaitu 7 anak (14%) ringan, 8 anak (16%) sedang dan 1 anak (2%) berat, sedangkan di zona hijau didapatkan 16 anak (23,9%) ringan, 8 anak (11,9%) sedang dan tidak ada anak yang mengalami ansietas berat. Berbagai simulasi gempa dan Tsunami yang dilakukan terhadap anak sekolah di zona merah menurunkan angka ansietas pada anak tersebut. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa nilai p = 0,151 (p < 0,05) yang artinya tidak ada hubungan yang bermakna antara risiko tsunami terhadap tingkat ansietas pada pada anak-anak di zona merah dan zona hijau.Kata kunci: ansietas, tsunami, anak AbstractPadang is one of the city in Indonesia that have a high risk to tsunami disaster. For those who survived at the tsunami attack, it is not only a physical and property damage, but rather on the mental trauma that is not easily forgotten and can lead to mental disorders such as anxiety. The objective of this study was to examined the correlation of the tsunami risk to the anxiety level on children in the red and green zone of Padang.This research was an observational analytic study using cross-sectional design with a total sample of 117 respondents were selected by stratified random sampling in SDN 02 Ulak Karang Selatan (red zone) and SDN 33 Kalumbuk (green zone). Data were collected through interviewing respondents using a HRS-A questionnaire, then analyzed with chi-square test. The results of this study indicate the level of anxiety in children who attend school in the red zone as many as 7 (14%) mild, 8 (16%) moderate and 1 (2%) severe, whereas the green zone obtained in 16 (23, 9%) mild, 8 (11.9%) moderate, and no child is experiencing severe anxiety. Additional findings indicate that a variety of simulated earthquake and tsunami were conducted on the red zoned school children decrease the anxiety in the child. The results of chi-square test showed that the p value = 0.151 (p <0.05), which means there is no significant association between the risk of a tsunami on the level of anxiety in children at red zone and green zone. Keywords:  anxiety, tsunami, childre
Insidensi Tuberkulosis Paru pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang
AbstrakDiabetes melitus (DM) merupakan suatu penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia akibat kelainan sekresi dan/atau gangguan kerja insulin. Sekitar 80% dari seluruh kasus DM merupakan DM tipe 2. Salah satu komplikasi DM adalah tuberkulosis (TB) paru. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi insidensi TB paru pada pasien DM tipe 2 di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang. Instrumen penelitian yang digunakan adalah data sekunder dari Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. M. Djamil Padang berupa data pasien DM tipe 2 dan rekam medik pasien DM tipe 2 dengan TB paru yang dirawat di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam RSUP Dr. M. Djamil Padang sejak 1 Januari 2011 – 31 Desember 2011. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 29 kasus TB paru dari 748 orang pasien DM tipe 2 (3,88%). Kasus DM tipe 2 dengan TB paru terbanyak ditemukan pada kelompok jenis kelamin laki-laki (58,62%), usia < 60 tahun (72,41%; mean: 54,66 ± 12,77 tahun), dan normoweight (51,72%). Sebagian besar pasien menunjukkan hasil pemeriksaan BTA sputum negatif (65,52%). Insidensi pada penelitian ini sedikit lebih rendah daripada hasil penelitian sebelumnya.Kata kunci: insidensi, tuberkulosis paru, diabetes melitus tipe 2 AbstractDiabetes mellitus (DM) is a group of metabolic disorders characterized by hyperglycemia resulting from defects in insulin secretion, insulin action or both. Type 2 DM makes up about 80% of all cases of DM. One of the DM’s complications is pulmonary tuberculosis (TB). The objective of this study was to evaluate the incidence of pulmonary TB among type 2 DM patients in Internal Medicine Ward RSUP Dr. M. Djamil Padang. The instruments used in this research were the secondary data derived from the Medical Record Departement RSUP Dr. M. Djamil Padang in the form of type 2 DM patients’ data and medical records of type 2 DM patients with pulmonary TB who were treated in Internal Medicine Ward RSUP Dr. M. Djamil Padang since January 1st 2011 – December 31st 2011. The results of this research showed that there were 29 cases of pulmonary TB among 748 type 2 DM patients (3,88%). Most of type 2 DM with pulmonary TB cases were found in males (58,62%), < 60 years old (72,41%; mean: 54,66 ± 12,77 years old), and normoweight group (51,72%). Most of these patients showed negative results on the sputum AFB examination (65,52%). The incidence in this research is lower than the previous studies.Keywords: incidence, pulmonary tuberculosis, type 2 diabetes mellitu
Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kejadian Pneumonia pada Balita di Kelurahan Air Tawar Barat Padang
