Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Hubungan Pengetahuan Siswa Palang Merah Remaja dengan Tindakan Pertolongan Pertama Penderita Sinkop di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Bukittinggi
Sinkop ialah suatu keadaan hilangnya kesadaran seseorang secara tiba-tiba. Penderita sinkop membutuhkan pertolongan cepat dan tepat untuk mencegah kondisi penderita semakin menurun, tetapi sebagian orang tidak mengetahui cara penanggulangannya. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan antara pengetahuan anggota Palang Merah Remaja (PMR) dan tindakan pertolongan pertama penderita sinkop di MTsN 1 Bukittinggi. Penelitian analitik ini menggunakan rancangan cross sectional study. Subjek adalah 47 orang anggota PMR MTsN 1 Bukittinggi tahun ajaran 2013-2014 yang memenuhi kriteria inklusi dan eklusi. Analisis yang digunakan adalah uji chi- square. Hasil studi ialah 72,3% anggota PMR MTsN 1 Bukittinggi memiliki pengetahuan yang baik tentang sinkop dan 27,7% kurang baik. Ada 51,1% anggota memiliki tindakan yang baik dalam pemberian pertolongan pertama pada penderita sinkop dan 48.9% anggota memiliki tindakan yang kurang baik. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hubungan antara pengetahuan anggota PMR dengan tindakan pertolongan pertama penderita sinkop di MTsN 1 Bukittinggi (p = 0,024 derajat kemaknaan p< 0,05 ). Simpulan studi ini adalah sebagian besar anggota PMR MTsN 1 Bukittinggi memiliki pengetahuan dan tindakan pertolongan pertama yang baik pada penderita sinkop
Uji Efektivitas Beberapa Minyak Atsiri terhadap Pertumbuhan Microsporum canis secara in Vitro
AbstrakDermatofitosis merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di daerah tropis. Minyak atsiri merupakan salah satu potensi alam Indonesia yang diketahui memiliki daya antifungi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas beberapa minyak atsiri (serai wangi, kayu manis dan cengkeh) sebagai antijamur dalam mengendalikan pertumbuhan Microsporum canis penyebab dermatofitosis secara in vitro. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fitopatologi KP Balittro Laing Solok dari  Februari sampai April 2014. Studi eksperimental ini dilakukan dengan metode pengenceran disusun dalam Desain Rancang Acak Lengkap dalam Faktorial. Faktor pertama adalah jenis minyak atsiri (daun serai wangi, daun kayu manis, daun cengkeh). Faktor kedua adalah tingkat konsentrasi minyak atsiri (100 ppm, 250 ppm, 500 ppm, 1000 ppm dan 2000 ppm). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa minyak atsiri daun serai wangi, daun kayu manis dan daun sarasah cengkeh efektif dalam menekan pertumbuhan M. canis secara in vitro. Ketiga minyak atsiri pada konsentrasi 500 ppm telah mampu menghambat pertumbuhan M. canis hingga 100%. Minyak atsiri daun sarasah cengkeh memiliki efek antifungi paling tinggi (89,17%), diikuti minyak atsiri daun serai wangi (80,98%) dan kayu manis (77,07%).               Kata kunci: minyak atsiri, serai wangi, cengkeh, kayumanis, microsporum canis AbstractDermatophytosis is an important public health problem in tropical areas. Essential oil is one of natural potential from Indonesia has been predicted as antifungal. The objective of this study was to detect effectivity some essential oils such as citronella, cinnamon and clove as antifungal to control the growth of dermatophyte infections caused by Microsporum canis by in vitro . The study was done in the Laboratory of Phytopathology KP Balitro of Laing Solok from February until April 2014. This is an experimental study with dilution method arranged in Complete Randomized Design in factorial. The first factor was the kind of essential oil (citronella leaf, cinnamon leaf and clove leaf). The second factor was the level of concentration of the essential oil (100 ppm, 250 ppm, 500 ppm, 1000 ppm dan 2000 ppm). The result of this study showed the essential oil of citronella, cinnamon and cloves effective in suppressing the growth of M. canis. The three essential oil at a concentration of 500 ppm was able to inhibit the growth of M. canis to 100%. Clove essential oils have the highest antifungal effect (89,17%), while citronella essential oil 80,98% and cinnamon 77,07%.Keywords: essential oil, citronella, cinnamon, clove, microsporum cani
Perbedaan Kadar Hemoglobin dan Hematokrit Bayi Baru Lahir Akibat Perbedaan Waktu Penjepitan Tali Pusat
