Jurnal Kesehatan Andalas
Not a member yet
1143 research outputs found
Sort by
Diagnosis dan Penatalaksanaan Laringomalasia
Latar belakang: Laringomalasia (LM) merupakan penyebab tersering stridor inspirasi kongenital pada bayi. Sekitar 80% kasus merupakan derajat ringan dan sedang yang dapat membaik serta resolusi sampai usia 2 tahun sedangkan 20% merupakan derajat berat yang membutuhkan tindakan pembedahan Tujuan: Mengetahui dan memahami etiologi, diagnosis dan penatalaksanaan laringomalasia. Tinjauan Pustaka: Diagnosis laringomalasia dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik serta pemeriksaan penunjang laringoskopi serat optic fleksibel. Etiologi pasti laringomalasia belum diketahui, namun terdapat 3 teori yang diduga berperan yaitu imaturitas kartilago, imaturitas neuromuskular dan abnormalitas anatomi. Terdapat hubungan antara laringomalasia dengan laryngopharyngeal reflux (LPR). Penatalaksanaan konservatif dilakukan pada LM derajat ringan dan sedang sedangkan tindakan pembedahan dilakukan pada derajat berat, laringomalasia dengan komorbid dan laringomalasia yang gagal terapi konservatif. Kesimpulan: Laringomalasia merupakan kolapsnya struktur supraglotis ketika inspirasi yang mengakibatkan adanya stridor inspirasi. Laringomalasia derajat berat dapat mengancam nyawa. Sebagian besar kasus akan resolusi sendiri, namun sekitar 20% memerlukan tindakan pembedahan. Supraglottoplasti merupakan tindakan pembedahan pilihan untuk kasus laringomalasi
Etiologi dan Patofisiologi Kardiomiopati Dilatasi
Kardiomiopati dilatasi atau dilated cardiomyopathy (DCM) adalah gangguan miokard yang didefinisikan oleh dilatasi dan gangguan fungsi sistolik ventrikel kiri, atau kedua ventrikel, tanpa adanya penyakit arteri koroner, kelainan katup, atau penyakit perikard. Kejadian DCM yang dilaporkan bervasiasi setiap tahunnya mulai dari lima hingga delapan kasus per 100.000 populasi. Kejadian sesungguhnya mungkin tidak diketahui karena tidak dilaporkan atau tidak terdeteksinya kasus DCM yang asimptomatis, yang dapat mengenai 50%-60% pasien. Kira-kira 50% dari kasus kardiomiopati dilatasi adalah penyakit idiopatik. Pada 20-30% pasien selebihnya berhubungan dengan fenomena genetik, inflamasi dan imunologi seperti miokarditis; sedangkan sisanya akibat penyakit jantung iskemik, hipertensi, infeksi HIV, toksik, dan beberapa penyebab lain. Jelas sekarang bahwa tidak hanya sistem saraf simpatik dan sistem renin-angiotensin-aldosteron yang penting bagi perkembangan gagal jantung pada DCM. Autoimunitas, cacat genetik, metallomatrixproteinase, peningkatan deposisi dan degradasi kolagen, beta2-adrenoreseptor dan banyak faktor lain juga tampaknya memainkan peran penting
Miokarditis Difteri
Miokarditis difteri terjadi pada 10-20% pasien yang awalnya dengan orofaringitis. Secara umum, miokarditis difteri mempunyai angka kematian ± 60%, dan penyumbang sebagian besar kematian yang berhubungan dengan difteri. Manifestasi utama dari miokarditis difteri adalah kardiomiopati dilatasi dan berbagai jenis disritmia serta gangguan konduksi. Penggunaan alat pacu jantung sementara dalam pengobatan miokarditis difteri dapat memberikan manfaat untuk pasien dengan blok jantung derajat dua. Setidaknya >25% dari anak-anak dan remaja selamat setelah pemasangan alat pacu jantung sementara untuk pengobatan gangguan konduksi yang berat dalam hubungan dengan miokarditis difteri
Limfoma Kutis dengan Sindroma Hiper IgE