AbstrakAda beberapa faktor risiko yang meningkatkan angka kejadian pneumonia di negara berkembang yaitu: kurangnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, gizi buruk, polusi udara dalam ruangan, Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) dan kurangnya imunisasi campak. Tujuan penelitian ini adalah menentukan faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian pneumonia pada balita di Kelurahan Air Tawar Barat, Kota Padang. Penelitian ini menggunakan desain case control study, sampel terdiri dari 27 case dan 27 control. Data dikumpulkan dengan wawancara terpimpin serta melihat data rekam medik dan dianalisis dengan uji chi-square. Hasil penelitian  mendapatkan balita pada kelompok kasus yang tidak mendapatkan ASI eksklusif (81,5%), paparan asap rokok (74,1%), riwayat bayi berat lahir rendah (3,7%), tidak mendapatkan imunisasi campak (40,7%) dan gizi kurang (25,9%). Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara status gizi dengan kejadian pneumonia (p=0,022; OR=9,1; 95%CI=1,034-80,089), sedangkan pemberian ASI eksklusif, paparan asap rokok, riwayat bayi berat lahir rendah dan imunisasi campak tidak terdapat hubungan yang bermakna terhadap pneumonia.Kata kunci: balita, faktor risiko, pneumonia AbstractPneumonia in developing countries are associated to the risk factors such as: lack of exclusive breastfeeding, malnutrition, indoor air pollution, low birth weight and lack of measles vaccinations. The objective of this study was to determine the risk factors associated on the occurrence of pneumonia among the children under five years of age in Air Tawar Barat district, Padang City. This study used case control study  to the 27 cases and 27 control. The data were collected by guided interview and the medical records, than was analyzed by chi-square.test. The results of this study obtanined in the group of cases based on the low exclusive breastfeeding rates (81.5%), exposure to cigarette smoke (74.1%), a history of low birth weight (3.7%), did not get measles vaccinations (40.7%) and malnutrition (25.9%). The result of bivariate analysis shows the significant relationship between nutritional status on the occurrence of pneumonia (p=0.022; OR=9.1; 95% CI=1.034-80.089). The exclusive breastfeeding, exposure to cigarette smoke, a history of low birth weight and measles vaccinations are not significantly related to the occurrence of pneumonia. Keywords: children under five years of age, risk factors, pneumoni
Fistula Vesiko Vaginalis
Abstrak         Latar belakang : fistula vesiko vaginalis merupakan bagian dari fistula vesiko urogenital merupakansuatu keadaan ditandai fistel antara kandung kemih dengan vagina yang menyebabkan rembesan urin keluar melalui vagina.          Kasus : wanita P3A0H3, 44 tahun, datang dengan keluhan terasa rembesan buang air kecil dari kemaluan sejak 3 bulan yang lalu. Keluhan muncul 7 hari setelah menajalani operasi histerektomi 3 bulan yang lalu. Histerektomi dilakukan atas indikasi mioma uteri dilakukan di Rumah Sakit Swasta. Tanda vital dalam batas normal. Pada pemeriksaan inspekulo tampak cairan urin menumpuk di fornix posterior. Dilakukan prosedur tes methylene blue didapatkan hasil positif di puncak vagina anterior 1 fistel dengan ukuran 1-1,5 cm. Pada pasien dilakukan fistulorraphy vesikovagina dengan teknik repair latzko dalam spinal anasthesi.          Pembahasan : Kasus fistula vesiko vaginalis biasa muncul di negara berkembang. Diantara faktor predisposisi adalah disebabkan operasi histerektomi, selain itu trauma persalinan dan komplikasi operasi daerah pelvik. Pemeriksaan Fisik dan pemeriksaan tambahan secara konvensional atau minimal invasif seperti sistoskopi, sistografi menggunakan zat kontras bisa membantu menegakan diagnosa, menentukan lokasi, ukuran dan jumlah fistel. Pembedahan adalah terapi andalan untuk fistula urogenital melalui transvagina atau trans abdomen. Pendekatan terapi tergantung ilmu, pengalaman dan kolaborasi dengan ahli lain bila dibutuhkan.Kata kunci: fistula vesiko vaginalis, histerektomi, latzkoAbstractBackground : Vesica vagina fistula is a part of urogenital fistula wich condition that present fistula between bladder and vagina and make urine mold through vagina.Case Report: Woman P3A0H3, 44 years old, admitted with complaining mold of urine from vagina since three months ago after seven days having surgery procedure. Complaint appeared seven days after histerctomi procedure. The procedure do as indication myoma uterus, the procedure has done in Private Hospital. The vital signs are normal. On Per Speculum examination, clearly see there are fluids on fornix posterior. methylene blue tes has proceed and get the positive result. Fistula is at the top anterior of vagina, about 1-1,5 cm. Surgery procedure fistulorraphy vesica vagina with latzko technique under Spinal Anesthesia has performedDiscussion : Vesica vagina fistula usually occur in the development country. Predisposition factors of it caused by histerectomi procedure, besides trauma during labour and complication of pelvic surgery may also too. Physical and additional specific examination conventionally or minimal invasive like cystoscopy, cystography with contrast can obtain diagnose, determine the location, size and number of fistula. Surgery is the mainstay therapy for urogenital fistula through trans vagina or trans abdomen. Approaching depend on knowledge, experience and collaboration with other expert if needed. Keywords: Vesica vagina fistula, histerectomy, latzk