AbstrakBayi baru lahir memiliki 80 ml darah dari plasenta pada 1 menit setelah kelahiran dan 100 ml pada 3 menit setelah lahir, volume ini akan memasok 40-50 mg/kg ekstra besi untuk memiliki 75 mg/kg besi tubuh bayi yang cukup bulan yang dapat mencegah kekurangan zat besi pada tahun pertama kehidupan. Oleh karena itu pemotongan tali pusat yang terlalu cepat setelah persalinan akan mengurangi kandungan besi sekitar 15-30%, sedangkan bila ditunda 3 menit dapat menambah volume sel darah merah sekitar 58%. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan adanya perbedaan kadar Hb (hemoglobin) dan Ht (hematokrit) akibat perbedaan waktu penjepitan tali pusat. Penelitian ini dilakukan di tempat Bidan Praktek Mandiri Kota Padang. Jenis penelitian eksperimental dengan post-test only controll group design. Pengambilan sampel secara consecutive sampling sampai tercapai jumlah 36 bayi yang terbagi atas 18 bayi baru lahir pada tiap kelompok. Data dianalisis dengan uji t. Hasil penelitian didapatkan rerata kadar Hb dan Ht pada kelompok penjepitan 3 menit setelah lahir lebih tinggi daripada penjepitan 1 menit. Terdapat perbedaan kadar Hb yang bermakna antara kelompok penjepitan 3 menit setelah lahir daripada 1 menit dengan nilai P=0,004.  Ada terdapat perbedaan Ht yang bermakna antara kelompok penjepitan 3 menit dan 1 menit dengan nilai P=0,001. Kesimpulan penelitian ini ialah kadar Hb dan Ht lebih baik pada penjepitan tali pusat ditunda 3 menit setelah lahir dibandingkan dengan penjepitan 1 menit setelah lahir.Kata kunci: hemoglobin, hematokrit, penjepitan tali pusat AbstractThe newborns contain 80 ml of blood from the placenta in 1 minute after birth and 100 ml in 3 minute after birth. This volume supply 40 to 50 mg/kg of extra iron to have 75 mg/kg of body iron baby full-term that can prevent iron deficiency in the first year of life. Therefore, cutting the umbilical cord too soon after birth will reduce the iron of content about 15 to 30%, whereas when delayed 3 minute its can increase the volume red blood cells about 58%. The objective of this study was to prove the difference of hemoglobin and hematocrit level between 3 minutes and 1 minute cord clamping. Experimental research was conducted with post-test only control group design of 36 newborns. Data were analyzed by t-test. The result of this study showed that the mean of hemoglobin and hematocrit level in 3 minutes of clamp are higher than 1 minute of clamp.There was a significant difference of hemoglobin level between 3 minutes cord clamping group and 1 minute cord clamping group with p value is 0.004. There was also a significant difference of hematocrit level between 3 minutes cord clamping group and 1 minute cord clamping group with p value is 0.001. The conclusion is the hemoglobin and hematocrit level are better in cord clamping delayed in 3 minutes after birth than clamping in 1 minute after birth. Keywords: hemoglobin, hematocrit, cord clampin
Gambaran Format dan Tata Cara Pengeluaran Surat Keterangan Kematian pada Rumah Sakit di Kota Padang
AbstrakKematian adalah siklus kehidupan yang pasti dilalui oleh setiap manusia. Kematian pada manusia berakibat hilangnya berbagai hak dan kewajiban sosial serta hukum yang tadinya dimiliki oleh yang bersangkutan semasa hidupnya. Perlu adanya surat keterangan kematian untuk digunakan oleh keluarga yang ditinggalkan dan untuk kepentingan data epidemiologi. Surat keterangan kematian sudah diatur oleh Kementerian Kesehatan dalam hal format dan tata cara pengeluarannya, namun dalam pelaksanaanya masih banyak rumah sakit yang tidak menaati peraturan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan format dan tata cara pengeluaran surat keterangan kematian antara rumah sakit di Kota Padang dan Peraturan Kementerian Kesehatan. Ini merupakan penelitian deskriptif dengan mengambil data dari semua rumah sakit umum yang berada di Kota Padang. Jumlah sampel untuk penelitian ini berjumlah 12 rumah sakit. Hasil penelitian didapatkan rata-rata persentase kesesuaian format surat keterangan kematian di rumah sakit Kota Padang adalah 38%. Tata cara pengeluaran surat keterangan kematian di rumah sakit di Kota Padang sebagian besar belum mengikuti standar dari Kementerian Kesehatan. Kesimpulan penelitian ini adalah sebagian besar rumah