Limfoma kutis adalah limfoma ekstranoduler yang jarang ditemui dan diklasifikasikan berdasarkan variasi manifestasi klinik, histopatologi, imunohistokimia dan prognosis.1,2 90% pasien adalah laki-laki antara usia 20-50 tahun. Kejadian sebesar 1 : 300.000 pertahun. Sindroma Hiper IgE adalah gangguan kompleks imun primer yang ditandai dengan dermatitis atopik dan peningkatan IgE serum yang sangat tinggi serta kerentanan terhadap infeksi jamur dan bakteri.5,6 Telah dilaporkan suatu kasus laki-laki, 25 Tahun, keluhan benjolan yang makin membesar/ menyebar pada kulit. Benjolan kemerahan, gatal, tidak nyeri disertai keropeng sejak 6 tahun yang lalu, ditemukan plak eritema, skuama kasar, papul nekrotik, erosi, eksoriasi dan jaringan nekrotik di seluruh tubuh. Laboratorium, leukositosis dan eosinofilia. Peningkatan hebat IgE total >99.999,90 IU/ml dan hitung eosinofil absolut 5123 sel/mm3. Histopatologi kesan limfoma kutis. Pemeriksaan imunohistokimia CD3 & CD 45 positif. Pasien didiagnosis dengan limfoma kutis dengan Sindroma Hiper IgE. Diberikan kemoterapi siklofosfamid, vinkristin dan prednison, serta imunosupresan, emolien dan steroid topikal, dengan respon yang baik
Diagnosis dan Penatalaksanaan Hipofungsi Vestibular Perifer Bilateral
Pendahuluan: Hipofungsi vestibuler perifer bilateral merupakan kasus yang jarang ditemui dan memiliki gejala gangguan keseimbangan yang menyebabkan gangguan penglihatan dan stabilitas postural. Etiologi penyakit ini sebagian besar idiopatik, selain itu disebabkan oleh zat ototoksik, penyakit autoimun, infeksi dan neoplasma yang melibatkan telinga dalam. Diagnosa ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan keseimbangan sederhana dan tes khusus seperti dynamic visual acuity test (DVA), Rotatory Chair dan elektronistagmografi (ENG) pada tes kalori sebagai standar baku. Tatalaksana hipofungsi vestibuler perifer bilateral terutama berupa terapi rehabilitasi vestibuler berupa terapi adaptasi, subtitusi dan kompensasi/ habituasi lebih dipilih jika dibandingkan dengan terapi farmakologis atau terapi bedah. Laporan Kasus: Seorang pasien usia 65 tahun datang dengan keluhan pusing berputar dan berkurangnya pendengaran. Pemeriksaan pendengaran menunjukkan hasil tuli sensorineural dan tes DVA menunjukkan adanya penurunan tiga baris huruf pada Snellen chart dan elektronistagmografi menunjukkan paresis kanal bilateral. Pasien didiagnosis dengan hipofungsi vestibuler perifer bilateral ec. suspek prebiastasis. Tatalaksana adalah dengan terapi rehabilitasi vestibuler dengan metode adaptasi. Simpulan: Hipofungsi vestibuler perifer bilateral merupakan kasus yang jarang ditemui, dapat dibedakan dengan pemeriksaan objektif spesifik yaitu elektronistagmografi. Terapi pilihan utama untuk penyakit ini adalah berupa terapi rehabilitasi vestibuler metode adaptasi, subtitusi dan habituasi
Manifestasi Klinis dan Managemen Keratitis Herpes Simpleks di RS. Dr. M. Djamil pada Januari 2012 – Desember 2013
Herpes Simpleks Keratitis (HSK) merupakan salah satu penyebab kerusakan kornea. HSK terjadi akibat infeksi Herpes Simplex Virus tipe 1 (HSV-1). HSK memiliki manifestasi klinik dari epitel sampai endotel. Diagnosis didukung dengan penurunan sensibilitas kornea, pemeriksaan Giemsa dan Papaniculou. Terapi tergantung pada temuan klinis, yang bisa merupakan kontraindikasi untuk manifestasi yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan variasi kasus HSK, manifestasi klinis dan managemen. Metode: Studi retrospektif dari data rekam medik bulan Januari 2012-Desember 2013, Bagian Mata, RS.M.Djamil. Pasien HSK sebanyak 52 orang, bilateral 6 orang (58 mata), wanita 50%, pria 50%. Pasien terbanyak pada kelompok usia 31-40 th (26,9%). Tipe keratitis terdiri atas Epitelial 18 mata, Stromal 22 mata, gabungan 12 