sakit umum di Kota Padang belum mengikuti standar dari Kementerian Kesehatan.Kata kunci: surat keterangan kematian, kementerian kesehatan AbstractDeath is the definite life cycles that must be passed through by  human being. Result from death in humans is loss of various rights and social and legal obligations that had been owned by the respective lives. It needs a death certificate to the bereaved family and  the benefit of epidemiological data. The certificate of death is regulated by the Ministry of Health in terms of the format and procedures for expenditure, but  the implementation are still many hospitals that do not comply with these regulations. The objective of this study was to compare the formats and procedures for the issuance of a death certificate between hospital in Padang and the Ministry of Health regulations. This is a descriptive study that got data from all public hospitals in the city of Padang. The samples for this study were 12 hospitals. The results showed the average percentage of conformity certificate format in hospital mortality was 38%. The procedures for the issue of a death certificate in the hospital in Padang largely have not followed the standards from the Ministry of Health. The conclusion of this study is the most common hospital in Padang have not followed the standards of the Ministry of Health. Keywords: death certificate, ministry of healt
Perbedaan Berat Lahir Bayi Pasien Preeklampsia Berat / Eklampsia Early dan Late Onset di RSUP Dr. M. Djamil Padang
AbstrakPreeklampsia dan eklampsia tidak hanya berdampak bagi ibu, tetapi juga terhadap janin yang dikandungnya, seperti hambatan pertumbuhan janin intrauterin yang dapat dilihat dari berat lahir bayi tersebut. Ibu dengan preeklampsia berat/ eklampsia early onset cenderung melahirkan bayi dengan berat lahir Kecil untuk Masa Kehamilan (KMK), sementara yang  late onset cenderung melahirkan bayi dengan berat lahir Sesuai untuk Masa Kehamilan (SMK) atau bahkan Besar untuk Masa Kehamilan (BMK). Tujuannya penelitian ini adalah menentukan perbedaan berat lahir bayi pasien preeklampsia berat/ eklampsia early dan late onset. Penelitian ini dilaksanakan dari Oktober 2012 sampai Juli 2013 di bagian Rekam Medik RSUP Dr. M. Djamil Padang. Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan desain cross sectional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka kejadian preeklampsia berat/ eklampsia early onset adalah 26,1% dan yang late onset sebanyak 73,9%. Bayi KMK lebih banyak dilahirkan oleh ibu preeklampsia berat/ eklampsia early onset (16,67%) dibandingkan dengan yang late onset (7,35%). Setelah dilakukan analisis melalui uji chi-square, disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan berat lahir bayi antara pasien preeklampsia berat/eklampsia early dan late onset secara signifikan (p>0,05).Kata kunci: preeklampsia berat/eklampsia early onset, preeklampsia berat/eklampsia late onset, berat lahir bayi AbstractPreeclampsia and eclampsia are not only effect to mother, but also influent to the fetus, such as intrauterine fetal growth retardation which can be seen as baby's birth weight. Mothers with early onset severe preeclampsia / eclampsia tend to give birth small for gestational age babies, while the late onset tend to give birth normal birth weight or large for gestational age babies. The objective of this study was to determine the differentiation between baby's birth weight of early and late onset severe preeclampsia/ eclampsia. The research was conducted from October 2012 to July 2013 at the medical records department of general hospital center Dr. M. Djamil Padang. The type of this research was observational analytic with cross sectional design. The results showed that the incidence of early onset severe preeclampsia/ eclampsia was 26.1% and late onset was 73.9%. Small for gestational age babies born from mothers with early onset severe preeclampsia/ eclampsia (16.67%) is more than the late onset (7.35%). After analyzed by chi square test, it was concluded that there was no differentiation between baby's birth weight of early and late onset severe preeclampsia/ eclampsia significantly (p> 0,05).Keywords: early onset severe preeclampsia/eclampsia, late onset severe preeclampsia/eclampsia, baby’s birth weigh
Maksilektomi Inferior pada Karsinoma Sel Skuamosa Palatum Durum
Abstrak         Karsinoma Palatum Durum adalah keganasan daerah kepala dan leher yang jarang terjadi dimana setengah diantaranya merupakan Karsinoma Sel Skuamosa. Pada fase awal keganasan ini dapat bersifat asimptomatis namun dapat juga menimbulkan gejala berupa ulkus yang terasa nyeri pada perkembangan penyakitnya. Operasi maksilektomi inferior merupakan salah satu pilihan tindakan yang dapat dilakukan dalam tatalaksana kasus ini, diikuti oleh pemberian radioterapi. Kasus ini dibuat untuk memahami penatalaksanaan karsinoma palatum durum. Dilaporkan kasus seorang laki-laki 45 tahun dengan diagnosis Karsinoma Sel Skuamosa Palatum Durum (Well to Moderately Differentiated Keratinized) stadium IVa (T4aN0M0) dilakukan operasi maksilektomi inferior, namun tidak diikuti dengan radioterapi karena pasien menolak. Maksilektomi inferior merupakan pilihan pembedahan pada tumor yang terbatas pada palatum, lantai sinus maksila dan kavum nasi. Prognosis karsinoma sel skuamosa palatum durum cukup baik dan angka harapan hidup lima tahun akan bertambah bila dilakukan operasi diikuti dengan pemberian radioterapi. Kata kunci: Karsinoma sel skuamosa, maksilektomi inferior, radioterapi AbstractCarcinoma of the hard palate is a rare head and neck cancer in which half of it was Squamous Cell Carcinoma. In the initial phase of this malignancy may be asymptomatic, but can also cause symptoms such as painful ulcers in the development of the disease. Inferior maxillectomy is one of the choice of operation that can be performed, followed by radiotherapy to understand the management of carcinoma of the hard palate. Reported one case of a man 45 years old with diagnosis Squamous Cell Carcinoma of hard palate (Well to Moderately Differentiated Keratinized) stage IVa (T4aN0M0) treated by inferior maxillectomy surgery, but not followed by radiotherapy because the patient refused. Inferior Maksilektomi is a surgical option in tumor that limited to the palate, floor of the maxillary sinus and the nasal cavity. Prognosis of the squamous cell carcinoma of the hard palate is good and the five-year survival rate will increase if surgery followed by radiotherapy. Keywords:  Squamous cell carcinoma, inferior maxillectomy, radiotherap
Hubungan Derajat Keasaman Cairan Lambung dengan Derajat Dispepsia pada Pasien Dispepsia Fungsional
AbstrakHipersekresi asam lambung dianggap penting sebagai salah satu mekanisme patologis dispepsia fungsional. Hipersekresi asam lambung dapat meningkatkan sekresi pepsin yang dapat menimbulkan kerusakan mukosa lambung pada dispepsia fungsional. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan derajat keasaman cairan lambung dengan derajat dispepsia yang dialami pasien dispepsia fungsional. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan disain cross sectional yang dilakukan pada 35 sampel pasien dispepsia fungsional dengan teknik consecutive sampling di RSUP DR. M.Djamil Padang mulai Juli sampai Oktober 2014. Analisis data dilakukan secara komputerisasi menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian didapatkan 51.4% pasien dispepsia fungsional memiliki derajat keasaman cairan lambung hyperacidity, 57.1% menderita dispepsia derajat sedang-berat, dan menunjukkan hubungan yang cukup kuat dengan tarif signifikansi (p) 0.029 (p < 0.05). Terdapat hubungan bermakna antara derajat keasaman cairan lambung dengan derajat dispepsia pada pasien dispepsia fungsional. Peningkatan derajat keasaman cairan lambung berbanding lurus dengan derajat dispepsia pada pasien dispepsia fungsional.Kata kunci: keasaman cairan lambung, derajat dispepsia, dispepsia fungsional AbstractGastric acid hypersecretion is considered important as one of the pathological mechanisms of functional dyspepsia. Gastric acid hypersecretion can increase the secretion of pepsin which can cause gastric mucosal damage in functional dyspepsia. The objective of this study was to determine the correlation of gastric juice acidity with dyspepsia level experienced by functional dyspepsia patients.This study was a analytic study with cross sectional design applied on 35 samples of functional dyspepsia patients with non-probability consecutive sampling technique at RSUP DR. M. Djamil Padang from July to October 2014. The data were computerized analyzed using chi-square test. The results showed 51.4% of patients with functional dyspepsia had hyperacidity gastric juice, 57.1% had moderate-to-severe dyspepsia level, and show a strong enough correlation with the rate of significance  0.029 (p < 0.05).There was a significant correlation between the gastric juice acidity with dyspepsia level of functional dyspepsia patients. Increase of gastric juice acidity is proportional to the dyspepsia level in functional dyspepsia patients.Keywords::gastric juice acidity, dyspepsia level, functional dyspepsi