mata, Keratouveitis 4 mata dan Neurotropik Keratopati 2 mata. Pemeriksaan penunjang dengan tes sensibilitas kornea, Giemsa dan Papanicolou. Terapi yang diberikan antara lain Acyclovir salep mata, Acyclovir oral, Kortikosteroid tetes mata. Perbaikan visus paling banyak pada tipe keratitis stromal, 9 mata(40,9%) dan kombinasi, 9 mata(75%). Loss Case banyak pada keratitis epitelial, 11 mata(61,1%) karena pasien tidak kontrol kembali. Pemeriksaan Giemsa ditemukan Mononuclear Cell 21, Giant cell positif 12, Papanicolou positif  6. Semua kasus didapatkan penurunan sensibilitas kornea.Terapi yang diberikan Acyclovir salep mata, Acyclovir oral, Kortikosteroid tetes. Amnion Graft Transplantation dilakukan pada 2 kasus. Kasus terbanyak ditemukan tipe stromal 22 (37,9%) dengan bilateral 6 (10,3%) dan perbaikan visus (39,6%)
Hubungan Kebiasaan Merokok dengan Profil Lipid pada Laki-Laki Pegawai Negeri Sipil di Kantor Kecamatan Se-Kota Padang
Dislipidemia dipercaya sebagai pencetus penyakit kardiovaskular yang ditandai dengan naik dan turun profil lipid dalam darah. Kebiasaan merokok salah satu faktor risiko dalam menimbulkan kondisi dislipidemia. Kandungan zat berbahaya pada rokok berkontribusi besar pada abnormalitas profil lipid. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hubungan antara kebiasaan merokok dan profil lipid pada laki-laki Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kantor kecamatan yang ada di Kota Padang. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 130 responden dipilih sebagai sampel penelitian menggunakan metode pengambilan total sampling, dengan memperhatikan kriteria inklusi dan eksklusi. Data kebiasaan merokok dikumpulkan dengan metode kuesioner dan pengukuran kadar profil lipid dilakukan di laboratorium klinik. Analisis data menggunakan Independent t-test dan One Way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan tingginya prevalensi perokok di kalangan PNS sebesar 56,8%. Rerata profil lipid diantaranya, kolesterol total 216,3 mg/dl, LDL 129,6 mg/dl, HDL 45,1 mg/dl, dan trigliserida 120,7 mg/dl. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok dengan kadar kolesterol total , LDL, HDL dan trigliserida . Tidak terdapat hubungan bermakna antara derajat merokok dengan kolesterol total, LDL, HDL dan trigliserida. Tidak terdapat hubungan bermakna antara jenis rokok dengan kolesterol total, LDL, HDL dan trigliserida. Simpulan penelitian ini adalah tidak terdapat hubungan yang bermakna antara kebiasaan merokok, derajat merokok, dan jenis rokok dengan profil lipid
Identifikasi Kadar Merkuri pada Depot Air Minum Isi Ulang di Kelurahan Jati Kota Padang
Berdasarkan Permenkes No.492/2010 tentang persyaratan kualitas air minum, merkuri merupakan bahan kimia yang berhubungan dengan kesehatan, sehingga kadar maksimum yang diperbolehkan adalah 0,001000 mg/L. Merkuri memiliki efek berbahaya apabila diatas 0,001000 mg/L. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kadar merkuri pada sampel air minum isi ulang di Kelurahan Jati, Padang. Jenis penelitian ini adalah studi deskriptif dengan teknik pengambilan sampel secara total sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) yang berada di Kelurahan Jati Kecamatan Padang Timur Kota Padang yaitu sebanyak 15 buah. Penelitian ini dilaksanakan dari Agustus 2017 sampai Februari 2018. Penetapan kadar merkuri dilakukan di UPT Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Sumatera Barat menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom GBC 9322AA. Hasil pemeriksaan kadar merkuri menunjukkan hanya satu sampel yang mengandung merkuri dari 15 sampel yang diperiksa. Satu sampel ini masih dalam batas aman berdasarkan Permenkes No.492/2010. Simpulan penelitian ini adalah semua air minum isi ulang di Kelurahan Jati aman untuk dikonsumsi berdasarkan kadar merkuri