Gambaran Antropometri pada Penyakit Jantung Bawaan di RSUP Dr. M. Djamil Padang Tahun 2010 -2013
AbstrakPenyakit Jantung Bawaan (PJB) adalah salah satu kelainan kongenital dengan abnormalitas pada struktur maupun fungsi sirkulasi yang telah ada sejak lahir. Anak-anak dengan PJB seringkali terganggu asupan makanannya sehingga berdampak pada tumbuh-kembangnya. Antropometri adalah cara untuk mengetahui status gizi yang salah satunya dengan menggunakan parameter umur, berat badan, dan tinggi badan. Pengukuran antropometri dapat menggunakan Berat Badan per Umur (BB/U), Tinggi Badan per Umur (TB/U) dan Berat Badan per Tinggi Badan (BB/TB). Tujuan penelitian ini adalah melihat gambaran antropometri pada penderita penyakit jantung bawaan (PJB) sianotik dan non-sianotik di RSUP Dr. M. Djamil Padang dari tahun 2010 sampai 2013. Jenis penelitian ini adalah penelitian retrospektif deskriptif dengan metode total sampling data rekam medis pasien PJB. Hasil penelitian ini mendapatkan 51 sampel. BB/U kelompok PJB sianotik terbanyak yaitu dengan status gizi buruk sebanyak 5 orang (9,8%) sedangkan kelompok PJB non-sianotik terbanyak yaitu dengan status gizi baik sebanyak 16 orang (31,4%); TB/U kelompok PJB sianotik terbanyak yaitu dengan status sangat-pendek sebanyak 6 orang (11,8%) sedangkan kelompok PJB non-sianotik terbanyak yaitu dengan status normal sebanyak 16 orang (31,4%); BB/TB kelompok PJB sianotik terbanyak yaitu dengan status normal sebanyak 9 orang (17,6 %) sedangkan kelompok PJB non-sianotik terbanyak yaitu dengan status normal sebanyak 19 orang (37,3%).Kata kunci: penyakit jantung bawaan, berat badan, tinggi badan, umur AbstractCongenital Heart Disease (CHD) is a disease with abnormalities in the structure and function of circulation that are present at birth. Children with congenital heart disease are disrupted in food intake which affect their growth and development. Anthropometry is a method to determine the nutrition status by using the anthropometric measurement; Weight-for-Age, Length for Age, and Weight for Length.The objective of this study was to observe the anthropometric description in cyanotic and non-cyanotic congenital heart disease at Dr. M. Djamil Hospital Padang from 2010 until 2013. The research is a descriptive retrospective study on medical records of congenital heart disease patients with total sampling method. The study results showed that there were 51 samples. Weight-for-Age group, as many as 5 patients (9.8%) of cyanotic congenital heart disease with malnutritionals and 16 patients (31.4%) of the non-cyanotic congenital heart disease with good nutrition. In the Length-for-Age group, there were 6 patients (11.8%) with lowest status of the cyanotic congenital heart disease and 16 people (31.4%) with normal status of non-cyanotic congenital heart disease. In the Weight-for-Length group, there were 9 patients (17.6%) of the cyanotic congenital heart disease with normal status and 19 patients (37.3%) of non-cyanotic congenital heart disease with normal status.Keywords: congenital heart disease), weight, length, ag
Identifikasi Vektor Malaria di Daerah Sekitar PLTU Teluk Sirih Kecamatan Bungus Kota Padang Pada Tahun 2011
AbstrakMalaria adalah penyakit infeksi parasit yang disebabkan oleh protozoa obligat intraselular dari genus Plasmodium yang ditularkan nyamuk Anopheles. Bungus merupakan salah satu kecamatan dengan kasus malaria tinggi di Kota Padang, terdapat 69 kasus malaria pada tahun 2011. Pengendalian vektor malaria dibutuhkan pengetahuan mengenai spesies vector. Tujuan penelitian ini adalah menentukan spesies nyamuk tersangka vektor malaria. Penelitian dilaksanakan dari Oktober sampai November 2011. Nyamuk Anopheles di tangkap di dalam dan di luar ruangan menggunakan light trap dan umpan orang menggunakan aspirator. Penangkapan dilakukan pada malam hari pada jam 18.00 - 06.00 dan pagi hari pada jam 07.00 - 09.00. Semua nyamuk yang berhasil tertangkap diidentifikasi di bawah mikroskop. Bedasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan nyamuk An.subpictus, An.sundaicus dan An.aconitus dengan persentase (49,5%), (29,4%) dan (14,7%). Hal ini menunjukkan bahwa An.sundaicus, An.subpictus dan An.aconitus memiliki potensi yang besar dalam penularan penyakit malaria.                                 Kata kunci: malaria, vektor malaria AbstractMalaria is a disease caused by intracellular obligate protozoa, genus of plasmodium which is a parasite is carried by Anopheles mosquito. Bungus subdistrict is one of the areas that has high case of malaria in Padang district of Sumatera Barat Province, there were 69 case of malaria. Determination of method of control requires an understanding on the species of mosquito which serves as the vector and its behavior. The objective of this study was to assess fauna and the activity of Anopheles spp as suspected malaria vector. This research had done on October to November 2011. The Anopheles mosquitoes were collected indoor and outdoor by using light trap and human landing collection in the evening starting from 6 p.m - 6 a.m, in the morning from 7 - 9 a.m. All the Moquitoes were brougt to the laboratory for identifications. The resut showed that An. subpictus (49.5%) An. sundaicus (29.4%) and A. aconitus (14.7%). were the suspected malaria vector that has important role in tranmission of malaria in this area.Keywords: malaria, malaria vekto
Hubungan Kejadian Internet Addiction dengan Prestasi Belajar pada Mahasiswa FK Unand
AbstrakTeknologi internet berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir dengan berbagai manfaat positif dan negatifnya. Internet addiction merupakan salah satu dampak negatif yang ditimbulkan. Dalam beberapa penelitian disebutkan pengaruh internet addiction terhadap beberapa aspek termasuk pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui angka kejadian internet addiction dan mempelajari hubungannya dengan prestasi belajar pada mahasiswa Fakultas Kedokteran Unand. Metode studi cross sectional dilakukan terhadap mahasiswa FK Unand angkatan 2011. Hasil penelitian diolah dengan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan kejadian internet addiction mempengaruhi prestasi belajar pada mahasiswa FK Unand. Sebanyak 1,1% subjek mengalami internet addiction berat, 34,4% sedang dan 37,7% ringan. Berdasarkan jenis kelamin perempuan lebih banyak mengalami internet addiction daripada laki laki karena  perempuan yang lebih banyak. Klasifikasi yang terbanyak adalah cyber-relationship dan metode paling banyak yang digunakan untuk mengakses internet adalah dengan menggunakan smartphone. Hasil lain yang didapatkan adalah kebutuhan dasar dan ibadah adalah kegiatan paling dominan yang dapat menghentikan responden dari mengakses internet. Disimpulkan bahwa kejadian internet addiction mempengaruhi prestasi belajar pada mahasiswa FK Unand.Kata kunci: cyber-relationship, internet, internet addiction, prestasi belajar AbstractThe internet technology grow very fast in recent years bringing many positive and negative effects. Internet addiction is one of the negative effect. Several research confirm some negative effect of internet addiction including  academic problem. The objective of this study was to know frequency and it’s relation with academic achievement in Medical Faculty of Andalas university’s students. This was a cross-sectional study on Medical Faculty of Andalas University’s students. The result were analyzed by chi-square test. Based on the analyzed result, it confirm that the internet addiction cause problems in academic achievement. 1.1% samples suffer the severe internet addiction, intermediate 34.4% and mild 37.7%. By gender, more females suffer the internet addiction than males because there were more female than male. Based on classification, samples tends to suffer the Cyber-Relationship types of Internet addiction and most of them use smartphone to gain access to the internet. Basic needs and religion needs were the most activities that can stop the internet access. It can be conclude that internet addiction can cause problem in academic. Keywords: academic achievement, cyber-relationship, internet, internet addictio