Gambaran Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi pada Anak yang Mendapatkan Imunisasi Difteri Pertusis dan Tetanus di Puskesmas Seberang Padang Kota Padang
Penggunaan vaksin DPT sebenarnya aman tetapi bukan tanpa resiko karena sebagian orang dapat mengalami reaksi setelah imunisasi yang bersifat ringan maupun berat, reaksi ini disebut dengan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kejadian ikutan pasca imunisasi pada anak yang mendapatkan imunisasi DPT di Puskesmas Seberang Padang Kota Padang. Penelitian deskriptif ini dilakukan secara cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah semua anak yang mendapatkan imunisasi DPT maksimal satu bulan sebelum mengisi kuesioner peneliti. Pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling dan dilakukan wawancara langsung terhadap 45 orang responden. Pengolahan data dilakukan dengan analisis univariat. Hasil penelitian didapatkan bahwa 41 orang (91,1%) anak mengalami KIPI dan 4 orang (8,9%) anak tidak mengalami KIPI. Gejala KIPI yang paling banyak muncul pada penelitian ini adalah demam yaitu sebanyak 34 orang (82,9%), pembengkakan dilokasi penyuntikan yaitu sebanyak 31 orang (75,6%) dan kemerahan dilokasi penyuntikan yaitu sebanyak 26 orang (63,4%). Awitan gejala KIPI muncul pada hari pertama setelah imunisasi, kecuali pada gejala demam yaitu gejala dapat muncul pada hari kedua setelah imunisasi. Lama gejala KIPI menetap yaitu minimal selama satu hari, sedangkan maksimal gejala menetap tergantung gejala yang dialami, seperti gejala pembengkakan dilokasi penyuntikan dapat menetap selama 7 hari
Hubungan Kemungkinan Depresi dengan Kualitas Hidup pada Lanjut Usia di Kelurahan Surau Gadang Wilayah Kerja Puskesmas Nanggalo Padang
Lanjut usia adalah individu yang telah berusia lebih dari 60 tahun. Depresi merupakan masalah psikologis yang sering terjadi pada lanjut usia yang ditandai dengan perasaan sedih, sehingga dapat mempengaruhi aktivitas fisik seseorang. Kualitas hidup adalah penilaian individu terhadap posisinya di dalam kehidupan dalam konteks untuk melaksanakan fungsinya pada kehidupan sehari-hari. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan kemungkinan depresi dengan kualitas hidup pada lanjut usia di Kelurahan Surau Gadang wilayah kerja Puskesmas Nanggalo Padang. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain cross sectional yang dilaksanakan dari Desember 2017 sampai Mei 2018 di Kelurahan Surau Gadang wilayah kerja Puskesmas Nanggalo Padang. Sampel berjumlah 100 orang yang terdiri dari 50 orang lansia berkemungkinan depresi dan 50 orang lansia berkemungkinan tidak depresi. Pengumpulan data dilakukan dengan mewawancarai subjek menggunakan instrumen Geriatric Depression Scale dan WHOQOL- BREF. Penentuan sampel menggunakan teknik stratified proportionate random sampling dan pengambilan sampel menggunakan consecutive sampling. Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil analisis univariat didapatkan distribusi frekuensi kualitas hidup lanjut usia yaitu 86% memiliki kualitas hidup baik dan 14% memiliki kualitas hidup buruk. Hasil analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan bermakna antara kemungkinan depresi dengan kualitas hidup (p = 0,004). Simpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan bermakna antara kemungkinan depresi dengan kualitas hidup pada lanjut usia di Kelurahan Surau Gadang